cover
Contact Name
Dwi Priyanto
Contact Email
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Phone
+62286-594972
Journal Mail Official
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Editorial Address
Sekretariat BALABA Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Jalan Selamanik No 16 A Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53415
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BALABA (JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA)
ISSN : 18580882     EISSN : 23389982     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
BALABA is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We published research article and literature review focused on vector borne disease such as malaria, DHF, filaria, chikungunya, leptospirosis, etc.
Articles 329 Documents
MENGENAL JENIS TIKUS Zumrotus Sholichah
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Edisi 005 Nomor 02/Tahun III Desember 2007
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1623.564 KB)

Abstract

-
CHIGGER Dyah Widiastuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Edisi 005 Nomor 02/Tahun III Desember 2007
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.464 KB)

Abstract

-
MENGENAL BAKTERI PENYEBAB LEPTOSPIROSIS Asyhar Tunissea
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Edisi 005 Nomor 02/Tahun III Desember 2007
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1583.212 KB)

Abstract

-
ANTIBIOTIK LALAT Tri Ramadhani
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Edisi 005 Nomor 02/Tahun III Desember 2007
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1594.187 KB)

Abstract

-
SEKILAS LEPTOSPIROSIS DAN PENCEGAHAN PADA RUMAH TANGGA Adil Ustiawan
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Edisi 005 Nomor 02/Tahun III Desember 2007
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.504 KB)

Abstract

-
BAKTERI LEPTOSPIRA PATOC I MERUPAKAN STRAIN BAKTERI DALAM KELOMPOK NON PATOGEN YANG SERING DITEMUKAN PADA PENDERITA LEPTOSPIROSIS Bina Ikawati; Dewi Marbawati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 1 Juni 2010
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.783 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i1.1306

Abstract

Leptospirosis is one of zoonotic disease that needs serious attention from health practiciant and health programmer. This disease includes in the emerging infectious disease. Reseach from Loka Litbang P2B2 Banjarnegara in 2008 showed Leptospira of strain Patoc I (one of strain that include in non patogenic bacteria) found in 60,4% of 63 human blood sample that positive for Leptospira which Microscopic Aglutination Test (MAT). Literature studies on Leptospira bacteria strain Patoc I thus done about to know the reason why strain Patoc I usually found in Leptospirosis case, and wheter positive Patoc I in human spesimen indicates someone suffering from leptospirosis. Result showed Leptospira Sp strain Patoc I (Ames) or Patoc I (Paris) or Patoc I ATCC 23582 include in serovar Patoc, serogroup Semaranga, Genomospecies Leptospira biflexa, Genera Leptospira, family Leptospiraceae, ordo Spirochaetales, class Spirochaetes, Phylum Spirochaetes, Super Kingdom Bacteria. Patoc I usually showed cross reaction with many leptospira patogenic bacteria. Therefore Patoc I used as common indicator of Leptospirosis. Positive with Patoc I mostly indicates leptospirosis sufferer but probably from strain that not available in "batteray antigen test MAT" inlaboratory diagnosis. Research in laboratorium showed there was possibility of Patoc I genetic mutation.
PEMERIKSAAN LEPTOSPIROSIS SECARA LABORATORIS (HASIL PELATIHAN DI BALAI PENELITIAN VETEREINER BOGOR) Dewi Marbawati; Hari Ismanto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 1 Juni 2010
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.891 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i1.1307

Abstract

Pelatihan pemeriksaan leptospirosis dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan laboratoriurn bakteriologi yang ada di Loka litbang P2B2 Banjarnegara agar memiliki kemampuan melakukan pemeriksaan Leptospirosis. Beberapa materi yang diberikan dalam pelatihan ini diantaranya teori umum Leptospirosis dan pemeriksaan Leptospirosis secara laboratoris dengan metode MAT (Microscopic Aglutination Test). Pelatihan ini dilaksanakan mengingat bidang penelitian di Loka Litbang P2B2 Banjarnegara yang lebih fokus ke bidang penyakit bersumber rodensia, bahkan 3 tahun terakhir ini telah melakukan penelitian mengenai Leptospirosis.
TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer, Robinson & Kloss 1916) Dian Indra Dewi
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 1 Juni 2010
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.259 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i1.1309

Abstract

Tikus sawah termasuk dalam Famili Muridae, famili ini merupakan kelompok binatang mamalia yang paling berkembang di dunia. Muridae dapat dijumpai dimana saja pada berbagai habitat, adanya tekanan ekologis hanya berpengaruh sedikit terhadap perubahan struktur dan bentuk. Kemampuan indera tikus sawah berupa penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Sedangkan kemampuan fisiknya yaitu mengerat (gnawing), menggali (digging), berlari, melompat, meloncat, memanjat (climbing), berenang (swimming) dan menyelam (diving).
Toxoplasma gondii (Nicolle & Splendore 1908) Novia Tri Astuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 1 Juni 2010
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.664 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i1.1310

Abstract

Toxoplasma sering menjadi momok bagi wanita karena merupakan salah satu penyebab ketidaksuburan seorang wanita, yang diakibatkan oleh parasit yang bernama Toxoplasma gondii. Padahal ternyata tidak hanya wanita saja, pria pun dapat terinfeksi parasit ini. Toxoplasma gondii merupakan hewan bersel satu yang disebut protozoa, protozoa ini merupakan parasit pada tubuh hewan dan manusia. Toxoplasma gondii ditemukan di seluruh dunia. Penyakit infeksi oleh parasit Toxoplasma gondii ini dikenal dengan nama Toksoplasmosis. Toksoplasmosis dikategorikan sebagai penyakit Zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK KAJIAN MASALAH KESEHATAN Sunaryo Sunaryo
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 1 Juni 2010
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.123 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i1.1311

Abstract

Pemanfaatan SIG dalam bidang kesehatan didorong oleh orientasi efisiensi dan efektivitas, baik dalam proses maupun dalam hasil yang dicapai, serta dalam membangun pemikiran yang bersifat holistik berdasarkan informasi keruangan yang jelas lokasinya, setiap kedudukan dapat terukur dengan pasti. SIG sebagai alat yang dapat memperlihatkan masalah kesehatan masyarakat, terutama masalah kesehatan yang berbasis wilayah atau area, melalui kemampuan analisis keruangan (spatial analysis), perencanaan dan intervensi masalah kesehatan menjadi lebih spesifik dan berdasar kepada wilayah sasaran.