cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 198 Documents
TRADISI MANOE PUCOK DALAM UPACARA PERKAWINAN DI GAMPONG GUNONG CUT KECAMATAN TANGAN-TANGAN ACEH BARAT DAYA: KAJIAN ANTROPOLOGI BUDAYA Linda Wati Nur; Teuku Kemal Fasya
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i2.3124

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tradisi Manoe Pucok pada masyarakat Gampong Gunong Cut Kecamatan Tangan-Tangan Aceh Barat Daya dan untuk mengetahui seperti apa makna dari tradisi Manoe Puco kmasyarakat Gampong Gunong Cut Kecamatan Tangan-Tangan Aceh Barat Daya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggambarkan kajian tentang antropolog ibudaya.Sumber data dalam penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tradisi Manoe Pucok pada masyarakat Gampong Gunong Cut merupakan bagian yang senantiasa dilakukan dalam upacara perkawinan maupun acara sunat Rasul. Melalui tradisi Manoe Pucok manusia diajarkan sopan santun, tatapergaulan dan tatakarma dengan rekan sebaya maupun dengan masyarakat sekitar sertamampu mengenang dan mengingat jasa kasih sayang kedua orang tua yang telah mendidik dan membesarkan sang anak hingga orang tersebut beranjak dewasa. Pengertian makna tradisi Manoe Pucok dalam masyarakat Gampong Gunong Cut merupakan ungkapan yang di simbolkan dalam pembersihan diri sebelum seseorang menempuh kehidupan yang baru serta mengandung unsur nasihat dalam membangun suatu akhlak mulia terhadap orang tua, kerabat sendiri, pasangan hidup maupun dengan masyarakat. Selain itu di dalam upacara Manoe Pucok juga terkandung simbol-simbol yang mempunyai makna tersendiri dan media atau alat komunikasi bagi masyarakat untuk memahami dan mengetahui nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Upacara Manoe Pucok dalam masyarakat berperan sebagai sarana pengendalian sosial, kontak sosial, interaksi dan komunikasi antar warga masyarakatnya, sehingga dapat mewujudkan kegotong-royongan, persatuan dan solidaritas diantara sesama warga masyarakat.
BUDAYA DAN KERAKTERISTIK MASYARAKAT PEDESAAN Muhammad Husein
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v5i2.5624

Abstract

kegiatan usaha tani masyaraka dipedesaan, masih juga terdapat desa-desa yang masih menggunakan tehnologi sederhana dalam kegiatan pertaniannya, bahkan juga ada yang masih menggunakan alat-alat tradisional dalam kegiatan usaha taninya, hal ini merupan impak dari ketidak keseimbangan pembangunan pada masa lampoe, sehingga keadaan ini telah menyumbang pada masalah  kemiskinan, lapangan pekerjaan, sumberdaya manusia, penguasaan tehnologi, pengguran hingga kepermasalahan tenaga kerja produktif, penghijrahan penduduk, masalah SDM, keterbatasan pengetahuan dalam hal bertani, pola fikir masyarakat dan hingga kepermasalahan usaha tani yang dilakukan hanyan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya sahaja, keadaan ini merupakan sebuah hambatan dan kendala dalam membangun sektor desa tanpa adanya kesadaran yang mendasar dan menyeluruh terutama dari masyarakat itu sendiri terutama dalam hal pola fikir, penguasaan tehnologi dan keterbukaan dalam menerima sesebuah inovasi, juga keadilan dan keseriusan pemerintah dalam membangun  sektor pedesaan merupakan kunci utama terberdayanya sektor ini. Industri masuk desa, arah dan kebijakan pembangunan, factor pendukung sarana dan prasarana lainnya dan komitmen pemerintah merupakan salah satu syarat mutlak untuk tercapainya kesejahteraan dan kemamakmuran bagi masyarakat disektor ini. 
KETIKA KESAKRALAN SITUS PURBAKALA MULAI PUDAR (Studi Antropologi Budaya Terhadap Keberadaan Arca Antromorfis Bagi Masyarakat Pakpak Desa Mahala Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara) Lasmayanti Siketeng
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.359

Abstract

Artikel ini melihat Kesakralan Situs Purbakala yang Mulai Pudar, Studi Antropologi Budaya Terhadap Keberadaan Mejan di Desa Mahala Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara. Mejan adalah istilah yang menyatakan patung batu dalam bahasa Pakpak yang berbentuk manusia sedang menunggang gajah atau kuda pada umumnya digunakan sebagai objek berhala dan merupakan simbol kepahlawanan dan benteng pertahanan bagi masyarakat Pakpak. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif, data yang digunakan seperti, observasi, wawancara. Observasi dilakukan untuk melihat situs purbakala dan aktivitas masyarakat di Desa Mahala. Tehnik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis interaktif dengan tahapan dimulai dari pemilihan masalah, pengumpulan data, menganalisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkaan bahwa ada beberapa hal yang menyebabakan terjadinya pergeseran pemahaman masyarakat terhadap situs purbakala seperti mejan saat ini. Pertama, masyarakat telah menyakini agama-agama besar yang telah diakui oleh Negara sehingga kepercayaan terhadap mejan hilang. Kedua, masyarakat telah memahami peraturan hokum yang berlaku di masyarakat. Ketiga, memudarnya pemahaman masyarakat terhadap mejan terkiks oleh kemajuan zaman yang semakin tahun semakin modern. Seiring berjalannya waktu dan kemajuan zaman fungsi mejan mulai berubah, mejan hanya menjadi benda-benda peninggalan yang bersejarah bagi masyarakat.
GENTRIFIKASI DAN PERGOLAKAN LAHAN DI KELURAHAN TANJUNG TONGAH KECAMATAN SIANTAR MARTOBA KOTA PEMATANGSIANTAR Dwi Anggraeni; Teuku Kemal Fasya; Abdullah Akhyar Nasution
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i2.2778

Abstract

This article has the theme of land conversion or gentrification that occurred in Tanjung Tongah Village, Martoba District, Pematangsiantar City. In depth, this study will observe and analyze the background of the gentrification process at the research location. This research uses qualitative social methods that are descriptive in nature with observation techniques, in-depth interviews, documentation study and literature study. The results showed that there are several factors behind the occurrence of gentrification in Tanjung Tongah Village, including unclear land ownership status by the community, factors of urban development and urbanization as well as factors of economic turmoil experienced by land owners. Abstrak:  Artikel ini bertema alih fungsi lahan atau gentrifikasi yang terjadi di kelurahan Tanjung Tongah, Kecamatan Martoba, Kota Pematangsiantar. Secara mendalam penelitian ini akan mengamati dan menganalisis latarbelakang terjadinya proses gentrifikasi di lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan metode sosial kualitatif yang bersifat deskriftif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya gentrifikasi di Kelurahan Tanjung Tongah, di antaranya status kepemilikan lahan yang tidak jelas oleh masyarakat, faktor pembangunan kota dan urbanisasi serta faktor gejolak ekonomi yang dialami oleh masyarakat pemilik lahan.
Hobi Ekstrim Pecinta Reptil: Studi Antropologi Budaya pada Komunitas Animal Lovers di Kota Lhokseumawe Indri Purnamasari; Iromi Ilham
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v5i1.4603

Abstract

Hobi memelihara reptil memunculkan varian perilaku yang berbasis pada berbagai motivasi dan tujuan yang berkorelasi dengan pandangan hidup (nilai) dan budaya masing-masing masyarakat. Oleh karena itu, tulisan ini mengkaji tentang bagaimana perilaku hobi ekstrim pecinta reptil dengan fokus kajian pada Komunitas Animal Lovers di Kota Lhokseumawe. Penelitian yang menggunakan pendekatan antropologi budaya ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, studi dokumen, dan literatur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motif dan nilai penting dari lahirnya komunitas tersebut serta untuk mengetahui bagaimana hubungan atau relasi yang terjalin antara manusia dengan hewan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa nilai penting yang menjadi latar belakang lahirnya komunitas Animal Lovers Lhokseumawe, di antaranya: (1) nilai budaya, (2) nilai sosial, (3) nilai pendidikan (edukasi), (4) nilai seni (hiburan), dan (5) nilai eksistensi. Kemudian berdasarkan motif dan nilai dalam pelaksanaan kegiatan hobi tersebut, ada beberapa perilaku yang menunjukkan ekspresi sayang terhadap hewan di kalangan Animal Lovers Lhokseumawe, diantaranya adalah; perhatian terhadap hewan (menjaga kebersihan, memberi makan, dan menyediakan tempat tinggal), dan bermain dengan reptil. Perilaku tersebut cenderung menampilkan wujud relasi manusia dengan hewan di kalangan dalam memelihara reptil.
EATING OUT SEBAGAI GAYA HIDUP (Studi Kasus Fenomena Remaja Kota Banda Aceh di Restoran Canai Mamak KL) Suci Fajarni
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i1.2784

Abstract

Kegiatan konsumsi mendorong seseorang untuk mereproduksi kehidupannya. Kondisi ini berimplikasi pada menjamurnya restoran, café-café, foodcourt, warung kopi, dan berbagai gerai makanan lainnya. Kajian ini diharapkan mampu mengembangkan wawasan terkait dengan perkembangan gaya hidup remaja Kota Banda Aceh yang mendapatkan kepuasan dan kesenangan yang muncul dari aktivitas eating out. Subjek penelitian adalah kaum remaja yang berusia 17 sampai dengan 30 tahun. Secara garis besar, penelitian ini menunjukkan bahwa eating out telah mewujud dalam kehidupan remaja Kota Banda Aceh dan menjadi kegiatan yang sudah biasa dilakukan sehingga menjadi gaya hidup (life style). Ia berhubungan dengan persoalan selera, habitus seseorang, lingkungan,dan interaksi sosial. Eating out juga dapat menjadi arena bertemunya bentuk-bentuk modal, habitus dan praktek sosial remaja.
WISATA ZIARAH SEBAGAI IDENTITAS SOSIAL: STUDI ANTROPOLOGI BUDAYA DI MAKAM SULTAN MALIKUSSALEH KECAMATAN SAMUDERA, KABUPATEN ACEH UTARA Muliadi Muliadi; Teuku Kemal Fasya; Iromi Ilham
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3152

Abstract

Ziarah awalnya merupakan kegiatan ritual keagamaan, kemudian berkembang menjadi wisata ziarah (pilgrimage tourism). Wisata ziarah adalah perjalanan wisata yang tujuaanya berkaitan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan dari peserta tur atau kelompok dari masyarakat. Praktik ziarah memunculkan perilaku yang bervariasi diantara satu daerah dengan yang lainnya. Penelitian ini mengkaji tentang “Wisata Ziarah Sebagai  Identitas Sosial (Studi Antropologi Budaya di Makam Sultan Malikussaleh Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara)”. Penelitian ini menggunakan metode sosial kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, studi dokumen, dan studi literatur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif serta perilaku peziarah yang bisa diidentifikasi sebagai identitas sosial masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ada beberapa motif peziarah mengunjungi makam Sultan Malikussaleh, diantaranya; (1) karena tradisi agama, (2) sebagai wasilah atau perantara berdoa, dan (3) cok beurkat (mengambil keberkahan). Kemudian berdasarkan tujuan pelaksanaan ziarah, ada beberapa perilaku yang sering terjadi di Makam Sultan Malikussaleh, diantaranya berdoa, peuphon kitab, bernazar, dan belajar sejarah. Perilaku tersebut cenderung menampilkan karakter identitas masyarakat Aceh dalam berziarah
INTERPRETASI AGAMA DALAM RUTINITAS KESEHARIAN MASYARAKAT KOTA LANGSA Yogi Febriandi
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i1.1150

Abstract

This article examines the interpretation of religious teachings in the daily routine of the people of Langsa, Aceh. Langsa is an area that applies Islamic law like Aceh in general. The Langsa religious culture is not different from other Aceh regions. It's just that Langsa, more displays the cosmopolitan region with various ethnicities and religions that have mingled together. In sociology, Langsa displays the criteria for a bureaucratic and semi-industrial middle city. in such conditions, it is interesting to see the interpretation of religion in the Langsa community to see the influence of bureaucratic and semi-industrial modern life. The study was conducted with a phenomenological method with additional data in the form of interviews with 2 informants. The results of the study indicate that the interpretation of religion in Langsa takes various forms. This is because of the difference in the experience of community interaction with social conditions which gives rise to a variety of interpretations. In general, the interpretation of religion in Langsa still shows the condition of the formality where religion as a demand in humans interacts with God, not with humans.
IDENTIFIKASI STAKEHOLDER DAN ANALISIS AKTOR SERTA KELEMBAGAAN TERKAIT ISU PUBLIK PENGEMBANGAN KAWASAN PETERNAKAN KERBAU BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI GAYO LUES Abdullah Akhyar Nasution; Iromi Ilham; Teuku Kemal Fasya
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i2.3120

Abstract

Tradisi beternak kerbau saat ini masih dapat dijumpai di banyak daerah di nusantara, namun secara kualitas dan kuantitas sudah jauh berkurang, termasuk tradisi uwer (beternak) kerbau yang dipraktekkan oleh masyarakat Gayo Lues. Salah satu penyebab adalah kurangnya perhatian stakeholder setempat terhadap permasalahan ini. Padahal, praktek uwer tidak hanya berpotensi mengembangkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, namun juga sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Jika tidak dilakukan proteksi, tidak menutup kemungkinan kerbau akan hilang dalam budaya kehidupan Gayo. Kondisi ini menjadi dasar bagi peneliti untuk mengkaji tentang identifikasi stakeholder dan analisis aktor serta kelembagaan terkait pengembangan kawasan peternakan yang berbasis keraifan lokal di Gayo Lues. Lebih lanjut, penelitian ini juga membahas tentang bagaimana para aktor dan lembaga terkait dengan pengelolaan dan isu pengembangan peternakan di kawasan tersebut. Penelitian ini menggunakan studi etnografi dan metode analisis jaringan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan Focuss Group Discussion (FGD). Penelitian ini menghasilkan beberapa diskusi, yaitu: Pertama, banyak aktor dan lembaga yang terlibat dalam usaha pengembangan peternakan kerbau di Gayo Lues, namun kurangnya sinergitas dan kerjasama antar aktor berimplikasi pada degradasi kebudayaan peternakan kerbau yang berbasis kearifan lokal; kedua, kurangnya stategi yang dimiliki oleh pemangku kebijakan berimplikasi pada kurang minatnya masyarakat untuk melanjutkan tradisi uwer saban hari. Seharusnya banyak potensi yang bisa dilihat, dikembangkan dan dimanfaatkan terkait praktek peternakan kerbau di Gayo Lues; dan ketiga, sistem sosial yang diperankan oleh pemerintah, peternak kerbau, tokoh adat, juga toke kerbau harus dimaksimalkan sehingga bisa mencegah terjadinya economic inequality dan cultural insecurity.
PENYELESAIAN SENGKETA MASYARAKAT MELALUI PERADILAN ADAT DI DESA TAMPUR PALOH Ary Raihan; Filkarwin Zuska
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i1.6104

Abstract

This study aims to analyze the apparatus of customary justice and the code of ethics in dispute resolution and how the dispute resolution model is used in the Gampong customary court. For some cases, a husband and a wife who are divorced in customary court are officially divorced according to customary law, but they do not have formal legality so other stages are needed to obtain formal legality. The result of this study showed that the dispute court in the Gayo community, Tampur village Simpang Jernih, East Aceh, for the judicial disputes that occurred in the Tampur Paloh community still broadly used the customary Acehnese traditional court, even though the dispute occurred with a different ethnic group.  The statement above was confirmed by the traditional figure of Tampur Paloh which was considered the most senior at the time. There were two stages for the implementation of the customary judicial apparatus; the first stage was through the Gampong traditional institution and the second through the traditional institution at the settlement level. From receiving reports and evaluating conflicts to the final trial stage and issuing decisions in customary court, customary administrators were responsible for all stages of customary law courts. Customary court decisions had also to do justice for both parties, according to customary court officials.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perangkat peradilan adat dan kode etik dalam penyelesaian sengeta serta bagaima model penyelesaian sengketa yang digunakan dalam peradilan adat gampong. Beberapa kasus misalnya suami istri yang bercerai di pengadilan adat secara resmi bercerai menurut hukum adat, tetapi karena tidak mempunyai kekuatan hukum formal, masih diperlukan tahapan lain untuk memperoleh legalitas formal. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa peradilan sengketa dalam masyarakat gayo Desa Tampur Paloh Simpang Jernih, Aceh Timur, untuk peradilan sengketa yang terjadi dalam masyarakat Tampur Paloh secara luas tetap menggunakan peradilan adat Aceh yang biasanya, meskipun sengketa itu terjadi dengan suku yang berbeda. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh tokoh adat Tampur Paloh yang dianggap paling senior saat ini. Untuk penyelenggaraan perangkat peradilan adat ada Dua tahapan, yang pertama melalui lembaga adat gampong dan lembaga adat di tingkat permukiman. Mulai dari menerima laporan dan mengevaluasi konflik hingga tahap persidangan akhir dan mengeluarkan keputusan di pengadilan adat, penyelenggara adat bertanggung jawab atas semua tahapan pengadilan hukum adat. Putusan pengadilan adat juga harus memberikan rasa keadilan bagi kedua belah pihak, menurut pejabat pengadilan adat.

Page 11 of 20 | Total Record : 198