cover
Contact Name
tekat dwi cahyono
Contact Email
agrohut@unidar.ac.id
Phone
+6285243000030
Journal Mail Official
agrohut@unidar.ac.id
Editorial Address
Jl. Waehakila Puncak Wara, Batu Merah, Ambon 97128
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Jurnal Agrohut
ISSN : 20875525     EISSN : 26558300     DOI : -
Jurnal Agrohut lahir atas inisiasi tim dosen yang tergabung pada Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon. Nama Agrohut terlahir dari potongan kata Agro yang "mencerminkan" pertanian dan hut yang menunjukkan identitas "kehutanan". Terbitan pertama Jurnal Agrohut tersedia bulan Oktober 2010 dan terus berupaya menyampaikan kedalaman analisis yang memadai tiap volumenya. Sejak terbitan pertama, tidak semua volume tersaji dengan lengkap. Namun perlahan kami akan melengkapinya dengan sajian yang sesuai. Memasuki tahun 2018, setelah melewati masa panjang selama 8 tahun sejak terbitan pertama, editorial menyajikan Agrohut secara daring dengan alamat http://e-journal.unidar.ac.id/index.php/agrohut . Namun, terdapat kendala teknis pada akhir 2019 sehingga kami memindahkan rumah jurnal dari rumah lama dan bergabung dengan e-journal.id menggunakan alamat baru https://unidar.e-journal.id/agh.
Articles 85 Documents
Pengaruh konsentrasi pupuk organik cair nasa dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang buncis La Jati Buton
Jurnal Agrohut Vol 9 No 1 (2018): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v9i1.12

Abstract

Masalah yang dihadapi dalam pengembangan budidaya tanaman kacang buncis adalah tingginya penggunanan pupuk anorganik ditingkat petani dan pengaturan jarak tanam yang tidak tepat. Salah satu usaha dalam meningkatkan produksi kacang buncis adalah dengan penggunaan jarak tanam yang tepat dan penggunaan pupuk organik cair. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis konsentrasi dosis pupuk organik cair Nasa dan pengatuan jarak tanam yang tepat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman Kacang Buncis (Phaseolus vulgaris L). Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karang Jaya, Kecamtana Namlea, Kabupaten Buru, pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial terdiri dari dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama jarak tanam (J) terdiri atas tiga taraf yaitu 20 x 60 cm, 30 x 60 cm, dan 40 x 60. Faktor kedua yaitu konsentrasi pupuk organik cair (C) terdiri atas tiga taraf yaitu kontrol (tanpa perlakuan), 40 ml/liter air dan 50 ml/liter air. Data faktor-faktor penelitian dianalisis dengan analisis statistika. Jika terdapat perbedaan yang nyata atau sangat nyata maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nilai Jujur (BNJ) (0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk organik cair Nasa dengan dosis 40 ml/liter air dengan jarak tanam 40 x 60 cm memberikan nilai rata-rata tertinggi pada pengamatan tinggi tanaman yaitu 172,13 cm, jumlah polong muda 31,69 buah, panjang polong 12,50 cm dan produksi berat segar 5,53 kg.
Sifat Fisis Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) pada Lahan Agroforestry di Ambon, Maluku Irfan Lessy; Syarif Ohorella; Sedek Karepesina
Jurnal Agrohut Vol 9 No 1 (2018): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v9i1.13

Abstract

Sifat-sifat kayu penting sekali dalam industri pengolahan kayu. Dengan mengetahui sifat tersebut, tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis tersebut sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal. Kayu sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) merupakan salah satu spesies pohon yang penting dalam pembangunan HTI di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis kayu sengon (kadar air, berat jenis, dan penyusutan) yang ada pada lahan agroforestri Dusun Waringin Cap, Maluku. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat variasi berat jenis pada posisi vertikal dan horisontal. Berat jenis dari empulur ke bagian tepi semakin meningkat, sebaliknya tidak ditemukan tren yang sama dari ujung ke pangkal batang. Persentase kadar air rata-rata tertinggi terdapat pada posisi pada ujung batang dengan persentase kadar air sebesar 112,4%. Penyusutan tangensial pada suhu 0°-50° tertinggi berada pada bagian pangkal batang dengan nilai persentase penyusutan sebesar 3,86%. Untuk arah radial, penyusutan tertinggi berada pada bagian pangkal batang adalah 2,99%. Penyusutan tangensial tertinggi pada suhu 50° - 100° berada pada bagian tepi batang dengan nilai sebesar 2,90%. Untuk arah radial, penyusutan tertinggi ditemukan pada pangkal batang dengan nilai persentase penyusutan sebesar 2,83%.
Tegakan Hutan pada Petak Ukur Permanen (PUP) di Hutan Alam Desa Batlale Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, Maluku (Kondisi Umum dan Tanaman Dominan) Daniel Jacob Tahitu; Samin Botanri; Sedek Karepesina
Jurnal Agrohut Vol 9 No 1 (2018): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v9i1.14

Abstract

Petak Ukur Permanen (PUP) adalah satuan unit evaluasi dalam melihat kondisi struktur pertumbuhan tegakan pohon, kerusakan serta pengelolaan yang tepat atas suatu kawasan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kondisi topografi, struktur tanah dan indikator tapak lainnya dengan stuktur tegakan di PUP Hutan Alam Desa Batlale Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, Maluku. Penelusuran pustaka disajikan untuk informasi yang telah tersedia, berikutnya tegakan pohon di ukur diameter dan tingginya pada plot yang telah ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa topografi lokasi PUP dan sekitarnya adalah agak curam dengan kelerengan lapangan yaitu 15 % sampai 25 %, ketinggian tempat berkisar 400 – 450 m dpl. Iklim di lokasi PUP dan sekitarnya menurut Schmidt dan Fergusson termasuk tipe iklim ”C” yaitu daerah agak basah (hujan tropis). Jumlah tanaman tingkat tiang adalah 24 jenis dengan 57 individu. Jenis yang dominan adalah Bintangur (Chalophilum inophyllum, L.). Jenis dominan untuk tingkat pohon adalah Uhun (Eucalyptosis papuana C.T. White) berjumlah 30 pohon (32,97%) dengan volume 191,85 m³.
Konsep Manajemen Pengelolaan dan Pengembangan Agroforestry Tradisional “Dusung” (Kajian di Di Desa Tawiri Kota Ambon) Mersiana Sahureka
Jurnal Agrohut Vol 9 No 1 (2018): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v9i1.15

Abstract

Kegiatan pengelolaan hutan tidak terlepas dari struktur sosial masyarakat sekitar hutan. Terdapat keunikan khusus jika kita melihat salah satu tipe pengelolaan hutan, terlebih di Maluku yang memiliki kearifan lokal yang beragam. Salah satunya adalah penanaman agroforestry “dusung” yang ditemukan di beberapa wilayah dan telah memberikan manfaat ekonomi maupun ekologi bagi masyarakat. Kegiatan ini dimulai dengan perencanaan yang baik, sehingga pelaksanaan, kelembagaan dan pengawasannya berjalan sesuai harapan. Prinsip manajemen ini menjamin keberhasilan program, salah satunya di Desa Tawiri, Kota Ambon. Pengelolaan dusung oleh masyarakat di Desa ini, mulai dari penentuan lokasi, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengelolaan pasca panen dan pemasaran dilakukan terstuktur dengan pengawasan yang ketat. Hasilnya sebuah dinamika pengelolaan hutan lestari dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Laju Pertumbuhan Tanaman Penghasil Gaharu Jenis Aquilaria malaccensis Bahidin Laode Mpapa; Darni Lamusu
Jurnal Agrohut Vol 5 No 2 (2014): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v5i2.16

Abstract

Pertumbuhan tanaman penghasil gaharu spesies Aquilaria malaccensis tumbuh sebagai monokultur di Kabupaten Banggai yang berasal dari biji impor dari Kalimantan Barat. Di daerah provenan spesies ini dapat tumbuh dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati tingkat pertumbuhan spesies Aquilaria malaccensis dengan kondisi iklim yang berbeda dari asalnya. Informasi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan tanaman hutan gaharu yang berproduksi di berbagai wilayah di Indonesia. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah diameter dan tinggi tanaman. Pengukuran diameter dan tinggi tanaman dilakukan setiap bulan mulai selama satu tahun. Data tambahan adalah data curah hujan dan suhu. Analisis yang digunakan adalah analisis koefisien korelasi sederhana (Pearson Correlation) untuk membandingkan antara diameter, tinggi tanaman dengan curah hujan dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan diameter sebesar 0,43 cm sedangkan tingkat pertumbuhan tinggi 14,5 cm. Tingkat pertumbuhan yang tinggi tidak berkorelasi dengan curah hujan dan suhu, baik tingkat pertumbuhan diameter dengan curah hujan. Sedangkan laju pertumbuhan diameter dengan suhu menunjukkan korelasi yang signifikan.
Tingkat Erosi Sub Daerah Aliran Sungai Wae Sari I; Kondisi Umum Dedy Sofyan; Sedek Karepesina; Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 3 No 1 (2012): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v3i1.17

Abstract

Serangkaian penelitian dilakukan untuk melihat terjadinya erosi di wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat. Fokus kegiatan dilakukan di Sub Daerah Aliran Sungai Wae Sari. Sub DAS ini penting bagi masyarakat Kecamatan Kairatu, khususnya wilayah yang terdekat. Pada tahap ini penelitian dilakukan dengan melakukan analisis dan menyajikan data umum Sub DAS Wae Sari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan drainase termasuk dalam kategori sedang. Topografi agak curam mendominasi sub DAS Wae Sari sebesar 30,41%. Dua formasi geologi ditemukan, yaitu Aluvium (Qa) dan Kompleks Taunussa (Pzta) dengan prosentase masing- masing sebesar 19,05 dan 80,95%. Curah hujan bulanan rata-rata sebesar 192,83 mm/bulan dan bulan Juni memiliki cuah hujan tertinggi, yaitu sebesar 428,92 mm/bulan. Berdasarkan penggunaan lahan, kebun campuran memiliki prosentase terbesar (lebih dari 30%) atau seluas 120,35 Ha. Hasil penelitian bermanfaat sebagai data awal kegiatan konservasi tanah dan kebijakan pengelolaan yang tepat untuk Sub DAS Wae Sari.
Biomassa dan Karbon dibawah Permukaan Tanah Tegakan Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) pada Lahan Agroforestry Fitriyanti Kaliky; Syarif Ohorella
Jurnal Agrohut Vol 2 No 2 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i2.18

Abstract

Dalam menghitung jumlah massa karbon pada pohon sengon sering ditemui kesulitan khususnya dalam menghitung massa karbon bagian akar karena letaknya yang berada di bawah tanah. Oleh karena itu diperlukan metode tertentu untuk menduga massa karbon dalam akar pohon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur kandungan biomassa yang terdapat pada akar sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), (2) Menduga potensi karbon di bawah permukaan tanah (below ground) tegakan sengon pada lahan agroforestri. Pengukuran biomassa dilakukan dengan metode destructive yaitu melakukan perusakan terhadap pohon. Pohon yang akan ditebang adalah 2 pohon pada kelas diameter > 30 cm dan < 10 cm. Komponen biomassa yang akan diukur adalah leher akar, akar tunggang dan akar lateral. Masing- masing komponen dibagi menjadi sub-sub sampel dan masing sub sampel diambil sebagian untuk dijadikan sampel berat kering (dikeringkan). Potensi kandungan biomassa total below ground dari 18 tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) yang di peroleh adalah sebesar 0,370 ton/ha. Dari potensi biomassa yang telah diperoleh, kemudian diubah kedalam bentuk karbon (ton C/ha) yaitu dengan mengalikan nilai biomassa dengan factor konversi sebesar 0,5 (Brown, 1997), sehingga di peroleh kandungan karbon below ground tegakan sengon pada lahan agroforestri seluas 3 hektar adalah sebesar 0,185 ton C/ha.
Kajian Kandungan Bahan Organik Tanah yang tersimpan pada Lahan Agroforestri dengan Sistem Tebas dan Bakar (Slash and Burn) Syarif Ohorella; Rudi Hilmanto
Jurnal Agrohut Vol 2 No 2 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i2.19

Abstract

Dalam menghitung jumlah massa karbon pada pohon sengon sering ditemui kesulitan khususnya dalam menghitung massa karbon bagian akar karena letaknya yang berada di bawah tanah. Oleh karena itu diperlukan metode tertentu untuk menduga massa karbon dalam akar pohon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur kandungan biomassa yang terdapat pada akar sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), (2) Menduga potensi karbon di bawah permukaan tanah (below ground) tegakan sengon pada lahan agroforestri. Pengukuran biomassa dilakukan dengan metode destructive yaitu melakukan perusakan terhadap pohon. Pohon yang akan ditebang adalah 2 pohon pada kelas diameter > 30 cm dan < 10 cm. Komponen biomassa yang akan diukur adalah leher akar, akar tunggang dan akar lateral. Masing-masing komponen dibagi menjadi sub-sub sampel dan masing sub sampel diambil sebagian untuk dijadikan sampel berat kering (dikeringkan). Potensi kandungan biomassa total below ground dari 18 tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) yang di peroleh adalah sebesar 0,370 ton/ha. Dari potensi biomassa yang telah diperoleh, kemudian diubah kedalam bentuk karbon (ton C/ha) yaitu dengan mengalikan nilai biomassa dengan factor konversi sebesar 0,5, sehingga di peroleh kandungan karbon below ground tegakan sengon pada lahan agroforestri seluas 3 hektar adalah sebesar 0,185 ton C/ha
Efektifitas Pesan Instruksional pada Media Folder dalam Diseminasi Informasi Pertanian (Eksperimen Lapangan: Pengendalian Hama PBK Muhammad Nasir Benunur; Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 2 No 1 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i1.20

Abstract

Faktor geografi dan saluran komunikasi pertanian yang terbatas membuat penyebaran informasi pertanian terbatas dan tidak merata. Pertanyaannya adalah apakah bentuk singkat dan praktis pembelajaran di folder dan kemampuan dalam mengungkap pesan dapat digunakan sebagai saluran informasi yang efektif. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memperjelas efek kinerja pesan instruksional folder dalam meningkatkan pengetahuan petani dan korelasinya dengan indikator persepsi, dan karakteristik pribadi. Penelitian ini dilakukan pada tiga kelompok eksperimen yang diambil secara acak dari 60 petani kakao. Dua kelompok diobati dengan folder instruksional dan metode demonstratif, sedangkan kelompok ketiga diperlakukan sebagai kontrol. Pisahkan pre-test dan pos-tes yang dilakukan pada sampel yang digunakan sebagai desain. ANCOVA dan metode korelasi Spearman digunakan dalam menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pesan dari folder pembelajaran dan metode demonstrasi memiliki efektivitas yang sama dalam mempengaruhi peningkatan pengetahuan. Efeknya memiliki korelasi dengan persepsi tentang folder instruksional, tetapi harus ada korelasi dengan karakteristik pribadi dan perilaku komunikasi. Oleh karena itu, efektivitas folder instruksi dalam penyebaran informasi pertanian ditentukan oleh persepsi petani, dan itu efektif untuk digunakan oleh petani dengan karakteristik pribadi yang berbeda.
Potensi Penyerapan Karbon Tanaman Mahoni di KPH Randublatung Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah Fitriyanti Kaliky
Jurnal Agrohut Vol 2 No 1 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i1.21

Abstract

Mahoni merupakan jenis tanaman hutan yang populer dibudidayakan di Indonesia dan kayunya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan berpotensi dalam penyerapan karbon dalam mengurangi tingkat pemanasan global. Penelitian ini dilakukan untuk membangun persamaan allometrik dalam menduga biomassa dan kandungan karbon tanaman mahoni. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan metode destruktif sampling dengan pemilihan pohon sampel secara purposive dan dipilih 24 pohon sampel yang mewakili tegakan mahoni di RPH Jatikusumo KPH Randublatung Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Dari hasil penelitian diperoleh angka BEF = 1,46 dan angka R/S = 0,31. Persamaan allometrik hubungan biomassa total organ mahoni dengan dbh yaitu Btot = 0,100 dbh2,483, hubungan biomassa total organ mahoni dengan volume pohon yaitu Btot = 407,577 Vol Pohon0,899, hubungan biomassa sortimen kayu bundar kecil (KBK) dengan volume KBK yaitu Biomassa KBK = 509,361 Vol KBK1,068 dan hubungan biomassa sortimen kayu bundar sedang (KBS) dengan volume KBS yaitu Biomassa KBS = 536,024 Vol KBS1,063. Persamaan allometrik hubungan kandungan karbon total organ mahoni dengan dbh yaitu Ktot= 0,044 dbh2,541, hubungan kandungan karbon total organ mahoni dengan volume pohon yaitu Karbon total = 218,513 Vol Pohon0,923. Total kandungan biomassa pada tegakan mahoni yaitu 126,106 ton/ha dan kandungan karbon sebanyak 66,319 ton/ha setara dengan 243,389 ton CO2/ha