cover
Contact Name
Fenny Sumardiani
Contact Email
jurnallitbang@gmail.com
Phone
+6285712816604
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Jalan Salak No.22, Bogor 16151 E-mail : jurnallitbang@gmail.com Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : http://dx.doi.org/10.21082
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian pertanian pangan hortiikultura, perkebunan, peternakan, dan veteriner yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian dan atau ketentuan kebijakan, yang ditujukan kepada pengguna meliputi pengambil kebijakan, praktisi, akademisi, penyuluh, mahasiswa dan pengguna umum lainnya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif serta bertujuan memberi informasi tentang perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, pemanfaatan, permasalahan dan solusinya. Ruang lingkupnya bahasan meliputi bidang ilmu: pemuliaan, bioteknologi perbenihan, agronomi, ekofisiologi, hama dan penyakit, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, alsitan, sosial ekonomi, sistem usaha tani, mikro biologi tanah, iklim, pengairan, kesuburan, pakan dan nutrisi ternak, integrasi tanaman-ternak, mikrobiologi hasil panen, konservasi lahan.
Articles 221 Documents
Prospek Bacillus subtilis sebagai Agen Pengendali Hayati Patogen Tular Tanah pada Tanaman Jagung Suriani .; Amran Muis
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.307 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v35n1.2016.p37-45

Abstract

Patogen tular tanah seperti Rhizoctonia solani dan Fusarium spp. dapat menyebabkan penyakit pada tanaman jagung. Kedua patogen tersebut dapat menimbulkan kerugian ekonomis antara 20100%. Untuk menekan perkembangan patogen tersebut dapat diterapkan pengendalian yang ramah lingkungan, antara lain dengan memanfaatkan mikroba antagonis yang dapat mengkoloni daerah perakaran tanaman. Bacillus subtilis merupakan salah satu bakteri antagonis yang banyak digunakan dalam pengendalian patogen tular tanah. Efektivitas B. subtilis dalam pengendalian patogen tular tanah pada tanaman jagung telah dibuktikan oleh beberapa peneliti. B. subtilis CEI mampu menghambat perkembangan F. verticillioides hingga 98,5% pada level rhizoplane dan 99,86% pada endorhizosfer jagung. B. subtilis juga mampu menekan perkembangan F. solani hingga 82,1%. Oleh karena itu, B. subtilis berpotensi dikembangkan secara komersial sebagai biopestisida. Formulasi biopestisida berbahan aktif B. subtilis telah dikembangkan secara komersial khusus untuk mengendalikan patogen tular tanah.
TINJAUAN KRITIS DAN PERSPEKTIF SISTEM SUBSIDI PUPUK Benny Rachman
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.165 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v31n3.2012.p%p

Abstract

Kebijakan sistem distribusi pupuk telah diterapkan cukup komprehensifmulai dari tahapan perencanaan, penentuan harga ecerantertinggi (HET), jumlah subsidi, dan sistem distribusi pupuk kepadapetani. Namun, kebijakan ini belum mampu menjamin ketersediaanpupuk yang memadai di tingkat petani. Perencanaan jumlahpermintaan pupuk cenderung kurang akurat dan pengawasan belumoptimal, sehingga distribusi pupuk bersubsidi belum tepat sasaran.Untuk meningkatkan efektivitas sistem distribusi pupuk, perludilakukan kegiatan maupun tindakan sebagai berikut: 1) sosialisasisecara intensif sistem penyaluran pupuk bersubsidi secara tertutupkepada stakeholder, termasuk aparat pemerintah pusat dan daerah,tokoh masyarakat, dan petani, 2) koordinasi lintas sektor, pusat dandaerah, 3) reposisi kios penyalur pupuk di Lini IV dengan lebihmeningkatkan peran pemerintah daerah dalam pengaturanpenyediaan dan penyaluran pupuk bersubsidi, dan 4) pemberiansanksi pidana yang tegas terhadap pelanggaran dalam penyaluranpupuk bersubsidi.
THE ROLE OF MODERN MARKETS IN INFLUENCING LIFESTYLES IN INDONESIA Achmad Suryana; Mewa Ariani; Erna M Lokollo
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.369 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v27n1.2008.p10-15

Abstract

Globalization in trade and information system, the fast growth of modern markets and fast food outlets, and fast invasion of food advertisements are currently occurred in Indonesia. The paper reviewed the impacts of modern markets, fast food outlets, and advertisements on lifestyle, especially in eating, of Indonesian people. The results showed that the number of minimarkets and supermarkets selling various goods, food, and beverages increased significantly in Indonesia. Moreover, there is open information which advertises many kinds of prepared food and beverages. The impacts are the change in eating lifestyle as part of Indonesian people lifestyle. This is shown by the increasing share of prepared food and beverages expenditure to total expenditure, especially in urban area. Changes in diet and eating lifestyle in society can be seen as the opportunity for food and beverages industries to expand their products and markets.Keywords: Modern markets, lifestyles, food expenditures, fast food and beverages, consumers, Indonesia
POTENSI TERNAK KERBAU SEBAGAI PENGHASIL DAGING NASIONAL Rasali Hakim Matondang
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n2.2014.p23-60

Abstract

Populasi ternak kerbau di Indonesia mencapai 1.378 juta ekor yang menyebar hampir di seluruh provinsi. Perkembangan populasi kerbau dalam lima tahun terakhir berfluktuasi. Pada tahun 2011 populasinya menurun 34,73% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun pada tahun 2009, 2010, dan 2012 populasinya meningkat masing-masing 0,11%, 3,45%, dan 5,60%. Tulisan ini menginformasikan potensi kerbau sebagai salah satu sumber daging. Oleh karena itu, pengelolaannya perlu ditingkatkan dari cara tradisional ke cara yang lebih maju dengan menerapkan teknologi pengolahan pakan melalui penyebaran lumbung pakan kaya energi di lahan penggembalaan tradisional dan penyediaan pejantan unggul. Potensi kerbau sebagai ternak penghasil daging ditunjukkan oleh: 1) bobot badan dewasa yang berkisar antara 300-600 kg/ekor, bergantung pada bangsa kerbau, 2) kenaikan bobot badan yang baik, antara 0,20–0,70 kg/hari, bahkan bisa lebih tinggi, bergantung pada kondisi dan cara pemeliharaan, 3) bobot lahir anak 31 kg untuk jantan dan 24 kg untuk betina, dan 4) persentase karkas cukup tinggi, antara 43–51%. Kendala dalam pengembangan kerbau yaitu penurunan mutu genetik (terjadi inbreeding yang tinggi), pola pemeliharaan tradisional, dan masalah reproduksi. Kerbau termasuk ternak yang lambat dewasa kelamin (umur 3 tahun), periode bunting lama (10,5 bulan), jarak beranak panjang (rata-rata 553 hari), dan memerlukan pakan yang cukup kualitas maupun kuantitasnya untuk mencapai performan reproduksi yang baik.
PENGELOLAAN HAMATHRIPS PADA KACANG HIJAU MELALUI PENDEKATAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU Indiati, S.W.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.623 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v34n2.2015.p51-60

Abstract

Thrips Megalurothrips usitatus (Bagnall) merupakan salah satuhama utama pada kacang hijau, terutama pada musim kemarau.Kehilangan hasil kacang hijau akibat thrips mencapai 67%sehingga pengendalian thrips sangat diperlukan. Pengelolaan hamathrips secara terpadu perlu digalakkan untuk mengurangi dampaknegatif penggunaan insektisida kimia. Strategi pengendalian thripsmelalui pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT) dapatdilakukan melalui sanitasi lingkungan sebelum tanam, pengaturanwaktu tanam, dan budi daya tanaman sehat. Varietas Vima 2 yangtoleran thrips saat berbunga dan penggunaan mulsa dapatdikembangkan di beberapa daerah endemis thrips. Kombinasipenyemprotan insektisida fipronil 2 ml/l pada 10 hari setelah tanam(HST) dilanjutkan dengan insektisida nabati pada 17, 24, dan 31HST efektif mengendalikan thrips selama fase vegetatif dan dapatdipadukan dengan varietas Vima 2. Efektivitas pengendalian dapatditingkatkan bila insektisida nabati disemprotkan pada 24 dan 31HST dipadukan dengan insektisida fipronil 2 ml/l dua kali pada 10dan 17 HST. Kedua paket pengendalian tersebut efektif menekanintensitas serangan thrips, meningkatkan hasil 47-77%, serta menghematpenggunaan insektisida 50-75%. Perpaduan penggunaanvarietas Vima 2 dan aplikasi insektisida kimia berbahan aktif fipronilatau imidakloprid 2 ml/l pada 10, 17, 24, dan 31 HST konsistenefektif menekan serangan thrips dan meningkatkan hasil antara150-175%.
Lalat Pengorok Daun, Liriomyza sp. (Diptera: Agromyzidae), Hama Baru pada Tanaman Kedelai di Indonesia Yuliantoro Baliadi; Wedanimbi Tengkano
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.405 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v29n1.2010.p%p

Abstract

 Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) ditemukan menginfestasi tanaman kedelai pada tahun 2007. Larva lalat pengorok daun merusak daun kedelai dengan membuat liang korokan beralur warna putih bening pada bagian mesofil daun dan berpotensi menurunkan hasil hingga 20%. Selain pada kedelai, gejala serangan yang sama juga ditemukan pada kacang hijau, kacang tunggak, kacang panjang, komak, kacang adzuki, buncis, dan 42 jenistanaman lainnya termasuk gulma. Empat spesies lalat pengorok daun yang diketahui menginfestasi tanaman kedelai adalah L. sativae, L. trifolii, L. huidobrensis, dan L. bryoniae. Pengendalian kimia dapat menimbulkan masalah karena lalat memiliki kemampuan genetik yang tinggi untuk menjadi tahan terhadap insektisida kimia.Pada habitat aslinya (subtropis), Liriomyza sp. tergolong serangga berstrategi-r, yaitu memiliki kemampuan reproduksi tinggi, cepat mengkoloni habitat, dan kisaran inangnya luas. Habitat tropis dengan ketersediaan tanaman inang sepanjang tahun dan penggunaan insektisida kimia yang kurang bijaksana memungkinkan lalat pengorok daunmenjadi hama penting pada kedelai. Pada habitat alaminya, populasi lalat pengorok daun rendah akibat pengendalian alami oleh parasitoid dan predator, salah satunya adalah parasitoid Hemiptarsenus varicornis. Oleh karena itu, perlu disiapkan teknologi pengendalian yang lebih memberdayakan peran musuh alami daripada insektisida kimia.Makalah ini menelaah gejala dan akibat serangan lalat pengorok daun, spesies dan biologi, tanaman inang, musuh alami, pemantauan, dan rekomendasi pengendaliannya.
Manfaat purun tikus (eleocharis dulcis) pada ekosistem sawah rawa Asikin, S; Thamrin, M
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.972 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v31n1.2012.p%p

Abstract

Purun tikus adalah salah satu tumbuhan liar yang banyak terdapat di lahan rawa pasang surut sulfat masam.  Tumbuhan sejenis rumput ini mempunyai rimpang pendek dengan stolon memanjang berujung bulat gepeng, berwarna kecoklatan sampai hitam. Batang tegak, tidak bercabang, berwarna keabuan hingga hijau mengilap dengan panjang 50-200 cm dan tebal 2-8 mm. Makalah ini membahas manfaat tumbuhan purun tikus di lahan rawa pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan, selain berfungsi sebagai tanaman perangkap penggerek batang padi putih, purun tikus juga dapat digunakan sebagai pupuk organik, biofilter, dan penyerap unsur beracun. Hama penggerek batang padi putih lebih menyukai meletakkan telur pada purun tikus dibanding pada padi dan ekstraknya berpotensi sebagai bahan atraktan. Dengan demikian, purun tikus dapat dikategorikan sebagai tanaman perangkap karena dapat mengurangi tingkat kerusakan padi yang disebabkan oleh penggerek batang putih. Tingkat kerusakan tanaman padi akibat penggerek batang pada daerah yang populasi purun tikusnya tinggi hanya berkisar 0,0-0,1%, dan meningkat pada daerah yang populasi purun tikusnya lebih rendah. Purun tikus juga merupakan tempat berlindung bagi serangga musuh alami. Kompos purun tikus dapat mengkhelat asam-asam organik, meningkatkan pH, Mg, dan Ca tanah serta sebagai tumbuhan hiperakumulator terhadap logam berat kadmium (Cd). Pemberian kompos purun tikus 2,5 t/ha setara dengan 2 t dolomit/ha, meningkatkan hasil padi masing-masing 25,73% dan 25,97%. Sebagai biofilter, purun tikus dapat memperbaiki kualitas air pada musim kemarau dengan menyerap senyawa toksik terlarut, seperti besi (Fe) dan sulfat (SO4) dalam saluran air masuk (irigasi) dan saluran air keluar (drainase), serta menyerap logam berat timbal (Pb) dari limbah cair industri kelapa sawit pada akar sebesar 0,32-0,54 ppm dan pada batang 0,24-0,27 ppm.
Strategi Pengembalian Wilayah Nusa Tenggara Timur Sebagai Sumber Ternak Sapi Potong Priyanto, Dwi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.559 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v35n4.2016.p167-178

Abstract

ABSTRACTEast Nusa Tenggara (NTT) in the 1998 was able to supply beef cattle with minimum body weight of 250 kg to Java. This capacity, however, decreases today due to the some contraints faced. Pasture is a comparative advantage for grazing system. However, quality of the pasture has declined, and rice intensification policy has reduced grazing areas. The cases of livestock theft are also high which will decrease farmers interest to rearing cattle. Calf mortality is high and slaughtering productive cows is still occurred whichresulted in decreasing beef cattle population. Policy measures to push NTT as a source of beef cattle include pasture management and improvement and application of integrated paddy-cattle to anticipate the reduction of grazing areas in spuring the carrying capacity. Cattle securing is required to avoid theft. Control policies on slaughtering of productive cows are needed through institutional development by the local government. Decreasing calf mortality rates with no shepherd and addition of feed based on local resources are needed. Furthermore, improvement of beef cattle genetic quality through natural mating with the provision of superior male, and development of snapping estrus and artificial insemination are required. These strategies will be able to push increasing beef cattle population in NTT, therefore NTT would revive as a supplier of beef cattle to Java Island.Keywords: Beef cattle, regional development, East Nusa TenggaraAbstrakProvinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 1980-an merupakan pemasok ternak sapi potong ke Pulau Jawa dengan bobot badan minimal 250 kg/ekor. Namun, kemampuan tersebut makin menurun karena berbagai kendala yang dihadapi. Padang penggembalaan merupakan keunggulan komparatif dengan sistem pemeliharaan digembalakan. Namun, kualitas padang penggembalaan makin menurun, selain kebijakan intensifikasi tanaman padi yang berdampak terhadap berkurangnya area penggembalaan. Kasus pencurian ternak yang tinggi akan menurunkan minat peternak dalam usaha ternak. Kematian anak sapi yang masih tinggi dan adanya pemotongan sapi betina produktif akan mengganggu program peningkatan populasi sapi di NTT. Langkah kebijakan untuk memacu NTT kembali sebagai sumber ternak sapi potong di antaranya adalah perbaikan padang penggembalaan dan pengelolaannya dan penerapan model integrasi padi-sapi untuk mengantisipasi berkurangnya area penggembalaan dan meningkatkan daya dukung pakan. Jaminan keamanan ternak diperlukan akibat kasus maraknya pencurian, karena sapi adalah aset utama petani dalam memenuhi ekonomi keluarga. Kebijakan pengendalian pemotongan sapi betina produktif dapat dilakukan melalui pengembangan kelembagaan yang tepat oleh Pemda. Kematian anak sapi dapat diturunkan dengan tidak mengikutkan anak dalam penggembalaan. Perbaikan kualitas genetik dilakukan melalui kawin alam dengan pejantan unggul, maupun pe-ngembangan gertak berahi dan inseminasi buatan. Strategi ini diharapkan mampu memacu peningkatan populasi sapi potong dan mengembalikan peran NTT sebagai pemasok sapi ke Pulau Jawa.
PROSPEK PENGEMBANGAN KARET DI WILAYAH DAERAH ALIRAN SUNGAI Boerhendhy, Island; Agustina, Dwi Shinta
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.414 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v32n4.2013.p156-165

Abstract

Harga karet alam yang terus meningkat telah menarik minat petanimaupun investor untuk membangun kebun karet dengan menggunakanbibit unggul. Perkebunan karet tidak hanya dibangun di areakaret tradisional, tetapi juga di area bekas hutan tanaman industri(HTI) maupun daerah aliran sungai (DAS). Tulisan ini bertujuanuntuk memberikan informasi tentang prospek pengembanganperkebunan karet di kawasan DAS, khususnya DAS Musi SumateraSelatan. Pengelolaan kawasan DAS bertujuan untuk mengatur tataguna lahan agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan pendudukdengan lingkungan di kawasan DAS. Salah satu strategi untukmencapai keseimbangan tersebut adalah dengan memanfaatkanlahan di kawasan DAS secara optimal untuk usaha tani yangmencakup beberapa komoditas tanaman, baik tanaman tahunanmaupun tanaman semusim. Pengembangan tanaman karet yangdikombinasikan dengan tanaman semusim, selain dapat meningkatkanpendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, danmenambah devisa negara, diharapkan pula dapat berfungsi sebagaisalah satu alternatif konservasi lahan untuk pelestarian lingkungansecara berkelanjutan di kawasan DAS.
Perubahan Iklim Dalam Konteks Sistem Produksi Dan Pengembangan Kopi Di Indonesia Syakir, M.; Surmaini, E.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.409 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v36n2.2017.p77-90

Abstract

Coffee is one of the Indonesian largest export commodities and has a strategic role in the economy of nearly two million farmers’ livelihood. The potency of Indonesia’s coffee export is quite high because of its preferred taste, however the trend of national coffee production is only 1-2% per year. On the other hand, the impacts of climate change also threaten the achievement of increased production targets. This paper reviews the impact climate change on coffee production and the adaptation strategies. The main coffee producing regions in Indonesia are Aceh, North Sumatera, South Sumatera, Lampung, Bengkulu, East Java and South Sulawesi Provinces. Most of these regions are vulnerable to climate change. The increasing of extreme climate events such as drought due to El Niño causes a decline in national coffee production to 10%. On the contrary, the longer wet season due to La Niña caused the decreased coffee production to 80%. Indirect impacts due to rising temperatures are increased incidence of coffee borer and leaf rust disease which can lead to a 50% decline on coffee production. Due to rising temperatures, the projected coffee production areas are projected to shift to higher elevations. Numerous adaptive technologies have been intoduced, however adaptive capacaity of farmers are still low. This condition is exacerbated by the limited access of most farmers to climate information, markets, technology, farming credits, and climate risk management information. To overcome the problem, policy makers, stakeholders and farmers have to accelerate the adaptation practices since the climate change has occurred and will continue to happen.Keywords: Coffee, climate change, production, adaptation Top of Form AbstrakKopi merupakan salah satu komoditas ekspor yang berperan strategis dalam perekonomian hampir dua juta rumah petani di Indonesia. Potensi ekspor kopi Indonesia cukup tinggi karena cita rasanya yang disukai, namun tren peningkatan produksi kopi nasional hanya 1-2% per tahun. Di sisi lain, dampak perubahan iklim juga mengancam tercapainya target peningkatan produksi. Makalah ini merupakan tinjauan dampak perubahan iklim terhadap produksi kopi dan strategi adaptasinya di Indonesia. Daerah penghasil utama kopi seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meningkatnya kejadian iklim ekstrim seperti kekeringan akibat El Niño mengakibatkan penurunan produksi kopi 10%. Sebaliknya, musim hujan yang panjang akibat La Niña menurunkan produksi kopi hingga 80%. Dampak tidak langsung perubahan iklim adalah meningkatnya serangan hama penggerek buah kopi dan penyakit karat daun yang menyebabkan penurunan produksi sekitar 50%. Akibat kenaikan suhu, sentra produksi kopi diproyeksikan akan berpindah ke wilayah dengan elevasi yang lebih tinggi. Berbagai teknologi adaptasi telah dihasilkan, namun tingkat adaptasi petani kopi umumnya masih rendah. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya akses sebagian besar petani terhadap informasi iklim, pasar, teknologi, kredit usaha tani, dan informasi pengelolaan risiko iklim. Untuk mengatasi masalah tersebut, pengambil kebijakan, stakeholder, dan petani harus mengakselerasi upaya adaptasi karena perubahan iklim telah terjadi dan akan terus berlangsung.Kata kunci: Kopi, perubahan iklim, produksi, adaptasi

Page 8 of 23 | Total Record : 221