cover
Contact Name
Kartianom
Contact Email
kartianom@gmail.com
Phone
+6285242704085
Journal Mail Official
jurnalannisa45@gmail.com
Editorial Address
Jl. HOS. Cokroaminoto No. 9, Watampone, 92731, Indonesia
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
An Nisa'
Core Subject : Social,
An Nisa is a scientific journal for disseminating results of conceptual research or studies on gender and child, is published two times (June and December) a year. An Nisa is managed by the Institute for Research and Community Service (LPPM) at Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone. The publications through An Nisa include results of research or conceptual studies about gender, women, and child that have never been published elsewhere. The An Nisa is intended for experts, academics, practitioners, state administrators, and NGOs. The aim of this journal is to provide a venue for academicians, researchers and practitioners for publishing the original research articles or review articles. The scope of the articles published in this journal deal with a broad range of topics in the fields ofgender and child.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "vol. 13 no. 1 (2020)" : 10 Documents clear
Pengaruh persepsi menikah dini terhadap pengambilan keputusan menikah dini pada remaja putri Miftah Ellyan Anggi Djabbar
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3979

Abstract

This research aimed to determine the effect of perceptions of early marriage on early marriage decision-making in young women in Gowa district. The subjects of this study were 307 married young women who were determined using the Kretjie table. The sampling technique was using the Purposive Sampling technique. Analysis of the data in this study using simple linear regression with the help of Lisrel 8.70 and SPSS 22 for windows. In terms of decision making, as many as 36% of young women agreed to early marriage, 34% were in the neutral category or did not know about early marriage, and 30% thought that young women did not agree with early marriage. In this study, the subjects taken were all married people early. Therefore, the category of disagreement can be interpreted that young women do not want to get married early, but young women eventually get married early due to several factors. Whereas in terms of perception, as many as 33% of young women consider early marriage is a good thing, 35% have a neutral opinion, and 32% consider early marriage is a negative thing. The results of the regression analysis showed that the perception of early marriage influences the decision of young women to get married early in Gowa district.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi menikah dini terhadap pengambilan keputusan menikah dini pada remaja putri di kabupaten Gowa. Subjek dari penelitian ini yaitu remaja putri yang telah menikah sebanyak 307 orang remaja putri yang ditentukan dengan menggunakan tabel Kretjie. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Analisis data dalam penelitian ini dengan menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan Lisrel 8.70 dan SPSS 22 for windows. Dalam hal pengambilan keputusan sebanyak 36% remaja putri setuju menikah dini, 34% berada pada kategori netral atau belum mengetahui mengenai pernikahan dini, dan 30% berpendapat tidak setuju dengan menikah dini.Pada penelitian ini, subjek yang diambil semuanya merupakan orang-orang yang menikah dini. Sehingga untuk kategori tidak setuju dapat diartikan bahwa mereka sebenarnya tidak ingin menikah dini, tetapi mereka akhirnya menikah dini disebabkan oleh beberapa faktor. Sedangkan dalam hal persepsi sebanyak 33% remaja putri menganggap pernikaha dini merupakan hal yang baik, 35% memiliki persepsi netral, dan 32% menganggap pernikah dini merupakan hal negatif. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa persepsi menikah dini berpengaruh terhadap keputusan remaja putri untuk menikah dini di kabupaten Gowa.
Mendidik anak usia dini dalam islam Mukdar Boli
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3984

Abstract

The title of this article is obtained as a description born of various phenomena which are dilemmatic, visible, observed and analyzed in the dynamics of family life. It is especially in terms of the children's education at zero until three years children of which curriculum is rare. The curricullum is not like the formal education which has already a certain curriculum. The zero until three years children need to get a genuine education. It because education in the form of affection, attention, guidance and others will form the soul of the children. So, in the future, they will become learners, be able to socialize, be able to work together, practice concentration and practice patience since an early age. Someday, our children will test our current education system. The stage of educating in Islam to the zero until three years children is the best time for parents to instill a noble character in children by modeling good behavior and good words. The parents also need to show their affection gently. That is why, at the age of 0-3 years children, Islam teaches the parents to treat their children like kings. They must know that their children really need them. It is not only for fulfilling their needs, but also the parents must care the children with love and empathy.Judul tulisan ini diangkat sebagai sebuah deskripsi yang lahir dari berbagai fenomena yang dilematis, dapat dilihat, dicermati dan dianlisis dalam dinamika kehidupan keluarga, khususnya pendidikan anak di usia nol sampai tiga tahun yang kurikulumnya langka tidak seperti biasanya kurikulum pendidikan formal yang sudah ada kurikulumnya. Anak usia nol sampai tiga tahun perlu mendapatkan pendidikan yang sungguh- sungguh karena dengan pendidikan berupa kasih sayang, perhatian, bimbingan dan lain-lain akan membentuk jiwa anak nanti menjadi pembelajar sejak dini, mampu bersosialisasi sejak dini, mampu bekerja sama sejak kecil, melatih konsentrasi dan melatih kesabaran sejak dini, sebab kelak, anak-anak kita yang akan menguji system pendidikan kita saat ini. Tahap mendidik anak secara Islam pada usia nol sampai tiga tahun adalah waktu terbaik bagi orang tua untuk menanamkan perilaku mulia pada anak dengan mencontohkan perilaku dan perkataan yang baik. Orang tua juga perlu menunjukkan kasih sayangnya dengan lembut. Itu sebabnya, pada usia 0-3 tahun bahkan selanjutnya, Islam mengajarkan orang tua untuk memperlakukan anaknya seperti raja. Setiap orang tua harus tahu bahwa anak-anaknya sangat membutuhkannya. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya saja, lebih dari itu, orang tua harus melakukannya dengan penuh kasih dan empati.
Tipologi pola pengasuhan ibu bekerja, kemandirian dan adversity quotient anak Umi Nur Hanifah
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3975

Abstract

This study aims to analyze the typology of caring for working mothers towards the independence and adversity quotient of children. The environment around many women has a dual role which certainly influences the style of parenting towards children which leads to the formation of delinquency, the level of achievement and behavior of children. The process experienced by children who have working mothers has many demands and responsibilities in facing challenges that encourage the formation of independence and adversity quotient. Independence and adversity quotient become the context of research because not all children are able to be left by both parents working without paying attention, serving and protecting them. Yhis study uses a qualitative approach, a method of collecting data by conducting in-depth interviews, observation and documentation. The results of this study indicate that mothers who work as factory workers apply permissive parenting and children already have independence but do not yet have adversity quotient, mothers working as private employees apply authoritative parenting and children do not yet have independence but already have adversity quotient, mothers work as employees the country implements authoritative parenting the child has independence and has an adversity quotient, while the mother works as a market trader adopts an authoritative parenting and the child does not yet have independence but already has an adversity quotient.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipologi pengasuhan ibu bekerja terhadap kemandirian dan adversity quotient anak. Dilingkungan sekitar banyak wanita memiliki peran ganda yang tentunya berpengaruh pada gaya pengasuhan terhadap anak yang mengarah pada terbentuknnya kenakalan, tingkat prestasi dan perilaku anak. Proses dialami anak yang mempunyai ibu bekerja memiliki banyak tuntutan maupun tanggung jawab dalam menghadapi tantangan sehingga mendorong dalam pembentukan kemandirian dan adversity quotient. Kemandirian dan adversity quotient menjadi konteks penelitian karena tidak semua anak sanggup ditinggal kedua orang tuanya bekerja tanpa memperhatikan, melayani serta melindungi mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data dengan melakukan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang bekerja sebagai buruh pabrik menerapkan pola asuh permisif dan anak sudah memiliki kemandirian tetapi belum memiliki adversity quotient, ibu bekerja sebagai pegawai swasta menerapkan pola asuh otoritatif dan anak belum memiliki kemandirian tetapi sudah memiliki adversity quotient, ibu bekerja sebagai pegawai negeri menerapkan pola asuh otoritatif anak memiliki kemandirian dan memiliki adversity quotient, sedangkan ibu bekerja sebagai pedagang pasar menerapkan pola asuh otoritatif dan anak belum memiliki kemandirian tetapi sudah memiliki adversity quotient.
Pentingnya pendidikan dan pola asuh orang tua dalam penanaman nilai karakter pada anak usia dini Ariadna Mulyati
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3980

Abstract

Parental involvement is an important aspect in an education, especially in Early Childhood Education (PAUD). This is because parents are the first educators of children at home and are the first to interact with the child. The poor quality of an educational institution will be seen through its relationship with parents. However, some studies have shown that parents' involvement in education is still very low. This is certainly caused by various factors. Therefore, in this article it is explained about early childhood education, parenting patterns, and character planting in early childhood. The purpose of writing this article is to increase the understanding and attention of parents to the involvement of parents themselves, thereby giving rise to the desire to seek or improve the implementation of parental involvement in children's education more meaningfully and beneficial for the development and learning of the child, for parents and for the institution itself.Keterlibatan orang tua merupakan aspek penting dalam sebuah pendidikan terutama dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hal tersebut karena orang tua merupakan pendidik pertama anak di rumah dan merupakan orang yang pertama kali berinteraksi dengan anak. Baik buruknya kualitas sebuah lembaga pendidikan akan dapat dilihat melalui hubungannya dengan orang tua. Akan tetapi beberapa penelitian menunjukkan hasil bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan masih sangat rendah. Hal tersebut tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Olehnya itu dalam artikel ini dijelaskan mengenai pendidikan anak usia dini, pola asuh orang tua, dan penanaman karakter pada anak usia dini. Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan perhatian orang tua terhadap keterlibatan orang tua itu sendiri, sehingga memunculkan keinginan untuk mengupayakan atau meningkatkan pelaksanaan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak dengan lebih bermakna dan bermanfaat bagi perkembangan dan belajar anak, bagi orang tua maupun bagi lembaga itu sendiri.
Single parent role in child psychological development Nurul Istiani; Athoillah Islamy; Nur Laili Handayani
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3976

Abstract

This study aims to examine how single parent parenting is applied in fostering children's psychological development. This research is a qualitative research in the form of observation and interview studies. Research subjects (respondents) in this study are single parents due to divorce and death in Krapyak Village, Pekalongan City, Central Java. Meanwhile, the theory used as an analysis knife is the theory of parenting and the theory of psychology of child development. This study concludes that there are three parenting styles performed by single parents in Krapyak Village, Pekalongan City. First, democratic parenting. This parenting pattern has an impact on the child's behavior according to their psychomotor development. Second, authoritarian parenting. This parenting has implications for irritability, cowardice, irritability and emotionality. Third, permissive parenting. This parenting produces behavior in accordance with their own desires and causes the child to be aggressive, rebellious, and lack self-confidence.Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana pengasuhan orang tua tunggal diterapkan dalam membina perkembangan psikologis anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berupa observasi dan studi wawancara. Mata pelajaran penelitian (responden) dalam penelitian ini adalah orang tua tunggal akibat perceraian dan kematian di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sementara itu, teori yang digunakan sebagai pisau analisis adalah teori pengasuhan dan teori psikologi perkembangan anak. Penelitian ini menyimpulkan ada tiga gaya pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua tunggal di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan. Pertama, pengasuhan demokrasi. Pola pengasuhan ini berdampak pada perilaku anak sesuai dengan perkembangan psikomotor mereka. Kedua, pengasuhan otoriter. Pengasuhan ini memiliki implikasi untuk lekas marah, pengecut, lekas marah dan emosionalitas. Ketiga, pengasuhan permisif. Pengasuhan ini menghasilkan perilaku sesuai dengan keinginan mereka sendiri dan menyebabkan anak menjadi agresif, memberontak, dan kurang percaya diri.
Pelaksanaan pendidikan agama islam bagi anak dalam rumah tangga Husnussaadah Husnussaadah
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3981

Abstract

Education in the family is the first and foremost education for children.Education provided consciously by parents to their children is intended so that children have good attitudes and behavior in accordance with Islamic teachings. In the household environment, parents as educators must be able to carry out their duties and obligations properly and correctly, especially in instilling and developing children's faith and Islam, so that the challenges of Islamic religious education from outside the household can be overcome as well as possible, because there are some aspects of Islamic religious education in the family environment cannot be left entirely to schools, boarding schools, and to other educational institutions. Islamic education materials that must be delivered regarding faith, worship, morals and matters relating to it. Submission of material in the sense of planting educational values must use appropriate methods so that the values conveyed can be understood and applied in everyday life.Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Pendidikan yang diberikan secara sadar oleh orang tua kepada anak-anaknya ini ditujukan agar anak-anak memiliki sikap dan tingkah laku yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Dalam lingkungan rumah tangga, orang tua selaku pendidik harus dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dan benar, terutama dalam menanamkan dan mengembangkan keimanan dan ke-Islaman anak, agar tantangan pendidikan agama Islam dari luar rumah tangga dapat teratasi dengan sebaik-baiknya, karena terdapat beberapa aspek dari pendidikan agama Islam dalam lingkungan keluarga tidak dapat diserahkan sepenuhnya ke sekolah, pesantren, dan ke lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Materi pendidikan Islam yang wajib disampaikan mengenai keimanan, ibadah, akhlak dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Penyampaian materi dalam arti penanaman nilai-nilai pendidikan harus menggunakan metode yang tepat sehingga nilai-nilai yang disampaikan dapat dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Belanja online menjadi trend remaja selama pandemi covid-19 Sari Utami
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3977

Abstract

The COVID-19 pandemic which requires everyone to stay at home, beginning with working (Work from House), studying (school), trading, or even hanging out with friends, are very difficult nowadays. The pandemic in Indonesia has now entered a serious stage and forces the government to implement PSBB (Large-scale Social Restrictions) in some provinces and regions. Not only does it limit everyone to interact or communicate directly, but this program also indirectly makes every shop or cafe closed or limited to do transactions. Covid-19 pandemic has succeeded in accelerating and even forcing business transformation such as food and drinks and selling activities from traditional to online through the principle of digitalization. Presently, all parties are forced to do online activities and apply the principle of digitalization, otherwise economic and business activities will die. This article uses a descriptive qualitative analysis method that looks at the phenomena of online trading transactions during the Covid-19 pandemic. Among the various transaction users (online shopping) at this time, teenagers share a variety of creativity and do not feel run out of ideas while staying at home, they choose to use food delivery services related to their consumptive nature and also order and shop online to buy an item or deliver goods without leaving the house by doing online transactions and transferring payments or Cash on Delivery (COD). The millennial generation will not feel limited or restricted during this pandemic. Since basically, being a digital native is their nature, therefore when everything has to be done digitally without having to get involved directly they will remain productive.Pandemi COVID-19 yang mengharuskan semua orang untuk tinggal di rumah, dimulai dengan bekerja (Work from House), belajar (sekolah), berdagang, atau bahkan bergaul dengan teman-teman, sangat sulit saat ini. Pandemi di Indonesia saat ini telah memasuki tahap serius dan memaksa pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa provinsi dan daerah. Tidak hanya membatasi semua orang untuk berinteraksi atau berkomunikasi secara langsung, program ini juga secara tidak langsung membuat setiap toko atau kafe tutup atau terbatas untuk melakukan transaksi. Pandemi Covid-19 telah berhasil mempercepat dan bahkan memaksa transformasi bisnis seperti makanan dan minuman serta kegiatan jual dari tradisional ke online melalui prinsip digitalisasi. Saat ini, semua pihak terpaksa melakukan kegiatan online dan menerapkan prinsip digitalisasi, jika tidak, kegiatan ekonomi dan bisnis akan mati. Artikel ini menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif yang melihat fenomena transaksi perdagangan online selama pandemi Covid- 19. Di antara berbagai pengguna transaksi (belanja online) saat ini, remaja berbagi berbagai kreativitas dan tidak merasa kehabisan ide selama tinggal di rumah, mereka memilih untuk menggunakan layanan pesan- antar makanan yang berkaitan dengan sifat konsumtif mereka dan juga memesan dan berbelanja online untuk membeli barang atau mengirimkan barang tanpa meninggalkan rumah dengan melakukan transaksi online dan mentransfer pembayaran atau Cash on Delivery (COD). Generasi milenial tidak akan merasa terbatas atau dibatasi selama pandemi ini. Karena pada dasarnya, menjadi digital native adalah sifat mereka, oleh karena itu ketika semuanya harus dilakukan secara digital tanpa harus terlibat langsung mereka akan tetap produktif.
Hadits perintah shalat pada anak usia 7 - 10 tahun dalam perspektif psikologi perkembangan Abdullah Jawawi
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3982

Abstract

The research in this thesis is motivated by a hadith that instructs prayer for children at the age of 7 years and when it is 10 years old children are instructed to be hit for not performing prayers. In both phases in developmental psychology is a different phase of age, both in terms of growth and development and in other things. So, of course, it takes extra ways and methods to educate and teach it to pray. The command that requires parents to introduce a child to prayer when he is 7 years old and beat him when the child is reluctant to carry it out at the age of 10 is in principle not contrary to developmental psychology. In developmental psychology, at the age of 7, parents when teaching children to pray with practical methods are much more effective than theory. If at the age of 10 a child does not want to perform the command of prayer, then the parents are commanded to hit. This Hadith commands punishing a child who defies the commandments or violates the prohibition. The blow here means punishment according to the conditions, it could be that the one who is hit is his inner by isolation or dis likeness, angry attitude and others. Or a physical blow if necessary, which in principle the child can change himself for the better according to orders and prohibitions.Penelitian dalam skripsi ini dilatarbelakangi oleh sebuah hadis yang memerintahkan sholat untuk anak di usia 7 tahun dan ketika sudah menginjak usia 10 tahun anak diperintahkan untuk dipukul dikarenakan tidak melaksanakan sholat. Pada kedua fase ini dalam psikologi perkembangan merupakan fase umur yang berbeda, baik dalam hal pertumbuhan dan perkembangan maupun dalam hal yang lainnya. Maka, tentunya dibutuhkan cara dan metode yang ekstra untuk mendidik dan mengajarkannya untuk sholat. Perintah yang mengharuskan orang tua untuk mengenalkan anak untuk shalat ketika berumur 7 tahun dan memukulnya ketika anak enggan untuk melaksanakannya pada saat berumur 10 tahun pada prinsipnya tidak bertentangan dengan psikologi perkembangan. Dalam psikologi perkembangan, pada umur 7 tahun orangtua apabila mengajarkan anak shalat dengan metode praktik jauh lebih efektif dari pada teori. Jika pada usia 10 tahun ini seorang anak tidak mau melaksanakan perintah shalat, maka orang tua diperintah memukul. Hadis ini perintah memberikan hukuman bagi anak yang membakang perintah atau melanggar larangan. Pukulan disini maknanya adalah hukuman yang sesuai dengan kondisi, bisa jadi yang dipukul adalah batinnya dengan cara diisolasi atau sikap tak suka, sikap marah dan lain- lain. Atau pukulan pada fisik jika diperlukan, yang pada prinsipnya anak bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik sesuai dengan perintah dan larangan.
Fakta poligami sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan: Kajian lintasan tafsir dan isu gender Wely Dozan
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3978

Abstract

This paper is strongly influenced by the fact that polygamy is a form of violence against women in the study of the trajectory of gender interpretations and issues. The focus of this research will be to analyze polygamy in the discourse of thought and gender issues are seen as an environment and have a detrimental impact on women. The jargon of tafsir scholars in understanding the text of the Koran, namely "Shalihun likulli zammani wa makkani" according to the circumstances of time and place. So that the Al-Qur'an is not actually an implementation as a concept to do polygamy for men, but the Al-Quran is implemented based on contextual, namely monogamy as an effort to uphold women's justice. The research approach approach is literature study approach which is a literature study in answering research problems through various literatures, namely books, journals, articles, and supporting references. The results of this study indicate that, polygamy in the concept of gender has occurred violence against women in all actions based on differences in sex through, physical, sexual, and psychological, including on certain threats. Violence against women, especially in domestic relationships, is often referred to as gender-based violence. The study of interpretation as a solution to eliminating problems and upholding justice through a contextual interpretation and paying attention to the objectives of the Qur'an for society, namely by means of monogamy (marrying someone) and rejecting polygamy in the context of marriage.Tulisan ini mendiskusikan terkait fakta poligami sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dalam kajian lintasan tafsir dan isu gender. Fokus penelitian ini akan menganalisis poligami dalam wacana pemikiran tafsir dan Isu gender dipandang sebagai salah satu diskriminasi dan berdampak merugikan terhadap perempuan. Adapun jargon ulama tafsir dalam memahami teks Al-Qur’an yaitu “Shalihun likulli zammani wa makkani” sesuai keadaan waktu dan tempat. Sehingga Al-Qur’an sejatinya bukan dipahami sebagai konsep untuk melakukan poligami bagi laki-laki, melainkan Al-Qur’an dipahami berdasarkan kontekstual yaitu monogami sebagai salah satu upaya untuk menegakkan keadilan terhadap perempuan. Adapun pendekatan penelitian yaitu pendekatan studi literatur yang merupakan studi pustaka dalam menjawab persoalan penelitian melalui berbagai literatur yaitu buku, jurnal, artikel, dan refrensi yang mendukung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, poligami dalam konsep gender telah terjadi kekekerasan terhadap perempuan dalam semua tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin melaui, fisik, seksual, dan psikologis, termasuk pada ancaman tertentu. Kekerasan terhadap perempuan khususnya dalam hubungan rumah tangga, sering disebut sebagai kekerasan berbasis gender. Kajian tafsir sebagai solusi untuk menghilangkan problematika dan menegakkan keadilan melaui tafsir bernuasa kontekstual dan memperhatikan tujuan Al-Qur’an bagi masyarakat yaitu dengan jalan monogami (menikahi seseorang) dan menolak poligami dalam konteks perkawinan tersebut.
Pola asuh demokratis orangtua pada saat pandemi covid-19 Baharuddin Baharuddin
AN-NISA Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v13i1.3983

Abstract

The coronavirus pandemic (COVID-19) gives an impactonthe lives of all families throughout the world. There are so many activities such as learning, working and event religious activities being asked to take place from home, while appeals to keep a safe physical distance from others continue to be called out so that all children's activities are carried out at home. In the current condition, the child may experience a condition that is less stable and even impaired his physical and mental health. The current condition of the Covid-19 pandemic needs to pay attention to family members, especially children, every parent should alwaysbe there when the child needs and wants to communicate well with parents. Therefore, it is a must for the parents to provide comfort to children from various productive activities or activities. The importance of applying democratic parenting,showing and paying respect tonon- absolutefreedom, with affectionate guidance between children and parents, providing a rationale and objective explanation of thechildren’srequests and opinions are not appropriate. In this parenting, children will learn a sense of responsibility and the ability to act following existing norms and doing activities at home properly including the learning process. This research is a qualitative study that focuses on the phenomenology in the events that occurred during the Covid-19 pandemic regarding democratic parenting towards children while staying at home. Democratic parenting mentioned in this research is by educating children, establishing good communication in which parents still determine the rules but considering the situation and always provide support and needs of children.Pandemi virus corona (COVID-19) memberikan dampak kehidupan semua keluarga di seluruh dunia. Ada begitu banyak kegiatan seperti belajar, bekerja dan acara kegiatan keagamaan yang diminta berlangsung dari rumah, sementara imbauan untuk menjaga jarak fisik yang aman dari orang lain terus dipanggil agar semua kegiatan anak dilakukan di rumah. Dalam kondisi saat ini, anak mungkin mengalami kondisi yang kurang stabil dan bahkan terganggu kesehatan fisik dan mentalnya. Kondisi pandemi Covid-19 saat ini perlu memperhatikan anggota keluarga, terutama anak-anak, setiap orang tua harus selaluber di sana ketika anak membutuhkan dan ingin berkomunikasi dengan baik dengan orang tua. Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan bagi orang tua untuk memberikan kenyamanan kepada anak-anak dari berbagai kegiatan atau kegiatan yang produktif. Pentingnya menerapkan pengasuhan demokrasi, menunjukkan dan memberikan penghormatan kepada tonon- absolutefreedom, dengan bimbingan penuh kasih sayang antara anak- anak dan orang tua, memberikan alasan dan penjelasan objektif tentang kekelurakatan dan pendapat anak-anak tidak tepat. Dalam pengasuhan ini, anak-anak akan belajar rasa tanggung jawab dan kemampuan bertindak mengikuti norma-norma yang ada dan melakukan aktivitas di rumah dengan baik termasuk proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang berfokus pada fenomena dalam peristiwa yang terjadi selama pandemi Covid-19 mengenai pengasuhan demokrasi terhadap anak selama berdiam diri di rumah. Pengasuhan demokrasi yang disebutkan dalam penelitian ini adalah dengan mendidik anak, menjalin komunikasi yang baik di mana orang tua tetap menentukan aturan namun mempertimbangkan situasi dan selalu memberikan dukungan dan kebutuhan anak.

Page 1 of 1 | Total Record : 10