cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
AFLATOXIN OF NUTMEG IN INDONESIA AND ITS CONTROL / Aflatoksin pada Pala di Indonesia dan Pengendaliannya Supriadi, Supriadi
Perspektif Vol 16, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n2.2017.102-110

Abstract

Indonesia produces the largest amount of nutmeg in the world, accounted for 66-77% of the world market. Most nutmeg plantations (99.3%) are cultivated by small holders, mainly in five provinces, i.e. North Moluccas, Moluccas, Aceh, North Sulawesi, and West Papua. Ironically, during the last 17 years (2000-2016), exported nutmeg are detected to be contaminated with aflatoxins, especially those entering the European Market, as the result 53 out 80 (62%) cases of imported nutmegs were rejected. Aflatoxin contaminating nutmeg is found in every level of market chains in the country, from the farmers, collectors and exporters, representing that aflatoxin in nutmeg is common and serious. Aflatoxins are produced mainly by two species of fungi, i.e. Aspergillus flavus and A. parasiticus. Five groups of aflatoxins are known, i.e. aflatoxin B1, B2, G1, G2, and M1, but the international legislations are concerned on the maximum limit of aflatoxin B1 and total aflatoxin (B1+B2+G1+G2) that should not exceed of 5 and 10 µg/kg, respectively. Aflatoxin in agriculture products including nutmeg can be detected by various methods, mainly by a thin layer chromatography (TLC), high performance thin layer chromatography (HPLC), andenzyme-linked immonosorbent assay (ELISA). Minimizing aflatoxin in the nutmeg should be properly managed at every level of the production processes from harvesting, drying, and packaging. Drying is the most critical one; nutmeg should be dried as soon as being harvested to keep its water content below 10%, then it be kept in a very dry condition (10oC and air humidity< 65%).  ABSTRAK Indonesia merupakan penghasil pala terbesar di dunia yang memasok sekitar 66-77% pasar dunia. Sebagian besar perkebunan pala (99,2%) dibudidayakan oleh petani kecil, terutama di lima provinsi, yaitu Maluku Utara, Maluku, Aceh, Sulawesi Utara, dan Papua Barat. Ironisnya, selama 17 tahun terakhir (2000-2016), ekspor pala, terutama ke pasar Eropa, terdeteksi mengandung aflatoksin sehingga 53 dari 80 (62%) kasus pala dari Indonesia ditolak. Biji pala yang tercemar aflatoksin ditemukan pada setiap tingkat rantai pasar dalam negeri, mulai dari petani, pengumpul, dan eksportir.  Hal ini menunjukan bahwa aflatoksin pada pala sudah umum dan sangat serius. Aflatoksin diproduksi terutama oleh Aspergillus flavus dan A. parasiticus. Dikenal ada 5 kelompok aflatoksin, yaitu aflatoksin B1, B2, G1, G2, dan M1, tetapi peraturan perundang-undangan Inernational hanya fokus pada batas maksimum aflatoksin B1 dan jumlah aflatoksin (B1 + B2 + G1 + G2) yang masing-masing tidak boleh melebihi dari 5 dan 10  µg/kg. Aflatoksin dalam produk pertanian, termasuk biji pala, dapat dideteksi dengan berbagai metode, terutama kromatografi lapis tipis (TLC), HPLC, dan  ELISA.   Upaya meminimalkan aflatoksin pada biji pala harus dilakukan secara  baik pada setiap tingkat proses produksi, mulai dari panen, pengeringan, dan kemasan. Pengeringan adalah proses paling penting, oleh karena itu biji pala harus dikeringkan segera setelah dipanen untuk menjaga kadar airnya di bawah 10%.  Selanjutnya biji pala kering harus disimpan dalam kondisi yang sangat kering (10oC dan kelembaban udara <65%). 
Pengembangan Kapas Genjah Tahan Wereng di Wilayah Kering MARDJONO, RUSIM
Perspektif Vol 4, No 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v4n2.2005.%p

Abstract

ABSTRAKPengembangan kapas (Gossypium hirsutum) di Indonesia sebagian besar dilakukan di lahan tadah hujan yang ketersediaan airnya sangat terbatas, sehingga sering mengalami hambatan dan hasilnya kurang memuaskan. Di daerah tersebut pada periode akhir musim kapas biasanya air hujan sudah habis atau sangat terbatas. Oleh karena itu, untuk daerah tersebut perlu pengembangan kapas berumur genjah. Disamping  itu,  banyak  kendala  yang  lain  seperti langkanya  modal  petani,  ketiadaan  benih  bermutu, kekeringan dan serangan hama utama yaitu wereng kapas Amrasca biguttula, Helicoverpa  armigera dan Pectinophora gossypiella. Beberapa faktor yang mendukung keberhasilan pengembangan kapas di wilayah kering adalah penggunaan kapas genjah tahan wereng, penggunaan benih bermutu, teknologi budidaya yang sesuai, dan penerapan teknologi pengendalian hama terpadu.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, kapas genjah, wereng    kapas,    Amrasca    biguttulla, pengembangan,  wilayah kering. ABSTRACTDevelopment of Early Maturity Cotton Resistant  to Jassid in Dry Area.Cotton in Indonesia is grown mainly in rainfed area where water is very limited. So that, it frequently faces some constraints and its productivity is low. In this area, water shortage is a major problem for cotton growth and development, therefore this area needs early maturity cotton varieties. Other limiting factors were lack of farmers’ capital, inavailability of high quality  seeds,  drought  and  insect  pest  attact (A. biguttula,  H. armigera and P. gossypiella). To solve the problem, using early maturity cotton variety resistant to jassid, high quality seeds, cultivation technology, and integrated pest management are appropriate tools to increase the cotton productivity.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, early maturity cotton,  jassid, Amrasca             biguttula, development, dry area
Pemanfaatan Bakteri Pasteuria penetrans untuk Mengendalikan Nematoda Parasit Tanaman HARNI, RITA; MUSTIKA, IKA
Perspektif Vol 2, No 2 (2003): Desember 2003
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v2n2.2003.45-55

Abstract

Nematoda parasit merupakan salah satu jenis organisme pengganggu tumbuhan (OPT) penting yang menyerang berbagai jenis tanaman utama di Indonesia dan Negara-negara tropis lainnya dan kerugian yang diimbulkannya dapat mencapai 25% dari potensi produksi. Baktei Pasteuria penetrans adalah salah satu agensia hayati yang sangat potensial untuk pengendalian biologi nematoda parasit tanaman. Bakteri ini tersebar luas di seluruh dunia dan dapat memarasit 205 spesies nematoda. Kendala utama dalam perbanyakan bakteri ini adalah belum dapat diperbanyak pada media buatan, sehingga perbanyakannya dilakukan secara konvensional pada tanaman tomat di lapang, yaitu dengan cara menggunakan akar tanaman tomat yang sudah terserang nematoda terinfeksi bakteri tersebut. Patogenisitas baktei akan meningkat pada kondisi lingkungan dengan suhu 30°C, pH tanah 6,7 dan kelembaban tanah 60%. Penggunaan P. penetrans dalam mengendalikan nematoda akan lebih berhasil apabila dikombinasikan dengan bahan organik seperti pupuk kandang sapi, ayam dan abu sekam. Daya infeksi seiap isolat P. penetrans berbeda-beda. Uji di laboratorium, rumah kaca dan lapang menunjukkan bahwa P. penetrans dapat menginfeksi dan menekan populasi Meloidogyne spp sebesar 57-100%. Pada tanaman jahe, P. penetrans dapat menekan populasi M. incognita (sebesar 93,85%) dan Radopholus similis serta meningkatkan berat impang jahe sebesar 16,11-54,06%; sedangkan pada tanaman lada dapat menekan populasi M. incognita sebesar 49,68 -94,02% dan R. similis sebesar 68,89 -93,33% serta mengurangi penyakit kuning sampai 26,67 - 50%. Pada tanaman nilam, P. penetrans menekan populasi Pratylenchus brachyurus sebesar 43 - 82% dan meningkatkan berat basah sebesar 57-71%. Kata kunci: Pasteuria penetrans, pengendalian biologi, Meloidogyne spp, Radopholus similis, Pratylenchus brachyurus
Strategi Pengembangan Agribisnis Kelapa (Cocos nucifera) untuk Meningkatkan Pendapatan Petani di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau DAMANIK, SABARMAN
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

RINGKASANPengembangan agribisnis kelapa berperanan penting untuk peningkatan produktivitas dan sekaligus peningkatkan pendapatan petani. Saat ini kelapa sangat berperan dalam perekonomian sebagai penyedia lapangan tenaga kerja, bahan baku industri dalam negeri dan konsumsi langsung. Meskipun demikian, kebanyakan usahatani kelapa tidak terkait langsung dengan industri pengolahan, industri hilir, serta   industri   jasa,   dan   keuangan.   Akibatnya agribisnis kelapa tidak berhasil mendistribusikan nilai tambah, sehingga tidak dapat meningkatkan pendapatan petani. Faktor-faktor yang menyebabkan tidak berkembangnya sistem agribisnis kelapa di Indragiri Hilir, antara lain adalah: (1) sebagian besar teknologi belum dapat digunakan petani, 2) kurangnya diversifikasi produk kelapa.Strategi pengembangan sistem agribisnis kelapa di Indragiri Hilir, Riau, harus dilakukan melalui: (1) diversifikasi produk melalui pemanfaatan tempurung,sabut dan lidi  serta  minyak  murni (VCO),  sehingga  dapat merubah permintaan menjadi elastis untuk meningkatkan daya serap pasar, (2) program promosi pasar di pasar dunia baik melalui lembaga promosi propinsi Riau, dan (3) pemberdayaan petani melalui kelembagaan yang sudah ada seperti kelompok tani, dan koperasi.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera, agribisnis, pendapatan petani, diversifikasi produk. ABSTRACTStrategy for Coconut Agribusiness Development to Increase Farmers’ Income in Indragiri Hilir Distric, Riau ProvinceDevelopment of coconut agribusiness is important in increasing farmers income and urgent to increasing productivity and farmers income. Coconut has an important role on the economy of Indonesia as an providing job opportunity, raw material of internal country industry, and direct consumption most of coconut  production  not  related  to  the  processing industry, downstream industry, as well as service institution. As the consequences, coconut agribusiness fails to distribute addad value, and is not able to increase farmers income. Some factors influence agribusiness system in Indragiri Hilir: (1) most of the technology could not be adopted by the farmes and (2) less coconut product diversification.The strategy to develop coconut agribusiness in Indragiri Hilir: (1) product diversification to increase market absorption capacity, (2) promotion program of marketing on the world market, through embassy and other institutions, and (3) making eficient use of farmers in the existing organization such as farmers group cooperativws.Key words: Coconut, Cocos nucifera, agribusiness, farmers income, product diversification.
Tembakau Cerutu Besuki-NO : Pengembangan Areal dan Permasalahannya di Jember Selatan DJAJADI, DJAJADI
Perspektif Vol 7, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n1.2008.%p

Abstract

ABSTRAKDalam  makalah  ini  diulas  tentang  pengembangan tembakau  besuki  NO  di  daerah  Jember  Selatan, permasalahan  pengembangan  di  daerah  baru,  dan perlunya   teknologi   yang   sesuai   dengan   kondisi agroekologi di wilayah pengembangan baru.  Semula sentra produksi tembakau cerutu Besuki NO adalah Jember   Utara.   Daerah   ini   merupakan   penghasil tembakau mutu pengisi cerutu (filler) yang aromatik. Dengan semakin merosotnya produksi akibat semakin menurunnya kesuburan lahan dan serangan penyakit, maka  penanaman  tembakau  besuki  berpindah  ke Jember  Selatan.  Daerah  Jember  Selatan  merupakan areal  penghasil  tembakau  mutu  pembungkus  dan pembalut  cerutu (dek-omblad)  yang  harganya  lebih tinggi  daripada  mutu  filler.  Kondisi  topografi  dan curah hujan di Jember Selatan berbeda dengan daerah Jember Utara. Daerah Jember Selatan relatif lebih datar, dan tanahnya berkadar partikel liat lebih tinggi, serta curah  hujan  lebih   tinggi   daripada   Jember   Utara, sehingga ketersediaan air bagi pertumbuhan tembakau juga lebih banyak.  Perbedaan ini yang memungkinkan produktivitas tembakau besuki di Jember Selatan (1555 kg/ha) lebih tinggi daripada produktivitas tembakau di Jember   Utara (hanya 791   kg/ha).   Berbedanya karakteristik    wilayah    tersebut    mungkin    juga mempengaruhi karakteristik agroekologi yang sesuai bagi pertumbuhan tembakau untuk berproduksi dan bermutu  tinggi.  Namun  demikian  belum  terdapat informasi   tentang   korelasi   antara   faktor-faktor agroekologi (kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah, serta suhu, kelembaban, dan intensitas sinar matahari) dengan   produksi   dan   mutu   tembakau   besuki. Akibatnya adalah teknologi budidaya yang tersedia belum efektif untuk meningkatkan produksi dan mutu tembakau besuki di Jember Selatan.  Diperlukan kajian tentang    faktor-faktor    agroekologi    yang    sangat menentukan produksi dan mutu tembakau, sehingga strategi  peningkatan  produksi  dan  mutu  tembakau akan berbasis pada karakteristik agroekologi daerah Jember Selatan.Kata  kunci  :  Tembakau  Cerutu,  Nicotiana  tabacum, besuki, pengembangan, permasalahan, Jember Selatan. ABSTRACTBesuki Tobacco Cigar: Crop Area Extension and Its Contrainst in South JemberThis paper described crop area extension of tobacco cigar in South Jember and its constraints, and the need of   crop   technologies   based   on   agro   ecology characteristics of South Jember.  In the early of area extension, North Jember had been chosen as a centre of besuki cigar tobacco area to produce cured leaf tobacco used as a good quality filler of cigar.  However, due to declining  of  tobacco  production  and  increasing  of tobacco disease in this area, besuki cigar tobacco area centre   have   been   established   in   new   area   crop extension, South Jember.  The cigar tobacco produced in South Jember is used as wrapper and binder of cigar which the quality prices are more expensive than the quality of filler.  Topography of South Jember is flat with rainfall is higher than North Jember, so that the tobacco yield in South Jember is higher than tobacco yield of North Jember.  The difference of characteristic area  between  South  and  North  Jember  may  also influence the characteristics of agroecology of the two areas. The  characteristics  of  agro  ecology  have important roles in determining yield and quality of tobacco.  Unfortunately, there is no information about the correlation between agro ecology and yield and quality of cigar tobacco in South Jember. Consequently, crop  technologies  available have  not significantly  increased  yield  and  quality  of  cigar tobacco.    The  study  of  correlation  between  agro ecology and yield and quality of cigar tobacco in South Jember is important as a basis of strategy to increase yield and quality of cigar tobacco in South Jember.Key word: Tobacco, Nicotiana tabacum, Na Ogst, besuki, development, South Jember.
STRATEGI MENINGKATKAN EKSPOR KOPI INDONESIA KE PASAR UNI EROPA / Strategy for Developing Indonesian Coffee Export to the European Union Market Sudjarmoko, Bedy; Hasibuan, Abdul Muis; Risfaheri, Risfaheri
Perspektif Vol 20, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v20n2.2021.63-79

Abstract

ABSTRAK Uni Eropa merupakan importir kopi terbesar di dunia yang menyerap hampir setengah produksi kopi dunia, dan menjadi pasar global terbesar untuk kopi berbasis keberlanjutan yang bernilai tinggi. Namun sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia yang mengekspor produk kopi ke lebih dari 60 negara, pangsa Indonesia di pasar Uni Eropa masih sangat kecil jika dibandingkan dengan negara produsen kopi lainnya seperti Brazil dan Vietnam. Faktor yang menjadi penyebabnya adalah standar pasar Uni Eropa dikenal sangat tinggi terhadap mutu dan keamanan kopi, bahkan seringkali melebihi standar internasional pada umumnya. Di sisi lain, kemampuan Indonesia untuk memproduksi kopi yang sesuai standar tersebut relatif masih kecil yang diakibatkan oleh produsen kopi yang didominasi oleh petani kecil dengan kapasitas dan kapabilitas yang terbatas untuk memenuhi standar keberlanjutan yang menjadi tuntutan pasar, sehingga perlu upaya khusus untuk meningkatkan pangsa ekspor kopi Indonesia ke wilayah tersebut. Untuk itu, Indonesia membutuhkan beberapa terobosan yang perlu didukung oleh semua pemangku kepentingan di dalam negeri, mulai dari level usahatani hingga strategi ekspor. Pada level usahatani, peningkatan produktivitas dan efisiensi usahatani, kualitas produk dan resiliensi petani perlu diperkuat, khususnya terkait dengan sistem produksi kopi yang berkelanjutan. Untuk meningkatkan ekspor kopi Indonesia di pasar Uni Eropa, langkah utama yang harus dilakukan adalah memperhatikan aspek keberlanjutan. Sedangkan strategi ekspor yang harus dilakukan sesuai dengan prioritasnya adalah: pemilihan saluran distribusi dan penetapan harga produk, pemilihan pedagang dan rekanan dagang, mengoptimalkan peran industri pengolahan dan asosiasi kopi, layanan daring, mengikuti pameran dagang dan pelatihan ekspor yang sering diselenggarakan oleh negara-negara Uni Eropa.ABSTRACT European Union (EU) is the world's largest coffee importer that takes up more than half of global coffee production, as well as the largest global market for high value and sustainability-based coffee products. However, as one of the main coffee producers which supply coffee products to more than 60 countries, Indonesian share to the EU coffee market was relatively low, compared to other main producing countries (i.e. Brazil and Vietnam). It is caused by the very high and strict standard for coffee quality and safety in EU market which often exceeds the international standards in general. On the other hand, Indonesian coffee production that meet the EU standard relatively low as the result of the domination of small-scale coffee producers in Indonesia which have low capacity and capability in fulfilling the sustainability and export standard so that it needs to reformulate the strategies to expand the Indonesian coffee market in the EU region. Therefore, strategic and action plans are needed and supported by policy makers and stake holders (i.e. on-farm level through increasing productivity, efficiency, quality and farmers resiliency in order to meet the sustainability and export quality standard), the selection of distribution channels and product pricing, the selection of traders and trading partners, empowering specialty roasters, small-scale roasters, coffee associations, online services, as well as coffee trade exhibition and exports training which often organized by European Union countries.
Pengelolaan dan Penanganan Benih Aneka Tanaman Perkebunan SUKARMAN, nFN
Perspektif Vol 1, No 2 (2002): Desember 2002
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v1n2.2002.41-54

Abstract

Peranan benih sebagai salah satu faktor keberhasilan dalam sistem budidaya aneka tanaman perkebunan (mente, makadamia, kemii, melinjo, dan tamarin) semakin penting untuk meningkatkan ekspor dan daya saing produk. Sampai saat ini penggunaan benih unggul bermutu masih sangat terbatas, hal ini disebabkan karena kurang tersedianya benih unggul. Untuk itu, perbanyakan benih unggul sangat diperlukan, untuk mendukung program pengembangan aneka tanaman perkebunan. Hal ini, sangat mendesak, karena dalam krisis ekonomi yang terus berlanjut sampai dewasa ini, aneka tanaman perkebunan ternyata mampu menghasilkan devisa. Melalui kerjasama (team work), dari intedisiplin (pemulia, ekofisiologi/teknologi benih, hama penyakit, pasca panen dan pengambil kebijakan), diharapkan pengadaan benih unggul bermutu akan cepat terealisasi. Beberapa faktor harus diperhaikan agar perbanyakan benih unggul yang memenuhi 5 (lima) kriteria tepat (tepat jenis, tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu dan tepat harga) dapat tercapai. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai produksi dan penanganan benih aneka tanaman perkebunan dengan fokus, pemanfaatan pohon induk, pemilihan lokasi produksi pemeliharaan kebun induk, waktu dan pelaksanaan panen, cara pengeringan, penyimpanan, dan serifikasi/ pengawasan mutu. Melalui usaha tersebut diharapkan pengadaan benih unggul aneka tanaman perkebunan yang memenuhi lima kriteria tepat dapat terpenuhi. Selanjutnya diharapkan dapat mendukung program pengembangan aneka tanaman perkebunan, meningkatkan produkivitas, kualitas dan daya saing produk aneka tanaman perkebunan.Kata kunci : Produksi, penanganan benih, aneka tanaman perkebunan
Status Penelitian Serangga Vektor Penyakit Kerdil Pada Tanaman Lada BALFAS, RODIA
Perspektif Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v8n1.2009.%p

Abstract

ABSTRAKPenyakit   kerdil   merupakan   salah   satu   penyakit penting pada tanaman lada. Penyakit ini disebabkan oleh  dua  jenis  virus,  Piper  Yellow  Mottle  Virus (PYMV) dan Cucumo Mottle Virus (CMV). Penyebaran penyakit terjadi melalui melalui bahan tanaman  dan serangga   vektor.   Pengelolaan   serangga   vektor merupakan salah satu cara untuk menekan penyebaran penyakit tersebut. Jenis-jenis serangga vektor PYMV di Indonesia adalah  kutu putih, Planococcus minor dan Ferrisia virgata;  serangga  vektor  CMV  adalah  Aphis gossypii.  Kedua jenis kutu putih diketahui sebagai serangga yang polifag dan  vektor yang sangat efisien. Penanggulangan serangga vektor  masih dalam tahap awal. Telah dilakukan pengujian di rumah kaca dan lapangan. Hasil uji lapangan dengan menggunakan ekstrak  air  tembakau  dan  mimba  dapat  menekan populasi   Planococcus.   Untuk   menekan   penyebaran penyakit diperlukan teknologi penanggulangan vektor yang efektif yang berdasarkan  pemahaman ekobiologi serangga vektor. Selain itu perlu pengujian potensi serangga-serangga   pengisap   lain   yang   potensial sebagai vektor dan  pengujian nomor-nomor tanaman lada hibrida yang telah ada terhadap  serangga vektor dan penyakit kerdil untuk mendapatkan tanaman lada yang tahan terhadap serangan serangga vektor atau penyakit kerdil.Kata kunci : Piper nigrum L., penyakit kerdil, PYMV, CMV, seranggga vektor ABSTRACTResearch Status on Insect Vector of Stunted Disease on Black PepperStunted disease is one of the important diseases of black pepper. Two viruses, i.e. Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) and Cucumo Mottle Virus (CMV) are associated  with  this  disease.  The  disease  is  spread through seed as well as insect vectors. Two mealybugs, Planococcus minor and Ferrisia virgata; are known as insect vectors of PYMV in Indonesia and  Aphis gossypii is an insect vector of CMV. The two mealybugs are polyphagous insects and efficient vectors.of stunted disease. Preliminary control of insect vectors has been conducted at the green house and field. Neem and tobacco extracts have showed effective control against Planococcus  as  also  shown  on  monocrotophos  and carbofuran treatments. Vector management is needed to reduce disease spread, through controlling insect vectors based on understanding their ecobiology. In addition, examining other potential insect vectors and screening existing hybrid lines to the disease and insect vectors need further examination.Key words: Piper nigrum L. stunted disease, PYMV, CMV, insect vector
Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu untuk Meningkatkan Produksi dan Pendapatan Usahatani Kapas di Sulawesi Selatan TIRTOSUPROBO, SUPRIYADI; WAHYUNI, SUKO ADI
Perspektif Vol 5, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n1.2006.%p

Abstract

ABSTRAKProvinsi  Sulawesi  Selatan merupakan  salah  satu daerah pengembangan  kapas  terluas  di  Indonesia, namun produktivitas kapas di   Sulawesi Selatan rendah. Salah satu kendala usahatani kapas adalah serangan hama yang dapat menimbulkan kerugian mencapai 20-30% dari potensi produksi, bahkan pada waktu  serangan  berat  dapat  menggagalkan  panen. Untuk menekan populasi hama dan kehilangan hasil telah direkomendasikan teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang meliputi penanaman jagung sebagai perangkap,  pemanfaatan  serasah  dan pemantauan populasi hama. Penerapan PHT kapas yang penekanannya pada komponen teknologi pengendalian non-kimiawi telah diperagakan selama 4 tahun   berturut-turut   di   Kabupaten   Jeneponto, Bulukumba dan Bone (Sulawesi Selatan). Penerapan komponen PHT layak untuk dilaksanakan, baik secara teknis maupun  secara ekonomis sangat menguntungkan. Hal ini terbukti bahwa para petani kooperator (petani PHT)  mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan petani IKR (Non PHT), hal ini ditunjukkan lebih tingginya produktivitas kapas (971-1828 kg/ha) dan lebih rendahnya penggunaan insektisida (0 - 0,49 lt/ha). Sedangkan nilai B/C ratio yang diperoleh petani PHT (1,25 - 1,98) lebih tinggi dibandingkan petani Non PHT (0,08-0,44). Komponen teknologi PHT kapas belum semua diterima dan diadopsi petani. Pada penanaman jagung sebagai  tanaman  perangkap  masih  rendah,  hanya berkisar 0-65%. Pemanfaatan serasah cukup bisa diterima petani dengan tingkat adopsi berkisar 34-100%.  Sedangkan komponen pemantauan populasi hama diadopsi petani, hanya berkisar 35-100%.Kata  kunci  :  Kapas,  Gossypium  hirsutum,  teknologi PHT,  pendapatan,  adopsi  teknologi ,Sulawesi Selatan. ABSTRACTApplication of Integrated Pest Management (IPM) to Increase Cotton Production and Farm IncomeSouth Sulawesi Province is the largest cotton areas in Indonesia.  One  of  the  constrains  that  causes  low productivity in South Sulawesi is insect infestation that causes yield loss by 20-30% of production potency. Under heavy insect infestation, yield loss can reach 100%.  To control insect pest and to reduce yield loss, it is recommended, that the integrated pest management (IPM)  technique  is implemented, including the planting of maize as trap crops, mulching, and pest monitoring. The implementation of cotton IPM which is based on the non-chemical pest control has been performed for 4 years in Jeneponto, Bulukumba and Bone Regions of South Sulawesi.  The IPM technique has been proven to benefit cooperator farmers.  This was resulted from higher cotton yield (971 - 1828 kg seed cotton/ha) and lower insecticide usage (0 - 0.49 l/ha).  The B/C ratio received by cooperator farmers (1.25 - 1.98) was higher than non cooperator farmers (0.08-0.44).  Not all of the introduced IPM components could be adopted by farmers.  The adoption rate of maize as trap crops was low, ranging from 0% to 65%. Mulching  was  moderately  adopted  by  cooperator farmers 34 - 100%, while pest monitoring component could be adopted by cooperator farmers 35 - 100%.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, IPM techno-logy, income, technology adoption, South Sulawesi.
PEMANFAATAN PUPUK HAYATI (BIOFERTILIZER) PADA TANAMAN REMPAH DAN OBAT / Biofertilizer Utilization on Spices and Medicinal Plants Kartikawati, Andriana; Trisilawati, Octivia; Darwati, Ireng
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.33-43

Abstract

ABSTRAK Peningkatan hasil produksi pertanian khususnya pada tanaman rempah dan obat lebih banyak menggunakan pupuk kimia. Hal tersebut dapat memberikan efek negatif bagi lingkungan, antara lain degradasi lahan baik secara fisik (degradasi struktur tanah), kimia dan biologi, serta polusi air tanah. Solusi yang diupayakan untuk menanggulangi dampak penggunaan pupuk kimia yaitu pemanfaatan mikroorganisme dalam pupuk hayati. Aplikasi pupuk hayati sudah dikembangkan secara luas pada tanaman rempah dan obat. Pupuk hayati menjaga lingkungan tanah yang kaya hara mikro dan makro melalui fiksasi nitrogen, pelarutan fosfor dan mineralisasi kalium, pelepasan zat pengatur tumbuh tanaman, produksi antibiotik dan biodegradasi bahan organik tanah. Mikroorganisme yang digunakan dalam pupuk hayati terdiri dari berbagai macam, seperti mikoriza, fungi dan bakteri, baik yang bersimbiosis dengan tanaman maupun yang hidup bebas di lingkungan.  Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk hayati pada tanaman rempah dan obat. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pupuk hayati memberikan pengaruh positif pada berbagai tanaman rempah dan obat seperti lada, cengkeh, jahe, artemisia, ketumbar, panili, adas, dan lain-lain. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan parameter pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlah dan luas daun, perakaran), maupun hasil senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan. Penggunaan pupuk hayati pada tanaman memberi dampak kesehatan manusia dan lingkungan.  ABSTRACT Increased agricultural production, especially in spices and medicinal plants utilize chemical fertilizers wildly. It could provide negative effect to the environment, including land degradation by physically (soil structure degradation), chemically and biologically, and also groundwater pollution. Attempted solutions to cope with the impact of chemical fertilizers utilization is by using beneficial microorganisms in the form of biofertilizer. Biofertilizer maintains soil environment having rich in micro and macro nutrients through N fixation, solubilize and mineralize phosphorus and potassium, release plant growth regulators, antibiotic production and biodegradation of soil organic matter. There are various kinds of microorganisms contain in biofertilizers, such as mycorrhiza, fungi and bacteria, which have mutual symbiotic with plants and also free-living microorganisms in their environment. The application of biological fertilizer has been developed extensively on spices and medicinal plants. Many studies have been conducted to find the effect of biofertilizer on spices and medicinal plants. The results showed that the usage of biofertilizers have a positive effect on various crops and medicinal spices such as pepper, clove, ginger, artemisia, coriander, vanilla, fennel, and others. It can be seen on the increase of plant growth and secondary metabolites content produced by these plants.Â