cover
Contact Name
Teguh Sandjaya
Contact Email
teguh.sandjaya@unpad.ac.id
Phone
+62818713818
Journal Mail Official
m.fedryansah@unpad.ac.id
Editorial Address
Alamat Surat Menyurat Jalan Raya Bandung Sumedang KM 21, Gedung B. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial
ISSN : -     EISSN : 26203367     DOI : https://doi.org/10.24198/focus.v3i1
Core Subject : Social,
Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial merupakan jurnal ilmiah yang lebih diarahkan untuk memuat kajian dari praktik pekerjaan sosial dalam menangani dan mengelola berbagai potensi, hambatan, tantangan, dan masalah yang ada di masyarakat. Implementasi kegiatan layanan juga melibatkan partisipasi masyarakat dan mitra. Kegiatan pelayanan diorganisasikan menjadi kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Departemen Kesejahteraan Sosial, baik program studi sarjana (S1) maupun program studi pasca sarjana (S2 & S3) khususnya, namun kepada para pemerhati pekerjaan sosial pada umumnya sehingga bisa menjadi sumbangan yang besar dalam perkembangan praktik pekerjaan sosial di Indonesia. Praktik pekerjaan sosial ini tidak hanya praktik secara nyata juga mencakup praktik dalam kajian pustaka yang dapat berupa pengembangan metode praktik maupun praktik dalam arti yang luas.
Articles 182 Documents
OPERATIONALIZING SPIRITUAL CAPABILITY: A COMMUNITY-BASED EDUCATION MODEL FOR PARENTING FACILITATORS Wibowo, Hery; A Rachim, Hadiyanto; G.K. Basar, Gigin; Humaedi, Sahadi
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 8, No 2 (2025): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Desember 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v8i2.69836

Abstract

Tulisan ini memperkenalkan sebuah model pendidikan multidimensional yang dirancang untuk menyiapkan fasilitator pengasuhan berbasis komunitas melalui pendekatan spiritual capability. Model ini merujuk pada psikologi Islam, Capability Approach dari Amartya Sen, serta pedagogi pekerjaan sosial. Tujuannya adalah membentuk fasilitator yang tidak hanya mampu memberikan bimbingan teknis dalam pengasuhan, tetapi juga menumbuhkan fitrah, ketangguhan, dan literasi spiritual dalam keluarga.Secara metodologis, model ini dikembangkan melalui studi literatur yang mencakup tiga tahapan: sintesis konseptual, prototipe kurikulum, dan implementasi lapangan. Tahap konseptual memetakan konstruksi utama dari khazanah keilmuan Islam klasik (Al-Balkhi, Al-Ghazali) dan kerangka kontemporer (Rothman, Awaad, Keshavarzi), yang menghasilkan rubrik kapabilitas spiritual yang disesuaikan untuk konteks pengasuhan.Temuan menunjukkan bahwa kapabilitas spiritual bukan sekadar sifat personal, melainkan kompetensi yang dapat diajarkan dan diukur, dengan implikasi transformatif bagi kesejahteraan sosial. Dengan mengintegrasikan pendidikan berbasis jiwa dalam fasilitasi pengasuhan, model ini menawarkan jalur pengembangan karakter, ketahanan kesehatan mental, dan pemberdayaan lintas generasi. Model ini mengundang para pembuat kebijakan, pendidik, dan praktisi untuk membayangkan ulang sistem dukungan pengasuhan melalui lensa spiritual yang mendalam.  This paper introduces a multidimensional education model designed to prepare community-based parenting facilitators through the lens of spiritual capability. Drawing from Islamic psychology, Amartya Sen’s Capability Approach, and social work pedagogy. It aims to cultivate facilitators who not only deliver technical parenting guidance but also nurture fitrah, resilience, and spiritual literacy within families.Methodologically, the model was developed through a literature study involving three stages: conceptual synthesis, curriculum prototyping, and field implementation. The conceptual phase mapped key constructs from classical Islamic scholarship (Al-Balkhi, Al-Ghazali) and contemporary frameworks (Rothman, Awaad, Keshavarzi), resulting in a spiritual capability rubric tailored for parenting contexts. Findings indicate that spiritual capability not merely as a personal trait but as a teachable, assessable competency with transformative implications for social welfare. By embedding soul-based education into parenting facilitation, the model offers a pathway for character development, mental health resilience, and intergenerational empowerment. It invites policymakers, educators, and practitioners to reimagine parenting support systems through a spiritually grounded lens.
PENINGKATAN PERILAKU KOMUNIKASI KESPRO IBU KEPADA REMAJA MELALUI EXPERIENTIAL LEARNING: STUDI DI KELURAHAN PONDOK CINA, DEPOK Afifah, Afra
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 8, No 2 (2025): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Desember 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v8i2.66525

Abstract

Data dari Global School-based Student Health Survei (GSHS) tahun 2023 menunjukkan peningkatan tren perilaku seks pranikah pada remaja. Depok, sebagai kota yang mendapat penghargaan Kota Layak Anak, juga masih menghadapi masalah perilaku berisiko remaja terkait perilaku seks pranikah. Pengetahuan yang memadai tentang kesehatan reproduksi dan seksual (kespro) berperan sebagai faktor protektif yang menjauhkan remaja dari seks pranikah. Ibu memegang peran krusial sebagai agen sosialisasi utama dalam keluarga. Namun, para ibu sering kali mengalami hambatan dalam menyampaikan informasi seputar kespro kepada anak remajanya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh pelatihan dengan model experiential learning terhadap peningkatan kapasitas ibu sebagai agen sosialisasi yang mencakup: pengetahuan kespro, kemampuan komunikasi efektif, dan perilaku komunikasi kespro dengan anak remaja awal (10–15 tahun). Dengan menggunakan desain eksperimen lapangan one-group pretest-posttest, penelitian ini melibatkan tiga sesi pelatihan tatap muka dan penugasan praktik di rumah. Hasilnya, pelatihan dengan model pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) terbukti secara signifikan (p<0.05) berhasil meningkatkan perilaku komunikasi kespro ibu kepada anak remaja, baik secara intensitas maupun variasi topik kespro. Meski demikian, intervensi ini tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada peningkatan pengetahuan kespro dan perilaku komunikasi efektif subjek. Temuan ini mengimplikasikan bahwa ibu tetap dapat menjalankankan perannya dalam edukasi kespro kepada remaja, meskipun belum memiliki pengetahuan kespro atau keterampilan komunikasi efektif yang memadai.  Data from the 2023 Global School-based Student Health Survey (GSHS) show an increase in the prevalence of risky sexual behaviors among adolescents. Depok, despite its repeated recognition as a Child-Friendly City, continues to face challenges regarding adolescents’ premarital sexual activity. Adequate knowledge of sexual and reproductive health (SRH) serves as a protective factor in deterring adolescents from engaging in such behavior. In this context, mothers play a pivotal role as the primary socialization agents within the family. However, mothers often encounter barriers when communicating SRH information to their children. Therefore, this study aims to evaluate the impact of experiential learning-based training on enhancing the capacity of mothers as socialization agents, specifically regarding their SRH knowledge, effective communication skills, and SRH communication behavior with young adolescents (aged 10 – 15 years). Using a one-group pretest-posttest field experiment design, the intervention consisted of three in-person training sessions and take-home practical assignments. The results demonstrate that the experiential learning model significantly improved (p<0.05) mothers’ SRH communication behavior with their adolescents children, both intensity and variety of SRH topics discussed. Nevertheless, the intervention did not show a significant effect on improving mothers’ SRH knowledge or their effective communication skills. These findings imply that mothers can still fulfill their role in adolescent SRH education, even in the absence of comprehensive SRH knowledge or effective communication skills.