cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 535 Documents
Pengaruh Pendidikan Formal, Pelatihan, dan Intensitas Pertemuan terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian Oos M Anwas
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i1.107

Abstract

This research aimed to find out: 1) the level of formal education, training intensity, meeting intensity, and competence of extention education agent; and 2) the influence of the level of formal education, training intensity, meeting intensity, and competence of extention education agent to the enhancement of competence of the extention education agent. The research used survey method applied to public service extention education agents in Karawang District and Garut District, West Java. Descriptive and multiple regression analysis were used to proceed the data. The result of descriptive statistic analysis showed that the level of formal education was low, the intensity of meeting among the extention education agents mostly was high, the intensity of attended training was very low, and the competence of extention education agent was also low. The analysis of multiple regression showed that the intensity of meeting among the extention education agents and the intensity of training influenced significantly toward the competency of extention education agents, while the level of in-service formal education followed by public service extension education agents was not significant enough to influence their competency. For that reason the intensity of meeting and training should be enhanced. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi: 1) tingkat pendidikan formal, intensitas pelatihan, intensitas pertemuan antarpenyuluh, dan kompetensi penyuluh pertanian; dan 2) pengaruh tingkat pendidikan formal, intensitas pelatihan, dan intensitas pertemuan antarpenyuluh terhadap peningkatan kompetensi penyuluh pertanian. Penelitian menggunakan metode survei terhadap penyuluh pertanian Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Pengolahan data menggunakan analisis deskriftip dan regresi berganda. Hasil analisis dekriptif menunjukkan bahwa tingkat pendidikan formal rendah, intensitas pertemuan antarpenyuluh tinggi, intensitas pelatihan masih sangat rendah, dan kompetensi penyuluh pertanian rendah. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa intensitas pertemuan antarpenyuluh dan intensitas pelatihan berpengaruh signifikan terhadap kompetensi penyuluh pertanian, sedangkan tingkat pendidikan formal yang diikuti penyuluh setelah menjadi penyuluh PNS tidak cukup signifikan berpengaruh dalam membentuk kompetensi penyuluh pertanian. Oleh karena itu, intensitas pertemuan antarpenyuluh dan intensitas pelatihan perlu ditingkatkan. 
Konsep dan Aplikasi IPTEK Nuklir di Sekolah Menengah Atas Mariati --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i1.108

Abstract

This study aimed to examine the curriculum at the senior secondary school related to nuclear science and technology in content standards, textbooks, teaching methods, and teacher understanding. Locations determined by purposive sampling in six provinces namely Yogyakarta, East Java, West Nusa Tenggara, East Kalimantan, Riau Islands, and South Sulawesi. The respondent are a teachers of Biology, Physics, and Chemistry respectively 18 people in each province. The research method is a survey and focus group discussion. The study shows that nuclear science content standards are adequate, but the application of nuclear science and technology of today need to be added. Textbooks used is more theory and less contextual of life. Nuclear science and technology learning in general lectures, discussions and giving assignments. Teachers’ understanding of the concepts and applications of nuclear science and technology is still low. The study recommends the present applications of nuclear science and technology need to be added to the content standards, schools need to socialize to the understanding of nuclear science and technology is better, should be made in the book supplements or media-based learning model using information and communication technology to support learning of nuclear science and technology for effective, efficient, and fun learning.ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk mengkaji kurikulum Sekolah Menengah Atas tentang ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir pada standar isi, buku pelajaran, metode pembelajaran, dan pemahaman guru. Sampling kajian ditentukan secara purposif di enam provinsi, yaitu: Daerah Istimewa Yogyakarta; Jawa Timur; Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan. Responden terdiri atas guru Biologi, Fisika, dan Kimia masing-masing 18 orang setiap  provinsi.  Studi  dilakukan  melalui  survei  dan  focus  group  discussion. Hasil  studi menunjukkan bahwa iptek nuklir pada Standar Isi cukup memadai, namun dalam aplikasi sangat kurang. Ilmu  pengetahuan dan teknologi  nuklir dalam buku  pelajaran lebih banyak  teori dan kurang  kontekstual. Pembelajaran iptek  nuklir  pada  umumnya  dilakukan  dengan  metode ceramah, diskusi, dan penugasan. Pemahaman guru tentang konsep dan aplikasi iptek nuklir masih rendah. Studi merekomendasikan aplikasi iptek nuklir masa kini ditambahkan ke dalam Standar Isi, sekolah perlu melakukan sosialisasi agar pemahaman iptek nuklir lebih baik, begitu juga  perlu menambah  buku suplemen  atau  model pembelajaran  berbasis teknologi  informasi dan komunikasi agar pembelajaran iptek nuklir lebih efektif, efisien, dan menyenangkan.
Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Ekonomi Kreatif, dan Kewirausahaan dalam Belajar Aktif di SMK Djuharis Rasul
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i1.109

Abstract

The aim of this study is to identify and implementation of the model policy regarding the head-masters’ understanding of the government’s policy on the implementations of character, creative economic, and enterpreneurship educations as well as active learning at Vocational High Schools. The study was conducted in 20 provinces using multistage sampling. The result of the study shows that the head-masters had already understood the government policy on the implementations of character, creative economic and entrepreneurship education, as well as active learning at Vocational High Schools with a great differences of their understanding by its average is 89,27%. However, in terms of the succes of its implementation, which cover character education, enterpreneurship education and creative economic education, its average is 90,2 ,76%, and 81,7% respectively.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemahaman kepala sekolah terhadap kebijakan pendidikan karakter, kewirausahaan, dan bentuk-bentuk implementasi kebijakannya dalam belajar aktif di sekolah. Penelitian diselenggarakan di 20 provinsi yang ditetapkan secara sampel multistage sampling.  Hasil penelitian menunjukkan  bahwa  kepala sekolah  telah memahami  kebijakan  pemerintah tentang  pelaksanaan pendidikan  karakter, pendidikan kewirausahaan, dan ekonomi kreatif dalam pembelajaran aktif di sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan tingkat pemahaman yang bervariasi, yaitu rata-rata 89,27%. Hal ini didukung oleh keberhasilan dalam implementasnya, yaitu pendidikan karakter rata-rata 90,2%, pendidikan kewirausahaan rata-rata 76%; dan pendidikan ekonomi kreatif rata-rata 81,7%.
Kontribusi Kemampuan Guru Melaksanakan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Persamaan Kuadrat pada Siswa SMA Negeri 1 Pangkal Pinang Haholongan Simanjuntak
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i1.110

Abstract

This research aims are to determine: 1) the contribution of teacher competencies; and 2) trends in students learning outcomes and students perception on learning quadratic equations. The population in this research comprises of all students in class X with a stratified sampling of 61 people taken randomly. The study uses two kinds of instruments, which consist of an instrument to collect data of learning outcomes in quadratic equation (Y) and an instrument to collect data of teacher education competencies (X) that are captured with a Likert scale of 30 questions. The result of the research concludes: 1) teachers education competencies contribute 49% to the quadratic equation learning outcome of students at SMA Negeri 1 Pangkalpinang; 2) students learning outcomes in quadratic equation are classified as adequate and good; 3) students evaluation on teachers ability to carry out the education process is relatively good. The research implicates that it is necessary to have a good coordination between the Education Ministry, LPMP and P4TK to improve mathematic teachers competencies by conducting courses/ seminars/workshops on pedagogical skills, mastery of teaching materials and instructional media, as well as the ability to select and use the right teaching methods. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) kontribusi kemampuan guru, dan 2) kecenderungan hasil belajar siswa SMA Negeri 1 Pangkalpinang. Populasi penelitian meliputi seluruh peserta didik kelas X yang terdiri atas 4 kelas dan diambil secara acak dua kelas sebagai sampel berjumlah 61 siswa. Studi ini menggunakan dua jenis instrumen, yaitu instrumen untuk menjaring data hasil belajar matematika persamaan kuadrat (Y) dan instrumen untuk menjaring data kemampuan guru melaksanakan pembelajaran (X). Data kemampuan guru (X) dijaring dengan skala Likert yang instrumennya disusun sesuai dengan kisi-kisi terdiri atas 30 soal. Data hasil belajar matematika siswa (Y) dijaring dengan tes pilihan ganda. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat kontribusi sumbangan kemampuan sebesar 49% dalam melaksanakan pembelajaran terhadap hasil belajar persamaan kuadrat pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Pangkalpinang. Hasil uji kecenderungan variabel X dan Y menunjukkan bahwa kemampuan guru melaksanakan pembelajaran ditinjau dari persepsi siswa tergolong cukup baik dan hasil belajar matematika tergolong dalam kategori cukup dan baik. 
Pengembangan Model Pelatihan Guru Sekolah Menengah Kejuruan Kelompok Seni dan Budaya Edhy Susatya
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i1.111

Abstract

This research and development aimed to find out an effective training model to be applied in vocational teacher training of Vocational High School of Arts and Culture. The method used in the research was Research and Development (R&D). Its its design used was the postest only with comparison group. The data was analyzed using t-test, statistic analysis, and descriptive analysis. The variable influencing the success of training implementation are the quality of: 1) sources; 2) program; 3) academic facilities; 4) supporting facilities; and 5) services. This research and development results an open design training model. An open design training model emphasizes on increasing creativity, developing expression, sharpening sensitivity, and developing innovation. The final conclusion of the research is that the use of open design training model is proven to increase the quality of competence mastery, the quality of works, and the productivity of the participants. ABSTRAK Tujuan penelitian dan pengembangan ini yaitu untuk menemukan model pelatihan yang efektif dan dapat diterapkan pada pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (diklat) guru produktif Sekolah Menengah Kejuruan kelompok Seni dan Budaya. Metode penelitian menggunakan Research and Development (R&D). Desain penelitian menerapkan model “postest only with comparison group design”. Teknik analisis data menggunakan analisis uji beda, analisis statistik dan analisis deskriptif. Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan pelatihan, yaitu kualitas: 1) nara sumber; 2) program; 3) fasilitas akademik; 4) fasilitas penunjang; dan 5) pelayanan. Penelitian ini menghasilkan model pelatihan open design. Model pelatihan open design menekankan pada peningkatan kreativitas, menumbuhkan ekspresi, menajamkan sensitivitas, dan mengembangkan inovasi. Simpulan penelitian ini yaitu dengan menggunakan model pelatihan open design terbukti dapat meningkatkan kualitas penguasaan kompetensi, kualitas karya, dan produktivitas peserta diklat. 
Ketercapaian Pendidikan Dasar dan Menengah Berdasarkan Misi Pendidikan 5K: Kasus Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tahun 2010/2011 Ida Kintamani DH
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i1.112

Abstract

The purpose of this analysis is to analyse the results of educational indicators and the extent of achievement of primary and secondary education in Nabire District, Papua Province based on education mission “5K”. These are availability; affordability; quality; equivalency; and obtain educational services. The results show that the mission availability is achieved by 90.73 as a main category; mission affordability is achieved by 89.94 as a medium category; mission quality is achieved by 64.95 as a less category; mission equivalency is achieved by 90,51 as a main category; and obtain educational services is achieved by 98,13 as a perfect category. However, when viewed according to the level of education of the primary, junior, and senior secondary schools are achieved of 88.61, 86.28, and 85.25 respectively as medium category. Thus, it can be said Nabire District is achieved on basic and secondary education as a medium categories. However, the necessary improvements are in mission quality in primary, junior and senior secondary school due to only achieved 64.95 as a less category. Primary school needs to be improved in teacher quality, good classrooms, and library, junior secondary school in teacher qualities, graduate rates, libraries, and senior secondary school in graduate rates, good classrooms, computer rooms, and laboratories. ABSTRAK Tujuan analisis ini, yaitu untuk mengkaji hasil indikator pendidikan dan sejauh mana ketercapaian pendidikan dasar dan menengah di Kabupaten Nabire, Papua berdasarkan misi pendidikan, yaitu: ketersediaan: keterjangkauan; kualitas; kesetaraan; dan kepastian memperoleh layanan pendidikan (5K). Hasilnya menunjukkan bahwa misi ketersediaan mencapai sebesar 90,73, termasuk kategori utama; misi keterjangkauan mencapai sebesar 89,94, termasuk kategori madya; misi kualitas mencapai sebesar 64,95 termasuk kategori kurang, misi kesetaraan mencapai sebesar 90,51 termasuk kategori utama; sedangkan misi kepastian memperoleh layanan pendidikan mencapai sebesar 98,13, termasuk kategori paripurna. Namun, bila dilihat menurut satuan pendidikan SD, SMP, dan SM tercapai masing-masing sebesar 88,61,86,28, dan 85,25 termasuk kategori madya. Dapat dikatakan bahwa ketercapaian dikdasmen Kabupaten Nabire mencapai 86,85, termasuk kategori madya. Sekalipun demikian, perlu dilakukan pembenahan pada misi kualitas, karena hasil SD, SMP, dan SM sebesar 64,95 termasuk kurang. Untuk SD, perlu ditingkatkan persentase guru yang layak, ruang kelas baik, dan ketersediaan perpustakaan. Untuk SMP, perlu ditingkatkan persentase guru layak mengajar, angka lulusan, persentase ketersediaan perpustakaan, ruang komputer, dan laboratorium, sedangkan untuk SMA perlu ditingkatkan angka lulusan, persentase ketersediaan ruang kelas baik, ruang komputer, dan laboratorium.
Analisis Standar Isi Bahasa Inggris SMP dan SMA Mutiara O Panjaitan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i1.113

Abstract

The purpose of this paper is to analyze: 1) The efficiency of formulation of competence standards and basic competence; 2) Readability of competence standards and basic competence; 3) Clarity of Scope of material; 4) The degree of difficulty of competence standards and basic competence, 5) The use of linguistic terms on competence standards and basic competence, and 6) Gradation of each genre. The analysis was done with reference to the theory of language presented in this paper which is also used as the basis for the development of content standards. The results showed that: First, separation of receptive and productive competence caused a lot of repetition in formulating competence standards and basic competence; Second, competence standards and basic competence grouping according to language skills (listening, speaking, reading, writing) tend to be understood by teachers as a separate four language skills; Third, linguistic competence is mentioned with the words “accuracy, acceptance and fluency” without specification that need to be covered so that raises multiple interpretations; Fourth, The difficulty level of competence is above the ability of average junior high school students; Fifth, the formulation of competence standards and basic competence use so many linguistic terms thattend to be theoretical that teachers difficult to interpret it; Sixth, there is no radation of eachgenre. ABSTRAK Tujuan analisis ini yaitu untuk menganalisis: 1) Efisiensi rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar; 2) Keterbacaan standar kompetensi dan kompetensi dasar; 3) Kejelasan ruang lingkup materi; 4) Tingkat kesulitan standar kompetensi dan kompetensi dasar; 5) Penggunaan istilah linguistik pada rumusan kompetensi; dan 6) Gradasi masing-masing genre. Analisis dilakukan dengan mengacu pada teori bahasa yang dipaparkan yang digunakan sebagai landasan pengembangan standar isi tersebut. Hasil analisis sebagai berikut: Pertama, pemisahan tindakan reseptif dan produktif menyebabkan banyak pengulangan dalam merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar; Kedua, pengelompokan standar kompetensi dan kompetensi dasar menurut keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis) cenderung dipahami guru sebagai empat keterampilan berbahasa yang terpisah; Ketiga, kompetensi linguistik disebutkan dengan kata-kata “keakuratan, keberterimaan, dan kelancaran” tanpa spesifikasi lingkup materi yang perlu dicakup sehingga menimbulkan multitafsir; Keempat, tingkat kesulitan kompetensi di atas kemampuan rata-rata peserta didik Sekolah Menengah Pertama; Kelima, rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar banyak menggunakan istilah linguistik cenderung teoretis sehingga guru sulit menjabarkannya; Keenam, tidak terlihat gradasi kesulitan masing-masing genre. 
Studi Kasus Layanan Pendidikan Nonformal Suku Baduy Fransisca Nur’aini Krisna
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 20 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v20i1.121

Abstract

This research tries to identify: 1) the type of education services received by theBaduy people, 2) all stakeholders who participate in providing education for Baduy people, 3) problems encountered by the stakeholders and efforts made to overcome these problems. Data was collected through observation and in-depth interview. This study shows that: 1) education services provided for Baduy people consist of: (a) functional literacy program and (b) Package A program for those who has accomplished functional literacy program; 2) Stakeholders who participate in providing education for Baduy people consist of a group of people from Baduy tribe itself, Dinas Pendidikan Lebak region, PKBM Dian Puspita, and WAMBY; 3) Problems encountered by the stakeholders comprise of (a) limited funding, (b) low attendance rates, (c) rejection by the elders, and (d) learning schedules sometimes clash with traditional activities; and 4) Efforts made to overcome these problems, include (a) cross-subsidy by utilizing facilitiesfrom SDN 2 Ciboleger (Public Elementary School) and SMPN 4 Bojong Menteng (Public Junior Secondary School), (b) set up the learning process become more interesting for Baduy people by including life-skills topics in the learning subject, (c) approached the elders and explained the benefits of education for Baduy people, and (d) adjusted the learning schedule with the traditional activities agenda.ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk mengidentifikasi: 1) bentuk layanan pendidikan masyarakat Baduy; 2) pihak yang berpartisipasi dalam pemberian layanan pendidikan bagi masyarakat Baduy; dan 3) permasalahan yang ditemui serta upaya yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara mendalam. Hasil studi menunjukkan bahwa: 1) pemberian layanan pendidikan masyarakat Baduy meliputi: (a) program keaksaraan fungsional; dan (c) program kesetaraan Paket A bagi masyarakat Baduy yang telah menyelesaikan program keaksaraan fungsional; 2) Pihak yang berkontribusi dalam pelayanan pendidikan, yaitu: (a) sekelompok orang secara personal dari penduduk setempat, (b) dinas pendidikan Kabupaten Lebak; (c) PKBM Dian Puspita dan WAMBY; serta Ditjen PAUDNI; 3) Masalah yang dihadapi, antara lain: (a) keterbatasan dana untuk penyelenggaraan berbagai jenis pendidikan nonformal; (b) tingkat kehadiran warga belajar yang masih rendah; (c) penolakan kehadiran pendidikan nonformal oleh tetua adat; dan (d) pengaturan jadwal belajar sering tidak tepat, karena adanya waktu-waktu adat; 4) Upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah, antara lain: (a) melakukan subsidi silang, yakni dengan memanfaatkan fasilitas pembelajaran yang terdapat di SDN 2 Ciboleger dan SMPN 4 Bojong Menteng untuk kegiatan pembelajaran masyarakat Baduy; (b) mengemas pembelajaran menjadi lebih menarik minat warga belajar dan berorientasi kecakapan hidup; (c) pendekatan kepada tetua adat dengan menjelaskan kebaikan dan manfaat dari pendidikan untuk masyarakat Baduy; dan (d) menyesuaikan jadwal pembelajaran dengan jadwal kegiatan adat.
Upaya Meningkatkan Mutu Belajar Chasis Otomotif Berbasis Multimedia Kelas XI Teknik Kendaraan Ringan (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Cikarang Barat) Sri Sarjana
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 20 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v20i1.123

Abstract

This research was conducted to the quality improvement of automotive chassis lesson by utilizing multimedia in learning in the classroom. This research was conducted at SMK Negeri 1 West Cikarang In Light Vehicle Engineering Program. The method used in this study is classroom action research. The sample was selected 94 students using a random sampling technique. The results of this research shows that: the observation of the 1st cycle can know the total value of 2742 or an average value of 1.9 (scale 4) with a percentage of 48.6%, the 2nd cycle of observation was found that the total value of 3509 or the average value of 2,5 with the percentage of 62.2%, and the 3rd cycle of observation old be determined a total value of 4612 or the average value of 3.3 with the percentage of 82.5% . The conclusions in this study is that the theory of automotive chassis-based multimedia is able to improve the quality of learning. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan mutu belajar siswa dalam pembelajaran chasis otomotif dengan memanfaatkan multimedia dalam pembelajaran di kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Cikarang Barat pada Program Studi Teknik Kendaraan Ringan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Sampel penelitian dipilih 94 siswa menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengamatan siklus ke-1 dapat diketahui nilai total pengamatan sebesar 2742 atau nilai rata-rata 1,9 (skala 4) dengan persentase 48,6% pada pengamatan siklus ke-2 dapat diketahui nilai total pengamatan sebesar 3509 atau rata-rata nilai 2,5 dengan persentase 62,2%, dan pada pengamatan siklus ke-3 dapat diketahui nilai total pengamatan sebesar 4612 atau nilai rata-rata 3,3 dengan persentase 82,5%. Atas dasar hasil tersebut disimpulkan bahwa pembelajaran chasis otomotif yang berbasis multimedia dapat meningkatkan kualitas belajar siswa.
Implementasi Pendekatan Belajar Aktif di Sekolah Menengah Atas Mutiara O. Panjaitan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 20 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v20i1.124

Abstract

The aim of this study is to identify the level of implementation of active learning approach in curriculum documents as well as teaching-learning process in senior secondary schools in Indonesia. The study was conducted in 2012 in 99 districs of 33 provinces using multistage sampling. The result showed that almost all the schools (92,8%) already incorporate active learning approach into the curriculum document, ie the syllabus and lesson plan. However, in terms of implementation in teaching-learning process active learning approach has not been much done. It is known from the high levels of use of written test. Almost all (93,8%) teachers often use written tests to assess their students. Factors become obstacles in implementing active learning, such as inadequate availability of facilities, lack of teacher training, lack of learning resources, not enough time allocation, difficult to evaluate learning, inadequate teacher skills, low motivation of teacher, and the number of students is too many. ABSTRAKTujuan penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi tingkat implementasi pendekatan belajar aktif dalam dokumen kurikulum dan proses belajar mengajar di SMA. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2012 di 99 kabupaten/kota dari 33 provinsi dengan menggunakan multistage sampling. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa hampir semua (92,8%) sekolah telah memuat pendekatan belajar aktif dalam dokumen kurikulum, yakni pada silabus dan RPP. Namun, dalam proses belajar mengajar pendekatan belajar aktif belum banyak dilaksanakan. Hal ini dapat diketahui dari tingginya tingkat penggunaan tes tertulis dalam penilaian. Hampir semua (93,8%) guru sering menggunakan tes tertulis untuk menilai siswa. Faktor-faktor yang menjadi kendala dalam mengimplementasikan belajar aktif, antara lain ketersediaan sarana yang tidak memadai, minimnya pelatihan terhadap guru, ketersediaan sumber belajar yang tidak mencukupi, ketersediaan waktu tidak mencukupi, jumlah siswa terlalu banyak, motivasi guru rendah, sulit melaksanakn evaluasi pembelajaran, dan kemampuan guru kurang memadai.