cover
Contact Name
Teguh Sandjaya
Contact Email
teguh.sandjaya@unpad.ac.id
Phone
+62818713818
Journal Mail Official
m.fedryansah@unpad.ac.id
Editorial Address
Alamat Surat Menyurat Jalan Raya Bandung Sumedang KM 21, Gedung B. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial
ISSN : -     EISSN : 26203367     DOI : https://doi.org/10.24198/focus.v3i1
Core Subject : Social,
Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial merupakan jurnal ilmiah yang lebih diarahkan untuk memuat kajian dari praktik pekerjaan sosial dalam menangani dan mengelola berbagai potensi, hambatan, tantangan, dan masalah yang ada di masyarakat. Implementasi kegiatan layanan juga melibatkan partisipasi masyarakat dan mitra. Kegiatan pelayanan diorganisasikan menjadi kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Departemen Kesejahteraan Sosial, baik program studi sarjana (S1) maupun program studi pasca sarjana (S2 & S3) khususnya, namun kepada para pemerhati pekerjaan sosial pada umumnya sehingga bisa menjadi sumbangan yang besar dalam perkembangan praktik pekerjaan sosial di Indonesia. Praktik pekerjaan sosial ini tidak hanya praktik secara nyata juga mencakup praktik dalam kajian pustaka yang dapat berupa pengembangan metode praktik maupun praktik dalam arti yang luas.
Articles 196 Documents
OPERATIONALIZING SPIRITUAL CAPABILITY: A COMMUNITY-BASED EDUCATION MODEL FOR PARENTING FACILITATORS Wibowo, Hery; A Rachim, Hadiyanto; G.K. Basar, Gigin; Humaedi, Sahadi
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 8, No 2 (2025): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Desember 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v8i2.69836

Abstract

Tulisan ini memperkenalkan sebuah model pendidikan multidimensional yang dirancang untuk menyiapkan fasilitator pengasuhan berbasis komunitas melalui pendekatan spiritual capability. Model ini merujuk pada psikologi Islam, Capability Approach dari Amartya Sen, serta pedagogi pekerjaan sosial. Tujuannya adalah membentuk fasilitator yang tidak hanya mampu memberikan bimbingan teknis dalam pengasuhan, tetapi juga menumbuhkan fitrah, ketangguhan, dan literasi spiritual dalam keluarga.Secara metodologis, model ini dikembangkan melalui studi literatur yang mencakup tiga tahapan: sintesis konseptual, prototipe kurikulum, dan implementasi lapangan. Tahap konseptual memetakan konstruksi utama dari khazanah keilmuan Islam klasik (Al-Balkhi, Al-Ghazali) dan kerangka kontemporer (Rothman, Awaad, Keshavarzi), yang menghasilkan rubrik kapabilitas spiritual yang disesuaikan untuk konteks pengasuhan.Temuan menunjukkan bahwa kapabilitas spiritual bukan sekadar sifat personal, melainkan kompetensi yang dapat diajarkan dan diukur, dengan implikasi transformatif bagi kesejahteraan sosial. Dengan mengintegrasikan pendidikan berbasis jiwa dalam fasilitasi pengasuhan, model ini menawarkan jalur pengembangan karakter, ketahanan kesehatan mental, dan pemberdayaan lintas generasi. Model ini mengundang para pembuat kebijakan, pendidik, dan praktisi untuk membayangkan ulang sistem dukungan pengasuhan melalui lensa spiritual yang mendalam.  This paper introduces a multidimensional education model designed to prepare community-based parenting facilitators through the lens of spiritual capability. Drawing from Islamic psychology, Amartya Sen’s Capability Approach, and social work pedagogy. It aims to cultivate facilitators who not only deliver technical parenting guidance but also nurture fitrah, resilience, and spiritual literacy within families.Methodologically, the model was developed through a literature study involving three stages: conceptual synthesis, curriculum prototyping, and field implementation. The conceptual phase mapped key constructs from classical Islamic scholarship (Al-Balkhi, Al-Ghazali) and contemporary frameworks (Rothman, Awaad, Keshavarzi), resulting in a spiritual capability rubric tailored for parenting contexts. Findings indicate that spiritual capability not merely as a personal trait but as a teachable, assessable competency with transformative implications for social welfare. By embedding soul-based education into parenting facilitation, the model offers a pathway for character development, mental health resilience, and intergenerational empowerment. It invites policymakers, educators, and practitioners to reimagine parenting support systems through a spiritually grounded lens.
PENINGKATAN PERILAKU KOMUNIKASI KESPRO IBU KEPADA REMAJA MELALUI EXPERIENTIAL LEARNING: STUDI DI KELURAHAN PONDOK CINA, DEPOK Afifah, Afra
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 8, No 2 (2025): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Desember 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v8i2.66525

Abstract

Data dari Global School-based Student Health Survei (GSHS) tahun 2023 menunjukkan peningkatan tren perilaku seks pranikah pada remaja. Depok, sebagai kota yang mendapat penghargaan Kota Layak Anak, juga masih menghadapi masalah perilaku berisiko remaja terkait perilaku seks pranikah. Pengetahuan yang memadai tentang kesehatan reproduksi dan seksual (kespro) berperan sebagai faktor protektif yang menjauhkan remaja dari seks pranikah. Ibu memegang peran krusial sebagai agen sosialisasi utama dalam keluarga. Namun, para ibu sering kali mengalami hambatan dalam menyampaikan informasi seputar kespro kepada anak remajanya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh pelatihan dengan model experiential learning terhadap peningkatan kapasitas ibu sebagai agen sosialisasi yang mencakup: pengetahuan kespro, kemampuan komunikasi efektif, dan perilaku komunikasi kespro dengan anak remaja awal (10–15 tahun). Dengan menggunakan desain eksperimen lapangan one-group pretest-posttest, penelitian ini melibatkan tiga sesi pelatihan tatap muka dan penugasan praktik di rumah. Hasilnya, pelatihan dengan model pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) terbukti secara signifikan (p<0.05) berhasil meningkatkan perilaku komunikasi kespro ibu kepada anak remaja, baik secara intensitas maupun variasi topik kespro. Meski demikian, intervensi ini tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada peningkatan pengetahuan kespro dan perilaku komunikasi efektif subjek. Temuan ini mengimplikasikan bahwa ibu tetap dapat menjalankankan perannya dalam edukasi kespro kepada remaja, meskipun belum memiliki pengetahuan kespro atau keterampilan komunikasi efektif yang memadai.  Data from the 2023 Global School-based Student Health Survey (GSHS) show an increase in the prevalence of risky sexual behaviors among adolescents. Depok, despite its repeated recognition as a Child-Friendly City, continues to face challenges regarding adolescents’ premarital sexual activity. Adequate knowledge of sexual and reproductive health (SRH) serves as a protective factor in deterring adolescents from engaging in such behavior. In this context, mothers play a pivotal role as the primary socialization agents within the family. However, mothers often encounter barriers when communicating SRH information to their children. Therefore, this study aims to evaluate the impact of experiential learning-based training on enhancing the capacity of mothers as socialization agents, specifically regarding their SRH knowledge, effective communication skills, and SRH communication behavior with young adolescents (aged 10 – 15 years). Using a one-group pretest-posttest field experiment design, the intervention consisted of three in-person training sessions and take-home practical assignments. The results demonstrate that the experiential learning model significantly improved (p<0.05) mothers’ SRH communication behavior with their adolescents children, both intensity and variety of SRH topics discussed. Nevertheless, the intervention did not show a significant effect on improving mothers’ SRH knowledge or their effective communication skills. These findings imply that mothers can still fulfill their role in adolescent SRH education, even in the absence of comprehensive SRH knowledge or effective communication skills.    
STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PADA PROGRAM PAHLAWAN EKONOMI NASIONAL (PENA) Sinarta, Ode Esa; Salwa, Salwa; Rachim, Hadiyanto Abdul; Nurwati, Nunung
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 9, No 1 (2026): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Juli 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v9i1.67234

Abstract

Program Pahlawan Ekonomi Nasional (PENA) merupakan salah satu kebijakan pemerintah Indonesia dalam rangka menanggulangi masalah kemiskinan. Program ini meliputi 3 bentuk kegiatan, yaitu pemberian bantuan usaha, pelatihan usaha, dan pendampingan usaha bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang menerima program bantuan sosial dari pemerintah. Tujuan program PENA adalah membangun mental dan kemampuan kewirausahaan KPM sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya dan mengakhiri kepesertaannya pada berbagai program bantuan sosial. Kementerian Sosial RI selaku inisiator dan eksekutor program PENA mengklaim bahwa tingkat keberhasilan program PENA mencapai 98,9%. Hal ini menarik untuk dikaji terkait bagaimana program PENA menerapkan strategi pemberdayaan sehingga mencapai hasil yang luar biasa tersebut. Penelitian yang telah dilakukan terhadap program PENA masih sangat sedikit. Temuan-temuannya belum mendeskripsikan strategi pemberdayaan masyarakat pada implementasi program PENA. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pemberdayaan masyarakat pada program PENA. Studi ini menggunakan metode literature review dengan mengumpulkan dan menganalisis artikel jurnal ilmiah, artikel berita, dan dokumen peraturan perundang-undangan yang relevan dengan program PENA dan strategi pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini mendapati temuan bahwa implementasi program PENA menggunakan strategi pemberdayaan planned capacity development. Strategi ini mengkombinasikan model intervensi community capacity development dengan social planning/policy. Di samping itu, program PENA juga menggunakan pendekatan pemberdayaan berupa strength-perspective.
PEMBANGUNAN KEBERLANJUTAN OLEH PT. UNILEVER INDONESIA GUNA MENINGKATKAN UMKM MASYARAKAT LOKAL Humaedi, Sahadi; Raharjo, Santoso Tri; Darwis, Rudi Saprudin; Faiza, Shinas
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 9, No 1 (2026): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Juli 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v9i1.72236

Abstract

Perusahaan multinasional memiliki peran strategis dalam perekonomian global, termasuk dalam mendorong pemulihan sektor usaha kecil di negara tempatnya beroperasi. PT Unilever Indonesia, sebagai cabang lokal dari korporasi consumer goods yang telah beroperasi di lebih dari 190 negara, mewujudkan komitmen keberlanjutannya melalui Unilever Sustainable Living Plan dan strategi The Unilever Compass, yang salah satu implementasinya diarahkan pada pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kajian ini bertujuan menganalisis strategi dan dampak program tanggung jawab sosial (CSR) PT Unilever Indonesia dalam mendukung keberlangsungan UMKM, khususnya pada masa pemulihan pandemi Covid-19. Kajian disusun menggunakan metode studi literatur dengan menelaah jurnal ilmiah minimal terindeks Sinta 3, laporan resmi perusahaan, serta data dari lembaga pemerintah terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa Unilever Indonesia mengintegrasikan pemberdayaan UMKM ke dalam kerangka tanggung jawab sosial berbasis Triple Bottom Line, terwujud melalui bantuan dana senilai Rp40 miliar bagi 147.000 pedagang warung, digitalisasi rantai pasok lewat aplikasi Sahabat Warung, serta investasi infrastruktur di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei. Program-program tersebut terbukti memperluas akses permodalan, pasar, dan kapasitas manajerial UMKM, sekaligus memperkuat posisi Unilever sebagai mitra pembangunan ekonomi inklusif di Indonesia.
PRAKTIK PERLINDUNGAN SOSIAL PEKERJA INFORMAL DI PERBATASAN RI-RDTL (STUDI PADA PETANI DI NUSA TENGGARA TIMUR) Rahayu, Dewi Puspita; Nainggolan, Tammara; Huda, Mafatikhul; Rudtyanto, Raffael Lois
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 9, No 1 (2026): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Juli 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v9i1.61030

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi praktik perlindungan sosial bagi pekerja informal di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste, dengan fokus pada petani di Desa Kabuna, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Masalah utama yang dihadapi pekerja informal meliputi ketidakpastian ekonomi, akses terbatas terhadap layanan sosial, dan kondisi geografis yang sulit. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika perlindungan sosial formal dan informal yang ada, serta mengidentifikasi tantangan dan kebutuhan pekerja informal di wilayah perbatasan. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme perlindungan sosial informal, seperti gotong royong dan investasi dalam ternak, masih menjadi andalan utama masyarakat, sementara partisipasi dalam program formal, seperti BPJS, tetap rendah karena minimnya kesadaran, keterbatasan ekonomi, dan kurangnya sosialisasi. Meskipun beberapa bantuan sosial formal tersedia, efektivitasnya terbatas dalam memenuhi kebutuhan spesifik komunitas. Kesimpulan penelitian menekankan pentingnya pendekatan perlindungan sosial yang lebih inklusif dan berbasis komunitas, disertai dukungan produktif untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola risiko ekonomi dan sosial.
PERAN KEPEMIMPINAN VISIONER DAN MEKANISME PENGAKUAN DALAM EFEKTIVITAS MANAJEMEN RELAWAN PADA ORGANISASI NIRLABA JANJI BAIK Januar, Muhammad Abi
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 9, No 1 (2026): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Juli 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v9i1.67824

Abstract

Kepemimpinan visioner dan mekanisme pengakuan memiliki peranan penting dalam memastikan efektivitas manajemen relawan pada organisasi nirlaba. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kepemimpinan visioner serta praktik pengakuan terhadap relawan dalam mendukung keberhasilan manajemen relawan di orga nisasi nirlaba Janji Baik. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan dokumentasi, serta validasi data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner pengurus Janji Baik mendorong pembentukan delapan divisi yang adaptif, membangun komunikasi berlapis, dan mengarahkan relawan pada visi organisasi yang berorientasi pada pendidikan inklusif. Sementara itu, pengakuan terhadap relawan diwujudkan melalui program apresiasi seperti “Bintang Baik”, sertifikat penghargaan, dan forum evaluasi rutin yang meningkatkan motivasi dan retensi relawan. Sinergi kepemimpinan visioner dan sistem pengakuan terbukti memperkuat setiap tahapan manajemen relawan diantaranya perencanaan, rekrutmen, pelatihan, supervisi, hingga evaluasi, sehingga organisasi mampu mempertahankan keterlibatan lebih dari 500 relawan di berbagai daerah. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan visioner yang diimbangi pengakuan yang konsisten menjadi faktor strategis dalam menjaga keberlanjutan dan efektivitas manajemen relawan pada organisasi nirlaba di era digital.
PENINGKATAN PEMAHAMAN GENERASI MUDA DALAM MENGATASI PROBLEMATIKA SAMPAH DI KAMPUNG KADATUAN Humaedi, Sahadi; Asyia, Arifah Di'Faeni Nurul; Herdiana, Naufaldy Azzura; Arga, Wening Kinasih Putu
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 9, No 1 (2026): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Juli 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v9i1.72237

Abstract

Masalah sampah masih menjadi salah satu isu yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Kabupaten Bandung pun turut merasakan fenomena tersebut. Dalam mengatasi hal tersebut, pemerintah Kabupaten Bandung telah mengatur masalah tersebut melalui Peraturan Daerah Nomor 21 Tahun 2009, yang kemudian direvisi menjadi Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2012, didukung pula oleh Peraturan Bupati Nomor 25 Tahun 2010 yang kemudian diubah menjadi Peraturan Bupati Nomor 55 Tahun 2013. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya, masalah sampah masih sering terjadi, termasuk pula di Kampung Kadatuan RW 08. Untuk mengatasi hal tersebut, pendekatan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik participatory rural appraisal dalam mengatasi permasalahan sampah di RW 08 Kampung Kadatuan. Hasil kajian menunjukkan bahwa melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, program seperti ABC (Anak Bojong Cinta Kebersihan) berhasil meningkatkan kesadaran anak-anak sekolah mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
PENDEKATAN BERBASIS KOMUNITAS DALAM MANAJEMEN PROGRAM SOSIAL: TINJAUAN LITERATUR TERHADAP PRAKTIK PARTISIPATIF, KOLABORATIF, DAN PEMBERDAYAAN Aulia, Adis Prita; Jatnika, Dyana Chusnulitta; Adiansah, Wandi
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 9, No 1 (2026): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Juli 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v9i1.63611

Abstract

Pendekatan berbasis komunitas semakin mendapatkan pengakuan sebagai respons strategis terhadap kompleksitas, multidimensionalitas, dan spesifisitas konteks permasalahan sosial di Indonesia. Pendekatan ini menekankan pentingnya partisipasi, kolaborasi, dan pemberdayaan dalam seluruh siklus manajemen program sosial. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur sistematis terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan pada rentang waktu 2015 hingga 2024 untuk mengkaji praktik, tantangan, dan peluang dalam penerapan pendekatan berbasis komunitas dalam konteks program sosial di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif mendorong keterlibatan masyarakat, namun masih dominan bersifat simbolik, terutama terbatas pada tahap implementasi. Pendekatan kolaboratif berkontribusi terhadap sinergi antar pemangku kepentingan dan pemanfaatan sumber daya bersama, tetapi efektivitasnya bergantung pada kapasitas institusional dan keberlanjutan komitmen aktor lokal. Sementara itu, pendekatan pemberdayaan berpotensi mendorong kemandirian dan agensi masyarakat, namun masih dihadapkan pada kendala struktural seperti kesenjangan akses terhadap sumber daya, keterbatasan kapasitas, dan lemahnya respons kebijakan. Kajian ini menegaskan bahwa keberhasilan pendekatan berbasis komunitas sangat dipengaruhi oleh strategi yang adaptif, sensitif terhadap konteks lokal, dan berorientasi jangka panjang. Diperlukan integrasi antara pendekatan partisipatif, kolaboratif, dan pemberdayaan secara simultan untuk mendorong pengembangan sosial yang transformatif dan inklusif.
PROGRAM PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR BAGI ANAK TERLANTAR OLEH YAYASAN BENING NURANI SUMEDANG Rahayu, Wefina; Wibowo, Hery; Gutama, Arie Surya
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 9, No 1 (2026): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Juli 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v9i1.70121

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program pemenuhan kebutuhan dasar bagi anak terlantar yang berada di Yayasan Bening Nurani Sumedang. Anak terlantar merupakan anak yang kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan fisik, emosional, dan stimulasi atau pendidikan tidak terpenuhi secara wajar karena kelalaian atau ketidakmampuan orang tua maupun keluarga. Pemenuhan kebutuhan dasar ini menjadi aspek penting dalam membantu anak untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal sehingga dapat meningkatkan keberfungsian sosialnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Yayasan Bening Nurani Sumedang telah memenuhi tiga aspek kebutuhan dasar bagi anak terlantar yang meliputi kebutuhan fisik, emosional, dan stimulasi atau pendidikan. Namun, dalam pelaksanaannya beberapa kegiatan pemenuhan kebutuhan stimulasi atau pendidikan masih berjalan belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan perancangan program keterampilan, minat, dan bakat anak menjadi lebih variatif dan berkelanjutan, serta melibatkan anak dalam setiap perencanaan kegiatan keterampilan sehingga kualitas pelayanan sosial di Yabni Sumedang dapat meningkat
TRANSFORMASI LIVELIHOOD MASYARAKAT DALAM PROGRAM GDE MAJU (STUDI KASUS: PT GEO DIPA ENERGI, DIENG WONOSOBO) Rahayu, Sri; Fatimah, Fatimah; Wulandari, Pramesthi Tri; Prihatin, Djuni
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 9, No 1 (2026): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Juli 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v9i1.64754

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendukung penguatan pelaksanaan program GDE Maju yang dijalankan oleh PT Geo Dipa Energi, Khususnya dalam melihat sejauh mana program ini berkontribusi terhadap transformasi livelihood (penghidupan) masyarakat dikawasan Dieng Wonosobo. Sebagai tanggung jawab sosial perusahaan disektor energi panas bumi, program GDE Maju diharapkan tidak hanya menjadi intervensi sementara, tetapi juga mendorong perubahan struktural yang berkelanjutan dalam aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Untuk memahami dinamika tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode Systematic Literature Review (SLR), yang menelaah secara sistematis berbagai literatur ilmiah dan laporan relavan terkait dampak proyek energi terhadap penghidupan masyarakat lokal serta strategi CSR partisipatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa program GDE Maju secara signifikan berpengaruh terhadap transformasi livelihood masyarakat di Dieng melalui pelatihan keterampilan, pengembangan UMKM, dan peningkatan akses modal. Program ini juga berpotensi mengatasi dampak negatif proyek geothermal melalui pendekatan terintegrasi dan partisipatif, sehingga memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi petani.