cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
PELUANG PALM FATTY ACID DISTILLATE DARI INDUSTRI MINYAK SAWIT DALAM PEMBUATAN MONO-DIGLISERIDA The Opportunities of Palm Fatty Acid Distillate from Palm Oil Industry in Production of Mono-Diglyceride Purnama, Kartika Okta; Setyaningsing, Dwi; Hambali, Erliza; Taniwiryono, Darmono
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.11-25

Abstract

Palm fatty acid distillate (PFAD) merupakan produk samping bernilai rendah yang dihasilkan dari proses deodorisasi pada tahapan refinery crude palm oil (CPO) menjadi minyak goreng sawit. Kandungan PFAD yaitu asam lemak bebas (ALB) sebagai komponen utama (>80 %) dan komponen minor berupa karoten (pro-vitamin A), tokoferol dan tokotrienol (vitamin E), sterol, fosfolipid, glikoloid, serta hidrokarbon terpenik dan alifatik. Potensi PFAD dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai produk dalam upaya peningkatan nilai tambah industri minyak sawit, seperti sebagai bahan baku dalam sintesis mono-digliserida (MDAG). Produk MDAG merupakan emulsifier yang telah banyak digunakan sebagai pengemulsi dalam industri pangan dan bukan pangan. Emulsifier berfungsi menyatukan dua fase cairan yang berbeda kepolaran sehingga membentuk suatu sistem emulsi. Hal ini disebabkan oleh karena bahan tersebut memiliki sifat hidrofilik dan hidrofobik di dalam senyawanya. Sintesis MDAG dari PFAD dapat dilakukan melalui esterifikasi enzimatis dan kimiawi dengan bantuan katalis. Sintesis MDAG dari PFAD merupakan reaksi yang bersifat reversible, sehingga konversi reaktan menjadi produk dalam jumlah tinggi sulit untuk diperoleh. Spesifikasi kemurnian MDAG tentang aditif makanan standar Uni Eropa (UE) tahun 2012. Adapun tantangan dalam produksi MDAG dari PFAD adalah rendemen dan spesifikasi produk MDAG yang dihasilkan relatif rendah, sehingga diperlukan berbagai upaya dalam peningkatan rendemen dan spesifikasi produk MDAG hasil sintesis. Makalah ini mereview tentang proses pengolahan dan karakterisik PFAD serta aplikasinya dalam sintesis MDAG dan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rendemen dan spesifikasi serta aplikasi MDAG pada berbagai produk untuk dapat diteliti lebih lanjut. Sintesis MDAG secara kimiawi  dilanjutkan dengan pemurnian produk hasil esterifikasi menggunakan metode distilasi molekuler berpeluang untuk dilakukan sebagai upaya dalam meningkatkan rendemen dan spesifikasi produk MDAG sesuai standar.ABSTRACT Palm fatty acid distillate (PFAD) is a low-value by-product produced from the deodorization process at the refinery crude palm oil (CPO) stage to become palm cooking oil. PFAD contains free fatty acids (ALB) as the primary (> 80%) and minor components in the form of carotene (pro-vitamin A), tocopherols, and tocotrienols (vitamin E), sterols, phospholipids, glycoloid, as well as terpenic and aliphatic hydrocarbons. PFAD can  to be used as a raw material for various products to increase the added value of the palm oil industry, such as a raw material in the synthesis of mono-diacylglyceride (MDAG). MDAG is an emulsifier that has been widely used as an emulsifier in the food and non-food industries. An emulsifier is a material that can unite two liquid phases with different polarities to form an emulsion system. This is because the material has both hydrophilic and hydrophobic properties as well as in its compounds. The synthesis of MDAG from PFAD can be carried out through enzymatic and chemical esterification with the help of a catalyst. The synthesis of MDAG from PFAD is a reversible reaction, so the conversion of reactants into products in high amounts is difficult to obtain. MDAG product purity specifications are following on European Union (EU) standard food additives in 2012. The challenge in MDAG production from PFAD is that the output and specifications of MDAG products are still relatively low so that various efforts are needed to increase the yield and specifications of synthesized MDAG products. This paper reviews the processing and characteristics of PFAD and its application in the synthesis of MDAG and the various efforts that can be made to improve the yield and specifications and the application of MDAG to multiple products for further research. Chemical synthesis of MDAG with a continuous process followed by purification of esterified products using the molecular distillation method has the opportunity to be done as an effort to increase the yield and specifications of MDAG products according to standards.
Manfaat Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) dalam Penyerapan Karbondioksida (CO2) SANTOSO, BUDI; JAMIL, ARINI HIDAYATI; MACHFUD, MOCH.
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.125-133

Abstract

ABSTRAKKenaf merupakan tanaman penghasil serat alam yang memiliki banyak produk diversifikasi dengan nilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan. Kontribusi kenaf terhadap lingkungan juga dikenal melalui kemampuannya yang tinggi dalam menyerap karbondioksida. Karbondioksida (CO2) adalah gas penyumbang efek rumah kaca utama yang sebagiannya dihasilkan secara antropogenik. Penyimpanan karbon oleh tanaman menjadi salah satu langkah paling penting dalam mitigasi gas rumah kaca. Tingginya absorbsi karbondioksida oleh kenaf dipengaruhi oleh laju fotosintesis yang tinggi, meskipun kenaf termasuk dalam tumbuhan C3. Laju fotosintesis kenaf didukung oleh aktivitas RuBP karboksilase, konduktansi stomata, dan hasil biomasa tanaman yang tinggi. Laju fotosintesis kenaf mencapai 3-8 kali lebih tinggi dibandingkan pohon dan tanaman C3 lainnya. Berdasarkan biomasa yang dihasilkan, kenaf siap panen umur 4-5 bulan menyimpan 2,9-12,1 ton C/ha atau menyerap 21-89 ton CO2/ha/tahun tergantung pada manajemen agronomi dan kondisi lingkungannya. Dengan luas lahan kenaf di Indonesia saat ini kurang lebih 3000 ha, maka serapan CO2 per tahun mencapai 63-267 ribu ton. Selain sebagai penyimpan karbon dalam waktu lama, beberapa produk diversifikasi kenaf seperti interior dan komponen mobil, peredam suara, serta pulp dan kertas juga turut berkontribusi mengurangi emisi CO2 melalui penghematan energi, serta mengurangi laju deforestasi dan emisi gas berbahaya lainnya. Pengembangan kenaf diharapkan mampu membantu pemerintah Indonesia dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca serta menyediakan bahan baku serat alam untuk kebutuhan industri yang ramah lingkungan.Kata kunci: Kenaf, absorbsi karbondioksidaABSTRACTKenaf (Hibiscus cannabinus L.) Benefits in Carbon Dioxide (CO2) SequestrationKenaf is a natural fiber crop that have a lot of diversified products with high economic value and environmental functions. Kenaf contribution to the environment is also known through a high ability to absorb carbon dioxide. Carbon dioxide (CO2) gas is the main anthropogenic contributor to the greenhouse effect. Carbon sequestration by plants became one of the most important steps to greenhouse gases mitigation. The high absorption of carbon dioxide by kenaf affected by the high photosynthetic rate, although kenaf belongs to the group of C3 plants. Kenaf photosynthetic rate supported by high RuBP carboxilase activity, high stomatal conductance, and high plant biomass production. Kenaf photosynthetic rate reaches 3-8 times higher than trees and other C3 plants. Based on biomass produced, kenaf ready for harvest on 4-5 months plant age saved 2,9-12,1 tonnes C/ha or absorb 21-89 tonnes CO2/ha/year depending on the agronomic management and environmental conditions. Nowadays, land area of kenaf in Indonesia is approximately 3000 ha, therefore the absorption of CO2 reaches about 63-267 million tonnes/year. As well as carbon sink in long time, some kenaf diversified products such as car interior and automobile components, sound absorber, and pulp and paper also contribute to reducing CO2 emissions through savings of energy and decreasing deforestation rate and other harmful gas emissions. Development of kenaf plantation is expected to help the Indonesian government in an effort to reducing greenhouse gas emissions as well as providing the raw materials of natural fiber for environmentally friendly industrial raw materials.Keywords : Hibiscus cannabinus L., carbon dioxide sequestration
Research Innovation to Support the Commersialization of Biopesticides in Indonesia Supriadi, Supriadi
Perspektif Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n1.2015.15-25

Abstract

ABSTRACTThe economic value of biological pesticides outside Indonesia is quite high, reaching US $ 1.8 billion, however, in Indonesia, the value is insignificant. The paper was aimed to discuss the commercialization of biological pesticides and research innovation to support its development. The biological pesticide formulation in Indonesia is limited; only 30 formulas (0.6%) are registered of the total 2475 registered pesticide formulations in 2012. The Ministry of Agriculture has produced 39 biological pesticide formulations that could be developed by pesticide companies for commercialization. The limited number of the registered biological pesticides shows serious constraints on their commercialization. One of the important constraint is lacking of standardization of the active ingredients and the formulations are short life. The Government, through The Ministry of Agriculture, emposes the Permentan no.39/ Permentan/SR.330/7/2015 in effort to encourage the commercialization of biological pesticides. The registrartion of biological pesticide do not require acute oral and dermal toxict data as that applied to synthetic pesticides. In addition, any government agency that has the duty and function of plant protection can apply for registration of biological pesticide. To improve the quality of biological pesticides that will attract investors, the role of research programs related to improving the quality of the biological pesticide formulation is needed.Keywords: Biological pesticides, innovation, research innovation 16 Volume 14 Nomor 1, Juni 2015 : 15 -25 Inovasi Hasil Penelitian untuk Mendukung Komersialisasi Pestisida Biologi di IndonesiaABSTRAKNilai ekonomi pestisida biologi di luar negeri cukup tinggi, yaitu mencapai US$ 1,8 milyar, tetapi di Indonesia nilainya belum memadai. Makalah ini membahas kendala komersialisasi pestsida biologi dan dukungan inovasi penelitian untuk pengem-bangannya. Jumlah formulasi pestisida biologi di Indonesia masih terbatas; hanya 30 (0,6%) dari total 2475 formulasi pestisida yang terdaftar pada tahun 2012. Kementerian Pertanian telah menghasilkan 39 inovasi formulasi pestisida biologi yang siap dikembangkan oleh perusahaan pestisida untuk komersialisasi. Terbatasnya formula pestisida biologi yang diperdagangkan menunjukkan adanya kendala dalam komersialisasinya. Kendala utamanya adalah belum adanya standardisasi mutu bahan aktif dan masa simpan bahan aktif sangat pendek (short life). Upaya Pemerintah untuk mendorong komersialisasi pestisida biologi ditunjukkan dengan terbitnya Permentan No.39/Permentan/SR.330/7/2015. Dalam Permentan tersebut, pendaftaran pestisida biologi tidak mensyaratkan data hasil uji toksisitas akut oral dan akut dermal sebagaimana diberlakukan untuk pestisida sintetis. Di samping itu, instansi Pemerintah yang mempunyai tugas dan fungsi perlindungan tanaman dapat mengusulkan pendaftaran untuk pestisida biologi. Untuk meningkatkan mutu pestisida biologi yang masih beragam perlu dibuat standar bakunya sehingga keefektifannya bisa terjamin sehingga akan menarik investor untuk mengembangkannya. Oleh karena itu, peran penelitian berkaitan dengan peningkatan mutu formulasi pestisida biologi sangat diperlukan.Kata kunci: Pestisida biologi, inovasi, dukungan penelitian
STRATEGI PRODUKSI BENIH TEBU DALAM MENDUKUNG SWASEMBADA GULA Strategy Of Sugar Cane Seed Production In Supporting Self Sufficiency Parnidi, Parnidi; Mastur, Mastur
Perspektif Vol 19, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v19n2.2020.122-135

Abstract

AbstrakTebu merupakan penghasil gula yang utama serta merupakan komoditas strategis di Indonesia.Benih bermutu merupakan faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan rendemen Salah satu upaya penting yang menentukan keberhasilan budidaya tebu adalah ketersediaan benih berkualitas. Tinjauan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek perbenihan tebu dan strategi untuk memperoleh benih dalam jumlah banyak, seragam, sehat, waktu sesuai, distribusi dan aspek ekonominya. Perbanyakan benih tebu umumnya dilakukan dengan pendekatan konvensional. Beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya perbanyakan benih tebu konvensional adalah faktor perbanyakan benih hanya 5-8. (?) Metode alternatif kultur in vitro mampu menghasilkan benih dalam jumlah banyak, seragam, sehat, dan waktu sesuai jadwal.Namun pengembangan kultur in vitro memerlukan fasilitas laboratorium, sumber daya manusia dan anggaran memadai.  Perbanyakan benih selanjutnya dilakukan berjenjang dengan bagal atau benih tumbuh satu mata.Metodebenih tumbuh satu mata(bud chips ataupun single bud sett) meskipun lebih mahal, mampu memperbanyak benih lebih cepat, sehat, dan seragam karena dapat diberikan perlakuan benih dengan pestisida dan zat pengatur tumbuh, memiliki multiplikasi lebih banyak karena banyaknya anakan, serta dapat melakukan seleksi untuk memilih benih yang tumbuh seragam dan sehat yang akan ditanam. Pengembangan sistem perbenihan tebu harus didukung faktor sosial ekonomi terutama aspek kelayakan finansial, kelembagaan dan sistem permodalan serta dukungan program dan kebijakan pemerintah. Abstracts Sugarcane is dominant to provide sweetener crop and its a strategic commodity in Indonesia.Qualified seeds are important factor increasing yield and sugar content of sugarcane.This review is purposed to discuss sugarcane seeds aspects and solution get seeds in more, hogenous, healthy, and proper shedule. Generally, source of KBPU multiplication seeds is conducted by breeder. Alternative method of tissue culture can produce much, homogenous, healty, and proper timetable. However, tissue culture development requires enough laboratory facillities, human resources, and budget.Following seeds mult. Fllowing multiplication are conducted hierracy through billets and bud chip.Eventhough bud chips or single bud sett are expencive, but it can produce seeds more quicly, helsty, and hommogenous due to able to threath of pesticide and plant growth regulator, higher multiplication due to many tillering, and selection of healthy and homogenous seeds.Sugarcane seeds system development has to be supported by socio-economic factors, particularly financial, institutional, and capital system. 
Peran dan Pengelolaan Hara Nitrogen pada Tanaman Tebu Untuk Peningkatan Produktivitas Tebu MASTUR, .; SYAFARUDDIN, .; SYAKIR, M.
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.73-86

Abstract

ABSTRAKUsaha peningkatan produktivitas tebu memerlukan varietas unggul baru (VUB) tebu berpotensi rendemen tinggi didukung teknologi budidaya yang tepat. Pengelolaan hara nitrogen (N) yang efektif dan efisien membutuhkan pemahaman peran fisiologis N dan responnya. Tinjauan ini dimaksudkan untuk membahas hasil-hasil penelitian dan implikasinya tentang penyerapan N, reduksi, biosintesis asam amino, respon dan pengaruh N dan interaksi dengan hara lain, serta aspek penyediaan hara N meliputi dosis, dan cara pemberian hara N dalam hubungannya dengan produktivitas dan rendemen pada tanaman tebu. Melalui tinjauan ini diharapkan dapat diperoleh rekomendasi pengelolaan hara N yang tepat untuk peningkatan produktivitas gula. Penyerapan N dalam bentuk nitrat membutuhkan energi dan peran enzim nitrat reduktase. Hal tersebut tidak berlaku untuk serapan N dalam bentuk amonium, namun ketersediaan yang terlalu tinggi dapat beresiko keracunan. Dalam akar atau daun, nitrat akan mengalami reduksi hingga terbentuk amonium, untuk selanjutnya dimanfaatkan dalam biosintesis asam amino. Nitrogen dibawa masuk ke tanaman umumnya melalui pupuk dalam bentuk amonium atau nitrat, dengan ion lain yang menyertai seperti pupuk amonium sulfat, amonium klorida, amonium nitrat, kalsium nitrat, dan juga urea. Nitrogen yang tepat dapat meningkatan pertumbuhan vegetatif (LAI dan anakan), laju fotosintesis, tertekannya pembungaan, kerebahan, dan kenaikan produktivitas tebu. Respon pemupukan N berbeda tergantung bentuk N dan ion pasangannya. Aplikasi dosis pupuk N kurang dari 150 kg N/ha disarankan satu kali yaitu pada fase awal pertumbuhan, namun bila dosis lebih tinggi aplikasi sebaiknya secara split dengan pemberian pupuk susulan pada umur tiga bulan. Dosis optimal umumnya berkisar antara 125 hingga 250 kg N/ha. Pemupukan N pada dosis tepat nyata meningkatkan produktivitas tebu, namun pengaruhnya pada rendemen umumnya tidak nyata.Kata-kata kunci: Tebu, nitrogen, gula sukrosa, produktivitas gulaABSTRACTRole and Management of Sugarcane Nitrogen Nutrient to Increase ProductivityEfforts to increase sugarcane productivity requires sugarcane with high sucrose yielding potency completed by proper cultivation method. Effective and efficient N management require on understanding physiological role and its responses. This review is aimed to discuss research findings and its implication on nutrient absorption and uptake, reduction, and amino acid biosynthesis, responses and N effects and its interaction, and supply aspect such as dossage, application method in relation to productivity and sucrose content to increase sugarcane productivity and its sucrose content. Through this review will be gotten proper N management to increase sugar productivity. Nitrate uptake needs energy and nitrate reductase. It is not for ammonium, but it need excess availability promoted toxicity., Nitrate will be reduced in roots or leaves to be ammonium, and then utilize for amino acid synthesis. Nitrogen enters to plants through fertilizer as nitrate or ammonium with other ion in fertilizer such as sulphate ammonium, chlorida ammonium, nitrate ammonium, nitrate calsium, and also urea. Proper N application wiil raise vegetative growth (LAI and tillering), photoshynthetic rate, flowering delay, lodging, and productivity rise. Response on N depend on N form and its pairs. N fertilizer dosage lower than 150 kg N/ha recomended once, at early growth phase, but dossage the higher one, supplemental application at 3 months. Right N dossage is significantly increasing sugarcane productivity, but its effect on sucrose content generally is not significantly.Keywords: Sugarcane, nitrogen, sucrose, sugar productivity
Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.) : PENGGUNAAN TRADISIONAL, FITOKIMIA dan AKTIVITAS FARMAKOLOGI Piper retrofractum Vahl. : Traditional Uses, Phytochemical and Pharmacological Activities Fahrauk Faramayuda; Sufyan Zainul Arifin; Akhirul Kahfi Syam; Elfahmi Elfahmi
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.26-34

Abstract

 ABSTRAK Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) adalah tanaman daerah tropis asli Indonesia yang dijumpai juga di negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia, dan sejak dahulu telah digunakan secara turun-temurun sebagai bahan tambahan makanan ataupun obat tradisional. Secara tradisional di masyarakat, buah cabe jawa dapat digunakan dalam ramuan untuk mengobati demam, perut kembung, mulas, muntah, mengatasi gangguan pencernaan, merangsang nafsu makan, dan lemah syahwat. Akarnya sering digunakan untuk mengobati sakit gigi, luka dan kejang, serta bagian daunnya digunakan juga untuk obat kumur. Beberapa penelitian menyebutkan aktivitas farmakologi cabe Jawa memiliki efek afrodisiaka, antipiretik, antihiperurisemia, antikanker, dan antimikroba. Pengujian klinis terhadap cabe jawa telah dilakukan dan potensial dikembangkan menjadi obat tradisional golongan fitofarmaka. Cabe jawa memiliki aktivitas sebagai imunostimulan, lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok imunostimulan fitofarmaka. Cabe jawa mempunyai potensi sebagai anti-photoaging, aktivitas antituberkular, antiproliferasi, aktivitas larvasida, dan aktivitas sitotoksik. Studi fitokimia senyawa metabolit sekunder utama yang terkandung dalam cabe jawa antara lain beberapa jenis alkaloid seperti piperine, pipernonaline, guineensine, piperoctadecalidine, minyak atsiri buah cabe jawa mengandung tiga komponen utama yaitu yaitu β-caryophyllene (17%), pentadecane (17,8%) dan β- bisabollene (11,2%) . Selain senyawa utama tersebut,  terdapat senyawa baru pada buah cabe jawa, diantaranya; senyawa amida, amida glikosida, fenilpropanoid glikosida, dan alkaloid. Sebagai afrodisiaka bagian yang digunakan adalah buahnya dan senyawa piperin yang diduga bertanggung jawab terhadap aktivitas tersebut. Piperin merupakan senyawa utama dan zat berkhasiat yang terkandung dalam buah cabe jawa dan berfungsi sebagai penurun demam, mengurangi rasa sakit, antioksidan, mengurangi peradangan, antitumor, dan sebagai imunomodulator. Berdasarkan aktifitas farmakologi yang baik dari cabe jawa maka studi atau penelitian-penelitian pada tanaman ini harus terus dilakukan seperti pengembangan formulasi dan upaya perbanyakan tanaman karena populasi cabe jawa jumlahnya terbatas. Media terbaik dalam induksi kalus tanaman cabe jawa adalah Murrashige Skoog (MS) yang ditambah 6-Benzil Amino Purin (BAP) dan Naphtalene Acetic Acid (NAA).ABSTRACT Piper retrofractum vahl. is a tropical plant native to Indonesia which is also found in Southeast Asian countries such as Thailand and Malaysia, and has been used for generations as a food additive or traditional medicine. Traditionally in the community, P. retrofractum  fruit can be used in potions to treat fever, flatulence, heartburn, vomiting, overcome digestive disorders, stimulate appetite, and impotence. The roots are often used to treat toothaches, wounds, and seizures, and the leaves are also used for mouthwash. Several studies have stated that the pharmacological activity of P. retrofractum  has aphrodisiac, antipyretic, anticancer, and antimicrobial effects. Clinical testing on P. retrofractum  has been carried out and has the potential to be developed into a traditional medicine of the phytopharmaceutical class. P. retrofractum  has activity as an immunostimulant, which is higher than the phytopharmaceutical immunostimulant group. P. retrofractum has potential as anti-photoaging, antitubercular, antiproliferative, larvicidal activity, and cytotoxic activity. Phytochemical studies of the main secondary metabolites contained in P. rectofractum include several types of alkaloids such as piperine, pipernonaline, guineensine, piperoctadecalidine, fruit essential oils. Javanese chili contains three main components, namely-caryophyllene (17%), pentadecane (17.8%) and -bisabollene (11.2%). In addition to these main compounds, there are new compounds in P. retrofractum  fruit, including; amide compounds, amide glucosides, phenylpropanoid glucosides, and alkaloids. As an aphrodisiac, the part used is the fruit and the piperine compound which is thought to be responsible for this activity. Piperine is the main compound and efficacious substance contained in P. retrofractum  fruit and functions as a fever reducer, pain reliever, antioxidant, reducing inflammation, antitumor, and immunomodulator. Based on the good pharmacological activity of P. retrofractum , studies or researches on this plant must continue to be carried out such as formulation development and plant propagation efforts because the population of P. retrofractum  is limited. The best medium for callus induction of cabe jawa was Murashige Skoog (MS) with 6-Benzyl Amino Purine (BAP) and Naphtalene acetic (NAA) added. 
PENINGKATAN DAYA SAING USAHA PERKEBUNAN TEBU RAKYAT DI JAWA: TANTANGAN DARI PERSPEKTIF KEBIJAKAN / Improving the Competitiveness of Sugarcane Farming in Java: Challenges from Policy Perspectives Agus Wahyudi
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.35-49

Abstract

ABSTRAK Produksi gula dari usaha perkebunan tebu rakyat di Jawa hingga saat ini masih menjadi andalan produksi gula nasional, tetapi dalam lima tahun terakhir kontribusinya menurun sejalan dengan semakin menurunnya areal tebu. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya saing usaha tebu rakyat semakin menurun yang diindikasikan oleh tingkat keuntungan yang terus menurun dan lebih rendah daripada usaha tani lainnya. Untuk meningkatkan daya saing usaha tebu rakyat diperlukan kebijakan pemerintah dalam rangka membantu memecahkan masalah atau mengatasi kendala-kendala, baik yang bersifat teknis maupun ekonomi. Tulisan ini bertujuan untuk mempelajari alternatif kebijakan teknis yang diperkirakan dapat membantu mengatasi kelangkaan sumber daya yang kemungkinan terjadi; serta mempelajari kemungkinan diperlukannya kebijakan pemberian insentif agar kebijakan teknis secara efektif dapat berjalan, melalui simulasi penetapan harga jual tebu dan gula. Alternatif kebijakan teknis yang bisa diterapkan untuk membantu mengatasi kelangkaan sumber daya yang terjadi pada sumber daya lahan, tenaga kerja, pupuk, benih tebu dan modal. Kelangkaan lahan mendorong terjadinya pergeseran budidaya tebu ke lahan kering, dengan potensi produktivitas lebih rendah, sehingga perlu pengembangan infrastruktur irigasi sederhana.  Kelangkaan tenaga kerja terjadi berulang pada saat kegiatan puncak, sehingga perlu pola tanam tebu yang memungkinkan penerapan mekanisasi. Kelangkaan pupuk sering terjadi karena kegiatan pemupukan tebu bersamaan dengan usaha tani lainnya, sehingga perlu koordinasi antar lembaga terkait untuk menyediakan pupuk khusus untuk usaha tebu. Benih tebu bermutu sangat langka, sehingga perlu penyederhanaan peraturan penjenjangan kebun benih tebu, agar produksi benih dapat berjalan. Modal usaha tebu rakyat masih langka dan belum sepenuhnya dapat dipenuhi dengan penyaluran KUR Khusus Tebu, sehingga perlu kebijakan operasional untuk meningkatkan akses terhadap KUR. Selain itu masalah ketidakpastian harga tebu juga harus diatasi, melalui kebijakan penetapan harga jual tebu, yang sekaligus sebagai insentif bagi pekebun untuk meningkatkan produktivitas tebu.ABSTRACT Sugar production from smallholder farming in Java still has significant contribution to the national sugar production, however, in the last five years the contribution has decreased in line with the decreasing sugar cane area. This condition indicates that the competitiveness or profitability rate is decreasing and lower than other farmings. To improve the competitiveness, government policies are needed in order to assist in relaxing the constraints, both technical and economic constraints.  This paper aims to study the technical policies that are expected to overcome the scarcity of resources that are likely to occur; as well as to study the possible incentive policies applied to support the technical policies, through simulations of the pricing of sugar cane and sugar.  Alternative technical policies are applied to overcome resource scarcity in land resources, labor, fertilizer, sugar cane seeds and capital. Land scarcity has encouraged the shift of sugarcane cultivation to dry land, with lower productivity potential, so it needs the development of simple irrigation infrastructure.  Labor scarcity occurs repeatedly during peak activities hence it is necessary to cultivate sugarcane patterns that allow the application of mechanization. Fertilizer scarcity often occurs because of sugarcane fertilization activities in concurrence with other farmings, so it is necessary to coordinate between related institutions to provide special fertilizer for sugar cane farms. Quality sugar cane seeds are very rare, so it is necessary to simplify the regulation of the classifications of sugarcane seeds, in order the seed production can run. The capital is still scarce and can not be fully fulfilled with the KUR (small scale credit program), so it needs operational policies to improve the access to KUR. In addition, the problem of sugarcane price uncertainty must also be addressed, through the policy of pricing of sugarcane, which also as an incentive for farmers to increase the productivity.
Konservasi Musuh Alami Serangga Hama sebagai Kunci Keberhasilan PHT Kapas NURINDAH NURINDAH; DWI ADI SUNARTO
Perspektif Vol 7, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n1.2008.%p

Abstract

RINGKASANSejak   awal   pengembangan   kapas   di   Indonesia, serangga hama merupakan salah satu aspek penting dalam  budidaya  kapas,  sehingga  ditetapkan  sistem pengendalian dengan penyemprotan insektisida kimia sintetik  secara  berjadwal  sebanyak 7  kali  selama semusim dengan jumlah insektisida hingga 12 l/ha. Pengembangan  PHT  kapas  ditekankan  pada  sistem pengendalian   non-kimiawi   dengan   memanfaatkan secara optimal faktor-faktor mortalitas biotik serangga hama utama, yaitu wereng kapas Amrasca biguttulla (Ishida)   dan   penggerek   buah   Helicoverpa   armigera (Hubner).  Optimalisasi musuh alami serangga hama kapas dilakukan melalui tindakan konservasi, yaitu memberikan lingkungan yang mendukung terhadap musuh  alami  untuk  dapat  berperan  sebagai  faktor mortalitas biotik, sehingga populasi serangga hama dapat dijaga untuk selalu berada pada tingkat yang rendah.  Tindakan konservasi musuh alami dilakukan dengan   memperbaiki   bahan   tanaman   dan   teknik budidaya   yang   dapat   mendukung   perkembangan musuh alami, yaitu penggunaan varietas kapas yang tahan   terhadap   wereng   kapas,   sistem   tanam tumpangsari  dengan  palawija,  penggunaan  mulsa, penerapan    konsep    ambang    kendali    dengan mempertimbangkan  keberadaan  musuh  alami  dan aplikasi insektisida botani, jika diperlukan.  Penerapan PHT kapas dengan mengutamakan konservasi musuh alami, berhasil mengendalikan populasi hama tanpa melakukan    penyemprotan    insektisida    dengan produksi   kapas   berbiji   yang   tidak   berbeda   dari produksi budidaya kapas dengan sistem pengendalian hama    menggunakan    penyemprotan    insektisida, sehingga menghemat biaya input dan meningkatkan pendapatan petani.  Konservasi musuh alami melalui penerapan    komponen    PHT    sebenarnya    dapat dilakukan petani dengan mudah, karena komponen PHT  tersebut  pada  umumnya  merupakan  praktek budidaya kapas yang sudah biasa dilakukan petani.Kata  kunci:  Kapas,  Gossypium  hirsutum,  Helicoverpa armigera,   Amrasca   biguttulla,   ambang kendali, musuh alami, PHT.  ABSTRACKConservation of natural enemies is the key for successful IPM on cottonSince early development of cotton in Indonesia, insect pests  were  the  most  important  aspect  of  the  crop cultivation, so that the scheduled sprays of insecticides were applied.  The frequency of sprays were 7 times using 12 l/ha of insecticides per season. The development of IPM on cotton is emphasized on non-chemical control methods by optimizing the role of natural enemies of the key pests, i.e., cotton jassid Amrasca   biguttulla  (Ishida)   and   cotton   bollworm Helicoverpa  armigera  (Hubner).  Conservation  of  the natural enemies provides the suitable environment for them to be an effective mortality factor so that the pests could   be   maintained   always   in   low   population. Conservation  of  the  natural  enemies  was  done  by improving the plant material and cultural techniques. These include the use of resistant cotton variety to jassid,  intercropping  with  secondary  food  crops, applying mulch, and adopting the action threshold concept which considers the natural enemies presence, and   using   botanical   insecticide   if   necessary. Conservation of natural enemies on IPM successfully controlled  the  cotton  pests  without  any  pesticide sprays  and  the  production  of  cotton  seed  did  not significantly different with that use insecticide sprays. This leads to reduction of cost production and increase the farmers’ income. Conservation of natural enemies  by applying IPM components should be no difficulty to be applied, as the components are mostly those that usually practice by the farmers.Key words: Cotton, Gossypium hirsutum,Helicoverpa armigera, Amrasca  biguttulla,  action threshold, natural enemies, IPM.
TEKNIK PEMODELAN BERDASARKAN VISUALISASI WARNA UNTUK TRANSPARANSI GRADING DAN SORTASI TEMBAKAU VIRGINIA / Modelling Techniques Based on Colour Visualization for Transparency Grading and Sorting of Virginian Tobacco Nunik Eka Diana; Joko Hartono
Perspektif Vol 20, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n1.2021.50-62

Abstract

ABSTRAKTembakau Virginia memerlukan beberapa tahapan proses sebelum memasuki proses tataniaga, diantaranya yang memegang peranan penting adalah grading (penilaian) dan sortasi. Kedua proses ini sangat menentukan tingkatan mutu dan harga jual daun tembakau yang dihasilkan oleh petani. Dengan proses grading dan sortasi yang tertata, maka penjual (dalam hal ini petani) dan pembeli dapat mengklasifikasikan tembakau sesuai dengan mutu yang dikehendaki. Proses sortasi lebih menekankan pada keseragaman berdasarkan pada posisi daun pada tanaman dan ketampakan secara visual termasuk warna, cacat, kerusakan, panjang daun serta tingkat kemasakan daun. Berdasarkan hasil sortasi diperoleh beberapa tingkatan mutu yang tergantung pada tipe dan jenis tembakau serta berdasar pada permintaan pasar. Sementara proses grading adalah tindakan pengklasifikasian mutu dari hasil sortasi yang didasarkan pada posisi daun atau letak daun pada batang dan unsur-unsur luar lainnya (external appreciation), sehingga dihasilkan mutu paling seragam. Secara konvensional, proses grading dilakukan secara kualitatif, namun saat ini sudah terdapat beberapa metode yang dapat mengklasifikasikan tingkatan mutu tembakau berdasarkan kuantifikasi dengan metode pemodelan. Metode ini mengacu pada penampakan visual, yaitu berdasarkan pada warna daun tembakau serta posisi daun pada batang. Namun, metode-metode ini masih banyak dilakukan di luar negeri yang sudah maju kegiatan pengembangan dan penelitiannya. Hasil penelitian tentang teknik pemodelan proses grading tembakau jika dibandingkan dengan secara manual memiliki nilai keakuratan berkisar antara 64-87,18%, bahkan sudah dicoba ulang dengan tingkat akurasi 81-93% dengan teknik pemodelan CNN yang perlu disempurnakan, namun teknik pemodelan masih didahului dengan proses sortasi daun tembakau berdasarkan kelas mutunya. Diharapkan penulisan naskah ini dapat memberikan pemahaman yang bermanfaat dalam pengelolaan tembakau terutama proses sortasi dan grading sehingga diperoleh kelas mutu sesuai dengan harapan. ABSTRACTAs a commodity with a high economic value, tobacco requires several stages before entering the process of trading. Among the processes that important role is the process of grading and sorting. These two processes will greatly determine the level of quality and at the same time determine the selling price of tobacco leaves produced by farmers. With the process of grading and sorting arranged then the seller (the farmer) and the buyer can classify tobacco in accordance with the desired quality. Sorting process is more emphasis on uniformity based on leaf position on plants and visually visible including color, defect, damage, leaf length and maturity level of leaves. Based on the sorting results obtained several levels of quality depending on the type and kind of tobacco and based on market demand. While the grading process on tobacco is the action of classifying the quality of the sorting results based on the leaves position on the stem and other external elements that are considered important and affect the quality, resulting quality until the most uniform conditions. In this way the process of marketing tobacco can be more transparent because the quality becomes more orderly. Grading process is always done qualitatively, but now there are several methods that can classify the level of tobacco quality based on quantification by modeling method. This method refers to visual appearance based on the color of tobacco leaves and the position of leaves on the stem. However, these methods are still widely practiced abroad with advanced development and research activities. The results of research on tobacco grading process modeling techniques when compared to manually have an accuracy value ranging from 64-87.18%, it has even been retried with an accuracy rate of 81-93% with CNN modeling techniques that need to be refined but the modeling technique is still preceded by the tobacco leaf sorting process based on its quality. It is hoped that the writing of this manuscript can provide a useful understanding in tobacco management, especially the sorting and grading process in order to obtain a quality class as expected. 
Agen Hayati Nuclear Polyhedrosis Virus dan Potensinya dalam Mengendalikan Penggerek Buah Kapas Helicoverpa armigera Hubner I.G. A.A. INDRAYANI
Perspektif Vol 2, No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v2n1.2003.20-30

Abstract

Meningkatnya minat dalam pengendalian serangga hama secara non-kimiawi menimbulkan suatu dorongan untuk mengoptimalkan peran sumber daya hayati dalam menanggulangi masalah hama Salah satu sumber daya hayati yang cukup potensial untuk mengendalikan serangan hama penggerek buah kapas adalah patogen serangga Nuclear Polyhedrosis Virus dari H. armigera (HaNPV). Efektivitas HaNPV terhadap hama sasaran telah diuji di laboratorium maupun lapangan. Sejumlah penelitian tentang potensi maupun efektivitas HaNPV secara tunggal maupun kombinasi dengan cara pengendalian yang lain juga telah dilakukan, termasuk kajian ekonominya. Penelitian pada kapas monokultur menunjukkan bahwa kombinasi HaNPV dan insektisida kimia efektif mengurangi penggunaan insektisida kimia sekitar 44.6% (2,1 liter/ha) dibanding jika hanya menggunakan insektisida kimia Sedangkan pada tumpangsari kapas dan kedelai, penghematan insektisida kimia mencapai 30.2% (1.6 liter/ha) dengan peningkatan tambahan penerimaan atas biaya pengendalian hama sebesar 14.2%. Teknik produksi massal HaNPV secara sederhana saat ini telah tersedia, tetapi pengembangannya ke tingkat petani. masih menemui hambatan.Kata kunci: HaNPV, H. armigera, entomopatogen, kapas monokultur, kapas tumpangsari.