cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu Pada Komoditas Perkebunan Rakyat ADANG AGUSTIAN; BENNY RACHMAN
Perspektif Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v8n1.2009.%p

Abstract

ABSTRAKKajian  ini  dimaksudkan  untuk  mensintesis  tingkat implementasi dari introduksi teknologi pengendalian hama  terpadu (PHT)  pada  usahatani  perkebunan rakyat (kopi,  lada  dan  teh),  efektivitas  penerapan teknologi    PHT,    dan    menganalisis    perspektif keberlanjutan  teknologi  PHT.  Data  dan  informasi diperoleh dari berbagai hasil kajian terkait penerapan teknologi  PHT  perkebunan  rakyat.    Hasil  kajian menunjukkan  bahwa: (1)  Secara  umum  introduksi teknologi PHT relatif baik diterapkan oleh para petani perkebunan  rakyat,  meskipun  penerapannya  belum secara penuh karena terdapatnya kendala internal dan eksternal   yang   dihadapi   petani; (2)   Penerapan teknologi  PHT  pada  komoditas  perkebunan  rakyat masih  dapat  meningkatkan  keuntungan  usahatani yang relatif lebih tinggi dibanding dengan peningkatan biaya usahataninya, dan (3) Penerapan teknologi PHT dapat   berkelanjutan   apabila   didukung   dengan penyuluhan yang intensif menyangkut aspek teknis, manajemen dan pemasaran hasil.Kata kunci: Teknologi PHT, perkebunan rakyat, tingkat adopsi ABSTRACTThe Implementation of IPM Technology on Small Estate Farm CommoditiesThe   purpose   of   this   study   is   to   analyze   the implementation  level    of  introduced  technology  of Integrated  Pest Management  (IPM)  on  small estate farms (coffee, tea and pepper), effectiveness of the implementation of IPM technology, and analyze the perspective of the sustainability of IPM technology. Data and information obtained from  the results of various  studies  related  to  the  application  of  the technology  of  IPM  on  small  estate  farm.  Results showed  that: (1)  In  general  introduction  of  IPM technology is well applied by the farmers, although its application has not been fully adopted due to the internal and external constraints faced by farmers, (2) The application of  IPM technology on small estate commodities is profitable, and (3) The application of IPM technology can be sustained if it is supported with intensive counseling on technical and management, as well as product marketing. Key words: IPM technology, small estate farm, adoption
Sebaran Curah Hujan Sebagai Dasar Penetapan Waktu Tanam Kapas Pada Lahan Sawah Sesudah Padi di Lamongan, Jawa Timur RIAJAYA, PRIMA DIARINI
Perspektif Vol 5, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n1.2006.%p

Abstract

ABSTRAKCurah hujan menjadi faktor penentu bagi pengusahaan kapas baik di lahan sawah maupun lahan kering. Analisis sebaran hujan dilakukan berdasarkan seri data curah hujan jangka panjang untuk mengetahui peluang turun hujan pada berbagai jumlah curah hujan di Kabupaten Lamongan (Kec. Mantup) sebagai salah satu indikator keberhasilan pengembangan kapas di Jawa Timur. Dengan mengetahui sebaran hujan selama musim tanam, maka kebutuhan tambahan air irigasi dapat ditentukan.  Curah hujan selama musim hujan terdistribusi mulai Nopember hingga April dan berpeluang turun (60%) antara 200-250 mm/bulan. Mulai Mei hingga Oktober (musim kemarau) rata-rata jumlah  hujan  kurang  dari 50  mm/bulan dengan peluang hujan 60%. Penanaman kapas dan kedelai sebaiknya dilakukan sesegera mungkin, paling lambat seminggu setelah padi dipanen atau awal Maret. Penanaman padi  dilakukan pada awal musim hujan yaitu Nopember atau Desember.  Apabila total curah hujan selama musim tanam kapas lebih dari 500 mm maka kebutuhan tambahan air irigasi pada tanaman kapas berkisar 100 mm yang dapat diberikan dalam dua kali irigasi.  Tambahan air irigasi tersebut dapat dilakukan dengan penyiraman langsung yang sumber airnya berasal dari sumur dangkal yang tersebar di beberapa lokasi.  Kebutuhan air tersebut akan semakin meningkat apabila waktu tanam kapas dan kedelai semakin mundur. Pemanfaatan sumur dangkal dan embung sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan air pada musim kemarau, dan pengelolaan tanaman  antara  lain  dengan  mengatur  kerapatan tanaman dan pemberian mulsa juga dianjurkan untuk menekan evaporasi.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, sebaran hujan, hujan, waktu tanam, Jawa Timur ABSTRACTRainfall Distribution As The Base to Determine Cotton Planting Time on The Rice Field in Lamongan, East JavaRainfall is a determining factor in cotton production on rice field and dry areas.  Rainfall analysis is determined based on rainfall data in the long period, to estimate the probability of having certain amount of rainfall from January to December in Lamongan (Mantup District), East Java as and indicator for successful cotton development in East Java. By recognizing rainfall distribution during planting season, the need for irrigation water can be determined. Total rainfall of 200-250 mm/month occurred during the rainy season from November to April with 60% of probability. Moreover, rainfall less than 50 mm/month occurred during the dry season from May to October with 60 % of probability. Cotton planting should be done as soon as possible, or, a week after rice harvesting (early March).  Rice should be planted early  rainy season in November or December.  When the total rainfall is greater than 500 mm over the growing season, the need for additional irrigation water is only about 100 mm, which can be applied 2 times.  Water from a nearby shallow well was used for watering.  The additional irrigation can be taken from the wells near the location. The need for irrigation water will increase if the cotton and soybean planting is delayed. The use of wells and embung is recommended to supply the additional irrigation waterduring dry season, and crop management, plant density and mulching are also recommended to reduse evaporation.Key  words  :  Cotton,  Gossypium  hirsutum,  rainfall distribution,  rainfall,  planting  time, East Java.
PERCEPATAN PROSES PENGOMPOSAN AEROBIK MENGGUNAKAN BIODEKOMPOSER / Acceleration of Aerobic Composting Process Using Biodecomposer Saraswati, Rasti; Praptana, R. Heru
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.44-57

Abstract

Peningkatan siklus hara di tanah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan organik tanah. Residu tanaman berperan penting dalam perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah, tetapi dapat berdampak negatif terhadap lingkungan apabila belum terdekomposisi dengan baik. Dekomposisi bahan organik secara alami membutuhkan waktu yang lama (3 - 4 bulan, bahkan dapat lebih lama hingga 1 - 2 tahun), sehingga upaya pelestarian bahan organik di lahan pertanian dan perkebunan mengalami hambatan. Kandungan lignin dan selulosa merupakan faktor pembatas terhadap kecepatan dan efisiensi dekomposisi, karena menghalangi akses enzim selulolitik dalam degradasi bahan berserat lignoselulosa. Strategi mempercepat proses dekomposisi bahan organik dapat dilakukan dengan: 1) memanfaatkan mikroba perombak bahan organik (dekomposer) lignoselulolitik untuk menghindari adanya immobilisasi hara dan alelopati, serta sebagai substrat patogen, dan 2) mempercepat proses pengomposan dan meningkatkan kualitas kompos. Berbagai hasil demonstrasi plot menunjukkan bahwa penggunaan dekomposer bahan berserat lignoselulosa dapat mempercepat proses dekomposisi hingga 1 - 2 minggu. Pemberian biodekomposer mampu mempercepat proses pengomposan, sehingga petani dapat memperoleh keuntungan dari percepatan masa penyiapan lahan dan waktu tanam, dapat memperbanyak masa tanam, dan meningkatkan produksi tanaman dengan kompos yang berkualitas, serta mengurangi dampak negatif dari tumpukan residu tanaman. Kebijakan penggunaan teknologi biodekomposer untuk percepatan pengomposan dalam penyediaan bahan organik diharapkan dapat menjadi bagian integral paket teknologi dalam pembangunan  pertanian.ABSTRACTThe increasing of nutrient cycling is highly affected by the availability of soil organic matter. Plant residues play an important role to improve physical, chemical, and biological soil characteristics, however, can give a negative effect to environment if the plant residues are not completely decomposed. Naturally, decomposition of plant residues takes a long time (3 - 4 months, moreover up to 1 - 2 years), and thus inhibit the sustainable organic matter in agricultural and estate land. Lignin and cellulose content of organic matter is the limitation of the acceleration and efficiency of decomposition process, thus, inhibit the cellulolytic enzyme to degrade organic matter which is contain of lignocellulolytic fiber. Strategy to accelerate decomposition process are: 1) use lignolytic microbial decomposer to avoid nutrient immobilization, allelophatic effect, and as pathogen substrate, and 2) aerobic composting techniques to accelerate composting process to increase the quality of compost.  Many of demonstration plot show that the use of lignocelluloses decomposers can accelerate decomposition process up to 1 – 2 weeks. The use of decomposer is able to protect and increase soil quality. Biodecomposers are able to accelerate the composting process so that farmers can acquire a benefit from the acceleration of land preparation and planting time, can multiply the planting period, and increase the production of plants with quality compost, and reduce the negative impacts of crop residues. The policy of the biodecomposer technology to accelerate composting in the supply of organic matter is expected to become an integral part of technology package in agricultural development 
Strategi Pengembangan Sistem Agribisnis Lada Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani KEMALA, SYAFRIL
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n1.2007.%p

Abstract

RINGKASANLada merupakan ”rajanya” rempah-rempah di dunia, dan merupakan produk pertama yang diperdagangkan antara Barat dan Timur.  Saat ini, lada sangat berperan dalam  perekonomian  Indonesia  sebagai  penghasil devisa, penyedia lapangan kerja, bahan baku industri dalam  negeri  dan  konsumsi  langsung.  Meskipun demikian, usahatani lada yang ada sekarang tidak terkait dengan industri pengolahan, industri hilir, serta industri  jasa,  keuangan  dan  pemasaran.  Akibatnya agribisnis lada tidak berhasil mendistribusikan nilai tambah, sehingga tidak dapat meningkatkan pendapatan petani.  Faktor-faktor yang menyebabkan tidak berkembangnya sistem agribisnis lada di Indonesia antara lain adalah ; (1). Sebagian besar teknologi belum dapat digunakan oleh petani, (2). Tidak tersedianya peralatan yang mudah didapat dan murah,  (3).  Kurangnya  diversifikasi produk lada, (4). Adanya  pesaing  Indonesia  sebagai  produsen  lada dunia (Brazilia, India, Malaysia, Srilangka, Thailand dan Vietnam), dan (5). Hasil-hasil penelitian berupa komponen dan paket teknologi serta kebijakan sudah banyak dihasilkan, tetapi belum banyak terserap oleh petani. Oleh karena itu, strategi pengembangan sistem agribisnis lada di Indonesia, harus dilakukan melalui ; (1). Program pengendalian hama dan penyakit terpadu, (2). Pengembangan industri alat dan mesin pertanian dengan jaringan distribusinya, (3).Diversivikasi produk melalui pembuatan lada menjadi barang jadi dan setengah jadi, sehingga dapat merubah permintaan menjadi elastis untuk meningkatkan daya serap pasar, (4). Program promosi pasar di pasar dunia baik melalui kantor kedutaan maupun kelembagaan lain, dan (5).Pemberdayaan petani dalam kelembagaan yang sudah ada seperti KUAT (Kelembagaan Usaha Agribisnis Terpadu), Asosiasi Petani Lada  Indonesia (APLI), KIMBUN (Kelompok Industri Masyarakat Perkebunan), dan Koperasi Unit Desa (KUD)Kata kunci : Lada (Piper nigrum L.), sistem agribisnis, pendapatan petani,  difersifikasi produk ABSTRACTDevelompment Strategy Of  Black Pepper Agribusiness System To Increase Farmer’s IncomePepper as  “King of Spice”  is the first product to be commerced between West and East. Nowadays, black pepper have and important role on the economy of Indonesia as foreign exchange, providing job opportunity, raw material of internal country industry, and direct consumption in the country. Pepper farming that present now, however, is not related with processing industry, downstream industry, as well as monitory service industry  and marketing. As the consequences, pepper agribusiness failed to distribute additional value, did not able to increase farmer’s income. Some factors that caused system agribusiness in Indonesia unable to develop i.e. (1). Most of technology can not be adopted by the farmers, (2). Unavailable of cheap equipment, (3). Less pepper product diversification, (4). The existence of competitors in the world pepper market (Brazil, India, Malaysia, Thailand, and Vietnam), and (5). Technology component resulted from experiments, as well as policy can not be adopted by the farmers. The strategy to develop of black pepper agribusiness in Indonesia, therefore, must be conducted through ; (1). Integrated pest and diseases management program,(2). Agricultural equipment industry follows with the distribution network, (3). Product diversification to increase of market absorption capacity, (4). The promotion program of marketing on the world market, through embassy and other institutions, and (5). Making efficient use of farmers in the existing organization such as KUAT, APLI, KIMBUN and KUD. Key   words:   Black   pepper (Piper   nigrum   L.),agribusiness system, farmer’s income, product diversification
Diversifikasi Penggunaan Cengkeh NURDJANNAH, NANAN
Perspektif Vol 3, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v3n2.2004.61-70

Abstract

Cengkeh (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry) merupakan tanaman rempah yang sejak lama digunakan dalam industri rokok kretek, makanan, minuman dan obat - obatan. Bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan di atas adalah bunga, tangkai bunga dan daun cengkeh. Kegunaan cengkeh ini kemudian berkembang dalam industri kosmetik dan akhir - akhir ini terdapat beberapa temuan yang memperlihatkan kemungkinan pengem-bangan penggunaan cengkeh untuk keperluan lain diantaranya sebagai bahan anestesi untuk ikan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman. Banyaknya kegunaan cengkeh ini disebabkan karena bunga, tangkai bunga dan daun cengkeh mengandung minyak cengkeh yang mempunyai rasa dan aroma khas dan banyak disenangi orang, selain itu minyak tersebut mempunyai sifat stimulan, anestetik, karminatif, antiemetik, antiseptik dan antispasmodik. Penggunaan cengkeh dalam industri makanan, minuman dan obat obatan relatif tetap. Sedangkan pada industri rokok kretek cenderung menurun. Di lain pihak produksi dan harga cengkeh sangat berfluktuasi. Kadang-kadang terjadi kelebihan produksi. Adanya kemungkinan diversifikasi produk diharapkan dapat mengantisipasi permasalahan di atas, hanya saja perlu kajian lebih lanjut, baik dari segi teknologi dampak lingkungan dan ekonominya.Kata kunci : Cengkeh, Syzygium aromaticum minyak cengkeh, diversifikasi produk ABSTRACT Diversification of clove utilizationClove (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry) is one among spices which has been used for a long time in kretek cigarette, food, beverages and pharmacy industry. Parts of the tree which are used for the above purposes are clove bud, stem and leaf. The use of clove was then developed for cosmetic industry, and recently there were some research finding which show the opportunity of clove for other purposes such as fish anaesthetic and pest and diseases plant protection. The use of clove for the above purposes is because of clove bud, steam and leaf contain clove oil which have specific flavour and it can be used as the stimulan, anaesthetic, carminative, antiemetic, antiseptic and antispasmodic. The use of clove in food, beverages and pharmacy industry is relatively stable, while in kretek cigarette industry it tends to decline. On the other hand the production and price of clove are fluctuated sharply, sometimes there are over supply. Diversification of clove utilization is hoped to solve the above problem, but it still needs further study on the technology, environment and economic aspects.Key words : Clove, Syzygium aromaticum, clove oil, product diversification.
EKSPANSI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN PERLUNYA PERBAIKAN KEBIJAKAN PENATAAN RUANG/ Palm Oil Expansion and Requirement Spatial Planning Policy Improvement Ishak, Andi; Kinseng, Rilus A.; Sunito, Satyawan; Damanhuri, Didin S
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.%p

Abstract

ABSTRAK Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan komoditas penting bagi perekonomian Indonesia karena menjadi sumber pendapatan negara dan penyedia lapangan kerja yang cukup signifikan. Indonesia menjadi pengekspor minyak sawit terbesar dunia saat ini dengan luas perkebunan lebih dari 10 juta hektar dan melibatkan sekitar 16 juta tenaga kerja. Ekspansi perkebunan kelapa sawit disebabkan oleh kesesuaian agroklimat, permintaan global, dan dukungan kebijakan pemerintah. Kelapa sawit berpotensi dikembangkan pada lahan seluas 51,4 juta hektar dan telah dibudidayakan pada 22 provinsi di Indonesia, terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Kelapa sawit mampu menghasilkan minyak nabati 4-23 kali lebih banyak dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya serta dimanfaatkan secara luas untuk bahan baku industri pangan dan non pangan di seluruh dunia. Dukungan kebijakan pemerintah telah mendorong investasi swasta masuk dalam industri kelapa sawit dan melakukan ekspansi perkebunan secara besar-besaran dalam tiga dekade terakhir. Ekspansi perkebunan kelapa sawit berdampak positif pada kondisi sosio-ekonomi masyarakat pedesaan. Pembangunan perkebunan swasta mendorong konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit rakyat, perubahan pola nafkah petani, dan migrasi tenaga kerja ke daerah-daerah perkebunan sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat dan mempercepat pembangunan wilayah. Namun ekspansi perkebunan kelapa sawit yang tidak terkendali telah berdampak negatif karena menyebabkan konflik agraria, deforestasi, dan kebakaran hutan yang memicu kabut asap. Kebijakan pemerintah terkait moratorium sawit yang dilakukan secara simultan dengan penataan ruang menjadi relevan untuk mencegah semakin luasnya dampak negatif akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit.Kata kunci: Kelapa sawit, dampak, moratorium, kebijakan spasial. ABSTRACTPalm oil (Elaeis guineensis Jacq) is an important commodity for the Indonesian economy as it becomes a significant source of state income and employment providers. Indonesia is the world's largest palm oil exporter today with a plantation area of more than 10 million hectares and involves about 16 million workers. The expansion of oil palm plantations is due to the suitability of agro-climate, global demand, and government policy support. Oil palm has the potential to be developed on an area of 51.4 million hectares and has been cultivated in 22 provinces in Indonesia, mainly on the islands of Sumatra and Kalimantan. Palm oil is able to produce vegetable oil 4-23 times more than other vegetable-producing crops and widely used for food and non-food industry raw materials worldwide. Government policy support has encouraged private investment into the palm oil industry and expanded large-scale plantations in the past three decades. The expansion of oil palm plantations has a positive impact on the socio-economic conditions of rural communities. The development of private plantations encourages land conversion to smallholder oil palm plantations, changes in farmers' livelihood patterns, and labor migration to plantation areas that increase community incomes and accelerate regional development. But the uncontrolled expansion of oil palm plantations has had a negative impact as it causes agrarian conflicts, deforestation, and forest fires that trigger haze. Government policies related to the palm oil moratorium simultaneously conducted with spatial arrangement become relevant to prevent the increasing extent of the negative impact due to the expansion of oil palm plantations.Keywords: Palm oil, impact, moratorium, spatial policy.
Potensi Pengembangan Budidaya Artemisia annua L. di Indonesia GUSMAINI, GUSMAINI; NURHAYATI, HERA
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

ABSTRAKArtemisia terbukti efektif mengatasi penyakit malaria yang mulai kebal terhadap pil kina.  Artemisia berasal dari daerah sub tropis (iklim temprate), dan dapat tumbuh baik di daerah tropis. Peluang pengembangan artemisia di Indonesia cukup besar. Beberapa wilayah memiliki lingkungan tumbuh yang sesuai bagi pertumbuhan artemisia dan klon lambat berbunga yang cocok tumbuh di Indonesia juga tersedia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya artemisia di Indonesia agar produksi dan kadar artemisininnya tinggi antara lain: (1) pemilihan lokasi atau wilayah yang sesuai, (2) pemilihan bahan tanaman yang tepat,, dan (3) memanipulasi agronomik seperti  pemangkasan,  pemupukan  anorganik  dan organik, naungan, dan mikroba.Kata kunci: Artemisia annua L., budidaya, artemisinin, pengembangan. ABSTRACTPotency of Artemisia annua Development in IndonesiaArtemisia as medicinal plant was proven can cure malaria disease more effective than quinine pill. Artemisia is introducted plant from sub tropical area but it can grow well in tropical area.  The potency to develop Artemisia in Indonesia is big since some areas have suitable agro ecology for Artemisia’s growth and the availability of delayed flowering clones which gan grow well in Indonesia. To obtain high yield and also high artemisinin content, some factors need attention in cultivating Artemisia in Indonesia: (1) selected locat-ion suitable for its growth, (2) selected plant material, and (3) manipulated agro climate environment such as prunning, application of organic and inorganic fertilizer, shading, and microbe application.Keywords: Artemisinin annua L., cultivation, artemi-sinin, development,
Pemanfaatan Serbuk Biji Mimba (Azadirachta indica A. Juss) Untuk Pengendalian Serangga Hama Kapas SUBIAKTO, nFN
Perspektif Vol 1, No 1 (2002): Juni 2002
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v1n1.2002.9-17

Abstract

Permasalahan yang dihadapi oleh petani dalam bidang pengendalian serangga hama antara Iain adalah mahalnya harga insekisida kimia dan terjadinya resistensi. Oleh karena itu untuk membantu petani perlu dicai pengendalian alternatif yang efektif, aman, murah, dan dapat diperoleh sendiri. Pemanfaatan serbuk biji mimba (SBM) dengan teknologi produksi sederhana dapat ditawarkan sebagai salah satu alternaif pengendalian serangga hama. Peneliian telah dilakukan untuk memanfaatkan SBM dalam pengendalian hama kapas. Hasil peneliian menunjukkan bahwa pada Helicoverpa armigera SBM bekerja sebagai larvisida dan ovisida. Pada Spodoptera litura SBM bekerja sebagai larvisida, memperpanjang umur ulat dan memperpendek umur imago, mengurangi fekunditas. Hasil efikasi SBM di lapangan menunjukkan bahwa konsentrasi 30 g SBM/liter air efekif menekan populasi ulat H. armigera dan S. litura. Pada beberapa kali aplikasi SBM lebih efekif dibandingkan dengan insektisida komersial azadiraktin 1% dan insekisida kimia sinteik tiodikarb. SBM relatif lebih aman terhadap predator (laba-laba dan Paederus sp). Kinerja SBM dibandingkan dengan insekisida kimia sinteik untuk pengendalian H. armigera pada tanaman kapas menunjukkan bahwa penggunaan SBM dapat mengurangi biaya pengendalian hama sekitar 60% dan meningkatkan tambahan pendapatan atas biaya pengendalian hama sebesar 35%.Kata kunci: Azadirachta indica, Helicoverpa armigera, Spodoptera litura.
Perbaikan Ketahanan Abaka Terhadap Fusarium dan Prospek Pengembangannya SUDJINDRO, SUDJINDRO
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKPerbaikan genetik klon abaka melalui hibridisasi relatif sulit dilakukan karena sempitnya keragaman genetik tanaman   tersebut. Hal  ini  disebabkan  abaka diperbanyak  secara  vegetatif.  Sebagai  alternatif, peningkatan keragaman genetik tanaman abaka dapat dilakukan  dengan  mutasi  dan  induksi  keragaman somaklonal  dalam  kultur  in  vitro. Untuk mengidentifikasi mutan atau varian  dengan karakter unggul tertentu, perlu dilanjutkan dengan seleksi in vitro. Mutasi dengan menggunakan mutagen kimia Etil Metan Sulfonat (EMS) yang dilanjutkan dengan seleksi in vitro telah menghasilkan varian-varian abaka yang resisten terhadap Fusarium oxysporum f.sp cubense (Foc). Pengembangan klon abaka resisten terhadap Foc dapat mengurangi biaya produksi  sehingga  akan meningkatkan  keuntungan  petani  atau  pengusaha dalam  pengembangan agribisnis abaka di Indonesia.Kata kunci: Musa textilis Nee., Fusarium oxysporum f.sp. cubense, seleksi in-vitro ABSTRACTImprovement of Abaca Resistance to Fusarium and its Development ProspectGenetic  improvement  of  abaca  clones  through hybridization is relatively difficult due to the narrow genetic variability of this crop. The narrow genetic variability   of   abaca   caused   by   its   propagated vegetatively.  Alternatively,  genetic  improvement  of abaca could be conducted by mutation and somaclonal variation  inductions  through  in  vitro  culture.  To identify  mutants  or  variants  with  certain  superior character,  it  is  necessary  continued  with  in  vitro selection.  Mutation  of  abaca  which  was  conducted using chemical mutagen Ethyl Methane Sulphonate (EMS) followed by in vitro selection has resulted in resistant variants to Fusarium oxysporum f.sp cubense (Foc). Cultivation of the abaca variants resistant to Foc will  decrease  total  production  cost  and  of  crease farmers’ profit in abaca agribusiness in Indonesia.Key words: Musa textilis Nee, Fusarium oxysporum f.sp. cubense, in-vitro selection
Peluang Pembudidayaan Tanaman Echinacea (Echinacea purpurea) di Indonesia RAHARDJO, MONO
Perspektif Vol 4, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v4n1.2005.%p

Abstract

ABSTRAKEchinacea purpurea tergolong famili Asteracea yang banyak ditemukan tumbuh liar di Amerika Utara. Saat ini dikenal sebagai tanaman yang berkhasiat meningkatkan ketahanan tubuh paling penting di dunia, dan akhir-akhir ini telah diuji juga untuk terapi kanker, AIDS dan mengatasi kelelahan kronis. Karena manfaatnya tersebut, industri obat tradisional di Indonesia mengimpor bahan baku Echinacea. Seluruh bagian tanaman mempunyai khasiat sebagai obat. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa E. purpurea yang diintroduksi dari Australia, tumbuh baik di lingkungan tropis Indonesia pada ketinggian 450 - 1.100 m di atas permukaan laut.  Tanaman ini mampu menghasilkan bunga dan biji ketika ditanam di Cipanas (Jawa Barat) dan di Ungaran (Jawa Tengah). Biji  yang  dihasilkan    mempunyai  daya  kecambah 91,1%,  kecepatan tumbuh 77,5%, dan  percepatan tumbuh 12,0%. Laju pertumbuhan tanaman dan serapan hara N, P, K, Ca, Mg, dan S meningkat dengan bertambahnya umur tanaman, dengan akumulasi biomas kering terbesar pada bagian tajuk (batang dan daun) dan terendah pada bagian akar. Akumulasi biomas kering dapat mencapai 65,5 g per tanaman yang ditanam di lokasi Pacet dengan ketinggian tempat 1.100 m dpl, dan mencapai 35,4 g per tanaman di lokasi Ungaran dengan ketinggian tempat 450 m dpl. Mutu simplisia E. purpurea telah memenuhi standar yang telah ditentukan berdasarkan Standar Internasional. E. purpurea potensial untuk dibudidaya-kan di Indonesia, mengingat banyaknya manfaat tanaman tersebut.Kata  kunci  :  E. purpurea, tanaman obat, budidaya, kekebalan tubuh. ABSTRACTPotency  of  Echinacea  purpurea  cultivation  in IndonesiaPurple coneflower (Echinacea purpurea) belongs to the Asteraceae family which is naturally grown in North America. This crop is wellknown as the important-immune herbs in the world. Recently, Echinacea has also  been  evaluated  as  an  adjuvant  in  the  cancer therapy, AIDS and chronic recovery. Echinacea have been imported by the Indonesian Traditional-Herbs Companies for their invaluable purposes. The plant-parts used for medical purposes are the whole plant. Studies  on  introduced  E.  purpurea  from  Australia  showed that this crop grow well in Indonesia at 450-1.100 m asl. The plants could produce flowers and seeds in Cipanas (West Java) and Ungaran (Central Java) as well. The seed viability was 91,1%, growth rate was 77,5%, and daily growth rate was 12,0%.  Growth rate and nutrients uptake of N, P, K, Ca, Mg, and S linearly increased according to  the plant age. The highest dry weight was  accumulated at the aerial parts of plant (stem and leaf), and the lowest was on the root. Dry matter acumulation of plant  at Pacet-Cipanas location (1100  m  asl)  was  higher  than  dry  matter acumulaion of plant at Ungaran location (450 m asl). Nevertheles ,the quality of E. purpurea fullfilled the International Standard.  Therefore,  E.  purpurea  is potential  to  be  cultivated  in  Indonesia  for  their invaluable purposes.Key words: E. purpurea, medicinal plant, cultivation, immune system.