cover
Contact Name
Anas Yuliadi Nurdin
Contact Email
kaderabahasa@gmail.com
Phone
+6281356666626
Journal Mail Official
anasmanado@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Sulut, Jalan Diponegoro nomor 25, Manado
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Kadera Bahasa
ISSN : 20884850     EISSN : 26232049     DOI : -
Kadera Bahasa is a journal that publishes results of research in language and literature studies, including theoretical linguistics, applied linguistics, interdisciplinary linguistics, oral tradition, philology, semiotics, pure literature, applied literature, interdisciplinary literature, also literature and identity politics. Kadera Bahasa is published twice a year, on April and Agust. All published articles have gone through the review process by well-read editors. Kadera Bahasa is published by Balai Bahasa Sulawesi Utara, Indonesia.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2017): Kadera Bahasa" : 5 Documents clear
PERKEMBANGAN FUNGSI PRAGMATIK PADA ANAK USIA 2,5 TAHUN (STUDI KASUS PADA AZZA AQILA JIHAN SYUASABITHA) Ali Kusno
Kadera Bahasa Vol 9, No 1 (2017): Kadera Bahasa
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.018 KB) | DOI: 10.47541/kaba.v9i1.4

Abstract

The golden age of kid was a sensitive period. During this period, the kid was specially receiving the stimulant from theenvironment. The period of kid’s language development was various, dependent on the characteristics. This study relatedto the function development of kid’s language. The example case to the girl 2,5 years old, Azza Aqila Jihan Syuasabitha(Jihan). Jihan was growing in the family environment and child caring. The kid’s language was developing quickly. Theusage of language was devoted to Jihan’s interaction with family members. Collecting data method in this study was theobservation. The subject in this study was the child’s author. This study aimed to describe the development of Jihan’sspeech as child 2,5 years old based on the language function grouping according to M.A.K Halliday. The result of thestudy showed the kid can apply all of language function usage. Those are the instrumental, the regulatory, the interactional,the personal, the heuristic, the imaginative, and the representational. Therefore, she was interpreted has the ability aboveaverage the children the same age. The achievement was influenced by biological factors (parents who have good languageskills) and social environment (in the house, in the school, and so on) which can stimulate Jihan’s language development AbstrakMasa keemasan anak merupakan periode sensitif (sensitive periods). Selama masa tersebut anak secarakhusus mudah menerima stimulus-stimulus dari lingkungan. Tempo perkembangan bahasa anakcenderung variatif tergantung karakteristik anak. Penelitian ini berhubungan dengan perkembanganfungsi bahasa anak. Contoh kasus, Azza Aqila Jihan Syuasabitha (Jihan) anak perempuan yang berusia2,5 tahun. Jihan besar dalam lingkungan keluarga dan taman penitipan anak. Perkembangan fungsibahasanya pesat. Pemakaian bahasa dikhususkan pada interaksi Jihan dengan anggota keluarga.Pengumpulan data dalam penelitian dengan teknik pengamatan berperan serta. Subjek penelitian iniadalah anak penulis sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan tuturanJihan sebagai anak yang berusia 2,5 tahun berdasarkan pengelompokan fungsi bahasa menurut M.A.KHalliday. Hasil penelitian menunjukkan anak itu mampu menerapkan keseluruhan fungsi penggunaanbahasa, yakni instrumental, regulatoris/dogmatis, interaksional, personal, heuristik, imajinatif, danrepresentasional. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa anak itu memiliki kemampuan diatas rata-rata anak seumur dia. Pencapaian tersebut dipengaruhi oleh faktor biologis (orang tua yangmemang memiliki kemampuan berbahasa yang baik) dan lingkungan sosial (di rumah, sekolah, dantempat lain).
CERITA ANAK: ANTARA “GIZI” DAN “RACUN” DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER ANAK Umar Sidik
Kadera Bahasa Vol 9, No 1 (2017): Kadera Bahasa
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3712.574 KB) | DOI: 10.47541/kaba.v9i1.5

Abstract

This paper describes “nutritious” and “poisonous” stories due to developing characters of children to maturity. Thisstudy used pragmatic approach. Data sampling was used by purposive sampling, while the data gathering was used byreading and recording. Analysis was conducted by understanding, interpretation, and meaning, and then presented indescription. The result show that children stories are able to be “nutrition/protein” when they contain personal andeducational values for children, like teaching about patient, struggle, effort, care, obedience, pious, and so on. On thecontrary, the stories are able to be “poison/disease” when they contain vengeance, malice, emotion, tricky, laziness, andso on. AbstrakTulisan ini mendeskripsikan cerita yang “bergizi” dan cerita yang dapat menjadi “racun” bagi usiaperkembangan anak menuju kedewasaannya. Kajian dalam tulisan ini menggunakan pendekatanpragmatik. Sampel data dilakukan dengan teknik purposive sampling, sedangkan pengumpulan datadengan cara membaca dan mencatat sesuai dengan tujuan pengkajian. Penganalisisan dilakukan denganpemahaman, interpretasi, dan pemaknaan, kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi. Hasil yangdiperoleh menunjukkan bahwa cerita anak dapat menjadi “gizi/protein” manakala mengandung nilaipersonal dan nilai edukatif bagi anak, misalnya mengajarkan kesabaran, keuletan, kegigihan, kepedulian,kepatuhan, kesalehan, dan sejenisnya. Namun, cerita akan menjadi “racun/penyakit” manakala memuatpenanaman sifat dendam, kedengkian, emosional, kelicikan, kemalasan, dan sejenisnya.
KATA ACIL “BIBI” DALAM BAHASA BANJAR BERDASARKAN KATEGORI SAPAAN Rissari Yayuk
Kadera Bahasa Vol 9, No 1 (2017): Kadera Bahasa
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.465 KB) | DOI: 10.47541/kaba.v9i1.1

Abstract

The use of greetings in a speech community required the rules of their use. Lacks of understanding of the problem willmake a person violate the rules of politeness in language culture that prevail in a language community. The problemstudied in this research is how the use of the word Acil “Auntie” in Banjar language based on greeting category. Thepurpose of this study is to describe the use of the word Acil “Auntie” in Banjar language based on the greeting category.The type of this research is descriptive qualitative. Data collection was taken in Gambah village, Hulu Sungai SelatanRegency, South Kalimantan Province. Data collection was held on January 2017 to June 2017. It was done by usingobservation method with tapping and involved conversation technique. The data analysis was done by comparing. Thedeterminant of this method is a non-language element. His method of determining the tool is outside the language orpragmatic, so that the determinant is the opposite. The researcher took three steps of work. They are collection, dataprocessing, and analysis presentation. The result of this research is the use of greeting Acil “Auntie” in Banjar peoplebased on greeting category consisting of affection category, kinship, honorific greeting, nickname, and “calling” category. AbstrakKata sapaan dalam sebuah komunitas tutur penting diketahui penggunaannya. Ketidakpahaman akanmasalah tersebut akan membuat seseorang menyalahi aturan budaya santun berbahasa yang berlakupada komunitas bahasa tersebut. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu bagaimana penggunaankata Acil “Bibi” dalam bahasa Banjar berdasarkan kategori sapaan. Tujuan penelitian adalahmendeskripsikan penggunaan kata Acil “Bibi” dalam bahasa Banjar berdasarkan kategori sapaan.Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan di desa Gambah, KabupatenHulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Waktu pengumpulan data selama bulan Januari—Juni 2017. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik sadap dan teknik libatlangsung. Pengkajian data melalui metode padan. Metode ini alat penentunya adalah di luar bahasaatau pragmatik sehingga yang menjadi penentu adalah lawan bicaranya. Penulis menempuh tigalangkah kerja, yaitu tahap pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian hasil analisis data. Hasilpenelitian yang diperoleh, yaitu penggunaan kata sapaan Acil “Bibi” dalam masyarakat Banjarberdasarkan kategori sapaan terdiri atas kategori panggilan sayang, hubungan kekerabatan, sapaanhormat, panggilan julukan, dan kategori “memanggilkan”.
TINDAK TUTUR PENYIDIK DALAM INTEROGASI KASUS KDRT (KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA) DI POLRESTA BANJARMASIN NFN Hestiyana
Kadera Bahasa Vol 9, No 1 (2017): Kadera Bahasa
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.684 KB) | DOI: 10.47541/kaba.v9i1.2

Abstract

This study discusses the form of investigative speech acts in interrogation cases of domestic violence in Polresta Banjarmasin.This research focusing on the pragmatic domain aims to describe the form of investigative speech acts in interrogatingcases of domestic violence in Polresta Banjarmasin. The method used is descriptive method with a qualitative approachbecause the data obtained in the form of text of the Minutes of Examination (BAP) sourced from the jurisdiction ofPolresta Banjarmasin. The source of this research data is the BAP in the case of domestic violence in the jurisdiction ofPolresta Banjarmasin in December 2016, while the data in this research is in the form of investigator’s speech ininterrogation in the case of domestic violence. The investigators’ texts in the interrogation are contained in the victimwitness BAP, suspect BAP, and witness BAP. Data were collected by using techniques, namely: (1) observation, (2)documentation study, and (3) interview. The result of the research shows that investigation act in interrogation in BAPcase of KDRT in jurisdiction of Polresta Banjarmasin found three forms of speech acts used by investigator, that is: (1)speech act representative, (2) speech act directive, and (3) acts expressive. The categories of functions that emerged in thisstudy were (1) speech act representative function states, reporting function, demanding function, function of giving testimony,recognizing function, and show function; (2) speech acts urgent function directive, suggesting function, and requestingfunction; and (3) expressive speech acts blame function. From the results it is known that the most widely used speechactors are assertive speech acts with six function categories, followed by the use of directive speech acts with three functioncategories, and the least found use of expressive speech acts with one function category. This research may serve as areference for further research on pragmatic and linguistic forensic studies with the aim of developing applied linguisticscience.Keywords: speech AbstrakPenelitian ini membahas bentuk tindak tutur penyidik dalam interogasi kasus Kekerasan Dalam RumahTangga (KDRT) di Polresta Banjarmasin. Penelitian yang memfokuskan pada ranah pragmatik inibertujuan mendeskripsikan bentuk tindak tutur penyidik dalam interogasi kasus KDRT di PolrestaBanjarmasin. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif karenadata yang diperoleh berupa teks Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang bersumber dari wilayah hukumPolresta Banjarmasin. Sumber data penelitian ini yaitu BAP pada kasus KDRT di wilayah hukumPolresta Banjarmasin bulan Desember tahun 2016, sedangkan data dalam penelitian ini berupa tuturantuturan penyidik dalam interogasi pada kasus KDRT. Tuturan-tuturan penyidik dalam interogasi tersebutterdapat dalam BAP saksi korban, BAP tersangka, dan BAP saksi. Data dikumpulkan denganmenggunakan teknik, yaitu: (1) observasi, (2) studi dokumentasi, dan (3) wawancara. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tindak tutur penyidik dalam interogasi yang terdapat dalam BAP kasus KDRTdi wilayah hukum Polresta Banjarmasin ditemukan tiga bentuk tindak tutur yang digunakan penyidik,yaitu: (1) tindak tutur representatif, (2) tindak tutur direktif, dan (3) tindak tutur ekspresif. Kategorifungsi yang muncul dalam penelitian ini ialah (1) tindak tutur representatif fungsi menyatakan, fungsimelaporkan, fungsi menuntut, fungsi memberikan kesaksian, fungsi mengakui, dan fungsi menunjukkan;(2) tindak tutur direktif fungsi mendesak, fungsi menyarankan, dan fungsi meminta; dan (3) tindaktutur ekspresif fungsi menyalahkan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa tindak tutur yangpaling banyak digunakan penyidik adalah tindak tutur asertif dengan enam kategori fungsi, diikutioleh penggunaan tindak tutur direktif dengan tiga kategori fungsi, dan yang paling sedikit ditemukanpenggunaan bentuk tindak tutur ekspresif dengan satu kategori fungsi. Penelitian ini dapat menjadiacuan bagi penelitian selanjutnya pada kajian pragmatik dan linguistik forensik dengan tujuanpengembangan keilmuan linguistik terapan.
INTERPRETASI SIMBOL DALAM CERPEN CORAT-CORET DI TOILET KARYA EKA KURNIAWAN Agus Yulianto
Kadera Bahasa Vol 9, No 1 (2017): Kadera Bahasa
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.082 KB) | DOI: 10.47541/kaba.v9i1.3

Abstract

The purpose of this study is to find out the forms of symbols and meanings in the short story Corat-Coret di Toilet.Thus, the problem of this study is how the form of symbols and what are the meanings in the story Corat-Coret diToilet. This research uses semiotic structural approach with qualitative method. The data of this research are the symbolsfound in short story Corat-Coret di Toilet. These symbols are then interpreted into meanings. Based on the analysis, itcan be seen there are eight symbols in the analyzed short story found in the campus toilet wall where the walls have fullof graffiti as the symbols of shackles intellectual and marginalized aspirations. AbstrakTujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk-bentuk simbol yang terdapat dalam cerpen Corat-Coretdi Toilet serta makna yang dikandungnya. Dengan demikian, masalah dalam penelitian ini adalahbagaimanakah bentuk simbol-simbol yang terdapat dalam cerpen Corat-Coret di Toilet dan apa maknanya.Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural semiotik dengan metode kualitatif. Data penelitianini adalah simbol-simbol yang terdapat dalam cerpen Corat-Coret di Toilet. Simbol-simbol ini kemudiandiinterpretasikan berupa makna-makna. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa terdapatdelapan simbol dalam cerpen yang dianalisis salah satunya adalah dinding toilet kampus yang penuhdengan coretan dengan sendirinya merupakan simbol yang mengandung makna terpasungnya aspirasiintelektual dan termarginalkannya aspirasi tersebut.

Page 1 of 1 | Total Record : 5