cover
Contact Name
Pantjar Simatupang
Contact Email
jae.psekp@gmail.com
Phone
+62251-8333964
Journal Mail Official
jae.psekp@gmail.com
Editorial Address
Lt. III Gedung A. Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : http://dx.doi.org/10.21082/
Core Subject : Agriculture,
Ruang lingkup dari Jurnal Agro Ekonomi adalah sosial ekonomi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan
Articles 391 Documents
Optimalisasi Integrasi Tanaman Pangan dan Ternak Sapi pada Berbagai Topografi Lahan di Bali: Suatu Studi Kasus di Kabupaten Badung Rusastra, I Wayan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v4n1.1985.40-65

Abstract

IndonesianOptimalisasi integrasi ternak dan tanaman pangan dengan perancangan linier diharapkan dapat memberi altematif upaya peningkatan pendapatan dalam usahatani. Disamping itu diharapkan pula mampu menunjukkan arah pengembangan temak sapi dalam suatu daerah dengan kondisi agroekologi tertentu. Realokasi sumberdaya dalam solusi optimal menunjukkan adanya peningkatan pendapatan yang cukup memadai, kecuali untuk petani berlahan sedang dan luas didataran rendah. Bagi kedua golongan petani yang disebutkan terakhir ini, komoditi rekomendasi perlu digarap dalam penelitian lanjutan, atau perlu diciptakan teknologi budidaya tanaman sehingga pendapatan yang semakin layak dapat diciptakan. Dengan meningkatnya luas garapan, temak sapi temyata bersifat kompetitif dengan tanaman pangan untuk daerah dataran rendah dan berbukit. Implikasinya adalah untuk mempertahankan kehadiran usaha ternak sapi perlu diciptakan suatu teknologi pengusahaan ternak yang mampu memanfaatkan tenaga kerja dan modal secara lebih efisien. Didapatkan pula bahwa peningkatan pendapatan dalam salusi optimal temyata diikuti oleh penurunan memanfaatkan tenaga kerja dalam keluarga sehingga produktivitas per tenaga kerja meningkat. Implikasi lintas sektoral yang dapat dikemukakan adalah perlu diciptakan kesempatan kerja diluar sektor pertanian, terutama pada saat pemanfaatan tenaga kerja keluarga secara tidak penuh.
Kelembagaan Pemasaran Kakao Biji di Tingkat Petani Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah Sisfahyuni, nFN; Saleh, M. S.; Yantu, M. R.
Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v29n2.2011.191-216

Abstract

EnglishObjectives of this study are: (i) ) to identify and to analyze characteristics of farmers and their cocoa farms; (ii) to identify and to analyze market structure and conduct of cocoa beans at farm level; and (iii) to analyze the factors affecting farmers in selecting the principal–agent institution. This study uses a descriptive analysis and a logit model using primary data.  The average trained farmers’ age is older than those untrained.  Involvement of trained farmers in the principal-agent institution is less than the untrained farmers.  Farmers’ characteristics are the important factor in determining their opportunity in selecting principal-agent institution. Cocoa yields are relatively low and tend to be constant. Relatively low cocoa yields make the farmers’ income low and they have to select a principal-agent institution requiring a high-cost contract. Farm size is elastic and has a negative sign indicating an increase in farm area will reduce an opportunity in selecting a principal-agent institution. Many farmers as cocoa bean producers are risk avert and the cocoa traders are double-rent seekers and, thus, the market structure is oligopsony. The factors significantly affecting farmers in selecting a principal-agent institution are farmers’ land area size, credit value from the bank, farmers’ experiences,  total of farmers’ households members, farmers perception on price information and cocoa beans quality, banks’ credit procedures, land tax, production factors’ values (except urea value), cocoa farm-business income, and  other farm incomes. Some programs to revitalize cocoa beans marketing at farm level are: farmers’ land legalization; farmers’ cooperation improvement within groups and federations; motivating cocoa farmers to develop other farm business, banks’ credit procedure socialization, and improving farmers’ access to market information.IndonesianTujuan penelitian ini ialah (i) mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik petani dan  usahatani kakao; (ii) mengidentifikasi dan menganalisis struktur dan perilaku pasar kakao biji di tingkat petani; dan (iii) mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam memilih kelembagaan prinsipal–agen. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan model logit. Data yang digunakan adalah data primer yang diambil dengan teknik purposive dan un-proportional stratified random sampling.  Ada sebanyak 120 petani kakao dan 24 pedagang di berbagai tingkatan telah diwawancarai. Rata-rata petani kakao responden memiliki umur produktif di mana rata-rata petani PSL lebih tua daripada rata-rata petani PBSL, namun keterlibatan kelompok petani PSL dalam kelembagaan prinsipal–agen  kurang dibandingkan dengan kelompok petani PBSL. Karakteristik petani merupakan faktor penting yang menentukan peluang petani dalam memilih kelembagaan prinsipal–agen. Produktivitas usahatani kakao tergolong rendah dan cenderung konstan. Rendahnya produktivitas usahatani kakao berdampak pada rendahnya pendapatan usahatani, sehingga dalam rangka mendapatkan dana untuk usahatani, petani terlibat dalam kelembagaan prinsipal–agen yang memiliki biaya kontrak yang tinggi.  Luas lahan UTK adalah elastis dan bertanda negatif, sehingga penambahan luas areal tanam mengurangi peluang petani dalam memilih kelembagaan prinsipal–agen. Petani dengan perilaku aji mumpung (pasrah dan menghindari risiko) sebagai pemasok kakao biji tergolong banyak, sementara pedagang pengumpul dengan perilaku double-rent seeking sebagai pembeli kakao biji tergolong sedikit dan bermitra dengan pedagang di atasnya secara vertikal, sehingga struktur pasar kakao biji di tingkat petani adalah oligopsoni.  Faktor-faktor yang berpengaruh nyata dalam pilihan petani terhadap kelembagaan prinsipal–agen adalah luas lahan usahatani, jumlah kredit bank, lama pengalaman petani dalam berusahatani, jumlah anggota keluarga petani, persepsi petani tentang informasi harga dan kualitas kakao biji yang dikehendaki pasar dunia; persepsi petani tentang prosedur peminjaman kredit bank, nilah pajak lahan usahatani, nilai-nilai faktor produksi (kecuali nilai pupuk urea), pendapatan usahatani kakao, dan pendapatan usahatani lainnya. Beberapa program yang perlu dilakukan dalam revitalisasi kelembagaan pemasaran kakao biji di tingkat petani, yaitu legalisasi aset lahan, peningkatan kerja sama petani dalam kelompok tani dan gapoktan, motivasi petani dalam mengembangkan cabang usahatani lain, sosialisasi prosedur peminjaman kredit bank, dan pemberdayaan petani dalam aspek informasi pasar.
The Total Factor Productivity Measurement of Corn in Java, 1972-1992 Sayaka, Bambang
Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v14n1.1995.39-49

Abstract

IndonesianTotal Factor Productivity (TFP) jagung di Jawa selama periode 1972-1992 selalu positif, berkisar dari 1.8826 sampai 2.3681. Selama periode tersebut TFP banyak meningkat 0.02 persen per tahun. Untuk sub-periode 1972-1977 dan 1977-1982 pertumbuhan TFP negatif dan menjadi positif pada dua sub-periode berikutnya, 1982-1987 dan 1987-1992. Disamping gangguan alam dan hambatan teknis, rendahnya pertumbuhan TFP tersebut menunjukkan hampir tidak adanya perubahan teknologi dalam produksi jagung. Kemajuan teknologi produksi perlu ditingkatkan bukan hanya melalui banyaknya input yang dipergunakan, tetapi juga jenisnya serta efisiensi pemanfaatannya. Kemudahan memperoleh kredit usaha tani (KUT) untuk jagung adalah sangat perlu karena salah satu hambatan utama yang dihadapi petani adalah terbatasnya modal, misalnya untuk membeli benih varietas unggul.
Analisis Kepuasan Petani terhadap Penggunaan Pupuk Organik pada Tanaman Padi Gama, I Gusti Made; Oktaviani, Rina; Rifin, Amzul
Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v34n2.2016.105-122

Abstract

EnglishDemand for rice as Indonesian main food staple continues increasing along with the population growth. Currently, most of rice production is still supported by use of chemical fertilizers not environmentally friendly. Government through the Minister of Agriculture Regulation No. 40/2007 recommends organic fertilizer application to improve soil condition and fertility as well as to increase inorganic fertilizer efficiency. One of the organic fertilizers which has been widely applied by farmers is Beka-Pomi fertilizer, a package consisting of Beka decomposer and Pomi organic fertilizers. This research aims to analyze Beta-Pomi customers segmentation, customer satisfaction level, and the main factors affecting farmers’ satisfaction as the fertilizer users. Primary data were collected through random survey of 180 paddy farmers using the fertilizer in Central Java, West Kalimantan, and Lampung Provinces in February-June 2016. The data were analyzed using the descriptive, IPA, CHAID, and CSI methods. Results of analysis indicated that the fertilizer users were dominated by farmers of productive age group (76%), Jajar Legowo and Haston planting pattern (90%), with educational level from primary to secondary schools (91%), agriculture as side job (73%), and land tenure less than 1 hectare (61%). Most farmers satisfied with the Beka-Pomi fertilizer performance (CSI = 80.22%). The main determinants of the satisfaction were land area, planting pattern, educational level, product opinion, farmers’ activities, farmers’ interest, absence of side effects, ability to produce paddy above 10 tonnes/hectare and quick response from the officers. To increase Beka-Pomi sales, it is necessary to improve facilities and field officers’ qualities, decrease product price, and appreciate the farmers applying the fertilizer.  IndonesianKebutuhan beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Sampai saat ini, sebagian besar produksi padi masih didukung oleh penggunaan pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40/2007 merekomendasikan penggunaan pupuk organik untuk memperbaiki kondisi dan kesuburan tanah, sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik. Salah satu pupuk organik/hayati yang telah beredar di kalangan petani adalah pupuk Beka-Pomi yang merupakan paket pupuk hayati (decomposer) Beka dan organik Pomi untuk tanaman padi. Penelitian bertujuan menganalisis segmentasi, tingkat kepuasan, dan faktor-faktor utama yang memengaruhi kepuasan petani sebagai konsumen pupuk. Data dikumpulkan melalui survei secara acak pada 180 petani padi yang telah menggunakan pupuk Beka-Pomi di Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Lampung pada bulan Februari-Juni 2016. Analisis dilakukan dengan metode deskriptif, IPA, CHAID, dan CSI. Penelitian menunjukkan bahwa pengguna pupuk Beka-Pomi didominasi oleh petani kelompok umur produktif (76%), pola tanam Jajar Legowo dan Haston (90%), tingkat pendidikan setingkat SD─SMA (91%), pekerjaan sampingan di bidang pertanian (73%), dan luas lahan kurang dari 1 ha (61%). Petani merasa sangat puas (CSI = 80,22%) pada kinerja pupuk Beka-Pomi. Kepuasan petani dipengaruhi luas lahan, pola tanam, pendidikan, opini produk, aktivitas petani, minat petani, tidak adanya efek samping, kemampuan menghasilkan padi di atas 10 ton/ha, dan respons cepat petugas. Upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan penjualan Beka-Pomi ialah meningkatkan fasilitas dan kualitas petugas lapangan, menurunkan harga produk, dan mengapresiasi petani pengguna.
Dampak Penurunan Bantuan Domestik terhadap Kinerja Ekonomi Komoditas Pertanian Indonesia : Analisis Simulasi Kebijakan Purba, Helena J.; Hutabarat, Budiman; Nuryanti, Sri
Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v25n1.2007.84-102

Abstract

EnglishAgricultural negotiations in the World Trade Organization forum have been in deadlock until the recent Doha Round. Developing countries, represented by among others Indonesia and G-33, have persistently insisted that developed countries should also cut their tariffs and phase out their domestic support and export subsidies, but developed countries have not responded accordingly. This paper is an attempt to investigate several scenarios regarding tariff cut, domestic support and export subsidy reduction in developed and developing countries in order to predict its impacts on producer’s and consumer's welfare and trade performance in both countries' groups. The analysis is done using the Agricultural Trade Policy Simulation Model (ATPSM). The study indicates that, if developed countries only reduce their tariff and domestic support without any reduction in export subsidy, the agriculture production and consumer surplus in developing countries would fall. Import and producer surplus in developing countries would increase. A fairer and healthier international trade liberalization would materialize if developed countries cut their tariffs and reduce their domestic support and export subsidies altogether. This has been proposed by G 20.IndonesianNegosiasi pertanian dalam forum Organisasi Perdagangan Dunia sebelumnya dan sampai memasuki Putaran Doha saat ini masih mengalami kebuntuan. Negara berkembang yang antara lain diwakili Indonesia dan G 33 mendesak agar negara maju juga melakukan pemotongan tarif dan menurunkan bantuan domestik dan subsidi ekspor bagi produk pertanian mereka. Namun, sampai kini negara maju belum ingin memenuhinya. Tulisan ini merupakan kajian terhadap beberapa skenario penurunan tarif, bantuan domestik, dan subsidi ekpor di negara maju maupun berkembang dan menduga dampaknya terhadap kesejahteraan produsen, konsumen, dan kinerja perdagangan pertanian di negara maju maupun berkembang, termasuk Indonesia. Kajian ini menggunakan Model Simulasi Kebijakan Perdagangan Pertanian untuk menguji skenario kebijakan yang diusulkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa, apabila pemotongan tarif negara maju hanya disertai dengan penurunan bantuan domestik saja akan berdampak pada penurunan produksi dan ekspor pertanian, peningkatan impor, dan merugikan konsumen di negara berkembang. Liberalisasi perdagangan dunia yang adil dan sehat hanya akan tercapai apabila negara maju melakukan pemotongan tarif disertai dengan penurunan bantuan domestik dan subsidi ekspor sekaligus sesuai dengan proposal usulan G 20.
Total Elasticity of Demand For Indonesian Natural Rubber: The use of Extended Armington Model TS, Bambang Dradjat; Darmawan, Delima A.
Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v10n1-2.1991.31-47

Abstract

IndonesianPengetahuan tentang total elastisitas pemintaan karet alam Indonesia sangat penting untuk menilai kebijaksanaan pemerintah Indonesia di sektor karet. Penelitian ini menggunakan model Armington yang telah dikembangkan oleh Duffy et al. (1990). Prosedur pendugaan yang digunakan adalah model penyesuaian parsial dalam bentuk fungsi logaritma dan diduga dengan "Ordinary Least Square". Data yang digunakan mulai tahun 1968 sampai tahun 1989 dan dikelompokkan kedalam negara pengimpor dan pengekspor. Dalam jangka pendek maupun jangka panjang, total elastisitas permintaan karet alam Indonesia tidak elastis. Hal ini berarti kebijaksanaan pemerintah yang ada sekarang tidak akan menghasilkan kenaikan penerimaan ekspor, kecuali dibarengi oleh usaha-usaha untuk meningkatkan daya saing dan pangsa pasar. Usaha-usaha ini dapat berupa peningkatan mutu dan efisiensi produksi karet alam yang diekspor.
Analisis Komparasi Daya Saing Produk Ekspor Pertanian Antar Negara Asean dalam Era Perdagangan Bebas AFTA Hadi, Prajogo Utomo; Mardianto, Sudi
Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v22n1.2004.46-73

Abstract

EnglishThe trade liberalisation under AFTA schemes commencing since 1 January 2003 would result in the more opened market in the ASEAN region and increased competition among countries in the region. The present paper aims to conduct an inter ASEAN  comparative analysis on the export growth of agricultural products as well as effect of  product composition, market distribution and competitiveness on export of agricultural products to the ASEAN region, using time-series data and Constant Market Share approach. The main findings of the analysis are as follows : (1) The Indonesia’s export growth to the ASEAN region in the 1997-1999 period was the highest one among the ASEAN countries, even higher than the world export to the same region, while in the  1999-2001 period it decreased and became slower compared than Thailand, Filipina and world; (2) Composition of the Indonesia’s export product was the best one among the ASEAN country, even though it weakened in the 1999-2001 from the previous period; (3) Market distribution of the Indonesia’s export in the 1997-1999 period was worse than Singapore’s only, but in the following period it weakened and became worse compared to Singapore and Vietnam; and (4) Competitiveness of the Indonesia’s export in the 1997-1999 period was the best one among the ASEAN countries, but weakened in the subsequent period and became worse compared to the Philippines and Thailand. It is suggested that in the future, Indonesia needs to pay more attentions on the selection of correct product composition and country destination so as to win in the increasing competition with other ASEAN countries and even non ASEAN countries.  IndonesianLiberalisasi perdagangan AFTA yang berlaku sejak 1 Januari 2003 akan menyebabkan makin terbukanya pasar di kawasan ASEAN dan makin tajamnya persaingan antar negara di kawasan ini. Tulisan ini bertujuan untuk melakukan analisis komparasi antar negara ASEAN yang menyangkut pertumbuhan ekspor produk pertanian serta efek komposisi produk, distribusi pasar dan daya saing terhadap ekspor produk pertanian ke kawasan ASEAN dengan menggunakan data sekunder deret waktu dan metode analisis Constant Market Share. Kesimpulan utama hasil analisis ini adalah sebagai berikut : (1) Pertumbuhan ekspor Indonesia ke kawasan ASEAN selama periode 1997-1999 adalah yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN, bahkan lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspor dunia ke kawasan yang sama, sedangkan pada periode 1999-2001 menurun dan lebih rendah dibanding Thailand, Filipina dan dunia; (2) Komposisi produk ekspor Indonesia adalah yang terbaik di antara negara-negara ASEAN, walaupun melemah pada periode 1999-2001 dibanding 1997-1999; (3) Distribusi pasar ekspor Indonesia pada periode 1997-1999 hanya kalah dari Singapura, tetapi pada periode 1999-2001 melemah dan kalah dari Singapura dan Vietnam; dan (4) Daya saing ekspor Indonesia pada periode 1997-1999 paling kuat di antara negara-negara ASEAN, tetapi pada periode 1999-2001 melemah dan kalah dari Filipina dan Thailand. Disarankan agar di masa datang, Indonesia lebih memperhatikan lagi pemilihan yang lebih tepat mengenai komposisi produk dan negara tujuan ekspornya agar dapat lebih memenangkan persaingan dengan sesama negara ASEAN lainnya dan bahkan negara-negara non ASEAN.
Determinants of Household off-farm Labor Activity: The Case of Six Villages in Cimanuk River Basin, West Java, Indonesia Taryoto, Andin H.
Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v8n2.1989.1-22

Abstract

IndonesianDidalam pemikiran penganut teori modernisasi, negara-negara berkembang yang sedang dalam proses "memodernisasikan" diri, akan ditandai oleh pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian, baik dari segi penyerapan tenaga kerja maupun dari segi sumber pendapatan. Studi ini berhubungan dengan pernyataan tersebut diatas; tekanan perhatian ditujukan pada upaya mengidentifikasi apakah perubahan itu nyata terjadi di tingkat desa. Intensitas Kegiatan Kerja Luar Usahatani (Household off-farm labor Intensity-HOFFLI) digunakan sebagai indikator transisi kegiatan pertanian menuju kegiatan non-pertanian. Hasil studi menunjukkan bahwa di tingkat desa, HOFFLI masih didominasi oleh kegiatan-kegiatan di sektor pertanian, sementara pekerjaan utama keluarga masih juga di bidang pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi HOFFLI secara nyata adalah umur Kepala Keluarga, jumlah anggota rumah tangga, rasio ketergantungan luas penguasaan lahan, penelitian asset produktif, pengeluaran untuk makanan, serta variabel-variabel boneka desa, jenis kelamin kepala keluarga, dan varietas padi yang ditanam. Lepas daripada sektor apa kegiatan luar usahatani dilakukan, ditemukan bahwa kegiatan itu sangat diperlukan adanya. Kegiatan dapat dilakukan didalam desa sendiri, maupun di luar desa dimana petani berada.EnglishAccording to modernization theorists, modernizing countries are characterized by the movement from agriculture to non-agricultural sectors, either in terms of labor absorbtion or income generation. This study deals with that issue, especially to show whether the movement is also found in village level. Household off-farm labor intensity (HOFFLI) is used as indicator of the transition from agriculture to non-agricultural sectors. The findings show that HOFFLI was still dominated by off-farm labor activities in agriculture, while household's main occupation was also still dominated by agricultural. Factors that significantly influence HOFFLI were household head's age, family size, dependency ratio, landholding, productive assets, expenditure for food and dummy variables of village, household head's gender, and variety of rice grown. Regardless of the source of activities, the findings indicate that off-farm labor activities are really needed, either those in the villages themselves, or in the nearby town such as the capital of the sub-district where the villages are located.
Peranan Teknologi Inseminasi Buatan (IB) pada Produksi Sapi Potong di Indonesia Kusriatmi, nFN; Oktaviani, Rina; Syaukat, Yusman; Said, Ali
Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v32n1.2014.57-74

Abstract

EnglishAs a source of animal protein, beef has a strategic value in the Indonesian economy.  National beef production growth is slower than that of consumption. It leads to an increased import. Lower growth of national beef production is due to low productivity of beef cattle. One of steps to achieving beef self-sufficiency policy is beef cattle productivity improvement through optimizing artificial insemination (AI). This study aims to analyze the impact of technology improvements through increased application of AI dosage on the performance of beef cattle industry, the livestock subsector, and forecasting beef self-sufficiency achievement in Indonesia. This study utilized annual time series data from 1990 to 2011. The data were analysed using an econometric model with simultaneous equations. Parameters were estimated using a Two-Stage Least Squares (2SLS) method. Forecasting domestic beef production and demand uses the econometric models. Results of the study reveal that (a) increasing dosages of AI applications will increase domestic cattle population and beef production, lower domestic beef prices, increase national beef demand, as well as improve GDP and employment of livestock subsector, (b) technological improvements by increasing dosages of AI application will accelerate achievement of beef self-sufficiency in Indonesia.IndonesianSebagai salah satu sumber protein hewani, daging sapi mempunyai nilai strategis dalam perekonomian Indonesia. Pertumbuhan produksi daging sapi nasional relatif lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi sehingga impor daging sapi cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Rendahnya pertumbuhan produksi daging sapi nasional sebagai akibat dari rendahnya tingkat produktivitas ternak sapi potong. Salah satu langkah dalam kebijakan swasembada daging sapi adalah peningkatan produktivitas ternak sapi potong melalui optimalisasi Inseminasi Buatan (IB) untuk mendorong pertumbuhan produksi daging sapi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perbaikan teknologi melalui peningkatan aplikasi dosis IB terhadap kinerja industri sapi potong, subsektor peternakan, serta proyeksi pencapaian swasembada daging sapi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data time series tahunan selama periode 1990-2011. Analisis data menggunakan model ekonometrik dengan sistem persamaan simultan. Estimasi parameter menggunakan metode Two Stage Least Squares (2SLS). Proyeksi produksi dan permintaan daging sapi domestik menggunakan model ekonometrik. Hasil analisis adalah sebagai berikut: 1) peningkatan aplikasi dosis IB akan meningkatkan produksi ternak sapi dan produksi daging sapi domestik, menurunkan harga daging sapi domestik, meningkatkan permintaan daging sapi nasional, serta meningkatkan PDB dan kesempatan kerja subsektor peternakan; dan 2) perbaikan teknologi melalui peningkatan aplikasi dosis IB akan mempercepat pencapaian swasembada daging sapi di Indonesia.
Studi Komparasi Kinerja Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan Syariah dan Konvensional di Jawa Tengah Junaedi, Dedi; Huda, Nurul; Wiliasih, Ranti; Irianto, S. Gatot
Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v30n2.2012.183-199

Abstract

EnglishObjectives of this research are exploring the motives in selecting financial scheme for rural agribusiness development (PUAP), identifying factors affecting PUAP performance, assessing performance differences between conventional PUAP and sharia PUAP in Central Java during the period of 2008-2011. The study was conducted in Banjarnegara, Banyumas, Jepara, Kendal and Purbalingga Regencies during the period from July to December 2012 applying both qualitative and quantitative methods with a dummy-variable multiple regression. A number of 185 LKMA PUAP managers were interviewed with a purposive sampling method. The result shows that PUAP Sharia was chosen for a religious consideration (40.6%), while conventional PUAP LKMA was based on practical (35.3%) and economic reasons (30.2%). Free financing schemes (sharia) variable, LKMA age, number of members, manager’s age and education level, capital, cost of credit, debt, and region were simultaneously and significantly affected the LKMA performance. Partially, effects of each independent variable on the performance are various. Based on liquidity (Quick Ratio) and profitability (Net Profit Margin) aspects, the sharia PUAP shows better performance than the conventional PUAP. The Sharia scheme only shows a negative correlation with the performance of the activity (Asset Turn Over). Solvabilities (Debt Equity Ratios) of both sharia and the conventional show no real effect.IndonesianRiset ini bertujuan untuk mengeksplorasi motif pemilihan skema pembiayaan Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), mengetahui faktor apa saja yang memengaruhi  kinerja PUAP, serta menguji apakah kinerja PUAP syariah  berbeda dengan PUAP konvensional di Jawa Tengah tahun 2008-2011. Penelitian dilakukan di Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Jepara, Kendal, dan Purbalingga selama periode Juli-Desember 2012, menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan multiple regression dummy variable. Sebanyak 185 manajer LKMA PUAP menjadi responden penelitian ini dengan pendekatan  purposive sampling. Hasil riset menunjukkan PUAP syariah dipilih karena motif pertimbangan agama (40,6%), sementara LKMA PUAP konvensional dipilih alasan praktis (35,3%) dan ekonomi (30,2%). Variabel bebas skema pembiayaan (Sharia), usia LKMA, jumlah anggota, usia dan pendidikan manajer, modal, biaya, kredit, utang, dan kawasan secara simultan berpengaruh nyata terhadap kinerja LKMA. Secara parsial, pengaruh setiap variabel bebas terhadap kinerja bervariasi. Dari sisi likuiditas (Quick Ratio) dan profitabilitas (Net Profit Margin), kinerja PUAP syariah relatif lebih baik dari yang konvensional. Skema  syariah hanya berkorelasi negatif dengan kinerja aktivitas (Asset Turn Over). Dan, terhadap kinerja solvabilitas (Debt Equity Ratio), syariah dan konvensional tidak berbeda nyata.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue