cover
Contact Name
Edison Rikardo A
Contact Email
jurnal@sttaa.ac.id
Phone
+62215-8357685
Journal Mail Official
jurnal@sttaa.ac.id
Editorial Address
Jl. kedoya Raya No.18 Jakarta Barat, DKI Jakarta 11520
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Amanat Agung
ISSN : 20867611     EISSN : 25798839     DOI : -
Core Subject : Religion,
Jurnal Amanat Agung diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung dalam rangka turut mengembangkan dan memajukan penelitian di bidang ilmu teologi, yang mencakup sub-bidang 1. biblika; 2. teologi sistematika; 3. historika; dan 4. praktika, termasuk pendidikan Kristen, musik gerejawi dan ibadah, serta studi interkultural. Hasil penelitian yang dituangkan dalam artikel jurnal diharapkan dapat memberi sumbangsih bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pemahaman teologi serta pelayanan Kristen, termasuk menawarkan solusi bagi permasalahan masyarakat baik di tingkat nasional maupun regional. Namun, penulis dan pembaca serta mitra bebestari yang terlibat tidak dibatasi hanya berasal dari Indonesia maupun regional, melainkan berasal dari manca negara (internasional).
Articles 314 Documents
PREACHING OF THE REVISIONISTS IN THE EMERGING CHURCH Johan Djuandy
Jurnal Amanat Agung Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 2 Desember 2019
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper discusses the emerging church movement in the USA, in particular the impact of the movement to the preaching philosophies and practices held by its leaders. The nature and definition of the movement will be discussed in the first part of this paper. In the second part some core characteristics of the movement will be examined. The third part will be devoted to the analysis of the philosophy and method of preaching of the emerging church leaders, focusing on the examination of the two prominent leaders of the emerging church in North America, namely Brian McLaren and Doug Pagitt. These two gentlemen have exhibited a radical shift from orthodox theology. Their understanding and ministry of preaching, therefore, reveal a great polarity from those of the traditional churches.
KEMANUSIAAN-SUBSTITUSIONAL KRISTUS DALAM PEMIKIRAN THOMAS F. TORRANCE Yeremia Yordani Putra
Jurnal Amanat Agung Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 2 Desember 2019
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v15i2.373

Abstract

Abstract: This paper focuses on Thomas F. Torrance's thought on the Vicarious Humanity of Christ. Torrance understands that the redemptive work of Christ is not restricted to the moment of His death on the cross, but is in all moments of His human life. Torrance places great emphasis on the understanding that Christ in His humanity stands in our place and represents us before God the Father. Through His obedience, Christ restored the humanity of sinful believers as a perfect response to God. This truth stresses that Christ's redemption is not just a matter of the forgiveness of sins, but also is the bestowing of a restorative impact on the whole being of the believers. Therefore, the Vicarious Humanity of Christ becomes the ontological basis for the life of the believers. This thought gives great significance to the lives of believers, including the aspects of faith, repentance, and worship. Keywords: The Vicarious Humanity of Christ, Fallen Humanity, Perfect Response, Thomas F. Torrance. Abstrak: Tulisan ini menyoroti pemikiran Thomas F. Torrance mengenai Kemanusiaan-Substitusional Kristus. Torrance memahami karya penebusan Kristus bukan hanya dibatasi pada momen kematian-Nya di atas kayu salib, melainkan dalam seluruh momen kehidupan-Nya sebagai manusia. Torrance sangat menekankan pemahaman bahwa Kristus dalam kemanusiaan-Nya berdiri di tempat kita dan mewakili kita di hadapan Allah Bapa. Melalui ketaatan-Nya, Kristus memulihkan kemanusiaan orang percaya yang telah berdosa sebagai respons sempurna kepada Allah. Kebenaran ini menegaskan bahwa penebusan Kristus bukan hanya soal pengampunan dosa, tetapi juga penganugerahan dampak restoratif pada seluruh keberadaan diri orang percaya. Oleh karena itu, Kemanusiaan-Substitusional Kristus menjadi dasar ontologis bagi kehidupan orang percaya. Pemikiran ini memberikan signifikansi yang besar bagi kehidupan orang percaya, di antaranya dalam aspek iman, pertobatan, dan ibadah. Kata-kata kunci: Kemanusiaan-Substitusional Kristus, Kemanusiaan Berdosa, Respons Sempurna, Thomas F. Torrance
The Coronavirus and Christ, by John Piper Abel Kristofel Aruan
Jurnal Amanat Agung Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 2 Desember 2019
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v15i2.374

Abstract

Berteologi di masa krisis memang tidak mudah. Karena itu, tulisan teologis yang muncul di masa-masa krisis patut disimak dan ditelaah. John Piper menerbitkan bukunya, Coronavirus and Christ, ketika krisis COVID-19 masih berlangsung (28 April 2020). Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk meninjau isi buku ini.
SIGNIFIKANSI LABEL KEHORMATAN ISRAEL DALAM 1 PETRUS 2:9-10 BERDASARKAN TEORI IDENTITAS SOSIAL (SIT) Serepina Hasibuan
Jurnal Amanat Agung Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 2 Desember 2019
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v15i2.380

Abstract

Topik mengenai pembentukan identitas sosial pembaca dalam surat 1 Petrus hangat diperbincangkan oleh para ahli. Dua monograf yang layak didiskusikan adalah karya Paul A. Himes dan David G. Horrell. Himes mengklaim bahwa foreknowledge Allah berperan dalam pembentukan identitas pembaca 1 Petrus (penelitian terhadap kata πρόγνωσις dan προγινώσκω). Sedangkan Horrell mengklaim bahwa kata Χριστιανός pada 4:16 berperan sebagai label yang membentuk identitas pembaca 1 Petrus. Berbeda dengan keduanya, penulis berpendapat bahwa Petrus membentuk identitas sosial pembacanya melalui Perjanjian Lama khususnya pada 1 Petrus 2:9-10. Masifnya penggunaan materi PL dalam 1 Petrus dan label kehormatan Israel yang diasosiasikan kepada pembaca menjadi pertimbangan dasar dari asumsi tersebut. Makalah ini akan menjelaskan bagaimana 1 Petrus 2:9-10 signifikan sebagai dasar pembentukan identitas sosial pembaca. SIT dipandang sebagai metodologi yang efektif untuk membuktikan hal tersebut. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa peranan Perjanjian Lama lebih luas yakni sebagai dasar pembentukan identitas sosial pembaca
The Irrevocable View of the Phinehasian Covenant in Light of the Davidic Covenant Tuck Seon Chung
Jurnal Amanat Agung Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 2 Desember 2019
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v15i2.382

Abstract

Abstract: One may easily have the impression that the promise of an everlasting covenant with Phinehas in Numbers 25:13 has been reached under the Sinai covenant. On closer examination of the question, however, general agreement in fact counts for little. Rather, most of the questions on this point appear to be still open. This article re-examines the efficacy of the Phinehasian covenant by comparing parallelly with the Davidic covenant as to show that the covenant carries the same weight as the Davidic covenant. This paper emphasis on God’s everlasting covenant with Phinehas is unconditional that should not be taken as a bilateral covenant under the Sinai covenant. Thus, how did Christ Jesus fulfill this Phinehasian covenant as the culmination of the covenant promise is worth for a further investigation. Abstrak: Orang mudah mendapatkan kesan bahwa janji kovenan kekal dengan Pinehas dalam Bilangan 25:13 telah digenapi dalam kerangka kovenan Sinai. Namun, melalui penyelidikan yang lebih mendalam, fakta-fakta yang mendukung ternyata sedikit. Sebaliknya, kebanyakan pertanyaan terhadap titik ini nampak masih terbuka. Artikel ini memeriksa kembali kekuatan kovenan Pinehas dengan cara membandingkannya parallel dengan kovenan Daud. Ia memandang bahwa kovenan kekal Allah dengan Daud adalah tidak bersyarat. Signifikansi dari riset ini adalah menguraikan bahwa kovenan Pinehas akhirnya terealisasi dalam Kristus Yesus sebagai kulminasi dari janji kovenan tersebut.
POSISI PEREMPUAN DALAM INJIL LUKAS: Sebuah Kajian dengan Perspektif Honor and Shame Melalui Kisah Elisabet Hana
Jurnal Amanat Agung Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 1 Juni 2020
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v16i1.386

Abstract

Abstract: The number of female figures who appear in Luke's gospel behind a social context that places women in a lower position than men, raises questions about the position of women in Luke's gospel. This article aims to explore the woman in Luke's gospel through the story of Elizabeth. Because the issue of women's position related to social status, the analysis in this study will be based on the perspective of honor and shame with symbolic methods in cultural anthropology as the methodology. The results of this analysis show a positive and significant position for women in the Gospel of Luke. This is shown through the symbols of honor embedded in Elizabeth, as well as her significant and prominent role. Even Elizabeth is shown to be in a much more positive position than her husband, Zacharias. Elizabeth shows that women, like men, can play an important role as patrons, witnesses, and prophets. The way Luke positions Elizabeth indicates that there is an elevation of honor for women to an equal position with men. Keywords: honor and shame, cultural anthropology, Elizabeth, women’s position, the Gospel of Luke Abstrak: Banyaknya tokoh perempuan yang dimunculkan di Injil Lukas di balik konteks sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki, menimbulkan pertanyaan mengenai posisi perempuan dalam Injil Lukas. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi posisi perempuan dalam Injil Lukas melalui kisah Elisabet. Mengingat isu tentang posisi perempuan berhubungan dengan status sosial, maka analisis dalam penelitian ini akan didasarkan pada perspektif honor and shame dengan metode simbolik dalam antropologi budaya sebagai metodologinya. Hasil dari analisis ini memperlihatkan posisi yang positif dan signifikan bagi perempuan dalam Injil Lukas. Hal ini diperlihatkan melalui simbol-simbol kehormatan yang disematkan kepada Elisabet, serta perannya yang terlihat signifikan dan menonjol. Bahkan Elisabet diperlihatkan pada posisi yang jauh lebih positif daripada Zakharia, suaminya. Elisabet memperlihatkan bahwa perempuan, seperti juga laki-laki, dapat berperan penting sebagai patron, saksi, dan penyampai nubuat. Cara Lukas memosisikan Elisabet ini mengindikasikan adanya pengangkatan kehormatan perempuan pada posisi yang setara dengan laki-laki. Kata-kata Kunci: honor and shame, antropologi budaya, Elisabet, posisi perempuan, Injil Lukas.
STUDI INTERTEKSTUALITAS TERHADAP ROMA 8:18-23 Juppa Haloho
Jurnal Amanat Agung Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 1 Juni 2020
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v16i1.392

Abstract

Abstract: As an environmental mantra, Romans 8:18-23 has become one of the main pillars of the Christian ecotheology that gives mandate to Christians to take care of environment. Through this text, ecological crisis can be read not empirically but theologically. The hermeneutical issue of the text is that interpreters do not yet agree about the background of Paul’s argument. In the midst of the variety of interpreters’ suggestions of Paul’s background in Romans 8:18-23, intertextuality approach proposes Isaiah 24:1-7 as an allusion that Paul intentionally alluded to in Romans 8:18-23. Intertextuality approach proves that Isaiah 24:1-7 has some connections with Romans 8:18-23. In writing Romans 8:18-23, Paul had read Isaiah 24:1-7 figuratively in the light of Christ. Thus, restoring the context and theological message of Isaiah 24:1-7 illuminates the reading of Romans 8:18-23. Likewise, understanding why Paul used Isaiah 24:1-7 in Romans 8:18-23 helps readers read Isaiah 24:1-7. Keywords: ecotheology, intertextuality, figural reading, Romans 8 Abstrak: Roma 8:18-23 sebagai environmental mantra merupakan salah satu pilar utama ekoteologi Kristen yang memberikan mandat kepada orang Kristen untuk memperhatikan lingkungan. Melalui teks ini, krisis ekologis dapat dipahami bukan secara empiris melainkan secara teologis. Sekalipun demikian, para penafsir masih belum sependapat mengenai latar pemikiran Paulus dalam Roma 8:18-23. Di tengah beragamnya usulan para penafsir atas latar pemikiran Paulus dalam Roma 8:18-23, pendekatan intertekstualitas mengusulkan Yesaya 24:1-7 sebagai alusi yang sengaja disinggung Paulus dalam Roma 8:18-23. Pendekatan intertekstualitas membuktikan keterkaitan Yesaya 24:1-7 dengan Roma 8:18-23. Dalam menulis Roma 8:18-23, Paulus telah membaca Yesaya 24:1-7 secara figural dalam terang Kristus. Dengan demikian, pemulihan konteks dan pesan teologis Yesaya 24:1-7 menerangi pembacaan Roma 8:18-23. Demikian pula, pemahaman mengapa Paulus menggunakan Yesaya 24:1-7 dalam Roma 8:18-23 menolong pembaca memahami Yesaya 24:1-7. Kata Kunci: ekoteologi, intertekstualitas, pembacaan figural, Roma 8 .
Meng-hari-ini-kan Injil di Bumi Pancasila Bergereja dengan Cita Rasa Indonesia. Arthur Aritonang
Jurnal Amanat Agung Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 2 Desember 2019
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinjauan Buku Ebenhaizer Nuban Timo, Meng-hari-ini-kan Injil di Bumi Pancasila Bergereja dengan Cita Rasa Indonesia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 487 halaman.
KONSEP MISKIN DALAM LUKAS-KISAH PARA RASUL Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 2 Desember 2020
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v16i2.465

Abstract

Abstrak: Kemiskinan dalam Injil Lukas-Kisah Para Rasul seharusnya tidak dipahami sebagai kemiskinan rohani atau kemiskinan sosial atau kemiskinan moral. Kemiskinan dalam Injil Lukas-Kisah Para Rasul merujuk kepada kemiskinan ekonomi. Kesimpulan demikian diperoleh melalui perbandingan narasi unik dalam Lukas, narasi dalam Lukas dan Matius, dan narasi dalam Lukas, Matius, dan Markus. Lukas kemudian mendemonstrasikan dalam kitab Kisah Para Rasul bagaimana jemaat Kristen perdana memberi perhatian serius terhadap orang miskin materi. Kesatuan Injil Lukas-Kisah Para Rasul masih tetap dipertahankan meski konsep miskin yang dominan dalam Injil Lukas absen di dalam Kisah Para Rasul. Kata Kunci: Injil Lukas, Kisah Para Rasul, tradisi L, tradisi Q, kesatuan Lukas-Kisah Para Rasul, miskin. Abstract: Poverty in Luke-Acts should not be understood as spiritual or social or moral poverty. Poor people in Luke-Acts refer to the economically poor. This conclusion is reached through comparing narration unique to Luke, narrations in Luke and Matthew, and narrations in Luke, Matthew, and Mark. Luke then demonstrates in Acts how early Christian church seriously gave attention to the economically poor people. Unity Luke-Acts can be sustained although the concept of poverty which is dominant in Luke is absent in Acts. Keyword: Luke, Acts, L tradition, Q tradition, Unity Luke-Acts, poor.
HISTORY OF ARABS Rujukan Induk dan Paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam Arthur Aritonang
Jurnal Amanat Agung Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 1 Juni 2020
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buku History of Arabs ditulis oleh Philip K. Hitti seorang yang beragama Kristen. Ia merupakan Guru Besar Emeritus Sastra Semit di William and Annie S. Paton Foundation, Universitas Princeton. Dikalangan dunia Barat ia dikenal seorang ahli Islam. Tujuan buku dari buku ini ditulis ialah bagaimana Islam dipandang dari perspektif Barat. Hitti dalam penelitiannya berfokus kepada sejarah Arab pra-Islam sampai ke masa dimana Islam membuka diri terhadap kemajuan modernisasi yang terjadi di Barat. Hitti memahami bahwa sejarah peradaban Arab pra-Islam memiliki budaya yang melegalkan cara-cara kekerasan bagaimana agar mereka dapat bertahan hidup, bahkan ketika masyarakat Arab mengenal Islam sebagai agamanya, mereka kemudian menyebarkan agama Islam dengan melegalkan cara agresi militer dengan tujuan menaklukan wilayah-wilayah yang bukan hanya di Jazirah Arab tetapi juga di Afrika, Asia, maupun Eropa. Hal ini dilakukan semata-mata agar agama Islam pun diakui sebagai agama besar di dunia yang memberikan pengaruh kepada wilayah-wilayah yang telah ditalkukannya.

Filter by Year

2005 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 21 No 2 (2025): Jurnal Amanat Agung Vol. 21 No. 2 Desember 2025 Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Amanat Agung Vol. 21 No. 2 Desember 2025 Vol 21 No 1 (2025): Jurnal Amanat Agung Vol. 21 No. 1 Juni 2025 Vol 20 No 2 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 2 Desember 2024 Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 1 Juni 2024 Vol 19 No 2 (2023): Jurnal Amanat Agung Vo. 19 No. 2 Desember 2023 Vol 19 No 1 (2023): Jurnal Amanat Agung Vol 19 No. 1 Juni 2023 Vol 18 No 2 (2022): Jurnal Amanat Agung Vol 18 no. 2 Desember 2022 Vol 18 No 1 (2022): Jurnal Amanat Agung Vol 18 no. 1 Juni 2022 Vol 17 No 2 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 2 Desember 2021 Vol 17 No 1 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 1 Juni 2021 Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 2 Desember 2020 Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 1 Juni 2020 Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 2 Desember 2019 Vol 15 No 1 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 1 Juni 2019 Vol 14 No 2 (2018): Jurnal Amanat Agung Vol. 14 No. 2 Tahun 2018 Vol 14 No 1 (2018): Jurnal Amanat Agung Vol. 14 No. 1 Tahun 2018 Vol 12 No 2 (2016): Jurnal Amanat Agung Vol. 12 No. 2 Tahun 2016 Vol 12 No 1 (2016): Jurnal Amanat Agung Vol. 12 No. 1 Tahun 2016 Vol 11 No 2 (2015): Jurnal Amanat Agung Vol. 11 No. 2 Tahun 2015 Vol 11 No 1 (2015): Jurnal Amanat Agung Vol. 11 No. 1 Tahun 2015 Vol 10 No 2 (2014): Jurnal Amanat Agung Vol. 10 No. 2 Tahun 2014 Vol 10 No 1 (2014): Jurnal Amanat Agung Vol. 10 No. 1 Tahun 2014 Vol 9 No 2 (2013): Jurnal Amanat Agung Vol. 9 No. 2 Tahun 2013 Vol 9 No 1 (2013): Jurnal Amanat Agung Vol. 9 No. 1 Tahun 2013 Vol 8 No 2 (2012): Jurnal Amanat Agung Vol. 8 No. 2 Tahun 2012 Vol 8 No 1 (2012): Jurnal Amanat Agung Vol. 8 No. 1 Tahun 2012 Vol 7 No 2 (2011): Jurnal Amanat Agung Vol. 7 No. 2 Tahun 2011 Vol 7 No 1 (2011): Jurnal Amanat Agung Vol. 7 No. 1 Tahun 2011 Vol 6 No 2 (2010): Jurnal Amanat Agung Vol. 6 No. 2 Tahun 2010 Vol 6 No 1 (2010): Jurnal Amanat Agung Vol. 6 No. 1 Tahun 2010 Vol 5 No 2 (2009): Jurnal Amanat Agung Vol. 5 No. 2 Tahun 2009 Vol 5 No 1 (2009): Jurnal Amanat Agung Vol. 5 No. 1 Tahun 2009 Vol 4 No 2 (2008): Jurnal Amanat Agung Vol. 4 No. 2 Tahun 2008 Vol 4 No 1 (2008): Jurnal Amanat Agung Vol. 4 No. 1 Tahun 2008 Vol 3 No 2 (2007): Jurnal Amanat Agung Vol. 3 No. 2 Tahun 2007 Vol 3 No 1 (2007): Jurnal Amanat Agung Vol. 3 No. 1 Tahun 2007 Vol 2 No 2 (2006): Jurnal Amanat Agung Vol. 2 No. 2 Tahun 2006 Vol 2 No 1 (2006): Jurnal Amanat Agung Vol. 2 No. 1 Tahun 2006 Vol 1 No 1 (2005): Jurnal Amanat Agung Vol. 1 No. 1 Tahun 2005 More Issue