cover
Contact Name
Pantjar Simatupang
Contact Email
jae.psekp@gmail.com
Phone
+62251-8333964
Journal Mail Official
jae.psekp@gmail.com
Editorial Address
Lt. III Gedung A. Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : http://dx.doi.org/10.21082/
Core Subject : Agriculture,
Ruang lingkup dari Jurnal Agro Ekonomi adalah sosial ekonomi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan
Articles 391 Documents
Pengukuran Dampak Nilai Tukar Terhadap Produksi dan Pendapatan Petani Padi Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v15n2.1996.21-35

Abstract

Agricultural parity price can be used as proxy for real farm income which in turn incites farmers' interest to produce. The paper intends to estimate the magnitude of parity price impact on farmer's production and net income. It is based on research undertaken through survey method by interviewing many farmers in rice production centers of North Sumatera, Central Java, and Nusa Tenggara Timur. The total number of samples was 316 people. The survey was conducted in July-August 1994 and October - November 1994. The paper concludes that agricultural parity price has positive impact on production of rice with the magnitude ranging from 0.07 to 0.56. Similar conclusion applies to net farmer income with the magnitude ranging from 0.14 to 1.45. Thus, if farmers enthusiasm needs to be generated to product rice, agricultural parity price will be an effective mean. The agricultural parity price should not only consider the prices of production input but also those of other consumption commodities.
Analisis Agribisnis Ayam Buras Melalui Pendekatan Fungsi Keuntungan Multi Output Kasus Jawa Timur Rosmiyati Sajuti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v19n2.2001.56-74

Abstract

EnglishThe native chicken population in Indonesia was about 250 million which are mainly managed as a minor business of households. The native chicken industry developed slowly compared to the industry using advanced breeds of chicken. However, native chicken farming is economically resourceful and has good prospect, to be developed as an agribusiness for employement creation and profitable income. In some areas native chicken farms are managed intensively. The key issues in this research are whether intensive native chicken businesses are profitable and whether they are a part of an integrated agribusiness system. The general objective of this study is to provide insight on agribusiness of the native chicken. The study focused upon factors affecting profitability of intensive and semi-intensive business. The 95 respondents were selected among the population of the native chicken businesses in East Java. Regression function analysis of multi-output profit was applied. The results of this study indicated that the intensive native chicken business was significantly more profitable than the semi-intensive one. Factors affecting the profitability of this business included price of egg, meat, day old chick, feed, level of investment for layers, and for broilers, and each having regression coefficients of 1.2344, 0.3413, -0,0470, -0,0529, 1,6563 and 0,9735 respectively. The native chicken business can be recommended as a profitable business. In order to meet this purpose some improvements are needed: The producers must make a clear choice whether to produce layers or broilers, and decide to increase firm business scale to integrate in a business system.IndonesianIndonesia mempunyai populasi ayam buras yang diperkirakan 250 juta ekor, yang sebagian besar tidak dikelola sebagai suatu agribisnis. Namun demikian ternak ayam buras ini sangat lambat berkembang menjadi industri agribisnis seperti ayam ras. Ternak ayam buras merupakan sumberdaya ekonomi yang mungkin dapat dikembangkan menjadi agribisnis untuk menampung kesempatan kerja dan sumber pendapatan yang menguntungkan. Pada kenyataannya, pada beberapa daerah sudah terdapat peternak-peternak yang mengusahakan ayam buras secara intensif. Pertanyaan kunci dalam penelitian ini adalah apakah pemeliharaan ayam buras secara intensif menguntungkan dan seberapa jauh keterpaduan sistem agribisnis dalam pengusahaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari masalah agribisnis ayam buras dengan titik fokus permasalahan pada faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan agribisnis ayam buras. lvletode yang digunakan adalah pendekatan fungsi regresi Keuntungan Multi output. Pemilihan peternak sebagai responden dilakukan secara acak sederhana. Penelitian dilakukan di Jawa Timur dengan sampel peternak sebanyak 95 orang. Hasil penelitian memperlihatkan tingkat keuntungan agribinis ayam buras sistem pemeliharaan intensif lebih tinggi dibandingkan sistem pemeliharaan semi intensif. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan agribisnis ayam buras adalah harga telur, harga daging, harga bibit, harga pakan, investasi petelur dan investasi pedaging masing-masing dengan nilai koefisien -1,2344, 0,3413, -0,0470, -0,0529, 1,6563, dan 0,9735. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah agrisbinis ayam buras dapat disarankan sebagai satu usaha yang menguntungkan. Perubahan-perubahan yang perlu dilakukan adalah peternak harus memilih tujuan usaha antara telur dan daging secara terpisah, meningkatkan skala usaha dan terintegrasi.
Rice Farmers’ Perception And Attitude Toward Organic Farming Adoption nFN Ashari; Juwaidah Sharifuddin; Zainal Abidin Mohammed; Rika Terano
Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v34n1.2016.35-46

Abstract

IndonesiaPada awal abad ke-21, gaya hidup "kembali ke alam" menjadi tren karena orang lebih sadar terhadap dampak negatif penggunaan input kimia pertanian. Fenomena ini menyebabkan konsumen, terutama yang berpenghasilan menengah atas, untuk mengonsumsi makanan sehat. Hal ini menyiratkan bahwa pertanian organik memiliki prospek cukup baik di masa mendatang. Namun demikian, minat petani untuk menjalankan pertanian organik ternyata masih rendah yang ditandai dengan lambatnya adopsi. Review literatur mengungkapkan bahwa persepsi terhadap karakteristik inovasi memiliki kontribusi yang nyata terhadap perilaku adopsi. Tujuan utama penelitian adalah untuk menguji pengaruh persepsi petani, yaitu persepsi kegunaan teknologi, risiko, kepedulian lingkungan, dan sikap terhadap niat mereka untuk mengadopsi usaha tani padi organik. Penelitian ini melibatkan 600 petani padi sebagai responden di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Responden dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu petani semiorganik dan konvensional. Penggalian data dilakukan pada Mei–Agustus 2015 menggunakan kuesioner terstruktur. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi tentang kegunaan teknologi, kepedulian lingkungan dan sikap berpengaruh positif dan nyata terhadap niat adopsi usaha tani padi organik, baik pada petani semiorganik maupun konvensional. Namun, persepsi terhadap risiko berpengaruh negatif dan nyata pada petani konvensional, tetapi tidak nyata untuk petani semiorganik. Disimpulkan bahwa persepsi dan sikap terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat adopsi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan tingkat adopsi diperlukan upaya pemerintah untuk membangun persepsi dan sikap positif petani terhadap usaha tani organik. Petani juga membutuhkan dukungan dari beberapa pihak untuk mendorong mereka agar turut terlibat dalam praktik usaha tani organik.EnglishBack to nature lifestyle emerges as people were more aware against the adverse impacts of agro-chemical inputs in the early 21st century. This phenomenon has led the consumers, particularly for upper-middle income, to consume healthy foods. It implies that the organic farming has a good prospect in forthcoming years. However, the intention of farmer to practice organic farming is still low as indicated by slow rate of adoption. The literature review reveals that perception on innovation characteristics has a significant contribution on adoption behavior. Objective of this study is to examine the farmers’ perception, namely perceived usefulness, perceived risk, environmental concern, as well as attitude affecting their intention to adopt organic farming. This study involves 600 rice farmers as respondents in Sragen Regency, Central Java. The respondents were grouped into two categories namely semi-organic and conventional farmers. The data were collected through a structured questionnaire in May–August 2015. The results show that the perceived usefulness, environmental concern, and attitude positively and significantly affect intention to adopt rice organic farming from both of semi and conventional farmers. Meanwhile, the perceived risk influences negatively on intention to adopt organic rice farming merely for conventional farmers. It is concluded that the perceptions and attitude have significant effect on intention. Therefore, efforts should be undertaken to raise positive farmers’ perception and attitude. Farmers also need supports from several parties to encourage them to involve in organic rice farming.
Transformasi Sistem Produksi Pertanian dan Struktur Agraria Serta Implikasinya terhadap Diferensiasi Sosial dalam Komunitas Petani (Studi Kasus Pada Empat Komunitas Petani Kakao di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nangroe Aceh Darussalam) U. Fadjar; M. T.F. Sitorus; A. H. Dharmawan; S. M.P. Tjondronegoro
Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v26n2.2008.209-233

Abstract

EnglishThis research analyses about how and how far the transformation of agricultural production system and agrarian structure within cacao-base peasant community imply to social differentiation. The research uses a “multiple case study” approach in four cocoa peasant communities, i.e.: two communities in Central Sulawesi and the other two in Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). The result shows that capitalism enters the communities by ‘permeating’ (not eliminating) through various new activities, and then produced  a ‘transitional’ agricultural production system.. Nevertheless, a persistence of moral-traditional social relation of production (particularly takes form as ‘temporary holding’), has resulted in a social differentiation in peasant community called as ‘unequal-stratification’ of social structure of peasant community. This social structure is differentiated in many layers from a single status layer (land owners, tillers, and labor) to combination of layers (of those three statuses). Moreover, this emerging social structure is also accompanied by a further inequality in agrarian resource ownership.   IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk “menganalisis bagaimana dan sejauh mana trans-formasi sistem produksi pertanian dan struktur agraria terjadi dalam komunitas petani yang mengusahakan tanaman “komersial” kakao serta sejauh mana implikasinya terhadap struktur sosial komunitas petani tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam komunitas petani kakao telah terjadi transformasi sistem produksi pertanian dari perladangan berpindah ke pertanian menetap dan proses tersebut telah mempercepat transformasi struktur agraria. Namun demikian, masih kuatnya hubungan sosial produksi yang berpijak pada ikatan moral tradisional (terutama ikatan kekerabatan, pola pewarisan, dan solidaritas lokal untuk menjaga kebutuhan minimum warga se-komunitas) turut mempertahankan penerapan pola “penguasaan sementara”, khsusnya melalui pola “bagi hasil”. Oleh sebab itu, meskipun mekanisme penguasaan sumberdaya agraria yang memberi jalan pada proses polarisasi dan stratifikasi berlangsung secara bersamaan, tetapi bentuk struktur sosial komunitas petani kakao yang muncul memiliki tipe “stratifikasi” yang disertai dengan luas pemilikan sumberdaya agraria yang mulai timpang.
Stochastic Profit Frontier and Panel Data: Measuring Economic Efficiency on Wetland Rice Farms in West Java nFN Erwidodo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v11n2.1992.19-38

Abstract

IndonesianFungsi keuntungan, sebagai pendekatan dual, sering dipergunakan untuk mengukur tingkat efisiensi  produksi. Pengukuran tingkat efisiensi produksi, baik efisiensi teknis maupun alokatif, dengan menggunakan fungsi keuntungan yang umum dilakukan hanya bersifat ukuran relatif. Konsep fungsi keuntungan frontier memungkinkan tingkat efisiensi diukur secara absolut. Dalam tulisan ini dikemukakan konsep dan penerapan fungsi keuntungan frontier untuk mengestimasi tingkat inefisiensi ekonomis usahatani padi sawah di wilayah DAS Cimanuk, Jawa Barat. Analisa didasarkan atas data panel (1976-1983) tingkat petani di wilayah tersebut. Dari hasil analisa diketahui bahwa tingkat inefisiensi ekonomis (profit) berkisar antara 6.9 persen to 28.9 persen, atau rata-rata antara 13.8 persen dari keuntungan frontier. Dengan mempergunakan asumsi tertentu, secara kasar dapat diestimasi kehilangan keuntungan (profit losses) per hektar dan total kehilangan keuntungan dalam usahatani padi sawah di Jawa Barat. Hasil analisa memperlihatkan bahwa kehilangan keuntungan usahatani padi sawah di Jawa Barat sebesar Rp 78 milyard setiap tahunnya. Dengan demikian upaya untuk mendorong petani meningkatkan efisiensi memberikan manfaat potensial yang sangat besar.
Dampak Kebijakan Proteksi terhadap Ekonomi Beras di Indonesia Prajogo Utomo Hadi; Budi Wiryono
Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v23n2.2005.159-175

Abstract

EnglishThe Indonesian rice economy has been increasingly squeezed since the agreements on agriculture under the WTO arrangements came into effect by 1 January 1995. This was attributed to excessive quantity of rice imports, especially since the economic crisis in mid 1997. The decreased world prices have severely affected the domestic prices that brought about the Indonesian rice to become increasingly less competitive. To deal with this crucial problem, the Indonesian government launched combined protection policies, including tariff and nontariff measures. Since 2000, the tariff rate is Rp 430/kg, and since 2003 the nontariff measure involves import arrangement, control and restriction. In relation to this problem, the objective of the present paper is to estimate the effects of the tariff and nontariff policies on the Indonesian rice economy both at the aggregate and farm levels. Using a partial equilibrium model, this research found that the protection policies have significantly reduced import quantity and, at the same time, significantly increased the domestic price, domestic production, producer’s surplus and farmer’s income. Elimination of one or both policies would bring back the Indonesian rice industry into bankruptcy. It is suggested, therefore, that: (1) The Indonesian government needs to retain the existing combined protection policies; (2) Indonesia together with other countries has to make more pressures on other (exporting) countries so as to reduce their export subsidies and domestic supports that would improve world prices; and (3) Always attempting improvement in domestic rice farming, processing and marketing so as to improve competitiveness. IndonesianKondisi perekonomian beras Indonesia makin terpuruk sejak diberlakukannya perjanjian pertanian WTO tanggal 1 Januari 1995. Hal ini disebabkan oleh membanjirnya impor, terutama sejak krisis ekonomi pada pertengahan 1997. Harga dunia yang terlalu rendah telah mengimbas ke pasar dalam negeri sehingga pertanian padi nasional makin tidak kompetitif. Menghadapi masalah ini, pemerintah Indonesia kemudian menempuh kebijakan proteksi, yang terdiri dari tarif dan nontarif. Sejak tahun 2000, tingkat tarif impor adalah Rp 430/kg, dan sejak tahun 2003 kebijakan nontarif mencakup pengaturan, pengawasan dan pembatasan impor. Sehubungan dengan itu, makalah ini bertujuan untuk mengestimasi dampak kebijakan tarif dan nontarif terhadap perekonomian beras nasional di tingkat makro agregat dan tingkat mikro usahatani. Dengan menggunakan pendekatan model keseimbangan parsial, dapat disimpulkan bahwa kebijakan proteksi telah berhasil secara signifikan menurunkan impor dan meningkatkan harga dalam negeri, jumlah produksi, surplus produsen dan pendapatan petani. Penghapusan salah satu kebijakan tersebut, apalagi keduanya, akan menyebabkan  pertanian padi nasional terpuruk kembali. Oleh karena itu disarankan agar : (1) Pemerintah perlu tetap mempertahankan kombinasi kebijakan proteksi yang ada; (2) Terus berjuang bersama dengan negara-negara lain untuk menekan negara-negara eksportir beras agar bersedia secara sungguh-sungguh menurunkan subsidi ekspor dan bantuan domestik sehingga harga dunia meningkat; dan (3) Terus mengupayakan perbaikan efisiensi usahatani padi, penggilingan dan pemasaran hasil di dalam negeri untuk meningkatkan daya saing.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan Sawah Agus Pakpahan; Affendi Anwar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v8n1.1989.62-74

Abstract

EnglishThe main objective of this research is to seek knowledge about factors effecting the conversion of sawah (rice field) to non sawah uses. A framework of allocation models has been utilized using South Sulawesi and West Sumatera data. The results show that the conversion was determined by monetary value of sawah products which was approximated by value of food crops. It should be realized, however, that values of sawah must be larger than that of monetary values because other values such as conservation of soil and water services was not included in the gross domestic regional bruto.IndonesianSetiap aktivitas ekonomi hampir selalu membutuhkan sumberdaya lahan. Tulisan ini ditujukan untuk menelaah lebih dalam mengenai permasalahan yang berkaitan dengan konversi lahan sawah di propinsi Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat dimana kedua propinsi ini merupakan lumbung beras yang berada di luar pulau Jawa. Dengan menggunakan kerangka analisis model alokasi hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan sawah sangat ditentukan oleh nilai produksi yang diperoleh dari sawah. Akan tetapi perlu disadari bahwa nilai sawah sebenarnya tidak terbatas pada hasil pertanian yang dihasilkan dari sawah tetapi meliputi juga fungsinya sebagai media konservasi tanah dan air dan fungsi sosial lainnya. Manfaat yang disebut terakhir tidak dicerminkan. oleh nilai pasar dari produk pertanian yang dihasilkan dari sawah.
Indeks Judul, Penulis, dan Subjek nFN nLN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v36n2.2018.%p

Abstract

Keberlanjutan Sistem Budi Daya Ternak Sapi Perah pada Peternakan Rakyat di Kabupaten Bogor Dear Rahmatullah Ramadhan; Sri Mulatsih; Akhmad Arif Amin
Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v33n1.2015.51-72

Abstract

EnglishDairy farming system in Bogor Regency deals with threatening problems. This research aims to assess and to analyze sustainability of dairy farming system of smallholding farms in Bogor Regency. The respondents consisted of dairy farm area (Kunak) and smallholding farms in Cisarua District. Approach used in this study was a rapid appraisal for dairy farm system (Rap-Sibusape) using a multidimensional scaling (MDS) method. Results showed that smallholders in Cisarua and Kunak had index values of system dairy farms sustainability of 51.25 and 54.12, respectively. It indicated that the two areas are quite sustainable. Analysis five sustainable dimensions (ecology, economy, socio-culture, infrastructure technology, and institutional law) showed that ecology was sustainable on Kunak, and economy and socio-culture were not sustainable on both Kunak and dairy farm in Cisarua. Leverage analysis results showed that there were 15 out of 45 attributes influencing the sustainability index system. There were six key factors strongly influenced the system with low dependence among factors, i.e. (i) milk prices, (ii) feed carrying capacity, (iii) development cooperation, (iv) input subsidies, (v) micro finance, and (vi) socialization work. Improving dairy cattle farming in Bogor Regency requires sustainability index value enhancement of 15 sensitive attributes focused on 6 key factors affecting the dairy cattle farming system.IndonesianPeternakan sapi perah di Kabupaten Bogor menghadapi permasalahan yang mengancam keberlanjutan sistem, seperti (i) keterbatasan pakan hijauan, (ii) penurunan jumlah peternak, (iii) rendahnya mutu susu, (iv) penyakit ternak, dan (v) terbatasnya sarana-prasarana agribisnis. Oleh karena itu, perlu dikaji status keberlanjutan sistem peternakan sapi perah di Kabupaten Bogor untuk memperoleh manfaat optimal dari kinerja sistem. Penelitian ini bertujuan untuk menilai dan menganalisis keberlanjutan sistem peternakan sapi perah rakyat di Kabupaten Bogor yang diwakili oleh Kawasan Usaha Ternak (Kunak) dan peternakan rakyat Cisarua dengan metode rapid appraisal sistem peternakan sapi perah (Rap-Sibusape) menggunakan pendekatan multidimensional scaling (MDS). Penilaian Rap-Sibusape menunjukkan Kunak dan peternakan rakyat Cisarua memiliki rataan nilai indeks keberlanjutan sebesar 51,25 dan 54,12 sehingga berkategori cukup berkelanjutan. Analisis lima dimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi, sosial-budaya, teknologi-infrastruktur, dan hukum-kelembagaan) menunjukkan dimensi ekologi tidak berkelanjutan pada Kunak, dimensi ekonomi dan sosial-budaya tidak berkelanjutan pada Kunak dan peternakan rakyat Cisarua. Analisis leverage menunjukkan terdapat 15 atribut dari 45 atribut berpengaruh terhadap indeks keberlanjutan sistem peternakan sapi perah. Analisis prospektif menunjukkan terdapat 6 faktor kunci berpengaruh kuat terhadap sistem dengan tingkat ketergantungan antarfaktor yang rendah namun berpengaruh besar terhadap sistem. Enam faktor kunci tersebut yakni: (i) harga susu 5 tahun terakhir, (ii) daya dukung pakan, (iii) perkembangan koperasi, (iv) tingkat subsidi input, (v) lembaga keuangan mikro, dan (vi) sosialisasi pekerjaan. Pengembangan sistem peternakan sapi perah Kabupaten Bogor memerlukan peningkatan nilai indeks keberlanjutan melalui pengelolaan dan perbaikan 15 atribut sensitif dengan fokus pada perbaikan 6 faktor kunci yang berpengaruh terhadap sistem peternakan sapi perah.
Economic Efficiency of Rice Farmers in a Rainfed Lowland Environment Before and During the Financial Crisis I Putu Wardana; nFN Mulyadi; Corazon T. Aragon
Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v19n1.2001.85-105

Abstract

IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk menilai efisiensi ekonomi dari petani padi lahan sawah tadah hujan sebelum dan selama krisis ekonomi di Jawa Tengah. Data yang digunakan dalam analisis adalah panel data dari 90 petani responden yang mencakup musim tanam 1997 dan 1999. Teknik analisa yang digunakan adalah analisa pendapatan dan biaya, uji beda nilai tengah, dan analisa regresi. Hasil regresi dari fungsi keuntungan menunjukkan bahwa harga gabah, pupuk dan tenaga kerja secara statistik nyata pengaruhnya terhadap keuntungan usahatani baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Petani secara ekonomi ternyata lebih efisien dalam memproduksi padi selama krisis dari pada sebelum krisis ekonomi. Efisiensi ekonomi pada musim hujan ternyata lebih tinggi dari pada musim kemarau karena infestasi hama dan kompetisi gulma lebih rendah serta air cukup. Efisiensi ekonomi meningkat selama krisis ekonomi seiring dengan meningkatnya harga sarana produksi terutama pupuk, herbisida dan insektisida. Efisiensi ekonomi sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, krisis ekonomi, dan musim tanam. Pengalaman usahatani, ukuran rumah tangga, dan status penguasaan lahan tidak nyata pengaruhnya terhadap efisiensi ekonomi.EnglishThis study assessed the economic efficiency of rainfed lowland rice farmers before and during the financial crisis in Central Java. Panel data from 90 farmers were gathered by means of a structured questionnaire covering the 1997 and 1999 crop seasons. The analytical techniques employed in this study were costs and returns analysis, statistical test of means, and regression analysis. Regression results of the unit profit model showed that the prices of rough rice, fertilizer and labor were statistically significant for both the wet season and the dry season. Regardless of cropping season, the farmers were more economically efficient in producing rice during the period of financial crisis than before the financial crisis. Economic efficiency in the wet season was higher than in the dry season because of lower pest infestation and weed competition and because of sufficient water supply. Economic efficiency was significantly affected by level of education, financial crisis and cropping season. It increased during the financial crisis despite the price increase of input factors, especially fertilizer, herbicide and insecticide. During the wet season, farmers were found to be more economically efficient than in the dry season. Farming experience, household size, and tenure status did not significantly affect farmers' economic efficiency.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue