cover
Contact Name
Harry Budiman
Contact Email
harry@bsn.go.id
Phone
+6285718217895
Journal Mail Official
harry@bsn.go.id
Editorial Address
Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie BRIN Serpong Tangerang 15314 Building 420
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Instrumentasi
ISSN : 01259202     EISSN : 24601462     DOI : 10.31153
The scientific areas covered by Instrumentasi are those backboned by scientific measurements and thus range from instrument engineering, metrology, testing, and control. All papers submitted are refereed by bona fide reviewers from leading research institutions as well as universities prior to publication to keep their quality meet the standard of the journal. The review is carried out mainly on the basis of originality, novelty, and contribution to scientific measurement. Authors need to complete the ethical clearance form for publication.
Articles 150 Documents
EVALUASI PENGUKURAN SUSEPTIBILITAS MAGNETIK PADA ANAK TIMBANGAN Darmayanti, Nur Tjahyo Eka
Instrumentasi Vol 37, No 1 (2013)
Publisher : National Standardization Agency of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/instrumentasi.v37i1.5

Abstract

The research on the magnetic susceptibility measurement in weight using a Sartorius susceptometer has been done. The magnetic properties of weight should be determined before calibration to ensure that any magnetic interaction is negligible. This is important because magnetic forces can increase due to the interaction of two standard masses or the use of mass comparator instruments while weighing the weight or the interactions between magnetic forces with the environment. A susceptometer equipment for measuring magnetic susceptibility has been developed in KIM LIPI and has been successfully applied to measure mass standard with a nominal weight of 1 kg. From this research, it is known that the value of the magnetic susceptibility of sample weights is still in the tolerance limit permitted by Organisation Internationale de Métrologie Légale (OIML), so that the magnetic interactions in standard mass measurements are negligible.
PENGEMBANGAN HMI UNTUK SISTEM OTOMASI PENGOLAHAN AIR GAMBUT Imamul Muchlis
Instrumentasi Vol 39, No 2 (2015)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/instrumentasi.v39i2.93

Abstract

Human Machine Interface (HMI) adalah perangkat lunak antarmuka yang menjadi penghubung antara manusia dan mesin atau proses. Sistem proses yang otomatis tanpa HMI menyulitkan operator untuk mengetahui keadaan proses dan melaksanakan langkah-langkah segera untuk mengatasi setiap penyimpangan. Pada kegiatan penelitian kompetitif tahun 2014, HMI dibuat untuk sistem pengolahan air-gambut otomatis. Tahap pengembangan HMI pada personal computer meliputi teknik antarmuka pengguna secara grafis, pemrograman HMI dengan menetapkan tag elemen layar, integrasi ke dalam perangkat PLC menggunakan ethernet, dan uji coba HMI terhadap sistem pengolahan air-gambut otomatis. Hasil pembuatan HMI berupa visualisasi secara grafis di layar komputer tentang pengolahan air-gambut, status peralatan, dan variabel proses. Melalui layar HMI, operator dapat menjalankan dan menghentikan sistem pengolah serta mengatur parameter pengendalian. Adanya HMI membuat pengoperasian pengolahan air-gambut menjadi mudah, efisien, dan menyenangkan.
MENYOAL URGENSI UJI PROFISIENSI NANOMETROLOGI DIMENSI DI INDONESIA Nur Tjahyo Eka Darmayanti; Asep Ridwan Nugraha; Diina Qiyaman; Ardi Rahman
Instrumentasi Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/instrumentasi.v42i1.104

Abstract

Nanoteknologi dan nanometrologi adalah dua bidang keilmuan yang tidak bisa dipisahkan. Perkembangan pesat pada penelitian yang menghasilkan produk nanoteknologi tentunya membutuhkan nanometrologi untuk menjamin kontrol kualitasnya. Tren pengembangan nanoteknologi saat ini terus naik baik di dunia maupun di Indonesia. Indonesia sebagai negara dengan potensi pasar yang besar, memiliki bahan baku untuk memproduksi material nano. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki posisi yang diperhitungkan di dunia. Puslit Metrologi LIPI sebagai lembaga metrologi nasional memiliki peran untuk mengembangkan ketertelusuran nanometrologi di Indonesia. Di dalam makalah ini dibahas mengenai pentingnya uji profisiensi pada bidang nanometrologi. Uji profisiensi dilakukan mengacu pada uji banding yang dilakukan negara - negara yang tergabung dalam BIPM, terdiri dari berbagai jenis artefak, yaitu: line width standards, step height standards, line scales, 1D gratings, 2D grating dan nano particle. Di Indonesia, kelompok penelitian nanometrologi dari Puslit Metrologi LIPI menyelenggarakan uji banding untuk menguji validitas alat ukur nano yang digunakan di institusi penelitian. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, uji banding dilakukan pada alat ukur SEM yang paling banyak digunakan, dan penjaminan ketertelusuran nanometrologi dilakukan dalam bidang dimensi. Uji banding dirancang mengacu pada pengujian yang dilakukan Working Group CCL Nano4.
Perbandingan Pengukuran Salinitas Air antara Metode Daya Hantar Listrik dan Massa Jenis untuk Aplikasinya pada Bidang Pertanian. Jalu Ahmada Prakosa; Bernadus H. Sirenden; Dadang Rustandi; Budi Kartiwa; Sensus Wijornako; Tatik Maftukhah; Purwowibowo Purwowibowo
Instrumentasi Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/instrumentasi.v44i2.221

Abstract

Pengukuran tingkat keasinan (salinitas) air banyak digunakan untuk aplikasi pertanian khususnya di daerah pesisir. Akurasi pengukuran salinitas air sangat penting selain pertimbangan biaya dan kemudahannya karena setiap tanaman pangan memiliki toleransi salinitas yang berbeda. Bahkan pengukuran salinitas sangat berguna dalm bidang pertanian dalam penelitian toleransi tanaman pangan tersebut terkait pemanfaatan potensi lahan salin. Metode pengukuran berbasis daya hantar listrik dan massa jenis akan diinvestigasi perbandingan nilai kesalahan dan ketidakpastian pengukurannya karena alat ukur yang menggunakan keduanya masih banyak digunakan di pasaran. Sampel alat ukur yang menerapkan metode daya hantar dan massa jenis di pasaran dapat digunakan dalam penelitian ini. Natrium klorida digunakan sebagai nilai referensi dengan teknik gravimetrik sesuai definisi salinitas air. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pengukuran salinitas air antara daya hantar listrik dan massa jenis secara kuantitatif dengan sampel alat ukur yang beredar di pasaran untuk aplikasi pada bidang pertanian. Dari hasil eksperimen, didapatkan metode daya hantar listrik memiliki kesalahan lebih baik 3 kalinya, namun untuk salinitas rendah di bawah 15 PPT cenderung terjadi kesalahan acak dan ketidaklinearan. Akurasi sekitar 5% bahkan 3% untuk hidrometer salinitas dapat dicapai dengan kalibrasi dan penyetelan alat untuk memenuhi kebutuhan pengukuran salinitas pada bidang pertanian.
Fabrication and Characterization of Photodiode Flame Distance Sensor Asep Ridwan Nugraha; Andri Rahmadhani
Instrumentasi Vol 39, No 1 (2015)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/instrumentasi.v39i1.65

Abstract

The flame distance sensor is designed to use when open flaming fres occur. It responds to the light emitted by flame during combustion. The detector discriminates between flame and other light sources by responding only to particular optical wavelengths. The physical quantity that can be used as a reference for determining the distance of the flame is the intensity of radiation emitted by the flame. Intensity of radiation can be measured by the photodiode output, when the photodiode receives the radiation. In this research, the writers propose to develop a new prototype of simple, low-cost flame sensing device using a photodiode. The photodiode is integrated with an infrared flter, which is made of black flm inside the floppy disk, to block certain wavelengths other than infrared. The photodiode is operated in photoconductive mode, where a positive regulated DC power supply is connected to the cathode. The anode is connected to the output terminal and a resistor that acts as a voltage divider. The voltage will be changed at the output terminal as the photodiode receives different intensity of radiation. The relationship between output voltage and intensity can be obtained and verifed by using a calibrated lux meter. The radiation intensity is inversely proportional to the square of the distance from the radiation source. Given this relationship, the distance can be calculated with a flame coming from the photodiode output. As the result, the maximum detection distance and intensity of the sensor is 107 cm and 1783 lux.Keywords: characterization, flter, flame distance, infrared, photodiode, sensor
SISTEM PENGUKURAN UNTUK MENENTUKAN PENYIMPANGAN SUDUT LEVEL ELEKTRONIK DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKLINASI Okasatria Novyanto; Asep Ridwan Nugraha; Nurul Alfiyati
Instrumentasi Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/instrumentasi.v40i2.136

Abstract

Telah dibuat suatu sistem pengukuran untuk menentukan penyimpangan sudut pada level elektronik dengan menggunakan metode inklinasi. Metode ini menggunakan prinsip trigonometri dengan nilai sumbu x dan y yang diperoleh dari panjang meja inklinasi dan pergerakan length gauge. Level elektronik diletakkan di atas meja inklinasi yang searah sumbu x, kemudian diberikan kemiringan tertentu sehingga terjadi perubahan jarak pada sumbu y. Besarnya perubahan jarak tersebut diukur oleh length gauge. Perpaduan nilai kedua sumbu ini digunakan untuk mendapatkan besarnya nilai sudut terukur. Hasil tersebut diperbandingkan dengan hasil pengukuran menggunakan standar sudut swakalibrasi (SelfA47) yang sudah tervalidasi sebagai nilai acuan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa seluruh titik sampel pengukuran memenuhi kriteria dengan nilai En terbesar berada pada titik -1.400 μm/m, yakni 0,62, sedangkan nilai En terkecil berada pada titik 700 μm/m, yakni 0,02. Dengan demikian, secara eksperimental, metode ini dapat diaplikasikan untuk menentukan penyimpangan sudut level elektronik yang memiliki rentang pengukuran hingga ±2.000 μm/m. Meskipun demikian, hanya 70% saja dari rentang ukur keseluruhan yang disarankan sebagai rentang ukur efektif.
Pengukuran Getaran Tanah Akibat Guguran Batu Vulkanik yang Dudukannya Tergerus Angin Hari H. Santoso
Instrumentasi Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/instrumentasi.v38i1.44

Abstract

Lava yang mengendap di puncak atau lereng gunung berapi akibat letusan beberapa tahun sebelumnya biasanya mempunyai komposisi pasir, debu, dan batuan vulkanik. Endapan lava yang dudukan kesetimbangan pada umumnya tidak stabil tersebut merupakan bahaya laten yang setiap saat dapat meluncur ke kaki bukit atau permukiman di sekitarnya apabila kesetimbangannya terganggu oleh gerusan angin atau curah hujan yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan potensi guguran lava pada saat musim kemarau yang disebabkan oleh gerusan angin kering. Fokus penelitian ini berupa sebuah batu vulkanik yang mempunyai volume sekitar 4 m3 (setara dengan 8.800–10.000 kg) dengan sudut kemiringan di atas 40o dan berada pada titik kritis jatuh sehingga merupakan sumber bahaya guguran batu. Penelitian ini dilakukan selama musim kemarau pada bulan Juli–September 2012 di lereng utara Gunung Merapi dengan menggunakan 3 sensor akselerometer yang diletakkan pada posisi yang berbeda, sedangkan pengukuran kecepatan dan arah angin diletakkan pada lokasi stasiun sensor 1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada musim kemarau tersebut terjadi longsoran endapan batu vulkanik yang disebabkan oleh gerusan angin kering. Kata kunci: Gunung Merapi, lava, guguran lava, kecepatan dan arah angin, akselerometer
APPLICATION OF CIPM 2007 FORMULA AND ITS INFLUENCE IN DETERMINING UNCERTAINTY DUE TO VARIATION OF AIR DENSITY Diina Qiyaman Mushoddiqoh; Nur Tjahyo Eka; Toto Sugiharto
Instrumentasi Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/instrumentasi.v41i2.89

Abstract

Air density measurement is an important parameter in standard mass calibration. The value is calculated from four measured components : temperature, relative humidity, mole fraction of carbon dioxide, and air pressure of environment where the calibration takes place. Empirical formula to calculate air density is recommended by Comité International des Poids et mesures (CIPM) in 1981/91, then updated in 2007. In this paper, there will be explanation about the differences between CIPM 1981/91 formula and CIPM 2007, their applications to air density calculation and the effects to uncertainty budget, and uncertainty contribution from air density variation to the standard mass calibration. The data is taken from the environment condition in Mass Laboratory of RCM LIPI. From the calculation, the average air density obtained from CIPM 1981/91 formula is 0.0001 kg/m3 smaller than that obtained from CIPM 2007. Air density variation in the mass laboratory is calculated as 0.00572 kg/m3 for CIPM 1981/91 formula and 0.00566 kg/m3 for CIPM 2007. Very small difference makes it insignificant to the uncertainty budget. Uncertainty contribution to standard mass calibration for both formulas are relatively the same, about 0.031 kg/m3, with the sensitivity coefficient 3.0 x 10-06 m3, making it the third largest contributor to the uncertainty budget of mass calibration.
Transition of Laboratory Management System Based on ISO/IEC 17025:2017 at SNSU-BSN Chery Chaen Putri; Melati Azizka Fajria; Adindra Vickar Ega; Eka Pratiwi; Yulita Ika Pawestri; Nelfyenny Nelfyenny; Muhammad Haekal Habibie
Instrumentasi Vol 45, No 1 (2021)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/instrumentasi.v45i1.256

Abstract

To accommodate current technological developments and laboratory conditions, ISO (International Organization for Standardization) and IEC (International Electrotechnical Commission) published the latest version of the ISO/IEC 17025 standard in 2017. Complying with ISO/IEC 17025:2017 enables laboratory to provide measurement results that are valid and traceable to international unit system. SNSU-BSN as National Metrology Institute (NMI) in Indonesia has transformed its management system from the old version ISO/IEC17025:2005 to the current ISO/IEC 17025:2017 in 2019. This study explains the process of SNSU-BSN transition in order to establish a management system complying with ISO/IEC 17025:2017. A comparison between the implementation of the old and the current ISO/IEC 17025 was explained along with its impacts and benefits.  This study shows that SNSU-BSN as a NMI in Indonesia has successfully implemented the full implementation of the transition from ISO/IEC 17025:2005 to ISO/IEC 17025:2017 in accordance with the time-frame determined by the Joint ILAC-ISO and KAN.
MEASUREMENT UNCERTAINTY OF THE OPTICAL WAVELENGTH CALIBRATION 633 nm BY BEAT FREQUENCY MEASUREMENT METHODS Asep Hapiddin; Yulita Ika Pawestri; A. M. Boynawan; Ratnaningsih Ratnaningsih
Instrumentasi Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/instrumentasi.v44i2.220

Abstract

Measurement traceability is one of the critical aspects in metrology area. The measurement uncertainty had been evaluated to assure reliability of the optical wavelength calibration system for stabilized He-Ne laser 633 nm in SNSU-BSN. Beat frequency measurement was applied as a calibration method by utilizing KIM-1 as a reference standard that traceable to SI unit through CCL-K11 key comparison. Best measurement capability declares with a relative uncertainty of ±1.3×10-10 by excluding UUC effect. The calibration replica was performed as a validation process, dual mode laser head Agilent 5519B took a role as UUC. As calibration result, beat frequency of KIM-1 and UUC is (122.931±0.060) MHz. Among all of the uncertainty sources, KIM-1 uncertainty most significant influence to the beat frequency uncertainty and the optical wavelength of the UUC laser in vacuum condition. Based on the evaluation result, the calibration system of stabilized He-Ne laser can be validated and trace back with documented unbroken calibration chain to the primary standard of length, KIM-1 where established in SNSU-BSN.

Page 11 of 15 | Total Record : 150