cover
Contact Name
Frainskoy Rio Naibaho
Contact Email
frainskoy.rio.naibaho@gmail.com
Phone
+6281263676722
Journal Mail Official
cultivation@iakntarutung.ac.id
Editorial Address
Institut Agama Kristen Negeri Tarutung Kampus I : Jalan Pemuda Ujung No. 17 Tarutung Kampus II : Jalan Raya Tarutung-Siborongborong KM 11 Silangkitang Kec.Sipoholon Kab. Tapanuli Utara email: info@iakntarutung.ac.id
Location
Kab. tapanuli utara,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Teologi Cultivation
ISSN : 25810499     EISSN : 25810510     DOI : https://doi.org/10.46965/jtc
Journal of Teologi Cultivation (JTC) Journal of Religion and Christian Theological Education, published by the Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung, Indonesia, which contains articles on scientific research in the fields of Theology, Missiology, Theology Education and Teaching, History of Theology, Homiletics, Church Science, Catechetics, and Cultivation. The JTC is published biannual in July and December.
Articles 172 Documents
Pandemi Covid-19 Dan Wajah Baru Eklesiolgi: Perjamuan kudus sebagai dasar bergereja setelah masa Pandemi Covid-19 Hutasoit, Irvan
Jurnal Teologi Cultivation Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v4i2.310

Abstract

Abstrak:Pandemi Convid-19 telah mengubah peradaban manusia. Pandemi ini bukan lagi hanya sebatas penyakit yang melanda umat manusia. Pandemi ini menjadi momentum bagi manusia untuk mengupayakan perspektif baru tentang kehidupan. Hal itu juga yang terjadi bagi gereja. Pandemi Covid-19 telah menggoncang kemapanan bergereja seperti ini, seperti fenomena ibadah rumah yang menggantingkan ibadah di ruang gereja. Tidak hanya itu saja, pertemuan ragawi digantikan oleh pertempuan virtual. Karena itulah, gereja perlu menampilkan wajah baru akibat pandemi Covid-19. Wajah baru gereja itu diupayakan terhadap pemaknaan Perjamuan Kudus, sebab Perjamuan Kudus tidak hanya ritus dalam gereja. Perjamuan Kudus menjadi rujukan nilai dalam mengupayakan pola bergereja yang aktual dan otentik di dunia ini.Kata Kunci:Perjamuan Kudus, Pandemi Covid-19, Gereja Abstract:The Convid-19 pandemic has changed human civilization. This pandemic is no longer just a disease that afflicts humanity. This pandemic has become a momentum for humans to seek new perspectives on life. That is also the case for the church. The Covid-19 pandemic has shaken the establishment of churches like this, such as the phenomenon of house worship which has replaced worship in church spaces. Not only that, physical encounters were replaced by virtual clashes. For this reason, the church needs to put on a new face due to the Covid-19 pandemic. The new face of the church is sought for the meaning of Holy Communion, because Holy Communion is not only a ritual in the church. Holy Communion becomes a reference value in pursuing an actual and authentic church pattern in this world.Key words:Holy Communion, The Covid-19 Pandemic, Church
Pembacaan Martabat Manusia Sebagai Teks Untuk Konstruksi Budaya Damai ala Levinas dan Murdoch Fiktor Jekson Banoet
Jurnal Teologi Cultivation Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v4i2.166

Abstract

AbstractIn this century, we repeat religion-based violence and mixed with politics from the past. Beyond that, the basis of this form of violence is because it emphasizes the aspects of exclusion in diversity. All of these forms have an impact on the lowest universal value, namely human dignity (also the nature). We would indeed talk about the dignity of creation including the universe. But at this time, the purpose of this paper will only discuss how dignity has reflected only on the limits of human dignity from a theological-philosophical perspective. Especially for building a culture of peace. The dignity of the 'Liyan' must be seen as 'text'. There are many approaches and disciplines for that. However, I try to construct it at the most basic level of efforts to build a culture of peace, namely the interpersonal level. Therefore, the ethics of relations is using to re-read human dignity in diversity to reach the point of encounter, and the values of dignified relation rather than exclusion, and all violence forms as a final consequence.Keywords: the culture of peace, violence, theological-philosophical, ethical relations, diversity.
Hubungan Spiritualitas, Motivasi Kerja dengan Kinerja Guru PAK di Kecamatan Tarutung - Adiankoting Kabupaten Tapanuli Utara Fanorotodo Laia
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.524

Abstract

AbstractThis study aims to determine the relationship between Spirituality and Work Motivation together with the Performance of Christian Religious Education Teachers in Tarutung and Adiankoting Districts, North Tapanuli Regency in 2017. This study uses a descriptive quantitative method approach. The population is all teachers of Christian Religious Education in Tarutung and Adiankoting Districts totaling 31 people as well as being the sample. The research instrument was a closed questionnaire, which was compiled by the researcher based on the indicators of the research variables. The questionnaire test was conducted on 30 respondents who were not the research sample, and had been tested with validity and reliability tests. This research is accepted as true with the data: 1). The X1Y correlation is 0.584 and the coefficient of determination is 34.10%, which shows that 34.10% of teacher performance is determined by teacher spirituality. 2). The X2Y correlation is 0.631 and the coefficient of determination is 39.81%, which shows that 39.81% of teacher performance is determined by work motivation. 3). Double correlation RX1X2Y=0.664 and coefficient of double determination R2 = 44.08%, which means teacher performance of 44.08% is determined by spirituality and work motivation together, partly determined by other factors as well as problem identification. The result is that there is a positive relationship between spirituality and work motivation with the performance of Christian Religious Education teachers in Tarutung and Adiankoting Districts, North Tapanuli Regency in 2017 individually or together because it has been tested empirically. The implication is that if it is to improve performance, teachers must increase their spirituality and work motivation.Keywords : performance; spirituality; work motivation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Spiritualitas dan Motivasi Kerja secara bersama-sama dengan Kinerja Guru Pendidikan Agama Kristen di Kecamatan Tarutung dan Adiankoting Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif deskriptif. Populasi adalah seluruh guru Pendidikan Agama Kristen di Kecamatan Tarutung dan Adiankoting berjumlah 31 orang sekaligus menjadi sampel. Instrumen penelitian berupa angket tertutup, yang disusun oleh peneliti berdasarkan indikator variabel penelitian. Uji coba angket dilakukan kepada 30 responden yang bukan sampel penelitian, dan telah teruji dengan uji validitas dan reliabilitas. Penelitian ini diterima kebenarannya dengan data: 1). Korelasi X1Y sebesar 0.584 dan koefisien determinasi sebesar 34.10%., yang menunjukkan bahwa 34.10% kinerja guru ditentukan oleh spiritualitas guru. 2). Korelasi X2Y sebesar 0.631 dan koefisien determinasi sebesar 39.81%, yang menunjukkan bahwa 39.81%  kinerja guru ditentukan oleh  motivasi kerja. 3). Korelasi Ganda RX1X2Y=0.664 dan koefisien determinasi ganda R2 = 44.08%, yang berarti Kinerja guru sebesar 44.08% ditentukan oleh spiritualitas dan motivasi kerja secara bersama-sama, sebahagian lagi ditentukani oleh faktor lain sebagaimana pada identifikasi masalah. Hasilnya adalah  terdapat hubungan yang positif antar spiritualitas dan motivasi kerja dengan kinerja guru Pendidikan Agama Kristen di Kecamatan Tarutung dan Adiankoting Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2017 secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama karena telah teruji secara empiris. Implikasinya, jika akan meningkatkan kinerja, guru harus meningkatkan spiritualitas dan motivasi kerjanya. Kata Kunci: kinerja; motivasi kerja; spiritualitas.
Bersikap di Tengah Pandemi: Tinjauan Etis Teologis Berkenaan Respon Gereja Terhadap Vaksin Covid 19 David Eko Setiawan; Daniel Fajar Panuntun
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.357

Abstract

Kebijakan vaksinasi oleh pemerintah telah menimbulkan polemik dalam masyarakat karena dianggap terlalu tergesa-gesa. Polemik tersebut ternyata juga terjadi di dalam gereja. Adat pandangan yang mengatakan bahwa vaksinasi merupakan bentuk konspirasi, penggenapan konsep 666 dalam kitab Wahyu serta sebuah upaya antikris untuk menguasai manusia dengan menanamkan chip melalui vaksin tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan tinjuan etis teologis berkenaan sikap gereja terhadap vaksin Covid-19. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan model analisis interaktif. Penelitian ini menemukan bahwa vaksinasi covid secara etis teologis dapat dipertanggungjawabkan karena berguna dan membangun, tidak melawan hukum Allah serta dapat membawa keluar dari pandemi.
Hesychia Menurut Bapa-bapa Padang Gurun dan Delapan Kebajikan Jiwa Hendi, Hendi; Salindeho, Geralda Aprillia
Jurnal Teologi Cultivation Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v4i2.313

Abstract

Pandangan Bapa- bapa Padang Gurun Tentang “Hesychia” - Keheningan. Di dalam artikel ini kami akan menganalisis Perkataan para Bapa Gurun yang disusun oleh John Wortley dalam bukunya yang berjudul The Book of the Elders Saying of Desert Father tentang hesychia. Analisis perkataan mereka juga dipertajam dengan teks- teks di dalam Kitab Suci dan Philokalia tentang hesychia. Hasil analisis 35 perkataan para Bapa Gurun adalah adanya 8 kebajikan jiwa penting di dalam hesychia yaitu: melatih roh (askesis), pemurnian (purifkasi), fokus kepada Allah (nous atau mata tunggal), berjaga-jaga (nepsis), keheningan (silence), pengendalian diri, ketersapihan nafsu (apatheia), dan kasih. Delapan kebajikan jiwa dari hesychia ini dapat diterapkan dalam kehidupan spiritual seperti di masa pandemi ini.
Takut Akan Allah Menurut Bapa-Bapa Philokalia Dan Implikasi Bagi Gereja Masa Kini okto vianus Polulu
Jurnal Teologi Cultivation Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v4i2.311

Abstract

 Philocalia is a collection of texts written in the fourth and fifteenth centuries by the fathers and fathers of the Church in the Orthodox Christian tradition. Fearing God is keeping God's commandments, having God's love and souls purified and united with God in salvation This article is a review, there are 7 main points of discussion. First Repentance is leaving the old man (Eph 4:22, Col 3: 9) . The second is to control oneself is to be “watchful” (1Th 5: 6, 1Th 5:10 Rev. 16:15) so as not to get lost. Third, safeguarding knowledge is to know about God. Four, doing God's commandments is that we give hope to Him with full obedience and hope of being saved by God (Psalm 78: 7, Proverbs 19:16). The five fear with all your heart is a heart that is in Divine light. The six Souls free from sin are those who have run to heavenly calls (Phil. 3:14) to attain a goal or perfection. The goal, to purify the soul is, the soul is already in Divine light.Keywords: The soul is purified; Allah's love; Control;  Keep the commandments of Allah. Philokalia adalah kumpulan teks di tulis pada abad keempat dan abad ke lima belas oleh para rahip dan para Bapa Gereja dalam tradisi Kristen Ortodoks. Takut akan Allah adalah melakukan perintah-perintah Allah, memiliki Kasih Allah dan Jiwa di murnikan serta disatukan dengan Allah dalam keselamatan Artikel ini adalah sebuah ulasan,  ada 7 pokok pembahasan Pertama Pertobatan ialah meninggalkan manusia lama (Ef 4:22, Kol 3:9). Kedua Mengontrol diri ialah “berjaga-jagalah” (1Tes 5:6, 1Tes 5:10 Why 16:15) supaya tidak tersesat. Ketiga, Menjaga Pengetahuan ialah, untuk tahu tentang Allah. Empat, melakukan perintah Allah ialah kita menaru harapan kepada-Nya dengan penuh ketaatan serta harapan akan diselamatkan oleh Allah (Mzm 78:7, Ams 19:16). Kelima takut dengan sepenuh hati ialah hati yang berada dalam cahaya Ilahi. Enam Jiwa terbebas dari dosa ialah, Jiwa yang telah berlari pada pangilan sorgawi (Flp 3:14) untuk mencapai tujuan atau kesempurnaan. Tuju, Memurnikan jiwa ialah, jiwa telah berada dalam cahaya Ilahi.Kata Kunci: Jiwa di murnikan; Kasih Allah; Mengontrol; Melakukan perintah-perintah Allah. 
Makna Frasa Oleh Bilur-Bilurnya Kamu Telah Sembuh (Studi Intertekstualiti Yesaya 53:4-9 dan 1 Petrus 2:22-25) Hulman Simanungkalit; Elim Simamora; Dedi Bastanta
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.646

Abstract

Abstract There are so many usages of Old Testament and New Testament in the Bible survey. The New Testament authors have used Old Testament as one of the sources of their writings. In general, events that the authors had seen undergone are taken from their beliefs towards the Old Testament. For example, one of the well-known biblical verses in the First Book of Peter, “…by whose stripes ye were healed.” (1 Pet.2:24). The apostle Peter quoted the verse from the book of Isaiah. This biblical verse is very frequently quoted and has always been used as a healing prayer for the sick. In his letter, the apostle Peter speaks about Christ, that is Jesus Christ, the Messiah, the One who is anointed. This writing, in fact, refers to the biblical verses in the book of Isaiah which prophesied the event undergone by Messiah. Therefore, in this study, it is important for the writer to conduct such as textual survey between the Book of First Peter and Isaiah that a clear and appropriate understanding of the the two authors will be obtained and then can be applied in daily life of Christians nowadays. Keywords: intertextuality, phrase “by whose stripes ye were healed” Abstrak Dari keseluruhan pembacaan Alkitab, banyak didapati penggunaan PL oleh PB. Para penulis PB menggunakan PL sebagai salah satu sumber tulisannya. Pada umumnya peristiwa yang dilihat maupun dialami oleh penulis masih dilatarbelakangi oleh pemberitaan PL yang dipahami dan diyakin mereka. Seperti salah satunya, sebagian dari kutipan nats yang cukup terkenal dari Surat pertama Petrus, “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1 Petrus 2:24). Jika memperhatikan nats dalam surat Petrus ini, ia sedang mengutip nats ini dari Kitab Yesaya. Nats Firman TUHAN ini banyak diucapkan dan menjadi kata-kata doa yang menguatkan bagi umat Kristen saat ini terlebih lagi bagi yang sedang sakit dan menantikan kesembuhan. Dalam tulisannya, Petrus sedang membahas mengenai Kristus, yakni pribadi Yesus Sang Mesias – yang diurapi. Tulisan ini ternyata merujuk pada tulisan di Yesaya yang menubuatkan peristiwa yang harus dialami oleh Mesias. Dalam tulisan ini, penulis merasa sangat perlu untuk melakukan study intertekstual antara tulisan Petrus dan Yesaya sehingga diperoleh pemahaman yang tepat mengenai maksud yang hendak disampaikan oleh masing-masing penulis Kitab Suci dan dapat diterapkan dalam kehidupan iman Kristen sehari-hari. Kata Kunci: intertekstual; frasa “oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh”
Panggilan Rekonsiliasi: Menggali Nilai-Nilai Teologi Rekonsiliasi Untuk Mewujudkan Perdamaian Di Aceh Singkil Hanna Dewi Aritonang
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.363

Abstract

AbstractReligious conflicts often damages relations and create suspicion amongreligious people. Conflict also often results in violence that results in hatred,mental wounds and even dark memories. The destruction of churches in AcehSingkil and the difficulty of obtaining a building permit of churches (IMB),even to have a church building to carry out worship and various religiousactivities, became a long struggle for the Christian community. However, in themidst of these struggles, public relationship in the post post-conflict era needto be restored. Christians are called to live in peace with all people. This paperaims to explain the efforts that can be made by Aceh Singkil Christians in theircalling and responsibility as peacemakers. The method of research conductedis qualitative research. The results of this study show that the churches in AcehSingkil need to implement the theology of reconciliation by realizing its callingto love, to show hospitality and to build interfaith dialogue in various forms ofjoint actions for the realization of peace in Aceh Singkil.Keywords: Conflict, love, reconciliation.AbstrakKonflik agama sering kali merusak relasi dan menciptakan rasa curiga antarumat beragama. Konflik juga acap kali melahirkan kekerasan yangmengakibatkan kebencian, luka-luka batin bahkan memori kelam.Penghancuran gereja-gereja di Aceh Singkil dan sulitnya mendapat IzinMendirikan Bangunan (IMB) gereja, bahkan untuk memiliki gedung gerejauntuk melaksanakan ibadah dan berbagai aktivitas keagamaan, menjadipergumulan panjang bagi komunitas Kristen. Namun, di tengah pergumulantersebut, relasi masyarakat pasca konflik perlu dipulihkan. Umat Kristendipanggil untuk hidup dalam pedamaian dengan semua orang. Tulisan inibertujuan untuk memaparkan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh umatKristen Aceh Singkil dalam panggilan dan tanggungjawabnya sebagaipembawa damai. Metode penelitian yang dilakukan adalah studi pustaka. Hasil kajian ini memperlihatkan bahwa gereja-gereja di Aceh Singkil perlu mengimplementasikan teologi rekonsiliasi dan mewujudkan panggilannya untuk mengasihi, menunjukkan hospitalitas, membangun dialog lintas iman dalam berbagai bentuk aksi bersama demi perwujudan perdamaian di Aceh Singkil.Kata Kunci: konflik, rekonsiliasi, kasih.
Model Spiritualitas Seorang Pelayan Tuhan Bagi Pertumbuhan Rohani Jemaat Hisikia Gulo
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.613

Abstract

Abstract:Spirituality is very essential in the life of a believer as God created man in His image and likeness. Therefore, this article offers a concrete and practical model of spirituality that is easy to apply by a servant of God for the spiritual growth of the congregation. His nature as a spiritual man is a person who has experienced a renewed relationship with God, then the attributes of God are increasingly visible in his life. The purpose of writing this article is to explain how important it is, the prayer of worshiping Jesus; Second, Repentance with tears; and finally Read the story of the Saints (Hagios) in building the spirituality of a servant of God for the spiritual growth of believers. The method used in writing this article is a literature analyst from Philokalia's spirituality. The results of the study offer a model in building the true spirituality of God's servants in cultivating a relationship with God through a process of obedience that provides space, time and opens the heart personally as wide as possible for God the Holy Spirit to lead the life of a servant of God and the congregation to the relationship. intimate relationship with Jesus Christ. Keywords: Spirituality; Relation; Servant of God; Believers AbstrakSpritualitas merupakan hal yang sangat esensial dalam kehidupan orang beriman sebagaimana Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Oleh sebab itu artikel ini menawarkan sebuah model spiritualitas yang bersifat konkrit dan praktis mudah di aplikasian oleh seorang pelayan Tuhan bagi pertumbuhan rohani jemaat. Sifatnya sebagaimana manusia rohani adalah orang yang sudah mengalami pembaruan relasi dengan Allah, maka sifat-sifat Allah semakin nampak dalam hidupnya. Tujuan penulisan artikel adalah memaparkan bahwa betapa pentingnya, doa puja Yesus; Kedua, Pertobatan dengan air mata; dan terakhir Membaca kisah orang-orang Kudus (Hagios) dalam membangun spiritualitas seorang pelayan Tuhan bagi pertumbuhan rohani orang percaya. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah analis literature dari spiritualitas Philokalia. Hasil penelitian menawarkan sebuah model didalam membangun spiritualitas sejati pelayan Tuhan dalam menumbuhkan-kembangkan relasi dengan Allah melalui sebuah proses ketaatan yang memberikan ruang, waktu dan membuka hati secara pribadi yang seluas-luasnya bagi Allah Roh Kudus agar memimpin kehidupan seorang pelayan Tuhan dan jemaat kepada relasi yang intim dengan Yesus Kristus. Kata kunci: Spiritualitas; Relasi; Pelayan Tuhan; Orang beriman
Mendobrak Diskriminasi Lesbian Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) dalam Bingkai Agama dan Kesetaraan Gender Daniel Tri Juniardo Tambunan
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 2 (2021): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i2.1043

Abstract

Abstract:This paper is intended to address the problems of lesbians, gays, bisexual, transgender or commonly called LGBT. LGBT behavior is widely addressed to people's lives and very often receives disintegration behavior in religious and social life. The basic problem is that LGBT lack of status among communities and that LGBT is receiving violence and discrimination within communities. LGBT people always get the negative view and stigma and hate of society. From a religious perspective and gender equality, the LGBT are marginalized. Because of that, LGBT problem needs attention in frame and gender equality in order to break the bullying of LGBT people. This paper provide by  religious sociology and gender equality perspective to see LGBT rights. Using literacy study, through the study and/or exploration of various journals, books, research results, and documents (both print and electronic), and other data and/or information that perl deemed relevant to the study. The goal of this writing is to force LGBT discrimination in the frame of religion and gender equality.Keywords: LGBT, gender equality, religion Abstrak:Tulisan ini bertujuan untuk menjawab persoalan kaum Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender atau yang sering disebut dengan LGBT. Perilaku kaum LGBT banyak disoroti dalam kehiduapn masyarakat dan sangat sering mendapatkan perilaku diskrimasi dalam kehidupan agama dan masyarakat. Permasalahan mendasar adalah tidak adanya kedudukan LGBT ditengah masyarakat sehingga kaum LGBT mendapatkan kekerasan dan diskriminasi di dalam masyarakat. Kaum LGBT selalu mendapatkan pandangan dan stigma negatif serta kebencian dari masyarakat. Dari perspektif agama dan kesetaraan gender, kaum LGBT adalah kaum yang termarginalkan. Oleh karena itu menyikapi permasalahan tersebut LGBT perlu mendapatkan perhatian dalam bingkai dan kesetaraan gender dalam rangka mendobrak diskrimasi kepada kaum LGBT. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi agama dan kesetaraan gender untuk melihat Hak-hak kaum LGBT. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan, dengan pengumpulan data melalui telaah dan/atau eksplorasi berbagai jurnal, buku, hasil penelitian, dan dokumen (baik cetak maupun elektronik), serta sumber data dan/atau informasi lain yang dianggap perl relevan dengan studi. Tujuan tulisan ini hendak mendobrak diskriminasi kaum LGBT dalam bingkai agamadan kesetaraan gender.Kata kunci: LGBT, kesetaraan gender, agama

Page 7 of 18 | Total Record : 172