cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
Pemupukan Rasional dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Kapas KADARWATI, FITRININGDYAH TRI
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKPemupukan merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam budidaya kapas karena kondisi lahan yang diperuntukkan tanaman kapas biasanya tidak subur bahkan cenderung marginal. Konsep pemupukan berimbang yang dipopulerkan tahun 1987 merupakan   upaya   untuk   menentukan   kebutuhan pupuk  dengan tepat. Pendekatan tersebut sebenarnya baik, tetapi dengan berjalannya waktu, konsep tersebut banyak   disalahartikan   menjadi   pemupukan   yang lengkap  jenisnya  dengan  jumlah  tertentu  sehingga dalam prakteknya sering berlebihan unsur tertentu dan ada  unsur lain yang tidak dipenuhi. Upaya untuk menentukan    pemupukan    yang    tepat    agar produktivitas tanaman tetap optimal dan pemborosan pupuk   dapat   dihindari,   diperkenalkan   konsep pemupukan   rasional.   Pemupukan   rasional   adalah memberikan   jenis   hara   yang   kurang   melalui pemupukan  dalam  dosis  yang    sesuai    dengan kebutuhan  tanaman dan  sesuai  dengan kemampuan tanah   menyediakan   unsur   hara   bagi   tanaman. Rekomendasi   pemupukan   kapas   pada   awalnya didekati melalui  percobaan-percobaan pemupukan lapang di lokasi pengembangan kapas yang hasilnya bersifat sangat spesifik sehingga kurang tepat untuk diekstrapolasikan. Dengan selalu berpindah-pindahnya lokasi pengembangan kapas maka metode tersebut menjadi kurang relevan.  Status hara tanah yang   diperoleh   dari   hasil   analisis   tanah,   dapat menggambarkan tingkat kemampuan tanah menyediakan hara  sehingga  dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kebutuhan pupuk tanaman kapas yang rasional. Pemupukan rasional pada kapas adalah  untuk Nitrogen berdasarkan kadar  N-NO3tanah   dengan   batas   kritis20-25 ppm, untuk pemupukan P berdasarkan P tersedia dalam tanah (P-Olsen) dengan batas kritis 20 ppm P, sedangkan untuk pemupukan K berdasarkan pada K tersedia dalam tanah (K-dd) dengan batas kritis 150 ppm K.  Pupuk kandang, bokashi dan limbah pabrik (sipramin) dapat digunakan  sebagai  pupuk  organik  alternatif  pada tanaman kapas dan dapat meningkatkan kesuburan tanah.Kata Kunci: Kapas, Gossypium hirsutum, pemupukan, analisis tanah, pupuk anorganik,  pupuk organik ABSTRACT Rational fertilization to increase Cotton productivityAs cotton is mainly grown on marginal land or less fertile soil, farmers need to apply fertilizer. Balanced fertilization   principle   was   initiated   in 1987   and adopted as a method  to determine the dosage of fertilization.  In fact, this methode tends to exessive use in a certain element and less for others.  Rational use in fertilizer  is  needed  to  avoid  the  exessive  use  of fertilizer. This principle implies that it is necessary to supply nutrient based on crop nutrient requirement and soil’s ability to supply nutrients. Recommendation on   fertilization   is   determined   through   several experiments on different sites which is difficult to be extrapolated to other sites. This recommendation is no longer used as cotton areas did not  concentrate in a certaint part for a long period of time.  Nutrient condition in the soil indicates the status of soil fertility that   can   be   used   for   determination   of   nutrien requirement. Rational use in Nitrogen for cotton is determined based on Soil N-NO3  with critical level 20-25 ppm, critical level for soil phosphorus is ppm P; and critical  level  for  soil  potassium 150  is    K.    The application  of  farm  manure,  bokashi,  and  sugar industry waste could increase soil fertility and cotton production.Key Words: Cotton, Gossypium hirsutum, fertilization, soil analysis, unorganic fertilizer, organicfertilizer.
Peningkatan Pendapatan Usahatani Kenaf Melalui Perbaikan Teknologi di Lahan Rawa Musiman (Bonorowo) SANTOSO, BUDI
Perspektif Vol 3, No 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v3n1.2004.1-14

Abstract

Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) merupakan tanaman penghasil serat alam yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk karung goni, door trim, fibre drain, geoteksil, bubur ketas (pulp) dan kerajinan rumah tangga yang ramah lingkungan. Perusahaan swasta yang berada di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur telah mengembangkan kenaf untuk diambil seratnya. Produk yang dihasilkan dari perusahaan tersebut adalah door trim, inteior mobil. Usahatani di lahan rawa musiman (bonorowo), sebelum ditemukan kenaf dan sejenisnya hanya dilakukan satu kali saja. Penanaman padi dilakukan pada awal bulan Pebruai setelah banjir mulai surut dan berakhir pada bulan Juni. Pada musim berikutnya, bulan Juli sampai dengan Oktober keadaan lahan hero, karena musim kemarau dan lahan keing. Bilamana dipaksakan ditanami padi lagi air idak mencukupi dan resiko kegagalan tinggi. Bulan Nopember sampai dengan Januai musim penghujan iba dan lahan dalam keadaan banjir, sehingga bero masih berlanjut. Dengan sisa waktu 3 bulan yaitu Juli-September, tanaman kenaf dapat diusahakan. Pada permulaannya kenaf ditanam secara monokultur, kemudian berubah menjadi tumpangsai jagung dan kenaf. Kenaf yang ditanam di lahan bonorowo adalah varietas Hc.48. Kelemahan dai vaietas He. 48 yaitu peka terhadap fotopeiodisitas dan sudah mengalami degradasi produksi. Balittas telah melepas vaietas-vaietas baru seperti Kr. 6; Kr. 7; Kr. 8 ; Kr. 9 dan Kr. 11 dan pada musim tanam 1999/2000 vaietas lama yang digunakan sudah diganti. Kelebihan dai varietas-vaietas baru kenaf tersebut yaitu kurang peka terhadap fotopeiodisitas dan mempunyai tingkat produkivitas yang tinggi (2,5 - 3,0 ton/ha). Pendapatan usahatani tumpangsai jagung (Arjuno) dan kenaf (Kr. 6) lebih tinggi dibanding dengan monokultur kenaf ataupun jagung. Hasil analisis pendapatan usahatani tumpang¬ sari jagung dan kenaf dapat mencapai Rp. 2.906.750,-/ ha. Sedang monokultur jagung dan kenaf masing-masing hanya menghasilkan pendapatan usahatani sebesar Rp. 1.173.250,- dan 1.776.000,- /ha.Kata kunci: Kenaf, Hibiscus cannabinus, jagung, usahatani, tumpangsai, monokultur, bonorowo. ABSTRACT Improving the income of Kenaf farming through improving the technology for flooded land Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) is a natural fiber producer. The fiber is used as mateial for bast fiber, door trim, fiber drain, geotexile, pulp and home industry. A pivate company locaed in Pasuruan Distict, East Java has developed kenaf to produce the natural fiber. The products are door trim and car inerior. Before kenaf was found, there was only one farming system in floded land in a year. Rice was planed early in February when the flood decreased and it finished in June. The next season, July to October the land was not used for plantation because it is dry season and the land is lack of waer. Planting ice in this season is isky because the waer stock is not enough to waer the ice plant. The ainy season comes in November to January, the land can not used for planing, because the land is flooded. The rest of the months can be used for kenaf plantaion (July-Sepember). Previously kenaf was planted in monoculture sysem, laer it is inercropped with corn. Beside geting income from kenaf fiber, the farmers also got it from corn plantaion. Corn was harvested first then kenaf. Kenaf that was planted in flooded land was He. 48. The weaknes of He. 48 vaiety was sensitive to photopeiode and its producivity was degraded. Therefore, the Research Cener for Tobacco and Fiber Crops released new vaieies, Kr. 6; Kr. 7; Kr. 8; Kr. 9 and Kr. 11. So that, in the planting season of 1999/2000 the small holder bast fiber inensificaion used the new vaieies. The new vaieies wee not sensitive to photoperiode and had high producivity (2.5 up to 3 tons per ha). These vaieties can be intercroped with corn. The inercropping of kenaf (Kr.6) with corn (Arjuna) produced higher yield compared to that of kenaf or corn monoculture sysem. The results of the analysis is that kenaf and corn intercropping can each Rp. 2,906,750 per ha. While corn and kenaf monoculture sysem can each Rp. 1,173,250 and Rp. 1,776, 000 per ha respecivelly.Key words : Kenaf, Hibiscus cannabinus, corn, farming sysem, intercropping, monoculture, flooded land
STRATEGI PENELITIAN BUDIDAYA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING PALA / Research Strategy of Cultivation to Improve Productivity and Competitiveness of Nutmeg Suryadi, Rudi
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.01-13

Abstract

ABSTRAKIndonesia adalah negara penghasil sekaligus pengekspor pala nomor satu di dunia. Pala merupakan komoditas strategis sub sektor perkebunan karena selain sebagai penghasil devisa negara juga penyerap lapangan kerja dengan melibatkan jumlah petani yang cukup banyak. Permasalahan yang dihadapi adalah masih rendahnya produktivitas dan kualitas pala Indonesia dibandingkan negara pengekspor pala lainnya, seperti Grenada dan India, sehingga daya saingnya menjadi rendah. Saat ini telah dilepas 4 varietas unggul pala yang mempunyai potensi produksi antara 5.120 - 7.500 butir/pohon atau 1.000 - 1.500 kg /tahun dengan kadar minyak atsiri pada biji antara 10,80% - 11,85% dan pada fuli antara 13,9% - 20%. Apabila dalam pengembangan luas areal pertanaman pala menggunakan tanaman sambungan dari varietas unggul, maka potensi peningkatan produktivitasnya dapat ditingkatkan dari 472 kg/tahun menjadi 1.500 kg/tahun. Agar potensi produksi dari varietas unggul tersebut muncul, maka perlu didukung dengan teknologi budidaya yang benar dan efisien, seperti penentuan jarak tanam yang optimal, penentuan rekomendasi pupuk yang berimbang dan spesifik lokasi, serta optimasi sex ratio untuk meningkatkan tanaman yang produktif dari 60% menjadi 90% dengan penyambungan in situ. Namun, melihat perkembangan penelitian pala sampai saat ini, informasi hasil penelitian budidaya pala masih sangat terbatas. Oleh karena itu perlu disusun strategi penelitian budidaya untuk mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas hasil yang efisien. Tersedianya teknologi budidaya pala yang applicable dan feasible akan mendorong tercapainya efisiensi peningkatan produktivitas dan kualitas, sehingga selain berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani juga akan meningkatkan daya saing pala Indonesia di pasar internasional. Kata kunci : Myristica fragrans, budidaya, daya saing, efisien,  produktivitas.ABSTRACT Indonesia is the first producer and exporter of nutmeg in the world. Nutmeg is a strategic commodity since it generates foreign exchange as well as providing jobs for number of farmers.  The main problem in nutmeg is low productivity and product quality, hence the competitiveness is lower than other exporting countries such as Grenada and India. Currently, has been released four varieties of nutmeg prefetch queue that have the potential to produce between 5.120 - 7.500 grains/tree or 1.000 -1.500 kg/year with oil content in seeds between 10,80% - 11,85% and the mace between 13,9% - 20%. If the development of area using grafting material of  high-yielding varieties, the potential increase in productivity can be increased from 472 kg/year to 1.500 kg/year. In order for the potential production of high-yielding varieties appear, it needs to be supported with cultivation technology properly and efficiently, such as determining the optimal spacing, determination fertilizer recommendations impartial and specific locations, and optimization of sex ratio for increasing productive plant from 60% to 90 %  with graftign in situ. However, information related to research cultivation on nutmeg is very limited.  Therefore, it is important to develop research strategies of cultivation to support the improvement of productivity and product quality of nutmeg efficiently. The availability of cultivation  technology applicable and feasible, the efforts to increase the productivity and quality of nutmeg be achieved efficiently, so that in addition to impact on farmers' income increase of nutmeg will also improve the competitiveness of Indonesian nutmeg in the international market. Keywords: Myristica fragrans, cultivation, competiti-veness, efficient, quality, productivity.
Prospek dan Strategi Pengembangan Pala di Maluku BUSTAMAN, SJAHRUL
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPala Banda (Myristica fragrans Houtt) adalah komoditas utama pada program revitalisasi perkebunan Provinsi Maluku dan merupakan tanaman asli daerah. Di tahun 2005 produksi pala rakyat 1998 ton pada luas lahan 1948 Ha, sedangkan perusahaan perkebunan menghasilkan 2357 ton dari luas areal 10.128 Ha, dengan harga biji pada kualitas terbaik Rp 30.000/kg dan fuli Rp 50.000/kg. Dari hasil kajian Agro Ekologi Zona (AEZ) Maluku, luas lahan   yang   masih   tersedia   untuk   pengembangan tanaman perkebunan termasuk pala sebesar 871.656 Ha yang tersebar pada lima kabupaten. Tanaman pala yang ada saat ini bibitnya berasal dari biji sehingga masalah sex ratio untuk menghasilkan buah masih ditemukan. Komposisi tanaman pala rakyat terdiri dari (1) Tanaman  Belum   Menghasilkan (TBM)   sebanyak 27,85%; (2) Tanaman  Menghasilkan  (TM)  44,74%  dan  Tanaman Tua/Rusak (TTR)27,40%. Dalam usaha pengembangan pala,  ketersediaan  teknologi  budidaya  tanaman  dan pasca panen telah ada  di Badan Litbang Pertanian, sedangkan dukungan dana dan kebijakan diharapkan dari  pemerintah  daerah  guna  memulihkan  kondisi tanaman. Di sektor hulu, kebijakan lebih diarahkan kepada peningkatan produktivitas, mutu biji dan fuli pala   melalui   kegiatan   ekstensifikasi,   intensifikasi, rehabilitasi, peremajaan, serta pengendalian hama dan penyakit pala. Sedangkan di sektor hilir, kebijakan lebih  diarahkan  kepada  peningkatan  nilai  tambah dalam   bentuk   hasil   olahan   untuk   industri   dan panganan.   Propinsi   Maluku   terdiri   dari   wilayah kepulauan,  sehingga  strategi  pengembangan  usaha pala untuk kegiatan agribisnis dibagi atas wilayah pengembangan I, II dan III.Kata kunci:  Pala,  Myristica  fragrant,  pengembangan, Maluku. ABSTRACTProspect and Development Strategy of Nutmeg Development In MalukuBanda’s Nutmeg (Myristica fragrant Houtt) is the main commodity of the estate crop revitalization program in Maluku Province, which is native to the region. In year 2005 the total area of the small holder nutmeg crop is about 1948 ha with the total production of about 1998 tons. While the total estate nutmeg crop covers about 10.128 ha with the total production of about 2357 tons. The price of nutmeg seed is about Rp 30.000 / kg and the price of fuli is Rp.50.000 /kg. According to the survey carried out by the BPTP Maluku, the total land which is still available for the development of estate crop including nutmeg is around 871.656 ha, spread over five Regencies (Kabupaten). The existing nutmeg plants is generally come from seedlings, therefore the sex ratio in producing nutmeg fruits is still a major constraint. The composition of small holder nutmeg plantation consists of; (i) Not yet producing (young plants) counts about 27,85% (ii) Productive plants of about 44,74% and (iii) Old plants of about 27,40%. Both cultivation and post harvest technology for nutmeg plantation are available in the Agency for Agriculture Research and Development (Badan Litbang Pertanian). The  regional  authority  should  be  convinced  the necessity of supporting plant rehabilitation in order to produce good quality nutmeg and in turn as the regional income source. In the cultivation sector, the policy is to increase productivity of fruit and fuli quality which is implemented through rehabilitation, intensification, replantation, pests and disease control. In the upstream sector, the policy is directed to improve the added value of post harvest in terms of products for industrial materials and food production. The province of Maluku consists of  several islands, therefore  the  strategy  of  the  nutmeg  agribusiness development is divided into  regional development I, II and III.Key words: Nutmeg, Myristica fragrans, development, Maluku
Sistem Usahatani Berbasis Kelapa TARIGANS, DOAH DEKOK
Perspektif Vol 1, No 1 (2002): Juni 2002
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v1n1.2002.18-32

Abstract

Tanaman kelapa (Cocos nucifera) memiliki peran yang strategis bagi masyarakat Indonesia, bahkan tanaman kelapa termasuk sebagai komoditas sosial kedua setelah padi mengingat produknya merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok masyarakat. Peran strategis demikian terlihat dari total areal 3.74 juta hektar, dan sekaligus sebagai areal perkebunan terluas dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya. Sekitar 3.59 juta hektar (96%) merupakan perkebunan rakyat yang memiliki berbagai masalah seperi , (1) luas kepemilikan lahan yang sempit ,(2) sebagian besar diusahakan dengan pola monokultur dan bersifat subsistan, (3) produkivitas kelapa rendah, (4) pendapatan usahatani rendah, (5) adopsi teknologi sangat terbatas, (6) produk yang dihasilkan masih dalam bentuk produk primair dan idak kompeiif dan (7) harga produk diingkat petani rendah dan fluktuaif. Berdasarkan kondisi tersebut, dalam dua dekade terakhir telah dilaksanakan penelitian sistem usahatani berbasis kelapa (SUBK) secara intensif dan terencana pada berbagai agroekosistem disentra-sentra produksi kelapa. Hasilpenelitian menyimpulkan bahwa pengembangan tanaman kelapa secara monokultur idak dianjurkan lagi, karena secara teknis maupun ekonomis idak menguntungkan. Saat ini di negara-negara penghasil kelapa utama seperi India, Filipina, Sri Lanka, dan Indonesia merekomendir dikembangkannya SUBK dengan introduksi berbagai tanaman sela yang prospekif. SUBK ini memiliki beberapa keunggulan yaitu (1) pemanfataan lahan usahatani menjadi efisien dan produkif, (2) meningkatkan produkifitas usahatani, (3) meningkatkan pendapatan usahatani, (4) pemakaian input usahatani lebih efisien dan pendapatan petani lebih terjamin. Namun demikian hasil studi SUBK di Indonesia menunjukkan suatu kenyataan bahwa peningkatan luas areal dan produksi belum sepenuhnya diikui dengan peningkatan pendapatan petani. Kondisi ini terutama disebabkan (1) rendahnya produkivitas dan harga produk diingkat petani, (2) rendahnya efisiensi pemanfaatan lahan serta (3) belum optimalnya pengolahan semua produk yang dihasilkan. Masalah tersebut dapat diatasi melalui diversifikasi usahatani horizontal dan vertikal. Penerapan diversifikasi secara terpadu dapat diharapkan (1) kehidupan petani lebih layak, (2) petani kelapa menjadi pelaku didalam sistem agribisnis kelapa, (3) tumbuhnya semangat petani untuk melakukan usahatani kelapa, (4) sumber daya fisik perkebunan kelapa dapat dimanfaatkan secara opimal, (5) terpenuhinya bahan baku untuk industi pengolahan, (6) tumbuh dan berkembangnya kelembagaan dan industri baru dari hasil tanaman campuran, (7) transfer teknologi dapat dipercepat, dan (8) meningkatnya sumbangan kelapa terhadap pendapatan devisa negara.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera, sistem usahatani, tanaman sela, diversifikasi horisontal, diversifikasi verikal.
Rekomendasi Waktu Tanam Kapas di Lahan Tadah Hujan RIAJAYA, PRIMA DIARINI
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKPenanaman kapas di lahan tadah hujan membutuhkan perkiraan  waktu  tanam  yang  tepat  agar  tanaman mendapatkan   suplai   air   yang   cukup   selama pertumbuhannya.  Rekomendasi waktu tanam kapas di daerah tadah hujan Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, dan Nusa Tenggara Barat telah ditetapkan berdasarkan analisis data curah hujan lebih dari 20 tahun dengan metode peluang Markov Order Pertama   dan   perhitungan   peluang   selang   kering berturut-turut.    Rekomendasi  waktu  tanam  dalam minggu  tanam  paling  lambat (MPL)  di  Sulawesi Selatan yaitu di Kabupaten Jeneponto, Takalar dan sebagian besar Gowa berkisar minggu I-IV Desember. Sedangkan di Kabupaten Soppeng dan Wajo berkisar minggu III Februari sampai minggu III Maret.  Di Bone dan  Bulukumba  MPL  berkisar  minggu  III  Maret sampai minggu III April.  MPL di Jawa Timur yaitu di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Jember dan Banyuwangi berkisar minggu I-IV Desember, dan di kabupaten Lumajang berkisar minggu I Januari, kemudian di Kabupaten Lamongan, Mojokerto dan Tuban berkisar minggu II Desember sampai minggu I Januari.  MPL di Jawa Tengah meliputi Kabupaten Grobogan dan Wonogiri berkisar minggu I Desember sampai   minggu   I   Januari   sedangkan   di   Blora, Pemalang,  Tegal  dan  Brebes  adalah  minggu  I-IV Januari.    MPL  di  Nusa  Tenggara  Barat  yaitu  di sebagian   besar   Lombok   dan   Sumbawa   berkisar minggu I-II Desember.  Tipe iklim di wilayah tersebut didominasi oleh tipe iklim D dan E dengan musim hujan hanya 3-4 bulan sehingga mempunyai resiko tinggi   terhadap   kekeringan.   Untuk   meningkatkan produktivitas kapas di lahan kering maka tambahan air   irigasi   mutlak   diperlukan   untuk   mengatasi kekurangan air atau kekeringan.Kata kunci: Gossypium hirsutum, waktu tanam, periode kering ABSTRACTRecommendation on Rainfed Cotton Planting TimesRecommendation on cotton planting time is needed as cotton is mostly grown under rainfed condition.  The right   planting   times   were   determined   for   South Sulawesi, East Java, Central Java, DIY, and West Nusa Tenggara. The rainfall analysis was done based on more than 20 years daily rainfall data using Markov Chain First Order Probability and dry spell probability method. The planting times in South Sulawesi varied from the first week to the forth week of December for Jeneponto, Takalar and Mostly Gowa. The planting times in Soppeng and Wajo were ranged from the third week  of  February  to  the  third  week  of  March. Moreover,   cotton   planting   times   in   Bone   and Bulukumba were ranged from the third week of March to the third week of April. The planting times in East Java varied from the first week to the forth week of December   for   Pasuruan,   Probolinggo,   Situbondo, Jember   and   Banyuwangi.   The   planting   times   in Lumajang, Lamongan, Mojokerto and Tuban ranged from mid December to early January.  The planting times in Central Java varied from the first week of December to the first week of January for Grobogan and Wonogiri.  The planting times in Blora, Pemalang, Tegal and Brebes  were ranged from early to late January. The planting times in West Nusa Tenggara varied from the first week to the second week of December for most areas of Lombok and Sumbawa. Lack of water or drought in  rainfed cotton growing areas  is  a  regular  phenomenon  since  cotton  is developed in the dry areas (climate classification D and E) to which rainfall only lasts three to four months. Irrigation water is highly needed in rainfed areas to meet the crop water need especially when lack of water or drought occurs.Key words: Gossypium hirsutum, planting time, dry spell
Budidaya Peremajaan Tebang Bertahap pada Usahatani Polikultur Kelapa BENHDARD, MALIANGKAY RONNY
Perspektif Vol 4, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v4n1.2005.%p

Abstract

ABSTRAKLuas pertanaman dan produksi kelapa Indonesia tercatat 3,7 juta ha dengan produktivitas yang masih rendah yaitu 1,1 ton kopra/ha/tahun. Tingkat produktivitas kelapa yang rendah tersebut merupakan akibat dari 50% tanaman kelapa telah berumur diatas 50 tahun.  Selain itu, sebagian besar tanaman kelapa diusahakan dengan pola monokultur dan bersifat subsisten. Berdasarkan kondisi tersebut, telah dilaksanakan penelitian metode peremajaan kelapa secara terencana di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman  Kelapa  dan  Palma Lain,  Sulawesi Utara. Pada tahun 1978 dilakukan penelitian metode peremajaan kelapa tebang bertahap (pola monokultur). Hasil   penelitian   menunjukkan   bahwa   peremajaan dengan penebangan kelapa tua sebesar 20% tiap tahun adalah cara yang terbaik.  Kemudian mulai tahun 1985, 1988 dan 1995 dilakukan berbagai penelitian perema-jaan dengan pola campuran dan merubah jarak dan sistem tanam kelapa yang biasa digunakan.  Dari hasil-hasil yang diperoleh ternyata pilihan yang paling baik adalah peremajaan tebang bertahap 20% tiap tahun dengan pola usahatani  campuran  dan  jarak tanam kelapa pengganti menjadi 6 x 16 m.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera, polikultur, pene- bangan  bertahap,  tanaman  sela,  jarak tanam. ABSTRACTGradual cutting technigue on polyculture coconut farming systemThe coconut area in Indonesia is around 3,7 million ha, but the productivity is low 1,1 tons of copra equivalent per ha per year.  The low productivity is  caused by the coconut palm age, more than 50% of coconut palms are above 50 years old and the planting system is still monoculture.  To solve this problem a good planning of coconut  replanting  method  was  implemented  in ICOPRI   experimental   garden.   Coconut   replanting method through gradual cutting of old coconut palms in monoculture planting system was done in 1978.  The result showed that coconut replanting through annual cutting of 20% of old coconut palms was the best.  The improvement of coconut replanting method with other planting system by considering the planting space and polyculture system were conducted in 1985, 1988 and 1995. Research results indicated that coconut replanting method through annual cutting of 20% of old coconut palms, polyculture farming system, and planting space 6 x 16 m was technically the best choice.Key  word  :  Coconut,  Cocos  nucifera,  polyculture, gradual  cutting, intercrops,  plant spacing.
Status dan Strategi Pengembangan Panili di Indonesia ROSMAN, ROSIHAN
Perspektif Vol 4, No 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v4n2.2005.%p

Abstract

ABSTRAKVanilla planifolia Andrews merupakan salah satu tanaman dari keluarga  Orchidaceae yang buahnya bernilai ekonomi tinggi dan saat ini telah berkembang luas di berbagai propinsi di Indonesia. Teknologi yang mendukung   pengembangannya   pun   sudah   cukup tersedia. Sehubungan dengan adanya penyakit busuk batang  panili (BBP)  hingga  saat  ini  masih  terus dilakukan upaya penelitian untuk menanggulanginya. Arahnya  berbagai  tantangan  perlu  dipecahkan  dan peluang  perlu  dicari  solusinya.  Untuk  itu  strategi pengembangan yang tepat perlu menjadi perhatian, yaitu pengembangan ke lokasi yang sesuai, adopsi teknologi   budidaya   yang   mampu   meningkatkan produktivitas dan efisiensi, pola tanam yang sesuai, serta upaya mendapatkan varietas yang tahan penyakit busuk batang panili.Kata kunci : Panili, Vanilla planifolia Andews, status, strategi, pengembangan, Indonesia. ABSTRACTStatus and Strategy of Vanila Development in IndonesiaVanilla planifolia Andrews is one of the Orchidaceae families. It has high economi value and has developed in Indonesia. The technology to support vanila development is avalaible. Due to the Vanilla root rot disease which still exists up to now, the research to control the disease is still corried out. The direction is that various challenges should be overcome and opportunity  should be found  out. Therefore,  it is necessary to determine the strategy for vanila development, i.e. the developmen of vanila in suitable area adoption of cultivation technique which improve productivity and efficiency, appropriate planting pattern, and effort to produce variety which is resistant to vanila root rotKey words : Vanila, Vanilla planifolia Anderws, status, strategy, development, Indonesia
BIOLOGICAL AGENTS AND THEIR ROLE TO INCREASE PLANT ESSENTIAL OIL UNDER WATER STRESS Agen Hayati dan Peranannya dalam Meningkatkan Minyak Atsiri Tanaman pada Kondisi Cekaman Air Kurniawan, Agus Prayitno; Aini, Nurul Aini; Maghfoer, Moch Dawam; Yamika, Wiwin Sumiya Dwi; Kusuma, Restu Rizkyta
Perspektif Vol 20, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n2.2021.80-93

Abstract

Essential oils are plant natural products resulting from secondary metabolites used for raw materials of various industries such as perfumery, preservative, cosmetics, and pesticide. The major problem of essential oil plants cultivation is the low essential oil content. Enhancing essential oil content is one of the main focuses in developing essential oil plants which can be reached by water management. Growth and yield reduction and changes in some physiological reactions are the responses of a plant toward water supply shortage (water stress). Water stress triggers elicitors and some signal molecules produced for secondary metabolites resulting in higher essential oil percentages. However, it would also decrease essential oil yield following lower biomass production. Some microorganisms can produce phytohormone and enhance nutrient uptake allowing the plant to cope under water stress condition.  Understanding how the environment affected plant secondary metabolite (especially essential oil), as well as microorganism roles for crop production, will provide proper cultivation technology to increase plant essential oil content and oil yield. This review aimed to analyze the potential use of some biological agents to alleviate the negative effect of water stress on essential oil plants.ABSTRAKMinyak atsiri merupakan produk alami tanaman dari hasil metabolisme sekunder yang digunakan sebagai bahan baku berbagai industri seperti parfum, antiseptik, kosmetik, dan pestisida. Budidaya tanaman  minyak atsiri menghadapi kendala seperti rendahnya kandungan minyak yang dihasilkan. Pertumbuhan dan penurunan hasil serta perubahan pada beberapa reaksi fisiologis merupakan respon tanaman terhadap cekaman air. Cekaman air memicu produksi elisitor dan beberapa molekul sinyal pada metabolit sekunder sehingga dapat menghasilkan minyak atsiri yang lebih tinggi, akan tetapi tidak diikuti dengan peningkatan produksi biomassa sehingga produksi minyak atsiri tidak cukup tinggi. Beberapa mikroorganisme mampu menghasilkan fitohormon dan meningkatkan serapan hara yang memungkinkan tanaman dapat bertahan pada kondisi cekaman air. Pemahaman bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi metabolit sekunder dari tanaman (khususnya minyak atsiri), serta peran mikroorganisme terhadap produksi tanaman, akan menghasilkan teknologi budidaya yang sesuai untuk meningkatkan kandungan dan hasil minyak atsiri suatu tanaman.  Review ini bertujuan menganalisa potensi penggunaan beberapa jenis agens hayati untuk mengurangi dampak negatif dari cekaman air pada tanaman penghasil minyak atsiri.
SISTEM PRODUKSI MINYAK SERAI WANGI BERKELANJUTAN Sustainable Production System of Citronella Oil Agus Wahyudi
Perspektif Vol 20, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n2.2021.94-105

Abstract

ABSTRAK Minyak serai wangi merupakan produk dari penyulingan daun tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) yang digunakan dalam industri parfum, kosmetik dan farmasi. Produksi minyak serai wangi dapat berkelanjutan jika didukung oleh budidaya serai wangi, penyulingan dan jaminan bahan baku yang juga berkelanjutan. Keberlanjutan produksi minyak serai wangi sering kali dipertanyakan karena budidayanya berpotensi menimbulkan degradasi lahan, penyulingan yang tidak kontinu karena pasok bahan baku yang sulit mencapai kapasitas minimum. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk mempelajari sistem produksi minyak serai wangi secara berkelanjutan, yaitu tinjauan atas sistem budidaya serai wangi dan penyulingan minyak serai wangi, serta jaminan pasok bahan baku yang menjadi perangkai antara kedua sistem tersebut. Sistem budidaya tanaman serai wangi berkelanjutan dapat diterapkan terhadap aktivitas budidaya tanaman yang terdiri atas penanaman, pemeliharaan dan panen.  Penyulingan minyak serai wangi berkelanjutan diterapkan dengan menjamin pasokan bahan baku tepat mutu, kuantitas dan tepat waktu sehingga penyulingan dapat beroperasi sesuai target kapasitas produksinya. Pasokan bahan baku dari pekebun baik secara langsung kepada penyuling atau tidak langsung melalui pengumpul atau agen dengan pola relasi bebas, kemitraan atau terintegrasi yang semakin tinggi keberlanjutannya. Untuk mencapai keberlanjutan sistem produksi minyak serai wangi dapat dirancang melalui koordinasi antara sistem penyulingan dan sistem produksi bahan baku agar pasok bahan baku terjamin.  Transformasi pola relasi antara perkebunan dan penyulingan diperlukan dari pola relasi bebas menjadi pola kemitraan atau terintegrasi.ABSTRACT Citronella oil is a product of the distillation of the leaves of lemongrass (Cymbopogon nardus L.)  used in the perfume, cosmetics and pharmaceutical industries. The production of citronella oil can be sustainable if supported by the sustainable cultivation of lemongrass, distillation and guaranteeing raw materials. The sustainability of citronella oil production is often questioned because its cultivation has the potential to cause land degradation, and distillation cannot continuously reachs minimum capacity because of the lack of supply of raw materials. The purpose of this review is to study the system of sustainable production of citronella oil, namely a review of the system of lemongrass cultivation and distillation of citronella oil, as well as the guarantee of supply of raw materials that bridges between the two systems.  Sustainable lemongrass cultivation system can be applied by reffering the improvement of environment, economy and social impacts to cultivation activities consisting of planting, maintenance and harvesting. Sustainable citronella oil distillation can be applied by ensuring the supply of raw materials on quality, quantity and on time scheduled, so that the distillers can operate within its production capacity target. The supply of raw materials from growers either directly or indirectly to distillers or through collectors or agents with patterns of free, partnerships or integrated relations that are increasingly sustainable. To achieve the sustainability of the citronella oil production system can be designed through coordination between the distillation and the raw material production systems, hence the supply of raw materials can be guaranteed. Transforming the pattern of relations between growers and distillers is needed, from free relations to partnership or integration pattern.