cover
Contact Name
Frainskoy Rio Naibaho
Contact Email
frainskoy.rio.naibaho@gmail.com
Phone
+6281263676722
Journal Mail Official
cultivation@iakntarutung.ac.id
Editorial Address
Institut Agama Kristen Negeri Tarutung Kampus I : Jalan Pemuda Ujung No. 17 Tarutung Kampus II : Jalan Raya Tarutung-Siborongborong KM 11 Silangkitang Kec.Sipoholon Kab. Tapanuli Utara email: info@iakntarutung.ac.id
Location
Kab. tapanuli utara,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Teologi Cultivation
ISSN : 25810499     EISSN : 25810510     DOI : https://doi.org/10.46965/jtc
Journal of Teologi Cultivation (JTC) Journal of Religion and Christian Theological Education, published by the Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung, Indonesia, which contains articles on scientific research in the fields of Theology, Missiology, Theology Education and Teaching, History of Theology, Homiletics, Church Science, Catechetics, and Cultivation. The JTC is published biannual in July and December.
Articles 172 Documents
Budak Kesejahteraan Atau Iman Kebebasan (Memahami Kehendak Allah dalam Teodisi Menurut Matius 4:1-11) Jefri Andri Saputra
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 1 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i1.815

Abstract

Masalah teodisi adalah pergumulan teologis yang selalu dipertanyakan di tengah bencana dan kejahatan. Sekalipun banyak upaya untuk menjawab pergumulan ini, namun hal ini tidak menghentikan pertanyaan yang sama untuk terus-menerus diajukan. Dalam tulisan ini, penulis akan mengkaji teks Matius 4:1-11 melalui pendekatan kritik historis. Pendekatan ini mampu menampilkan Yesus sebagai sosok yang menolak menyelesaikan krisis yang dialami oleh bangsa Yahudi. Di akhir tulisan ini, penulis menemukan bahwa dalam masalah teodisi, Allah menempatkan kebebasan manusia sebagai aspek yang lebih utama dari pada kesejahteraan.
Analisis Permasalahan Pelayanan Diakonia Transformatif Di Jemaat GMIT Sion Loti Eritrika Adriana Nulik; Endang Damaris Koli
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 1 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i1.2104

Abstract

Artikel ini menganalisis permasalahan yang berkaitan dengan pemahaman pelayanan diakonia transformatif di jemaat GMIT Sion-Loti. Diakonia transformatif merupakan pendekatan pelayanan gereja yang berfokus pada perubahan sosial kemasyarakatan. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan dalam pemahaman dan implementasi pelayanan diakonia transformatif dan faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman tersebut. Melalui pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap anggota jemaat dan para majelis jemaat. Hasil analisis menunjukkan bahwa permasalahan utama terletak pada pemahaman yang terbatas mengenai esensi diakonia transformatif. Banyak anggota jemaat masih mengaitkan pelayanan diakonia dengan bantuan material, tanggung jawab pihak lain dan bersifat sukarela semata. Faktor budaya, ego, dan kepemimpinan juga memengaruhi persepsi terhadap pelayanan diakonia, mengakibatkan penghalangan dalam mengadopsi pendekatan transformatif. Artikel ini menyimpulkan bahwa diperlukan upaya edukasi dan pelatihan yang lebih intensif untuk meningkatkan pemahaman mengenai diakonia transformatif. Jemaat perlu diikutsertakan dalam dialog dan refleksi kolektif mengenai relevansi pelayanan diakonia transformatif dalam konteks lokal mereka. Selain itu, dukungan dari pihak gereja dalam membentuk budaya pelayanan yang berfokus pada transformasi dapat membantu mengatasi permasalahan yang diidentifikasi.
Gereja Rumah: Peran Eklesial Keluarga Imanuel Teguh Harisantoso
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 1 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i1.1139

Abstract

Di era pandemi covid-19 banyak penelitian gereja rumah yang menekankan dimensi ibadah minggu yang dilakukan di rumah untuk mengantisipasi lonjakan penularan virus covid-19. Penelitian ini mengkhususkan pada bagaimana peran eklesial keluarga dalam gereja rumah. Penelitian kepustakaan sebagai studi atas dokumen-dokumen penelitan dan pustaka yang sudah dilakukan sebelumnya akan membantu menemukan dan menjawab rumusan masalah yang ada. Sebagai kerangka teoritis, artikel ini menggunakan pemikiran domestica ecclesia gagasan bapa-bapa gereja Augustinus dan Yohanes Chrisostomos. Gereja rumah mempunyai akar mendasar dalam pengalaman biblis teks-teks Alkitab. Perjanjian Baru memuat beragam pengalaman persekutuan jemaat perdana yang dilakukan di rumah-rumah. Rumah dan selanjutnya keluarga memainkan peran vital dalam menjalankan tritugas panggilan gereja. Keluarga mengemban tugas sebagaimana kaum imam di jemaat. Keluarga bertugas mengajar anak-anak dan anggota keluarga, tidak hanya untuk mendapatkan keselamatan dunia, tetapi terutama keselamatan surgawi. Keluarga merupakan komunitas cinta kasih dan sekaligus ekspresi autentik sebagai gereja rumah
“Allahmulah Allahku”: Membangun Kredo Kontekstual (Studi Biblis Rut 1: 7-18) Donny Paskah Martianus Siburian; Warseto Freddy Sihombing
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 1 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i1.1634

Abstract

Telah sejak lama keputusan Rut dalam narasi Rut 1:16-17 menjadi kontroversi sebab sulit untuk mengidentifikasi apa alasan pengakuan itu muncul. “Allahmulah Allahku” sebuah pengakuan yang tampaknya lahir begitu mudah dari diri Rut seorang Moab kepada Allah Israel.  Bagi sebagian orang penjelasan motivasi pengakuan Rut dititik beratkan sebagai bentuk iman spontan kepada TUHAN. Namun bagi sebagian lain malah memberikan penjelasan menyoal motif dan alasan pengakuan itu muncul. Ditengah credo yang demikian spontan menjadikan narasi tersebut menarik untuk dianalisis lebih jauh. Artikel ini berupaya melakukan tindakan hermenutik (penafsiran) dengan dalam menelaah teks Rut 1: 16-17 untuk memberikan penjelasan latar belakang munculnya pengakuan itu dengan pendekatan historis hermeneutis. Ditemukan bahwa terdapat berbagai alasan yang dijelaskan sebagai hasil hermeneutis para ahli sehubungan dengan motif Rut yang tidak ingin kembali kebangsanya. Namun terlepas dari baik atau buruk mapun postif atau negatif motif tersebut secara subjektif. Rut “Allahmulah Allahku” menawarkan pembacaan credo yang kontekstual terhadap inklusivitas yang sebenarnya dimana hal tersebut dapat di implikasikan dengan pancasila sebagai credo bersama agar dapat hidup bersama dalam keberagaman Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Kajian Teologis Terhadap Citra Diri Manusia Sebagai Ciptaan Yang Mulia Okto Saul Tande Maure; Amirudin Amirudin
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 1 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i1.2268

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk melihat citra diri manusia dari perspektif teologis, dengan penekanan pada pandangan bahwa manusia adalah ciptaan yang mulia. Abstrak akan menjelaskan pengertian dan analisis teologis tentang citra diri manusia dan implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kajian ini akan dibahas pandangan teologis tentang penciptaan manusia menurut keyakinan agama tertentu, seperti pandangan dalam teologi Kristen, Islam, atau agama lain. Pembahasan akan melibatkan pemahaman tentang bagaimana manusia diciptakan menurut gambar Allah atau memiliki nilai dan martabat yang tinggi. Selanjutnya, penelitian ini akan mengeksplorasi dampak dari pemahaman tersebut terhadap citra diri manusia dan cara-cara untuk memahami dan merawat citra diri yang mulia. Implikasi praktis dalam konteks tanggung jawab moral, etika dan sosial akan dipertimbangkan. Selain itu, juga akan dibahas bagaimana teologi dapat memberikan petunjuk dan pedoman bagi individu dalam mengembangkan kepercayaan diri yang sehat dan positif. Kajian ini memiliki relevansi dalam memahami nilai dan pentingnya citra diri manusia dalam kerangka keyakinan agama. Dalam konteks ini, teologi dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang identitas dan tanggung jawab manusia sebagai ciptaan yang mulia. Dengan memperoleh wawasan tersebut, diharapkan akan memperkuat pengembangan diri dan pemahaman akan nilai-nilai penting dalam kehidupan sehari-hari.
Ini Aku, Utuslah Aku (Suatu Kajian Teologi Sistematika Esensi Panggilan Pendeta Sebagai Hamba Tuhan) Pintor Marihot Sitanggang; Maruli Robintang Munthe
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 1 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i1.1829

Abstract

This article describes the essense of pastor’s calling as the servant of God, surrendered and offered their life to be sending and calling of God to serve people of God. In theological perspective, words “here I am, send me” as proclamation of total surrendering a servant of God to God, to serve Him in life without hesitation. The aim of this article reminds the pastors always remembering and living their calling as the servant of God. The calling as the Servant of God always reminding the Pastors of their duty and responsibility in the Church eventhough challenges has to be faced in their life.  This article used the qualitative (library) research method. Start with biblical study, then what the teologians said about it, and how the contextualization in the journey of Church ministry in this present time.
Dari “Ableist” menuju “Dis-ableist”: Membangun Gereja Yang Inklusiv Bagi Penyandang Disabilitas Novita Grace Sitorus
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 1 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i1.2051

Abstract

“Ableism” merupakan tindakan diskriminasi/penghinaan/ejekan yang dilakukan kepada penyandang disabilitas. Tindakan tersebut acap kali menimbulkan efek negatif yang tentu sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan penyandang disabilitas. Tulisan ini membahas tentang upaya transformasi gereja dari yang ‘ableist’ menuju “dis-ableist”. Kacamata kristologi dan ekklesiologi akan membantu rekontruksi pemikiran mengenai sikap gereja serta masyarakat seharusnya terhadap penyandang disabilitas. Baik kristologi dan ekklesiologi mengungkapkan model solidaritas serta penebusan universal yang membuka jalan bagi seluruh umat manusia, termasuk mereka yang disabilitas. Jadi dalam upaya membangun gereja yang inklusiv, gereja harus menjadi agen damai dalam transformasi pola pikir yang terbuka dalam menanggapi para penyandang disabilitas sebagai manusia yang utuh.
Teologi Toleransi Dalam Dalihan Na Tolu (Kajian Teologi Religionum Menemukan Nilai-Nilai Toleransi di Dalam Budaya Dalihan Na Tolu Sebagai Jembatan Teologi dan Budaya) Zulkarnain Zulkarnain; Junjungan Simorangkir; Ewen Josua Silitonga
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 1 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i1.2267

Abstract

Saat ini konteks kehidupan kita adalah heterogenitas, dimana hampir diseluruh lingkungan hidup kita sehari-hari dipenuhi dengan berbagai hal yang berbeda, mulai dari perbedaan: Agama, gender, budaya, bahasa, ekonomi, status sosial, kedudukan sosial dan lain sebagainya. Secara khusus dalam hal teologi dan budaya. Umumnya teologi terlalu menyibukan diri kepada hal-hal yang doktrinal normatif, logis dan metodis. Ciri teologi seperti ini menerangkan karakter barat bukan karakter Asia. Hal-hal yang bersifat doktrinal normatif akan memperburuk kehidupan kita yang heterogenitas di Asia secara khusus di Sumatera Utara Indonesia. Karakter Indonesia adalah masyarakat yang beradat dan berbudaya, hal itu telah dikenal dunia sejak zaman nenek moyang bangsa ini. Oleh kehadiran dan dominasi agama-agama barat di Indonesia, akhirnya nilai-nilai adat-istiadat budaya di desakralisasikan bahkan termarginalisasikan. Akibatnya karakter masyarakat Indonesia, seolah-olah kehilangan identitasnya dalam merefleksikan iman percayanya. Untuk menjawab tantangan itu, kita memerlukan model berteologi yang baru yang lokus dari teologi itu adalah produk dari apa yang ada pada kita di Indonesia, yang dalam konteks ini adalah Dalihan Na Tolu (DNT) yakni adat-istiadat suku Batak. Bagaimana menjadikan DNT sebagai lokus teologi Indonesia dalam membangun dan menjembatani perbedaan yang ada menuju kerukunan atau toleransi masyarakat Batak secara khusus.
Wajah Baru Danau Toba: Kajian Teologi, Ekologi, Ekonomi PT. Aquafarm Nusantara dan Masyarakat di Danau Toba Gultom, Josua Gesima
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 2 (2023): DESEMBER
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i2.2293

Abstract

Danau Toba merupakan lingkungan alam bagi setiap makhluk hidup berinteraksi. Danau Toba yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Keindahannya yang mempesona tidak terbantahkan, dengan hamparan air yang dikelilingi oleh pegunungan hijau, dan pulau Samosir yang eksotis berada ditengah-tengahnya. Namun sistem ekologi, ekonomi, dan sosial semakin memprihatinkan di Danau Toba yang tidak menghadirkan keseimbangan, kesejahteraan bersama, keadilan sosial-ekonomi, dan keberlangsungan ekologis, sehingga kajian yang penulis lakukan dalam tulisan ini memakai teori Bioregionalisme-Transaksional Evanoff untuk meneliti krisis yang terjadi di Danau Toba. Dengan menggunakan pandangan Evanoff dapat menjadi tawaran dalam menganalisa permasalahan keseimbangan teologi, ekologi, dan ekonomi di Danau Toba.
Menikmati Harmoni Kehidupan: Meninjau Korelasi Teodisi Ala Leibniz dan Teologi Proses dalam Memaknai Penderitaan Neonufa, Russal Reindy
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 2 (2023): DESEMBER
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i2.2231

Abstract

 Penderitaan sering kali dipahami sebagai realitas kehidupan yang mengandaikan penyangkalan akan eksistensi Allah. Penderitaan juga merupakan akibat perbuatan dosa atau kejahatan manusia. Leibniz berupaya menantang pandangan tersebut melalui konsep teodisi yang cenderung mempertahankan kemahakuasaan Allah dalam setiap penderitaan umat-Nya. Kendati demikian, teodisi terlampau teoretis dan abstrak sehingga Allah digambarkan tidak menghiraukan setiap proses penderitaan yang dialami manusia. Pada titik inilah, teologi proses dibutuhkan untuk memahami kehadiran Allah di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk mendiskusikan kedua konsep di atas. Melalui diskusi tersebut, ditemukan bahwa eksistensi Allah perlu dimaknai tidak sekadar sebagai Penguasa yang mengarahkan manusia kepada kebahagiaan, melainkan Ia turut hadir dalam ciptaan-Nya yang menderita.