Articles
879 Documents
PENGARUH WAKTU PROSES TERHADAP KOMPOSISI GREEN DIESEL DALAM REAKSI DEKARBOKSILASI
Munir, Muhammad Badril;
Chumaidi , Achmad
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v5i2.16
Saat ini peningkatan permintaan bahan bakar fosil dan kesadaran lingkungan mendorong masyarakat untuk memperoleh bahan bakar alternative dari sumber-sumber biologi. Minyak dan lemak adalah kandidat bahan baku yang memiliki potensi tinggi dalam memproduksi bahan bakar terbarukan. Produksi bahan bakar terbarukan adalah pilihan yang muncul untuk meningkatkan ketersediaan bahan bakar cair. Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini adalah palm stearin yang disaponifikasi dengan katalis KOH dan ditambah Mg-Zn sebagai katalis untuk reaksi dekarboksilasi. Variabel bebas yang digunakan pada penelitian ini, yaitu waktu proses dekarboksilasi dari 0,5 jam-2 jam. Hasil penelitian menunjukkan semakin lama waktu proses semakin besar komposisi produk yang terbentuk.
PENGARUH SUHU PEMANASAN DAN PENAMBAHAN AMONIA TERHADAP PENURUNAN KADAR KLOR
Faniansyah, Adias;
Putri, Priskila O.;
Prayitno, Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v5i2.41
Pada industri pengolahan rumput laut digunakan kaporit untuk penghilangan bakteri pada proses perendaman, sehingga limbah yang dihasilkan mengandung klor dengan kadar tinggi yang apabila dibuang akan mencemari lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menurunkan kadar klor dalam limbah cair industri pengolahan rumput laut melalui proses pemanasan dan penambahan amonia ke dalam limbah cair industri pengolahan rumput laut. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu mula-mula air limbah dipanaskan dengan variabel suhu yaitu 28°C, 30°C, 35°C dan 40°C kemudian air limbah diberi penambahan amonia dengan variabel % penambahan sebesar 1%, 2%, 3 % dan 4%. Pada penelitian ini dapat diambil kesimpulan semakin tinggi suhu dan semakin besar penambahan % amonia maka semakin besar % penurunan kadar klor aktif dimana % penurunan klor aktif maksimal sebesar 98,6% yang dicapai pada suhu 40°C dengan % penambahan amonia sebesar 4%. Pada penelitian ini diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi suhu dan semakin besar konsentrasi amonia yang ditambahkan maka semakin sedikit klor yang tersisa dalam limbah.
PENGARUH LAJU ALIR UDARA TERHADAP PRODUKSI GAS METHANE MENGGUNAKAN TEKNOLOGI GASIFIKASI PADA REAKTOR DOWNDRAFT
Fariha, Yohana Dhani;
Aulia, Mia;
Santosa , Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v5i2.51
Kebutuhan bahan bakar setiap tahun akan mengalami kenaikan, oleh sebab itu pemerintah terus menggalakkan energi terbarukan. Biomassa merupakan energi terbarukan yang mampu dikonversikan menjadi gas mampu bakar salah satunya adalah gas CH4. Salah satu biomass yang dapat digunakan dan ketersediaanya melimpah adalah limbah serutan kayu. Limbah serutan kayu tersebut akan diolah dengan teknologi gasifikasi dengan menggunakan gasifier tipe downdraft. Gasifikasi merupakan salah satu cara alternatif dalam pembuatan gas dengan mengubah bahan padat menjadi gas yang mudah terbakar secara termokimia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh laju alir udara terhadap jumlah gas CH4 yang dihasilkan. Untuk mendapatkan gas CH4 tersebut kayu dimasukan kedalam reaktor downdraft dan diatur laju alir udaranya sebesar 6 liter/menit, 7 liter/menit, 8 liter/menit, 9 liter/menit dan 10 liter/menit, pembacaan jumlah gas CH4 menggunkan alat gas detector selama interval waktu 10 menit. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin kecil laju alir udara maka gas CH4 yang dihasilkan semakin besar, kayu Jati menghasilkan gas CH4 sebesar 6627 liter, kayu Wadang 5949 liter dan kayu Mahoni 4098 liter.
PENGARUH WAKTU PENGAMBILAN STARTER TERHADAP PRODUKSI BIOGAS
Zakiyyah, Dini A. F.;
Hafsah, Diana S.;
Prayitno, Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v5i2.22
Ketersediaan bahan bakar fosil saat ini semakin menipis, sedangkan kebutuhannya terus meningkat. Salah satu sumber energi alternatif yang potensial adalah biogas. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob. Bahan organik yang digunakan berasal dari limbah cair tahu sedangkan bakteri anaerob berasal dari kotoran sapi. Limbah cair tahu dicampur dengan kotoran sapi yang memiliki variasi waktu pengambilan setelah keluar dari lubang keluaran sapi yaitu setelah 1 hari, 7 hari, dan 14 hari. Limbah cair tahu dan kotoran sapi difermentasi selama 25 hari dalam reaktor UASB dengan kapasitas 20 L. Tujuan dari penelitian ini yaitu mempelajari pengaruh waktu pengambilan starter terhadap produksi biogas yang dihasilkan. Hasil biogas yang maksimal diperoleh dari kotoran sapi dengan waktu pengambilan 1 hari dengan volume yang dihasilkan yaitu sebesar 1057 ml.
STUDI KASUS SUHU UMPAN DISTILASI REKOVERI METANOL PADA PRODUKSI METIL ASETAT DENGAN KOLOM SCDS MENGGUNAKAN SIMULASI CHEMCAD
Nurhabibi , Muhammad Ramadhani;
Wibowo , Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v6i2.87
Metanol dapat digunakan pada berbagai aplikasi dan sebagai bahan kimia pada industri. Salah satu aplikasinya metanol digunakan sebagai bahan baku pada proses pembuatan metil asetat. Pada industri metil asetat, metanol direaksikan dengan asam asetat untuk menghasilkan metil asetat. Proses pembuatan metil asetat dapat menghasilkan sisa reaktan berupa metanol. Sehingga metanol perlu dimurnikan agar dapat digunakan kembali sebagai reaktan dan direaksikan dengan asam asetat. Pemurnian metanol dilakukan dengan menggunakan distilasi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh suhu umpan terhadap kemurnian metanol pada alat distilasi rekoveri metanol. Simulasi yang digunakan pada penelitian ini menggunakan ChemCAD dengan menggunakan fitur sensitivity study. Fiturini memiliki fungsi untuk mengetahui perubahan satu variabel terhadap variabel lainnya. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah suhu umpan distilasi dan konsentrasi metanol yang dihasilkan. Range simulasi suhu yang digunakan adalah 44oC - 64oC.
STUDI PENGARUH RASIO MOLAR FEED GLISEROL TERHADAP ASAM ASETAT TERHADAP PRODUK TRIASETIN BERBASIS SIMULASI CHEMCAD
Mudi, Intan Prasetya;
Suryandari , Ade Sonya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v6i2.113
Penambahan triasetin kedalam campuran biodisel dapat meningkatkan perfoma mesin pada semua aspek. Pembuatan trisetin diproses dengan proses esterifikasi dengan reaksi gliserol dan asam setat dengan dibantu katalis. Hal tersebut perlu adanya proses pemisahan pada proses. Adanya proses distilasi yang dimana memisahkan komponen-komponen penyusun dari suatu campuran berdasarkan titik didihnya sehingga menghasilkan produk yang baik. Selain itu rasio molar pada feed gliserol terhadap asam asetat juga akan memepengaruhi produk triasetin. Seperti tujuan yang dinginkan untuk mengetahui hasil optimum dari proses pembuatan triasetin sebelum dibuat dalam skala besar dengan mengatahui pengaruh dari rasio molar feed gliserol terhadap asam asetat. Sehingga perlu adanya proses simulasi dengan menggunakan software ChemCAD untuk menentukan kondisi operasi yang baik dengan hasil produk yang baik. Sebelum mensimulasi dengan menggunakan software ChemCAD perlu adanya perhitungan molar feed dengan menggunakan perbandingan gliserol terhadap asam asetat. Dari hasil dapat disimulasi, sehingga memperoleh data yang menyatakan wahwa kondisi optimum dihasilkan pada perbandingan molar feed gliserol terhadap asam asetat 1:7 dengan hasil jumlah 6,40 kg/jam dan nilai koversi sebesar 98,35%. Yang dimana semakin tinggi asam asetat semakin tinggi konsentrasi triasetin.
PENGARUH DOSIS ANTI REDUKTAN SODIUM BISULFIT TERHADAP UMUR CATRIDGE FILTER PADA SEA WATER REVERSE OSMOSIS (SWRO) I DI PT PJB UBJ O&M PAITON
Maulida, Verasari Rismawardani;
Zamrudy, Windi;
Mustofa, Ali
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v6i2.78
Cartridge filter dengan ukuran pori absolut kurang dari 10 μm adalah pretreatment minimum yang disarankan untuk setiap sistem reverse osmosis (RO). Cartridge filter dilengkapi dengan pengukur tekanan untuk menunjukkan tekanan diferensial, dengan demikian menunjukkan tingkat pelanggarannya. Untuk menjaga waktu tinggal cartridge filter agar dapat bertahan lebih lama yaitu dengan cara menyesuaikan dosis anti reductant pada cartridge filter. Dalam teori yang dijelaskan 1.34 mg sodium metabisulfit dapat menghilangkan 1 mg chlorine bebas. Dalam praktisnya, 3 mg sodium metabisulfit biasanya digunakan untuk menghilangkan 1 mg chlorine. Sodium metabisulfit digunakan sebagai anti reduktan yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan chlorine pada air proses sebelum masuk ke RO. Metode yang digunakan dalam menjaga umur cartridge filter agar dapat bertahan lebih lama yaitu dengan cara trial dosis injeksi anti reduktan dari 2 bag menjadi 1 bag atau dari 1.8 ppm menjadi 0.8 ppm. Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama pengurangan dosis yaitu umur cartridge filter mengalami kenaikan menjadi kurang lebih 2 minggu, hal ini menunjukkan bahwa penurunan dosis anti reduktan terbukti dapat menjaga umur cartridge filter.
EVALUASI KINERJA ALAT GLYCOL FAN COOLER (E-230) PADA PROSES REGENERASI GLIKOL MINARAK BRANTAS GAS, INC
Pravitasari, Silvi Adelia;
Angestine, Felix;
Suharti, Profiyanti Hermien
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v6i2.104
Glycol fan cooler (E-230) pada Minarak Brantas Gas, Inc merupakan salah satu alat penukar panas dengan jenis air cooled heat exchanger tipe forced draft. Alat ini berfungsi untuk mendinginkan suhu triethylene glycol (TEG) hingga 110–120oF dengan menggunakan udara sekitar. Sehingga TEG dapat digunakan kembali untuk menyerap kandungan air pada gas alam. Glycol fan cooler (E-230) ini telah berdiri sejak tahun 1976. Pada Minarak Brantas Gas, Inc terdapat 2 glycol fan cooler, akan tetapi yang satu telah tidak difungsikan karena produksi gas yang terus menurun. Hal ini menyebabkan E-230 beroperasi selama 24 jam. Dikarenakan E-230 telah beroperasi 24 jam selama beberapa tahun terakhir maka diperlukan adanya evaluasi kinerja glycol fan cooler (E-230). Penelitian ini dilakukan guna mengetahui kelayakan dari alat glycol fan cooler (E-230). Berdasarkan hasil evaluasi terhadap efisiensi alat rata-rata sebesar 97,09%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa glycol fan cooler (E-230) masih layak beroperasi.Namun, nilai fouling factor rata-ratanya adalah 0,003 hr.ft2.oF/Btu, nilai ini melebihi batas maksimal nilai fouling factor untuk TEG. Oleh karena itu, perlu dilakukan perawatan secara berkala untuk menjaga kinerja glycol fan cooler (E-230) agar tetap beroperasi dengan baik.
SIMULASI PENENTUAN KONSENTRASI OPTIMUM FEED ASAM ASETAT ANHIDRAT PADA SISTEM PRODUKSI TRIASETIN KAPASITAS 19.000 TON/TAHUN MENGGUNAKAN SIMULASI CHEMCAD 7.1.5
Ma’rifat, Muchammad Irvan;
Suryandari, Ade Sonya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v6i2.75
Bahan bakar minyak (BBM) terbarukan banyak dikembangkan saat ini mengakibatkan kebutuhan triasetin sebagai zat aditif terus meningkat. Triasetin bermanfaat untuk menaikkan nilai oktan pada mesin serta dapat digunakan sebagai anti-knocking. Triasetin dihasilkan melalui reaksi asam asetat dan gliserol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi optimum feed asam asetat anhidrat pada sistem produksi triasetin sehingga mendapatkan produk dengan kualitas dan kuantitas optimal menggunakan simulasi dengan ChemCAD. Produk yang dihasilkan dari reaksi asam asetat anhidrat dan gliserol yaitu triasetin, asetat anhidrat, asam asetat, dan air. Variabel yang digunakan pada penelitian ini yaitu asam asetat dengan konsentrasi 80% hingga 100%. Proses simulasi produksi triasetin menggunakan stokiometri reaktor dan untuk pemurnian triasetin menggunakan kolom distilasi. Kualitas triasetin optimal didapatkan pada konsentrasi asam asetat anhidrat 80% dengan jumlah produk 2411,037 kg/jam dan dengan konsentrasi triasetin sebesar 99,8792%.
EVALUSI KINERJA FURNACE PADA PROSES REMELTING PT ALUVINDO EXTRUSION
Kurniawan, Deasfenta Rizky;
Suharti, Profiyanti Hermien
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33795/distilat.v6i2.89
PT Aluvindo Extrusion (PT AE) merupakan salah satu pabrik penghasil aluminium dengan bahan baku utama berupa aluminium ingot dengan tingkat kemurnian 99%. Proses produksi alumnium meliputi proses remelting, proses casting, proses extrusion, proses oven aging, proses pelapisan (anodizing dan powder coating), serta proses packing. Remelting merupakan bagian proses di mana terjadi peleburan aluminium ingot menggunakan furnace. Furnace yang dipergunakan bertipe box dengan 2 lubang burner sebagai pembakarnya dan natural gas sebagai bahan bakar. Furnace beroperasi secara batch dengan suhu operasi 35oC – 1100oC dan berat bahan baku 10.000 kg. Evaluasi furnace dilakukan untuk mengetahui kinerja proses pemanasan dalam peleburan aluminium ingot. Bahan yang dipanaskan dalam furnace ini adalah padatan aluminium ingot dengan suhu masuk 35oC. Produk keluar dari furnace pada suhu 770oC berupa aluminium dalam fasa cair (telah melebur). Metode perhitungan yang digunakan adalah Direct Method di mana efisiensi dihitung berdasarkan nilai kalor dari aliran massa (bahan) yang masuk maupun keluar dari furnace. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa efisiensi furnace yang digunakan pada proses remelting di PT Aluvindo Extrusion (PT AE) adalah sebesar 6,23% dan 6,28%.