cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 257 Documents
Pemutakhiran Peta Sumberdaya Agroklimat Indonesia untuk Mendukung Perencanaan Pertanian Erni Susanti; Elza Surmaini; Aris Pramudia; Nani Heryani; Woro Estiningtyas; Suciantini Suciantini; Yayan Apriyana
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n1.2021.47-58

Abstract

Abstrak. Peta Sumberdaya Agroklimat yang dihasilkan dari analisis ini menyajikan klasifikasi iklim Indonesia yang merupakan pemutakhiran dari Atlas Sumber Daya Iklim Pertanian Indonesia tahun 2003. Kebaruan klasifikasi ini adalah periode data 1981-2010 (mengikuti periode normal Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika, disusun dari 4.032 stasiun hujan yang lolos kualiti kontrol data dan pendapat pakar, dianalisis dengan metode geostatistik terpilih, yaitu teknik interpolasi co-kriging dengan parameter pendukung ketinggian tempat. Klasifikasi Peta Sumberdaya Agroklimat didasarkan pada klasifikasi curah hujan tahunan, jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut sesuai kriteria Oldeman, serta ketinggian tempat untuk pilihan komoditas. Peta Sumberdaya Agroklimat Indonesia memberikan 18 Tipe Agroklimat dengan 3 tipe iklim (basah, sedang, kering), 3 kelas curah hujan, 3 kelas bulan basah bertutut-turut dan 3 bulan kering berturut-turut, dengan informasi potensi tanam dan alternatif pola tanam. Informasi potensi Indeks Pertanaman (IP) dan alternatif pola tanam dapat digunakan sebagai pedoman perencanaan tanam sehingga dapat memaksimalkan IP di suatu wilayah dan pemilihan komoditas yang sesuai.  Wilayah yang IP-nya dibawah potensi IP, dapat ditingkatkan IP-nya dengan memanfaatkan potensi air yang ada, sedangkan untuk wilayah yang IP nya ingin ditingkatkan tetapi potensi  IP nya tidak mendukung disarankan dapat menggunakan teknologi penyediaan air.Abstract. The Agro-climate Resource Map, resulted from this analysis, is a classification of Indonesia's climate which is a revised version of the Atlas of Indonesian Agricultural Climate Resources (2003). The novelty of this classification is the inclusion of 1981-2010 data period (following the normal MCGA period), compiled from 4.032 rainfall stations that passed the quality control data and expert judgement, analyzed by geostatistical method through co-kriging interpolation technique with the altitude used as a supporting parameter. The classification of the Agro-climate Resource Map is based on the classification of annual rainfall, the number of consecutive wet and dry months according to Oldeman's criteria, and altitude for the choice of commodities. The Agro-climate Resource Map provides 18 classifications of Agro-climate Types with 3 types of climates (wet, moderate, dry), 3 rainfall classes, 3 consecutive wet month classes and 3 consecutive dry months, with information on planting potential and alternative cropping patterns. Information on the potential for cropping index (IP) can be used as a guideline for planting planning so as to maximize the IP in an area. Areas whose IP is below the potential IP, their IP can be increased by utilizing the existing water potential, while for areas whose IP needs to be increased but is not supported by the IP potential, IP increase can be achieved by improving water availability through implementation of water engineering  technology.
Aplikasi Biochar Kulit Buah Kakao pada Tanah Lempung Liat Berpasir: Sifat Fisik Tanah dan Hasil Jagung Neneng Laela Nurida; Muchtar Muchtar
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n2.2020.117-127

Abstract

Abstrak. Biochar mempunyai struktur yang sangat porous, ketika diberikan ke dalam tanah mampu mempengaruhi sifat fisik tanah. Penelitian bertujuan untuk menguji aplikasi biochar kulit buah kakao, kapur dan abu biochar (hasil pembakaran lebih lanjut dari biochar) terhadap perbaikan sifat fisik tanah dan hasil jagung di lahan kering dengan tekstur lempung liat berpasir. Penelitian dilaksanakan selama tiga musim tanam dari bulan Pebruari 2016 hingga Pebruari 2017 dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) empat ulangan, dengan perlakuan: 1) kontrol; 2) biochar 15 t ha-1; 3) kapur 6 t ha-1; 4) abu setara biochar 15 t ha-1; 5) biochar 7,5 t ha-1 + kapur 3 t ha-1, dan 6) biochar 15 t ha-1 dicuci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama tiga musim tanam, Bulk Density (BD) tanah yang diberi biochar 15 t ha-1 baik dicuci maupun tidak, nyata lebih rendah (1,05-1,11 g cm-3) dibandingkan kontrol (1,10-1,21 g cm-3), sebaliknya BD tanah yang diberi abu konsisten meningkat hingga musim tanam ketiga. Pori air tersedia meningkat secara signifikan dengan pemberian biochar. Peningkatan kemampuan memegang air meningkat pada musim ketiga pada tanah yang diberi amelioran biochar. Selama tiga musim tanam, tanah yang diberi abu setara biochar 15 t ha-1 secara konsisten mempunyai ruang pori total yang rendah dan BD yang paling tinggi. Aplikasi biochar 15 t ha-1 dan abu setara biochar 15 t ha-1 mampu meningkatkan hasil pipilan jagung menjadi 7,24-11,43 t ha-1 dibandingkan kontrol (6,11-7,25 t ha-1) dan efek residunya mampu bertahan hingga tiga musim tanam.Abstract. Biochar has a very porous structure and it affects various soil physical properties. The objective of study was to evaluate the application of biochar, lime and ash to improve soil physical properties and maize yield in upland with sandy clay loam texture. The study was conducted at the research station of Indonesian Soil Research Institute, East Lampung for three seasons from February 2016 to February 2017. We used a randomized block design with four replication. Treatments are: 1) control, 2) biochar 15 t ha-1, 3) lime 6 t ha-1, 4) ash 15 t ha-1, 5) biochar 7.5 t ha-1+ lime 3 t ha-1, and 6) washed biochar 15 t ha-1. The results showed that during three seasons, application of biochar 15 t ha-1(with and without washed) significantly reduced BD (1.08-1.09 g cm-3) but the ash application consistently increased BD. During the three seasons, the water holding capacity increased by applying biochar in various forms (biochar, ash or washed biochar) but the same did not show in lime application. The ash addition 15 t ha-1 consistently had low total soil porosity and high BD. Both application of biochar of 15 t ha-1 and ash of 15 t ha-1 increased maize yield (7,24-11,43 t ha-1) compared to control (6,11-7,25 t ha-1) and the residual effects lasted for three cropping seasons.
Respon Varietas Padi Berpotensi Hasil Tinggi terhadap Pemupukan Nitrogen pada Inceptisols Bertekstur Ringan dan Berat Diah Setyorini; Ladiyani Retno Widowati; Antonius Kasno
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n1.2020.37-49

Abstract

AbstraK. Nitrogen adalah salah satu unsur hara makro esensial yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil tanaman padi sawah. Tanpa pemupukan N hasil padi sangat rendah dan relatif sama dengan hasil padi yang tidak dipupuk sama sekali. Penelitian bertujuan untuk menentukan dosis rekomendasi pupuk N untuk padi berpotensi hasil tinggi varietas Inpari 4, Mekongga dan hibrida H6444. Penelitian telah dilaksanakan di Inceptisols Plemahan yang bertekstur berat dan Inceptisols Gurah yang bertekstur ringan, di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga varietas padi sebagai petak utama dan dosis pupuk N sebagai anak petak, pada Musim Kemarau (MK) 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil gabah padi hibrida H6444 lebih tinggi sekitar 14-21% dibandingkan Inpari 4 dan Mekongga. Semakin tinggi dosis N, pertumbuhan dan hasil gabah semakin meningkat. Interaksi antara perlakuan varietas dan dosis N hanya terjadi pada parameter hasil gabah. Dosis maksimum pupuk Urea untuk padi sawah pada tanah bertekstur ringan di desa Gurah berturut-turut adalah 680 dan 715 kg ha-1 untuk Inpari 4 dan Mekongga serta 450 kg ha-1 untuk H6444. Pada tanah bertekstur berat di Plemahan adalah 580 dan 560 kg ha-1 berturut-turut untuk Inpari 4 dan Mekongga dan 350 kg ha-1 untuk H6444. Abstract. Nitrogen is one of macro essential nutrients needed to increase rice yield. In the absence of N fertilization, the rice yield is very low and similar to the rice yield with no fertilization. The objective of the study was to determine recommended dose of N fertilizer for high yielding rice varieties of Inpari 4, Mekongga and H6444 hybrid varieties. Research has been carried out in Inceptisols Plemahan Village with heavy soil texture and Inceptisols in Gurah Village, in Kediri District, East Java Province with light soil texture. The study used a split plot design consisted of three rice varieties as the main plot and six levels of N dose as subplots, in the dry season of 2012. The results showed that the growth and yield of H6444 hybrid variety were 14-21% higher than Inpari 4 and Mekongga. The higher the N dose, the higher were the rice growth and yield. The interaction between varieties and N level was observed in grain yields. The maximum doses of Urea fertilizer for lowland rice in light textured soils in Gurah were 680 and 715 kg ha-1 for Inpari 4 and Mekongga, respectively, and 450 kg ha-1 for H6444. For  heavy textured soils in Plemahan is 580 and 560 kg ha-1 for Inpari 4 and Mekongga, respectively, and 350 kg ha-1 for H6444.
Populasi Bakteri Penambat Nitrogen pada Lahan Sub Optimal di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur Mandala, Marga; Rachmawati, Ayunda; Sari, Putri Tunjung; Indarto, Indarto
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.109-116

Abstract

Abstrak. Lahan sub optimal merupakan lahan yang memiliki produktivitas rendah. Lahan sub optimal terbagi menjadi lahan basah dan lahan kering. Rendahnya hara menjadi faktor pembatas dalam pengembangan lahan kering menjadi wilayah pertanian. Nitrogen merupakan hara esensial yang sangat diperlukan tanaman. Penggunaan tanaman leguminosae yang mampu bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen dapat meningkatkan ketersediaan nitrogen dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi bakteri penambat nitrogen dan hubunganya terhadap N-total tanah pada beberapa lokasi budidaya lahan kering. Penelitian dilakukan di lahan budidaya kacang panjang pada lima lokasi di Kabupaten Situbondo. Variabel Pengamatan meliputi : populasi bakteri penambat nitrogen, N-total, pH, C-organik dan C/N rasio. Hasil menunjukkan Lahan budidaya di Kecamatan Banyuglugur memiliki populasi bakteri dan nilai N-total tertinggi. Analisis korelasi regresi menunjukkan erdapat hubungan yang erat antara populasi bakteri penambat nitogen dengan N-total. Bakteri penambat nitrogen mempengaruhi ketersediaan nitrogen sebesar 61,72%, sedangkan 32,28 % dipengaruhi oleh faktor lain.Abstract. Sub optimal land has low productivity. Sub optimal land is divided into wetlands and dry lands. Low nutrients are a limiting factor in the development of dry land into agricultural areas. Nitrogen is an essential nutrient that is needed by plants. Legume plants can symbiosis with nitrogen fixing bacteria to increase the availability of nitrogen in the soil. This study aims to determine the population of nitrogen fixing bacteria and their relationship to soil N-total in several cultivation locations. The research was conducted in long bean cultivation at five locations in Situbondo Regency. Observation variables include: nitrogen fixing bacterial population, N-total, pH, C-organic and C / N ratio. The results showed that the cultivated land in Banyuglugur District had the highest bacterial population and N-total value. The regression correlation analysis showed that there was a close relationship between the nitogen-fixing bacterial population and total N. Nitrogen fixing bacteria affect nitrogen availability by 61.72%, while 32.28% was influenced by other factors.
Karakteristik Lahan Bera Dengan Umur Berbeda dan Pengaruhnya Terhadap Dekomposisi Serasah di Manokwari, Papua Barat Susanto, Slamet Arif; Qayim, Ibnul; Triadiati, Triadiati
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.117-132

Abstract

Abstrak. Karakteristik umur lahan bera memiliki peran penting dalam pengembalian hara melalui proses dekomposisi. Penelitian dekomposisi serasah dan cadangan karbon pada beberapa umur lahan bera telah dilakukan di Manokwari, Provinsi Papua Barat dari Juli 2020 sampai Januari 2021. Penelitian bertujuan menganalisis proses dekomposisi in situ serasah daun vegetasi lokal pada beberapa umur lahan bera, serta mengukur cadangan karbon dari vegetasi masing-masing lahan bera. Setiap umur lahan bera dipasang sebanyak 18 kantung serasah yang masing-masingnya berisi 20 g serasah daun dari vegetasi lokal lahan bera. Sebanyak tiga kantung serasah diambil setiap bulan dari masing-masing umur lahan bera, kemudian dikeringkan hingga bobot kering konstan. Cadangan karbon biomassa vegetasi dianalisis menggunakan persamaan alometrik berdasarkan diameter pohon setinggi dada (dbh). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan bobot serasah setelah 6 bulan dekomposisi pada lahan bera 5, 10, dan 15 tahun masing-masing mencapai 92,62%; 94,00%; dan 97,12%. Konstanta dekomposisi (tetapan kehilangan bobot serasah) pada lahan bera 5 dan 10 tahun tergolong rendah yakni 0,65 dan 0,94. Lahan bera 15 tahun memiliki konstanta dekomposisi yang tergolong sedang yakni 1,18. Cadangan karbon pada lahan bera 5, 10, dan 15 tahun masing-masing sebesar 7,57; 32,63; dan 141,33 ton/ha. Penurunan rasio C/N setelah 6 bulan dekomposisi pada lahan bera 5, 10, dan 15 tahun masing-masing sebesar 66,67%; 56,25%; dan 39,39%. Dekomposisi serasah pada lahan bera 5 tahun dipengaruhi oleh curah hujan, sedangkan pada lahan bera 15 tahun dipengaruhi oleh kelembapan tanah. Penelitian ini mengindikasikan bahwa umur lahan bera menyebabkan perbedaan komposisi vegetasi, sehingga berpengaruh pada proses dekomposisi dan banyaknya cadangan karbon. Abstract. The characteristics of the fallow land have an important role in the return of nutrients through decomposition process. Research on litter decomposition and carbon stock on different ages of fallow has been carried out in Manokwari, West Papua from July 2020 to January 2021. The aim of the study was to analyze the in situ decomposition process of leaves litterfall from local vegetation at several ages of fallow, and also measure the biomass carbon stock of each fallow land. A total 18 litterbags were installed, each containing 20 g leaves litterfall from the local vegetation of the fallow land. Three litter bags from each age fallow were taken every month and dried to constant mass. Biomass carbon stocks were analyzed using an allometric equation based on the diameter of the trees at breast height (dbh). The results showed that the litter mass loss at fallow 5, 10, and 15 years were 92.62%; 94.00%; and 97.12% respectively after 6-month decomposition. The slowest decay constants (constants of litter mass loss) were 0.65 and 0.94 at fallows 5 and 10 years respectively, whereas at fallow 15 years with k 1.18. Carbon stocks in fallow land of 5, 10, and 15 years were 7.57; 32.63; and 141.33 ton/ha, respectively. The decrease of C/N ratios at fallow 5, 10, and 15 years were 66.67%; 56.25%; and 39.39% respectively after 6 month decomposition. Litter decomposition was influenced by local rainfall on fallow land at 5 years old and soil moisture at 15 years old. This study indicates that the age of fallow lands lead to differences in the composition of vegetation, so that it affects decomposition process and the amount of carbon stocks.
Pencucian dan Pemupukan Tanah Sulfat Masam untuk Perbaikan Sifat Kimia dan Pertumbuhan Padi Jelly Amalia Santri; Azwar Maas; Sri Nuryani Hidayah Utami; Wahida Annisa
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.95-108

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencucian dan ameliorasi terhadap sifat kimia tanah dan air dalam menunjang pertumbuhan tanaman padi di lahan sulfat masam bukaan baru. Penelitian ini meliputi pembuatan kompos berbahan dasar tanaman lokal di kebun percobaan Belandean yang dilanjutkan dengan percobaan pot di rumah kaca Balittra Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada bulan Februari sampai Mei 2019. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 2 faktor dan diulang sebanyak 3 ulangan. Faktor pertama adalah pemupukan (P), yaitu: (a) P0 = tanpa dipupuk,  (b) P1 = pemupukan NPK 50% dosis rekomendasi, (c) P2 = pemberian NPK 50% dosis rekomendasi + Kompos, (d) P3 = pemberian NPK 100% dosis rekomendasi + NPK anorganik sesuai kandungan kompos, dan (P4) = pemberian NPK 100% dosis rekomendasi. Faktor kedua adalah pencucian (D) dengan sistem, yaitu: (a) D0 = air hasil pencucian tidak dikembalikan, (b) D1 = air hasil pencucian dikembalikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencucian dengan air hasil pencucian tidak dikembalikan membuat  nilai Eh, DHL serta kandungan Fe dan SO4 tanah lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Namun, nilai Al-dd dan H-dd tanah terendah terdapat pada perlakuan pengembalian air hasil pencucian dan pemupukan NPK 50% dosis rekomendasi dengan penambahan kompos bahan organik insitu. Perlakuan ini juga memiliki nilai produksi biomassa tertinggi jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Pemetaan Indeks Kualitas Tanah (IKT) pada Lahan Tegalan di Kabupaten Jember Ach Fauzan Mas'udi; Indarto Indarto; Marga Mandala
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.133-144

Abstract

Lahan tegalan berpotensi sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi tanaman. Fenomena yang terjadi saat ini adalah petani di lahan tegalan cenderung mengabaikan prinsip konservasi lingkungan. Indeks kualitas tanah (IKT) dapat digunakan untuk menilai dampak pengelolaan lahan. Penelitian ini dilakukan di lahan tegalan di Kabupaten Jember, Indonesia. Data yang dibutuhkan meliputi data jenis tanah, kelerengan, tata guna lahan, dan data analisis kualitas tanah. Analisis data menggunakan software SPSS 25.0, Excel 2016, dan Arc-MAP 10.4. Pemetaan kualitas tanah memiliki empat tahapan utama, (1) pembuatan petak satuan lahan, (2) analisis sifat tanah, (3) analisis komponen utama dengan metode PCA, dan (4) penilaian indeks kualitas tanah (IKT). Berdasarkan hasil analisis, terdapat tiga komponen utama dalam penilaian indeks kualitas tanah lahan tegalan yaitu karbon organik, lempung, dan pH. Lahan tegalan di daerah Jember terbagi menjadi tiga kelas, yaitu rendah (1,3%), sedang (63,9%), dan baik (34,7%). Secara umum kualitas tanah Tegalan di Kabupaten Jember termasuk dalam kategori sedang. Rekomendasi pengelolaan untuk lahan tegalan adalah penambahan bahan organik.
Dosis dan efek residu biochar kulit buah kakao dalam peningkatan sifat tanah dan produktivitas jagung di lahan kering masam Lampung Timur Neneng Leila Nurida
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.145-154

Abstract

Dosis biochar yang diberikan ke dalam tanah menjadi aspek penting  dan merupakan salah satu faktor yang menentukan efektivitas pemberian biochar. Efektivitas biochar terlihat sangat nyata bila diapliksikan pada tanah-tanah di wilayah tropikal dibandingkan pada tanah di wilayah sub tropical. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa taraf dosis biochar kulit buah kakao terhadap penurunan kemasaman tanah yang ditunjukkan dengan penurunan kemasaman tanah, peningkatan  kandungan hara makro dan hasil jagung di lahan kering masam terdegradasi. Penelitian dilaksnakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanah di KP Taman Bogo, Kecamatan Probolinggo, Kabupaten Lampung Timur. Penelitian dilaksanakan selama tiga musim tanam yaitu Pebruari-Mei 2015 (musim tanam pertama), Juli-Nopember 2015(musim tanam kedua) dan Nopember 2015-Pebruari 2016 (musim tanam ketiga). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, 4  ulangan. Perlakuan yang diuji adalah dosis biochar kulit buah kakao 0; 5;10;15;25 dan 40 t ha-1 dan tanaman indikator berupa jagung varietas Pioneer 27.  Parameter yang diamati pH, P dan K , Ca, Mg dan Al3+ serta berat pipilan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar kulit buah kakao dosis 15-40 tha-1 mampu memperbaiki sifat tanah seperti pH tanah, kandungan  Al3+ kandungan P dan K potensial kandungan Ca dan Mg serta rasio Ca/Al. Respon paling konsisten terjadi pada pemberian biochar kulit bua kakao 40 t ha-1.  Hasil jagung diperoleh dengan dosis mulai  15 t ha− 1 memberikan efek residu hingga musim ketiga, peningkatan hasil tertinggi terjadi pada musim tanam ketiga yaitu 32,9% (15 t ha− 1), 60,4% (25 t ha− 1) dan 61,3% (40 t ha− 1). Hasil jagung pipilan kering berkorelasi erat dengan kandungan Al3+ (r2=0,8312; p< 0,001). Dosis biochar kulit buah kakao dengan dosis 15-40 t ha-1 sangat prospektif untuk ameliorasi lahan kering masam dan peningkatan produktivitas jagung, namun terdapat efek memudar dari sifat tanah pada musim tanam ketiga.
Influence Compost Combined with Agroindustrial Waste on Soil Improvement, Paddy’s Growth, and Gas Emissions in Tidal Lands Muhammad Helmy Abdillah
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 46, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi pada Juli 2022
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v46n1.2022.1-12

Abstract

The application of local organic matter is stated to be able to minimize biogeochemical constraints and increase rice yields but is a source of greenhouse gases in tidal mineral fields. Agroindustrial waste has the potential to be combined to reduce crude fiber from local organic matter. This study aims to compare the effect between materials of compost combined with agroindustry solid waste type that can improve soil properties, increase rice growth and reduce greenhouse gas emissions. This research was conducted at Polytechnic Hasnur’s greenhouse from November 2020 to July 2021 with a nested completely randomized design with Tukey’s HSD test a 5%.  The treatments in this study were rice straw compost, oil palm bunch compost, and purun rat compost, each of which was 253.7 g combined with 126.8 g of crumb rubber solid waste or 126.8 g of the solid decanter. There were 6 combinations and 1 control which was repeated 5 times to make 35 experimental units. The variables observed were plant height, number of productive tillers, root volume, percentage of pyrite, soil density, methane flux, and carbon dioxide. Application of 253.7 g of rice straw compost combined with 126.8 g of solid decanter increased plant height, decreased soil density, and CH4 flux at 60 and 90 days after planting (DAP). Application of 253.7 g of straw compost combined with 126.8 g of solid decanter increased the number of tillers, root volume, and decreased pyrite. The control treatment decreased CO2 flux at 30 and 90 DAP. Application of rat purun compost combined with crumb rubber solid waste was able to reduce CO2 flux 60 DAP.
Estimated Stored Carbon Stock in Tea Plantation at Various Elevation Dewi Nur Rokhmah; Nana Heryana
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.155-162

Abstract

The tea plant is a plantation crop that has been widely cultivated in Indonesia and provides potential as a carbon dioxide absorption to decrease global warming. However, the potential for carbon dioxide absorption at various altitudes where tea is grown is not widely known. The research objective was to estimate the potential biomass, carbon stock, and CO2 (carbon dioxide) uptake of tea plants at several planting elevations. The research was conducted in the PTPN VIII garden in Parakan Salak afdeling, Sukabumi, West Java and the Integrated Laboratory, Industrial and Freshener Crops Research Institute, Sukabumi, West Java in March 2018. The research was carried out using a survey method and the determination of sample plants at each height by purposive method random sampling. Data were collected at an elevation of 400, 600, and 800 m above sea level (asl) respectively. The results showed that the carbon stocks of tea plants at an elevation of 400, 600, 800 m asl were 6.82 kg/plant, 6.36 kg/plant, and 3.13 kg/plant, respectively. Meanwhile, the absorption of carbondioxide from tea palnts at an elevation of 400, 600, 800 m asl was 25.02 kg/plant, 23.36 kg/plant, and 11.47 kg/plant, respectively.