cover
Contact Name
Muhammad Nuh Rasyid
Contact Email
muhammadnurasyid@iainlangsa.ac.id
Phone
+6285372689775
Journal Mail Official
al_ikhtibar@iainlangsa.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/ikhtibar/about/editorialTeam
Location
Kota langsa,
Aceh
INDONESIA
Al-Ikhtibar : Jurnal Ilmu Pendidikan
ISSN : 2406808X     EISSN : 25500686     DOI : https://doi.org/10.32505/ikhtibar
Jurnal ini adalah jurnal Jurusan Pendidikan Agama Islam yang merupakan ekspektasi dari artikel yang konsen pada problematika dan fenomena dunia pendidikan islam, keagamaan dan kebudayan. Artikel ilmiah yang diterbitkan merupakan hasil penelitian, studi kasus, atau kajian teoritis yang berkaitan dengan isu-isu pendidikan islam yang berkembang saat ini.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 274 Documents
DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL TERHADAP PENDIDIKAN Muhammad Syukri Azhar Lubis
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 5 No 2 (2018): Juli-Desember 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.v5i2.558

Abstract

Perubahan sosial budaya merupakan sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam kehidupan tatanan masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan ini terjadi pula sesuai dengan kehendak, hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu menginginkan perubahan. Sedangkan pendidikan adalah usaha sadar dan suatu bentuk dari seni dan budaya manusia yang terus berubah, berkembang dan sebagai alternatif yang paling rasional dan memungkinkan untuk melakukan suatu perubahan maupun perkembangan. Hubungan antara perubahan sosial dengan pendidikan adalah terjadinya perubahan pada struktur dan fungsi dalam sistem sosial dan termasuk di dalamnya adalah pendidikan, sebab karena pendidikan ada dalam masyarakat, baik itu pendidikan formal, informal maupun non formal.
PROFESIONALITAS GURU SERTIFIKASI DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN ANAK IBTIDAIYAH DYAH PRAVITASARI
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 5 No 2 (2018): Juli-Desember 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.v5i2.559

Abstract

Pemerintah telah berupaya meningkatkan kualitas pendidikan salah satunya dengan adanya program sertifikasi guru. Program sertifikasi guru merupakan upaya untuk mendapatkan guru yang profesional. Oleh karena itu guru sebagai sosok yang profesional harus memiliki kompetensi dan kinerja yang sesuai dengan tuntutan pekerjaanya sehingga mempunyai kewenangan yang jelas. Dengan adanya sertifikasi atau guru yang profesional pemerintah berharap guru dapat meningkatkan mutu pendidikan. Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk melihat sejauhmana guru yang telah bersertifikasi di dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya anak Ibtidaiyah. Metode penelitian yang digunakan adalah meteode penelitian kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, penulis memaparkan bahwa ada beberapa guru yang belum memenuhi semua kriteria guru profesioanal, seperti belum mampu menggunakan metode pembelajaran yang efektif, kurangnya pemahaman guru terhadap penggunaan IPTEK, kurangnya kesadaran guru untuk meningkatkan kualitas dirinya dan kurangnya kesadaran guru terhadap tugas dan fungsinya sesuai dengan jabatan yang diembanya. Sehingga dengan begitu, berdampak terhadap siswa yakni minat belajar siswa menjadi kurang.
Tradisi Keulamaan saparuddin rambe
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6 No 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.v6i1.602

Abstract

Hamzah Fansuri merupakan seorang tokoh tasawuf terkemuka Nusantara yang menganut tasawuf falsafi. Selain sebagai seorang sufi ia juga dikenal dengan seorang sastrawan, sehingga ajarannya banyak yang sampaikan dalam bentuk bait-bait puisi sastra. Ia mengikuti tasawuf yang dirintis oleh Syeikh Abd al-Qadir al-Jailani dengan tarekat Qadiriyah. Dalam bidang fikih, Hamzah Fansuri mengikuti Mazhab Syafi’i. Hamzah Fansuri dianggap sebagai pemikir dan pengembang paham wihdat al-wujud, hulul, dan ittihad. Karya-karya Syekh Hamzah Fansuri terbilang cukup banyak. Diduga sebagian dari karya tulis Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumaterani menjadi korban pembakaran pada waktu para pengikut keduanya mengalami hukuman bunuh, dan buku-buku yang mereka miliki dibakar di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Pembunuhan keduanya dan pembakaran karya tulis mereka terjadi pada tahun 1637 M., yaitu tahun pertama dari kekuasaan Sultan Iskandar Tsani (1637-1641 M.), karena mereka tidak mau mengubah pendirian paham wahdat al-wujud-nya kendati Sultan telah berulangkali menyuruh keduanya untuk bertobat. Kata wujûd dalam paham wahdat al wujud terutama dan lebih khusus digunakan oleh Ibn al-‘Arabi untuk menyebut wujud Tuhan. satu- satunya wujud adalah wujud Tuhan; tidak ada wujud selain wujud-Nya.
Karekteristik Anak Usia Murahiqah Fakhrurrazi .
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6 No 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.vol6i1.pp60

Abstract

Perkembangan Masa anak usia murahiqah merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasan usia seringkali tidak terlalu jelas dalam pertumbuhan fisiknya. Masa murahiqah ini sering dianggap sebagai masa peralihan, anak yang meranjak usia murahiqah tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisiknya ia belum dapat dikatakan orang dewasa. Anak usia murahiqah perlu dijaga dan dilindungi dalam masa pertumbuhan dengan cara membimbing agar anak usia murahiqah terjaga terhadap nilai-nilai negatif.
Urgensi Pendidikan Berbasis Fitrah wahidah .
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6 No 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.v6i1.600

Abstract

Pandangan Islam secara global menyatakan bahwa fitrah merupakan kecenderungan alamiah bawaan sejak lahir. Penciptaan terhadap sesuatu ada untuk pertama kalinya dan struktur alamiah manusia sejak awal kelahirannya telah memiliki bawaan secara alamiah pada tiap individu. Islam sebagai agama fitrah tidak hanya sesuai dengan naluri keberagamaan manusia, bahkan menunjang pertumbuhan dan perkembangan fitrahnya. Hal ini menjadikan eksistensinya utuh dengan kepribadiannya yang sempurna. Pendidikan berbasis fitrah adalah upaya menemani, merawat, menumbuhkan dan membangkitkan semua potensi anak didik dengan tetap fokus pada sisi (terang) lebihnya. Sehingga dapat kita katakan bahwa pendidikan berbasis fitrah adalah pendidikan yang mengaitkan tujuan penciptaan seseorang dimuka bumi sehingga setiap orang akan mempunyai peran dalam peradabaan (misi hidup). Karena tujuan hidup tidak hanya menjadi bahagia tapi dapat bermanfaat untuk orang lain dan terhormat.
Konsep Manusia dan Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas Mulyadi
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6 No 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.v6i1.603

Abstract

Tulisan ini ingin memberikan sebuah wawasan inteletual tentang bagaimana konsep manusia dan pengaruhnya terhadap pendidikan Islam dari sudut pandang filsafat pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Al-Attas mencoba mendeskripsikan manusia untuk menelaah lebih dalam bagaimana konsep yang sesuai untuk pendidikannya. Berangkat dari konsep manusia tersebut, Al-Attas melakukan kritik terhadap konsep pendidikan Barat yang hanya mengedepankan aspek jasmaniah sebagai tolak ukur kesuksesan. Al-Attas menegaskan bahawa manusia adalah mahluk mulia yang terdiri dari ruh (ruh), jiwa (nafs), hati (qalb), dan intelek (‘aql). Oleh sebab itu maka pendidikan Islam harus menyentuh aspek-aspek tersebut secara mendalam untuk menciptkan mansuia sempurna. Proses menciptakan manusia sempurna itu, menurut Al-Attas harus diproses melui konsep pendidikan Islam yang disebut dengan Ta’dîb. Kata Kunci: Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Filsafat, Pendidikan, Manusia, Ta’dib.
Kapasitas Ulama Dalam Bernegara Muhammad Nuh Rasyid
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6 No 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.v6i1.601

Abstract

Dalam membangun bangsa yang maju besar dan beradab, agama memiliki peran yang sangat besar. Sebagai organisasi sosial keagamaan, sejak dulu ulama-ulama berperan sangat besar dalam mengayomi dan membangun masyarakat, baik melalui pendidikan, dakwah dan lain sebagainya. Peran ulama yang sedemikian besar itu diemban oleh para ulama tidak lain karena ulama adalah pewaris dari ajaran nabi. Sementara tugas ulama selain mengggali, merumuskan dan mengembangkan pemikiran keagamaan, juga memiliki tugas yang tidak kalah pentingnya dan bahkan sangat strategis yang berkaitan dengan masalah sosial dan kebangsaaan yaitu tugas membangun masyarakat dengan tujuan membentuk kepribadian. Dalam kaitan dengan masalah masyarakat, ulama masa kini memiliki beberapa tugas, salah satunya adalah pembangunan mental-spiritual, pembentukan kepribadian atau karakter masyarakat. Ini sangat penting agar lahir masyarakat yang memiliki sikap, memiliki ketegasan, memiliki prinsip serta memiliki tanggung jawab baik terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia serta terhadap bangsa dan Negara.
Pesantren dan Kitab Kuning Diyan Yusri
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6 No 2 (2019): Juli-Desember 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.v6i2.605

Abstract

Kitab kuning merupakan kitab yang dijadikan sumber belajar di pesantren dan lembaga pendidikan tradisional. Dalam tradisi pesantren, kitab kuning merupakan ciri dan identitas yang tidak dapat dilepaskan. Sebagai lembaga kajian dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, pesantren menjadikan kitab kuning sebagai identitas yang inheren dengan pesantren Abudin Nata menambahkan bahwa kita kuning merupakan hasil karya tulis Arab yang disusun oleh para sarjana muslim abad pertengahan, sekitar abad 16-18. Ciri umum kitab kuning sebagai berikut: al-kitab yang ditulis bertulisan Arab, (2)umumnya ditulis tanpa baris, bahkan tanpa tanda baca dan koma, (3)berisika ilmu keislaman, (4)metode penulisannya dinilai kuno, (5)dicetak di atas kertas yang berwarna kuning, (6)lazimnya dipelajari di pondok pesantren. Sejak awal mula berdirinya pesantren, tradisi membaca, mempelajari kitab klasik menjadi hal yang penting, bahkan menjadi sesuatu yang inheren di pesantren. Keberadaan kitab kuning ini menjadi kajian utama disebabkan pada masa itu pesantrenhanya mempelajari ilmu-ilmu keislaman saja, dan kitab-kitab klasik menjadi pilihan pang tepat serta akurat untuk dapat menggali keilmuan tentang Islam.
Peningkatan Kecerdasan Interpersonal Siswa Melalui Metode Debat Nani Endrisanti
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6 No 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.v6i1.604

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa pada mata pelajaran SKI di kelas VIII Tahfidz Putri MTs Ulumul Qur’an Langsa melalui metode debat. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK dalam penelitian ini dilakukan dua siklus dimana tiap siklus yang dilakukan akan dianalisis, kemudian diadakan perbaikan pada siklus selanjutnya sampai tujuan dari penelitian tercapai. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 29 siswa dikelas VIII Tahfidz Putri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan interpersonal siswa meningkat dengan cukup baik selama proses 2 siklus. Dimana pada siklus I sudah ada 24 dari 29 siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan tes kecerdasan interpersonal siswa dengan presentase 82.75%. Hasil belajar pada siklus II sudah ada 23 dari 29 siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan tes hasil belajar siswa dengan presentase 79.31%. serta aktivitas siswa yang juga semakin aktif setelah diterapkannya metode debat.
Argumentasi Filosofis al-Kindi, Ibn Rusyd, dan al-Farabi Tentang Kekekalan Alam Mulyadi .
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 7 No 1 (2020): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini ingin membahas tentang pedebatan empat filsuf Islam terkemuka mengenai qadimnya alam yang sampai hari ini masih terus menjadi topik yang terus menjadi perbincangan hangat oleh kalangan pengkaji filsafat dan para teolog. Dalam filsafat Islam hal ini tidaklah merupakan hal yang aneh untuk diperbincangkan. Para failasuf seperti al-Kindi, Ibn Rusyd, al-Farabi, dan al-Ghazali memiliki argumentasi tersendiri terhadap permasalahan qadim dan barunya alam. Seperti Ibnu Rusyd misalnya, dengan berbagai argimentasi yang terpengaruh oleh Aristoteles mengakatan bahwa alam ini qadim. Hal ini mendapat sanggahan keras dari al-Gazali yang ia tuangkan dalam bukunya Thahafuz al-Falasifah. Namun seperti yang kita ketahui bahwa al-Ghazali mengungkapkan kerancuan para failasuf ketika ia telah menjadi seorang sufi. Demikian pula dengan al-Kindi dan al-Farabi, mereka tetap bertahan dengan pendapatnya yang begitu kontroversial. Menganai hal qadim dan baharunya alam kita akan sedikit melihat beberapa argumen dari al-Kindi, Ibnu Rusyd, dan al-Farabi.

Page 11 of 28 | Total Record : 274