Aceh Anthropological Journal
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles
198 Documents
Fenomena Tukang Kredit Di Kampung (Studi Antropologi Ekonomi di Gampong Meunasah Blang Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe)
Mardiana Mardiana
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v1i2.1141
Artikel ini mengkaji tentang Fenomena Tukang Kredit Di Kampung, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana fenomena tukang kredit kampung di Gampong Meunasah Blang Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe, dan bagaimana masyarakat tertarik pada transaksi tukang kredit tersebut. Kredit merupakan suatu fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan usaha untuk meminjam uang untuk membeli produk dan membayarnya kembali dalam jangka waktu yang ditentukan Dengan menggunakan metode penelitiannya adalah pendekatan kualitatif dan yang menjadi tekhnik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Observasi yang dilakukan adalah obsevasi non-partisipasi, observasi dilakukan untuk melihat bagaimana cara transaksi jual beli kredit dan bagaimana cara mengatasi pembeli yang sulit membayar cicilannya. Sedangkan wawancara dilakukan untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada tukang kredit, pelanggan yang membeli barang secara kredit dan masyarakat yang tidak membeli barang secara kredit. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pandangan masyarakat tentang fenomena perkreditan di Gampong Meunasah Blang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat kelas menengah kebawah di Gampong ini menyukai transaksi jual beli barang secara kredit dikarenakan penghasilan mereka yang kurang mampu membeli barang secara tunai atau kontan hal ini diketahui dengan banyaknya barang yang mereka beli secara kredit tidak membeli secara tunai dipasar atau toko-toko yang menjual barang-barang rumah tangga
BUR TELEGE : ETNOGRAFI GERAKAN KOLEKTIF MASYARAKAT DALAM MEMBANGUN WISATA ISLAMI
Ade Ikhsan Kamil;
Iromi Ilham;
Siti Ikramatoun;
Richa Meliza;
Sjaffruddin Sjaffruddin
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v5i2.5650
Lahirnya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 membuka peluang bagi desa untuk mandiri dan otonom. Keistimewaan tersebut salah satunya untuk berpartisipasi dalam peningkatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan kawasan wisata islami. Berdasarkan hal tersebut, kebangkitan pariwisata Buttelege membuka asa baru dalam penelitian tentang desa. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengkaji 3 hal utama, pertama; bagaimana proses awal munculnya ide untuk membangun daerah Pariwisata Burtelege dengan memanfaatkan dana desa. Kedua; mellihat bagaimana dampak sosial, peruubahan dan perkembangan. Ketiga; mengkaji negosiasi yang dibangun oleh inisiator dalam menjawab tantangan hadirnya wacana wisata islami. Dengan menggunakan pendekatan etnografi, penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dinamika sosial-ekonomi terkait dengan pengembangan kawasan wisata Burtelege. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada faktor awal dari pembangunan dan pengembangan Burtelege sebagai kawasan wisata.tiga faktor tersebut adalah keinginan untuk mengubah stereotip kampung, mengembalikan keaktifan pemuda dan keinginan mengorganisasikan parkir di hari Minggu sebagai stimulan. Selain itu, partisipasi masyarakat berupa kegiatan swadaya telah menstimulus perkembangan Burtelege sebagai kawasan wisata islami.
KEHIDUPAN PEREMPUAN NELAYAN DI GAMPONG UJONG BLANG KECAMATAN BANDA SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE
Selpia Arwida Tanjung;
Abdullah Akhyar Nasution
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v3i1.2789
Pokok masalah yang diajukan dalam paper adalah perlunya meninjau kembali tentang kehidupan yang dijalani oleh perempuan-perempuan pencari tiram dan kontribusi ekonomi yang diberikan oleh mereka untuk perekonomian rumah tangga nelayan di Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Kota ini memiliki sumber daya alam laut yang melimpah sebagai wilayah pesisir, selayaknya dengan sumber daya alam yang ada dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang menempati kota tersebut, terkhusus bagi keluarga yang berada di pesisir yaitu Gampong Ujong Blang. Penelitian ini menggunakan kajian antropologi ekonomi dengan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan oleh para perempuan pencari tiram sangat signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga nelayan. Keberadaan mereka juga untuk mendukung pendapatan suami yang sangat terbatas dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bahkan, terkadang hasil yang didapat oleh perempuan melebihi dari pendapatan suami, tetapi ini semua tergantung bagaimana keahlian mereka dalam mengolah tiram pasca pencarian.
Lunturnya Permainan Tradisional
M Husein MR
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v5i1.4568
Zaman sekarang ini, semakin maju terknologi akan merubah secara perlahan pola pikir dan kehidupan sosial suatu masyarakat. Salah satunya permainan tradisional yang sudah perlahan luntur dan tergeser dengan adanya permainan modern. Dewasa sekarang ini, anak-anak lebih menyukai atau mengemari permainan modern dibanding dengan permainan tradisional. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bermain tidak lagi menjadi aktivitas fisik dalam daya tumbuh kembang seorang anak. Dalam penelitiannya ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, menganalisis tentang fakta sosial. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada tiga hal, yang pertama adanya pergeseran budaya dan nilai terhadap suatu permainan, kedua, kurangnya ketertarikan permainan tradisional karena tidak adanya tantangan dalam suatu permainan dan ketiga, pengaruh lingkungan dan pola interaksi yang menyebabkan tingkatnya kontak langsung dengan anak-anak yang bermain permainan modern.
PROGRAM HUMANISASI: REFLEKSI TENTANG REHABILITASI PELAKU DAN KORBAN TERORISME UNTUK KONTEKS INDONESIA
Al Chaidar;
Herdi Sahrasad;
Iskandar Zulkarnaen;
Fauzi A Rahman;
Muntasir Abdul Kadir;
Abdul Hadi Arifin
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v3i1.1158
Tak terhitung berapa rupiah materi dan pengorbanan lainnya yang dihabiskan untuk menanggulangi perkara terorisme melalui program deradikalisasi, sampai-sampai Polri dan BIN dituding berbagai kalangan sebagai lembaga yang sengaja membikin ‘proyek terorisme’ demi kelangsungan anggaran anti-terorisme milyaran rupiah/tahun. Harus disadari, dicamkan dan ditekankan bahwa dalam membasmi terorisme, negara dan masyarakat mesti seayun langkah dan bersatu. Tulisan ini menawarkan gagasan humanisasi sebagai bagian dari upaya deradikalisasi untuk menambal lubang-lubang yang bocor dari program yang sudah dilaksanakan. Dalam hal ini, humanisasi adalah respon untuk mencegah eskalasi kekerasan. Humanisasi mengakui martabat yang melekat pada manusia, mengakui kemanusiaan lawan-lawannya dan hak-hak asasi semua anggota keluarga manusia. Humanisasi memungkinkan orang mengenali karakteristik manusia yang dianggap musuh atau lawannya, sehingga dapat membantu orang untuk membatasi eskalasi kekerasan yang ekstrim. Humanisasi juga dapat membuka jalan bagi hubungan timbal balik dan keyakinan dalam kesetaraan manusia, menciptakan norma-norma bersama yang membatasi cara konflik tersebut dilancarkan.
NOMOKRASI ISLAM UNTUK INDONESIA
Al Chaidar
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3150
Negara dalam Islam yang paling tepat adalah nomokrasi Islam, artinya kekuasaan yang didasarkan kepada hukum-hukum yang berasal dari Allah, “karena tuhan itu abstrak, maka hanya hukum Tuhan yang nyata”. Nomokrasi Islam adalah suatu sistem pemerintahan yang didasarkan pada asas-asas dan kaidah-kaidah hukum Islam (Syari’ah) yang merupakan “Islamic rule of law”. Untuk mewujudkan pemerintahan yang berdaya guna berhasil, bersih, amanah dan bertanggungjawab secara nomokratis, di Indonesia telah dimulai oleh Pemerintah Aceh yang telah berkomitmen untuk memperbaiki tatakelola Pemerintahan Indonesia dengan melakukan kebijakan reformasi birokrasi dan menetapkannya menjadi salah satu prioritas Pembangunan Aceh. Berkaitan dengan pelaksanaan penataan kelembagaan perangkat Indonesia telah di inisiasi di Aceh sejak tahun 2005 hingga akhir 2006. Dengan ditetapkannya UUPA maka terlihatlah gambaran baru dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah dan dalam rangka pelaksanaan otonomi khusus bagi Pemerintah Aceh. Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah menetapkan PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat daerah sebagai suatu pedoman dalam penataan kelembagaan perangkat daerah di Indonesia. Semestinya Indonesia menerapkan sistem nomokrasi Islam sedari awal negara ini berdiri untuk menjaga sistem pemerintahan yang adil, efektif, efisien dan bertanggungjawab bagi seluruh rakyat
PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM PENDIDIKAN ISLAMUNTUK MERAWAT KEMAJEMUKAN
Mustamar Iqbal Siregar
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v2i1.1146
This paper discusses the use of anthropological approaches in Islamic education. In this process, there is a serious effort to integrate and interconnect the two sciences while seeing how far the positive implications are for reformulating the curriculum and the learning process. So that the texture that will be seen from Islamic education is more multicultural. And normatively, Islamic teachings are no longer presented in their textual-partial, radical forms, but are more substantial-contextual. The final projection of methodological creations based on literature review is the emergence of Islamic education as commander for efforts to care for the plurality of the nation in Indonesia. So that the nature of universality and elasticity of Islam is very felt, both among its followers, as well as for allhumanity.
PERILAKU ADIKTIF TERHADAP GAME PLAYER UNKNOMWN’S BATTLE GROUNDS (PUBG)
Bunaiya Bunaiya
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v3i2.2780
The development of online games cannot be separated from the development of technology today. The enthusiasts are not only teenagers, but also adults. This study seeks to examine why the youth of Lhokseumawe City experience addiction to the PUBG game and the social implications caused by the presence of the game. The focus of the research is teenagers aged 18-21 years in Lhokseumawe City. The results showed that addiction to this game was caused by environmental conditions (friends and available facilities), excessive hobbies, as well as because the content presented in this game could stimulate the players' adrenaline. In another language it can be said that the features provided are very masculine. The most obvious social implication due to the presence of this game is a change in lifestyle that occurs in the neighborhood of Lhokseumawe City youth, one of which is in terms of interaction and communication styles. The accumulation of PUBG game behaviors and habits that have become a new lifestyle has led to a thickening of consumerismAbstrakPerkembangan game online tidak terlepas dari berkembangnya teknologi dewasa ini. Peminatnya bukan saja dari kalangan remaja, namun juga kalangan dewasa. Penelitian ini berusaha mengkaji mengapa remaja Kota Lhokseumawe mengalami kecanduan terhadap game PUBG dan implikasi sosial yang ditimbulkan oleh kehadiran permainan tersebut. Fokus penelitian adalah kalangan remaja berusia 18-21 tahun yang ada di Kota Lhokseumawe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecanduan terhadap game ini disebabkan oleh kondisi lingkungan (teman dan fasilitas yang tersedia), hobi yang berlebihan, juga karena konten yang disuguhkan dalam permainan ini dapat memacu adrenalin para pemain. Dalam bahasa yang lain bisa disebutkan bahwa fitur yang tersedia sangat maskulin. Implikasi sosial yang paling nyata akibat kehadiran permainan ini adalah perubahan gaya hidup yang terjadi di lingkungan remaja Kota Lhokseumawe, salah satunya dalam hal gaya interaksi dan komunikasi. Akumulasi perilaku dan kebiasaan game PUBG yang menjadi gaya hidup baru berujung pada mengentalnya sikap konsumerisme
ETNIS MENTAWAI DAN KONDISI KETAHANAN PANGAN LOKAL PADA MASA PANDEMI COVID-19
Robi Mitra;
Erwin Erwin
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v6i1.5782
This research aims to describe food security in the Mentawai Ethnic community during the Covid-19 pandemic. The implementation of health protocols resulted in reduced community mobility due to the number of prohibitions and obligations that must be carried out by the community. In the Mentawai ethnic community, it is marked by a decrease in the number of ships used by rice food traders. This condition is expected to strengthen local food security in the Mentawai ethnic community (taro, banana, and sago). This research was conducted in Goiso Oinan Village, one of the villages on Sipora Island, North Sipora District which is approximately 20 km from the capital city of the Mentawai Islands Regency (Tuapejat). This study uses qualitative methods (purposive sampling) and descriptive data analysis by describing the results of ethical analysis and emic analysis and local food security in the Mentawai ethnic community. The result findings indicate that people are aware of local food (taro, banana, and sago). For instance, consumption previous the Covid-19 pandemic ate rice 3 times a day, now it turns into 1 meal of rice and replaces local food in meeting daily needs. There is also a sense of pride in the existence of local food which exceeds the needs of the family.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ketahanan pangan pada masyarakat Etnis Mentawai pada masa pandemi Covid-19. Implementasi pelaksanaan protokol kesehatan telah mengakibatkan mobilitas masyarakat berkurang karena adanya sejumlah larangan dan kewajiban yang harus dilakukan oleh masyarakat. Pada masyarakat Etnis Mentawai ditandai dengan berkurangnya frekuensi jumlah kapal yang digunakan oleh pedagang sehingga ketersediaan pangan beras menjadi berkurang. Kondisi ini diduga akan memperkuat ketahanan pangan lokal pada masyarakat Etnis Mentawai (keladi, pisang dan sagu). Penelitian ini dilakukan di Desa Goiso Oinan, salah satu desa di Pulau Sipora Kecamatan Sipora Utara yang berjarak kurang lebih 20 Km dari ibu kota Kabupaten Kepulauan Mentawai (Tuapejat). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (penarikan sampel secara purposive sampling) dan analisis data yang bersifat deskriptif dengan memaparkan hasil analisis etik dan analisis emik serta kaitannya dengan ketahanan pangan lokal pada masyarakat Etnis Mentawai. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terjadi meningkatnya kesadaran masyarakat akan pangan lokal (keladi, pisang dan sagu). Contohnya, pola konsumsi sebelum pandemi Covid-19 makan nasi 3 kali sehari, sekarang berubah menjadi 1 kali makan nasi dan diganti mengonsumsi pangan lokal dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Terlihat juga rasa bangga akan keberadaan pangan lokal yang jumlahnya melebihi dari kebutuhan keluarga.
Rabu Nehah (Studi Etnografi tentang Larangan Turun Kesawan pada Masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet Kecamatan Nisam)
Rahmatul Maulida
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v1i1.360
Artikel ini berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kecamatan Nisam khususnya di Gampong Paloh Kayee Kunyet dengan melihat larangan turun kesawah pada hari rabu di akhir bulan di masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet. Tradisi Rabu Nehah masih tetap dijalankan oleh masyarakatnya walaupun masyarakat lain sudah tidak menjalankan tradisi ini, sehingga menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Artikel ini dilakukan di gampong Paloh Kayee Kunyet Kecamatan Nisam dengan judul “Rabu Nehah”. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif data dikumpulkan melalui wawancara dengan narasumber Kuejrun Blang. Hasil artikel dapat disimpulkan bahwa tradisi adalah sesuatu yang tidak bisa dihilangkan dari masyarakat. Mengingat tradisi tersebut merupakan kegiatan yang telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet dari dahulu hingga saat ini. Rabu Nehah adalah tradisi yang masih di jalankan oleh masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet hingga saat ini pada setiap hari rabu di akhir bulan masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet dilarang untuk beraktivitas turun kesawah seperti menabur benih, membuka lahan, menanam padi dan semuahal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan sawah terkecuali mereka yang memanen padidiperbolehkan untukturun kesawah. Tujuan dibuatnyarabu nehah ini adalah untuk menolak bala, sehingga masyarakat dapat terhinggar dari segala sesuatu yang tidak diinginkan sesuai dengan wawancara penulis dengan beberapa masyarakat di Gampong Paloh Kayee Kunyet.