cover
Contact Name
Harvina Sawitri
Contact Email
averrous@unimal.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
averrous@unimal.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh Jl. Meunasah Uteunkot Cunda Lhokseumawe, Indonesia
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh
ISSN : 24775231     EISSN : 25028715     DOI : https://doi.org/10.29103/averrous
Core Subject : Health,
Averrous: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh (Averrous: Malikussaleh Journal of Medicine and Health - Averrous: MJMH*) is a peer-reviewed and open-access journal. Publishes by the Faculty of Medicine Universitas Malikussaleh in collaboration with the Institute for Research and Community Service (LPPM) Universitas Malikussaleh, which focuses on disseminating research findings that cover a wide range of subjects in medicine and health from basic medical and health sciences, applied sciences, and public health research. Original research papers, case studies, reviewed-articles are acceptable. Averrous: MJMH journals are published twice a year May and November. All research articles published in website Averrous: MJMH is free-downloaded according to the open access policy.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)" : 10 Documents clear
ASMA BRONKIAL EKSASERBASI RINGAN-SEDANG PADA PASIEN PEREMPUAN USIA 46 TAHUN Puspa Rosfadilla; Ayu Permata Sari
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.7115

Abstract

Asma bronkial adalah gangguan inflamasi kronik pada saluran nafas. Asma bertanggung jawab atas 21,6 juta DALYs (Disability-Adjusted Life Year) pada tahun 2019, yang merupakan 20,8% dari total DALYs dari penyakit pernapasan kronis. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2017, asma merupakan penyebab kematian (mortalitas) keempat di Indonesia atau sebesar 5,6%. Laporan kasus ini didapatkan dari data primer melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pasien mengeluh sesak nafas ketika malam hari dengan nafas berbunyi. Sesak bersifat terus-menerus dan memberat. Sebelumnya sesak sudah pernah muncul ketika terhirup asap dan cuaca dingin. Pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan nilai kadar eosinofil. Pada pasien ini dilakukan penanganan berupa penatalaksanaan non farmakologi dan farmakologi berupa nebulisasi kortikosteroid dengan long acting bronchodilator (LABA).
HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KELULUSAN COMPUTER BASED TEST UJI KOMPETENSI MAHASIWA PROGRAM PROFESI DOKTER Jihan Nabila; Mulyati Sri Rahayu; Zubir Zubir
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.6816

Abstract

Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) merupakan syarat untuk menyelesaikan program profesi dokter dan mendapatkan sertifikat profesi. Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) di Indonesia memiliki angka ketidaklulusan yang cukup tinggi. Motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara motivasi  belajar terhadap kelulusan Computer Based Test UKMPPD mahasiswa Fakultas Kedokteran di provinsi Aceh. Jenis penelitian ini menggunakan rancangan  cross sectional. Responden adalah  115 mahasiswa dari  fakultas kedokteran di Aceh yang mengikuti ujian  CBT periode februari 2021. Penilaian motivasi belajar menggunakan  MSLQ (Motivated Strategies for Learning Quesstionnaire) dan nilai kelulusan CBT periode februari 2021. Hasil penelitian menunjukkan  motivasi belajar kategori tinggi sebanyak 55,7% dan kelulusan CBT sebanyak 58,3%. uji Chi Square didapatkan hubungan antara motivasi terhadap kelulusan ujian CBT UKMPPD mahasiwa kedokteran (p value =0,000). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan antara motivasi terhadap kelulusan ujian CBT UKMPPD mahasiwa kedokteranKata kunci : UKMPPD, kelulusan, motivasi belajar
ASBESTOS, RADON DAN POLUSI UDARA SEBAGAI FAKTOR RESIKO KANKER PARU PADA PEREMPUAN BUKAN PEROKOK Indra Buana; Dwi Agustian Harahap
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.7088

Abstract

Kanker paru merupakan suatu keganasan pada paru yang disebabkan oleh perubahan genetika pada sel epitel saluran nafas, sehingga terjadi proliferasi sel yang tidak terkendali. Keganasan ini dapat berasal dari organ paru itu sendiri (primer) maupun yang berasal dari luar paru (metastasis). Menurut data WHO menyebutkan bahwa Penyebab paling umum kematian akibat kanker pada tahun 2020 adalah kanker paru dengan jumlah sebanyak 1,80 juta kematian. Risiko terkena kanker  paru meningkat seiring bertambahnya usia. Lebih dari setengah kasus kanker paru yang baru didiagnosis terjadi pada orang berusia 60 tahun atau lebih. Menurut perkiraan American Cancer Society untuk kanker paru di Amerika Serikat pada tahun 2022 adalah sekitar 236.740 kasus baru kanker paru dimana 117.910 pada pria dan 118.830 pada perempuan dan sekitar 130.180 kematian akibat kanker paru dimana 68.820 pada pria dan 61.360 pada perempuan. Beberapa faktor resiko yang dapat menjadi penyebab kanker paru pada orang yang tidak merokok diantaranya asbestos, radon dan polusi udara. Asbes atau asbestos merupakan salah satu bahan tambang yang terdiri dari Magnesium-Calsium-Silikat yang berbentuk serat yang bersifat karsinogenik bagi manusia. Radon adalah gas radioaktif yang tidak berwarna, tidak berbau yang terbentuk secara alami dari penguraian unsur-unsur radioaktif. Polusi udara adalah kontaminasi lingkungan dalam atau luar ruangan oleh agen kimia, fisik, atau biologis apa pun yang mengubah karakteristik alami atmosfer
HUBUNGAN ANEMIA PADA IBU HAMIL TERHADAP KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI 2 RUMAH SAKIT SWASTA KOTA LHOKSEUMAWE TAHUN 2020 Muhammad Iqbal Maulana; Mauliza Mauliza; Mardiati Mardiati; Noviana Zara; Teuku Yudhi Iqbal
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.7172

Abstract

Low birth weight (LBW) is a infant whose weight is less than 2500 grams. Internationally, LBW is still seen as a health problem that is quite prominent because it has a high enough risk to experience death in the neonatal period, which is 40 times greater than babies born with normal weight. Data from the WHO in 2018, the prevalence of babies with LBW in the world is 15.5% or about 20 million babies born every year, of which about 96.5% of them occur in developing countries. Based on the results of Riskesdas in 2018, one of the most common causes of infant mortality in Indonesia is LBW, which is 34%. The birth rate of babies with LBW in Indonesia reaches 350,000 every year where the prevalence of LBW in Indonesia is 6.2%. One of the causes of LBW is the poor nutritional status of the mother, one of which is anemia. The purpose of this study was to determine the relationship between anemia in pregnant women and the incidence of low birth weight (LBW) in 2 private hospitals in Lhokseumawe. This research is an analytic observational study with a cross sectional study approach. The sampling technique used is total sampling with a total of 154 respondents. The data used is secondary data derived from medical records. Data analysis was performed using Chi-square’s test. The results showed is no relationship between maternal anemia and the incidence of LBW.
GIANT KONDILOMA AKUMINATA ANAL PADA SEORANG PRIA HOMOSEKSUAL YANG MENDERITA HIV Wizar Putri Mellaratna; Kristina Nadeak; Yuziani Yuziani
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.7245

Abstract

Pendahuluan : Giant kondiloma akuminata sering dikaitkan dengan HPV tipe 6 dan 11, namun memiliki perbedaan dengan kondiloma anal pada umumnya, seperti papilomatosis yang berbatas tegas, akantosis, rete ridges yang memanjang, dan meningkatnya aktivitas mitosis. Kasus: Pria, umur 33 tahun, dengan keluhan muncul benjolan yang menyerupai kembang kol di sekitar lubang dubur yang terasa gatal sejak 1 tahun yang lalu.  Pemeriksaan status venereologis didapatkan nodul vegetasi, berukuran 8x5x1 cm3, multipel, berbentuk seperti kembang kol, permukaan verokosa, batas tegas, berkelompok, konsistensi padat, warna hiperpigmentasi, tidak dapat digerakkan dan nyeri jika ditekan pada area perianal. Lesi tersebut tidak mudah berdarah. Pasien sudah mendapatkan penotolan TCA (50%) sebanyak tujuh kali namun belum tampak perbaikan, sehingga selanjutnya dilakukan eksisi lesi oleh dokter bedah. Setelah dilakukan pembedahan tampak ada perbaikan lesi. Diskusi: giant kondiloma akuminata merupakan massa eksofitik yang berukuran besar, dapat disertai dengan keluhan gatal, nyeri, perdarahan dan fistel pada lesi. pemeriksaan histopatologi kondiloma akuminata dan giant kondiloma akuminata sangat sulit dibedakan. Mikroskopis giant kondiloma akuminata menunjukkan epitel skuamous berlapis yang mengalami hiperkeratosis, parakeratosis, akantosis dan papilomatosis dengan sedikit sel-sel atypia. Pada epitel juga ditemukan koilositosis. Pada jaringan fibrokolagen didapatkan infiltrat inflamasi kronik. bedah eksisi merupakan terapi lini pertama untuk giant kondiloma akuminata, dengan tingkat kesuksesan mencapai (63-91%) diikuti tingkat relaps yang rendah. Kesimpulan : giant kondiloma akuminata (Buschke-Löwenstein) merupakan penyakit yang sering mengenai kelompok imunosupresif. Giant kondiloma akuminata dapat merupakan prekursor karsinoma sel skuamosa sehingga harus didiagnosis secara tepat dan segera diterapi. Terapi eksisi merupakan terapi lini pertama untuk giant kondiloma akuminata.
CARCINOMA MAMMAE SINISTRA T4bN2M1 METASTASIS PLEURA Adi Rizka; Muhammad Khalilul Akbar; Narisha Amelia Putri
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.7006

Abstract

Kanker payudara (carcinoma mammae) dalam bahasa Inggris disebut breast cancer merupakan suatu keganasan yang berasal dari jaringan payudara baik dari epitel duktus maupun lobulusnya. Seorang pasien bernama Ny. N berusia 55 tahun datang ke Poliklinik Bedah Onkologi dengan keluhan benjolan pada payudara kiri. Benjolan  seperti berjendol-jendol disertai rasa nyeri dan berdenyut. Pada pemeriksaan fisik didapatkan massa sebesar telur ayam, peau d’orange, nodul satelit, eritema, pada palpasi teraba massa tunggal ukuran 8x8x8 cm, konsistensi keras, permukaan tidak rata, batas tidak tegas, tidak dapat digerakkan. Pemeriksaan patologi anatomi di RSU Cut Meutia pada tanggal 14 Desember 2020 yang menunjukkan hasil berupa suatu keganasan payudara. Pada hasil pemeriksaan radiologi didapatkan tandatanda metastasis pleura, salah satunya adalah efusi plura massive. Pasien mulai menjalankan kemoterapi sebanyak 5 kali dan terputus hingga saat ini. Pasien didiagnosis dengan tumor ganas mammae sinistra yang telah menginfiltrasi kulit, menyebar ke KGB aksila sinistra, dengan tanda-tanda metastasis pleura seperti efusi pleura yaitu Carsinoma Mammae Sinistra T4bN2M1 metastasis pleura. Rata-rata prognosis harapan hidup (survival rate) pada pasien kanker payudara ini dalam 5 tahun dengan harapan hidup 5%.
LIDOCAINE IN VENTRICULAR TACHYCARDIA WITH HEMODYNAMICALLY UNSTABLE WHO REFUSE CARDIOVERSION, IS IT THE FIRST CHOICE OR NOT? Yuri Savitri; Ayu Permata Sari; Dio Gusfanny; Gisca Chairiyah Ami; Isra Namira
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.7092

Abstract

Sudden cardiac death (SCD) is a vital public health issue, accountable for almost 50% of all cardiovascular deaths. In the last three decades, SCD was the leading cause for almost 230000 to 350000 deaths per annum in the United States. Ventricular arrhythmias account for 25% to 36% of witnessed sudden cardiac arrests (SCA) at home and 38% to 79% of witnessed SCA in public. The goals of ventricular arrhythmia management include symptom relief, improving quality of life, reducing implantable cardioverter defibrillator shocks, preventing deterioration of left ventricular function, reducing risk of arrhythmic death, and potentially improving overall survival. Based on the ACLS guideline, each tachyarrythmia with a pulse should be given synchronized cardioversion, however, when such action could not be performed for various reasons, and showed wide QRS 0,12, intravenous or antiarrthytmia might serve as a possible treatment. If intravena antiarrhytmics are given, amiodarone may be considered. Amiodarone is also effective in preventing recurrence of monomorphic VT. Lidocaine is less effective in terminating VT than procainamide, sotalol and amiodarone. Lidocaine may be considered second-line antiarrthythmic therapy for monomorphic VT.
KEJANG DEMAM KOMPLEKS Maghfirah Maghfirah; Isra Namira
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.7947

Abstract

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Bangkitan kejang demam banyak terjadi pada anak berusia antara usia 6 bulan sampai dengan 22 bulan. Insiden bangkitan kejang demam tertinggi terjadi pada usia 18 bulan. Kejang demam dapat mengakibatkan gangguan tingkah laku serta penurunan intelegensi dan pencapaian tingkat akademik. Sebesar 4% penderita kejang demam secara bermakna mengalami gangguan tingkah laku dan penurunan tingkat intelegensi. Kejang demam merupakan suatu kondisi yang patut diperhatikan, dan tatalaksana yang tepat dapat mengatasi kondisi kejang dan mengatasi kausanya. Sebagian besar kejang demam tidak menyebabkan penurunan IQ, epilepsi, ataupun kematian. Kejang demam dapat berulang yang kadang menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada keluarga. Diperlukan pemeriksaan sesuai indikasi dan tatalaksana menyeluruh. Edukasi orang tua penting karena merupakan pilar pertama penanganan kejang demam sebelum dirujuk ke rumah sakit.
KEJANG DEMAM KOMPLEKS DENGAN DEHIDRASI BERAT Ghisca Chairiyah Ami
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.8008

Abstract

Kejang demam adalah kejang yang disebabkan oleh lonjakan suhu tubuh secara tiba-tiba dengan demam lebih dari 38ºC atau 100,4ºF, tanpa penyebab atau penyakit lain yang memicu kejang seperti infeksi sistem saraf pusat (SSP), kelainan elektrolit, trauma, predisposisi genetik atau epilepsi yang diketahui. Kejang demam kompleks merupakan kejang demam dengan salah satu ciri berikut kejang lama (>15 menit), kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial,dan berulang atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam. Artikel ini membahas mengenai suatu kasus pasien seorang anak laki-laki berusia 14 bulan datang dibawa oleh keluarganya dengan keluhan demam disertai kejang, dan BAB cair. Pada pasien tidak dijumpai adanya tanda rangsang meningeal dan reflek patologis. Hasil laboratorium pasien menunjukkan leukosit yang meningkat.  Tatalaksana saat kejang adalah dengan pemberian diazepam intravena dan prehospital adalah diazepam rektal. Prognosis untuk sebagian besar anak dengan kejang demam sangat baik.
LAPORAN KASUS: PERFORASI GASTER Andrian Andrian; Ridhalul Ikhsan; Wina Yunida Siregar
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.8 : No.1 (Mei 2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i1.7051

Abstract

Perforasi gaster merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan destruksi pada dinding gaster yang mengakibatkan adanya hubungan antara lumen gaster dan kavum peritoneum. Pasien laki-laki 74 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri seluruh lapang perut mendadak. Nyeri perut dirasakan seperti ditusuk-tusuk, memberat bila bergerak, batuk, atau berjalan. Pasien juga mengeluhkan perutnya kembung. Buang air besar tidak ada sejak 2 hari ini. Pasien mengaku pernah mempunyai riwayat BAB hitam. Pasien juga tidak ada kentut sejak perutnya sakit. Pemeriksaan fisik abdomen didapatkan distensi, bising usus melemah, defans muscular, nyeri seluruh lapang abdomen, dan pekak hepar menghilang. Pemeriksaan foto toraks erect dan foto polos abdomen posisi LLD menunjukkan gambaran udara bebas. Pasien didiagnosis dengan peritonitis et causa perforasi hollow organ kemudian dilakukan operasi laparotomi eksplorasi dan ditemukan perforasi gaster. Dilakukan penutupan pada bagian yang mengalami perforasi dan pasien dirawat secara intensif di ruangan ICU.

Page 1 of 1 | Total Record : 10