cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
LIVING SUNNAH IN LOCAL CONTEXT: The Practice of Two Calls (Azan) for Fajr Prayer at al-Furqan Mosque, Banjarmasin
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.30591

Abstract

The practice of delivering the dawn call to prayer (azān Subuh) twice at the Al-Furqan Mosque in Bumi Mas Raya, Banjarmasin, represents a form of living sunnah—the contextualized enactment of the Prophet Muhammad’s traditions within a specific local setting. This study aims to examine the implementation of this practice, explore community perceptions, and identify the educational values embedded within it. Employing a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews with mosque administrators, staff, and congregants, as well as through direct observation and document analysis, including official azan schedules. The findings reveal that the first azān functions as a preparatory reminder for the dawn prayer, while the second marks its actual commencement. The community largely supports this practice, although most are unfamiliar with its basis in hadith literature. Beyond its ritual function, the practice holds significant educational value, fostering spiritual discipline and promoting ethical, social, cultural, psychological, physical, and familial development. This study contributes to the discourse on living sunnah by highlighting how prophetic traditions continue to be interpreted and embodied within contemporary Muslim communities, reflecting dynamic interactions between textual heritage and local religious life. [Praktik pelafalan azan Subuh sebanyak dua kali di Masjid Al-Furqan, Bumi Mas Raya, Banjarmasin, merupakan bentuk living sunnah—yakni penerapan tradisi Nabi Muhammad yang dikontekstualisasikan sesuai dengan realitas lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan praktik tersebut, memahami persepsi masyarakat, serta mengidentifikasi nilai-nilai edukatif yang terkandung di dalamnya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengurus masjid, petugas, dan jamaah sekitar, serta melalui observasi langsung dan analisis dokumen, termasuk jadwal azan resmi. Temuan menunjukkan bahwa azan pertama berfungsi sebagai pengingat untuk mempersiapkan diri dalam beribadah, sedangkan azan kedua menandai masuknya waktu salat Subuh. Masyarakat secara umum menerima praktik ini dengan baik, meskipun sebagian besar tidak mengetahui dasar rujukan hadisnya. Lebih dari sekadar fungsi ritual, praktik ini memiliki nilai edukatif yang signifikan, mendorong kedisiplinan spiritual serta menguatkan aspek etika, sosial, budaya, psikologis, fisik, dan keluarga. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana living sunnah dengan menunjukkan bagaimana tradisi kenabian terus diinterpretasikan dan dihidupkan dalam kehidupan masyarakat Muslim kontemporer, mencerminkan interaksi dinamis antara warisan tekstual dan praktik religius lokal.]
AL-MUSNAD OF AHMAD IBN HANBAL AND THE REFUTATION OF MU’TAZILAH IDEOLOGY: A Study of Hadith as Intellectual Resistance
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.34146

Abstract

This study examines the work of Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, as an instrument of intellectual and theological resistance to Muʿtazilite rationalism during the mihnah of the third Hijri century. By situating the work within its historical and socio-political context, the study employs qualitative analysis of hadiths in al-Musnad of Ahmad ibn Hanbal that address God’s knowledge, predestination (qadar), divine justice (al-ʿadl), and the ontological status of the Qur’an. The findings demonstrate that Ahmad ibn Hanbal’s codification of hadith was not merely preservative in nature, but rather constituted a deliberate epistemological response aimed at reaffirming the primacy of revelation (naql) over speculative reason (ʿaql) as promoted by the Muʿtazilah. By positioning the Prophetic tradition as the supreme authority, Ahmad ibn Hanbal challenged core Muʿtazilite doctrines, such as the denial of the eternality of God’s attributes and the doctrine of the createdness of the Qur’an, while simultaneously constructing a coherent Sunni theological framework grounded in submission to the absolute will of God. Moreover, Ahmad ibn Hanbal’s steadfastness in the face of political pressure and persecution conferred moral authority upon the hadiths he transmitted and reflects a strong dimension of living hadith. The contribution of this study lies in its argument that al-Musnad of Ahmad ibn Hanbal functions not only as a scholarly corpus, but also as a socio-religious manifesto that significantly contributed to the consolidation of Sunnite theology. [Penelitian ini mengkaji karya Ahmad bin Hanbal yang berjudul al-Musnad sebagai instrumen perlawanan intelektual dan teologis terhadap rasionalisme Muʿtazilah pada masa mihnah abad ketiga Hijriah. Dengan menempatkan karya tersebut dalam konteks historis serta sosio-politik zamannya, penelitian ini menggunakan analisis kualitatif terhadap hadis-hadis pada al-Musnad Ahmad bin Hanbal yang berkaitan dengan ilmu Allah, takdir (qadar), keadilan Ilahi (al-ʿadl), dan status ontologis Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kodifikasi hadis yang dilakukan oleh Ahmad bin Hanbal tidak semata-mata bersifat preservatif, melainkan merupakan respons epistemologis yang disengaja untuk menegaskan kembali primasi wahyu (naql) atas rasio spekulatif (ʿaql) yang dikedepankan oleh Muʿtazilah. Dengan menempatkan tradisi kenabian sebagai otoritas utama, Ahmad bin Hanbal menantang doktrin-doktrin pokok Muʿtazilah, seperti penolakan terhadap keabadian sifat-sifat Allah dan paham kemakhlukan Al-Qur’an, sekaligus membangun kerangka teologi Sunni yang koheren dan berakar pada ketundukan terhadap kehendak Allah yang absolut. Selain itu, keteguhan Ahmad bin Hanbal dalam menghadapi tekanan dan penganiayaan politik memberikan otoritas moral pada hadis-hadis yang diriwayatkannya, sekaligus mencerminkan dimensi living hadis yang kuat. Kontribusi penelitian ini terletak pada argumentasi bahwa al-Musnad Ahmad bin Hanbal tidak hanya berfungsi sebagai korpus keilmuan, tetapi juga sebagai manifesto sosio-keagamaan yang berkontribusi signifikan terhadap penguatan konsolidasi teologi Sunni.]
DISCOURSE OF HADITH’S HERMENEUTIC: Limitations and Terms of Application for Applying Five Hermeneutical Approach
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.27045

Abstract

The model of hadith Hermeneutics has been applied by some contemporary scholars attracting attention to be studied scientifically, as there is already a method of understanding hadith called syarh hadits in the study of ‘Ulumul Hadits. So the purpose of this study is to discuss the limitation of the application of the hermeneutic approach to hadith as well as to examine the position of hermeneutics in the minds of Islamic academics. The research method is qualitative research, then references from books (library research). The results of the study concluded that hermeneutics of hadith can be used in understanding hadith, although it is still within the scope of ta’wil and is not the main reference in understanding the text of the Prophet’s hadith. Hermeneutics is seen as an explanatory tool for religious texts that can still be used with restrictions and conditions not to demonize religious values, but Islamic methods such as Syarhu Hadist in ‘Ulumul Hadist remain the main reference in interpreting hadith texts. The author recommends strengthening Islamic knowledge before using hadith hermeneutics, in order to guard against errors in understanding hadith such as Jarh wa Ta’dil, ‘Rijalu al-Hadith, Nasikh wa Mansukh Al-Hadith and ect. [Model Hermeneutika Hadis telah diterapkan oleh beberapa ulama kontemporer menarik perhatian untuk diteliti secara ilmiah, sebagaimana sudah ada sebuah metode memahami hadis yang disebut dengan syarh hadits dalam kajian ‘Ulumul Hadits. Sehingga tujuan penelitian ini untuk membahas batasan penggunaan pendekatan hermeneutika terhadap hadis sekaligus meneliti kedudukan hermeneutika dimata akademisi islam. Metode penelitian ini adalah kualitatif yang termasuk pada kajian kepustakaan (library research). adapun Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hermeneutika hadis dapat digunakan dalam memahami hadis, meskipun masih dalam cakupan ta’wil dan bukan rujukan utama dalam memahami teks hadis Nabi. Hermeneutika dilihat sebagai alat penjelasan terhadap teks keagamaan yang masih boleh digunakan dengan batasan dan syarat tidak untuk menjelek-jelekkan nilai keagamaan, adapun tetapi metode islam seperti syarh hadits dalam ‘Ulumul Hadits tetap menjadi acuan utama dalam interpretasi teks hadis. Penulis merekomendasikan untuk memperkuat keilmuan islam sebelum menggunakan hermeneutika hadis, agar dapat menjaga kesalahan dalam pemahaman hadis seperti Ilmu Jarh Wa Ta’dil, ‘Ilmu Rijalu Al-Hadits, Nasikh wa Mansukh Al-Hadits dan lain sebagainya.]
THE INTELLECTUAL TRADITION OF ABDUL QADIR AL-MANDILI IN THE HADITH BOOK OF TUHFAH AL-QARI'
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31032

Abstract

This study explores the intellectual legacy of a prominent Nusantara scholar, Abdul Qadir al-Mandili (1329–1385 AH / 1910–1965 CE), whose contributions to hadith studies are exemplified in his seminal work, Tuhfah al-Qāri’. This text represents a significant synthesis of traditional and contextual approaches to understanding hadith. The study seeks to examine the distinctive features of the work, its methodological framework, and its broader influence on the development of Islamic intellectual traditions in the Nusantara region. Employing content analysis and a historical approach, the research reveals that Tuhfah al-Qāri’ offers practical interpretative guidance for Muslims, aligning hadith comprehension with the socio-cultural realities of local communities. Furthermore, the work reflects the intellectual adaptability of Nusantara scholars who remained rooted in classical Islamic knowledge while engaging with the contemporary challenges of their era. The findings affirm that Tuhfah al-Qāri’ not only serves as a vital reference in the field of hadith studies but also functions as an intellectual bridge between global Islamic scholarship and local religious discourse, thereby enriching the dynamic continuity of Islamic thought in the region. [Penelitian ini mengkaji warisan intelektual seorang ulama terkemuka Nusantara, Abdul Qadir al-Mandili (1329–1385 H / 1910–1965 M), yang kontribusinya dalam bidang studi hadis terwujud melalui karya monumentalnya, Tuhfah al-Qāri’. Karya ini merepresentasikan sintesis penting antara pendekatan tradisional dan kontekstual dalam memahami hadis. Studi ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik khas karya tersebut, kerangka metodologinya, serta pengaruhnya terhadap perkembangan tradisi intelektual Islam di kawasan Nusantara. Melalui analisis isi dan pendekatan historis, penelitian ini menemukan bahwa Tuhfah al-Qāri’ memberikan panduan praktis bagi umat Islam dalam memahami dan mengaplikasikan hadis yang selaras dengan realitas sosial dan budaya masyarakat lokal. Selain itu, karya ini mencerminkan kemampuan adaptif ulama Nusantara yang tetap berakar pada khazanah keilmuan Islam klasik, sembari merespons tantangan zaman mereka. Temuan ini menegaskan bahwa Tuhfah al-Qāri’ tidak hanya menjadi referensi penting dalam studi hadis, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan intelektual antara khazanah keilmuan Islam global dan wacana keagamaan lokal, sehingga memperkaya kontinuitas dinamis pemikiran Islam di kawasan ini.]
HADITH ON WEALTH DISTRIBUTION AND BUSINESS ETHICS: A Bibliometric Analysis of Global Research Trends
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.33846

Abstract

The research paper is a bibliometric mapping of the world's research on hadith and wealth allocation and the ethics of Islamic business. Using VOSviewer software, the analysis based on the 158 articles indexed by Scopus in the period of 2008-2025 was used to determine the growth of publications, networks of collaboration, institution performance, and development of themes. The findings show that there were six times more publications at the time of study, with Malaysia, Indonesia, and the United States becoming the major contributors. Some of the major institutions, like the Eberly College of Business and Information Technology, Kent Business School, and the International Centre of Education in Islamic Finance, are strategic in promoting this subject. According to keyword mapping, there are five key thematic clusters, which lay stress on a transition between the institutional and financial focus and the philanthropic ones, namely waqf, zakat, and redistribution of wealth. The research provides an immense gap in the literature since it represents the first bibliometric mapping of the scholarship on hadith in both economic and ethical aspects, thus contributing to the theoretical formulation of Islamic economics and giving direction to future cross-disciplinary work.[Makalah penelitian ini merupakan pemetaan bibliometrik atas penelitian global mengenai hadis, alokasi kekayaan, dan etika bisnis Islam. Dengan menggunakan perangkat lunak VOSviewer, analisis yang didasarkan pada 158 artikel yang terindeks oleh Scopus pada periode 2008-2025 digunakan untuk menentukan pertumbuhan publikasi, jaringan kolaborasi, kinerja institusi, dan perkembangan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah publikasi meningkat enam kali lipat pada saat penelitian, dengan Malaysia, Indonesia, dan Amerika Serikat menjadi kontributor utama. Beberapa institusi utama, seperti Eberly College of Business and Information Technology, Kent Business School, dan International Centre of Education in Islamic Finance, berperan strategis dalam mempromosikan bidang ini. Berdasarkan pemetaan kata kunci, terdapat lima kluster tematik utama yang menekankan transisi antara fokus institusional dan keuangan dengan fokus filantropis, yaitu waqf, zakat, dan redistribusi kekayaan. Penelitian ini mengisi celah besar dalam literatur karena mewakili pemetaan bibliometrik pertama tentang studi hadis dalam aspek ekonomi dan etika, sehingga berkontribusi pada formulasi teoretis ekonomi Islam dan memberikan arah bagi kerja lintas disiplin di masa depan.]
CONTESTING THE AUTHENTICITY OF ABU HURAIRAH’S MISOGYNISTIC HADITH: Bennett and Mernissi’s Critical Perspectives
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31878

Abstract

The critique of Prophet Muhammad’s originality, both historical and theological, has long been a central concern among Orientalist scholars challenging the authenticity of Islam. Clinton Bennett, a Christian theologian, presents himself as a Western academic adopting an independent stance in evaluating the rationale behind Muhammad’s teachings. While acknowledging the canonical status of Sahih al-Bukhari, Bennett questions the reliability of Abu Hurairah as a hadith transmitter, arguing that the honorific title Amir al-Muʾminin is inappropriate for a narrator of misogynistic traditions. His critique aligns with feminist scholar Fatima Mernissi’s gender-sensitive readings, particularly her concerns regarding the authenticity of certain historical narratives. A prominent example is Abu Hurairah’s narration of a woman condemned to hell for neglecting a female cat, an account interpreted as symptomatic of misogynistic tendencies within Islamic tradition. This study explores the authenticity of such a hadith and its implications for understanding misogyny in Islamic discourse through an inclusive and analytical lens. Employing a qualitative, descriptive-analytical method, it addresses the following question: How do Orientalist and feminist methodologies evaluate the authenticity of misogynistic hadiths in relation to Abu Hurairah’s credibility? The findings reveal that both Bennett and Mernissi assess Abu Hurairah’s reliability through a historical-critical framework, focusing on his age, proximity to the Prophet, and personal character. Their shared conclusion positions him as a junior companion whose close access to the Prophet arguably enabled a more consistent and guided transmission of hadiths. [Kritik orisinalitas posisi Nabi mengenai identitas historis dan teologisnya, menjadi salah satu perhatian Orientalis dalam menggugat otentisitas Islam. Clinton Bennettt sebagai teolog Kristen berupaya memposisikan dirinya sebagai akademisi Barat yang independen dalam mengkritisi nalar ajaran Muhammad. Pengakuan dirinya atas orisinialitas Sahih al-Bukhari, menemukan bantahan atas keadalahan Abu Hurairah sebagai sahabat Nabi. Karena, predikat gelar Amir al-Mukminin tidak selayaknya disematkan kepada perawi hadis misoginis. Tuduhan Bennettt, berpihak atas kontribusi stereotip gender tokoh Feminis, Fatimah Mernissi dalam mempertimbangkan otentisitas narasi sejarah. Pernyataan Abu Hurairah, menarasikan peristiwa masuknya seorang perempuan ke dalam neraka atas perbuatan menelantarkan kucing betina. Penelitian ini membuka ruang eksplorasi dalam mendialogkan oetentisitas hadis tersebut secara inklusif dan analitis terkait pemahaman misoginis dalam tradisi Islam. Metode penelitian yang digunakan kualitatif yaitu deskriptif analitis. Permasalahan akademis yang muncul dalam bentuk pertanyaan penelitian yaitu bagaimana metode autentisitas hadis misoginis perspektif Orientalis dengan Feminis dalam meniai menilai kredibilitas Abu Hurairah sebagai perawi misoginis?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keduanya menilai kredibilitas Abu Hurairah melalui analisis pendekatan Kritik sejarah dengan menguraikan fakta historisitas usia, aksebilitas perawi serta karakter. Pandangan Bennett dan Mernissi terhadap Abu Hurairah sebagai golongan sahabat junior lebih konsisten dalam melestarikan periwayatan hadis, sebab dalam bimbingan nabi yang lebih intens].  
MARAHIL, LA MANAHIJ: Categorization of Hadith Critics and the Development of Isnad Criticism
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.12426

Abstract

The development of ḥadith criticism throughout history demonstrates a complex dynamic, both in terms of the quality and quantity of evaluations, the perspectives of critics, and the types of works produced. Within the tradition of ḥadīth studies, critics are commonly classified into three main categories, mutasyaddid(strict), muʿtadil (moderate), and mutasahil (lenient), based on their evaluative tendencies toward transmitters of ḥadith. However, this categorization has often been accepted taken for granted by subsequent scholars without critical reassessment. As a result, it not only limits the inclusion of new figures within these categories but also perpetuates certain classificatory inaccuracies that have never been reexamined. In response to this problem, the study employs a qualitative approach, utilizing critical historical methods and library research to address two main objectives. First, it reexamines the tripartite classification of ḥadith critics by revisiting the figures most frequently cited within these categories. This analysis reveals the existence of a pattern of periodization that significantly shaped tendencies in ḥadith criticism. Second, the study explores this periodization and its relationship to the emergence and dominance of the zahir al-isnad orientation. The findings demonstrate that the categories of mutasyaddid, muʿtadil, and mutasahil essentially represent stages in the historical periodization of ḥadith criticism (marahil zamaniyyah), rather than methodological approaches (manahij). Consequently, these terms should not be understood as manahij al-jarḥ wa al-taʿdil. While useful as heuristic tools for classification, such categorization oversimplifies the complexity of ḥadith criticism and risks polarizing the field within the narrow framework of the zahir al-isnad school.[Perkembangan kritik hadis sepanjang sejarah menunjukkan dinamika yang kompleks, baik dari segi kualitas dan kuantitas penilaian, perspektif kritikus, maupun jenis karya yang dihasilkan. Dalam tradisi studi hadis, para kritikus sering diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yakni mutasyaddid (ketat), mu‘tadil (moderat), dan mutasahil (longgar), berdasarkan kecenderungan penilaian mereka terhadap periwayat hadis. Namun, kategorisasi ini cenderung diterima secara taken for granted oleh para peneliti berikutnya tanpa kajian ulang yang kritis, sehingga tidak hanya menutup kemungkinan masuknya tokoh-tokoh baru dalam kategori tersebut, tetapi juga mempertahankan sejumlah kekeliruan klasifikasi yang tidak pernah direevaluasi. Berangkat dari problem tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah kritis dan kajian kepustakaan untuk membahas dua fokus utama. Pertama, mengkaji ulang pengelompokan kritikus hadis ke dalam tiga kategori tersebut dengan melibatkan tokoh-tokoh yang selama ini dijadikan rujukan. Kajian ini mengungkap adanya pola periodisasi yang memengaruhi kecenderungan kritik hadis. Kedua, penelitian ini menganalisis periodisasi tersebut serta kaitannya dengan kemunculan dan dominasi kelompok zhāhir al-isnād. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori mutasyaddid, mu‘tadil, dan mutasahil sejatinya merepresentasikan tahapan periodisasi kritik hadis (marāḥil zamāniyyah), bukan metode kritik (manāhij). Oleh karena itu, ketiga istilah tersebut tidak tepat dipahami sebagai manāhij al-jarḥ wa al-ta‘dīl. Meskipun berguna sebagai alat bantu klasifikasi, kategorisasi ini terbukti menyederhanakan kompleksitas kritik hadis dan berpotensi mempolarisasi kajian hadis ke dalam kerangka sempit mazhab zhāhir al-isnād.]
THE POWER OF THE SANAD NETWORK AND ISLAMIC DISCOURSE IN THE ARBA'IN HADITH MANUSCRIPTS OF NUSANTARA SCHOLARS
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.30971

Abstract

Islam Nusantara was introduced as a response to the issue of radicalism and terrorism that was emerging on the international stage. The pesantren-style education model, which focuses entirely on studying the kitab kuning (turats), is considered effective in addressing this issue. The kitab kuning serves as an effective medium for promoting religious moderation within the socio-cultural context of Muslims in the Nusantara. One approach is by exploring the manuscript heritage written by Nusantara scholars. This paper examines Arba’in hadith manuscripts written by Nusantara scholars, namely the works of Mahfuzh al-Tarmasi, Hasyim Asy’ari, Nawawi al-Bantani, and Yasin al-Fadani, from the 17th to the 20th century. Using a philological approach, the findings of this study show that these books were written in the context of Indonesia’s colonial period and aimed to provide a counter-narrative to religious orthodoxy. The Islamic discourse embedded in these works relates to: 1) Morality, which encourages a moderate attitude towards everyone, all creatures on earth, even towards enemies; 2) Religious moderation, by considering those of different faiths as brothers; 3) Work discipline, aimed at fostering the spirit of striving for a decent life; 4) The concepts of sunnah and bid’ah are explained to provide a counter-narrative to the Wahhabi-style religious discourse that attacks local traditions. Furthermore, at roughly the same time, Muslims in Haramain took a stricter stance toward tradition and sought to return religion solely to the Qur'an and Hadith, while Muslims in the Nusantara were more receptive to local traditions. This is evidenced by the incorporation of local contexts into Arba’in hadith works, such as the emphasis on mutual compassion in the context of Dutch colonialism. This represents the scholarly independence of hadith studies developed by Nusantara hadith scholars.Kuasa Jaringan Sanad dan Diskursus Keislaman dalam Naskah Hadis Arba’in Ulama Nusantara. Islam Nusantara diperkenalkan sebagai respon atas isu radikalisme dan terorisme yang sedang mencuat di kancah internasional. Model pendidikan ala pesantren yang tertumpu penuh pada pengkajian kitab kuning (turats) dinilai efektif untuk membendung isu tersebut. Kitab kuning menjadi media yang efektif untuk melakukan gerakan moderasi beragama dalam konteks sosio-kultural umat Islam di Nusantara. Salah satunya dengan menggali khazanah manuskrip yang ditulis oleh ulama Nusantara. Tulisan ini mengkaji naskah-naskah hadis Arba’in yang ditulis oleh ulama Nusantara, yakni karya Syaikh Mahfuzh al-Tarmasi, karya Syaikh Hasyim Asy’ari, karya Syaikh Nawawi al-Bantani, dan karya Syaikh Yasin al-Fadani, pada abad ke-17 hingga ke-20. Dengan pendekatan filologi, temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kitab-kitab tersebut ditulis dalam konteks penjajahan Indonesia sekaligus bertujuan untuk kontra narasi terhadap ortodoksi beragama. Diskursus keislaman yang ditanamkan adalah berkaitan dengan; 1) Moralitas yang mengarah pada upaya moderasi sikap terhadap siapapun, seluruh makhluk di muka bumi, sekalipun terhadap musuh. 2) Moderasi beragama dengan cara menganggap saudara kepada mereka yang tidak seiman. 3) Kedisiplinan dalam bekerja ditujukan untuk menumbuhkan semangat perjuangan mendapatkan kehidupan yang layak. 4) sunnah dan bid’ah dijelaskan untuk memberikan kontra narasi terhadap wacana keagamaan ala Wahabisme yang menyerang tradisi-tradisi lokal. Selanjutnya, dalam waktu yang relatif bersamaan, Muslim di Haramain lebih keras terhadap tradisi dan mencoba mengembalikan agama kepada al-Qur’an dan hadis an sich, sementara Muslim di Nusantara lebih ramah terhadap tradisi lokal. Terbukti memasukkan konteks lokalitas dalam penyusunan karya hadis Arba’in, seperti saling mengasihi kepada sesama dalam konteks penjajahan Belanda. Inilah bentuk independensi keilmuan hadis yang dimiliki oleh ulama hadis di Nusantara.
THE USE OF HUMAN CHIP IMPLANTS FROM THE HADITH PERSPECTIVE
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.32233

Abstract

The advancement of chip implant technology in humans has introduced profound transformations across multiple sectors, particularly in healthcare, security, and digital finance. These microelectronic devices, embedded within the human body, serve various functions ranging from medical monitoring and identification to real-time control of digital systems. In medical contexts, chip implants have demonstrated potential in managing chronic illnesses and streamlining access to patient health records. However, their integration into human life also provokes ethical and theological debates, especially within Islamic discourse. This study explores the Islamic ethical framework—focusing on the hadith of Prophet Muhammad Pbuh. —in evaluating the permissibility of chip implants. Employing a qualitative literature review, this research analyzes classical hadith texts alongside contemporary Islamic scholarship, fatwas, and bioethical debates. The study finds that while chip implants are not directly addressed in hadith, foundational Islamic legal principles such as lā ḍarar wa lāḍirār (no harm and no reciprocating harm), ḥifẓ al-nafs (protection of life), and privacy preservation provide normative guidelines. From this perspective, chip implants for urgent medical purposes are conditionally permissible, whereas their use for luxury, surveillance, or non-essential purposes may contravene Islamic ethical standards. This research contributes to contemporary Islamic bioethics by offering a hadith-based framework for navigating emerging biomedical technologies.[Kemajuan teknologi implan chip pada manusia telah membawa perubahan besar di berbagai bidang, khususnya dalam layanan kesehatan, keamanan, dan transaksi keuangan digital. Perangkat mikroelektronik ini, yang ditanamkan ke dalam tubuh manusia, memiliki berbagai fungsi mulai dari pemantauan medis dan identifikasi hingga pengendalian sistem digital secara real-time. Dalam konteks medis, implan chip menunjukkan potensi dalam menangani penyakit kronis serta mempermudah akses cepat terhadap data kesehatan pasien. Namun, integrasi teknologi ini dalam kehidupan manusia juga menimbulkan perdebatan etis dan teologis, terutama dalam wacana Islam. Studi ini mengkaji kerangka etika Islam—dengan fokus pada hadis Nabi Muhammad Saw. —dalam menilai kebolehan penggunaan implan chip. Dengan menggunakan metode kajian literatur kualitatif, penelitian ini menganalisis teks-teks hadis klasik bersama literatur keislaman kontemporer, fatwa, dan perdebatan bioetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun implan chip tidak secara eksplisit dibahas dalam hadis, prinsip-prinsip dasar hukum Islam seperti lā ḍarar wa lāḍirār (tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain), ḥifẓ al-nafs (perlindungan jiwa), dan perlindungan privasi memberikan pedoman normatif. Dari sudut pandang ini, penggunaan implan chip untuk keperluan medis yang mendesak dapat dibolehkan secara syar’i, sedangkan penggunaannya untuk tujuan non-medis, kemewahan, atau yang berpotensi melanggar privasi dan membahayakan, dinilai bertentangan dengan standar etika Islam. Penelitian ini berkontribusi pada wacana bioetika Islam kontemporer dengan menawarkan kerangka etis berbasis hadis untuk menyikapi kemajuan teknologi biomedis.]
PROBLEMATIC HADITHS IN QURRAH AL-ASHFIYA’ BY KIAI ZAINULLAH MALANG: An Intertextual Analysis
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.26675

Abstract

Qurrah al-Ashfiya’ ‘ala Syarh Nazhm Hidayah al-Adzkiya’ is a manuscript on Sufism written by Kiai Zainullah Malang. The book contains 74 hadiths and, after takhrij was carried out, three of them were found to have no original source in hadith compilation. This research aims to analyze these “problematic hadiths” using intertextual analysis developed by Julia Kristeva. Thus, this research is a hadith research with a multidisciplinary approach. The design used here is library research with a qualitative approach. The analysis technique used here is content analysis. This research finds that there are three problematic hadiths in Qurrah al-Ashfiya’. Through intertextual analysis, it is found that the first hadith is proven to be typographical error and subsequently disqualified as a hadith. The second one is narration bi al-ma‘na. The third one was found to have been inaccurately transcribed by Kiai Zainullah. Furthermore, it is proven that intertextual analysis can be an effective tool for resolving the limitations of takhrij al-hadits. The implication is that since intertextual analysis assumes that a text is always born in a network of multitext, all hadith basically have a source whose origins can be traced. Intertextual analysis does not recognize the term la ashl lahu (no chain of transmission is found).[Kitab Qurrah al-Ashfiyā’ ‘alā Syarh Nazhm Hidāyah al-Adzkiyā’ adalah sebuah manuskrip kitab tentang tasawuf yang ditulis oleh Kiai Zainullah dari Kabupaten Malang. Kitab ini berisi 74 hadis dan, setelah dilakukan takhrīj terhadapnya, tiga di antaranya tidak ditemukan dalam kitab-kitab himpunan hadis. Penelitian ini bertujuan menganalisis “hadis-hadis problematik” tersebut dengan menggunakan analisis intertekstual yang dikembangkan oleh Julia Kristeva. Penelitian ini adalah penelitian hadis dengan pendekatan multidisipliner. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Teknik analisis yang digunakan adalah Analisis Isi. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat tiga buah hadis problematik dalam kitab Qurrah al-Ashfiyā’. Melalui analisis intertekstual, didapati bahwa hadis pertama mengalami kekeliruan tipografis dan akibatnya tidak tergolong sebagai sebuah hadis. Hadis kedua adalah riwayat bi al-ma‘nā. Hadis ketiga didapati sebagai tertulis secara tidak akurat oleh Kiai Zainullah. Lebih dari itu, penelitian ini membuktikan bahwa analisis intertekstual bisa menjadi alat efektif untuk menyelesaikan batasan-batasan yang dimiliki oleh takhrīj al-ḥadīth. Implikasinya, oleh karena analisis intertekstual berasumsi bahwa sebuah teks senantiasa lahir dalam sebuah jaringan multiteks, maka semua hadis pada dasarnya punya sumber yang asal-usulnya bisa dilacak. Analisis intertekstual tidak mengakui terma lā ashl lahu (sanadnya tidak ditemukan).]