cover
Contact Name
Edison Rikardo A
Contact Email
jurnal@sttaa.ac.id
Phone
+62215-8357685
Journal Mail Official
jurnal@sttaa.ac.id
Editorial Address
Jl. kedoya Raya No.18 Jakarta Barat, DKI Jakarta 11520
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Amanat Agung
ISSN : 20867611     EISSN : 25798839     DOI : -
Core Subject : Religion,
Jurnal Amanat Agung diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung dalam rangka turut mengembangkan dan memajukan penelitian di bidang ilmu teologi, yang mencakup sub-bidang 1. biblika; 2. teologi sistematika; 3. historika; dan 4. praktika, termasuk pendidikan Kristen, musik gerejawi dan ibadah, serta studi interkultural. Hasil penelitian yang dituangkan dalam artikel jurnal diharapkan dapat memberi sumbangsih bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pemahaman teologi serta pelayanan Kristen, termasuk menawarkan solusi bagi permasalahan masyarakat baik di tingkat nasional maupun regional. Namun, penulis dan pembaca serta mitra bebestari yang terlibat tidak dibatasi hanya berasal dari Indonesia maupun regional, melainkan berasal dari manca negara (internasional).
Articles 314 Documents
THE RULE OF ST. BENEDICT SEBAGAI MODEL FORMASI SPIRITUAL SEMINARI Meiliana Evita Benes
Jurnal Amanat Agung Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 2 Desember 2020
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v16i2.499

Abstract

Abstract: This research is based on the thought of a saint, St. Benedict, contained in a rule made in the context of monastery, the Rule of St. Benedict. This rule has shaped the spiritual life of God's people for dozens of centuries. The strong emphasis on the balance of ora et labora, prayer and work, made this pattern relevant till date. This rule is also used as an approach to the forming of the patterns of spiritual formation in seminaries. Theological education is closely related to the growth of God's people. Thus, seminary as one model of theological education needs to have a good pattern related to the spiritual formation of everyone in it. The condition of seminaries in the present era with a tendency to show more attention to academic formation than to spiritual formation can cause imbalance in the life of seminarians. The Rule of St. Benedict can be a reference model so that seminaries can carry out a balanced theological education process to ensure that the academic quality exists as a part of the wholistic spiritual life. Keywords: ora et labora, seminary, spiritual formation, the Rule of St. Benedict. Abstrak: Penelitian ini didasarkan oleh pemikiran seorang kudus, St. Benediktus yang tertuang dalam sebuah aturan yang dibuat dalam konteks biara, the Rule of St. Benedict. Aturan ini telah membentuk kehidupan spiritual umat Tuhan selama belasan abad. Penekanan yang kuat pada keseimbangan ora et labora, berdoa dan bekerja, membuat pola ini dapat digunakan hingga saat ini. Aturan ini juga digunakan sebagai pendekatan untuk membentuk pola formasi spiritual di seminari. Pendidikan teologi memiliki kaitan yang erat dengan pertumbuhan umat Tuhan. Dengan demikian, seminari sebagai salah satu model dari pendidikan teologi perlu memiliki sebuah pola yang baik terkait dengan formasi spiritual setiap orang di dalamnya. Kondisi seminari pada masa kini yang menunjukkan kecenderungan perhatian pada formasi akademik daripada formasi spiritual dapat mengakibatkan ketidakseimbangan dalam kehidupan para seminaris. The Rule of St. Benedict dapat menjadi sebuah model acuan agar seminari dapat menjalankan proses pendidikan teologi secara seimbang guna memastikan bahwa kualitas akademik hadir sebagai bagian dalam kehidupan spiritual secara holistik. Kata-kata kunci: ora et labora, seminari, formasi spiritual, The Rule of St. Benedict.
Fields of Blood: Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan Arthur Aritonang
Jurnal Amanat Agung Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 2 Desember 2020
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buku ini merupakan hasil penelitian yang ditulis oleh Karen Armstrong seorang yang beragama Katolik. Ia dikenal seorang ahli sejarah agama dan perbandingan agama. Tujuan dari penelitian ini adalah meliput sejarah agama di seluruh dunia sepanjang 4.000 tahun untuk menjelaskan hubungan agama dan kekerasan. Buku ini mengajak pelapor untuk menelusuri atau melintasi sejarah agama. Adapun pertanyaan yang melatarbelakangi Armstrong dalam penelitian ini yaitu apakah unsur agama lebih dominan memotivasi manusia menciptakan kekerasan maupun perang di antara manusia? Untuk tiba pada kesimpulan mengenai pertanyaan tersebut, pelapor terlebih dahulu menyajikan garis besarnya saja terhadap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama rentang waktu tersebut berdasarkan isi dari buku ini.
RELASI BAPA DAN ANAK PADA PERISTIWA SALIB MENURUT PANDANGAN JÜRGEN MOLTMANN Lidya Thauwrisan
Jurnal Amanat Agung Vol 17 No 1 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 1 Juni 2021
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v17i1.503

Abstract

Abstract: The cry of Jesus saying "My God, My God, why have You forsaken me?" draws Jürgen Moltmann’s attention to investigate what happened in the relationship between the Father and the Son at the event of the cross. Moltmann sees that in this event of the cross, for the first time, Jesus crying out called the Father not as Father but as "God". The exclamation is then seen as an indication of separation in the intratrinity relationship. Moltmann supports his conclusion with the thought of Karl Rahner who believes that "the immanent Trinity is the economic Trinity." In an attempt to explain what happened in the relationship between the Father and the Son at the cross, Moltmann uses the trinitarian point of view, namely seeing the Triune God first as three distinct persons and then seeing the unity. The weakness of Moltmann's thinking is that it creates the impression that the economic Trinity can change the immanent Trinity and falls into the understanding of the social Trinity. This understanding can also give the impression that the cross event can separate the relationship between the Father and the Son. By using a descriptive analysis method, this paper will show that even in the event of the cross, the relationship between the Father and the Son remains intact and one. First of all, the author describes Moltmann's view and provides some reviews of these views. Then, the author gives a view of the relationship between the Father and the Son with respect to the call of Jesus at the cross. Keywords: Jürgen Moltmann, broken Trinity, intratrinity relation, cross. Abstrak: Seruan Yesus yang mengatakan “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” menarik perhatian Jürgen Moltmann untuk menyelidiki apa yang terjadi dalam relasi Bapa dan Anak pada peristiwa salib. Moltmann melihat bahwa pada momen ini untuk pertama kalinya Yesus berseru memanggil Bapa bukan dengan sebutan Bapa, tetapi dengan sebutan “Allah”. Seruan ini kemudian dilihat sebagai indikasi terjadinya keterpisahan dalam relasi intratritunggal. Moltmann mendukung pernyataannya ini dengan mengadopsi pemikiran Karl Rahner yang meyakini bahwa “the immanent Trinity is the economic Trinity.” Dalam upaya untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam relasi Bapa dan Anak pada peristiwa salib, Moltmann memakai sudut pandang trinitaris, yaitu melihat Allah Tritunggal pertama-tama sebagai tiga pribadi yang berbeda kemudian melihat kesatuannya. Kelemahan dari pemikiran Moltmann adalah menimbulkan kesan the economic Trinity dapat mengubah the immanent Trinity dan jatuh pada pemahaman Trinitas sosial. Pemahaman ini juga dapat menimbulkan kesan bahwa peristiwa salib dapat membuat relasi Bapa dan Anak terpisah. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif, tulisan ini akan memperlihatkan bahwa pada peristiwa salib pun, relasi Bapa dan Anak tetap utuh dan satu. Pertama-tama penulis memaparkan pandangan Moltmann dan memberikan beberapa tinjauan terhadap pandangan tersebut. Kemudian, penulis memberikan pandangan tentang relasi Bapa dan Anak terkait dengan seruan Yesus. Kata-kata Kunci: Jürgen Moltmann, keterpisahan Tritunggal, relasi intratritunggal, salib.
TINJAUAN TERHADAP DASAR-DASAR TEOLOGIS PRAKTIK HIDUP SELIBAT Imanuel Boimau
Jurnal Amanat Agung Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 2 Desember 2020
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v16i2.504

Abstract

Abstract: This article discusses an overview of the theological foundations of the practice of celibacy. The theological grounds that are generally used are free choice for the sake of the Kingdom of Heaven, gifts and the concept that sex is a sin. Regarding these three principles, there is debate about how to understand each of the existing principles and which ones are acceptable and which are not. Through a study of various literatures, from these three theological foundations it is concluded that only free choice for the sake of the kingdom of God and gifts can be used or accepted as the theological basis for the practice of celibacy. While celibacy on the basis of sex is a sin, it is an inaccurate theological basis. With two accepted theological grounds, namely free choice for the sake of God's kingdom and grace, celibacy should be lived as a vocation that is lived willingly (free choice) by someone who is given gifts by God with the aim of living to glorify God. Keywords: Celibacy, Gift, Calling, Sex, Sin. Abstrak: Artikel ini membahas tentang tinjauan terhadap dasar-dasar teologis praktik hidup selibat. Adapun dasar-dasar teologis yang umumnya digunakan adalah pilihan bebas demi Kerajaan Surga, karunia, dan konsep bahwa seks adalah dosa. Terkait ketiga dasar ini, ada perdebatan tentang bagaimana semestinya memahami setiap dasar yang ada dan dasar mana yang dapat diterima dan tidak. Melalui studi terhadap berbagai literatur, dari ketiga dasar teologis ini disimpulkan bahwa hanya pilihan bebas demi Kerajaan Surga dan karunia yang dapat digunakan atau diterima sebagai dasar teologis untuk praktik hidup selibat. Sementara selibat dengan dasar seks adalah dosa merupakan dasar teologis yang kurang tepat. Dengan dua dasar teologis yang diterima, yaitu pilihan bebas demi Kerajaan Surga dan karunia, maka selibat semestinya dijalani sebagai sebuah panggilan yang dihidupi dengan kerelaan hati (pilihan bebas) oleh seseorang yang diberikan karunia oleh Allah dengan tujuan untuk hidup mempermuliakan Allah. Kata-kata kunci: Selibat, Karunia, Panggilan, Seks, Dosa.
FUNGSI MOTIF PENGHAKIMAN ALLAH DI 2 TESALONIKA 2:1-12 MENURUT PENDEKATAN ANALISIS WACANA Alexander Darmawan Limasaputra
Jurnal Amanat Agung Vol 17 No 1 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 1 Juni 2021
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v17i1.505

Abstract

Abstract: This article discusses about the function of the motive of God's judgment found in 2 Thessalonians 2:1-12. The research analysis in this article uses a discourse analysis approach. Discourse analysis is a broad umbrella for all methods to analyze languages not from the level of words or sentences, but at a higher level, namely to analyze the relationships between sentences, paragraphs, broader units and the text as a whole. The aspects of discourse analysis used in this article are discourse markers and information structure analysis. Discourse analysis approach is useful especially because the Epistle of 2 Thessalonians is used by Paul as a mean of communication to the Thessalonians. The analysis results of this article will explain that the function of God's judgment in 2 Thessalonians 2:1-12 is to comfort and strengthen the Thessalonians so that their faith is not shaken and they do not fear the claims that the day of the Lord has come. Keywords: discourse analysis, discourse markers, information structure analysis, God's judgment, 2 Thessalonians. Abstrak: Artikel ini membahas fungsi motif penghakiman Allah yang terdapat di 2 Tesalonika 2:1-12. Analisis penelitian di dalam artikel ini menggunakan pendekatan analisis wacana (AW). AW merupakan payung besar untuk semua metode yang menganalisis bahasa bukan dari tingkat kata atau kalimat, tetapi menganalisis bahasa dengan tingkat yang lebih tinggi daripada kata dan kalimat, yaitu menganalisis hubungan antar kalimat, paragraf, unit yang lebih luas dan teks secara keseluruhan. Aspek AW yang digunakan dalam artikel ini adalah analisis markah wacana dan analisis struktur informasi. Pendekatan AW bermanfaat terkhusus 2 Tesalonika merupakan sebuah surat yang menjadi alat komunikasi Paulus kepada jemaat Tesalonika. Hasil analisis dalam artikel ini akan memperlihatkan bahwa fungsi motif penghakiman Allah di 2 Tesalonika 2:1-12 adalah menghibur dan menguatkan jemaat Tesalonika supaya mereka tidak guncang dan takut dari klaim palsu yang menyatakan hari Tuhan telah tiba. Kata-kata kunci: analisis wacana, markah wacana, analisis struktur informasi, penghakiman Allah, 2 Tesalonika.
Misi Umat Allah Aldi Darmawan Sie
Jurnal Amanat Agung Vol 17 No 1 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 1 Juni 2021
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak ada
PENTINGKAH KEANEKARAGAMAN HAYATI?: Sebuah Landasan Teologis Memperjuangkan Keberlanjutan Biodiversitas Grace Son Nassa
Jurnal Amanat Agung Vol 17 No 2 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 2 Desember 2021
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v17i2.485

Abstract

Abstract: This research aims to construct a theological foundation on biodiversity as a guide used to defend biodiversity sustainability. The method used is literature study that focuses on three things, namely biodiversity crisis and forests as a home for biodiversity (land), the voice of the Bible on biodiversity and its relationship with humans, and the importance of the fight for biodiversity sustainability. The condition of biodiversity is critical. Meanwhile, the Bible emphasizes that biodiversity is a creation that is highly valued and blessed by God. In addition, humans are God's co-creators who should strive for the health of biodiversity sustainability for the sake of the sustainability of all life on earth. As humans are connected and tied to biodiversity, they are a part of biodiversity. Keywords: Biodiversity, creation, sacramental, sustainability. Abstrak: Penelitian ini bertujuan membangun sebuah landasan teologis mengenai biodiversitas dan menjadikannya sebagai petunjuk dalam upaya memperjuangkan keberlanjutan biodiversitas. Metode yang digunakan adalah metode studi literatur yang difokuskan pada tiga hal, yakni krisis biodiversitas dan hutan sebagai rumah biodiversitas (darat), suara Alkitab mengenai biodiversitas dan relasinya dengan manusia, serta pentingnya perjuangan bagi keberlanjutan biodiversitas. Kondisi biodiversitas sedang kritis. Sementara itu, Alkitab menekankan bahwa biodiversitas adalah ciptaan yang sangat dihargai dan diberkati Allah. Selain itu, manusia adalah co-creator Allah yang harusnya memperjuangkan dan mengupayakan keberlanjutan kesehatan biodiversitas demi keberlanjutan kehidupan bersama, dan karena terhubung dan terikat dengan biodiversitas, ia adalah kerabat biodiversitas. Kata-kata kunci: Biodiversitas, ciptaan, sakramental, keberlanjutan.
TINJAUAN ATAS SPIRITUALITAS HKBP DARI SUDUT PANDANG SPIRITUALITAS LUTHER DAN GEREJA-GEREJA LUTHERAN Ezra Yosua Bonifacius Manullang; Binsar Jonathan Pakpahan
Jurnal Amanat Agung Vol 17 No 2 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 2 Desember 2021
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v17i2.498

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk menelusuri pemahaman gereja Huria Kristen Batak Protestan mengenai spiritualitas berdasarkan dokumen teologisnya. Pemahaman spiritualitas HKBP, yang tidak bisa dilepaskan dari ciri kehidupan kristiani akan dianalisis dari pemahaman spiritualitas Martin Luther dan gereja-gereja Lutheran. Karena HKBP adalah anggota dari Lutheran World Federation, pertanyaannya adalah apakah HKBP memiliki pemahaman spiritualitas yang sama dengan pemahaman Martin Luther dan gereja Lutheran? Melalui analisis dokumen teologis dan historis, makalah ini menemukan bahwa pemahaman spiritualitas HKBP tidak sepenuhnya mengadopsi pemahaman spiritualitas Martin Luther atau gereja-gereja Lutheran. Salah satu penyebabnya adalah kedatangan para zendeling yang berasal dari berbagai latar belakang teologis, yang membuat HKBP bahkan memiliki ciri spiritualitas yang pietis.
KEWARGAAN DI SURGA: Tuntutan Meneladani Kristus Firman Panjaitan
Jurnal Amanat Agung Vol 17 No 2 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 2 Desember 2021
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v17i2.515

Abstract

Abstract: Being a Christian is a noble calling, especially when you realize that Christians are called to imitate the way of life of Christ and at the same time be an example of life for the world. Departing from the problem above, this study aims to highlight the exemplary model that every Christian needs to develop based on the teachings of Paul in Philippians 3:17-21. The research will use a qualitative method with a historical critical approach, especially by examining selected texts. The results of the study reveal that the exemplary life that must be developed must adhere to a morality that places oneself under Christ. This example is a responsibility that must be carried out by every follower of Christ as a tangible manifestation of their existence as citizens of the Kingdom of Heaven. Keywords: Exemplary, Philippians 3:17-21, Christian, Citizen of the Kingdom of Heaven. Abstrak: Menjadi orang Kristen merupakan panggilan mulia, terkhusus ketika menyadari bahwa orang Kristen dipanggil untuk meneladani cara hidup Kristus dan sekaligus menjadi teladan kehidupan bagi dunia. Berangkat dari masalah di atas, maka penelitian ini hendak menyoroti mengenai model keteladanan yang perlu dikembangkan oleh setiap orang Kristen dengan berpedoman pada ajaran Paulus dalam Filipi 3:17-21. Penelitian akan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kritik historis, khususnya dengan penelaahan terhadap teks-teks terpilih. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keteladanan hidup yang harus dikembangkan harus berpegang pada moralitas yang menempatkan diri di bawah Kristus. Keteladanan ini merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh setiap pengikut Kristus sebagai wujud nyata dari keberadaan mereka sebagai warga Kerajaan Surga. Kata-kata kunci: Keteladanan, Filipi 3:17-21, Kristen, Warga Kerajaan Surga.
The SPIRIT AND LAMENT Minggus Minarto Pranoto
Jurnal Amanat Agung Vol 17 No 2 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 2 Desember 2021
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v17i2.516

Abstract

Abstract: This article aims to explain about lament from the perspective of psychology and pneumatology. Psychology helps to explain psychic state of one who laments because of experiencing grief and bereavement; and pneumatology understands lament theologically by seeing and knowing God, self, and the world through the experience with the Holy Spirit in the believers. The two perspectives above are synthesized to understand the lament in the context of the life of believer. The method used is an interdisciplinary study between psychology and pneumatology by looking for connecting points that might fill and complement each other, especially in explaining the lament of believer. The thesis of this article is that the act of lament is a self-actualization of believer which can be explained from a psychology-pneumatology perspective and in lament the Holy Spirit transforms the life of believer. Lamentation can lead to an attitude of trust in God and the courage to continue with life again or, in psychologically term, a "restoration-oriented” life. Keywords: Spirit/Holy Spirit, lament, psychology, pneumatology, transformation. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan perihal ratapan dari perspektif psikologi dan pneumatologi. Psikologi membantu untuk menjelaskan keadaan psikis orang yang meratap karena sedang mengalami kedukaan (grief) dan kehilangan (bereavement); dan pneumatologi memahami ratapan secara teologis dengan cara melihat dan mengenal Allah, diri, dan dunia melalui pengalaman dengan Roh Kudus. Kedua perspektif di atas disintesiskan untuk memahami ratapan dalam konteks kehidupan orang beriman. Metode yang dipakai adalah studi interdisipliner antara psikologi dan pneumatologi melalui mencari poin-poin penghubung yang mungkin saling mengisi dan melengkapi terutama dalam menjelaskan ratapan orang-orang beriman. Pernyataan tesis tulisan ini adalah tindakan ratapan merupakan sikap mengaktualkan diri dari orang beriman yang dapat dijelaskan dari perspektif psikologi-pneumatologi dan di dalam ratapan Roh Kudus mentransformasi hidup orang beriman. Ratapan dapat membawa kepada sikap percaya kepada Allah yang semakin mendalam dan berani melanjutkan kehidupan kembali atau istilahnya secara psikologi memiliki “restoration-oriented.” Kata-kata kunci: Roh/Roh Kudus, ratapan, psikologi, pneumatologi, transformasi.

Filter by Year

2005 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 21 No 2 (2025): Jurnal Amanat Agung Vol. 21 No. 2 Desember 2025 Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Amanat Agung Vol. 21 No. 2 Desember 2025 Vol 21 No 1 (2025): Jurnal Amanat Agung Vol. 21 No. 1 Juni 2025 Vol 20 No 2 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 2 Desember 2024 Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 1 Juni 2024 Vol 19 No 2 (2023): Jurnal Amanat Agung Vo. 19 No. 2 Desember 2023 Vol 19 No 1 (2023): Jurnal Amanat Agung Vol 19 No. 1 Juni 2023 Vol 18 No 2 (2022): Jurnal Amanat Agung Vol 18 no. 2 Desember 2022 Vol 18 No 1 (2022): Jurnal Amanat Agung Vol 18 no. 1 Juni 2022 Vol 17 No 2 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 2 Desember 2021 Vol 17 No 1 (2021): Jurnal Amanat Agung Vol 17 no. 1 Juni 2021 Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 2 Desember 2020 Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 1 Juni 2020 Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 2 Desember 2019 Vol 15 No 1 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 1 Juni 2019 Vol 14 No 2 (2018): Jurnal Amanat Agung Vol. 14 No. 2 Tahun 2018 Vol 14 No 1 (2018): Jurnal Amanat Agung Vol. 14 No. 1 Tahun 2018 Vol 12 No 2 (2016): Jurnal Amanat Agung Vol. 12 No. 2 Tahun 2016 Vol 12 No 1 (2016): Jurnal Amanat Agung Vol. 12 No. 1 Tahun 2016 Vol 11 No 2 (2015): Jurnal Amanat Agung Vol. 11 No. 2 Tahun 2015 Vol 11 No 1 (2015): Jurnal Amanat Agung Vol. 11 No. 1 Tahun 2015 Vol 10 No 2 (2014): Jurnal Amanat Agung Vol. 10 No. 2 Tahun 2014 Vol 10 No 1 (2014): Jurnal Amanat Agung Vol. 10 No. 1 Tahun 2014 Vol 9 No 2 (2013): Jurnal Amanat Agung Vol. 9 No. 2 Tahun 2013 Vol 9 No 1 (2013): Jurnal Amanat Agung Vol. 9 No. 1 Tahun 2013 Vol 8 No 2 (2012): Jurnal Amanat Agung Vol. 8 No. 2 Tahun 2012 Vol 8 No 1 (2012): Jurnal Amanat Agung Vol. 8 No. 1 Tahun 2012 Vol 7 No 2 (2011): Jurnal Amanat Agung Vol. 7 No. 2 Tahun 2011 Vol 7 No 1 (2011): Jurnal Amanat Agung Vol. 7 No. 1 Tahun 2011 Vol 6 No 2 (2010): Jurnal Amanat Agung Vol. 6 No. 2 Tahun 2010 Vol 6 No 1 (2010): Jurnal Amanat Agung Vol. 6 No. 1 Tahun 2010 Vol 5 No 2 (2009): Jurnal Amanat Agung Vol. 5 No. 2 Tahun 2009 Vol 5 No 1 (2009): Jurnal Amanat Agung Vol. 5 No. 1 Tahun 2009 Vol 4 No 2 (2008): Jurnal Amanat Agung Vol. 4 No. 2 Tahun 2008 Vol 4 No 1 (2008): Jurnal Amanat Agung Vol. 4 No. 1 Tahun 2008 Vol 3 No 2 (2007): Jurnal Amanat Agung Vol. 3 No. 2 Tahun 2007 Vol 3 No 1 (2007): Jurnal Amanat Agung Vol. 3 No. 1 Tahun 2007 Vol 2 No 2 (2006): Jurnal Amanat Agung Vol. 2 No. 2 Tahun 2006 Vol 2 No 1 (2006): Jurnal Amanat Agung Vol. 2 No. 1 Tahun 2006 Vol 1 No 1 (2005): Jurnal Amanat Agung Vol. 1 No. 1 Tahun 2005 More Issue