cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta" : 25 Documents clear
PENGARUH INTERAKSI ANTARA BAP DAN IAA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS TALAS SATOIMO (Colocasia esculenta (L.) Schott var. antiquorum) SECARA IN VITRO Muhammad Ilham; Sugiyono Sugiyono; Lucky Prayoga
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.206 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1725

Abstract

Satoimo (Colocasia esculenta (L.) Schott var. antiquorum) is a type of taro with small tuber size (small corm taro) and called Japanesse taro or satoimo. The conventional method of satoimo propagation takes relatively long time, therefore propagation techniques of satoimo shoot in vitro can be an alternative method to meet the increasing need of satoimo seed. The objectives of research were to study the interaction effect BAP and IAA on multiplication of satoimo shoot as well as to determine the best concentrations of BAP and IAA for satoimo shoot multiplication. This research has been conducted experimentaly using a Completely Randomised Design (CRD) with a factorial treatment pattern. The first factor was BAP concentration (B) with 4 levels i.e B1 : 5 µM, B2 : 7,5 µM, B3 : 10 µM and B4 : 12,5 µM. The second factor was IAA concentrations (I) with 4 levels i.e I1 : 1 µM, I2 : 2 µM, I3 : 3 µM and I4 : 4 µM. The combination of these two factors resulted in 16 treatment combinations. Each combinations repeated 3 times, there were 48 experimental units. The variables observed were taro shoot growth with parameters measured included the number of shoot, leaf and root produced. The data obtained were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 95% level of confidence, followed by a Least Significant Difference (LSD) Test at 5% error rate. The research results showed that the interaction betweem BAP and IAA stimulated shoot and root formation during multiplication of satoimo shoot in in vitro culture. The addition of 5 µM BAP and 2 µM IAA resulted in the best multiplication rate of shoot satoimoin in vitro culture.
Stok Karbon pada Perkebunan Jambu Biji (Psidium guajava) di Desa Ketenger Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas amallia trisetyo dewi; Eming Sudiana; Edy Yani
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.966 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1754

Abstract

Karbon dioksida merupakan kandungan yang paling dominan pada gas rumah kaca. Gas rumah kaca dapat diturunkan kadarnya dengan cara menyerap gas CO2 secara alami. Pohon memiliki kemampuan dalam menyerap CO2 dan menyimpannya sebagai biomassa pada bagian tubuhnya. Pohon jambu (Psidium guajava) merupakan tumbuhan yang memiliki kemampuan dalam menyerap dan menyimpan CO2 dalam biomassa tubuhnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah karbon yang dapat diserap P. guajava berdasarkan variasi umur dan tegakannya, serta mencari hubungannya terhadap jumlah stok karbon yang terkandung dalam biomassa pohon. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik sampling berkelompok (cluster). Sampel dibagi menjadi 3 kelompok usia (2 tahun, 5 tahun, dan 9 tahun). Analisis data dilakukan dengan analisis varian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total stok karbon meningkat seiring bertambahnya umur pohon. Stok karbon pada usia pohon < 2 tahun adalah 0,22 ton/ha, usia 5 tahun sebesar 1,43 ton/ha, dan usia 9 tahun sebesar 2,34 ton/ha. Hasil menunjukkan adanya hubungan antara usia pohon dengan stok karbon sebesar 87,4% dan 12,6% stok karbon dipengaruhi oleh faktor lain.
Induksi Perakaran Talas Satoimo (Colocasia esculenta (L.) Schott var. antiquorum) dengan Jenis dan Konsentrasi Auksin yang Berbeda Secara In Vitro Lia Yulianasari; Sugiyono Sugiyono; Lucky Prayoga
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.076 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1789

Abstract

Satoimo (Colocasia esculenta (L.) Schott var. antiquorum) adalah salah satu jenis talas yang biasa disebut talas Jepang. Jepang merupakan negara konsumen satoimo terbesar di dunia, yang menggunakannya sebagai makanan pokok selain beras. Pengembangan bibit satoimo dengan jumlah yang banyak dapat dilakukan secara in vitro. Salah satu tahapan penting dalam kultur in vitro adalah pembentukan sistem perakaran yang baik. Tanaman utuh (plantlet) dengan sistem perakaran yang baik akan meningkatkan keberhasilan aklimatisasi dari kondisi in vitro ke lingkungan in vivo. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh jenis dan konsentrasi auksin, serta menentukan jenis dan konsentrasi auksin terbaik pada perakaran talas satoimo dalam kultur in vitro. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan rancangan petak terpisah (split-plot design). Sebagai petak utama adalah jenis auksin (A) yang meliputi IAA, IBA dan NAA. Sebagai anak petak adalah konsentrasi auksin (K) yang digunakan dan terdiri atas 4 taraf yaitu 0; 3; 6; dan 9 µM. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Variabel yang diamati adalah perakaran satoimo dengan parameter yang diukur meliputi waktu kemunculan akar, panjang akar, jumlah akar, jumlah tunas, dan jumlah daun. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis of variance (ANOVA) dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil analisis yang menunjukkan pengaruh perlakuan yang nyata, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan IAA dengan konsentrasi 3 µM menghasilkan pengaruh terbaik untuk perakaran talas satoimo.
Hubungan Kualitas Air Denagn Kelimpahan Fitoplankton Di Segara Anakan Bagian Timur Cilacap Jawa Tengah Hasby Ghoni Asiddiqi; Agatha Sih Piranti; Erwin Ardli Riyanto
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.624 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1761

Abstract

Phytoplankton is the primary producer whose existence depends not only on the nutrient. The eastern part of Segara Anakan waters experienced changes where the decline in quality which received input from organic and inorganic wastes and residential, industrial and factory wastes of Holcim and Pertamina factories. The purpose of this research is to study the water quality and to study the relationship between water quality and abundance of phytoplankton at the eastern part of Segara Anakan. The result showed that Water quality in Segara Anakan waters in the eastern part of Cilacap consists of several parameters that beyond the quality standards according to the Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 of 2004 such as pH, Nitrate, Ammonia, Phosphate, and TSS. Water temperature is a physical factor which has a strong negative correlation with the abundance of phytoplankton, followed by TSS as a physical factor which has a positive correlation. The chemical factor which has a positive correlation with abundance are TDS, Nitrite and pH, followed by Phosphate, Salinity, Ammonia, and Nitrate which has a negative correlation with the abundance of phytoplankton. Key Words: Environmental factor, phytoplankton, Segara Anakan, Spatial variation, temporal variation.
Karakteristik Morfologi Polen Sebagai Sumber Pakan Lebah Trigona sp. di Desa Serang Purbalingga Salma Fauzia; Sukarsa Sukarsa; Wiwik Herawati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.17 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1809

Abstract

Wilayah dataran tinggi memilikiBerpotensi untuk dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan, pertanian, dan mendukung perkembangan beberapa jenis lebah penghasil madu diantaranya adalah Trigona sp. Kelimpahan sumber pakan yang tinggi dapat meningkatkan produksi madu lebah Trigona. Polen merupakan sumber protein, sedangkan nektar berperan sebagai sumber karbohidrat dalam pakan Trigona. Keragaman jenis pakan Trigona dapat diidentifikasi dari karakter morfologi polen yang dibawa oleh lebah ke dalam sarang serta dibandingkan dengan karakter morfologi polen pada beberapa bunga di sekitar sarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur morfologi polen dari bunga yang ada di sekitar sarang dan polen yang ada di sarang lebah Trigona. Penelitian ini dilakukan di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, terletak di Kabupaten Purbalingga. Penelitian dilakukan dengan metode survei, sampel polen diambil dari bunga yang ada di sekitar sarang dan yang ada di dalam sarang, sampel dipreparasi dengan menggunakan metode asetolisis. Variabel yang digunakan adalah karakter morfologi polen dengan parameter berupa: unit, bentuk, ukuran, apertura, dan ornamentasi polen. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari 17 familia yang tercakup dalam 23 spesies tumbuhan yang ada di sekitar sarang lebah Trigona sp. didapatkan hasil karakter morfologi yang bervariasi. Unit polen monad, bentuk polen spheroidal sampai prolate, ukuran kecil sampai besar, apertura monosulcate, monoporate, triporate, tricolpate, tricolporate, tetracolpate dan hexacolpate serta ornamentasi clavate, scabrate, reticulate, bireticulate, baculate, psilate, echinatedan scabrate. Pengamatan polen di dalam sarang menunjukkan adanya 11 spesies polen yang dapat diamati dan 10 diantaranya identik dengan polen dari bunga di sekitar sarang. Seluruh polen yang diamati memiliki unit polen monad sedangkan karakter lainnya bervariasi dari bentuk polen spheroidal sampai prolate, ukuran kecil sampai besar, apertura monosulcate, monoporate, tricolporate, dan tricolpate serta ornamentasi scabrate, reticulate, psilate, scabrate dan echinate. Kata kunci: Bunga, Karakter Morfologi, Polen,Trigona sp.
Kekayaan Spesies dan Tingkat Trofik Komunitas Ikan yang Tertangkap di Waduk Penjalin Dzakiyyah Atikah; Nuning Setyaningrum; Carmudi Carmudi
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.329 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1791

Abstract

Waduk Penjalin yang berlokasi di Kabupaten Brebes merupakan danau buatan yang untuk pariwisata ataupun perikanan tangkap. Hasil dari perikanan tangkap di Waduk Penjalin cukup bervariasi tidak hanya pada satu jenis ikan, namun beberapa jenis juga dapat diperoleh. Beberapa jenis ikan tersebut merupakan jenis ikan yang habitat awalnya di sungai, lalu membentuk komunitas di waduk karena pembendungan aliran sungai. Perubahan habitat ikan-ikan tersebut mempengaruhi tingkat pemanfaatakan pakan ikan di suatu ekosistem (tingkat trofik), sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kekayaan spesies ikan yang tertangkap di Waduk Penjalin, serta mengetahui tingkat trofik komunitas ikan yang tertangkap di Waduk Penjalin. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan 5 stasiun pengambilan sampel. Hasil data jenis ikan akan dianalisis secara deskriptif dan dilakukan analisis perhitungan tingkat trofik dari data jenis pakan yang ditemukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 11 spesies ikan di Waduk Penjalin, yaitu ikan betutu (Oxyeleotris marmorata), nila gift (Oreochromis sp.), nila hitam (Oreochromis niloticus), manila (Parachromis managuensis), nilem (Osteochilus vittatus), tawes (Barbonymus gonionotus), mas (Cyprinus carpio), lele dumbo (Clarias gariepinus), lele lokal (Clarias batrachus), uceng (Nemacheilus fasciatus), dan julung-julung (Dermogenys pusilla). Ikan pada tingkat trofik tertinggi adalah betutu dan lele dumbo, pada tingkat trofik sedang adalah manila, tawes dan lele lokal, serta tingkat trofik terendah adalah nila gift, nila hitam, nilem, dan mas. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa terdapat 11 spesies ikan di Waduk penjalin, yaitu 2 spesies merupakan ikan karnivora, 3 spesies ikan omnivora cenderung karnivora, dan 4 spesies termasuk ikan omnivora cenderung herbivora.
Identification and Collection of Macro Fungi (Basidiomycota: Agaricales) From Baturraden Botanical Garden, Banyumas Dhea Rifa Rahmah Edyawati; Nuniek Ina Ratnaningtyas; Atik Retnowati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.417 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1765

Abstract

Agaricales is a group of macrofungi which comprises of many edible and poisonous members. Agaricales is characterized by having a fruiting body that is fleshy in some species and few species are not fleshy, lamellae, and stipe. The group usually grows well in quite moist areas and it cannot be found in dry conditions. The Indonesian Agaricales has not been intensively studied and there is still very few information on its diversity. While in fact, the diversity of Indonesian Agaricales is high due suitable environment and humidity for these fungi to grow. However, there are only a few species that have been identified. Under the circumstances above, this research is aimed to identify the Indonesian Agaricales, particularly from Baturraden Botanical Garden, Banyumas, Central Java and to collect the specimens as dry herbarium. The research involved collection, description, identification, preservation, and documentation of specimens, and the method used a survey with purposive random sampling. The collected Agaricales were identified by using both macromorphological and micromorphological characters. The macromorphological characters as shape, size, color, margin, surface, the flesh of the pileus, lamellae, and stipe were examined. The micromorphological characters as spores and the basidium were examined. Nine specimens had been collected in Baturraden Botanical Garden and were identified to 6 genera that belong to 4 families and 2 unidentified species, namely Hydropus sp., Mycena sp., Panellus sp., Psathyrella sp., Simocybe sp., DRRE 002, DRRE 010.
KEHADIRAN RAYAP Schedorhinotermes javanicus (F: RHINOTERMITIDAE) PADA TONGGAK POHON JATI (Tectona grandis) DAN WANGKAL (Albizia procera) DI CAGAR ALAM BANTARBOLANG PEMALANG JAWA TENGAH Hena Himawanti; Imam Widhiono; Hery Pratiknyo
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.355 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1695

Abstract

Rayap menjadikan kayu sebagai sumber makanan sekaligus sebagai tempat tinggal (shelter). Di hutan, terdapat banyak tonggak kayu sebagai sumber makanan rayap. Rayap akan dihadapkan pada banyak pilihan makanan sehingga rayap akan memilih tipe makanan yang paling disukai.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kehadiran rayap Schedorhinotermes javanicus (familia Rhinotermitidae) pada Tonggak Pohon Jati (Tectona grandis) dan Wangkal (Albizia procera) di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik sampling diatur dengan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK). Sebagai plot utama adalah kedalaman masuk hutan (0 m, 50 m, 100 m, 150 m dan 200 m) dari tepi hutan, sedangkan ulangan sekaligus blok berupa kelompok umur tonggak sejak pemotongan. Spesimen rayap diambil pada tonggak kayu Jati (Tectona grandis) dan Wangkal (Albizia procera) yang terdapat pada area 0 m sampai 200 m dari tepi hutan. Dengan memperhatikan umur tonggak sejak pemotongan pohon. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari umur tonggak dan jarak tonggak dari batas tepi hutan dengan kehadiran rayap S. javanicus pada tonggak kayu Jati (Tectona grandis) dan Wangkal (Albizia procera).
Pertumbuhan dan kandungan flavonoid bayam merah (Alternanthera amoena Voss) pada media tanam dengan pemberian asam humat dan urea Rezza Adianti; Elly Proklamasiningsih; Nurtjahjo Dwi Sasongko
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.947 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1792

Abstract

Bayam merah (Alternanthera amoena Voss) merupakan tanaman sayur yang mengandung banyak serat, vitamin, mineral serta flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organikasam humat dan anorganik ureaterhadap pertumbuhan dan kandungan flavonoid tanaman bayam merah dan mengetahui konsentrasiasam humat dan urea yang paling berpengaruh, serta interaksi keduanya dalam meningkatanpertumbuhan dan kandungan flavonoid tanaman bayam merah. Penelitian termasuk eksperimental denganRancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri atas dua faktor dengan 4 taraf. Faktor pertama pemberian asam humat konsentrasi 0 (kontrol); 4 g.kg-1; 8 g.kg-1; dan 12 g.kg-1. Faktor kedua berupa pemberian urea dengan taraf konsentrasi 0 (kontrol); 0,4 g.kg-1; 0,6 g.kg-1; dan0,8 g.kg-1;masing masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali.Data dianalisis dengan ANOVA (Analysis of Variance kemudian dilanjutkan dengan uji BNT. Pemberian pupuk urea pada konsentrasi 4 g.kg-1adalah konsentrasi yang paling efektif dalam meningkatkan bobot basah dan bobot kering, namun jika urea yang dikombinasikan dengan asam humat pada semua konsentrasi yang diterapkan tidak menunjukkan adanyaperbedaan yang signifikan untuk semua parameter, yaitu bobot basah, bobot kering serta kandungan flavonoid. Kata kunci: Alternanthera amoena Voss, asam humat, flavonoid, pertumbuhan, urea
Genetic Diversity Among Three Cultivars Of Peanut (Arachis hypogaea L.) Based On Rapd Markers Suryadi Suryadi; Alice Yuniaty; Agus Hery Susanto
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.332 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1709

Abstract

Peanut (Arachis hypogea) is a typical plant species of tropical regions that has high economic value. The plantation is widely spread over many areas and the production is being pushed to meet the increasing demand. Peanut breeding program is aimed to improve genetic quality, mainly with resepct of production and thus information on genetic diversity is necessary as a basis for consideration in breeding, management and sustainable utilization. One approach to analyse genetic diversity of peanut is by using molecular markers. Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) is a widely used molecular marker for genetic diversity analysis. Therefore, the aim of this study was to assess genetic diversity of peanut cultivars, i.e. Jerapah, Kancil, and Hypoma 2, based on RAPD markers. The study was conducted in a survey method, in which three individuals of each cultivar were analyzed using PCR-RAPD technique employing twelve primers, i.e. OPA-1, OPA-2, OPA-9, OPA-13, OPB-2, OPB-3, OPB-4, OPB-5, OPB-7, OPB-11, OPB-12 and OPJ-07. Data analysis based on morphological data is also included. Molecular analysis revealed that only 7.55% polymorphic band was obtained, while most of the bands were monomorphic, indicating very low variation among the cultivars. The phenogram that constructed based on literature showed that Kancil was closer to Jerapah cultivar, while RAPD-based dendogram showed that Hypoma 2 was closer to Kancil cultivar.

Page 1 of 3 | Total Record : 25