cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
LIVING HADITH IN JAVANESE MUSLIM SOCIETY: Studi of Sesaji Rewanda Tradition in Semarang
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.33809

Abstract

The Sesaji Rewanda tradition at Kreo Cave, Semarang, serves as a tangible manifestation of Living Hadith, wherein the prophetic value of ihsan is actualized within the cultural framework of Javanese Muslim society. This study examines the intersection between local tradition and Islamic textuality, focusing on the ritual of Gunungan Sego Kethek, the collective feeding of wild monkeys, as an expression of compassion toward living beings. Employing a qualitative methodology, this research integrates a Living Hadith approach by synthesizing textual analysis of relevant prophetic traditions and classical commentaries (sharh) by Ibn Ḥajar al-ʿAsqalānī, Imam al-Nawawī, and Ibn Rajab al-Ḥanbalī, complemented by ethnographic observations of the ritual praxis. The findings indicate that the Sesaji Rewanda tradition represents the principle of ihsan ila al-ḥayawan (kindness toward animals), elevating cultural practice into a form of worship (‘ibadah) provided it remains within the boundaries of monotheistic (tawhid) principles. Furthermore, this study highlights how the tradition creates a harmonious synergy between religion, local culture, and ecological preservation. By contextualizing prophetic values into communal life, Sesaji Rewanda functions as a medium for transformative da’wah and socio-ecological ethics, proving that the Sunnah can be dynamically preserved through intimate local wisdom and inclusive cultural expressions. [Tradisi Sesaji Rewanda di Gua Kreo, Semarang, merupakan manifestasi nyata dari Living Hadis, di mana nilai profetik ihsan diaktualisasikan dalam kerangka budaya masyarakat Muslim Jawa. Penelitian ini mengkaji titik temu antara tradisi lokal dan tekstualitas Islam, dengan fokus pada ritual Gunungan Sego Kethek, di mana praktiknya memberi makan kepada monyet liar secara kolektif, sebagai bentuk ekspresi kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup. Menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan pendekatan living hadis dengan menyintesis analisis tekstual terhadap hadis-hadis terkait serta syarah klasik dari Ibn Ḥajar al-ʿAsqalānī, Imam al-Nawawī, dan Ibn Rajab al-Ḥanbalī, yang dipadukan dengan observasi etnografis atas praksis ritual tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sesaji Rewanda merepresentasikan prinsip ihsan ila al-ḥayawan (berbuat baik kepada hewan), yang mengangkat praktik budaya menjadi sebuah nilai ibadah sejauh tetap terjaga dalam batasan prinsip tauhid. Lebih lanjut, studi ini menyoroti bagaimana tradisi tersebut menciptakan sinergi yang harmonis antara agama, budaya lokal, dan pelestarian ekologis. Dengan mengontekstualisasikan nilai-nilai kenabian ke dalam kehidupan komunal, Sesaji Rewanda berfungsi sebagai medium transformasi dakwah dan etika sosio-ekologis, yang membuktikan bahwa sunnah dapat dipelihara secara dinamis melalui kearifan lokal yang intim dan ekspresi budaya yang inklusif.]
FROM HADITH TO HEALTH: Contextualizing the One-Third Eating Principle in Light of Modern Nutritional Science
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.33299

Abstract

This study investigates the integration of Hadith teachings on dietary practices with modern nutritional science within the Muslim community of Tanjung Morawa B Village. Employing an ethnographic approach, the research draws on in-depth interviews with 40 respondents and participatory observations of 20 individuals. The findings reveal that 77.5% of participants practice the "one-third" eating principle—eating before hunger intensifies, stopping before fullness, and dining before Maghrib. These habits align with contemporary nutritional strategies such as portion control and time-restricted eating, both of which contribute to metabolic health. Notably, despite 65% of respondents coming from economically disadvantaged backgrounds, they maintain healthy diets rooted in religious values by utilizing accessible local foods like pumpkin, cassava, and legumes. The study also notes adaptive strategies for health conditions such as gastritis, reflecting the principle’s flexibility. Overall, the research underscores the potential of integrating religious principles with modern health frameworks, offering a culturally relevant model for dietary intervention in Muslim communities.[Penelitian ini mengkaji integrasi ajaran hadis tentang pola makan dengan ilmu gizi modern dalam konteks komunitas Muslim di Desa Tanjung Morawa B. Dengan menggunakan pendekatan etnografi, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam terhadap 40 responden dan observasi partisipatif terhadap 20 di antaranya. Hasil temuan menunjukkan bahwa 77,5% responden menerapkan prinsip makan sepertiga—makan sebelum merasa lapar, berhenti sebelum kenyang, serta makan malam sebelum Maghrib. Pola ini selaras dengan konsep gizi modern seperti pengendalian porsi dan pola makan dengan waktu terbatas (time-restricted eating) yang terbukti mendukung kesehatan metabolik. Meskipun 65% responden berasal dari keluarga kurang mampu, mereka tetap menjaga pola makan sehat yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan dengan memanfaatkan pangan lokal seperti labu, singkong, dan kacang-kacangan. Penelitian ini juga mencatat adanya penyesuaian terhadap kondisi kesehatan tertentu seperti gastritis, yang menunjukkan fleksibilitas prinsip ini. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai religius dengan pendekatan kesehatan modern, serta menawarkan model intervensi gizi yang kontekstual bagi komunitas Muslim guna meningkatkan kesejahteraan mereka.]
THE INFLUENCE OF LIVING HADITH ON COMMERCIAL TRANSACTIONS AMONG BANJAR Z GENERATION IN PALANGKA RAYA
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31661

Abstract

Technological developments and shifting consumption patterns have significantly influenced the manifestation of living hadith practices among the Banjar community in Palangka Raya, particularly among members of Generation Z. This study investigates how this generation interprets and applies prophetic values within contemporary sale and purchase contracts in a digital environment. Employing a qualitative methodology, data were gathered through interviews, observation, and documentation, and analyzed using thematic analysis. The findings reveal five key transformations: the shift from verbal contracts to general social expressions; from religious dialogue to functional economic acts; from symbolic transaction spaces to digital platforms; the tension between traditional and modern contractual contexts; and the emergence of fragmented symbolic consciousness. This research contributes to the scholarship of living hadith by conceptualizing its transformation within the sphere of contemporary economic practices. Moreover, it offers critical insights into how Islamic ethical values can be maintained and rearticulated in the midst of evolving digital cultures and consumer behavior. [Perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi telah memengaruhi secara signifikan praktik living hadith di kalangan masyarakat Banjar di Palangka Raya, khususnya pada Generasi Z. Penelitian ini mengkaji bagaimana generasi ini menginterpretasikan dan menerapkan nilai-nilai kenabian dalam praktik akad jual beli di lingkungan digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian mengungkapkan lima transformasi utama: pergeseran dari akad verbal ke ekspresi sosial umum; dari dialog religius ke tindakan fungsional; dari ruang transaksi simbolik ke platform digital; ketegangan antara konteks tradisional dan modern; serta munculnya kesadaran simbolik yang terfragmentasi. Studi ini memberikan kontribusi konseptual terhadap kajian living hadith dengan menyoroti adaptasinya dalam praktik ekonomi kontemporer. Selain itu, penelitian ini menawarkan wawasan penting mengenai upaya pelestarian dan artikulasi ulang nilai-nilai etika Islam di tengah budaya digital dan perilaku konsumtif yang terus berkembang.]
RELIGIOUS MODERATION IN WATER USE PRACTICES BASED ON BULUGH AL-MARAM AT SALAF ISLAMIC BOARDING SCHOOLS: A Study of Living Hadith
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.36208

Abstract

This study is motivated by the increasing urgency of religious moderation in a plural society amid the growing crisis of water resources, particularly within Islamic boarding schools (pesantren). Bulugh al-Maram, as a primary reference for hadith ahkam studied in pesantren, holds significant potential for fostering values of moderation, especially through hadiths regulating proportional and efficient water use. However, a purely textual understanding of certain hadiths may also lead to rigid or even radical attitudes if not properly contextualized. Therefore, this research aims to examine the values of religious moderation embedded in the hadiths on water usage in Bulugh al-Maram and their implementation in Salaf pesantren along the northern coast of Java. This study employs a qualitative research method using both library and field approaches within the framework of living hadith studies. Hermeneutic analysis is applied to interpret the hadith texts, while field data are collected through observations and interviews conducted in several Salaf pesantren in Kudus and its surrounding areas. The findings reveal that Bulugh al-Maram contains numerous hadiths that promote moderate religious attitudes, such as prohibitions against excessive water use (israf), flexibility in purification practices, and recognition of diversity in ritual observance. These values are reflected in pesantren practices, including water-saving behaviors, the use of tayammum when appropriate, and tolerant attitudes toward differences among Islamic legal schools. This study recommends strengthening contextual approaches to hadith understanding through living hadith studies so that the values of religious moderation can be more effectively internalized, while simultaneously contributing to water resource conservation and the promotion of social harmony within pesantren communities.  [Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin menguatnya urgensi moderasi beragama di tengah masyarakat plural serta krisis energi air yang kian mengkhawatirkan, khususnya di lingkungan pesantren. Kitab Bulugh al-Maram sebagai rujukan utama hadis-hadis ahkam di pesantren memiliki potensi besar dalam menanamkan nilai moderasi, terutama melalui hadis-hadis yang mengatur penggunaan air secara proporsional dan efisien. Namun, pemahaman tekstual terhadap hadis-hadis tertentu juga berpotensi melahirkan sikap kaku bahkan radikal jika tidak dikontekstualisasikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengkaji nilai-nilai moderasi beragama dalam hadis penggunaan air dalam Bulugh al-Maram serta implementasinya di pesantren salaf di wilayah Pantura Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dan lapangan (living hadis). Analisis hermeneutik digunakan untuk menafsirkan teks hadis, sementara data lapangan diperoleh melalui observasi dan wawancara di beberapa pesantren salaf di Kudus dan sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bulugh al-Maram memuat hadis-hadis yang mendorong sikap moderat, seperti larangan israf dalam penggunaan air, fleksibilitas dalam bersuci, serta pengakuan terhadap keragaman praktik ibadah. Implementasi nilai-nilai tersebut tampak dalam praktik penghematan air, pemanfaatan tayamum, serta sikap toleran terhadap perbedaan mazhab di pesantren. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan pemahaman kontekstual hadis melalui kajian living hadis agar nilai moderasi beragama dapat terinternalisasi secara lebih efektif, sekaligus berkontribusi pada upaya konservasi sumber daya air dan penguatan harmoni sosial di lingkungan pesantren]
REREADING HADITH OF MAHRAM AND WOMEN’S MOBILITY IN INDONESIAN CONTEXT
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28252

Abstract

The differences in Muslim understanding of mahram impact women’s mobility in the public sphere. This study aims to map the diversity of interpretations on mahram hadith among Indonesian Muslims viewed from the interpretation of arguments and their influence on women’s lives. Through qualitative research, the data was obtained from online media, which was strengthened by interviews, and analyzed by using content analysis. The study results show that mahram is understood textually and contextually with three categories, namely family mahram, which impacts prohibitions, restrictions on women outside the home, and restraint on women in public spaces. Whereas mahram, as a friend and community, functions as a support system for protection for women, which is supported by the state’s security system, affecting women’s freedom in travel and public spaces. The arguments influencing this understanding are different arguments, interpretations, schools of thought, and individual experiences. In the Indonesian context, progressive ulemas reinterpret mahram traditions from personal protection to communal and state protection through three methods, namely reciprocal interpretation, considering context, and using maqashid sharia. The understanding of mahram is not only related to protecting women while traveling but extends to all women’s activities in the public sphere, including worship. Thus, the issue of mahram in the Indonesian context is inseparable from religious, social, cultural, and political discourse.[Perbedaan  pemahaman umat Islam  tentang mahram berdampak pada mobilitas perempuan di ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan keberagaman penafsiran hadis mahram di kalangan umat Islam Indonesia dilihat dari penafsiran dalil dan pengaruhnya terhadap kehidupan perempuan. Melalui penelitian kualitatif, data diperoleh dari media daring yang diperkuat dengan wawancara, dan dianalisis dengan menggunakan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahram dipahami secara tekstual dan kontekstual dengan tiga kategori, yaitu mahram keluarga yang berdampak pada larangan, pembatasan bagi perempuan di luar rumah, dan pengekangan bagi perempuan di ruang publik. Sedangkan mahram sebagai sahabat dan masyarakat berfungsi sebagai sistem pendukung perlindungan bagi perempuan yang didukung oleh sistem keamanan negara, sehingga memengaruhi kebebasan perempuan dalam bepergian dan ruang publik. Dalil yang memengaruhi pemahaman tersebut adalah perbedaan argumen, penafsiran, mazhab pemikiran, dan pengalaman individu. Dalam konteks Indonesia, ulama progresif menafsirkan kembali tradisi mahram dari perlindungan pribadi menjadi perlindungan komunal dan negara melalui tiga metode, yaitu penafsiran resiprokal, mempertimbangkan konteks, dan menggunakan maqashid syariah. Pemahaman tentang mahram tidak hanya terkait dengan perlindungan terhadap perempuan saat bepergian, tetapi meluas ke seluruh aktivitas perempuan di ruang publik, termasuk beribadah. Dengan demikian, persoalan mahram dalam konteks Indonesia tidak dapat dipisahkan dari wacana keagamaan, sosial, budaya, dan politik.]
THE SOCIAL CONSTRUCTION OF HADITH AUTHORITY: A Comparative Analysis of al-Shafi’is and al-Tusi’s Epistemological Frameworks
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.34081

Abstract

This study compares the methodologies for validating āḥādḥadīth according to Imām al-Shāfiʿī (Sunni) and Shaykh al-Ṭūsī (Imāmī Shīʿī). A sociology of knowledge analysis demonstrates that the fundamental differences between the two systems are not merely technical, but rather reflect distinct social contexts and communal needs. The findings show that al-Shāfiʿī formulated universal criteria, such as the integrity (ʿadl) and precision (ḍabṭ) of transmitters, to unify a fragmented Muslim community during the Abbasid era. The system he developed functioned to centralize legal authority based on textual sources, thereby reinforcing Sunni identity as an integrated majority. In contrast, al-Ṭūsī developed a four-tier classification that associates the highest level of authority (ṣaḥīḥ) with Imāmī Shīʿī transmitters, while simultaneously positioning reason (ʿaql) as an independent evaluative filter. Al-Ṭūsī’s system served to maintain identity boundaries, safeguard doctrinal authority, and strengthen internal coherence within a minority community in the post-Occultation period. Both methodologies were subsequently institutionalized through their canonical works such as al-Risālah and al-Kutub al-Arbaʿah, thereby shaping enduring scholarly frameworks that persist until now. This study contributes by uncovering the sociological roots of epistemological differences in ḥadīth studies, demonstrating that religious knowledge authority is shaped by social dynamics such as majority integration and minority preservation. [Penelitian ini mengkomparasikan metodologi validasi hadis āḥād menurut Imam al-Shāfiʿī (Sunni) dan Shaykh al-Ṭūsī (Syiah Imamiyah). Analisis sosiologi pengetahuan menunjukkan bahwa perbedaan mendasar kedua sistem bukan semata teknis, melainkan refleksi dari konteks sosial dan kebutuhan komunal yang berbeda. Hasil menunjukkan bahwa al-Shāfiʿī merumuskan kriteria universal, seperti integritas (‘adl) dan ketelitian (ḍabṭ) periwayat, untuk menyatukan umat Muslim yang terfragmentasi di era Abbasiyah. Sistem yang dikembangkan al-Shafi’i berfungsi memusatkan otoritas hukum berbasis teks, memperkuat identitas Sunni sebagai mayoritas yang terintegrasi. Sebaliknya, al-Ṭūsī mengembangkan klasifikasi empat tingkat yang mengaitkan otoritas tertinggi (ṣaḥīḥ) dengan periwayat Syiah Imamiyah, sekaligus menempatkan nalar (‘aql) sebagai filter mandiri. Sistem yang dikembangkan al-Ṭūsī berfungsi menjaga batas identitas, melindungi otoritas doktrinal, dan memperkuat koherensi internal komunitas minoritas pasca okultasi Imam. Kedua metodologi tersebut kemudian terinstitusionalisasi melalui karya kanonik mereka berupa al-Risālah dan al-Kutub al-Arbaʿah, sehingga membentuk kerangka keilmuan yang bertahan hingga kini. Penelitian ini berkontriusi dengan mengungkap akar sosiologis dari perbedaan epistemologis dalam studi hadis, yakni menunjukkan bahwa otoritas pengetahuan agama dibentuk oleh dinamika sosial seperti integrasi mayoritas dan preservasi minoritas.]
THE USE OF MAJAZ IN HADITH TEXTS: A Systematic Literature Review of Contextual Interpretation and Linguistic Analysis
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.34084

Abstract

The use of majaz (figurative language) in hadith texts has long been recognized as an important element in understanding the linguistic depth and contextual meaning of the Prophet Muhammad’s sayings. However, studies on this topic have generally focused on majaz within theoretical or semantic discourse, without providing a systematic mapping of its methodological role and socio-religious implications. This study aims to fill this gap by employing a Systematic Literature Review (SLR) method following the PRISMA protocol, examining 36 scholarly articles on majaz in hadith published between 2019 and 2025. The review focuses on publication trends, dominant methodological approaches, geographical distribution of research, and the implications of majaz for contextual interpretation and contemporary Muslim life. The findings reveal a significant increase in academic interest during the period 2021–2024, marked by a strong dominance of qualitative, linguistic, and contextual approaches, particularly those integrating balaghah, semantics, socio-historical analysis, and hermeneutics. Majaz is increasingly positioned not merely as a rhetorical device but as a substantive interpretive instrument with important implications for legal reasoning, ethical formation, and socio-religious construction. Nevertheless, a gap remains between the theoretical recognition of majaz and its application in religious practice, education, and public policy, largely influenced by the persistence of conservative literalist paradigms. This study offers both methodological and thematic novelty by systematically mapping the role of majaz in hadith studies and positioning it as a bridge between textual fidelity and contemporary relevance, thereby supporting the development of a more adaptive, interdisciplinary, and context-sensitive methodology in hadith scholarship. [Penggunaan majaz (bahasa figuratif) dalam teks-teks hadis telah lama diakui sebagai unsur penting dalam memahami kedalaman linguistik dan makna kontekstual sabda Nabi Saw. Namun, kajian-kajian terhadapnya selalu fokus pada diskursus majaz yang menekankan pada aspek teoretis atau semantik, tanpa pemetaan yang sistematis terhadap peran metodologis dan implikasi sosio-keagamaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan menerapkan metode Systematic Literature Review (SLR) yang mengikuti protokol PRISMA, terhadap 36 artikel ilmiah tentang majaz dalam hadis yang dipublikasikan antara tahun 2019–2025. Kajian ini berfokus pada tren publikasi, pendekatan metodologis yang dominan, distribusi geografis penelitian, serta implikasi majaz terhadap penafsiran kontekstual dan kehidupan Muslim kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan minat akademik pada periode 2021–2024, dengan dominasi kuat pendekatan kualitatif, linguistik, dan kontekstual, terutama yang mengintegrasikan balaghah, semantik, analisis sosio-historis, dan hermeneutika. Majaz semakin diposisikan bukan sekadar sebagai perangkat retorika, melainkan sebagai instrumen penafsiran substantif yang memiliki implikasi penting terhadap penalaran hukum, pembentukan etika, dan konstruksi sosial-keagamaan. Meskipun demikian, masih terdapat kesenjangan antara pengakuan teoretis terhadap majaz dan penerapannya dalam praktik keagamaan, pendidikan, dan kebijakan publik, yang sebagian besar dipengaruhi oleh kuatnya paradigma literalistik-konservatif. Studi ini memberikan kebaruan metodologis dan tematik dengan memetakan secara sistematis peran majaz dalam studi hadis, serta menempatkannya sebagai penghubung antara kesetiaan terhadap teks dan relevansinya terhadap konteks kontemporer, sehingga mendukung pengembangan metodologi kajian hadis yang lebih adaptif, interdisipliner, dan peka terhadap konteks.]
THE ORIGIN OF THE HADITH ABOUT JAMPI-JAMPI: A Review of Harald Motzki's Isnad Cum Matan Analysis
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31666

Abstract

Hadiths concerning conjuring or ruqyah constitute a significant theme in hadith studies, particularly regarding issues of authenticity in both isnād and matn. Divergent perspectives between classical and modern scholars on the validity of these traditions underscore the necessity for a more nuanced and critical analysis. This study investigates the origin and transmission of the jampi-jampi (incantation) hadiths using the isnād-cum-matn analytical framework pioneered by Harald Motzki. Employing a qualitative methodology through literature-based research, data were sourced from canonical hadith collections such as Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, and Sunan Abī Dāwūd, along with contemporary scholarship in hadith criticism. Through descriptive-analytical techniques, this study maps the transmission chains (asānīd), evaluates narrator reliability, and compares textual variants of the matn. The findings reveal that while variations exist in wording, the jampi-jampi hadiths possess multiple strong lines of transmission. Motzki’s method proves instrumental in uncovering the historical strata of hadith development, demonstrating that the majority of ruqyah-related traditions can be traced reliably to the generation of the tābi‘īn. This study contributes to the field of hadith methodology by reinforcing the importance of integrated textual and transmission analysis and offers deeper contextual insight into the normative role of ruqyah within Muslim religious practice.[Hadis-hadis tentang jampi atau ruqyah merupakan tema penting dalam studi hadis, khususnya dalam hal keotentikan baik dari sisi sanad maupun matan. Perbedaan pandangan antara ulama klasik dan sarjana modern terkait validitas hadis-hadis tersebut menunjukkan perlunya kajian yang lebih mendalam dan kritis. Penelitian ini mengkaji asal-usul dan transmisi hadis jampi-jampi dengan menggunakan pendekatan isnād-cum-matn yang dikembangkan oleh Harald Motzki. Dengan metode kualitatif melalui studi pustaka, data diperoleh dari kitab-kitab hadis kanonik seperti Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, dan Sunan Abī Dāwūd, serta literatur kritik hadis kontemporer. Melalui teknik analisis deskriptif-analitis, penelitian ini memetakan jalur transmisi (asānīd), menilai kredibilitas para perawi, dan membandingkan varian teks (matan) hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan redaksi, hadis-hadis jampi-jampi memiliki beberapa jalur transmisi yang kuat. Pendekatan Motzki terbukti efektif dalam mengungkap lapisan-lapisan historis dalam perkembangan hadis, serta menunjukkan bahwa sebagian besar tradisi tentang ruqyah dapat ditelusuri secara andal hingga generasi tābi‘īn. Studi ini memberikan kontribusi pada metodologi ilmu hadis dengan menegaskan pentingnya analisis integratif antara teks dan transmisi, serta menawarkan pemahaman kontekstual yang lebih mendalam terhadap peran normatif ruqyah dalam praktik keagamaan umat Islam.]
PRESERVING THE TRADITION OF HADITH SANAD IJAZAH IN PESANTREN OF MANDAILING NATAL: Scholarly Continuity and Academic Challenges
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31428

Abstract

The sanad tradition serves as a fundamental mechanism for preserving the authenticity and continuity of hadith through a reliable and accountable chain of transmission. In Indonesia, particularly in Mandailing Natal, this tradition is actively maintained in Pesantren (pesantren), where the transmission of canonical hadith texts—such as Arba‘in an-Nawawi, Bulugh al-Maram, and Sahih al-Bukhari—relies on a sanad-based educational system. This study explores the mechanism of granting ijazah sanad (sanad certificates) in selected pesantren—notably Musthafawiyah, Darul Ulum, and Roihanul Jannah—and examines their contribution to sustaining hadith scholarship. Employing a qualitative methodology that includes fieldwork and historical analysis, the research reveals that sanad certification is not a mere formal acknowledgment, but the result of a rigorous academic and spiritual process. Teaching methods such as musyafahah, talaqqi, and sorogan are employed alongside recitations in class, mosques, and during Ramadan. Certificates are granted only to students who meet strict academic criteria, including completion of hadith study under a teacher with authenticated sanad lineage, comprehension of the matan, and observance of proper adab. Most sanad lineages trace back to scholars connected to Madrasah Ash-Shalatiyah and Darul Ulum Makkah, including Shaykh Muhammad Yasin al-Fadani. Despite its critical role, academic studies on hadith sanad remain limited compared to Qur’anic sanad research. This study underscores the need to revitalize scholarly attention to hadith sanad traditions and affirms the strategic role of pesantren as institutions preserving the integrity and transmission of classical Islamic knowledge. [Tradisi sanad merupakan mekanisme fundamental dalam menjaga keautentikan dan kesinambungan hadis melalui rantai transmisi yang andal dan dapat dipertanggungjawabkan. Di Indonesia, khususnya di Mandailing Natal, tradisi ini secara aktif dilestarikan di lembaga pendidikan pesantren, di mana transmisi kitab-kitab hadis klasik seperti Arba‘in an-Nawawi, Bulugh al-Maram, dan Sahih al-Bukhari dilakukan melalui sistem pendidikan berbasis sanad. Penelitian ini mengkaji mekanisme pemberian ijazah sanad (sertifikat sanad) di beberapa pesantren—terutama Musthafawiyah, Darul Ulum, dan Roihanul Jannah—dan menelaah kontribusinya dalam mempertahankan keberlanjutan keilmuan hadis. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi lapangan dan analisis historis, penelitian ini menemukan bahwa pemberian ijazah sanad bukan sekadar formalitas, melainkan hasil dari proses akademik dan spiritual yang ketat. Metode pengajaran seperti musyafahah, talaqqi, dan sorogan diterapkan bersamaan dengan pengajian di kelas, masjid, dan selama bulan Ramadan. Sertifikat hanya diberikan kepada santri yang memenuhi kriteria akademik ketat, termasuk menyelesaikan kajian kitab hadis di bawah bimbingan guru bersanad sah, memahami matan hadis, dan menunjukkan adab serta komitmen belajar. Mayoritas rantai sanad ditelusuri hingga ulama-ulama yang terhubung dengan Madrasah Ash-Shalatiyah dan Darul Ulum Makkah, termasuk Syekh Muhammad Yasin al-Fadani. Meskipun memiliki peran krusial, kajian akademik tentang sanad hadis masih terbatas dibandingkan dengan kajian sanad Al-Qur’an. Studi ini menegaskan pentingnya revitalisasi perhatian akademik terhadap tradisi sanad hadis dan meneguhkan peran strategis pesantren dalam menjaga integritas dan transmisi keilmuan Islam klasik.]
THE HERMENEUTICAL STRATEGY AND PRIBUMISASI OF HADITH IN THE JAVANESE SYARAH OF MISBAH AL-ANAM FI TARJAMAH BULUGH AL-MARAM BY A. SUBKI MASYHADI
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.33983

Abstract

This research analyzes the methodology of hadith commentary in the book Miṣbāḥ al-Anām fī Tarjamah Bulūgh al-Marām by A. Subki Masyhadi, a prolific scholar from Pekalongan. Utilizing a descriptive-qualitative method with content analysis techniques, this study reveals Masyhadi’s hermeneutical strategies in bridging authoritative classical texts with the socio-cultural realities of Javanese society. The findings indicate the use of a combined ijmālī (global) and muqārin (comparative) method, integrated through three primary approaches: textual, contextual, and intertextual. Masyhadi maintains the orthodoxy of the pesantren tradition by referencing the Qur'an, Shafi'i jurisprudential literature, and linguistic authorities such as al-Nihāyah and Subul al-Salām. The originality of Masyhadi’s work lies in its massive effort toward the "indigenization" (pribumisasi) of hadith. The use of the Arabic-Pegon script is not merely a technical choice but serves as an epistemological bridge for non-Arabic speaking communities. The localization of prophetic teachings is carried out creatively through the inclusion of regional nuances, such as utilizing the Rupiah currency in legal transactions, employing local foodstuffs (tape and beras jowo) as jurisprudential analogies, and validating rebana art as a cultural identity. This research contributes to the mapping of Islamic intellectual history in the Nusantara, demonstrating that vernacular hadith commentaries are vital instruments for maintaining religious continuity while serving as a form of creative adaptation in responding to Indonesia's local identity and realities. [Penelitian ini menganalisis metodologi syarah hadis dalam kitab Miṣbāḥ al-Anām fī Tarjamah Bulūgh al-Marām karya A. Subki Masyhadi, seorang ulama produktif asal Pekalongan. Menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan teknik analisis isi (content analysis), studi ini mengungkap strategi hermeneutika Masyhadi dalam menjembatani teks otoritatif klasik dengan realitas sosiokultural masyarakat Jawa. Temuan penelitian menunjukkan penggunaan kombinasi metode ijmālī (global) dan muqārin (komparatif) yang diintegrasikan melalui tiga pendekatan utama: tekstual, kontekstual, dan intertekstual. Masyhadi mempertahankan ortodoksi tradisi pesantren dengan merujuk pada Al-Qur'an, literatur yurisprudensi Syafi'i, serta otoritas linguistik seperti al-Nihāyah dan Subul al-Salām. Orisinalitas karya Masyhadi terletak pada upaya pribumisasi hadis yang masif. Penggunaan aksara Arab-Pegon bukan sekadar pilihan teknis, melainkan jembatan epistemologis bagi masyarakat non-Arab. Lokalisasi ajaran kenabian dilakukan secara kreatif melalui penyertaan nuansa regional, seperti penggunaan satuan mata uang Rupiah dalam transaksi hukum, pemanfaatan bahan pangan lokal (tape dan beras jowo) sebagai analogi fikih, hingga validasi seni rebana sebagai identitas kultural. Penelitian ini berkontribusi pada pemetaan sejarah intelektual Islam di Nusantara, menunjukkan bahwa syarah hadis vernakular merupakan instrumen vital dalam menjaga kontinuitas keagamaan sekaligus bentuk adaptasi kreatif Islam dalam merespons identitas dan realitas lokal Indonesia.]