cover
Contact Name
Frainskoy Rio Naibaho
Contact Email
frainskoy.rio.naibaho@gmail.com
Phone
+6281263676722
Journal Mail Official
cultivation@iakntarutung.ac.id
Editorial Address
Institut Agama Kristen Negeri Tarutung Kampus I : Jalan Pemuda Ujung No. 17 Tarutung Kampus II : Jalan Raya Tarutung-Siborongborong KM 11 Silangkitang Kec.Sipoholon Kab. Tapanuli Utara email: info@iakntarutung.ac.id
Location
Kab. tapanuli utara,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Teologi Cultivation
ISSN : 25810499     EISSN : 25810510     DOI : https://doi.org/10.46965/jtc
Journal of Teologi Cultivation (JTC) Journal of Religion and Christian Theological Education, published by the Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung, Indonesia, which contains articles on scientific research in the fields of Theology, Missiology, Theology Education and Teaching, History of Theology, Homiletics, Church Science, Catechetics, and Cultivation. The JTC is published biannual in July and December.
Articles 172 Documents
Yesus Hamba TUHAN Yang Dipilih (Penggenapan Yesaya 42:1-4 dalam Matius 12:15b-21) Warseto Freddy Sihombing; Parsaoran Tambunan; Arnol Martumpu Manurung
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.649

Abstract

Abstract: There are many quotations or allusions in the Gospel of Matthew from the Old Testament (OT). He used to mention in his Gospels quotations from the OT which were undergoing such fulfillment in the events recorded before the quotation. This is also understood in the sense of allowing for a complete fulfillment at a later date. Another feature is that all parts of the scriptures as quoted by Matthew are fulfilled. The long fulfillment quote of Isa. 42:1-4 in Matthew chapter 12 meets both standards. In this article, we explore whether paying attention to Matthew’s redactional emphasis in the preceding narrative (12:14-16) can help explain the citation so that it conforms to Matthew’s normal way of using fulfilled OT quotations. There are new nuances and dynamics in the fulfillment of Isaiah’s prophecy in Jesus as the chosen Servant of LORD. Keywords: Servant of LORD, Matthew, Isaiah, fulfillment Abstrak: Ada banyak kutipan atau alusi dalam Injil Matius dari Perjanjian Lama (PL). Ia biasa dalam Injilnya menyebutkan kutipan dari PL yang sedang mengalami penggenapannya sedemikian rupa dalam peristiwa-peristiwa yang dicatat sebelum kutipan. Ini juga dimengerti dalam arti memungkinkan penggenapan yang lengkap di kemudian hari. Ciri lainnya adalah bahwa seluruh bagian kitab suci seperti yang dikutip oleh Matius digenapi. Kutipan pemenuhan yang panjang dari Yes. 42:1-4 dalam Matius pasal 12 memenuhi kedua standar tersebut. Dalam artikel ini, dieksplorasi apakah perhatian pada penekanan redaksional Matius dalam narasi yang mendahului (12:14-16) dapat membantu menjelaskan kutipan sehingga memenuhi cara normal Matius menggunakan kutipan PL yang digenapi. Terdapat nuansa dan dinamika baru dalam pengenapan nubuatan Yesaya di dalam Yesus sebagai Hamba TUHAN yang terpilih. Kata Kunci: Hamba TUHAN, Matius, Yesaya, penggenapan
Membangun Alam Pikir Ekoteologis: Sebuah Refleksi Teologis Atas Tesis Lynn White Bestian Simangunsong
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.626

Abstract

AbstractEcological destruction is a global phenomenon that demands a paradigm change and a new attitude towards the earth as the shared home of all creation. The increasingly of environmental damage is influenced by human paradigms and actions, resulting in exploitative and destructive actions against the earth. Historian Lynn White points out that Western Christian traditions contribute to today's ecological damage. White proposed Francis of Asisi as a "role model" of attitudes and behaviors towards the universe. The research method used in this research is the literature study. This study spread the discourse around White's thesis that produces 4 values of ecological spirituality as an effort to build ecotheological thought towards sustainable communities internalized in environmentally friendly attitudes and behaviors, namely: One, from anthroposentris to Human and non-Human Partnerships. Two, from instrumentalia to intrinsic. Three, from pantheism to panentheism, and the last from self centered to other directed.  Keywords: Ecotheologies, Tesis Lynn White, Sustainable community AbstrakKerusakan ekologis merupakan sebuah fenomena global yang menuntut perubahan paradigma dan sikap baru terhadap bumi sebagai rumah bersama seluruh ciptaan. Kerusakan lingkungan hidup yang semakin parah dipengaruhi oleh paradigma dan tindakan manusia, sehingga melahirkan tindakan eksploitatif dan destruktif terhadap bumi. Lynn White seorang ahli sejarah menuding bahwa tradisi Kekristenan Barat berkontribusi terhadap kerusakan ekologis dewasa ini. White mengajukan Fransiskus dari Asisi sebagai “role model” sikap dan perilaku terhadap alam semesta. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka. Kajian ini membentangkan diskursus seputar tesis White yang  menghasilkan 4 nilai spiritualitas ekologis sebagai upaya membangun alam pikir ekoteologi menuju komunitas berkelanjutan yang terinternalisasi dalam sikap dan perilaku ramah lingkungan, yakni: Satu, dari antroposentris menuju Kemitraan Human dan non-Human. Dua, dari instrumentalia menuju intrinsik. Tiga, dari panteisme menuju panentheisme, dan terakhir dari self centered  menuju other directed. Kata Kunci: Ekoteologis, Tesis Lynn White, komunitas berkelanjutan
Sampai Maut Memisahkan kita ? (Tafsir Matius 19:3-12 Diperhadapkan dengan Keberpihakan Gereja Terhadap Istri Korban KDRT) Pdt Paulina Herlina Norayanti Sirait
Jurnal Teologi Cultivation Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v4i2.320

Abstract

Till Death do us part?(Interpretation of Matthew 19:3-12 Faced with the Partisanship of the Church Against the Wife of the Victim of domestic violence)ABSTRACT Actually, the happy marriage of the coveted all pairs when beginning a commitment to bind themselves in marriage, accompanied by a promise to be loyal to live together in all situations: hard – fun,  sick – healthy, poor – rich,  until the end of life. But in fact, problems in the marriage are increasingly complex. The problems of the household that is increasingly complicated solved, contribute to the cause of the high divorce rate.HKBP as a protestant church in Southeast Asia uphold the integrity of the marriage of the citizens of his congregation, and impose strict regulations against the case of divorce, founded on the Word of God in the Bible: What God has joined together, let not man put asunder, except for sexual immorality (Matthew 19:6, 9). The problem is, there are certain cases in marriage not because of adultery, but has led to the loss of the existence of the marriage, such as acts of domestic violence that occur repeatedly and chronically, but not applicable as an excuse to allow the occurrence of divorce.This Paper assesses the return of Matthew 19:3-12 for the divorce, which faced up to the alignments of the church against victims of domestic VIOLENCE. With the interpretation of the more comprehensive, the church will bring news of liberation for women oppressed in a marital situation which is difficult.TAGS: Marriage, Divorce, domestic Violence, HKBP
Pendampingan Pastoral Dengan Paradigma Spiritual Care Pada Pernikahan Beda Agama Robinson Simanungkalit
Jurnal Teologi Cultivation Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v4i2.318

Abstract

AbstrakPernikahan beda agama adalah sebuah fenomena dan realita yang tidak bisa dihindari. Fenomena ini telah menimbulkan berbagai reaksi bahkan kontroversi dari berbagai kalangan. Apologetika Teologipun berkembang untuk merespons fenomena ini. Terlepas dari kontroversi dan apologetika yang berkembang, isu ini telah menjadi sebuah konteks berteologi khususnya dalam perspektif Teologi pastoral yang kontekstual dan kontemporer. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif melalui studi literatur. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk melihat bagaimana pendampingan pastoral dengan paradigma spiritual care yang menekankan prinsip person centered dihubungkan dengan fungsi-fungsi pendampingan pastoral.AbstractDifferent religion marriage is quite a phenomenon and an unavoidable a reality. This phenomenon has provoked various reactions and even controversies from various circles. Theological apology has also evolved to respond to this phenomenon. Despite the growing controversy and apologetics, this issue has become a theological context especially in the contextual and contemporary perspective of pastoral theology. The research method used in this study is a descriptive qualitative research method through literature studies. The purpose of writing this article is to see how pastoral ministry with a spiritual care paradigm that emphasizes the principle of person centered is associated with pastoral care functions.Kata kunci: Pendampingan pastoral, paradigma spiritual care, pernikahan beda agama
Teladan Rasuli dan Implikasinya dalam Hidup Menggereja 1 Korintus 9:1-27 Rumondang Lumban Gaol
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.447

Abstract

AbstractApostles are servants sent by Christ who are tasked with witnessing about Christ and teaching in the fellowship or community of Christ's followers so that they are seen as pillars of teachers and have a very important role in ministry. Therefore, an Apostle must be an example or role model that should be imitated by the congregation or society because they are very influential figures. The purpose of this study is to examine how the Apostle Paul set himself as an example in his ministry and fulfills his apostolic calling through the text of 1 Corinthians 9: 1-27 and its implications in church life, especially for church servants today. The research method used in this paper is a literature study (library). Based on the study in the text of 1 Corinthians 9: 1-27, several examples of the Apostle Paul's ministry were found, including, not claiming rights for himself and refusing to use his rights as the main thing; prioritize the task of preaching the gospel; use his freedom to win many people and be able to control himself / self-control. Keywords: Servants of God; Apostle Paul; Exemplary AbstrakRasul adalah pelayan yang diutus oleh Kristus yang bertugas memberi kesaksian tentang Kristus serta pengajaran dalam persekutuan atau komunitas pengikut Kristus sehingga  mereka dipandang sebagai soko guru dan memiliki peran yang sangat penting dalam pelayanan. Oleh sebab itu seorang Rasul haruslah menjadi contoh atau teladan  yang patut ditiru oleh jemaat atau masyarakat karena mereka adalah figur yang sangat berpengaruh. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji bagaimana Rasul Paulus menjadikan dirinya sendiri sebagai teladan dalam tugas pelayanannya dan memenuhi panggilan kerasulannya melalui teks 1 Korintus 9: 1-27 dan implikasinya dalam hidup menggereja khususnya bagi pelayan gereja saat ini. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi literatur (kepustakaan). Berdasarkan kajian dalam teks 1 Korintus 9: 1-27 ditemukan beberapa teladan pelayanan Rasul Paulus diantaranya, tidak menuntut hak untuk dirinya sendiri dan menolak mempergunakan haknya sebagai yang utama; mengutamakan tugas pemberitaan Injil; mempergunakan kebebasannya untuk memenangkan banyak orang dan mampu menguasai diri/pengendalian diri. Kata Kunci: Pelayan Tuhan; Rasul Paulus; Teladan
Komposisi Kitab Ulangan: Produk Kompromistis Redaktur Yehuda Oscar Lumban Tobing
Jurnal Teologi Cultivation Vol 2, No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v2i2.369

Abstract

Struktur dan komposisi kitab suci dibuat secara sembarangan atau tidak sengaja. Ada banyak alasan, dan tujuan yang tersirat dari penulis dan editor di dalamnya. Makalah ini memaparkan format dan proses penyusunan kitab Ulangan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, jenis telaah sistematis. Sedangkan hermeneutika yang digunakan adalah metode kritik historis, khususnya kritik literal. Hasilnya menunjukkan bahwa bentuk akhir dari Ulangan adalah produk kompromi pasca-pembuangan oleh editor dari Selatan (Yehuda). Upaya kompromi ini memiliki dua tujuan, yaitu sebagai panggilan dari TUHAN kepada Israel untuk mengingat status "umat pilihan", dan sebagai bentuk pengakuan iman bangsa Israel untuk setia kepada Tuhan, bukan kepada allah lain.
Recalling to Warning:Sosial-Scientific Criticism (SSC) of 1 Corinthians 10:1-13 Tiffany Tamba
Jurnal Teologi Cultivation Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v4i2.348

Abstract

AbstractThe meeting of certain cultures and religions with outside cultures and religions results in complex cultural contacts that even overlap. Add more, the high heterogeneity which will affect the process of acculturation, assimilation, inculturation and even enculturation which may increase diversity immunity, but on the contrary triggers sosial irregularities experienced by the Corinthian Christians in 1 Cor. 10: 1-13. The purpose of this study is to see the sosial dynamics of 1 Cor. 10: 1-13 and find the theological message in it by using the interpretation of Sosial-Scientific Criticism (SSC). The use of this method is successful in tracing the sosial aspects that accompany Paul's warnings, advice and message to the diverse Corinthian Christian church. As a result, Paul did a recalling to warning (vv. 1-5) regarding the parallel experiences between his ancestors and them to become learning (vv. 6-10) to then turn to turn (vv. 11-13) towards optimal and total balance. starting with religious regularity, namely loyalty to Allah.
Makna Kemuliaan Seorang Imam Menurut Yohanes Krisostomus Deswita Sissyaningsy Jihole; Hendi -
Jurnal Teologi Cultivation Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v4i2.304

Abstract

Artikel ini adalah sebuah ulasan tentang Kemuliaan Seorang Imam Dalam Mengembalakan Domba-Domba Kristus Menurut John Chrisostom dalam bukunya yang berjudul Priesthood/keimamatan. Kemuliaan diartikan sebagai hal atau keadaan yang mulia, penuh keluhuran, keagungan, kehormatan, keistimewaan, yang dianugerahkan Allah sesuai kehendak-Nya, salah satunya jabatan kemuliaan kepada seorang Imam yang menjadi wakil Kristus dalam mengembalakan domba-domba-Nya. Sebagai seorang Imam Ia harus mempertanggungjawabkan apa yang Allah percayakan. Ia sangat dituntut dalam pengalaman pelayanannya yang mencakup (karakter, kecerdasan, sikap hati), Pertumbuhan spiritualitasnya, melibatkan Roh Kudus dalam hidupnya, karena itu sangat menentukan keberhasilan pelayanannya secara maksimal. Seorang Imam harus memiliki pengaruh terhadap domba-domba Kristus yang Ia gembalakan, Ia harus mencerminkan Karakter Kristus bukan atas kemauannya sendiri serta mental yang kuat dalam menghadapi berbagai macam kesulitan dalam pelayanan, memberikan terobosan atau perubahan yang menarik dan kekinian untuk memperluas kerajaan Allah dibumi. Sehingga domba-domba yang Ia gembalakan dapat menjadi saksi-saksi Kristus yang multiplikasikan banyak murid menjadi pengikut-pengikut Kristus.
Upaya Peningkatan Perekonomian Jemaat BKPN Melalui Hasil Pengolahan Limbah Batang Pisang (Suatu Pelayanan Berbasis Mazmur 104:14) Alvius Wau; Senida Harefa
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.642

Abstract

Abstract So far, banana tree trunk waste is considered as something that is wasted, not to be used as a material with high economic value. Whereas waste banana tree trunks are materials that are easily found amid rural congregations. This study aims to improve the economy of the BKPN congregation through the utilization of banana tree trunk waste. With an understanding of the utilization of banana stem waste as a source of economic income for the congregation, the congregation will have a mindset right about the utilization of banana stem waste and can apply it effectively. The research data were collected using the Observation and techniques Field notation in their search method Participatory Appraisal Research (PAR) because the study involved local rural congregations. The target congregation that will be used as partners in the productive age congregation who has the desire to do business but does not yet have special skills in utilizing banana stem waste. The results of the research on the production process of banana tree trunk waste can reduce wasted waste and can become a new source of income so that it can increase the economic and aesthetic value and function of the waste for the congregation.Keywords: Economy, congregation, waste, banana stemsAbstrakSelama ini, limbah batang pohon pisang dianggap sebagai sesuatu yang terbuang, bukan untuk dimanfaatkan sebagai bahan material yang bernilai ekonomis tinggi. Padahal limbah batang pohon pisang bahan yang mudah ditemui di tengah-tengah jemaat pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian jemaat BKPN melalui pemanfaatan limbah batang pohon pisang. Dengan adanya pemahaman tentang pemanfaatan limbah batang pisang sebagai salah satu sumber pendapatan ekonomi jemaat, maka jemaat akan memiliki mindset yang benar tentang pemanfaatan limbah batang pisang dan dapat mengaplikasikannya secara tepat guna. dengan Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik Observasi dan Field not dalam metode peneliti Participatory Appraisal Researc (PAR), karena penelitian melibatkan jemaat pedesaan setempat. Jemaat sebagai target yang akan dijadikan sebagai mitra adalah jemaat usia produktif yang memiliki keinginan untuk melakukan usaha namun belum memiliki keterampilan khusus dalam memanfaatkan limbah batang pisang. Hasil penelitian proses produksi limbah batang pohon pisang ini dapat mengurangi pembuangan yang sia-sia dan dapat menjadi sumber pendapatan terbaru sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi dan estetika serta fungsi dari limbah tersebut bagi jemaat.Kata Kunci: Ekonomi, jemaat, limbah, batang pisang 
Pandangan Alkitab Terhadap Seks Sebagai Landasan Iman Kristen David Ming
Jurnal Teologi Cultivation Vol 5, No 1 (2021): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v5i1.360

Abstract

Dunia sekarang ini terus mengalami perubahan termasuk pandangan orang terhadap masalah seks. Beberapa persoalan yang muncul adalah: Apakah yang dimaksud dengan pendidikan? Seks dalam dunia keberdosaan? Bagaimanakah Relasi Pendidikan Seks sebagai Landasan Iman Kristen terhadap Doktrin Kekudusan menurut Reformed? Jawabnya: (1) Pandangan Alkitab tentang pendidikan  seks adalah merupakan karya Allah pada diri manusia sejak diciptakan. (2) Seks adalah sesuatu yang sakral sebagaiman Allah melembagakan pernikahan pertama kali di Eden. (3) Pendidikan seks dapat direlasikan dengan doktrin kekudusan  sebagai landasan iman Kristen sebagai beriku: Pertama, perlunya dikembangkan pendidikan kekudusan di sekolah-sekolah, seminar maupun di gereja agar memperjelas posisi keberdosaan seks yang dilakukan di luar pernikahan. Kedua,  kekudusan yang berpusat kepada Allah menjadi ketergantungan hanya kepada Allah bukan kepada manusia. Ketiga, kekudusan yang diteladani oleh Yesus menjadi tokoh yang dapat diteladani  oleh semua orang sehingga setiap orang mempunyai panggilan untuk hidup

Page 6 of 18 | Total Record : 172