cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
gtm_jd@yahoo.co.id
Phone
+6287861886493
Journal Mail Official
adetantri87@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No.11 Singaraja Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Filsafat Indonesia
ISSN : 26207990     EISSN : 26207982     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jfi.v3i3
Core Subject : Education,
Jurnal Filsafat Indonesia is a scientific journal published by LPPM Ganesha Educational University, which publishes scientific articles on the development and research in philosophy. Journal of Philosophy is published three times a year, in April, June, and September. Editorial Team Journal of Philosophy accepts manuscripts in the field of philosophy which have never been published in other media. The Editorial Team has the right to edit the text to the extent that it does not change the substance of its contents.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 3 (2020)" : 7 Documents clear
HAKIKAT FISIKA DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS Eka Murdani
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v3i3.22195

Abstract

Artikel ini membahas hakikat sains (the nature of science) dan keterbatasan sains (limitation of science) yang lebih dikhususkan pada fisika. Hakikat fisika terdiri atas fisika sebagai proses dan fisika sebagai produk. Produk fisika diantaranya adalah fakta, data, konsep, hukum, prinsip, aturan, teori dan model. Fisika sebagai aktivitas (proses) riset dan pengkajian dengan menggunakan metode ilmiah yang mengandalkan keterampilan-keterampilan proses (observasi, berhipotesis, eksperimentasi, dan sebagainya). Artikel ini ditulis berdasarkan kajian literatur filsafat. Filsafat ilmu berusaha menjelaskan hakekat ilmu fisika yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang padu mengenai berbagai fenomena alam yang telah menjadi objek ilmu fisika itu sendiri, dan yang cenderung terfragmentasi. Untuk itu filsafat ilmu berperan dalam menghindarkan diri dari memutlakkan kebenaran ilmiah, dan menganggap bahwa ilmu sebagai satu-satunya cara memperoleh kebenaran. Dengan filsafat melatih berfikir radikal tentang hakekat ilmu dan menghidarkan diri dari egoisme ilmiah, yakni tidak menghargai sudut pandang lain di luar bidang ilmunya, serta dengan berfilsafat melatih berfikir reflektif di dalam lingkup ilmu.Kata Kunci:  Hakikat Fisika; Eksperimen Fisika; Keterampilan Proses Sains; Keterbatasan Sains.
MERDEKA BELAJAR DALAM PANDANGAN KI HADJAR DEWANTARA DAN RELEVANSINYA BAGI PENGEMBANAGAN PENDIDIKAN KARAKTER Dela Khoirul Ainia
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v3i3.24525

Abstract

Merdeka belajar atau kebebasan berpikir merupakan gagasan yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tujuan dari merdeka belajar yaitu menciptakan pendidikan yang menyenangkan bagi siswa dan guru, karena selama ini sistem pendidikan di indonesia masih memiliki permasalahan yang kompleks. Selama ini pendidikan lebih menekankan pada aspek pengetahuan daripada aspek keterampilan. Dengan dicetuskannya gagasan merdeka belajar siswa dan guru dibebaskan dalam mengembangkan bakat dan ketrampilan dalam dirinya. Merdeka belajar menekankan juga pada aspek pengembangan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai bangsa indonesia. Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai pendorong bagi perkembangan siswa yaitu pendidikan mengajarkan untuk mencapai perubahan dan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. Merdeka belajar yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, karena pendidikan menghilangkan belenggu kesenjangan dan membentuk karakter calon pemimpin bangsa. Merdeka belajar merupakan salah satu bentuk implementasi nilai-nilai pembentuk karakter bangsa dimulai yang dari pembenahan sistem pendidikan dan metode belajar. Diharapkan merdeka belajar dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik serta memberikan manfaat pada lingkungan.  
KONSEP DAN MATRA KONSEPSI TOLERANSI DALAM PEMIKIRAN RAINER FORST Muhammad Nur Prabowo Setyabudi
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v3i3.24895

Abstract

Artikel ini mendiskusikan toleransi dalam konteks demokrasi dan tantangan multikulturalisme. Apakah toleransi terlalu lemah dan ditolak dalam demokrasi sebagaimana klaim umum pendukung multikultural? Ataukah konsepnya diterima hanya konsepsinya yang diperbaharui? Bagaimana relevansinya bagi agenda demokratisasi di Indonesia? Penulis berusaha menjawab pertanyaan tersebut menggunakan perspektif etika dan filsafat politik. Penulisan merujuk kepada sumber kepustakaan (bibliography research) dengan mengacu pada sumber primer pemikiran filsuf kontemporer Rainer Forst, yang menawarkan sebuah pendekatan kritis dan konseptual terhadap toleransi. Artikel ini mencakup tiga bagian: bagian pertama berusaha menjernihkan konsep toleransi dengan analisis konseptual terhadap toleransi. Konsep toleransi bersifat tunggal dan elementer, tetapi konsepsi atau interpretasi tentang toleransi itu dapat beragam sehingga mempengaruhi penerimaan terhadap toleransi. Bagian kedua meletakkan toleransi dalam konteks demokrasi multicultural yang memberi perhatian lebih pada kehadiran kelompok minoritas marginal dalam suatu komunitas. Penulis berargumen toleransi harus diterima sejauh dimaknai secara lebih mendalam setelah dibebaskan dari makna represif di dalamnya, dan menawarkan makna optimal yang lebih egaliter bahkan afirmatif. Bagian terakhir merupakan kontekstualisasi konsepsi toleransi sebagai “mutual-respect”dan “mutual-esteem” atau yang lebih progresif dari itu dalam konteks demokratisasi Indonesia, yang sedikit banyak mengacu pada hasil penelitian lapangan tentang dinamika pluralitas dan minoritas di PMB-LIPI tahun 2018. 
PHILOSOPHY EDUCATION FOR CHILDREN Damar Prasetya
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v3i3.24973

Abstract

Fundamentals of all subjects in higher university education were being taught since early childhood. The basic concepts of biology, medicine and physics were mandatory introduced as natural sciences subjects (ilmu pengetahuan alam) in elementary school curriculum as well as social sciences (ilmu pengetahuan sosial), languages and even religion. These early introduction of subjects will make sure that every children are exposed to this particular education to enrich their knowledge and skill. However, philosophy is not formally available in national curriculum until university level. Paradoxically, one of the essence of philosophy is to ensure a human being is capable to perform critical thinking in their later life. This review aims to delineate the urgency and benefit of introducing philosophy in children in either formal or informal form of education. The early introduction of philosophy will nurture and sharpen the process of thinking in children thus will help them to become a wiser adult in the future. This concept might be a consideration of inserting philosophy as one of the subject in national curriculum.  
FILSAFAT HERMENEUTIKA: PERGULATAN ANTARA PERSPEKTIF PENULIS DAN PEMBACA Tony Wiyaret Fangidae; Dina Datu Paonganan
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v3i3.26007

Abstract

Hermes merupakan seorang dewa Yunani yang bertugas mengantar pesan dari dewa lainnya. Setidaknya ada dua pengertian dari tugasnya, yaitu: Hermes mesti menyampaikan pesan dewa kepada audiens yang mungkin tidak mengerti bahasa dan isyarat dewa, sehingga Hermes berusaha untuk menjelaskan pesan itu dengan kemampuan pengertian audiensnya; dan Hermes mesti menyampaikan maksud dewa secara original. Ketika seorang membaca suatu teks, ketegangan antara dua tugas Hermes itu terjadi, yaitu  antara “maksud penulis teks” atau “penafsiran dari pembaca”. Artikel ini menawarkan metode hermeneutika Rudolf Bultmann dan Martin Heidegger untuk menyatakan bahwa hermeneutika teks dan pembaca senantiasa bersinggungan satu dengan yang lain dalam proses menafsir.
KEADILAN CEPHALUS SEBAGAI SOLUSI PENANGANAN KORUPSI DI INDONESIA Andika Setiawan
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v3i3.27941

Abstract

Penelitian ini hendak menguraikan konsep keadilan Cephalus dari teks Republic. Cara memandang konsep keadilannnya inilah akan menempatkannya pada tawaran solusi bagi penanganan kasus korupsi di Indonesia. Menurut Cephalus, keadilan adalah berkata jujur dan tidak memiliki hutang kepada siapapun, termasuk pembalasan yang setimpal; kebaikan dibalas kebaikan, kejahatan dibalas kejahatan. Penanganan kasus korupsi di Indonesia masih tergolong ringan, sehingga pada tahun 2019 saja KPK berhasil meringkus 76 tersangka korupsi dari 21 operasi tangkap tangan dengan barang bukti sebesar Rp. 12,8 M. Kisah Cicero tempo klasik telah membuka mata insan, bahwa korupsi telah meruntuhkan sebuah negara. Perlu langkah konkrit dalam menyelesaikan kasus ini, misalnya dengan kacamata konsep keadilan Cephalus. Metode penelitaian ini menggunakan kualitatif deskriptif bersifat analisis. Pengumpulan data dengan studi literatur, kemudian data yang terkumpul dibagi menjadi dua bagian: primer dan sekunder. Primer dari teks Republic, sedangkan sekunder dari buku, jurnal, dan internet yang berhubungan dengan itu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep keadilan Cephalus dasarnya berprinsip pada take and give. Perlakuan individu ke individu lain, itulah yang didapat. Menerima sesuai kadar apa yang diusahakan saat memberi. Dunia eskatologi (cerita tentang kematian) yang merupakan lingkaran keadilan Cephalus juga turut berperan dalam penyampai saran pembentukan ruang rohani di dalam Lapas. Dalam ruang rohani, pola pikir para tahanan korupsi akan digembleng dengan siraman rohani dan cerita-cerita tentang kematian, sehingga mereka akan bersyukur dan menerima apa adanya. Konsep inilah yang dinilai sesuai jika diterapkan dalam penanganan kasus korupsi. 
KRITIK TERHADAP EPISTEMOLOGI BARAT Milda Longgeita Pinem
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v3i3.27984

Abstract

Artikel ini membahas kritik terhadap epistemologi yang selama ini dipengaruhi dan bias Barat. Tujuan dari artikel ini adalah mengungkap sisi diskriminatif dari epistemologi tersebut. Dengan menggunakan studi literatur, ada dua hal yang menjadi fokus utama. Pertama, sisi diskriminatif dari epistemologi Barat tidak bisa terlepas dari modernitas yang lekat dengan kemajuan dan kebaruan. Watak demikian pada akhirnya mendiskriminasi cara mengetahui dari masyarakat tradisional atau kelompok etnis tertentu. Kedua, wacana pembangunan menjadi jalan untuk mengembangkan epistemologi yang bias Barat. Wacana ini menjadi alat untuk menguasai kembali negara-negara Selatan atau bekas jajahan melalui justifikasi epistemologi yang khas Barat. Kesimpulan dan saran dari artikel ini adalah sikap kritis ilmuwan yang perlu dihadirkan untuk mampu melihat varian epistemologi lainnya yang sesuai dengan konteks masyarakat tertentu, tentunya tanpa menolak begitu saja semua standar keilmuan Barat.    

Page 1 of 1 | Total Record : 7