cover
Contact Name
Dwi Priyanto
Contact Email
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Phone
+62286-594972
Journal Mail Official
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Editorial Address
Sekretariat BALABA Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Jalan Selamanik No 16 A Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53415
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BALABA (JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA)
ISSN : 18580882     EISSN : 23389982     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
BALABA is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We published research article and literature review focused on vector borne disease such as malaria, DHF, filaria, chikungunya, leptospirosis, etc.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Volume 10 Nomor 1 Juni 2014" : 8 Documents clear
SPATIAL DISTRIBUTION OF DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER CASES IN BANYUMAS DISTRICT, CENTRAL JAVA PROVINCE Sunaryo sunaryo; Bina ikawati; Dewi puspita ningsih
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.563 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i01.681

Abstract

ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian serius karena di beberapa daerah masih sering terjadi kejadian luar biasa. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu daerah dengan kasus DBD selalu tinggi setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi spasial DBD di Kabupaten Banyumas berdasarkan lokasi, ketinggian, tata guna lahan dan kepadatan penduduk serta pola kasus berdasarkan curah hujan. Kajian ini dilakukan dengan penelusuran data sekunder kasus DBD di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Data peta topografi skala 1: 25000 diperoleh dari Bakosurtanal dan Bappeda Kabupaten Banyumas. Proses pengolahan data dan analisis spasial DBD secara tumpang susun menggunakan aplikasi Arc Gis.10. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kasus DBD tahun 2012 sebanyak 200 kasus, tersebar hampir di setiap kecamatan (75%). Kluster kasus DBD terdapat di wilayah Purwokerto Timur, Purwokerto Selatan dan Purwokerto Utara yang merupakan daerah dataran rendah (12 -250) mdpl, lingkungan permukiman dekat persawahan, area perkotaan dengan permukiman padat penduduk. Secara spasial kasus DBD terzonasi di wilayah dataran rendah dengan pemukiman padat penduduk dekat persawahan. Kasus DBD meningkat pada saat musim hujan tinggi antara Januari –Mei.
EFEKTIVITAS EKSTRAK BIJI JARAK MERAH (Jatropha gossypiifolia), JARAK PAGAR (J. curcas) DAN JARAK KASTOR (Riccinus communis) FAMILI EUPHORBIACEAE TERHADAP HOSPES PERANTARA SCHISTOSOMIASIS, KEONG Oncomelania hupensis lindoensis Anis nurwidayati; Ni nyoman veridiana; Octaviani octaviani; Yudith l
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.138 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i01.692

Abstract

ABSTRAK Schistosomiasis merupakan penyakit endemis di Indonesia, khususnya di Dataran tinggi Napu, Lindu dan Bada, Sulawesi Tengah. Keong perantara schistosomiasis, Oncomelania hupensis lindoensis tersebar luas di Dataran Tinggi Napu. Salah satu upaya pengendalian keong yang telah dilakukan oleh progam pengendalian schistosomiasis adalah penyemprotan moluskisida Bayluscide setiap 6 bulan sekali. Penggunaan moluskisida kimia memiliki kekurangan karena dapat menyebabkan polusi lingkungan. Perlu diteliti penggunaan tanaman sebagai moluskisida untuk alternatif pengendalian keong. Famili Euphorbiaceae diketahui memiliki aktivitas sebagai moluskisida. Tujuan penelitian menentukan efektivitas dari ekstrak dan fraksi biji jarak merah (Jatropha. gossypifolia), ekstrak biji jarak pagar (Jatropha curcas) dan ekstrak biji jarak kastor (Riccinus communis) terhadap keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penelitian dilakukan di Laboratorium Schistosomiasis Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah pada bulan Maret – Oktober 2009. Keong diuji dengan larutan ekstrak biji jarak merah, jarak pagar dan jarak kastor di laboratorium selama 24 jam. Ekstraksi biji jarak dengan metode perkolasi Jumlah keong yang mati dihitung dan dianalisis probit untuk penentuan nilai LC 50 dan LC 95. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak methanol dari biji jarak merah, jarak pagar dan jarak kastor memiliki daya bunuh terhadap keong Oncomelania hupensis lindoensis. Ekstrak biji jarak merah memiliki daya bunuh yang paling tinggi dibanding ekstrak biji jarak pagar dan kastor, dengan nilai LC 50 10,41 ppm dan LC 95 sebesar 18,6 ppm. Fraksi metanol dari biji jarak merah paling efektif di antara fraksi etil asetat dan n-heksan dari biji jarak merah. Tanaman jarak merah dapat menjadi bahan alternatif dalam pengendalian keong Oncomelania hupensis lindoensis.
KEWASPADAAN DINI KEJADIAN LEPTOSPIROSIS DI DESA SELANDAKA KECAMATAN SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2013 Dewi puspita ningsih; Rahmawati rahmawati; Dian indra dewi
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.44 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i01.700

Abstract

ABSTRAK Leptospirosis di Kabupaten Banyumas mulai dilaporkan sejak tahun 2010 sebanyak satu kasus. Tahun 2011 meningkat menjadi 5 kasus, 2012 sebanyak 3 kasus dan sampai dengan bulan Juli 2013 sebanyak 3 kasus. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi rodensia jenis tikus sebagai hewan penular leptospirosis dan keberadaan bakteri Leptospira pada tikus dan manusia. Penelitian ini merupakan survei potong lintang, lokasi penelitian di Desa Selandaka Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas pada bulan Juli 2013. Pengumpulan data dilakukan dengan penangkapan tikus dan cecurut, serta penjaringan kasus leptospirosis. Pemeriksaan sampel ginjal tikus dan darah manusia dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di Instalasi Bakteriologi Balai Litbang P2B2 Banjarnegara. Analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan penangkapan tikus dalam rumah lebih besar (10,67%) daripada luar rumah (9,33%). Tikus yang tertangkap Rattus tanezumi sebanyak 10 ekor dan 5 ekor cecurut Suncus murinus. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan tidak ditemukan bakteri Leptospira pada tikus, cecurut maupun serum penderita suspek leptospirosis.
GAMBARAN PEMANFAATAN KARTU PENDERITA MALARIA SEBAGAI UPAYA PEMANTAUAN PENGOBATAN MALARIA VIVAX (STUDI KASUS DI PUSKESMAS WANADADI I DAN BANJARMANGU I, KABUPATEN BANJARNEGARA) Agung puja kesuma; Nova pramestuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.83 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i01.747

Abstract

ABSTRAKKabupaten Banjarnegara merupakan salah satu daerah endemis malaria di Provinsi Jawa Tengah. Pengobatan berperandalam mencegah terjadinya penularan malaria. Kartu penderita malaria merupakan salah satu alat instrumen untukmemantau pelaksanaan follow up pengobatan. Pemanfaatan kartu penderita malaria di Kabupaten Banjarnegara dimulaisekitar tahun 1999. Tidak semua puskesmas di Kabupaten Banjarnegara memanfaatkan kartu penderita malaria. Tujuanpenelitian untuk mendeskripsikan manfaat kartu penderita malaria dalam pemantauan pengobatan malaria vivax.Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan studi kasus, pengumpulan data dengan wawancaramendalam dan observasi kartu penderita malaria. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Wanadadi I dan Banjarmangu Ipada Bulan April-Mei 2012. Hasil penelitian menunjukkan di Puskesmas Wanadadi I terdapat 60 kartu penderita malaria(80%) yang diisi oleh JMD dan hanya 23 kartu (38,3%) yang diisi lengkap. Di Puskesmas Banjarmangu I tidak ada kartupenderita malaria yang diisi. Follow up pengobatan tepat waktu paling banyak (82%) pada follow up IV. Penderita yangdifollow up secara lengkap (lima kali) sebanyak 18 penderita (30%). Penggunaan kartu penderita malaria di PuskesmasWanadadi I dan Banjarmangu I belum dimanfaatkan dengan baik.
IDENTIFIKASI TIKUS DAN CECURUT DI KELURAHAN ARGASOKA DAN KUTABANJARNEGARA KECAMATAN BANJARNEGARA KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 Hendri anggi widayani; Setiana susilowati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.003 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i01.751

Abstract

ABSTRAKTikus (Ordo Rodentia) merupakan hewan yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia baik bersifatmenguntungkan maupun merugikan. Spesies tikus mempunyai habitat masing-masing untuk berkembangbiak. Pemukimanmerupakan habitat tikus untuk memperoleh makanan. Tujuan penelitian untuk menggambarkan keberhasilan penangkapantikus dan mengidentifikasi tikus yang tertangkap di Kelurahan Argasoka dan Kutabanjarnegara. Metode penelitianmenggunakan survei dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah tikus yang berada di Kelurahan Argasoka danKelurahan Kutabanjarnegara. Sampel adalah tikus yang tertangkap menggunakan perangkap sebanyak 100 perangkapyang dipasang di lokasi penelitian selama 2 malam,dengan menggunakan umpan kelapa bakar dan ikan asin. Analisis datasecara deskriptif disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan keberhasilanpenangkapan tikus di Kelurahan Argasoka sebesar 10,5% dan di Kelurahan Kutabanjarnegara sebesar 6%. Tikus yangtertangkap 25 ekor Rattus tanezumi (75,76%), 1ekor R. tiomanicus (3,03%), dan 7 ekor Suncus murinus (21,21%). Tikus dancecurut berjenis kelamin jantan lebih banyak ditemukan (54,54 %) daripada betina (45,45 %)
FAKTOR RISIKO KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DEMAM CHIKUNGUNYA DI KECAMATAN BATANG TORU, KABUPATEN TAPANULI SELATAN SUMATERA UTARA TAHUN 2014 Frans yosep sitepu; Emilda arasanti; Amri rambe
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1623.572 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i01.754

Abstract

ABSTRAKDemam chikungunya adalah penyakit arbovirosis dengan angka kesakitan yang tinggi dan berdampak terhadap kondisisosial ekonomi. Tanggal 17 Januari 2014, Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Selatan melaporkan adanya kejadian luarbiasa (KLB) demam chikungunya di Kecamatan Batang Toru dengan jumlah kasus sebanyak 74 orang. Penelitian analitikmenggunakan desain kasus kontrol, dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko terjadinya KLB demam chikungunya.Kasus adalah penduduk yang sedang sakit atau baru mengalami sakit dengan gejala klinis utama demam, nyeri padapersendian dan bintik-bintik merah pada kulit. Kontrol adalah penduduk yang tidak sedang sakit dan tidak baru mengalamisakit dengan gejala klinis utama demam, nyeri pada persendian dan bintik-bintik merah pada kulit, diambil dari desa laindengan karakteristik penduduk dan topografi yang hampir sama dengan daerah penelitian. Analisis secara bivariatmenggunakan chi-square dan regresi logistik dengan derajat kepercayaan 95%. Sampel darah pasien diuji menggunakanrapid diagnostic test (RDT) Chikungunya IgM. Analisis bivariate menunjukkan variabel yang berhubungan dengankejadian demam chikungunya adalah tidak menggunakan kelambu pada saat tidur pagi dan sore hari (p- value: 0,000; OR=4,825, CI= 2,379-9,782) dan terdapat jentik nyamuk di tempat penampungan air (TPA) sekitar rumah (p-value= 0,000;OR= 6,206; CI= 2,905-13,257). Analisis multivariat menunjukkan faktor risiko yang paling berpengaruh adalah terdapatjentik nyamuk di TPA sekitar rumah (p-value= 0,013; OR= 3,837; CI= 1,322-11,131). Hasil uji dengan RDT pada 7 sampeldarah didapatkan 2 positif Chikungunya IgM. Telah terjadi KLB Demam Chikungunya di Kecamatan Batang ToruKabupaten Tapanuli Selatan. Penularan chikungunya terjadi secara terus-menerus dan sumber penularan lebih dari 1orang
VAKSIN DENGUE, TANTANGAN, PERKEMBANGAN DAN STRATEGI Dewi marbawati; Tri Wijayanti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.601 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i01.756

Abstract

ABSTRAKPenyakit demam Dengue endemik di lebih dari 100 negara di dunia. Obat anti virus Dengue efektif belum ditemukan danpengendalian vektor dinilai kurang efektif, sehingga diperlukan upaya pencegahan dengan vaksinasi. Vaksin Dengue yangideal adalah murah, mencakup 4 serotipe, efektif dalam memberikan kekebalan, cukup diberikan sekali seumur hidup, aman,memberi kekebalan jangka panjang, stabil dalam penyimpanan dan stabil secara genetis (tidak bermutasi). Beberapakandidat vaksin yang telah dan sedang dikembangkan oleh para peneliti di seluruh dunia adalah tetravalent live attenuatedvaccine, vaksin Chimera (ChimeriVax), vaksin subunit dan vaksin DNA. Vaksin Dengue dipandang sebagai pendekatan yangefektif dan berkesinambungan dalam mengendalikan penyakit Dengue. Tahun 2003 telah terbentuk Pediatric DengueVaccine Initiative (PDVI), yaitu sebuah konsorsium internasional yang bergerak dalam advokasi untuk meyakinkanmasyarakat internasional akan penting dan mendesaknya vaksin Dengue. Konsorsium vaksin Dengue Indonesia saat iniberupaya mengembangkan vaksin Dengue dengan menggunakan strain virus lokal.
BIONOMI VEKTOR MALARIA KELOMPOK Anopheles punctulatus (Anopheles farauti, Anopheles koliensis, Anopheles punctulatus) DI PROVINSI PAPUA Semuel sandy
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.482 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i01.757

Abstract

ABSTRAKMalaria merupakan masalah kesehatan utama di Provinsi Papua dengan angka Annual Parasite Incidence (API) padatahun 2011 sebesar 58 per 1000 penduduk dan Annual Malaria Incidence (AMI) sebesar 169 per 1000 penduduk. Vektormalaria Papua dilaporkan Anopheles farauti, An. punctulatus dan An. koliensis. Tiga spesies tersebut aktif menggigit padamalam hari (nokturnal), antropofilik dengan karakteristik tempat perkembangbiakan, aktifitas menggigit, dan tempatistirahat dilaporkan spesifik setiap spesies. Kajian ini untuk melihat beberapa aspek bionomi (tempat perkembangbiakan,aktifitas menggigit, dan tempat istirahat. Larva An. farauti memiliki habitat di daerah pantai, perairan payau (memilikitoleransi terhadap salinitas 4,6%), irigasi buatan atau alami. Nyamuk dewasa An. farauti betina bersifat nokturnal,eksofagik, eksofilik, dan antropofilik. Larva An. koliensis tidak ditemukan di perairan payau, banyak ditemukan di hutanrawa, hutan sagu, kolam semi permanen atau permanen yang dangkal dan terpapar sinar matahari langsung. Nyamukdewasa An. koliensis bersifat nokturnal, antropofilik (78% menggigit manusia), eksofagik, eksofilik sedangkan larva An.punctulatus tidak ditemukan di air payau, tetapi ditemukan pada kolam dengan air jernih atau keruh dengan vegetasi atautanpa vegetasi air. Larva An. punctulatus juga ditemukan di hutan sagu dan hutan rawa dengan paparan sinar mataharilangsung. Nyamuk dewasa An. punctulatus bersifat nokturnal, antropofilik (98% menggigit manusia), eksofagik, endofilik.Data dasar mengenai perilaku nyamuk Anopheles (bionomi) sangat diperlukan dalam mengembangkan pola intervensi dankontrol vektor yang lebih efektif dan efisien.

Page 1 of 1 | Total Record : 8