cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 257 Documents
Retensi Air Tanah Pada Jenis Tanah dan Penggunaan Lahan di Kabupaten Lamongan AH. Maftuh Hafidh Zuhdi; Enni Dwi Wahjunie; Suria Darma Tarigan
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 46, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi pada Juli 2022
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v46n1.2022.13-21

Abstract

Kabupaten Lamongan merupakan daerah yang rawan terjadi kekeringan. Budidaya pertanian lahan kering sangat tergantung pada kemampuan tanah meretensi air, yang secara langsung dipengaruhi oleh jenis tanah dan tipe penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan retensi air tanah pada  jenis tanah dan tipe penggunaan lahan di Kabupaten Lamongan. Penelitian dilaksanakan di lahan kering Kabupaten Lamongan pada Grumusol Hutan (GH), Grumusol Tanaman Semusim (GTS), Tanah Mediteran Hutan (MH), dan Tanah Mediteran Tanaman Semusim (MTS). Pengambilan sampel tanah dilaksanakan pada musim kemarau, dengan mengamati sifat tanah antara lain tekstur, bobot isi, ruang pori total, distribusi ukuran pori, kadar air tanah berbagai nilai pF, bahan organik dan dinamika kadar air tanah lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis tanah dan penggunaan lahan memiliki sifat tanah yang bervariasi. Grumusol memiliki nilai pF 2,52 (kapasitas lapang) yang lebih tinggi dari pada tanah Mediteran. Pada pF 4,20 (titik layu permanen) tanah Mediteran memiliki nilai yang rendah dari pada Grumusol. GH memiliki waktu paling lama mencapai titik layu permanen, selama 7 hari pada 0-20 cm dan 10 hari pada 20-40 cm. MTS memiliki waktu mencapai titik layu permanen paling cepat, yaitu selama 4 hari. Kadar klei tanah, tipe mineral klei, dan kadar bahan organik yang tinggi di Grumusol membuat tanah mampu memegang air lebih lama.
EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK DAN PUPUK HAYATI CAIR TERHADAP PEMULIHAN TANAH TERDEGRADASI DI DESA SUCOPANGEPOK Ganestri, Rakhmaghfiroh Geonina; Winarso, Sugeng; Asyiah, Iis Nur
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.175-185

Abstract

ABSTRAK. Keberlanjutan produksi padi bergantung pada pemberian input yang digunakan, khususnya pupuk. Selain pupuk sudah menjadi kebutuhan, aplikasi pupuk yang tidak tepat dapat mengakibatkan degradasi tanah. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembalikan kesuburan pada tanah terdegradasi yaitu pemberian nutrisi tambahan berupa pupuk. Pupuk yang dapat digunakan yaitu pupuk organik dari kombinasi biochar, kotoran ayam, limbah ikan dan pupuk hayati cair sebagai bionematisida dan biopestisida. Pupuk organik dan pupuk hayati ini diharapkan dapat mencukupi unsur hara pada lahan yang telah terdegradasi. Penilitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas pupuk organik dan pupuk hayati cair terhadap pemulihan tanah terdegradasi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember dan pada lahan sawah di Desa Sucopangepok. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor dan 5 ulangan. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan dengan pemberian pupuk hayati cair dan dosis pupuk organik 10 ton/ha efektif mampu menaikkan nilai N tanah sebesar 47,87%, menaikkan nilai P tanah tiga kali lebih besar, dan menaikkan nilai KTK tanah sebesar 2,6% dari perlakuan kontrol. Perlakuan dengan pemberian pupuk hayati cair dan dosis pupuk organik 5 ton/ha efektif mampu menaikkan nilai K tanah sebesar 40,22% dan menaikkan nilai C-Organik sebesar 75,44% dari perlakuan kontrol. Perlakuan tanpa pemberian pupuk hayati cair dan dosis pupuk organik 10 ton/ha efektif mampu menaikkan nilai pH sebesar 2,82% dari perlakuan kontrol.ABSTRACT. Sustainability of rice production depends on the provision of inputs used, especially fertilizers. In addition to fertilizers that have become a necessity, improper application of fertilizers can lead to soil degradation. One way that can be done to restore fertility in degraded soils is the provision of additional nutrients in the form of fertilizers. Fertilizers that can be used are organic fertilizers from a combination of biochar, chicken manure, fish waste and liquid biofertilizers as bionematicides and biopesticides. Organic fertilizers and biological fertilizers are expected to meet the nutrients in degraded land. This study aims to assess the effectiveness of organic fertilizers and liquid biofertilizers on the recovery of degraded soils. This research was conducted at the Laboratory of Soil Fertility, Faculty of Agriculture, University of Jember and on rice fields in Sucopangepok Village. This study used a randomized block design with 2 factors and 5 replications. The results showed that the treatment with liquid biofertilizer and organic fertilizer dose of 10 tons/ha was effective in increasing the N value of the soil by 47.87%, increasing the P value of the soil three times, and increasing the CEC value of the soil by 2.6% from the treatment. control. Treatment with liquid biofertilizer and organic fertilizer dose of 5 tons/ha was effective in increasing the K value of the soil by 40.22% and increasing the C-Organic value by 75.44% from the control treatment. The treatment without the application of liquid biofertilizer and a dose of 10 tons/ha of organic fertilizer was effectively able to increase the pH value by 2.82% from the control treatment. 
Analysis of Soil Physics Quality Index in Terms of Soybean Crop Productivity Putri, Savitri Khairunnisa; Baskoro, Dwi Putro Tejo; Rachman, Latief Mahir
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.163-173

Abstract

Abstrak. Sifat fisika tanah merupakan salah satu sifat tanah yang menentukan kualitas suatu tanah serta salah satu penentu kesuburan tanah, serta berperan dalam pertumbuhan dan produksi tanaman, sehingga perlu ditentukan indeks kualitas fisika tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kualitas fisika tanah (IKFT) pada tanaman kedelai berdasarkan perlakuan yang diberikan dan untuk mengetahui hubungan indeks kualitas fisik tanah dengan produktivitas kedelai. Lokasi penelitian ini berada di Kebun Percobaan Pacet, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Sifat fisik tanah yang digunakan untuk menentukan IKFT adalah tekstur, bulk density, porositas, pori drainase, air tersedia, permeabilitas, dan stabilitas agregat. Setiap parameter fisika tanah menggunakan skor dalam rentang 0 sampai 5. Penetapan IKFT pada lahan dapat menunjukkan berbagai kualitas sifat fisika tanah yang diwakili oleh beberapa sifat fisika tanah. Indeks kualitas fisika tanah (IKFT) pada masing-masing unit yang ditanami kedelai, yaitu berkisar antara 0,74-0,91 dengan kategori agak baik (P10) sebagai kontrol, baik (P1-P7 dan P9), dan sangat baik (P8). Indeks kualitas fisika tanah memiliki hubungan linier positif sedang antara IKFT dengan produktivitas kedelai (R = 0,4223) yang berarti semakin tinggi indeks kualitas fisika tanah maka produktivitas kedelai semakin tinggi.Kata kunci: sifat fisika tanah, indeks kualitas fisika tanah, tanaman kedelai Abstract.  Soil physical properties are one of the soil properties that determine the quality of a soil as well as one of the determinants of soil fertility, as well as contributing to plant growth and production, so it is necessary to determine the physical quality index of the soil. This study aims to determine the soil physical quality index (SPQI) in soybean plants based on the treatment given and to determine the relationship between soil physical quality index and soybean productivity. This research location was at the Pacet Experimental Garden, Cianjur Regency, West Java Province. The physical properties of the soil used to determine the SPQI are texture, bulk density, porosity, drainage pores, available water, permeability, and aggregate stability. Each soil physics parameter uses a score in the range of 0 to 5. Determination of SPQI on land can show various qualities of soil physical properties which are represented by several soil physical properties. The soil physical quality index (SPQI) of each unit planted with soybeans, which ranged from 0.74-0.91 with categories slightly good (P10) as a control, good (P1-P7 and P9), and very good (P8). Soil physical quality index has a moderate positive linear relationship between SPQI and soybean productivity (R = 0.4223) which means that the higher the soil physical quality index, the higher the soybean productivity.Key word: soil physical properties, soil physical quality index, soybean plant
Cover Vol 45 No 2 2021 Laelatul Qodaryani
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Vol 45 No 2 2021
Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Rekomendasi Penggunaanya untuk Komoditas Pertanian di Perusahaan Daerah Perkebunan Banongan Kabupaten Situbondo Ainunisa, Ilma
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 46, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi pada Juli 2022
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v46n1.2022.23-36

Abstract

Setiap lahan memiliki karakteristik yang berbeda beda, sehingga perlu pemahaman yang mendalam dari aspek iklim, kesuburan tanah dan lain-lain, sehingga pemanfaatan lahan dapat berdampak positif terhadap hasil pertanian yang berkelanjutan. Tahapan penelitian  meliputi pembuatan satuan peta lahan (SPL), pengambilan sampel tanah, analisis laboratorium, pengambilan data primer dan sekunder, clustering, penentuan karakteristik tanah dan analisis data, penentuan kelas kesesuaian lahan dan arahan penggunaan lahanya beserta rekomendasi pengelolaan lahan. Hasil evaluasi kesesuaian lahan dan arahan rekomendasi penggunaan lahan komoditas pertanian di cluster 1 yaitu sorgum dikategorikan cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas alkalinitas, untuk cluster 2 terung atau tomat dikategorikan cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas tingginya curah hujan, salinitas dan alkalinitas tanah, untuk cluster 3 sorgum dikategorikan cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas kurangnya kedalaman efektif dan tingginya salinitas serta alkalinitas tanah, untuk cluster 4 sorgum dikategorikan sangat sesuai (S1) dan untuk cluster 5 cukup sesuai (S2) untuk kelapa atau kapas dengan faktor pembatas kurangnya kedalaman efektif. Rekomendasi pengelolaan lahan yang dapat dilakukan antara lain: 1). penggunaan varietas tanaman toleran salinitas dan alkalinitas, 2). teknis budidaya lahan salin menggunakan system irigasi dan got, 3). memberikan air segar rendah DHL, 4). memberikan bahan pembenah, 5). pengaplikasian pupuk hayati 6). penggunaan mulsa dan menggunakan sistem tumpang sari.
Integrasi Prediksi Musim dengan Model Simulasi Tanaman untuk Penentuan Waktu Tanam Padi Elza Surmaini; Tri Wahyu Hadi; Kasdi Subagyono; M. Ridho Syahputra
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.99-110

Abstract

Abstrak. Penyesuaian waktu tanam merupakan upaya dengan biaya yang paling efisien untuk meningkatkan produktivitas, menstabilkan, bahkan meningkatkan ketahanan pangan. Integrasi prediksi curah hujan musim dengan model simulasi tanaman dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi waktu tanam padi dengan hasil yang optimal. Dua tahap analog digunakan untuk memprediksi curah hujan harian untuk satu musim tanam. Analog tahap pertama untuk memprediksi curah hujan harian untuk 120 hari. Tahap kedua mencari satu analog terbaik prediksi sekuens curah hujan 120 hari. Basis data hasil tanaman padi periode 1982-2009 dengan interval harian dibangun menggunakan model simulasi tanaman. Rekomendasi waktu tanam ditentukan berdasarkan perubahan hasil dibandingkan dengan waktu tanam awal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi curah hujan musim dengan lead time 6-9 bulan menggunakan metode downscaling dengan dua tahap analog dapat memperpanjang lag prediksi 2 bulan sebelum tanam sehingga dapat digunakan untuk peringatan dini. Integrasi prediksi curah hujan musim dengan model simulasi tanaman dapat memberikan informasi selang waktu tanam yang berpotensi untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Prediksi waktu tanam dalam bentuk selang waktu diperlukan petani , karena berbagai faktor non teknis yang menyebabkan penanaman tidak dapat dilakukan pada rekomendasi waktu tertentu. Informasi tersebut dapat digunakan oleh pengambil kebijakan dan penyuluh untuk rekomendasi kepada petani tentang waktu tanam dengan hasil padi yang lebih tinggi.Abstract. Adapting planting time is a very cost-efficient way to increase crop productivity and stabilise or even increase food security. Linking seasonal rainfall prediction with crop simulation model is used to evaluate planting date with optimal rice yield. We used a two step analogue method. The first step is to predict 30 daily rainfall analogues for the next 120 days. The second step is to look for best analogue of 120 day rainfall prediction. Daily planting dates were simulated within 1982-2009 using crop simulation model. The second step is to determine the best analoque for the 120 day sequence. Planting time recommendation is adjusted using the difference between the earliest and later planting dates.The result concluded that 6-9 lead time seasonal rainfall prediction using two step analogue could increase lead time 2 months prior to planting time, therefore can be use for early warning. Linking season rainfall prediction with crop simulation model to adjust interval of planting time that provide higher rice yield. Farmers need that interval, due to non-technical factors are caused crop could not planted timely as recommended. In addition, the recommendation of planting time should be used by decision makers and extension workers to recommend appropriate planting time with higher yield to the farmers.
Enhancing the Reactivity of Phosphate Rocks by Acidulation . SULAEMAN; . SUPARTO; . EVIATI
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) No 20 (2002): Desember 2002
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v0n20.2002.%p

Abstract

Indonesian soils requiring a considerably large amount of P fertilizer, since it comprises a large area of phosphate poor soils as Ultisols, Oxisols, and part of Inceptisols. Phosphate rock, particularly of domestic origin, is one of cheapest P sources if it can be applied directly. Acidulation is performed to obtain sufficiently reactive phosphate rocks to give dissolved P (in weak acid) required by annual crops, although not too soluble (in water) to easily leach. The objective of this study was to obtain an efficient P source fertilizer with inexpensive production cost. Eight types of phosphate rocks of domestic and overseas origins were gradually acidulated with sulphuricand phosphoric acids. P fertilizers reactivity were tested by using extracted P content in water, citric acid, and formic acid to total P content ratio. The results showed that the reactivity (in citric acid) orders of tested phosphate rocks were Ciamis > Cileungsi > Algeria > Gresik > Maroko > Sukabumi >Christmas > Senegal. Based on gained regression equation, total P content and reactivity of produced fertilizer for each degree of acidulation with H2SO4 and H3PO4 can be calculated. Water extractant gives the most sensitive indicator value of increased reactivity, followed by citric and formic acids.
Potensi dan Model Agroforestry untuk Rehabilitasi Lahan Terdegradasi di Kabupaten Berau, Paser dan Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur Neneng Leila Nurida; Anny Mulyani; Fitri Widiastuti; Fahmuddin Agus
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n1.2018.13-26

Abstract

Abstrak: Luas lahan terdegradasi di Indonesia cenderung terus bertambah dan semakin memicu meningkatnya lahan-lahan terlantar yang tidak produktif. Sistem agroforestri diyakini dapat menjadikan lahan terlantar dan terdegradasi menjadi produktif dan dapat memulihkan sebagian dari kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prospek rehabilitasi lahan terdegradasi dengan beberapa model agroforestri di Kabupaten Kutai Timur, Paser, dan Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret 2016 sampai Agustus 2017. Kegiatan penelitian dilakukan melalui desk work dan survei observasi lapangan dan wawancara dengan petani. Pemilihan komoditas dilakukan berdasarkan komoditas unggulan kabupaten, kesesuaian lahan, dan preferensi petani dan diikuti dengan analisis finansial untuk membandingkan pola monokultur dengan pola agroforestri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan luas lahan terdegradasi selama periode 2000-2015 di ketiga kabupaten dari 1,54 juta ha menjadi sekitar 1,75 juta ha. Luas lahan terdegradasi yang berpotensi untuk dimanfaatkan adalah sekitar 0,821 juta ha (47%) dari luas lahan terdegradasi di ketiga kabupaten, sisanya merupakan kawasan hutan, areal ijin konsesi, dan lahan yang tidak sesuai. Tren utama perubahan penggunaan lahan adalah untuk kelapa sawit dan lada monokultur. Keuntungan bersih terkini (NPV) untuk kedua sistem ini berturut-turut adalah sekitar Rp. 51 juta dan 87 juta ha-1 tahun-1. Model agroforestri berbasis gaharu-lada, berpotensi memberikan NPV sampai 6,9 kali lebih tinggi dibandingkan sawit monokultur serta memberikan Internal Rate of Return (IRR) sampai 49,3% dan benefit cost (B/C) ratio 8,54. Terlepas dari tingginya potensi keuntungan sistem agroforestri tersebut dibandingkan dengan sistem monokultur, sistem monokultur kelapa sawit tetap lebih menarik, kemungkinan karena kepastian pasar dan kepraktisan pengelolaan. Berbagai sistem, baik berupa monokultur ataupun sistem agroforestri, bila diterapkan pada lahan berlereng curam, perlu dilengkapi dengan penerapan konservasi tanah seperti peningkatan proporsi tanaman tahunan, sistem tanam searah kontur, dan penanaman cover crop di antara tegakan pohon.Abstract. The total area of degraded land in Indonesia is increasing and triggerring the increase of unproductive land. Agroforestri system is believed to be able to convert the idle degraded lands into productive ones and it can restore some of its environmental quality. This study aims to examine the prospects for rehabilitation of degraded lands with agroforestri systems in East Kutai, Paser and Berau districts, East Kalimantan Province. The study was conducted from March 2016 to August 2017. The research activities were conducted through desk work and field surveys and interviews with farmers. The selection of commodities is based on the district's pre-eminent commodities, land suitability, and farmer preferences and followed by financial analysis to compare monoculture with agroforestri systems. The results show that there was an increase in the area of degraded land during the period 2000-2015 in the three districts from 1.54 million ha to about 1.75 million ha. The potential area of degraded land available for future use is about 0.821 million ha; the remainder being forest areas, concession areas and unsuitable land. The main trends of land use change are for monoculture oil palm and pepper. The net present value (NPV) for those systems were around Rp. 51 million and 87 million ha-1 year-1, respectively. Agar wood-pepper based agroforestri, promised NPV of up to 6.9 times higher than oil palm monoculture, Internal Rate of Return (IRR) of up to to 49.3% and benefit cost (B/C) ratio of 8.54. Apart from the relatively high potential profit of the agroforestri compared to monoculture system, monoculture oil palm systems remains more attractive, possibly due to market certainty and practicality of management. Various systems, whether monocultures or agroforestri, when practiced on steep slopes, need to be supplemented by implementation of soil conservation.
Monitoring Agricultural Drought Using GIS and Remote Sensing Technologies in Upper Brantas Watershed RIZATUS SHOFIYATI; K. HONDA; N.T.S WIJESEKERA; . WIDAGDO
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) No 20 (2002): Desember 2002
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v0n20.2002.%p

Abstract

Droughts disasters occured in some parts of Indonesian area periodically. To anticipate land and crops caused by drought needs historical data and information. Remote sensing provides the good capability to achieve spatial distributed, wide area coverage and multi-temporal. The study purposes to utilize remote sensing technology for agricultural drought monitoring and assessing in Upper Brantas Watershed. This study had used NOAA AVHRR were achieved from clearest NOAA AVHRR data selected every month from April 1997 to November 1998 and Landsat TM acquired May and June 1997. The method used in this research considers the relationship among rainfall and fluctuation of NDVI and BT. The study shows that an NDVI value of less than 0,28 was recognized as an appropriate threshold for the identification of drought affected area. NDVI and BT have an inverse relationship. The value can be used to delineate the spatially distributed for agricultural drought monitoring and assessment. Moreover, the map can be used for helping to anticipate the drought risk by changing the cropping pattern and other farming system in drought areas.
Sifat Fisik Tanah dan Hubungannya dengan Kapasitas Infiltrasi DAS Tamiang Cut Azizah Jakfar; Hidayat Pawitan; Bambang Dwi Dasanto; Iwan Ridwansyah; Muh Taufik
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.167-173

Abstract

Abstrak. Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang merupakan wilayah rawan bencana dan digolongkan sebagai DAS kritis di Indonesia karena rawan banjir. Mitigasi banjir memerlukan analisis kuantifikasi limpasan yang diprediksi dari curah hujan dikurangi kapasitas infiltrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi parameter fisik tanah dan hubungannya dengan kapasitas infiltrasi DAS Tamiang. Parameter fisik tanah yang dianalisis adalah tekstur tanah, berat jenis, kadar air, permeabilitas dan porositas. Hasil penelitian menunjukkan tekstur tanah didominasi clay sehingga Hydrologic Soil Grups (HSG) termasuk dalam kapasitas infiltrasi sedang, berat jenis tanah 0,9-1,5 g cm-3, nilai kadar air  pada musim kemarau 20-78 % (volume), nilai permeabilitas termasuk kategori sedang dan agak cepat (3-8 cm jam-1), dan nilai porositas 44-68%. Distribusi parameter fisik tanah menunjukkan kualitas yang kurang baik untuk kapasitas infiltrasi DAS Tamiang. Hasil penelitian dapat digunakan pada perencanaan pengelolaan sumberdaya air yang memerlukan data tanah untuk penelitian terkait. Abstract. The Tamiang River Basin is one of a disaster-prone and considered as a critical area in Indonesia due to vulnerability to flood. Flood mitigation requires an analysis of runoff quantification derived from the difference between rainfall and infiltration capacity. This study aimed to determine the distribution of soil physical parameters and their relationship to the infiltration capacity of the Tamiang watershed. Soil physical parameters analyzed were soil texture, bulk density, moisture content, permeability and porosity. The results showed the texture of the soil was predominantly clay so that the Hydrologic Soil Grups (HSG) was included in the medium infiltration capacity group, soil bulk density was 0.9-1.5 g cm-3, water content in the dry season was 20-78% (by volume), permeability belonged to medium and fairly fast categories (3-8 cm hour-1), and the porosity is was 44-68%. The distribution of soil physical parameters indicate somewhat poor infiltration capacity of the Tamiang watershed. The results of this study can be used in water resources management planning that requires soil data for related research