cover
Contact Name
Ahmad Syamsuddin
Contact Email
syamsuddin.iyf@gmail.com
Phone
+6281290969387
Journal Mail Official
bimasislam.ejournal@gmail.com
Editorial Address
Kantor Kementerian Agama, JL. MH. Thamrin No.6 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Bimas Islam
ISSN : 19789009     EISSN : 26571188     DOI : https://doi.org/10.37302/jbi
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Bimas Islam adalah terbitan berkala ilmiah yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Terbit pertama kali pada tahun 2008 dalam bentuk cetak hingga tahun 2018 dan ditingkatkan menjadi Jurnal Elektronik (OJS) pada tahun 2019. Mendapat akreditasi dari LIPI pada tahun 2016. Jurnal ini memuat Ringkasan Hasil Penelitian, Tinjauan Teori, Artikel Ilmiah yang dikemas secara sistematis dan kritis di bidang Bimbingan Masyarakat Islam secara luas.
Articles 310 Documents
Konsep Moderasi Dakwah dalam M. Quraish Shihab Official Website Mutataqin Al Zamzami
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 1 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i1.98

Abstract

Pesan-pesan dakwah seharusnya disampaikan secara bijaksana dan kajiannya sudah sepatutnya berada di wilayah koridor ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Di era digital sekarang para da’i semestinya juga melibatkan media massa. M. Quraish Shihab telah memberikan perumpamaan bagaimana berdakwah dengan media massa. Melalui M. Quraish Shihab Official Website ia memberikan wawasan keislaman, dan melalui website tersebut penulis menemukan sebuah konsep moderasi dakwah yang memberikan pesan ajaran Islam damai dengan 4 bentuk penyampaian, yaitu, berbentuk artikel, quote, e-poster, dan video youtube. Kata Kunci: Konsep, Moderasi, Dakwah, Website. Abstract Da'wah messages should be delivered wisely and the content of da'wah should be in the corridor area of Islamic teachings which are rahmatan lil amin alamin. In the digital era now the da'i should also carry out their da'wah by involving the mass media. M. Quraish Shihab has given parable of how to preach with the mass media. Through the M. Quraish Shihab Official Website he provides Islamic insights, and through the website the author has found a concept of M. Quraish Shihab's moderation da'wah. In his website, he gave messages of peaceful Islamic teachings in 4 forms, that is, in the form of articles, quotes, e-posters, and youtube videos. Keywords: Concept, Moderation, Preaching, the Website.
Dakwah Islam Moderat dan Realitas Politik Identitas dalam Masyarakat Meme Abd. Muid N. Nawawi
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 1 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i1.100

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk menganalisis problem realitas politik identitas di Indonesia dan hubungannya dengan meme-meme serta menawarkan solusi dari dakwah Islam moderat bagi problem tersebut. Jenis kajian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 2019 Indonesia. Data diperoleh dari penelusuran kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa politik identitas adalah alat yang efektif untuk memainkan emosi masyarakat meme demi meraup suara dalam Pemilihan Umum dan sebaliknya, meme-meme adalah alat yang efektif untuk membangkitkan politik identitas. Semua upaya itu dilakukan demi meraih kekuasaan. Posisi dakwah Islam moderat menjadi sangat penting dalam hal ini untuk menjadi solusi bagi perpecahan yang terjadi di dalam masyarakat karena dakwah Islam moderat lebih menekankan pada kepentingan universal daripada kepentingan identitas tertentu. Kata Kunci: da’wah, Islam moderat, politik identitas, meme Abstract This paper aims to analyze the problem of the reality of identity politics in Indonesia and its relationship with memes and offers a solution of moderate Islamic da'wah to the problem. This type of study is qualitative with the case study approach of the 2019 Indonesian Presidential Election and Legislative Election. Data obtained from library research. The results of the study show that identity politics is an effective tool to play the emotions of meme society in order to win votes in elections and vice versa, memes are effective tools to generate identity politics. All efforts were made in order to gain power. The position of moderate Islamic da'wah becomes very important in this case to be a solution to the divisions that occur in society because moderate Islamic da'wah emphasizes more on the universal interests rather than the interests of certain identities. Keywords: da’wah, moderate Islam, identity politics, memes
Dayah & Moderasi Dakwah di Aceh (suatu kajian terhadap dakwah di era digital) safriadi M. Nurdin
Jurnal Bimas Islam Vol. 13 No. 1 (2020): Jurnal Bimas Islam 2020
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v13i1.105

Abstract

Abstrak Penelitian ini berkesimpulan bahwa dayah di Aceh merupakan salah satu lembaga dakwah yang tertua nusantara bahkan di Asia Tenggara yang memiliki andil besar dalam menyebarkan dakwah di Nusantara. Keberhasilan dakwah yang dilakukan oleh dayah-dayah di Aceh dikarenakan bentuk dan gaya dakwahnya yang cenderung moderat. Moderat yang dimaksudkan di sini adalah dalam penyampaian dakwahnya selalu ditonjolkan ketinggian akhlak dan adab sopan santun, sehingga masyarakat memiliki kesan positif dalam setiap dakwah yang disampaikan, senantiasa menyiapkan bahan ceramah dari isi kitab kuning yang dipelajari di dayah/pesantren dan sudah di tashih oleh pimpinan pesantren. Dalam hal penyampaian dakwah di era digital ini, dayah di Aceh sudah mulai menggunakan kemajuan teknologi digital seperti youtube, facebook dan lain-lain, meskipun masih sedikit dayah-dayah di Aceh yang menggunakan media dalam penyampaian dakwahnya. Abstract This study concludes that dayah in Aceh was one of the oldest preaching archipelago institutions even in Southeast Asia which had big contribution in spreading da'wah in the archipelago. The success of da'wah by dayah-dayah in Aceh was due to the moderate da’wah form and style. Moderate here is in the delivery of da'wah always highlighted in morality and manners, so that the community has a positive impression in each preaching that is conveyed, always preparing lecture material from the contents of the Islamic book learned at the dayah / pesantren and already received by the pesantren leaders . In terms of the da’wah delivery in this digital era, dayah in Aceh have begun to use advances in digital technology such as youtube, facebook and others, even though there are still few dayah in Aceh who use the media in delivering their da'wah.
Filantropi Islam: Zakat Saham di Pasar Modal Syariah Indonesia Eja Armaz Hardi
Jurnal Bimas Islam Vol. 13 No. 1 (2020): Jurnal Bimas Islam 2020
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v13i1.106

Abstract

Abstrak Perkembangan kajian filantropi Islam beberapa dekade terakhir telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perluasan implemetasi objek zakat. Objek harta kena zakat menjadi fokus diskusi oleh beberapa sarjana, lembaga sosial keagamaan, dan pemerintah dalam mempercepat pertumbuhan zakat di Indonesia. Harta kekayaan perusahaan, zakat profesi, dan kepemilikan saham tidak luput menjadi objek harta kena zakat, hal ini didiskusikan dan diputuskan pada Muktamar ke-3 yang diselenggaran oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2009 di Sumatera Barat, kemudian pada tahun 2017 gagasan tersebut direalisasikan dengan kesepakatan kerjasama antara Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Pasar Modal Syariah Indonesia Bursa Efek Indonesia (PMS-BEI) dalam program Sedekah dan Zakat Saham Nasabah (SAZADAH). Dalam realisasinya, program tersebut membebankan kewajiban zakat kepada akumulasi portofilio investor bukan pada kekayaan perusahaan. Disamping itu program tersebut melibatkan berbagai pihak yang menjadikan alur distribusi zakat menjadi kompleks. Oleh karena itu menarik untuk melihat hubungan relasi sosial di antara pelaku filantropis dalam program SAZADAH di PMS-BEI tersebut. Dengan menggunakan pendekatan teori relasi sosial, artikel ini berkesimpulan bahwa implentasi zakat saham di PMS-BEI merupakan relasi yang saling menguntung kedua belah pihak, walaupun pola relasi dalam program tersebut masuk dalam kategori mediated-engagement strategies dengan pola contributory dan brokering philanthropy. Abstract The development of Islamic philanthropic studies in the last few decades has contributed significantly to the expansion of zakat objects implementation. The object of property subject to zakat becomes the focus of discussion by several scholars, religious social institutions, and the government in accelerating the growth of zakat in Indonesia. Company property, professional zakat and share ownership are zakat property objects, this matter was discussed and decided at the 3rd Congress held by the Indonesian Ulama Council (MUI) in 2009 in West Sumatra, then in 2017 the idea realized by a cooperation agreement between the National Amil Zakat Agency (BAZNAS) and the Indonesian Sharia Capital Market Indonesian Stock Exchange (PMS-BEI) in the Customer's Stock Alms and Zakat program (SAZADAH). In its realization, the program imposes zakat obligations on the accumulation of investor portfolios rather than on the company's wealth. Besides that the program involved various parties who made the distribution channel of zakat complex. Therefore, it is interesting to see the relationship of social relations among philanthropic actors in the SAZADAH program on the PMS-BEI. Using a social relations theory approach, this article concludes that the implementation of zakat shares on the PMS-BEI is a mutually beneficial relationship for both parties, even though the pattern of relations in the program falls within the category of mediated-engagement strategies with contributory and philanthropic brokering pattern.
One Day Service dalam Isbat Nikah Terpadu Bagi Penduduk Marjinal di Kecamatan Paliyan Tahun 2015 - 2019 Sabit Mustamil Mustamil
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.111

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan pernikahan tidak tercatat, peran penghulu dalam menyelesaikan pernikahan yang tidak tercatat, dan solusi hukum atas pernikahan yang tidak tercatat di sebagian masyarakat Kecamatan Paliyan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penggalian data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi dan observasi di desa yang menjadi tempat pelaksanaan one day service dalam isbat nikah terpadu bagi penduduk marjinal di Kecamatan Paliyan. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah pegawai KUA, PA, Dukcapil, Kasi Pelayanan Desa, Pendamping Keluarga Harapan (PKH), dan Dukuh serta peserta one day service dalam isbat nikah bagi pennduduk marjinal di Kecamatan Paliyan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belo nikah, kerubuhan gunung, lokasi yang jauh dan berbukit, kesadaran masyarakat rendah dan kurangnya pengawasan merupakan faktor-faktor yang menyebabkan pernikahan tidak tercatat. Kata kunci: pernikahan, isbat nikah, dan one day service Abstrct This study aims to describe the factors that cause unregistered marriages, the role of princes in completing unregistered marriages, and legal solutions to unregistered marriages in some communities in the Paliyan District. The research method used is descriptive qualitative. Data mining was carried out by interviewing, documenting and observing in the village where one day service was carried out in an integrated marriage for marginal residents in the Paliyan District. As for the informants in this study were employees of KUA, PA, Dukcapil, Head of Village Services, Hope Family Assistance (PKH), and Hamlet as well as one day service participants in marriage isbat for marginalized residents in Paliyan District. The results showed that marriage belo, mountain collapse, distant and hilly locations, low public awareness and lack of supervision are factors that cause unregistered marriages. Keywords: marriage, marriage determination, and one day service
Aktualisasi Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan Edy Sutrisno
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.113

Abstract

Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari suku, ras dan agama, yang berbeda-beda sehingga diperlukan toleransi dalam memahami semua perbedaan yang ada, begitu juga pada lembaga pendidikan kultur warganya juga beraneka ragam. Oleh sebab itu moderasi beragama sangat tepat sekali diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama pada masyarakat yang multikultural. Moderasi beragama sebagai jalan tengah dalam mengadapi perbedaan baik kelompok ekstrem maupun fundamental. Untuk menerapkan moderasi beragama dimasyarakat multikultural yang perlu dilakukan adalah; menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis laboratorium moderasi beragama dan melakukan pendekatan sosio-religius dalam beragama dan bernegara Kata Kunci: Moderasi Agama, Institusi, Pendidikan Indonesia is a pluralistic country consisting of different ethnicities, races and religions, so tolerance is needed in understanding all the differences that exist, as well as the cultural education institutions of its citizens are also diverse. Therefore religious moderation is very appropriate to be applied in national and state life, especially in multicultural societies, it is also expected that religious moderation is a middle way in dealing with differences in both extremes and fundamental groups. To implement religious moderation in multicultural societies, what needs to be done is; make educational institutions as a basis for religious moderation laboratories and take socio-religious approaches in religion and state. Keywords: The Religion Moderation, Education Institution
Moderasi Layanan Nikah di KUA Kecamatan Kumun Debai Natardi Hidayat
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.114

Abstract

Permasalahan yang disorot adalah peran Penghulu mewujudkan moderasi untuk kebersamaan umat guna meningkatkan layanan nikah di KUA Kec. Kumun Debai. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Penghulu mewujudkan moderasi untuk kebersamaan umat guna meningkatkan layanan nikah di KUA Kec. Kumun Debai. Sedangkan kegunaam penelitian ini adalah untuk memberikan masukan kepada peagawai KUA Kecamatan tentang cara mewujudkan moderasi untuk kebersamaan umat guna untuk meningkatkan layanan nikah. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian ini bersifat deskriptif eksplorartif (menggali). Fokus penelitian ini adalah berusaha untuk mendeskripsikan, membahas dan menggali gagasan pokok, yaitu moderasi layanan nikah. Sehingga diharapkan terwujudnya layanan nikah yang berorientasi pada moderasi untuk kebersamaan umat yang didukung oleh regulasi yang kuat, fasilitas yang memadai, pemahaman masyarakat yang tinggi, kerjasama lintas sekotral yang baik, kemampuan Penghulu yang mumpuni dan adanya pemberdayaan Penghulu yang kontinyu. Kata Kunci: Peran Penghulu, Moderasi, Layanan Nikah Abstract The highligted problem is how role of mariagge registrar attedants embodies moderation for ummah togetherness to improve marital services at Religius Affairs Office of Kumun Debai subdistrict. The purpose of the research is to find out the role of the mariagge registrar attendant i n creating moderation for ummah togetherness in order to improve marital services. This is a field research that is conducted by using qualitative explorative approach. The focus of the research is to describle, discuss and explore the main idea, namely the mederation of marital services. This is a field research that is conducted by using qualitative explorative apporach. The focus of research is to describe. Discuss and explore the main idea, namely the moderation of marital services. So that the realization of a marriage service orinted to moderation for ummah togetherness must be suported by a strong regulation, adequate facilities, high community understanding, good cross-sectoral cooperation, qualified marriage registrar attendant and the continuous empowerment and upgrading of the marriage registrar attendant. Keywords: The Role of the Marriage Registrar, Moderation, Marriage Services
Corak Moderasi Beragama Keluarga Mualaf Tionghoa (Studi Kasus Jamaah Masjid Lautze Jakarta Pusat) Uup Gufron
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.115

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui corak pemahaman moderasi beragama keluarga mualaf Tionghoa yang berada dalam binaan Masjid Lautze Pasar Baru Jakarta Pusat. Mayoritas mualaf binaan Masjid Lautze adalah dari kalangan etnis Tionghoa. Hal ini menjawab pertanyaan bagaimanakah corak yang menjadi kekhasan dalam moderasi beragama yang dijalani para mualaf etnis Tionghoa. Penelitian ini termasuk kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara langsung dengan responden yang relevan dan olah data. Berdasarkan data temuan, latar belakang para mualaf Tionghoa menjadi muslim dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yakni (1) faktor spiritualitas; (2) faktor rasionalitas; dari (3) faktor identitas. Faktor spiritualitas lebih dominan dibanding faktor lain, sehingga pemahaman moderasinya lebih mengedepankan perasaan kasih sayang, kelembutan hati, cinta-kasih, dan saling menghormati. Corak moderasi yang dimiliki para mualaf binaan Masjid Lautze dipengaruhi oleh sosok tokoh muslim etnis Tionghoa bernama Haji Karim Oei, yang merupakan tokoh Muhammadiyah yang memiliki pemahaman yang modernis (tajdȋdi), pembauran (istȋ’ab), dan moderat (tawāsuth), bersikap toleran (tasamuh); dan tidak ekstrim (tatharruf). Kata Kunci: moderasi; mualaf; Tionghoa; keluarga; Lautze Abstract This article aims to find out the religious moderation characteristics in Chinese Muslim Families who are under the auspices of the Masjid Lautze Pasar Baru, Central Jakarta. The majority of Mualaf guided by the Lautze Mosque are from the ethnic Chinese. This article answers the question of how the characteristic which become the uniqueness in religious moderation experienced by Chinese Mualaf. This study included descriptive qualitative by conducting direct interviews with relevant respondents and data processing. Based on data, the background of Chinese Mualaf to become Muslim is motivated by three factors, namely (1) the spirituality factor; (2) the rationality factor; from (3) identity factor. The spirituality factor is more dominant than other factors, so that the moderation understanding puts forward affection feeling, gentleness, love and mutual respect. The characteristic moderation of the Mualaf guided by the Lautze Mosque is influenced by the ethnic Chinese Muslim figure named Haji Karim Oei, who is a Muhammadiyah figure and a modernist (tajdȋdi), assimilation (istȋ’ab) and moderate (tawāsuth), tolerant (tasamuh); and not extremist (tatharruf). Keywords: moderation; mualaf; China; family; Lautze
Dita Milenial dalam Moderasi Peningkatan Pelayanan Penghulu (Studi Kasus di KUA Parindu) Muhammad Hasbi
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.117

Abstract

Artikel ini didasarkan pada penelitian di KUA Parindu pada awal tahun 2019 dan dilakukan untuk mengatasi beberapa masalah terkait tingginya jumlah pasangan menikah yang kurang iman (79%), mualaf (26%) dan jumlah penduduk Muslim yang minoritas (16,24%). Sebagai garda terdepan Kementerian Agama, penghulu Parindu melakukan tindakan prefentif untuk mencegah perceraian, aksi radikal dan ekstrem yang bisa muncul dengan mudah di wilayah ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dan menghasilkan penggunaan Dita Milenial. Istilah ini merupakan kepanjangan dari kata-kata ‘digital’, ‘tatap muka’ dan milenial. Strategi ini berdasar pada Al-Quran (Surah Ibrahim: 4) dan berdasar pada pemikiran, pertimbangan mendalam sehubungan dengan karakteristik generasi milenial dan kondisi zaman menghadapi era 4.0. Pada prakteknya, pemanfaatan digital dan tatap muka inovatif ini harus dilakukan bersama, kemudian peningkatan secara fisik menggunakan konsep ramah lingkungan harus direalisasikan di kantor. Kesemua hal yang dilakukan tersebut pada akhirnya menunjukkan moderasi dalam Islam. Kata Kunci: Dita Milenial; KUA Parindu, Penghulu, Layanan. Abstract This article is based on a research conducted at KUA Parindu in early 2019 and originally to overcome several problems related to the high number of married couples lacking in faith (79%), converts (26%), and the number of minority Muslims (16,24%). As the vanguard of Religion Ministry, the headman took a preventive measure to prevent divorce, extreme and radical actions that easily emerged in this area. This study used a qualitative-descriptive approach and resulted in the use of Dita Millennial. This term is an extention of words ‘digital’, ‘face to face’ and millennial. This strategy is based on Quran (Surah Ibrahim: 4), deep thought and consideration related to the characteristics of millennial generation and the conditions which facing the 4.0 era. Practically, digital usages and innovative face-to-face meetings must be done together, then physical improvement using green concept must be realized in the office. Those ultimately shows moderation in Islam. Keywords: Dita Milenial; KUA Parindu; Headman Service Improvement.
Literasi Media Sosial dalam Pemasyarakatan Sikap Moderasi Beragama engkos kosasih
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.118

Abstract

Media sosial saat ini berhasil membentuk kekuatan besar dalam membentuk perilaku manusia dalam kehidupan modern yang dinamis ini. Belakangan ini, media sosial merupakan fenomena baru yang sangat digandrungi masyarakat modern tanpa mengenal usia dan afiliasi sosial apapun. Alih-alih menggunakan untuk hiburan semata, tapi menjadi bumerang bagi diri sendiri. Masyarakat perlu mengetahui dibalik kebebasan media sebagai alat ekspresi diri dalam berpendapat, tetap ada berbagai ranah aturan serta etika yang harus dipenuhi. Dengan demikian pengguna medsos harus bersikap adil (tidak berlebihan) dalam menyikapi berbagai hal yang didapatkan, jangan sampai sikap keberpihakan terhadap sesuatu membuat kita terjebak dalam lubang kemadharatan dari medsos. Hadirnya tulisan ini diharapkan ada sikap yang berbeda dari para pengguna medsos, yaitu berfikir dan bersikap moderat terhadap hal-hal yang beredar di medsos, terutama moderat dalam hal beragama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang mana data yang dibutuhkan hanya sebatas dokumen-dokumen yang dianalisis sesuai dengan kebutuhan penelitian. Hasil dari penelitian ini bahwa bagaimana caranya seseorang sebagai pengguna medsos harus bisa menerapkan sikap wasaty atau adil dalam mengambil segala yang ada di dalamnya. Masyarakat (user medsos) harus bisa memilah dan memilih apa yang seharusnya diterima dan apa yang seharusnya ditolak. Hal ini terlebih terhadap hal-hal yang berbau dengan masalah agama, seperti berbagai doktrin jelek yang tersebar melalui medsos. Dengan demikian, masyarakat harus bisa menyaring berbagai informasi yang masuk dan harus bersikap moderat terlebih dahulu terhadap berbagai informasi tersebut, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk mengambil sikap. Kata Kunci: Literasi, Moderasi, Media Sosial. Abstract Social media is currently successfully forming a great force in shaping human behavior in this dynamic modern life. Lately, social media is a new phenomenon that is loved by modern society without knowing any age and social affiliation. Instead of using it for entertainment, but backfire for yourself. Society needs to know behind the freedom of the media as a means of self-expression in opinion, there are still various domains of rules and ethics that must be met. Thus the user of social media must be fair (not excessive) in responding to various things that are obtained, do not let the attitude of partiality towards something makes us trapped in the pit of harm from the social media. The presence of this article is expected to have a different attitude from the users of social media, which is to think and be moderate about things that are circulating in the social media, especially moderate in matters of religion. This study uses qualitative methods, where the data needed is only limited to the documents analyzed in accordance with research needs. The results of this study that how a person as a social media user must be able to apply a attitude of fairness or fairness in taking everything in it. Society (user social media) must be able to sort out and choose what should be accepted and what should be rejected. This is especially true of matters related to religious matters, such as various bad doctrines spread through social media. Thus, the community must be able to filter the various information that comes in and must be moderate to the various information before finally deciding to take a stand. Keywords: Literacy, Moderation, Social Media

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2025): Jurnal Bimas Islam Vol. 18 No. 1 (2025): Jurnal Bimas Islam Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Bimas Islam Vol. 17 No. 1 (2024): Jurnal Bimas Islam Vol. 16 No. 2 (2023): Jurnal Bimas Islam Vol. 16 No. 1 (2023): Jurnal Bimas Islam Vol. 14 No. 2 (2021): Jurnal Bimas Islam 2021 Vol. 14 No. 1 (2021): Jurnal Bimas Islam 2021 Vol. 13 No. 2 (2020): Jurnal Bimas Islam 2020 Vol. 13 No. 1 (2020): Jurnal Bimas Islam 2020 Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol 12 No 1 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol. 12 No. 1 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol. 11 No. 4 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 4 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 11 No. 3 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 3 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 2 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 11 No. 2 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 11 No. 1 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 1 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 10 No 4 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 4 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 3 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 3 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 2 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 9 No 4 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 4 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 3 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 3 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 2 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 2 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 1 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 4 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 4 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 3 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 3 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 2 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 1 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 1 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 7 No. 2 (2014): Jurnal Bimas Islam More Issue