cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 1 (2024)" : 9 Documents clear
Keterlibatan Masyarakat Desa dalam Pengelolaan Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Wringin Putih Yunita, Irma; Kutanegara, Pande Made
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15712

Abstract

This research aims to find out the involvement of local communities in Balkondes management, as well as to find out how important local community involvement is in the sustainability of Balkondes management in Wringin Putih Village, Borobudur District, Magelang Regency, Central Java Province. The method used in the research is qualitative research with descriptive approach through interviews and participant observation, which aims to obtain collect data in clear and in-depth understanding of the focus in this study researched. There are two sources of data in this research, namely primary data from interviews with informants, and secondary data sources from literature study. The results of this research show that (1) The Wringin Putih Community has involvement in various important roles in Balkondes management with different duties depending on the involvement that occurs. Start from involvement as actors in Balkondes, community involvement in arts and culture programs, and involvement of the general public society and youth in several additional activities at Balkondes Wringin Putih in certain big events. (2) Involvement of the local community is important for the sustainability of the management of the Wringin Putih Balkondes because the main aim of establishing the Balkondes is to empower and improve the economy of the village community. And the people of Wringin Putih village are the ones who were focused on getting direct benefits from the existence of Balkondes. This thing can strengthen the community's sense of ownership and responsibility for village development and progress.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji terkait keterlibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan Balkondes, sekaligus untuk mengetahui seberapa penting keterlibatan masyarakat setempat dalam keberlanjutan pengelolaan Balkondes di Desa Wringin Putih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu dengan metode penelitian akualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui kegiatan wawancara dan observasi partisipatif dari peneliti tersendiri, yang bertujuan untuk memperoleh data dan pemahaman yang luas, jelas dan mendalam mengenai fokus kajian yang sedang diteliti. Sumber data pada penelitian ada dua, yaitu dari data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan, dan sumber data sekunder yang berakar pada studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Masyarakat Desa Wringin Putih memiliki keterlibatan di berbagai peranan penting dalam pengelolaan Balkondes dengan tupoksi yang berbeda-beda tergantung dari keterlibatan yang terjadi. Dimulai dari keterlibatan masyarakat sebagai aktor/pemeran utama balkondes, keterlibatan masyarakat dalam program seni budaya, dan keterlibatan masyarakat umum dan pemuda di beberapa kegiatan dadakan tambahan di Balkondes Wringin Putih ketika ada event besar tertentu. (2) Keterlibatan masyarakat setempat, penting untuk ada keberlanjutannya dalam pengelolaan Balkondes Wringin Putih, dikarenakan tujuan utama didirikannya Balkondes sejak awal yaitu untuk memberdayakan dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Pada riset ini, masyarakat desa Wringin Putih menjadi pihak yang difokuskan untuk ditelusuri manfaat langsung yang mereka rasakan dari keberadaan Balkondes. Hal ini dapat memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap pembangunan dan kemajuan desa.
Eksistensi Permainan Tradisional Tamtam Buku dalam Membentuk Keterampilan Sosial Ratnawati, Dewi; Karsiwan, Karsiwan
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15874

Abstract

Social skills can be explained as a person's ability to adapt to society and get along with other people (socializing). Social skills include the ability to communicate, build relationships with other people, respect individuals and other people, give or receive input, give or receive criticism, act according to existing norms and rules, and so on. Social skills are not a person's innate ability but rather are acquired through a learning process from parents, peers and the environment. Therefore, every child must be trained and accustomed to interacting with other people from an early age so that the child will grow into a person who has maturity in thinking and acting. This research study aims to improve and develop children's social skills through book tamtam games and to preserve traditional games by making them a learning medium in schools. The method used in this research is qualitative, data collection through interviews, observation and documentation notes. Research findings show that book tamtam games are still quite popular among elementary school students. This game is used as a learning medium in scout activities as a place for interaction and socialization between peers, teachers and those at the place where they study. In this paper, it is revealed that the book tamtam game is able to improve children's social skills in various aspects such as children's interpersonal behavior, behavior related to themselves, behavior related to academic success, peer acceptance, and communication skills.Abstrak: Keterampilan sosial dapat dijelaskan sebagai kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan masyarakat dan bergaul dengan orang lain (bersosialisasi). Keterampilan sosial meliputi kemampuan berkomunikasi, membina hubungan dengan orang lain, menghargai individu dan orang lain, memberi atau menerima masukan, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang ada, dan lain-lain. Keterampilan sosial bukanlah kemampuan bawaan seseorang melainkan diperoleh melalui proses belajar dari orang tua, teman sebaya, dan lingkungan. Oleh karena itu setiap anak harus dilatih dan dibiasakan untuk bergaul dengan orang lain sejak dini sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mempunyai kematangan dalam berpikir dan bertindak. Kajian ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan sosial anak melalui permainan tamtam buku serta untuk melestarikan permainan tradisional dengan cara menjadikannya sebagai media pembelajaran di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan catatan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa permainan tamtam buku masih cukup eksis di kalangan siswa sekolah dasar. Permainan ini dijadikan sebagai media pembelajaran dalam kegiatan pramuka sebagai ajang berinteraksi dan bersosialisasi antara teman sebaya, guru, dan pihak yang ada di tempat mereka belajar. Di dalam tulisan ini mengungkapkan bahwa permainan tamtam buku mampu meningkatkan keterampilan sosial anak dalam berbagai aspek seperti perilaku interpersonal anak, perilaku berhubungan dengan diri sendiri, perilaku berhubungan dengan keberhasilan akademis, penerimaan teman sebaya, dan keterampilan komunikasi.
Rasionalitas Pangilang Saka dalam Aktivitas Usaha Gula Merah pada Masyarakat Nagari Bukik Batabuah Kabupaten Agam Jannah, Miftahul
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.13307

Abstract

This study discusses the rationality of pangilang saka in palm sugar business activities, including the work activities of pangilang saka and toke, the classification of pangilang saka, the production process to the packaging and distribution of palm sugar, and the rational considerations of pangilang saka. The research subjects were pangilang saka, who used to sell their brown sugar to the traditional market but now prefer to sell their brown sugar to toke. Toke was chosen based on their rational considerations. To obtain data, seven informants and three observers were taken. This number is considered to represent the others. The research used a qualitative research method with a descriptive approach that aims to describe the rationality of pangilang saka in brown sugar business activities. Data collection techniques were carried out by observation, in-depth interviews, document studies, and literature studies. The research findings show that pangilang saka in Nagari Bukik Batabuah have behaved rationally, which initially pangilang saka sold their brown sugar production to the traditional market, but now they sell their brown sugar production to toke. The selected toke also uses rational considerations, namely: choosing a toke based on the similarity of location; choosing a toke based on a mutually beneficial relationship; and choosing a toke based on a higher selling price.Abstrak: Kajian ini mendeskripsikan tentang rasionalitas pangilang saka dalam aktivitas usaha gula merah yang mencakup aktivitas kerja pangilang saka dan toke, klasifikasi pangilang saka, proses produksi hingga pengemasan dan distribusi gula merah, serta pertimbangan-pertimbangan rasional pangilang saka. Subjek penelitian adalah pangilang saka, di mana dulunya mereka menjual hasil produksi gula merah ke pasar tradisional kini lebih memilih menjual hasil produksi gula merah kepada toke. Toke dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasionalnya. Untuk mendapatkan data diambil tujuh informan pelaku dan tiga informan pengamat. Jumlah ini dianggap dapat mewakili yang lainnya. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskripstif yang bertujuan untuk mendeskripsikan tentang rasionalitas pangilang saka dalam aktivitas usaha gula merah. teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, studi dokumen, dan studi literatur. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pangilang saka di Nagari Bukik Batabuah sudah bersikap rasional, yang pada awalnya pangilang saka menjual hasil produksi gula merah ke pasar tradisional, namun sekarang sudah menjual hasil produksi gula merah ke toke. Toke yang dipilih juga menggunakan pertimbangan rasional, yaitu: memilih toke berdasarkan kesamaaan lokasi bermukim; memilih toke berdasarkan hubungan saling menguntungkan; dan memilih toke berdasarkan harga jual yang lebih tinggi.
Harmonisasi Kehidupan Masyarakat Beragama pada Lingkungan Gated Community di Kelurahan Panggungharjo Yogyakarta Fitrianatsany, Fitrianatsany
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15986

Abstract

Living harmoniously in religious communities is crucial to fostering amicable relationships between different religious groups, especially in gated communities. A  gated community is a diverse group of people from different ethnicities, religions, and cultures living together. Gated communities offer comfortable, safe, and exclusive housing with security systems, such as a gate arrangement. They also provide public facilities like green open spaces and even a place of worship for residents. This study uses qualitative research methods to explore the development trends of gated communities and how religious life can harmonized within them. The results of this research show that millennials living in  gated community complexes view many communities as exclusive, and they do not find these gated communities appealing. However, they still live in harmony with the residents by smiling, greeting each other, being polite, and welcoming to everyone. Additionally, residents of these communities use public facilities for routine gatherings and social-religious activities to strengthen kinship and promote harmony between residents.Abstrak: Kehidupan masyarakat beragama yang harmonis menjadi kunci dalam sebuah kerukunan hidup antar umat beragama pada umumnya dan khususnya di lingkungan  gated community atau yang sering disebut sebagai komunitas berpagar.  gated community merupakan tempat bermukim masyarakat dengan beragam suku bangsa, agama dan juga budaya. Selain itu,  gated community juga menawarkan hunian yang nyaman dan aman serta ekslusif dengan menawarkan sistem keamanan seperti one gate system. Di dalamnya juga menawarkan fasilitas umum seperti ruang terbuka hijau dan bahkan tempat ibadah bagi para penghuninya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk melihat lebih dalam terkait dengan tren perkembangan  gated community dan harmonisasi kehidupan beragama masyarakat  gated community di Kelurahan Panggungharjo Yogyakarta. Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah kehidupan kaum milenial yang bermukim di kompleks  gated community atau perumahan yang notabene di konstruks oleh masyarakat luas sebagai masyarakat yang ekslusif dan individual ternyata tidak ditemukan di komunitas berpagar tersebut. Mereka justru menerapkan hidup rukun dengan para warga dengan saling senyum, sapa, sopan, ramah dan tamah kepada setiap orang. Selanjutnya warga hunian tersebut juga memanfaatkan fasilitas umum untuk perkumpulan rutin dan kegiatan sosial keagamaan yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan dan kerukunan antar warga.
Transformasi Beut Gampong: Dari Sarana Komunikasi Menuju Gerakan Derma Arifin, Awaludin
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.16002

Abstract

The significance of why the Beut Gampong tradition still persists in the village of Paloh Lada lies in its multifaceted benefits. Specifically, Beut Gampong aims to impart religious knowledge to the community. Therefore, its activities are inseparable from religious rituals (Islam) such as Quranic recitation, studying classical Islamic texts (kitab kuning), reciting blessings upon the Prophet Muhammad (salawat), listening to lectures, and communal prayers. Additionally, Beut Gampong serves as a complex communication tool. Within it, residents discuss various topics to be used as discussion material that will be analyzed by the Tengku (spiritual leader). As a communication tool, Beut Gampong is closely related to instruments that connect the communicator (Tengku) with the congregation. Beut Gampong can be interpreted as a tradition of seeking religious knowledge initiated by both village residents and village institutions themselves. For residents who organize it, these religious gatherings are usually held in private halls, residents' homes, or in locations donated by individuals for public use. Meanwhile, gatherings organized by the village are typically held in the Meunasah or village hall. Moreover, this tradition still endures amidst the challenges posed by the increasingly massive use of communication media for acquiring religious knowledge. However, the role of communication media cannot entirely replace this tradition, considering the values embedded in the traditional communication mechanisms of the Beut tradition are irreplaceable. Among these values are those inherent in the Teungku (teacher), who influences the thoughts and decisions of the community.Abstrak: Salah satu asalan penting mengapa tradisi Beut Gampong masih bertahan di Desa Paloh Lada adalah kemanfaatannya yang tidak tunggal. Secara khusus, Beut Gampong bertujuan untuk membakali pengetahuan agama kepada masyarakat. Karenanya, kegiatan tersebut tidak terlepas dari ritual keagamaan (Islam) seperti membaca Al-Quran, mengkaji kitab Islam klasik (kitab kuning), shalawat, mendengar ceramah, dan bershalawat. Selain itu, Beut Gampong sebagai satu sarana komunikasi yang kompleks. di dalamnya, warga akan membicarakan banyak hal untuk dijadikan sebagai bahan diskusi yang akan dibedah oleh Tengku yang membimbing kegiatan. Sebagai sarana komunikasi, Beut Gampong sangat erat kaitannya dengan instrumen yang dapat menghubungkan antara komunikator (Tengku) dengan jamaah.  Beut Gampong dapat dimaknai sebagai trdisi menuntut ilmu agama yang diinisiasi oleh warga desa maupun institusi desa itu sendiri. Bagi warga desa yang menyelenggarakannya biasanya pengajian dilakukan di balai-balai milik pribadi, rumah warga juga di lokasi yang diwakafkan oleh seseorang untuk kepentingan umum. Sedangkan, pengajian yang diselenggarakan oleh desa biasanya diselenggarakan di Meunasah atau balai desa. Selain itu, tradisi ini masih bertahan di tengah tantangan media komunikasi yang semakin massif digunakan untuk mendapatkan pengalaman belajar ilmu agama. Hanya saja peranan media komunikasi tidak seutuhnya mampu menggantikan tradisi ini secara total mengingat nilai-nilai yang dikandung dalam mekanisme komunikasi tradisional pada tradisi beut tidak tergantikan. Diantaranya ialah nilai-nilai yang terkandung pada diri Teungku (pengajar) yang mempengaruhi pemikiran dan keputusan masyarakat.  
Islamist Networks in Southeast Asia Abdul Rahman Puteh, Al Chaidar; Kamil, Ade Ikhsan
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15968

Abstract

Before we examine the Islamist networks in Southeast Asia, we need to clarify what we mean by Islamism and jihadism. These are two related but distinct concepts that often cause confusion and misunderstanding. Islamism is a political ideology that seeks to apply Islamic principles and values to public life. Jihadism is a militant strategy that uses violence and armed struggle to achieve Islamic goals. Islamism and jihadism are not synonymous, nor are they mutually exclusive. There are different types of Islamists and jihadists, and they do not always agree or cooperate with each other. We will also discuss some of the challenges and opportunities for dialogue and cooperation among Muslims and non-Muslims in the region, as well as the implications for regional and global security. The Islamist networks in Southeast Asia are diverse and complex, and they draw their inspiration and influence from various sources and categories of Islamist and jihadist ideologies.
Pengetahuan Masyarakat Mengenai Peraturan Perilaku Membuang Sampah pada Masyarakat Belakang Balok Kota Bukit Tinggi Wirandi, Hazqi Shahib; Afrida, Afrida; Ermayanti, Ermayanti
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15624

Abstract

Waste problem that occurs in Bukittinggi City, namely the accumulation of garbage at several points that are not accordance with the schedule set by the Bukittinggi City government. Garbage accumulation was allegedly caused by people disposing garbage outside the schedule, according to one department head of Bukittinggi Government. This behaviour related to knowledge that community have to disposing their garbage and how this behaviour can affect the environment in which the community is located. The purpose of this research to describe how the community behaviour in disposing garbage, especially at people in Urban Village of Belakang Balok and how the influence on the environment. This research conducted using case study qualitative research method, with data collection techniques through observation, interviews, and documentation also informants selection using purposive sampling technique. This study find that the community knowledge related to regulations and methods of disposing of garbage are good. The behaviour of disposing garbage according to the schedule for the majority of the people at Urban Village of Belakang Balok are good. Furthermore, regarding the disposing garbage behaviour that not according to schedule, it was found that there were local and outside people that dispose their garbage outside schedule. The interactions carried out by individuals to their environment have several influences, such as the accumulation of garbage, and unpleasant odor from the piles of garbage. There are community efforts to protect the environment from this behaviour and influence such as cleaning by officers, community cooperation and reprimands or sanctions by related parties.Abstrak: Permasalahan sampah yang terjadi di Kota Bukittinggi yaitu penumpukan sampah di beberapa titik yang tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kota Bukittinggi. Penumpukan sampah diduga disebabkan oleh masyarakat yang membuang sampah di luar jadwal, menurut salah satu kepala dinas Pemerintah Kota Bukittinggi. Perilaku ini berkaitan dengan pengetahuan masyarakat dalam membuang sampah dan bagaimana perilaku tersebut dapat mempengaruhi lingkungan dimana masyarakat tersebut berada. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bagaimana perilaku masyarakat dalam membuang sampah khususnya pada masyarakat di Kelurahan Belakang Balok dan bagaimana pengaruhnya terhadap lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan masyarakat terkait peraturan dan cara membuang sampah sudah baik. Perilaku membuang sampah sesuai jadwal untuk sebagian besar masyarakat Kelurahan Belakang Balok sudah baik. Selanjutnya mengenai perilaku membuang sampah yang tidak sesuai jadwal, ternyata masih ditemukan adanya masyarakat setempat dan luar Kelurahan Belakang Balok yang membuang sampahnya di luar jadwal. Perilaku membuang sampah yang dilakukan individu tersebut terhadap lingkungan setempat mempunyai beberapa pengaruh, seperti penumpukan sampah, dan bau tidak sedap dari tumpukan sampah. Terdapat beberapa upaya masyarakat untuk menjaga lingkungan dari perilaku dan pengaruh tersebut seperti pembersihan oleh petugas, gotong royong masyarakat dan teguran maupun sanksi oleh pihak terkait.  
Membentuk Karakter Pemuda melalui Pencak Silat Sekinci-Kinci Suranti, Bibit; Karsiwan, Karsiwan
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15974

Abstract

The increasing tide of globalization penetrating Indonesia is having an impact on the erosion of the moral character of Indonesian youth. Globalization causes between nations in the world to no longer have a boundary wall, so that information, culture, and negative impacts from other countries easily enter Indonesia. The character of Indonesian youth, which should be based on Pancasila and the Constitution as the identity of the nation, has been replaced by characters that should not be such as hedonism, capitalism and individualism. Pencak silat is a typical Indonesian culture that can be used as a means of building the character of the nation's youth. Pencak Silat training, incorporating both spiritual and physical elements, aims to cultivate individuals with civility and good character. Qualitative research is applied to this research by utilizing a number of data sources from interviews, documentation, internet content, literature reviews, and observations. The results of this study can be concluded if the character of the youth can be formed through the practice of pencak silat sekinci-kinci based on art, martial arts, sports, brotherhood, and spiritual. Meanwhile, the characters that can be formed in young people are such as, love of the country, love of local culture, simple, confident, polite and polite. Harmonization of the concept of youth character building with the aim of pencak silat sekinci-kinci, namely; Maintaining kinship, solidarity, mutual love and nurturing within the framework of the unity of the Indonesian nation based on the teachings of Islam, Pancasila and the 1945 Constitution.Abstrak: Arus globalisasi yang semakin meningkat berdampak pada terkikisnya karakter moral yang dimiliki para pemuda Indonesia. Globalisasi menyebabkan antar bangsa di dunia tidak lagi memiliki dinding pembatas, sehingga informasi, budaya, serta dampak negatif dari negara lain mudah masuk ke Indonesia. Karakter pemuda Indonesia yang seharusnya berdasarkan Pancasila dan UUD sebagai identitas jati diri bangsa telah beralih dengan karakter yang tidak seharusnya seperti hedonisme, individualis, dan kapitalisme. Pencak silat ialah kebudayaan khas Indonesia yang dapat dijadikan sebagai sarana pembentukan karakter pemuda bangsa. Unsur rohani serta jasmani yang terkandung pada latihan pencak silat diharapkan dapat melahirkan individu yang beradab dan berkarakter baik. Penelitian kualitatif diterapkan pada penelitian ini dengan memanfaatkan sejumlah sumber data dari hasil wawancara, dokumentasi, konten internet, tinjauan pustaka, serta observasi. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan jika karakter para pemuda bisa dibentuk melalui latihan Pencak Silat Sekinci-kinci berdasarkan pada kesenian, bela diri, olahraga, persaudaraan, serta spiritual. Sementara karakter yang dapat terbentuk di dalam diri pemuda yakni seperti, cinta tanah air, cinta kebudayaan lokal, sederhana, percaya diri, sopan dan santun. Harmonisasi konsep pembentukan karakter pemuda dengan tujuan Pencak Silat Sekinci-kinci yakni; menjaga kekeluargaan, kesetiakawanan, saling asah asih dan asuh dalam kerangka persatuan bangsa indonesia berdasarkan ajaran islam, pancasila dan UUD 1945. 
Kehidupan Rumah Tangga Pasangan yang Menikah Dini di Desa Koto Tengah Nabila, Hanifah Putri; Setiawati, Sri; Yunarti, Yunarti
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15801

Abstract

This research was motivated by early marriages that occurred in Koto Tengah Village. Early marriage in this study includes the age at which marriage is stated in the marriage law, the mental and physical readiness of the couple, as well as the domestic life of the couple who entered into the early marriage. The Marriage Law states that marriages can be carried out when they are aged 19 years and over, but in one of Koto Tengah Villages every year there are residents who marry under the age of 19 years. Based on this, this research aims to identify the factors that cause couples to marry early and analyze how socio-economic life occurs in the households of early married couples in Koto Tengah Village. This research uses a descriptive qualitative method, using data collection techniques in the form of observation, interviews, literature study and documentation. Meanwhile, the selection of informants was carried out using purposive sampling. This research uses the concepts of marriage, early marriage, family, household and socio-economics and Radclift Browm's functional structural theory. The results of this research explain that the factors that cause couples to marry early are factors community habits, factors MBA (marriage by accident), factors of parents economic condition, and factors quit or drop out of school. Socio-economic life in the households of early married couples is not running properly because they still live in the house of the woman's parents, meaning that in one house there is more than 1 household where their parents still help fulfill their daily needs..Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pernikahan dini yang terjadi di Desa Koto Tengah. Pernikahan dini dalam penelitian ini meliputi usia pernikahan yang tertera dalam undang-undang perkawinan, kesiapan mental dan fisik pasangan, serta kehidupan rumah tangga pasangan yang melangsungkan pernikahan dini tersebut. Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa pernikahan dapat dilakukan ketika sudah berusia 19 tahun ke atas, namun di salah satu Desa Koto Tengah setiap tahunnya terdapat warga yang menikah di bawah usia 19 tahun. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan pasangan menikah dini dan menganalisis bagaimana kehidupan sosial ekonomi yang terjadi pada rumah tangga pasangan yang menikah dini di Desa Koto Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Sementara itu, pemilihan informan dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan konsep pernikahan, pernikahan dini, keluarga, rumah tangga dan sosial ekonomi serta teori struktural fungsional Radclift Browm. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan pasangan menikah dini adalah faktor kebiasaan masyarakat, faktor MBA (marriage by accident), faktor kondisi ekonomi orang tua, dan faktor berhenti atau putus sekolah. Kehidupan sosial ekonomi dalam rumah tangga pasangan pernikahan dini tidak berjalan sebagaimana mestinya karena mereka masih tinggal di rumah orang tua pihak perempuan, artinya dalam satu rumah terdapat lebih dari 1 kepala keluarga yang mana orang tua mereka masih membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Page 1 of 1 | Total Record : 9