cover
Contact Name
Pantjar Simatupang
Contact Email
jae.psekp@gmail.com
Phone
+62251-8333964
Journal Mail Official
jae.psekp@gmail.com
Editorial Address
Lt. III Gedung A. Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : http://dx.doi.org/10.21082/
Core Subject : Agriculture,
Ruang lingkup dari Jurnal Agro Ekonomi adalah sosial ekonomi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan
Articles 391 Documents
Pengaruh Iklan Terhadap Prilaku Pembelian Konsumen Teh dalam Keluarga Dadang Surjadi; Nana Subarna; A. lmron Rosyadi; Nurul Awalina
Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.936 KB) | DOI: 10.21082/jae.v20n2.2002.92-107

Abstract

EnglishThe research is aimed to study the effects of television advertising on the consumer behavior. The research uses survey method. The object of research is household. The survey activites conducted in consumer's and producer's area, which are selected purposively. The research sample for each area is distinguished stratified random sampling based on rural-urban areas. To analyse data, the research uses Chi-Square statistical method. The result of research are, television is an effective media as a tool of promotion to convey tea product information, the urban consumers are significantly reacted to response tea advertising from television. The advertising presentation of tea product on television with the low frequency (<34 times/month) can significantly affect the response of urban consumers to consume that product. The consumers group proportion which has an interest or not is not significantly different with the consumer group proportion which is response or not; The consumers group proportion which is response the tea advertised is significantly be in urban area, and which is not response is be in rural area; It is expected, the consumer reaction to response advertising is effected by family income and tea subtitution capacity; The families are reference for getting tea product information of 20% consumer, and 9% family consumers obtain the information of augmented product. To support the effectiveness of advertising on the television need to be formulated the benefit of family reference, personal selling, health benefit and tea comfort of well tea boiling, and to emphasise for creating of consumers perception with frequency.IndonesianPenelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh iklan televisi terhadap perilaku konsumen. Penelitian menggunakan metode survei. Objek penelitian digunakan ibu rumah tangga. Penelitian dilakukan di daerah produsen dan daerah konsumen yang dipilih secara purposive. Contoh penelitian dipilih dengan metode stratified random sampling menurut strata desa-urban. Metode analisis data menggunakan analisis Chi-Square. Hasil penelitian menyimpulkan; Televisi merupakan media yang efektif untuk mengiklankan produk teh. Konsumen di daerah urban bereaksi sangat nyata dalam merespon iklan teh dari televisi. Penayangan iklan teh dalam televisi dengan frekuensi rendah (<34 kali/bulan) secara nyata dapat mempengaruhi konsumen di daerah urban. Proporsi kelompok konsumen tidak berbeda nyata antara yang menyatakan minat-tidak minat dengan yang merespon-tidak merespon teh sesuai iklan; proporsi konsumen yang merespon teh sesuai iklan secara nyata berada di daerah urban, sedangkan yang tidak merespon berada di daerah rural. Reaksi konsumen dalam merespon teh sesuai iklan televisi diduga dipengaruhi oleh pendapatan keluarga dan daya subtstitusi teh. Keluarga dan kerabat merupakan sumber referensi bagi 20% konsumen, dan 9% berasal dari penyajian di tempat penjualan. Untuk meningkatkan efektivitas iklan teh dalam televisi perlu dipertimbangkan antara lain; memanfaatkan referensi keluarga, personal selling, manfaat kesehatan dan kenikmatan seduhan teh (frekuensi dan gr/cup), pembentukan persepsi diutamakan dibanding frekuensi penayangan.
Integrasi Pasar: Suatu Analisa pada Pasar Internasional Minyak Nabati Achmad Suryana
Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.323 KB) | DOI: 10.21082/jae.v5n1.1986.1-9

Abstract

IndonesianKemampuan mengagregatkan suatu group komoditi atau mendifferensiasikan suatu komoditi akan sangat berguna bagi pemilihan dan perumusan model empirik dalam penelitian yang menyangkut perdagangan internasional. Analisa regresi sederhana harga dapat dipakai sebagai metoda untuk menentukan tingkat pengagregasian dan menditeksi adanya integrasi pasar. Dalam penelitian ini, metoda ini dipakai untuk menganalisa perilaku pasar international minyak nabati, khususnya minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak sawit, dan minyak kelapa. Hasil analisa menunjukkan bahwa integrasi pasar minyak nabati di pasar internasional EEC-10 meningkat overtime. Sementara itu differensiasi komoditi minyak nabati berdasarkan negara asal tidak mendapatkan dukungan dari hasil penelitian ini.
Estimasi Incremental Capital Output Ratio (Icor) untuk Perencanaan Investasi dalam Rangka Pembangunan Sektor Pertanian Sri Hery Susilowati; Prajogo Utomo Hadi; Supena Friyatno; Muchjidin Rachmat; Mohamad Maulana; Miftahul Azis
Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.39 KB) | DOI: 10.21082/jae.v30n2.2012.159-182

Abstract

EnglishAchievement of the targeted growth of agricultural GDP needs sufficient amounts of investment. The required amounts of investment can be correctly determined when the values of ICOR (Incremental Capital Output Ratio) have been known. This study aims at: (1) To estimate the values of agricultural ICOR emplyoing Leontief’s Input-Output approach; (2) To simulate the requirement of agricultural investment to achieve the targeted growth of agricultural GDP by 2010-2014; and (3) To identify factors encouraging or discouraging agricultural investment. This research used Input-Output data from BPS and survei data in 2011 in West Java, East Java, Riau, and South Sulawesi Provinces. The results show that: (1) The values of ICOR < 1, meaning that agricultural investments are efficient; (2) The values of ICOR in the 1995-2008 period were declining suggesting that agricultural investments are increasingly efficient; (3) The values of ICOR decline as processing and consumption activities are considered; (4) To reach the targeted growth of agricultural GDP of 3,75 percent by 2014, the required amout of invesment is Rp 80.1 trillions; and (5) Factors enhancing agricultural investment are good output prospect and profitability, availability of accessible formal capital sources, as well as conducive government  policies, while factors hampering investment are huge capital requirement for the initial investment stage, unstable prices of some commodities, and the limited land area for expansion. Some suggestions of this research are: (1) agricultural investment promotion encompassing on-farm and processing industries; (2) simpler, rapid and cheap investment processes; (3) increasing public budgets for development/rehabilitation of agricultural infrastructure; and (4) providing supports for farmers with subsidized credits such as KKP-E, KKP-NR and KUPS.   IndonesianUntuk mencapai target laju pertumbuhan PDB Sektor Pertanian diperlukan investasi yang memadai di sektor yang bersangkutan. Jumlah kebutuhan investasi dapat ditetapkan secara lebih akurat bila nilai ICOR (Incremental Capital Output Ratio) telah diketahui. Penelitian ini bertujuan: (1) Mengestimasi nilai ICOR dengan pendekatan Input-Output dari Leontief; (2) Melakukan simulasi kebutuhan investasi pertanian untuk mencapai target laju pertumbuhan PDB Sektor Pertanian periode  2010-2014; dan (3) Mengidentifikasi faktor-faktor pendorong atau penghambat investasi pertanian. Penelitian menggunakan data Tabel Input-Output (I-O) Tahun 1995, 200, 2005 dan 2008 bersumber dari BPS dan data survei tahun 2011 di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Riau dan Sulawesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Nilai ICOR < 1, yang berarti investasi pertanian efisien; (2) Nilai ICOR selama 1995-2008 menurun yang berarti investasi pertanian makin efisien; (3) Nilai ICOR menurun jika investasi berlanjut hingga pengolahan hasil dan konsumsi; (4) Untuk mencapai target laju pertumbuhan PDB Sektor Pertanian 3,75 persen pada tahun 2014 diperlukan total nilai investasi sebesar Rp 80,1 triliun; dan (5) Faktor-faktor pendorong investasi antara lain adalah prospek pasar output dan keuntungan usaha yang baik, tersedianya modal yang dapat diakses, dan dukungan kebijakan yang kondusif, sementara faktor-faktor penghambat adalah kebutuhan modal yang sangat besar pada awal investasi, harga output beberapa komoditas yang tidak stabil dan ketersediaan lahan yang makin terbatas. Saran: (1) Promosi investasi pertanian yang mencakup on-farm dan pengolahan hasil; (2) Fasilitasi berupa proses perijinan yang lebih sederhana, cepat dan tidak mahal; (3) Peningkatan anggaran pembangunan/rehablitiasi infrastruktur pertanian; dan (4) Dukungan kepada petani, pekebun, dan peternak berupa kredit-kredit program seperti KKPE, KKP-NR dan KUPS, dengan persyaratan yang lebih ringan.
Analisis Harga Pokok dan Bentuk Pasar Pakan dan Kaitannya dengan Pengembangan Agribisnis Ayam Ras Rakyat Yusmichad Yusdja; Effendi Pasandaran
Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.266 KB) | DOI: 10.21082/jae.v15n1.1996.20-40

Abstract

One of the government central function is to ensure fair distribution of income more than 14 years, the government has tried to keep poultry industry as a source of income for small scale business under the Presidential Decree, No. 50/81 and No. 22/90. Meanwhile, poultry population had increased steadily, but the poultry industry has developed into a large scale business. The objective of this study is to analyze the role of feed factories under the condition that small scale poultry business has found difficult to develop. The empirical data were collected from poultry farms, feed factories, traders of raw material in West Java, East Java and Lampung. The result indicated that there are a trend toward monopolistic and conglomeration practices in feed and poultry industries. Based on these findings of the study, the government should control the poultry industry market mechanism and the role of enterprise permit should be organized.
Elastisitas Pendapatan dari Permintaan Beras Penduduk Indonesia Sri Utami Kuntjoro
Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.541 KB) | DOI: 10.21082/jae.v1n2.1982.75-102

Abstract

IndonesianPenelitian Houthakker menunjukkan bahwa di negara-negara yang pengeluaran totalnya rendah, permintaan bahan pangan kurang elastik terhadap pengeluaran total. Mengingat beras merupakan bahan pangan pokok yang utama bagi  penduduk Indonesia, pengetahuan mengenai besarnya elastisitas pendapatan dari permintaan beras dapat digunakan sebagai bahan kebijaksanaan penyediaan beras bagi penduduk. Penelitian menggunakan data Susenas 1978, dan membagi penduduk Indonesia menurut tiga golongan berdasarkan konsumsi kalori dan 15 daerah, tujuh Daerah Pedesaan dan delapan Daerah Kota. Model yang digunakan ialah logaritma kuadratik, dengan pengeluaran total sebagai nilai pendekatan dari pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan beras kurang elastik terhadap perubahan pendapatan. Elastisitas kuantitas permintaan dan elastisitas anggaran belanja terhadap pendapatan bagi penduduk Pedesaan Indonesia golongan Pendapatan Rendah dan sebagian penduduk golongan Pendapatan Sedang dan Tinggi di Pedesaan Luar Jawa lebih besar dari 0.5, sedangkan golongan-golongan lainnya lebih rendah dari 0.5. Elastisitas pendapatan dari permintaan beras penduduk Daerah Pedesaan lebih tinggi daripada penduduk Kota, dan lebih tinggi pendapatan penduduk, lebih rendah elastisitas pendapatan permintaan beras. Elastisitas anggaran belanja beras terhadap pendapatan lebih tinggi daripada elastisitas kuantitas permintaan terhadap pendapatan. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan penduduk mengakibatkan peningkatan kuantitas dan kualitas beras yang dikonsumsi. Hasil penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan elastisitas permintaan beras di berbagai daerah itu dapat digunakan sebagai bahan kebijaksanaan penyediaan beras, disesuaikan dengan perbaikan taraf hidup dan pertambahan penduduk. Usaha penyediaan beras di berbagai daerah itu memerlukan suatu sistem penyediaan yang intensif, yaitu kelancaran distribusi dari daerah surplus beras ke daerah kekurangan beras.
Status dan Determinan Pendapatan Petani Agroforestri di Lingkungan Taman Nasional Gunung Ciremai nFN Suyadi; nFN Sumardjo; Zaim Uchrowi; Prabowo Tjitropranoto; Dewa Ketut Sadra Swastika
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v36n1.2018.71-89

Abstract

EnglishRural communities in Gunung Ciremai National Park (GCNP) are generally low income farmers. Farms that have long been adopted agroforestry farming systems through inter generation legacy. The existing agroforestry technology applied by the farmers remains the simple traditional technology, so that the crops yields and income are low. Understanding the determinants of farmers’ income is useful in formulating the appropriate policy for increasing farmers’ income. This study was aimed to analyze the level and determinants of  the  agroforestry farmers income in GCNP. This research was conducted in Kuningan and Majalengka Regency, West Java Province,  in July to October 2017. The data was collected by interviewing 310 agroforestry farmers which were selected using the cluster random sampling technique with clusters consisted of the locations of farmer groups from agroforestry in the GCNP buffer zone. The data was analized using descriptive statistics and regression inferential statistics. The results show that the income of agroforestry farmers was low because of low agroforestry farmers’ capacity, weak extension support and weak leadership role of  informal leaders. Supports of the forestry extension service and informal leaders' leadership roles are needed for enhancing the agroforestry farmers’ capacity  in increasing their income.IndonesianMasyarakat perdesaan di lingkungan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) umumnya adalah petani kurang sejahtera yang telah lama menekuni agroforestri turun-temurun. Penerapan teknologi pada sistem usaha tani agroforestri masih sederhana sehingga produktivitas tanaman masih rendah yang berdampak pada rendahnya pendapatan. Berbagai faktor dapat memengaruhi tingkat pendapatan petani agroforestri, sehingga perlu diungkap faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besaran dan determinan pendapatan petani agroforestri di lingkungan TNGC. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat pada bulan Juli sampai Oktober 2017. Data diperoleh dari 310 orang petani yang dipilih berdasarkan cluster random sampling dengan klaster lokasi kelompok tani agroforestri di desa penyangga kawasan TNGC. Data dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif dan statistik inferensial regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani agroforestri di lingkungan TNGC rendah karena rendahnya kapasitas petani agroforestri, lemahnya dukungan penyuluhan kehutanan, dan lemahnya peran kepemimpinan tokoh informal. Dukungan penyuluhan kehutanan dan peran kepemimpinan tokoh informal perlu ditingkatkan agar petani agroforestri memiliki kapasitas yang memadai dalam  meningkatkan  pendapatan mereka.
Studi Diagnostik Pengembangan Usahatani Kedelai di Desa Karyamukti, Kabupaten Karawang Maesti Mardiharini; nFN Muchlas; M. Taufik; Tahlim Sudaryanto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v9n1.1990.57-82

Abstract

EnglishAn identification of a prospect and constraints of soybean production is needed to establish whether a certain region is suitable or not for such a crop. By means of collecting indepth information from soybean and non-soybean farmers, coupled with group interviews and information from the key informan, the following results are reported. Soybean farming is mostly undertaken by small farmer and landless laborer in the second dry season. Major factors motivating farmers to grow soybean is due to the availability of land, free of charge. Farmer's practices on soybean farming is still traditional and is far from those recommended. Taking into consideration the available resources, it is concluded that soybean farming can be expanded in the study site, if the major constraints are alleviated. The lack of high quality seed, low plant density, inappropriate fertilizer and insecticides application are among technical constraints which might be solved by more intensive extension program involving farmer groups. Family and hired labor competition need attention by applying labor saving technology. Relatively low degree of group activities and the existence of mutual relationship between land owner and laborer are social constraints observed in the area. These constraints require proper action considering both the objective of increasing soybean production and employment/income generation for the laborer.IndonesianIdentifikasi potensi dan kendala dalam usahatani diperlukan untuk mengetahui apakah suatu wilayah mampu dijadikan sasaran program pengembangan usahatani kedelai. Dengan menggali informasi mendalam terhadap petani kedelai dan non kedelai, diperkuat dengan wawancara kelompok dan informan kunci, diperoleh hasil sebagai berikut. Usahatani kedelai umumnya dilakukan oleh buruhtani dan petani berlahan sempit pada musim kemarau (MK) II. Motivasi mereka menanam kedelai terutama atas pertimbangan penggunaan lahan yang tanpa membayar sewa. Cara bercocok tanam pola petani cenderung masih tradisional dan belum sesuai dengan paket anjuran. Berdasarkan potensi yang ada, dapat disimpulkan bahwa usahatani kedelai dapat dikembangkan di daerah penelitian, dengan mempertimbangkan beberapa faktor yang menjadi kendala. Kurangnya pengadaan benih, populasi tanaman yang belum optimum, pemupukan dan pengendalian hama yang belum intensif, semuanya adalah kendala fisik/teknis yang dapat diatasi dengan memberikan informasi/bimbingan melalui PPL ke kelompok tani. Adanya kompetisi tenaga kerja di dalam dan luar keluarga perlu pemecahan masalah dengan pemakaian teknologi yang hemat tenaga kerja. Aktivitas kelompok yang masih rendah dan adanya hubungan "pemilik lahan- buruhtani", merupakan kendala sosial yang perlu dicari jalan tengah antara kepentingan pemerataan kesempatan kerja/pendapatan dengan peningkatan produksi kedelai.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Produk Pertanian dan Produk Industri Pertanian Indonesia : Pendekatan Macroeconometric Models dengan Path Analysis A. Husni Malian
Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v21n2.2003.97-121

Abstract

EnglishIn the period of 1983-2002, exports of agricultural products and agro-industrial products increased, respectively, from Rp. 2.7 billion to Rp. 5.0 billion and from Rp. 3.6 billion to Rp. 17.9 billion. The increases were smaller than that of manufacturing products that increased from Rp. 2.3 billion to Rp. 57.5 billion in the same period. The objective of this paper is to identify factors encouraging Indonesia’s exports of agricultural products and agro-industrial products by using macro-econometric model analysis. The results indicate that policy variables dominantly affecting Indonesia’s export of agricultural products are the real exchange rate and government investment in the sector, whereas factors affecting Indonesia’s export of agro-industrial products is the real exchange rate. To increase Indonesia’s exports of agricultural products and agro-industrial products, therefore, the government needs to maintain the real exchange rate at the level that supporting exports. In addition, the government also needs to raise investment in Agricultural Sector, particularly for commodities having orientation and potential for exports.IndonesianEkspor produk pertanian dan produk industri pertanian selama 1983-2002 meningkat dari Rp. 2,7 trilyun menjadi Rp. 5,0 trilyun dan dari Rp. 3,6 trilyun menjadi Rp. 17,9 trilyun. Kenaikan nilai ekspor ini lebih kecil dibandingkan dengan produk industri manufaktur yang meningkat dari Rp. 2,3 trilyun menjadi Rp. 57,5 trilyun. Untuk mengetahui faktor-faktor pendorong ekspor produk pertanian dan produk industri pertanian Indonesia, telah dilakukan analisis dengan menggunakan model ekonometrika makro. Hasil analisis menunjukkan bahwa peubah kebijakan yang mempengaruhi secara dominan ekspor produk pertanian adalah nilai tukar riil dan investasi pemerintah di sektor pertanian, sementara yang mempengaruhi ekspor produk industri pertanian adalah nilai tukar riil. Untuk meningkatkan nilai ekspor produk pertanian dan produk industri pertanian, maka pemerintah perlu mempertahankan nilai tukar riil pada suatu tingkat yang dapat mendorong ekspor. Disamping itu, pemerintah juga perlu meningkatkan investasi pemerintah di sektor pertanian, khususnya terhadap berbagai komoditas yang memiliki orientasi dan potensi ekspor.
Impacts of Agricultural Incentives Policy on the Rural Economy of Indonesia Faisal Kasryno; Masdjidin Siregar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v7n1.1988.73-100

Abstract

IndonesianTujuan utama dari tulisan ini adalah untuk mempelajari berbagai dampak kebijakan insentif pertanian yang diambil pemerintah terhadap produksi, tenaga kerja, dan pendapatan masyarakat pedesaan dengan acuan khusus pada hasil penelitian Studi Dinamika Pedesaan. Keragaan yang cukup mengesankan dari sektor pertanian Indonesia selama sepuluh tahun terakhir terjadi karena kebijakan insentif pertanian yang dilaksanakan secara berdaya-guna baik ditinjau secara makro ekonomi maupun secara sektoral. Kebijakan insentif yang dicanangkan pemerintah dalam bidang pertanian telah mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan rumahtangga petani di pedesaan. Keadaan yang cukup menggembirakan dalam pendapatan rumahtangga pedesaan adalah kemampuannya mengurangi tingkat kemiskinan, dan mengubah struktur konsumsi pedesaan yang membuat bagian pengeluaran yang lebih banyak untuk jasa dan barang-barang tahan lama. Tenaga kerja bukan pertanian menjadi lebih penting sebagai perangsang utama untuk pertumbuhan pendapatan rumahtangga pedesaan khususnya rumahtangga berpendapatan rendah. Setelah pencapaian swasembada beras, arah kebijakan ditekankan pada usaha diversifikasi pertanian pada tingkat regional maupun nasional. Tulisan ini menyajikan deskripsi beberapa elemen penyesuaian dalam strategi pengembangan pertanian untuk sepuluh tahun mendatang.EnglishThe main objective of the paper is to examine the impacts of Government agricultural incentives policies on production, employment, and income of rural people with special references to the results of Rural Dynamic Study. The impressive performance of the Indonesian agricultural sector in the last decades was made possible by an effectively implemented set of agricultural incentive policies both macroeconomic and sectoral. Government incentive policies in agriculture have increased productivity and income of the rural households. A remarkable increase in rural households income has reduced proverty incident, and changed rural consumption structure towards into more portion of expenditure to the consumer durable goods and services. Non-agriculture employment become more important as the major stimulant to the income growth of the rural households especially for those in low income brackets. After the achievement of rice self sufficiency, there is strong policy direction for diversification of agriculture at both national and regional levels. Several elements of adjustment in agricultural development strategies for the next decade were described.
Analisis Diversifikasi Konsumsi Energi Menurut Pola Pangan Harapan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Ariani, Mewa; Saliem, Handewi P.
Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v18n2.1999.50-67

Abstract

EnglishThis paper aims at to analyse diversification pattern of energi consumption and its influences. Data National Socio-economic Survey (SUSENAS) 1993 an 1996 collected by Central Beaure of Statistics (BPS) is used in this study. The results of this study were (1) level of energy consumption tend to decrease between 1993-1996 and still under consumption of requirement energy (2.150 calory/cap/day); (2) Compared in "desirable dietary pattern" (PPH), the level of "hewani food" (pangan hewani) consumption was still low relatively. For low income groups, this consumption was only 10-34 compared with the suggested level, meanwhile for high income groups it was around 25-89 percent. To achieve the consumption pattern appropriate to PPH, the programs of ''hewani" food provision and increase of society's income, should be prioritised. Supply of hewani food is done by pushing domestic production and searching competitive import market; (3) Because income is the significant factor influencing energy consumption diversification at the household level, improving household income through generating employment is the policy to push diversification of energy consumption. This policy should be prioritised to rural and poor household because their average consumption level was lower than in urban areas.IndonesianMakalah ini bertujuan untuk menganalisis diversifikasi konsumsi energi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data yang digunakan adalah data Survai Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 1993 dan 1996, bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) Rata-rata tingkat konsumsi energi mengalami penurunan yaitu dari 2.018 kalori tahun 1993 menjadi 1984 tahun 1996 untuk di kota, sedangkan di desa untuk tahun yang sama dari 2.074 menjadi 2.040 kalori; (2) Dibandingkan dengan anjuran konsumsi pangan dalam PPH, pencapaian konsumsi pangan hewani sangat rendah dibandingkan kelompok pangan lainnya. Sebagai gambaran pada kelompok pendapatan rendah hanya 10-34 persen dari anjuran, sedangkan pada kelompok pendapatan tinggi sekitar 25-89 persen. Dalam rangka menuju pencapaian anjuran konsumsi pangan hewani menurut PPH maka upaya untuk memacu penyediaan pangan sumber protein hewani dan peningkatan pendapatan masyarakat perlu mendapat prioritas. Penyediaan pangan sumber protein hewani dilakukan dengan pemacuan produksi dalam negeri dan mencari pasar impor yang lebih kompetitif; (3) Mengingat tingkat pendapatan merupakan faktor yang nyata mempengaruhi tingkat diversiftkasi konsumsi pangan rumah tangga, maka upaya peningkatan pendapatan rumah tangga melalui perluasan kesempatan kerja merupakan kebijakan yang dapat memacu diversifikasi konsumsi pangan. Prioritas kebijakan disarankan lebih diutamakan di daerah pedesaan (dan masyarakat miskin) mengingat secara agregat tingkat konsumsi pangan mereka lebih rendah daripada di perkotaan.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue