cover
Contact Name
Dwi Priyanto
Contact Email
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Phone
+62286-594972
Journal Mail Official
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Editorial Address
Sekretariat BALABA Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Jalan Selamanik No 16 A Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53415
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BALABA (JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA)
ISSN : 18580882     EISSN : 23389982     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
BALABA is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We published research article and literature review focused on vector borne disease such as malaria, DHF, filaria, chikungunya, leptospirosis, etc.
Articles 329 Documents
PENTINGNYA IMUNISASI BAGI ANAK Ponco Yuniarto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 1 Juni 2010
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.152 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i1.1313

Abstract

Bila ingin anak kita sehat, lakukan imunisasi secara teratur. Imunisasi dibedakan menjadi 2 golongan. Golongan yang pertama adalah imunisasi yang harus selesai sebelum usia satu tahun dan golongan yang kedua adalah imunisasi yang tidak boleh dilaksanakan pada usia di bawah satu tahun. Biasanya imunisasi diberikan sesuai jadwal yang tercantum di buku-buku kesehatan anak atau dirumah sakit maupun puskesmas. Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
EFEKTIFITAS PEMAKAIAN KELAMBU BERINSEKTISIDA DI DESA ENDEMIS MALARIA DI KABUPATEN WONOSOBO Bina Ikawati; Bambang Yunianto; Rr Anggun Paramita Djati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.216 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1314

Abstract

This research was conducted in Wonosobo, Central Java with quasi experimental method with treatment and control groups. The treatment group was treated with IBN (Impregnated Bed Net). The results showed that IBN was still effective until 14 weeks with 93,33% death of mosquito test, after IBN usage vector density bitting indoor and resting on the wall in treatment area were decreased but vector density biting outdoor and resting in cage increased. Parousity at treatment area before and after IBN usage decreased from 48,7% to 37,7% while in area control was constant. There was significant difference of knowledge and attitude of people on treatment and control group about malaria whlie the practice was not different. There were some complains on treatment group about the early usage of IBN i.e unpleasant smell, headache, unconvenience but there was no societies rejection about IBN usage.
EFIKASI INSEKTISIDA BERBAHAN AKTIF CYPERMETHRIN DENGAN METODE LETHAL OVITRAP TERHADAP Aedes aegypti DI LABORATORIUM Zumrotus Sholichah; Tri Ramadhani; Adil Ustiawan
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.766 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1316

Abstract

Various vector control efforts have been done but dengue hemorrhagic fever still tends to increase. Lethal Ovitrap (LO) was modification from ovitrap where in lethal ovitrap installed ovistrip contain insecticide. The aim of this research was to determine efficacy Cypermethrin and determine the residual effect with lethal ovitrap method on Ae. aegypti at laboratory. This research was laboratory experiment with postest only control group design. Research was done in August-December 2009 at Loka Litbang P2B2 Banjarnegara laboratory. Activity that had been done i.e: colonization of A e. aegypti, making ovitrap, making ovistrip with active ingredient Cypermethrin, then pretest had been done and determine the residual effect. Efficacy analysis used WHO criteria, i.e death of the mosquito >70% after raising for 24 hour.
SURVEILANS VEKTOR MALARIA DI DESA ANEKA MARGA, KECAMATAN ROROWATU UTARA, KABUPATEN BOMBANA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Sunaryo Sunaryo
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1721.882 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1317

Abstract

One of the intensification of malaria control programs in South East Sulawesi is vector surveyllance in the form of entomological survey. The aimed of this survey was to provide data and information on malaria vector usefull for vector control activity. Vector Surveyllance activity had been done to know vector fluctuation data, vector behaviour, type of breeding places in order to know the peak of vector density. Peak of vector density is usefull for malaria awareness in different type of ecology. Survey had been done in October 2010 in Aneka Marga village, Rorowatu Utara sub district, Bombana District, South East Sulawesi Province. Survey had been done during 4 night serially, start from 18.00 pm to 06.00 am with 6 mosquito collector, 3 collectors catching mosquitoes out door, 3 collectors catching mousquitoes in door for 45 minutes. 15 minutes out doors catching the mosquitoes that rest in cage, while indoors catching the mosquitoes that rest on house wall. It was found that Anopheles subpictus was the dominant vector with Man Biting Rate(MBR) in door was 0,28/man/hours and MBR out door was 0,64/man/hours. Peak of An. subpictus bites at 23.00 pm, the breeding places of An. subpictus in fish bowl, around 1 km from settlement. The density of Anopheline larvae was 3 larva/deeper.
TEKNIK ISOLASI - IDENTIFIKASI Yersinia pestis SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT PES (HASIL PELATIHAN DI BALAI BESAR VETERINER BOGOR) Dewi Marbawati; Hari Ismanto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.032 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1319

Abstract

Teknik isolasi dan identifikasi Y. pestis mempunyai prinsip- prinsip umum pertumbuhan yaitu terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap pengkayaan, seleksi pada media agar dan uji biokimia. Tahap pengkayaan dilakukan dengan cara menimbang sebanyak 10-25 gram spesimen kemudian dimasukkan dalam blender atau plastik steril dan ditambah 90-225 ml media pengkayaan (dapat menggunakan Buffered Peptone Water (BPW), Brain Heart Infusion (BHI) atau menggunakan Nutrient Broth). Setelah itu dibuat suspensi spesimen 10%, kemudian dilakukan homogenisasi selama ± 2 menit dan diinkubasikan pada suhu 37 derajat Celcius selama 24 jam.
PEMERIKSAAN ENDOPARASIT (CACING NEMATODA DAN CESTODA) YANG DITEMUKAN DALAM ORGAN TIKUS Novia Tri Astuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.242 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1320

Abstract

Adapun kegiatan yang dilakukan selama pelatihan adalah melakukan pembedahan tikus hasil penangkapan di daerah sekitar LIPI, kemudian dari hasil pembedahan diambil organ dalam tikus berupa hati, ginjal, paru-paru dan organ pencernaan diambil kemudian ditempatkan pada cawan petri yang terpisah untuk diperiksa ada tidaknya cacing baik nematoda maupun cestoda. Untuk organ yang tidak langsung diperiksa, disimpan dalam larutan alkohol 70%.
TIKUS RIUL (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) Dian Indra Dewi
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.627 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1321

Abstract

Tikus riul telah menyebabkan lebih banyak kematian jika dibandingkan dengan semua perang dalam sejarah. Rat-borne diseases diperkirakan telah menewaskan banyak orang dalam 1000 tahun terakhir. Mereka merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat. Mereka menjadi hospes dari kutu dan pinjal yang dapat menyebabkan pes, trichinosus, tularemia, infeksi penyakit kuning, demam tifus endemik, ratbite fever, dan beberapa penyakit berbahaya.
Hymenolepis sp, Cacing Pita Parasit Pada Tikus dan Manusia Dewi Marbawati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.433 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1322

Abstract

Endoparasit pada tikus banyak macamnya. Hymenolepiphydae merupakan genus cacing pita yang biasa terdapat pada tikus. Cacing Pita (Cestoda) pada umumnya memiliki ciri tubuh terdiri dari rangkaian segmen-segmen yang masing-masing disebut proglotid. Kepala disebut skoleks dan memiliki alat isap (sucker) dan ada yang memiliki kait (rostellum) terbuat dari kitin. Pembentukan segmen (segmentasi) pada cacing pita disebut strobilasi.
DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN TERHADAP VEKTOR PENYAKIT Hari Ismanto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.53 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1323

Abstract

Berbagai perubahan lingkungan ternyata telah banyak menimbulkan berbagai masalah kesehatan, diantaranya penyebaran berbagai penyakit yang ditularkan oleh binatang khususnya serangga seperti nyamuk, lalat, dan kecoa antara lain penyakit Kaki Gajah (Filariasis), Demam Berdarah Dengue, Malaria, dan lain-lain. Bahkan pada kondisi tertentu, perubahan lingkungan ini juga telah berpengaruh terhadap peningkatan populasi dan perilaku vektor penyakit, di mana hal ini akan semakin meningkatkan resiko terjadinya penyebaran penyakit.
KELUARGA SEHAT UNTUK INDONESIA SEHAT Ariani Dwi Astuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.978 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1324

Abstract

Perlu diupayakan suatu lingkungan keluarga yang sehat. Terciptanya keluarga yang sehat telah lama menjadi program pemerintah di bidang kesehatan, salah satunya adalah program promosi hidup sehat bernama PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat). Pengertian PHBS di tingkat keluarga (rumah tangga) adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Program ini bertujuan terwujudnya keluarga sehat. Jika semua keluarga menerapkan pola itu, akan tercipta desa dan kelurahan sehat, kecamatan sehat dan provinsi sehat yang berujung bangsa yang sehat pula.