GENTA HREDAYA: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja hadir untuk memberi ruang bagi para penulis yang ingin mengembangkan dan menyebarkan nilai-nilai filsafat Hindu. Implementasi ajaran filsafat khususnya filsafat Hindu ini hampir setiap saat dijumpai dalam setiap aspek kehidupan umat beragama. Genta Hredaya sebagai Jurnal Filsafat Hindu berusaha melakukan pencerahan melalui kontemplasi hakikat berbagai macam pengetahuan keagamaan. Fokus Genta Hredaya adalah: 1. Filsafat Hindu 2. Ilmu Filsafat 3. Ilmu Agama 4. Ilmu Budaya 5. Filsafat India 6. Filsafat Nusantara 7. Kajian Susastra Hindu
Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 1 (2021)"
:
11 Documents
clear
Stoisisme Dan Ajaran Agama Hindu; Kebijaksanaan Pembentuk Karakter Manusia Tangguh
Ayu Veronika Somawati
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1226
Diskusi mengenai manusia memang tidak akan pernah ada habisnya. Salah satu hal yang selalu menjadi diskusi menarik mengenai manusia adalah bagaimana manusia hidup dengan ideal agar tujuan hidup manusia itu sendiri dapat terwujud. Berbagai macam pandangan dari berbagai macam mazhab filsafat hingga agama membahas mengenai hal ini, tidak terkecuali filsafat Stoic yang disebut juga Stoicism, Stoisisme, filsafat Stoa atau di Indonesia juga popular dengan nama Filsafat Teras. Stoisisme melalui ajaran-ajarannya yang implementatif membantu manusia untuk mengatasi emosi negative serta membentuk mental yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, sehingga Stoisisme dianggap jauh dari kesan berat dan mengawang-ngawang seperti yang sering dilekatkan kepada filsafat secara umum. Stoisisme juga dianggap bersifat sangat praktis dan relevan dengan kehidupan masa kini. Apabila dikaji lebih jauh, ajaran dari Stoisisme ini sejalan dengan ajaran agama Hindu. Agama Hindu juga mengandung banyak ajaran untuk membentuk karakter manusia, dimana ajaran tersebut bersifat praktis, universal dan masih sangat relevan dengan kehidupan manusia saat ini. Perpaduan dari implementasi filsafat Stoisisme dan ajaran Agama Hindu akan menghasilkan ajaran-ajaran kebijaksanaan yang dapat membentuk karakter manusia khususnya manusia Hindu yang tangguh.
Nilai Teologi Hindu Kaharingan Terhadap Komodifikasi Lilis Lamiang
Kunti Ayu Vedanti
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1299
Commodification today penetrates various aspects of life, including Lilis Lamiang as one of the means of Hindu Kaharingan religious ceremonies. Commodification of Lilis Lamiang has various impacts, one of which causes a decrease in people's understanding to Kaharingan Hindus about the value of Kaharingan Hindu theology on Lilis Lamiang. Based on this phenomenon, researchers conducted an in-depth study using qualitative methods using literature data and interviews with clergy to find answers to problems about the value of Kaharingan Hindu theology to lilis lamiang commodification. This study is needed to avoid the extinction of Lilis Lamiang's value which affects kaharingan Hindus' belief in their religion. In addition, this research was able to enrich the study related to Kaharingan Hindu religion and its dynamics. The results of this study found the value of Kaharingan Hindu theology in Lilis Lamiang, namely as a symbol of Kaharingan Hindu beliefs against Ranying Hatalla Langit as written in The Panaturan Scripture Article 27. Furthermore, commodification of Lilis Lamiang is acceptable as long as it does not exceed the limit. In addition, modifications that appear along with commodification are considered capable of giving a new color in the use of Lilis Lamiang, making it more beautiful.Keywords: komodifikasi, teologi Hindu Kaharingan, Lilis Lamiang
Kajian Stilistika Dan Semiotik Dalam Cerita Watugunung
Ida Bagus Gede Paramita
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1229
The purpose of this research is to examine the stylistic aspects which include text schemes, message structures, and language structures in the Watugunung story and also to reveal the meaning behind the symbols of Hindu rituals in the Watugunung story. The method used in this research is qualitative method. Primary data were obtained from the Satua Watugunung text, while secondary data were obtained from books and online publications that supported the research discussion. The data collected is then selected to assist the analysis and the final step is drawing conclusions. The result of this research is that various forms of Balinese local wisdom are neatly stored in Balinese literary works. Balinese oral literature as a form of Balinese purwa literature has a role in maintaining the local wisdom of Balinese culture. specifically in Watugunung research, the stylistic elements contained in the Watugunung story are known and the meaning behind the symbols in the Watugunung story is revealed.Keywords: Stylistics, Semiotics, Watugunung
Eksistensi Pura Dalem Ularan Di Banjar Kuwum Desa Banyuatis Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng
Gede Mahardika
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1300
Penelitian ini menganalisis tentang eksistensi Pura Dalem Ularan di Banjar Kuwum Desa Banyuatis Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretative dengan menggunakan pendekatan ex pos facto. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini antara lain teori fungsionalisme structural dan teori simbolik. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa Keberadaan Pura Dalem Manik Ularan di Dusun Kuwum Desa Banyuatis berkaitan dengan perjalanan Patih Ularan dari Desa Gobleg menuju Desa Busungbiu yang kemudian beristirahat di Dusun kuwum Desa Banyuatis dan membangun bebaturan atau tempat pemujaan, diperkirakan sudah ada sejak abad 16-17 sesuai dengan babad Desa Gobleg. Bentuk Pura dalem Manik Ularan dapat dilihat dari : pertama struktur pura, struktur pura dalem manik ularan mengacu pada konsep Dwi Mandala yang terdiri dari Utama Mandala dan Madya Mandala yang melambangkan akasa dan pertiwi. Dan fungsi pura Dalem manik ularan antara lain berfungsi sebagai kegiatan keagamaa, berfungsi sebagai memohon anugrah (mesaudan) dan berfungsi sebagai memohon keselamatan atau matur piuningKata Kunci : eksistensi, Dalem Ularan, Pura
Yoga Sebagai Upaya Mencapai Kesehatan Mental (Kajian Yoga Sutra Patanjali)
I Wayan Rudiarta
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1230
This research aims to describe the benefits of yoga practice for mental health, especially in the Covid-19 pandemic era. This research uses qualitative research methods with literary and empirical approaches. The data obtained came from several textbooks, such as the Yoga Sutra Patanjali and several other supporting literacies, as well as phenomena that occurred in the field. During the Covid-19 pandemic, many people often experienced mental health problems, such as feelings of fear, panic, worry, anxiety and uncertain economic conditions. In a spiritual science approach, this can be overcome by applying the teachings of Yoga. The Yoga teachings were developed by Maharsi Patanjali, contained in the Yoga Sutra Patanjali and the essence of their teachings is known as asthanga yoga. In order to maintain mental health in the midst of a pandemic, proper yoga practices include the practice of asanas, pranayama and meditation. The research results showed that the practice of yoga, including asana, pranayama and meditation, was able to provide positive benefits to mental health in the midst of a pandemic, both in an effort to maintain mental health and as a form of self-healing for those with mental health disorders.Keyword : Pandemic, Mental health, Yoga.
Kasta Menjadi Candu Dan Kemanusiaan Yang Terlupakan (Kajian Filosofis)
I Gusti Ngurah Agung Panji Tresna;
Kadek Agus Wardana
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1301
Caste is a social phenomenon that is familiar to the Balinese Hindu community, becoming a social problem due to the blurring that occurs in the development of the color system into caste. In looking at the socio-cultural phenomenon, the development of a system in society is expected to be inseparable from human values, because if this obfuscation is allowed it will affect the erosion of the moral values of society so that it can affect the character of the community itself. Blurry causes class differences that are not seen from their social function in Balinese Hindu society. The correct appreciation of religious teachings through holy books is deemed not getting a response from the public, and mistakes seem to be deliberately maintained which causes such a blur between the color system and the caste. Mistakes in interpreting the essence and humanity that are interpreted unilaterally by a view that ultimately messes with the value of humanity itself will cause a split that will bring humans to the peak of conflict. Color, in fact, has a purpose not to differentiate one group from another vertically, but to relate to the roles and abilities of each individual. This explains that color is a designation for people who master a certain field. From this concept explains that every color has the opportunity to develop goodness for the sake of lofty ideals, this is the true principle of equality. In fact, humanity with universal Hindu teachings is able to base thoughts on how humans value other humans beyond the attributes that humans can live. Human values must be upheld as an effort to maintain human existence based on the teachings of the Dharma as a manifestation of the creation of a just and civilized human.Key words: caste, color, obfuscation
Aktualisasi Manusia Hindu Dalam Ritual Diksa
Yunitha Asri Diantary Ni Made;
I Made Hartaka
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1243
Manusia dalam pandangan hindu terdiri dari dua unsur yakni jasmani yakni tubuh manusia dan rohani yaitu atman sebagai hakikat Tuhan dalam diri manusia. Penyatuan dua unsur ini mengangkat manusia menjadi sebagai makhluk ilahi, dimana segala hal yang tampak disekitar kita adalah hasil dari kesadaran ilahi. Setiap manusia wajib untuk mengelola diri sesuai ajaran dharma, sebagaimana tubuh manusia mempunyai makna penting bagi jiwa-atma yang menjadi akar hidup dan dilahirkan menjadi badan jasmani (sthula sarira) pada dasarnya sebagai manusia dalam pandangan Hindu adalah keutamaan atau kemuliaan. Tubuh adalah alat atau sarana sebagai wujud atas kehendak Sang Hyang Widhi yang tampak didunia, agar Sang Atma dapat menyelesaikan masalahnya dengan sarana tubuh dalam melakukan kebajikan (Dharma). Hanya melalui ajaran kerohanian dan kesusilaan agama yang disebut dharma seseorang akan dapat mencapai tujuan hidup yang tertinggi yaitu kebebasan atman/roh dari penderitaan hidup duniawiMoksa atau pembebasan adalah tujuan akhir dari umat Hindu, sehingga dalam proses pencapaiannya perlu tahapan dan fase yang cukup berat untuk dilalui. Tubuh sebagai media utama dalam menjalankan tahapan yang dimaksud patut untuk diarahkan melaksanakan tugas dan kewajiban yang berlandas dharma, sehingga tubuh manusia tidak larut dalam kegelapan atau awidya yang diakibatkan oleh keterikatan yang penuh terhadap benda-benda duniawi. Orang yang terlalu terikat dengan hal-hal duniawi akan sering menggunakan segala cara dalam mencapai tujuan duniawinya. Ajaran agama serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya wajib kiranya untuk diterapkan sebagai tahapan awal penyucian diri. Adapaun ajaran suci yang sejatinya dapat diamalkan yakni Tri Kaya parisuda, Panca yama brata, Panca Niyama Brata dan Tri Parartha. Selain itu dalam penyucian diri tidak kalah pentingnya manusia hindu untuk mempelajari pengetahuan suci para vidya dan aparavidya.Jalan diksa adalah kewajiban yang harus dijalankan di bumi, ketika manusia sadar akan tujuan dan kemampuan ilahinya. Diksa merupakan pintu pembuka menuju penyatuan dengan Tuhan. Dalam konsep yang dibangun terkait dengan diksa tidak hanya didefinisikan sebagai upacara inisiasi, melainkan diksa sebagai institusi atau pranata yang merupakan sebuah sistem terintegrasi atas berbagai sub-sistem yang terdiri atas: sisya (murid spiritual)- siksa (penggemblengan), pariksa ( seleksi), diksa (inisiasi), pandita (pendeta), sista (pendeta ahli), siva (teofani), moksa (pembebasan) untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Dengan demikian diksa adalah proses penyucian diri. Orang yang mediksa sebenarnya adalah menyucikan diri, dan tidak ada lain, karena para pandita adalah orang suci yang sudah terlahir kedua kalinya dari sastra. Melalui pelaksanaan diksa dengan benar dan sesuai aturan, manusia dapat mengaktualisasikan dirinya di jalan yang benar untuk menjadi manusia suci lahir batin.
Nilai-Nilai Filosofi Kehidupan Dalam Geguritan Jayaprana
Nyoman Suardika;
I Made Gami Sandi Untara
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1297
Karya sastra merupakan suatu karya yang di dalamnya terkandung nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup. Suatu karya sastra, khususnya karya sastra lama (tradisional) biasanya bersifat kedaerahan atau masih mengandung budaya lokal dalam penciptaannya. Salah satu contoh karya sastra lama (tradisional) adalah Geguritan Jayaprana. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data penelitian ini merupakan data primer atau data yang diperoleh langsung dari sumber aslinya yaitu berupa buku alih aksara Geguritan Jayaprana karya Ketut Ginarsa. Pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan secara berulang-ulang terhadap objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis struktur forma meliputi kode bahasa dan sastra, gaya bahasa, dan ragam bahasa. Nilai-nilai filosofi kehidupan terdapat beberapa cerita pada bait geguritan yang menggambarkan sikap atau perilaku Jayaprana yang selalu setia terhadap rajanya hingga berkorban apapun untuk rajanya, sekali pun hal itu menyakiti dirinya bahkan nyawanya. Hal ini dilakukan Jayaprana untuk membalas kebaikan raja kepadanya. Selain itu Jayaprana merupakan seorang yang sangat menghormati orang lain.Kata kunci: filosofi, Geguritan Jayaprana
Kajian Filosofis Upacara Munggah Deha Di Desa Pakraman Suwat, Kabupaten Gianyar
Ida Ayu Nyoman Sawitri;
Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1302
The Munggah Deha ceremony is one form of the implementation of the yadnya which is traditionally carried out by Hindus in Pakraman Suwat Village. The Munggah Deha ceremony is held when a child starts to become a teenager which is marked by a change in the voice in boys and in girls is marked by the first menstruation. This traditional ceremony is still being carried out by the community in Pakraman Suwat Village. To get a clearer understanding, a more in-depth study was conducted, so that later the community could find out the form and philosophical meaning contained in the Munggah Deha ceremony which was held in Pakraman Suwat Village, Gianyar Regency. As for the problems that can be formulated, namely: what is the form of the implementation of the Munggah Deha Ceremony, and what is the meaning contained in the Munggah Deha Ceremony in Pakraman Suwat Village. The research carried out uses several theories to dissect the problems discussed. The theories used are the theory of religion, structural functional theory, and symbol theory. The research method is qualitative research with a philosophical approach. The type of data used is qualitative data in the form of information sourced from informants and literature, quantitative data in the form of numerical figures relating to population data, while the data sources used are primary data obtained from interviews, and secondary data obtained from relevant literature. with a research problem. Determination of informants using purposive sampling technique which is a technique of determining informants based on the ability of the informants who can accurately provide the necessary data in accordance with the objectives of the researcher. Data were collected using observation, interview, and document recording techniques. The data that has been collected is processed using descriptive qualitative methods. The research findings obtained, the form of implementation of the Munggah Deha Ceremony can be seen from the history of the Munggah Deha Ceremony, the Meaning of the Munggah Deha Ceremony, namely the philosophical meaning, symbolic meaning, ethical meaning, educational meaning and solidarity meaning.
Kajian Filsafat Seni Sakral Dalam Kekawin Niti Sastra
Ketut Agus Nova
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/gentahredaya.v5i1.1298
Seni sakral merupakan seni yang membahas mengenai kesenian yang bersifat magis atau mengandung nilai religius. Dan biasanya seni sakral ini sering terdapat dalam agama Hindu. Agama Hindu percaya bahwa seni sakral ini merupakan sebuah karya seni yang tidak boleh dipentaskan atau dipertunjukkan secara sembarangan. Dikarenakan sifatnya yang memiliki nilai magis yang sangat tinggi. Sehingga dalam pementasan seni sakral ini, harus melalui beberapa tahapan. Bagi Umat Hindu di Bali, karya seni sakral ini dipergunakan sebagai sarana untuk terhubung dengan Tuhan. Dan juga seni sakral di Bali ini biasanya identik dengan Taksu/vibrasi/aura. Maka hal inilah yang membuat seni sakral di bali tampak sangat hidup apabila dipentaskan maupun dipertunjukkan