cover
Contact Name
FX. Eko Armada Riyanto
Contact Email
fxarmadacm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
stftws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2 Malang 65746 Indonesia
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Studia Philosophica et Theologica
ISSN : 14120674     EISSN : 25500589     DOI : 1035312
STUDIA focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturationof theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 1 (2007)" : 5 Documents clear
Lead Us Not into Temptation Balthasar’s note on Hegel’s “Theo-logy” Al. Rusmadji
Studia Philosophica et Theologica Vol 7 No 1 (2007)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v7i1.105

Abstract

Filsafat Hegel yang bercirikan dialektika yang berdasarkan identitas merupakan puncak pemikiran filosofis tentang agama/Allah dan akal budi yang sintesanya gagal didapatkan oleh para filsuf pendahulu. Sintesa Hegel ini juga sekaligus mengoreksi beberapa segi filsafat modern waktu itu, yakni antara lain tentang hubungan Subjek dan Objek serta perlunya metafisika dalam filsafat. Namun di mata von Balthasar sintesa Hegel ini juga mengundang pertanyaan seputar hakikat Allah pada dirinya sendiri. Dengan optik empat serangkai perbedaan ontologis Balthasar mengungkapkan kelemahan “teo-logi” Hegel sekaligus menyelamatkan teologi itu sendiri dan praksis fundamental kristen: cinta.
CULTURAL VIOLENCE IN THE ERA OF REFORMATION AND THE POLICY OF THE CATHOLIC CHURCH IN INDONESIA Donatus Sermada
Studia Philosophica et Theologica Vol 7 No 1 (2007)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v7i1.168

Abstract

Tema yang dipresentasikan penulis dalam simposium (2 – 7 Oktober 2005) di Madang, Papua New Guinea, berisikan tentang kekerasan budaya dalam era reformasi dan kebijakan Gereja Katolik di Indonesia. Kekerasan budaya menyentuh beberapa aspek budaya seperti agama, ideologi dan bahasa. Aspek budaya yang diartikan sebagai ruang simbolis hidup manusia digunakan sebagai alat untuk membenarkan dan melegitimasikan kekerasan, baik kekerasan langsung maupun kekerasan struktural. Penulis mengawali uraian ini dengan perlukisan sekilas data-data empiris tentang kerusuhan sosial di Indonesia dalam era reformasi lalu meneliti kaitan kerusuhan itu dengan kekerasan budaya. Beberapa model kekerasan budaya seperti agama, ideologi dan bahasa tampak mencuat di dalam kerusuhan-kerusuhan sosial di Indonesia. Pada bagian terakhir, penulis mengedepankan kebijakan resmi Gereja Katolik di Indonesia ketika berhadapan dengan konflik dan kerusuhan sosial itu serta menggagas pikiran penulis sehubungan dengan kebijakan itu.
BASICS OF BIOETHICS EDUCATION CB. Kusmaryanto
Studia Philosophica et Theologica Vol 7 No 1 (2007)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v7i1.169

Abstract

Perkembangan teknologi yang cepat dewasa ini sering membuat bingung mengenai penilaian moral, terutama teknologi yang langsung berhubungan dengan hidup manusia. Pendidikan bioetika merupakan langkah besar untuk merefleksikan masalah-masalah etis itu yang sayangnya di Indonesia belum banyak berkembang padahal di dunia barat bioetika ini sudah sangat maju dan menjadi referensi dalam pengambilan keputusan strategis. Pendidikan bioetika yang merupakan studi interdisipliner ini perlu digalakkan dengan berpatokan pada penghormatan terhadap hidup dan martabat manusia serta hak asasi manusia agar terbentuklah manusia-manusia yang berbudi luhur yang hidup berdasarkan keutamaan-keutamaan kemanusiaan.
THE SYRO-ARAMAIC MESSIAH: THE HEBRAIC THOUGHT, ARABIC CULTURE A Philological Criticism Moch. Ali
Studia Philosophica et Theologica Vol 7 No 1 (2007)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v7i1.170

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi wacana mesianisme melalui text Semit bertradisi Arab, dan sekaligus mengkritisi para akademisi literal dan liberal yang tak berterima tentang eksistensi Mesias Ibrani apalagi Mesias Syro-Arami. Di kalangan politisi Muslim, agamawan rumpun Ibrahimi, maupun akademisi kultural Semit, tema sentral mengenai mesianisme masih menjadi tema kontroversial. Pada era milenium ketiga ini, terutama di kalangan ‘Masyarakat Berkitab’ – mengutip istilah Dr. Muhammad Arkoen, pakar sastra Arab Mesir perdebatan politiko-teologis tema tersebut masih mengacu pada tiga ranah subtema kontroversial; (1) politisasi ideologi mesianisme yang dianggap ‘a historis’ akibat tragedi politico-social captivity, (2) misidentifikasi personal Mesias SyroArami yang sebenarnya mengakar dan pengembangan dari konsep Mesianisme Ibrani, (3) pembenaran teks sakral Islam terhadap Yeshô’ de-Meshîho sebagai Mesias Syro-Arami dalam kultur Arab melalui cara kontekstualisasi iman dan tradisi Semit liyan. Tulisan ini mencoba untuk mendekonstruksi ‘keberatan rasional akademik sekuler’ dan komunitas iman yang mengusung ‘Arabisme’ terhadap kesejatian Mesias Syro-Arami sebagai manifestasi dan pengejawantahan Mesias Ibrani, terutama dengan menggunakan pendekatan linguistik historis (filologi) dan data historis.
ANALISIS HISTORIS TRADISI STUDI ISLAM DI JERMAN Telaah atas Karya Josef van Ess Umi Sumbulah
Studia Philosophica et Theologica Vol 7 No 1 (2007)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v7i1.171

Abstract

Study of Islam in Germany started from an approach of purely clasical philology. Such approach has been done by analyzing historical and traditional islamic texts as Wellhausen and Noldeke did. Considering some weakness of this approach, new perspective is put forward. This new one is called philological approach “plus”. The advantage of this new approach is that islamic texts are analyzed not only in philological but also sociological point of view. Such analysis has been done by Becker who can be called as pioneer of new study of Islam in Germany. This article is my study on the book of Josef van Ess, From Wellhausen to Becker: The Emergence of Kulturgeschichte in Islamic Studies, who critically views Becker as one of the leading studious person on Islam with new perspectives

Page 1 of 1 | Total Record : 5