cover
Contact Name
Dian Fita Lestari
Contact Email
dianfita@unib.ac.id
Phone
+6282236859585
Journal Mail Official
konservasihayati@unib.ac.id
Editorial Address
Jl. W.R. Supratman, Kec. Muara Bangka Hulu, Kota Bengkulu, Bengkulu 38119. FMIPA, Universitas Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Konservasi Hayati
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 02169487     EISSN : 27221113     DOI : 10.33369
Konservasi Hayati Journal is a Journal majoring in Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bengkulu University. KonservasI Hayati Journal publish as much as 2 times in one year ie January-June and July-December edition. In 2020, KH began to publish 6 articles in one volume a year in April and October. Special editions in English can be published if necessary. Konservasi Hayati journal fits well for researchers and academics who are inheriting the results of research, scientific thought, and other original scientific ideas. Konservasi Hayati Journal publishes research papers, technical papers, conceptual papers, and case study reports. Konservasi Hayati Journal contains a mixture of academic articles and reviews on all aspects of biological science with the following topics: 1. Bioconservation of plants 2. Bioconservation of animals 3. Microbiology 4. Biotechnology 5. Ecology 6. Genetic and Molecular 7. Any fields related to biology, animal husbandry, fisheries, and agriculture.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2021): APRIL" : 6 Documents clear
UJI AKTIVITAS ANTI BAKTERI EKSTRAK METANOL DAUN BACCAUREA MACROCARPA TERHADAP ESCHERICHIA COLI DAN SALMONELLA TYPHI Vivi Mardina; Fitri Helmalia; Fadhliani Fadhliani; Lendawati Lendawati
Konservasi Hayati Vol 17, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/hayati.v17i1.12879

Abstract

Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk menghentikan reproduksi bakteri. Penggunaan antibiotik komersial dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah resistensi, sehingga diperlukan alternatif antibiotik yang berasal dari tanaman dengan alasan lebih aman, relative murah dan mudah diperoleh. Salah satu tanaman herbal yang digunakan adalah Baccaurea macrocarpa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metabolit sekunder pada B.macrocarpa, mengevaluasi pengaruh ekstrak metanol daun  B.macrocarpa terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Salmonella typhi serta  mengukur konsentrasi optimum sampel  untuk menghambat pertumbuhan bakteri  E.coli dan S.typhi. Penelitian telah dilakukan selama 3 bulan dilaboratorium Universitas Samudra. Metode yang digunakan adalah metode sumuran dengan bakteri uji E.coli dan S.typhi.  Setiap perlakuan diberi ekstrak metanol daun B. macrocarpa dengan berkonsentrasi 20%, 30% dan 40% (g/mL). Kontrol positif menggunakan ciprofloxacin dan kontrol negatif menggunakan aquades steril. Hasil yang diperoleh adalah konsentrasi 40% (g/mL) merupakan konsentrasi optimum untuk menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dan S.typhi dengan zona hambat yang dihasilkan  6,3 mm dan 5 mm. Hasil penelitian telah menyimpulkan bahwa ekstrak daun Baccaurea Macrocarpa berpotensi dikembangkan sebagai bahan dasar antibiotik.
KARAKTERISTIK MORFOLOGI, POPULASI, DAN HABITAT ROTAN JERNANG (Daemonorops didymophylla Becc.) DI DESA GEDUNG SAKO, KECAMATAN KAUR SELATAN, KABUPATEN KAUR, PROVINSI BENGKULU Nurwiyoto Nurwiyoto
Konservasi Hayati Vol 17, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/hayati.v17i1.14469

Abstract

Salah satu jenis rotan yang menghasilkan resin jernang (dragon’s blood) yang berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi adalah jenis Daemonorops didymophylla Becc. Rotan jernang semakin langka dan semakin sulit mendapatkan resin jernang. Di Desa Gedung Sako, masih ditemukan beberapa populasi rotan jernang yang tumbuh. Penelitian tentang morfologi, populasi dan habitat rotan jernang di Bengkulu, belum pernah dilakukan. Tujuan riset adalah mendeskripsikan karakteristik morfologi, populasi, dan habitat rotan jernang D. didymophylla Becc. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan studi pustaka dan pengambilan sampel, serta pengukuran langsung dilapangan untuk beberapa parameter. Sampel yang digunakan adalah sampel jenis rotan D.didymophyilla Becc. dan sampel tanah. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive random sampling dalam dua petak berukuran 10 x 10 m. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian karakteristik morfologi rotan jernang ditunjukan dengan akar serabut, batang silindris warna hijau dan memiliki ruas batang, daun warna hijau dengan pelepah berduri dan anak daun warna hijau menyirip berseling, bunga jantan dan betina, buah warna coklat kemerahan mengkilat dalam tandan buah dan memiliki seludang tandan buah dan tampak bersisik seperti kulit buah salak dengan dilapisi resin jernang berwarna kecoklatan, dan organ pengait berupa duri atau cirrus. Karakteristik populasi rotan jernang  yaitu ditemukan 11 rumpun rotan jernang yang terdiri dari 56 batang dengan rata-rata satu rumpun adalah 5,09 batang. Rotan jernang merupakan tumbuhan berumah dua yaitu rotan jernang betina dan rotan jernang jantan terpisah dalam rumpun yang berbeda. Karakteristik habitat tumbuh rotan jernang yaitu ketinggian tempat 90 - 120 m dpl,  intensitas cahaya antara 50-60%. suhu udara antara 27 - 31 °C, kelembaban udara 65 – 70%, keasaman (pH) tanah 4,8-5,0, kandungan N antara 0,35-0,42%, kandungan C antara 2,50-3,57%, kandungan P antara 3,41-5,92 ppm, kandungan K antara 0,27-0,51 me/100, dan kelembaban tanah 60 - 65%.
RAGAM JENIS Streptomyces sp PADA RIZOSFER TANAMAN SUKU LILIACEA DI KAWASAN DESA SUMBER BENING Ririn Fardiyanti; Kasrina Kasrina; Hendri Bustamam
Konservasi Hayati Vol 17, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/hayati.v17i1.14731

Abstract

Streptomyces merupakan bakteri Gram positif kelompok Actinomycetes. Bakteri ini dikenal sebagai bakteri menguntungkan dalam kehidupan manusia, baik untuk manusia itu sendiri maupun untuk tanaman. Hasil metabolit sekunder Streptomyces dapat digunakan sebagai antibakteri, antifungi, insektisida bagi tanaman dan sebagai antelmintik bagi manusia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum adanya penelitian yang membahas tentang Streptomyces sp pada Rizosfer tanaman dari suku Liliaceae di kawasan Desa Sumber bening. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman Streptomyces sp. pada rizosfer tanah tanaman Suku Liliaceae di kawasan Desa Sumber Bening. Tahapan penelitian meliputi tahap mengisolasi  Streptomyces sp. dari Rizosfer tiga tanaman Suku Liliaceae yaitu Bawang merah (Allium cepa), Bawang Daun (Allium fistulosum) dan Kucai (Allium schoenoprasum L) dengan menggunakan medium YPGA (Yeast Peptone Dextrose Agar) dan teknik isolasi tuang bawah. Setelah isolat didapatkan, isolat dimurnikan dengan teknik gores. Isolat Streptomyces sp yang telah murni diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologinya baik secara mikroskopis dan makroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 spesies Streptomyces sp. yang terdapat pada tiga rizosfer tanaman suku Liliaceae dengan 6 spesies ditemukan pada rizosfer bawang merah, 3 spesies ditemukan pada rizosfer daun bawang dan 2 spesies ditemukan pada rizosfer kucai. Spesies-spesies tersebut adalah Streptomyces griseourubiginosus, Streptomyces albovinaceus, Streptomyces griseus, Streptomyces albohelvatus, Streptomyces viridaris, Streptomyces hirsutus, Streptomyces nigrescens, Streptomyces herbaricolor, Streptomyces aureofaciens, Streptomyces nigrogriceolus,dan Streptomyces albolongus
KEBERADAAN DESMANTHUS VIRGATUS (FABACEAE) MELIAR DI PULAU JAWA Arieh Mountara; Arifin Surya Dwipa Irsyam; Muhammad Rifqi Hariri; Zakaria Al Anshori; Dini Andari
Konservasi Hayati Vol 17, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/hayati.v17i1.12813

Abstract

Desmanthus virgatus (L.) Willd. merupakan tumbuhan asing dari Amerika Tropis dan telah dilaporkan tumbuh di Hindia Belanda pada tahun 1855. Meskipun demikian, keberadaan populasi meliarnya di Pulau Jawa belum diketahui secara pasti, karena belum tercatat dalam Flora of Java jilid I. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk melaporkan keberadaan Desmanthus virgatus di Jawa. Penelitian ini juga dilakukan sebagai bagian dari penyusunan buku Alien Flora of Java. Pengamatan lapangan telah dilakukan di Jawa Barat (Bekasi, Bogor, Sumedang) dan Jawa Tengah (Batang) menggunakan metode jelajah. Hasil pengamatan menunjukkan adanya populasi meliar Desmanthus virgatus di Bekasi, Sumedang, dan Batang. Dengan demikian, jenis ini dapat ditetapkan sebagai tumbuhan asing rekaman baru untuk informasi Flora Jawa. Desmanthus virgatus diduga telah lolos dari kultivasi dan mampu membentuk populasi meliarnya di alam. 
PEMODELAN PROBABILITAS SEBARAN HABITAT UNTUK MENETUKAN KAWASAN PRIORITAS KONSERVASI BURUNG RANGKONG GADING (Rhinoplax vigil) DI GEOPARK SILOKEK, KABUPATEN SIJUNJUNG Rizki Atthoriq Hidayat; Natasyah Febriani
Konservasi Hayati Vol 17, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/hayati.v17i1.14673

Abstract

Rangkong gading merupakan jenis satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah No7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. Habitat rangkong gading tersebar di lima wilayah negara, yaitu Myanmar, Thailand, Malaysia (semenanjung Malaysia dan Serawak), Brunei, dan Indonesia (Sumatera dan Kalimantan). Kawasan Geopark Silokek, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah yang teridentifikasi sebagai habitat rangkong gading. Selain bentuk fisiknya yang unik, satwa ini memiliki fungsi ekologis sebagai pemancar biji di dalam hutan. Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh (PJ) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) sangat dibutuhkan untuk menindetifikasi persebaran habitat rangkong gading dalam penelitian ini. Data yang digunakan adalah citra Landsat OLI 8 dan data geospasial terkait Geopark Silokek. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan Kawasan prioritas konservasi Rangkong gading di kawasan Geopark Silokek. Dengan menggunakan algoritma MaxEnt (maximum entropy) berdasarkan titik satwa, maka dapat diprediksi probabilitas persebaran habitat rangkong di kawasan Geopark Silokek. Berdasarkan hasil penelitian, wilayah yang potensial untuk konservasi rangkong di kawasan Geopark Silokek terdapat di Kawasan perbukitan hutan lindung bagian utara dan timur laut. Parameter yang paling berpengaruh dalam pemodelan ini yaitu jarak dari sungai, lereng, dan penggunaan lahan.
KERAGAMAN GENETIKA BADAK SUMATERA DALAM UPAYA MENDUKUNG KONSERVASI DI INDONESIA Handayani Handayani; Dedy Duryadi; Hadi Allikodra
Konservasi Hayati Vol 17, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/hayati.v17i1.13037

Abstract

Jumlah  populasi badak Sumatera  semakin menurun dengan peta sebaran yang sudah sangat terbatas pada daerah tertentu saja terutama berada di Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), Taman Nasional Kerinci Seblat (Jambi), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Sumatera Selatan) dan Taman Nasional Way Kambas. Koleksi Sample berasal dari SRS (Suaka Rhino Sumatera) TN Way Kambas, sample berupa darah dari 2 ekor badak sumatera berjenis kelamin betina (Rosa berasal dari TN. Bukit Barisan Selatan/TNBBS & Bina berasal dari Bengkulu) dan 2 ekor badak jantan asli indonesia tetapi telah lama ditangkarkan di kebun binatang Inggris (Los Angeles Zoo) dan Amerika (Cincinati Zoo) yaitu (Torgamba berasal dari Riau & Andalas kedua induknya berasal dari Bengkulu).  Darah diambil dengan menggunakan disposible syringe 10 ml pada daerah vena auricularis (bagian telinga). Isolasi DNA dilakukan menggunakan metode Duryadi (2005). Amplifikasi CO I menggunakan pasangan primer tersebut yaitu Primer untuk mengamplifikasi sekuen CO I partial (RHCOIF & RHCOIR). menunjukkan perbedaan basa nukleotida diantara keempat individu badak Sumatera dengan badak India adalah berkisar 95 – 100 nukleotida sedangkan dengan badak putih Afrika 93 – 101 nukleotida. dalam badak Sumatera (Indonesia) sendiri terjadi keragaman. Torgamba terlihat satu kluster dengan Bina, namun Andalas dan Rosa terlihat jauh kekerabatannya baik dengan Torgamba maupun Bina.Berdasarkan karakteristik sekuen gen CO I, walaupun baru parsial 716 bp didapatkan bahwa badak Asia terpisah dengan badak Afrika.

Page 1 of 1 | Total Record : 6