cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 218 Documents
THE PERSPECTIVE OF LIVING HADITH ON WOMEN’S LEADERSHIP IN FATAYAT OF NAHDATUL ULAMA Hayati, Irma Nur; Sumbulah, Umi
RIWAYAH Vol 9, No 2 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.20781

Abstract

Islam considers that women and men are the two foundations of society where they have the same role in creating, forming, regulating and utilizing society. Islam has also given various rights, honors and obligations to women in accordance with their honor and dignity as creatures who are responsible before Allah, both towards themselves, their families, society and the state. If Allah had given women the rights and responsibilities, namely to be “human” as servants of Allah, there would be no reason for men to feel superior to the female gender. Men and women are both creatures of Allah who will be held accountable in the afterlife for the rest of their lives. Women’s empowerment and gender issues are very interesting to discuss at the moment. This research discusses the Living Hadith perspective on women’s leadership in the Fatayat Nahdatul Ulama organization in Jobang District, Jember Regency in 2022. This non-formal institution operating in the religious, social and educational fields is phenomenal and has become a trend in society. One of the problems that arises among women’s empowerment activists is their form of involvement in the public sphere which causes controversy. The aim of this research is to explain: what, why and how the Living Hadist perspective on women’s leadership at the Nahdatul Ulama fatayat in Jombang sub-district - Jember district. This research will be studied in more depth by collecting information from various sources; books, internet, social media, and articles. Descriptive qualitative methods were used to analyze the collected data. The results of this research provide enlightenment that women’s leadership from the Living Hadith perspective can explain a new understanding that there is a Watasiyah Principle in the context of women’s Islamic organizational leadership.[Islam memandang bahwa perempuan dan laki-laki merupakan dua landasan masyarakat dimana keduanya mempunyai peranan yang sama dalam menciptakan, membentuk, mengatur dan bermanfaat untuk masyarakat. Islam juga telah memberikan berbagai hak, kehormatan dan kewajiban kepada perempuan sesuai dengan kehormatan dan martabatnya sebagai makhluk yang bertanggung jawab di hadapan Allah, baik terhadap dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat dan negara. Seandainya Allah telah memberikan hak dan tanggung jawab kepada perempuan, yaitu menjadi “manusia” sebagai hamba Allah, maka tidak ada alasan bagi laki-laki untuk merasa lebih superior dibandingkan perempuan. Laki-laki dan perempuan sama-sama makhluk Allah yang akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat seumur hidupnya. Isu pemberdayaan perempuan dan gender sangat menarik untuk dibahas saat ini. Penelitian ini membahas tentang perspektif Living Hadis tentang kepemimpinan perempuan pada organisasi Fatayat Nahdatul Ulama di Kecamatan Jobang Kabupaten Jember Tahun 2022. Lembaga nonformal yang bergerak di bidang keagamaan, sosial, dan pendidikan ini sangat fenomenal dan menjadi tren di masyarakat. Salah satu permasalahan yang muncul di kalangan aktivis pemberdayaan perempuan adalah bentuk keterlibatannya di ranah publik yang menimbulkan kontroversi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan: apa, mengapa dan bagaimana perspektif Living Hadist terhadap kepemimpinan perempuan pada fatayat Nahdatul Ulama Kecamatan Jombang – Kabupaten Jember. Penelitian ini akan dikaji lebih mendalam dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber; buku, internet, media sosial, dan artikel. Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk menganalisis data yang dikumpulkan. Hasil penelitian ini memberikan pencerahan bahwa kepemimpinan perempuan dalam perspektif Living Hadis dapat menjelaskan pemahaman baru bahwa terdapat Prinsip Watasiyah dalam konteks kepemimpinan organisasi Islam perempuan]. 
HADITH STUDIES FROM THE SHIA PERSPECTIVE: Characteristics, Validity, and Literature of Shia Hadith Saputri, Gefi Melyana; Jatmiko, Mokhammad Priyo; Lyatin, Uul
RIWAYAH Vol 9, No 1 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i1.18241

Abstract

Shiites are part of the Muslim community and have many differences with Muslims in general in several aspects, such as the concept of faith, the practice of Quranic verses, fiqh, and hadith. Shia has its own scientific concept in relation to hadith. This article examines the hadith discourse from the Shiite perspective. This research was conducted to find out the characteristics of Shia hadith, the validity of Shia hadith, and the literature of Shia hadith, namely al-Kafi by Imam al-Kulaini. The study of library research data was collected from literature in the form of books, articles, journals, and various other literature related to the Shiite community, especially regarding the Shiite hadith: The characteristics of Hadith in the Shiite tradition are in the form of everything attributed to the twelve Imams, who are believed to be ma’shum, in the form of words, deeds, and decrees. The validity of Hadith among the Shiites comes from all the sayings of the infallible Imams of Ahlul Bayt, which are equal to the words of the Prophet Muhammad and must be followed. The Shia hadith literature Al Kafi has always ranked first in the order of hadith books among the Imamiah Shia.[Kaum Syi’ah merupakan bagian dari masyarakat Islam dan mempunyai banyak perbedaan dengan umat Islam pada umumnya dalam beberapa aspek, seperti konsep keimanan, pengamalan ayat-ayat Alquran, fiqh, dan hadis. Syiah mempunyai konsep keilmuan tersendiri dalam kaitannya dengan hadis. Artikel ini mengkaji wacana hadis dari sudut pandang Syiah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ciri-ciri hadits Syiah, kesahihan hadits Syiah, dan literatur hadits Syiah yaitu al-Kafi karya Imam al-Kulaini. Kajian data penelitian kepustakaan dikumpulkan dari literatur berupa buku, artikel, jurnal, dan berbagai literatur lain yang berhubungan dengan masyarakat Syi’ah khususnya mengenai hadis Syi’ah: Ciri-ciri Hadis dalam tradisi Syi’ah berupa segala sesuatu dikaitkan dengan kedua belas Imam yang diyakini ma’shum, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan. Keabsahan Hadis di kalangan Syi’ah berasal dari seluruh sabda Imam Maksum Ahlul Bayt yang sama dengan sabda Nabi Muhammad SAW dan wajib diikuti. Literatur hadis Syiah Al Kafi selalu menduduki peringkat pertama dalam urutan kitab hadis di kalangan Imamiah Syiah.] 
THE RELEVANCE OF THE HADITH OF SIMPLICITY TO THE LIFESTYLE OF PRESIDENT JOKO WIDODO Azzahra, Fulaifah; Friyadi, Arif
RIWAYAH Vol 10, No 1 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i1.25852

Abstract

This paper seeks to find out about President Jokowi’s lifestyle that can implement the simplicity of the Prophet Muhammad based on the hadiths of zuhd of the Prophet. The power and authority of positions in government are synonymous with luxury and hedonistic lifestyles. The hedonistic nature of an official often leads to corruption. This is due to dissatisfaction with the salary and benefits he gets from the state. President Jokowi (2014-2024) lives very simply like the life of ordinary people. This is in accordance with the reflection of the Prophet’s life as a counter to the hedonism of a leader. The President described the life of the apostle who was so simple starting from the way he dressed, sandals, hairstyle, food, and drinks. This paper uses a qualitative descriptive method with a library research approach. In this case the author collects data from various existing reading sources both through print and online media. From here the author finds that the simple lifestyle of President Jokowi through the way he dresses, the food he eats, and the way he uses social media is a reflection of the apostle himself. The author also presents hadiths that are in accordance with the description of the Prophet’s simple life and then interconnects the sunnah with Joko Widodo’s life. Through this paper, it is hoped that leaders will realize their responsibility as leaders among the people so that they will not enrich themselves because of their greed for material possessions.[Tulisan ini berupaya mencari tahu tentang pola hidup Presiden Jokowi yang dapat mengimplementasikan kesederhanaan Nabi Muhammad berdasarkan hadis-hadis zuhud. Kekuasaan dan wewenang jabatan dalam pemerintahaan sudah identik dengan yang namanya bermewah-mewahan serta gaya hidup hedonis. Sifat hedon seorang pejabat sering menarik kepada tindak pidana korupsi. Hal ini disebabkan ketidakpuasan dengan gaji dan tunjangan yang dia dapat dari negara. Presiden Jokowi (2014-2024) hidup dengan sangat sederhana layaknya kehidupan rakyat biasa. Hal ini sesuai dengan cerminan hidup The Prophet sebagai perlawanan sikap hedonisme seorang pemimpin. Presiden menggambarkan kehidupan Rasul yang begitu sederhana mulai dari cara berpakaian, sandal, gaya rambut, makanan, dan minuman. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan library research. Dalam hal ini penulis mengumpulkan data dari berbagai sumber bacaan yang ada baik melalui media cetak maupun online. Dari sini penulis menemukan gaya hidup sederhana seorang Presiden Jokowi melalui cara berpakaian, makanan yang dimakan, dan cara menggunakan medsos merupakan cerminan dari diri Rasul. Penulis juga memaparkan hadis-hadis yang sesuai dengan gambaran kehidupan sederhana The Prophet yang kemudian menginterkoneksikan antara sunnah dengan kehidupan Joko Widodo. Melalui tulisan ini diharapkan para pemimpin sadar akan tanggung jawab sebagai pemimpin di antara umat sehingga tidak akan memperkaya diri karena sifat tamak kepada harta benda.]
HADITH OF THE PROPHET CONCERNING THE INTENTIONS FROM THE PRESPECTIVE OF NOAM CHOMSKY’S TRANSFORMATIVE THEORY Fabrori, Fahri Muhaimin
RIWAYAH Vol 9, No 2 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.18832

Abstract

Hadith narrated by several narrators sometimes has the same editing. From these similarities, sometimes Muslims think that there are no differences in the editorial, as well as in socio-historical aspects. Due to the existence of this problem, this research needs to be carried out to eliminate the assumption that there is no difference. This research analyzes the Prophet’s Hadith about intentions using Nosm Chomsky’s transformative generative theory, and the method used is qualitative. In this article, the author describes two hadiths about intentions which were all narrated by Imam Bukhori with almost the same editorial. However, if you look more closely, several hadith sentences are not the same, whether in the form of addition/ziyadah, al-ittisa’/expansion, or al-Ihlal/replacement. The results of this research show that the Hadith about intention number one shows that this Hadith is a form of information that is convincing and general. In the Hadith, two tawkid customs have real meanings and several redactions that do not refer to specific redactions. Meanwhile, Hadith number 52 does not contain the custom of taukid, which refers to information or just reporting. Then there is the additional sentence ila Allahi wa rasulih which shows specificity and a more complete editorial.[Hadits yang diriwayatkan oleh beberapa perawi terkadang mempunyai penyuntingan yang sama. Dari persamaan tersebut, terkadang umat Islam menganggap tidak ada perbedaan dalam redaksional, maupun dalam aspek sosio-historis. Oleh karena adanya permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian ini untuk menghilangkan anggapan bahwa tidak ada perbedaan. Penelitian ini menganalisis Hadits Nabi tentang niat menggunakan teori transformatif generatif Nosm Chomsky, dan metode yang digunakan adalah kualitatif. Dalam artikel ini penulis memaparkan dua hadis tentang niat yang semuanya diriwayatkan oleh al-Bukhori dengan redaksi yang hampir sama. Namun jika dicermati, ada beberapa kalimat hadis yang tidak sama, baik yang berbentuk penambahan/ziyadah, al-ittisa’/perluasan, maupun al-Ihlal/pengganti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hadits tentang niat nomor satu menunjukkan bahwa Hadits ini merupakan salah satu bentuk informasi yang meyakinkan dan bersifat umum. Dalam hadis tersebut terdapat dua adat tawid yang mempunyai makna nyata dan beberapa redaksi yang tidak mengacu pada redaksi tertentu. Sedangkan hadis nomor 52 tidak memuat adat taukid yang mengacu pada informasi atau sekedar pemberitaan. Lalu ada tambahan kalimat ila Allahi wa rasulih yang menunjukkan kekhususan dan redaksional yang lebih lengka].
FALSE HADITH NARRATIVES ON SOCIAL MEDIA FROM THE PERSPECTIVE OF MUHAMMAD NĀSHIRUDDĪN AL-ALBĀNĪ Anam, Khoirul -
RIWAYAH Vol 9, No 1 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i1.25725

Abstract

Perkembangan hadis Nabi sering kali terkait dengan upaya pemalsuan. Oleh karena itu, para ulama melakukan penelitian mendalam untuk memastikan keaslian hadis-hadis tersebut. Hadis Maudhu’ dianggap sebagai yang paling merugikan di antara hadis-hadis yang tidak otentik, karena merupakan hasil manipulasi dan penciptaan yang salah, yang kemudian salah dikaitkan dengan Nabi Muhammad Saw. Seiring berjalannya waktu, hadis disebarkan melalui berbagai platform media sosial, termasuk hadis-hadis palsu yang ikut tersebar melalui platform tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk memeriksa narasi hadis palsu di media sosial dengan menggunakan pendekatan yang diberikan oleh Nāṣiruddīn al-Albānī. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menerapkan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi kriteria yang digunakan al-Albānī dalam kitabnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi hadis palsu di media sosial memiliki berbagai variasi, seringkali berkaitan dengan keutamaan hari atau bulan tertentu, pemerian pahala dan dosa yang besar terkait amalan yang tidak wajib, atau hal-hal terkait Mu’amalah. Al-Albānī, sebagai pengkaji hadis yang terkenal dengan penelitian dan penilaian kualitas hadis, memiliki kriteria khusus dalam menentukan hadis palsu. Beberapa tanda yang diungkapkan oleh al-Albānī terhadap hadis palsu termasuk karakteristik sanadnya, seperti perawi yang mengaku berdusta, dianggap pendusta oleh ulama, menyembunyikan cacat hadis, dianggap Munkar dan meriwayatkan dari satu jalur, serta perawi yang tidak dikenali. Sedangkan tanda-tanda dalam matan hadis termasuk makna yang aneh, bertentangan dengan dalil yang lebih ṣaḥīḥ(hadis, akal sehat, atau fakta sejarah), serta memberikan pahala atau dosa yang berlebihan.
CONTEXTUALIZATION OF THE MEANING OF HADITH REGARDING THE EXHORTATION TO INCREASE OFFSPRING FROM THE PERSPECTIVE OF HASAN HANAFI’S HERMENEUTICS: A Counter Effort Against the Childfree Phenomenon Noorhidayati, Salamah; Ariesti Rasyid, Dara Sri
RIWAYAH Vol 9, No 2 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.28205

Abstract

This research aims to uncover the meaning of the text and context, as well as the effort to contextualize the meaning of the Hadith concerning the encouragement to have many offspring in order to counter the phenomenon. It poses three research questions: firstly, what is the quality of the Hadith concerning the encouragement to have many offspring. Secondly, we will examine the meaning of the Hadith regarding the encouragement to have many offspring. Thirdly, we will explore the contextualization of the meaning of the Hadith concerning the encouragement to have many offspring within the context of childfree. This study is a literature review with a deductive approach, employing the hermeneutic method of Hadith by Hasan Hanafi through three operational steps, namely historical criticism, eidetic criticism, and practical criticism. As a result of this research, the first finding is that the Hadith about the encouragement to have many offspring is considered to be authentic (sahih lighairihi). Secondly, the textual meaning is the prohibition of celibacy and marrying infertile women, as well as the recommendation to get married, while the contextual meaning is that the Prophet will take pride in having numerous descendants. Thirdly, contextualization of the hadith, which is about having descendants and preserving the lineage.[Penelitian ini dilatar belakangi sejak munculnya fenomena dalam sebuah pernikahan yang mulai marak diperbincangkan. Fenomena tersebut yakni adanya sepasang suami istri yang menolak untuk memiliki anak, karena pada hakikatnya fenomena ini dapat memutuskan mata rantai regenerasi yang mengakibatkan kerusakan dari sisi akidah maupun dari sisi sosial kemasyarakatan. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap makna teks dan konteks serta upaya kontekstualisasi makna hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan dalam rangka meng-counter fenomena tersebut, dengan mengajukan tiga rumusan masalah yaitu pertama, Bagaimana kualitas hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan. Kedua, Bagaimana makna hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan. ketiga, Bagaimana kontekstualisasi makna hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan dalam konteks childfree. Penelitian ini merupakan jenis studi kepustakaan yang bersifat deduktif dengan menggunakan metode hermeneutika hadis Hasan Hanafi melalui tiga langkah operasional yaitu langkah kritik historis, kritik eidetis, dan kritik praksis. Sebagai hasil temuan dari penelitian ini yaitu pertama, Hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan memiliki kualitas shahih lighairihi. Kedua, Makna tekstual yaitu larangan membujang dan menikahi wanita mandul serta anjuran untuk menikah, sedangkan makna kontekstual yakni nabi akan berbangga dengan banyaknya keturunan. Ketiga, Kontekstualisasi makna hadis yakni memiliki keturunan dan menjaaga keturunan.]
THE ROLE OF FEMALE HADITH NARRATORS: Tracing the Degeneration of Gender Roles in Hadith Narration Rukmana, Fachruli Isra; Najiyah, Nur Laili Nabilah Nazahah; Putri, Recha Tamara; Akmaluddin, Muhammad
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28704

Abstract

Patriarchal domination has marginalized women’s roles in narrating hadith and contributing to Islamic knowledge, portraying them as incomplete beings deprived of rights and a voice. This study addresses three questions: a) What were women’s contributions to hadith narration? b) Who were the notable female hadith narrators from the era of the Companions to the atbāʾ al-tābiʿīn? c) Why is it essential to redefine gender roles in hadith narration? Using a qualitative, library-based approach, this research relies on al-Kutub al-Tisʿah as the primary source, supplemented by books, articles, journals, and websites. Data analysis involves condensation, presentation, and conclusion. Findings reveal women’s significant contributions to hadith transmission during the early Islamic period, especially among the sahabah, with figures like Umm Salamah and ‘Amrah bint ‘Abd al-Raḥmān ibn Sa’ad. However, this role declined in later generations due to wars, restrictive political policies during the Umayyad era, and cultural norms limiting women’s participation in education, politics, and Islamic scholarship. Additionally, the expansion of Islamic governance and the internalization of patriarchal values further hindered female involvement in Islamic propagation. This study underscores the need to revisit and empower women’s roles in hadith narration to restore their rightful place in Islamic intellectual history. [Dominasi patriarki telah meminggirkan peran perempuan dalam periwayatan hadis dan kontribusi mereka terhadap pengetahuan Islam, menggambarkan mereka sebagai makhluk yang tidak utuh, tanpa hak dan suara yang layak. Penelitian ini membahas tiga pertanyaan utama: a) Apa kontribusi perempuan dalam periwayatan hadis? b) Siapa saja periwayat hadis perempuan yang menonjol dari masa sahabat hingga atba' al-tabi'in? c) Mengapa penting untuk mendefinisikan ulang peran gender dalam periwayatan hadis? Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini mengandalkan al-Kutub al-Tis’ah sebagai sumber utama, didukung oleh buku, artikel, jurnal, dan situs web. Analisis data dilakukan melalui proses kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kontribusi perempuan yang signifikan dalam transmisi hadis pada masa awal Islam, khususnya di kalangan sahabat, dengan tokoh-tokoh seperti Umm Salamah dan ʿAmrah bint ʿAbd al-Raḥmān ibn Saʿad. Namun, peran ini mengalami penurunan pada generasi berikutnya akibat perang, kebijakan politik yang membatasi pada era Dinasti Umayyah, dan norma budaya yang membatasi partisipasi perempuan dalam pendidikan, politik, dan keilmuan Islam. Selain itu, perluasan pemerintahan Islam dan internalisasi nilai-nilai patriarki semakin menghambat keterlibatan perempuan dalam dakwah Islam. Penelitian ini menekankan pentingnya meninjau kembali dan memberdayakan peran perempuan dalam periwayatan hadis untuk mengembalikan posisi mereka yang seharusnya dalam sejarah intelektual Islam.]
CONTEXTUALIZATION OF HADITH REGARDING THE PROHIBITION OF ANNOUNCING LOSS IN THE MOSQUE (A Study of the Meaning of Hadith) Bachtiar, Fatchur Yunan; Darmawan, Herman; Hasbi, Anang Fajar; Fitri, Muhammad; Jikri, Muhammad
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28018

Abstract

As an identity of the Islamic community, the mosque holds a very important role and function. The mosque does not only focus on activities related to the afterlife but integrates both spiritual (ukhrawi) and worldly (duniawi) activities. Regarding the function of the mosque, the Prophet Muhammad (peace be upon him) prohibited the announcement of lost items in the mosque because it was not built for such a purpose. However, this prohibition contrasts with the mosque’s function not only as a place of worship but also as a medium to address social issues within the community. Therefore, this study aims to understand the hadith related to this prohibition by examining its contextualization in the study of Ma’anil Hadith. This research is a library study using qualitative methods, conducted by collecting and analyzing data relevant to the issue being investigated. The results of this study are: First, the hadith prohibiting the announcement of lost items in the mosque signifies that the mosque is a sacred place, with a peaceful and calm atmosphere, where worship activities such as prayer are performed. Second, when contextualized in the present day, there are many ways to search for lost items in the mosque, such as reporting the loss to the mosque administrators, asking the congregation at the mosque doors, looking in the lost and found area outside the mosque, and posting announcements about lost items on the information board outside the mosque. [Sebagai identitas komunitas Islam, masjid memegang peran dan fungsi yang sangat penting. Masjid tidak hanya fokus pada kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan akhirat tetapi juga mengintegrasikan kegiatan spiritual (ukhrawi) dan duniawi (duniawi). Mengenai fungsi masjid, Nabi Muhammad melarang pengumuman barang yang hilang di masjid karena masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut. Namun, larangan ini bertentangan dengan fungsi masjid yang tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai media untuk menangani masalah sosial dalam komunitas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami hadis yang terkait dengan larangan ini dengan menelaah kontekstualisasinya dalam studi Ma’anil Hadith. Penelitian ini adalah studi pustaka yang menggunakan metode kualitatif, dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis data yang relevan dengan isu yang sedang diselidiki. Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, hadis yang melarang pengumuman barang hilang di masjid menandakan bahwa masjid adalah tempat yang suci, dengan suasana yang damai dan tenang, tempat di mana kegiatan ibadah seperti salat dilakukan. Kedua, ketika dikontekstualisasikan pada masa sekarang, ada banyak cara untuk mencari barang yang hilang di masjid, seperti melaporkan kehilangan kepada pengelola masjid, bertanya kepada jamaah di pintu masjid, mencari di area barang hilang di luar masjid, dan memposting pengumuman tentang barang hilang di papan informasi di luar masjid].
CLIMATE CHANGE MITIGATION HADIṠ PERSPECTIVE: Thematic-Correlative Approach Azhari, Ainul
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28586

Abstract

Climate change is a critical issue threatening life on earth, requiring active human efforts and support from religion to address it. This study analyzes the moral messages in hadiṡ related to climate change mitigation through a thematic-correlative approach. This research uses qualitative methods, library research, and takhrij al-hadis, data were examined using content analysis, al-jarh wa al-ta’dil, and tawarikh al-ruwat, along with internal and external hadīṡ criticism. The findings confirm that three hadīṡs addressing climate change mitigation are of high quality, making them valid references for Islamic teachings (maqbūl al-hujjah) and applicable in practice. Thematically, these hadīṡ align with efforts to combat climate change, emphasizing the importance of preserving water resources and preventing ecosystem damage. Islam highlights water conservation and responsible usage, recognizing water as vital for all living beings. Mitigation efforts include reforestation, rehabilitating degraded lands, and prohibiting the felling of wild trees to sustain ecosystems. These teachings affirm Islam’s proactive approach to environmental preservation through hadis, advocating for sustainable practices that align with the broader goal of mitigating climate change impacts. [Perubahan iklim adalam masalah krusial yang mengancam kehidupan di bumi, membutuhkan upaya aktif manusia dan dukungan agama untuk mengatasinya. Penelitian ini menganalisis pesan moral dalam hadis yang berkaitan dengan mitigasi perubahan iklim melalui pendekatan tematik-korelatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, penelitian kepustakaan, dan takhrij al-hadits. Teknik analisis data menggunakan analisis isi, al-jarh wa al-ta’dil, dan tawarikh al-ruwat, serta kritik hadis dari aspek internal dan eksternal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tiga hadis yang membahas mitigasi perubahan iklim memiliki kualitas tinggi, sehingga dapat dijadikan referensi yang sah dalam ajaran Islam (maqbūl al-hujjah) dan diterapkan dalam praktik. Secara tematik, hadis-hadis ini sejalan dengan upaya mengatasi perubahan iklim, menekankan pentingnya menjaga sumber daya air dan mencegah kerusakan ekosistem. Islam menekankan konservasi air dan penggunaannya secara bijak, mengingat air adalah kebutuhan esensial bagi semua makhluk hidup. Upaya mitigasi meliputi reboisasi, rehabilitasi lahan yang terdegradasi, dan larangan penebangan pohon liar untuk menjaga keberlanjutan ekosistem. Ajaran ini menegaskan pendekatan proaktif Islam melalui hadis terhadap pelestarian lingkungan, mendorong praktik berkelanjutan yang sejalan dengan tujuan mitigasi dampak perubahan Iklim.]
UNDERSTANDING THE HADITHS PROHIBITING PERFUME FOR WOMEN: A Hermeneutic Analysis by Nashr Hamid Abu Zayd Nafisah, Lailiyatun; Ar Rumi, Ach. Jalaluddin
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.27830

Abstract

The use of perfume among Muslim women has sparked debate due to prophetic traditions (hadiths) prohibiting it. This article reexamines the interpretation of these hadiths, which, when understood literally, contradict contemporary contexts. Initially associated with negative connotations, perfume has evolved into a symbol of self-respect and consideration for others. This qualitative study employs a literature-based research design, utilizing primary sources from hadith collections and secondary sources from books, journals, and related research. The study aims to reevaluate the prohibition's meaning within relevant contexts. Nashr Hamid' Abu Zayd's hermeneutics is guided by extracting three principles, namely dalalah, maghza and maskut 'anhu. Applying Nashr Hamid Abu Zayd's hermeneutics, the research reveals that Islamic teachings permit perfume use if it doesn't cause disturbance and promotes environmental comfort. The signification of the hadith is that Islam teaches not to have an excessive attitude, care about environmental cleanliness and respect for others. The dimension of  unrelated dimension is the excessive use of perfume and with the wrong intention, such as flirting with the opposite sex is prohibited. Furthermore, excessive or malicious perfume use, particularly for seduction, is prohibited due to its potential harm and exploitation of women. [Penggunaan parfum untuk perempuan telah menjadi perdebatan karena adanya hadis yang melarangnya. Artikel ini membahas tentang pemahaman dalam pamaknaan kembali atas hadis yang melarang penggunaan parfum untuk wanita. Hadis tersebut apabila dipahami secara tekstual bertolak belakang dengan kondisi sekarang. Parfum yang mulanya dikaitkan sebagai identitas “pezina” dengan fungsi yang buruk, kemudian bergeser menjadi tanda untuk menghormati diri sendiri dan sekitar. Penelitian ini berupa penelitian kualitatif dengan jenis data studi pustaka. Data diperoleh dari sumber primer berupa kitab hadis. Sedangkan sumber sekunder adalah berupa buku, jurnal, dan penelitian yang terkait dengan tulisan ini.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kembali makna pelarangan penggunaan parfum agar sesuai dengan konteks yang relevan. Penulis menggunakan hermenutika  Nashr Hamid Abu Zayd sebagai pisau bedahnya. Hermenutika dari Nashr  berpedoman pada penggalian tiga prinsip: dalalah (original meaning), maghza (signifikasi), dan maskut ‘anhu (makna tersembunyi). Berdasarkan pada perangkat hermenutika Nashr, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwasa hadis tentang larangan penggunaan parfum untuk wanita memiliki makna bahwa penggunaan parfum diperbolehkan selama tidak menimbulkan bau yang menyengat dan memiliki tujuan untuk membuaat kenyamanan lingkungan sekitar. Sedangkan maghza dari hadis tersebut adalah Islam mengajarkan untuk tidak memiliki sikap berlebihan, peduli dengan kebersihan lingkungan dan menghormati orang lain. Adapun dimensi dari maskut ‘anhu adalah penggunaan parfum yang berlebihan dan dengan niat yang salah adalah dilarang karena madharat. Selain itu untuk mencegah eksploitasi terhadap perempuan].