cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 218 Documents
REINTERPRETATION OF THE HADITH ON RECYCLED WATER WITH A SCIENTIFIC APPROACH Syukron, Tubagus Muhammad; Fudhaili, Ahmad
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28726

Abstract

The hadith concerning the well of Budhāʻah, known for its contaminated condition, raises intriguing questions regarding Prophet Muhammad’s use of its water for ablution. The contradiction between the well’s description and the prophet’s action has prompted scholarly interpretations about a possible natural purification process. However, existing explanations regarding this purification do not fully align with the well’s condition as described in the hadith. This study reinterprets the Budhāʻah well hadith to determine the legal status of recycled water using modern scientific findings. Collaborating with PT Rofis Jaya Perkasa, a wastewater treatment company, this research aims to scientifically reconstruct the well’s historical condition. Employing a qualitative approach with a case study on the Budhāʻah well hadith, this research gathers data through literature review, interviews, and field observations. Hadith analysis involves scrutiny of its chain of sanad, matan, and contextual understanding using scientific theories. The analysis reveals that the well’s water was a mixture of rainwater and periodically entering household wastewater. Natural mechanisms, including microbial activity, were capable of transforming the contaminated water into cleaner water. These findings offer a new perspective on the concept of water purity in Islam, particularly concerning recycled water and its relevance to modern water treatment practices. [Hadis tentang Sumur Budhāʻah, yang dikenal karena kondisinya yang tercemar, menimbulkan pertanyaan menarik terkait penggunaan airnya oleh Nabi Muhammad untuk berwudu. Kontradiksi antara deskripsi sumur dan tindakan Nabi memunculkan interpretasi ulama tentang kemungkinan adanya proses semacam daur ulang. Kendati demikian, penjelasan mengenai proses penyucian air ini tidak sesuai dengan kondisi Sumur Budhāʻah sebagaimana yang termaktub dalam hadis. Penelitian ini akan menginterpretasi ulang hadis Sumur Budhāʻah dalam menentukan status hukum air daur ulang menggunakan pendekatan temuan sains modern. Melalui kolaborasi dengan PT Rofis Jaya Perkasa, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air limbah, penelitian ini berusaha merekonstruksi secara ilmiah kondisi Sumur Budhāʻah pada masa lalu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada hadis Sumur Budhā‘ah. Metode pengumpulan data meliputi studi pustaka, wawancara, dan observasi lapangan. Hadis akan ditinjau menggunakan kritik sanad, kritik matan, dan pemahaman hadis kontekstual dengan pendekatan teori sains. Hasil analisis menunjukkan bahwa air di Sumur Budhāʻah merupakan campuran air hujan dan limbah rumah tangga yang masuk berkala. Mekanisme alami, termasuk aktivitas mikroorganisme, mampu mengubah kualitas air yang tercemar menjadi air yang lebih bersih. Temuan ini membuka perspektif baru dalam memahami konsep kesucian air dalam Islam, khususnya terkait dengan air hasil daur ulang.]
STUDY OF THE BOOK OF MUSNAD Al-SYAFI’I: Analysis of the Characteristics and Originality of Hadith which Rely on It Qomarullah, Muhammad; Juriono, Juriono; Amin, Muhammad
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.26140

Abstract

This paper aims to analyse the characteristics and originality of the traditions in the book Musnad Al-Shafi’i, a monumental work compiled by Imam Al-Shafi’i (d. 204 AH), which focuses on collecting the traditions of the Prophet Muhammad (peace be upon him) that serve as the basis for the formation of Islamic legal methodology, especially in the Shafi’i school of thought. Imam Al-Shafi’i is famous as a scholar of Fiqh not as a scholar of hadith, even though his teacher Imam Malik was a scholar of hadith, then Imam Ahmad ibn Hambal as his student was famous as a scholar of hadith. This study uses a descriptive-analytical approach by examining the quality and authenticity of the traditions contained in the Musnad, as well as analysing its contribution to the development of hadith science and Islamic fiqh. The Musnad of Al-Shafi’i contains a variety of traditions that have distinctive characteristics in terms of sanad and matan, and contains many traditions that are often the main reference in the process of interpreting the law. The method that the author uses with the data analysis of the book in the Musnad of Al-Shafi’i in which hadith scholars differ in opinion about the book originating from the imam Al-Shafi’i, approximately 500 traditions that are only from him, the rest are only much debated narrations from Al-Shafi’i through his students. As a result, there are many versions of the Musnad of Al-Shafi’i that need to be researched again, so it opens up the possibility for further research, both the history of the rijal al-hadis who quoted from Imam Al-Shafi’i. [Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan orisinalitas hadis dalam kitab Musnad Al-Syafi’i, sebuah karya monumental yang disusun oleh Imam Al-Syafi’i (w. 204 H), yang berfokus pada pengumpulan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. yang dijadikan landasan dalam pembentukan metodologi hukum Islam, khususnya dalam mazhab Syafi’i. Imam Al-Syafi’i terkenal sebagai ulama Fiqh tidak sebagai ulama hadis, padahal guru beliau Imam Malik ialah ulama hadis, kemudian Imam Ahmad bin Hambal sebagai murid beliau terkenal sebagai ulama hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan menelaah kualitas dan keotentikan hadis-hadis yang terkandung dalam Musnad tersebut, serta menganalisis kontribusinya terhadap perkembangan ilmu hadis dan fiqh Islam. Kitab Musnad Al-Syafi’i mengandung berbagai hadis yang memiliki ciri khas dalam hal sanad dan matan, serta memuat banyak hadis yang sering kali menjadi rujukan utama dalam proses istinbath hukum. Metode yang penulis gunakan dengan analisis data Kitab pada Musnad Al-Syafi’i yang ulama hadis berbeda pendapat tentang kitab tersebut berasal dari imam Al-Syafi’i, lebih kurang 500 hadis yang hanya dari beliau, selebihnya hanya riwayat yang banyak diperdebatkan dari Al-Syafi’i lewat murid beliau. Adapun hasilnya Banyaknya versi dari Musnad Al-Syafi’i yang perlu diteliti lagi, sehingga membuka kemungkinan untuk penelitian yang lebih lanjut, baik riwayatnya dari rijal al-hadis yang menukil dari Imam Al-Syafi’i.]
SOCIO-ANTHROPOLOGICAL ANALYSIS OF ‘ASHABIYYAH HADITHS Fauji, Hayatul; Arifin, Tajul; Sadikin, Moch. Ramdan Hasan
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i1.24292

Abstract

This article dissects the ‘ashabiyyah (fanaticism) hadith. Analysis of the ‘ashabiyyah hadith aims to understand the messages and values contained therein and their implementation in modern society. The ‘ashabiyyah hadiths chosen as the basis for this research are those which explicitly mention the word ‘ashabiyyah, along with their derivations. The ‘ashabiyyah hadith is analyzed using the syarh approach used by hadith experts and then reviewed using a socio-anthropological science approach. The theory used is Anthony Giddens’ social constitution which is supported by anthropological facts about the Arab people revealed in the Sirah Nabawiyah books and Ibn Khaldun’s theory of ‘ashabiyyah. From the results, it was found that the Prophet was a social agent who changed the tribalistic order of life of the Arab nation into a civil society, without eliminating it as a whole. He still maintained the positive values of jahiliyyah, but changed his motives or intentions. This was seen when he discussed with his friends regarding ‘ashabiyyah which has become the DNA of Arab people anthropologically. The concept of `ashabiyyah, whose basis can be religion, kinship, clanism, tribalism, ethnicity, ideology, economic and political interests, regionalism, and so on, is not only a characteristic of tribal (Arab) societies of the past, but also of modern societies and countries of post-colonial nations, including Indonesia. [Artikel ini membedah hadis ‘ashabiyyah (fanatisme). Analisa hadis ‘ashabiyyah bertujuan memahami pesan dan nilai yang terkandung di dalamnya serta implementasinya terhadap masyarakat modern. Hadis-hadis ‘ashabiyyah yang dipilih sebagai basis penelitian ini ialah yang secara eksplisit menyebut kata ‘ashabiyyah, berikut derivasinya. Hadis ‘ashabiyyah dianalisa menggunakan pendekatan syarh yang digunakan oleh ahli hadis kemudian ditinjau ulang menggunakan pendekatan ilmu sosio-antropologi. Teori yang digunakan ialah konstitusi sosial Anthony Giddens yang didukung dengan fakta antropologis bangsa Arab yang diungkapkan dalam kitab-kitab sirah nabawiyah dan teori Ibn Khaldun tentang ‘ashabiyyah. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Nabi adalah agen sosial yang mengubah tatanan kehidupan bangsa Arab yang bersifat kesukuan menjadi masyarakat madani, tanpa menghilangkannya secara menyeluruh. Beliau tetap mempertahankan nilai-nilai positif jahiliyah, tetapi mengubah motif atau niatnya. Hal itu terlihat ketika beliau berdiskusi dengan para sahabat berkenaan dengan ‘ashabiyyah yang secara antropologis telah menjadi DNA masyarakat Arab. Konsep ‘ashabiyyah yang basisnya dapat berupa agama, kekerabatan, klanisme, kesukuan, etnisitas, ideologi, kepentingan ekonomi dan politik, kedaerahan, dan sebagainya, tidak saja menjadi ciri masyarakat kesukuan (Arab) masa lalu, tetapi juga masyarakat modern dan negara-negara bangsa pascakolonial, termasuk Indonesia.]
LIVING HADITH AND NAUTICAL DAKWAH: A Contextual Approach to Promoting Environmental Awareness on Kapoposang Island Tasbih, Tasbih; A. H., Saidah; Bakti, Andi Faisal; Narongrasakhet, Ibrahem
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.33839

Abstract

The study discusses the integration of Living Hadith into nautical da‘wah as an innovative, faith-based approach to enhancing environmental awareness on Kapoposang Island, Indonesia. Employing a qualitative narrative method, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation to analyse how prophetic traditions, particularly teachings on cleanliness, are contextualized in environmental stewardship practices. The findings indicate that integrating hadith values into environmental awareness campaigns strengthens community engagement and encourages sustainable behavioural change, especially in waste management and marine conservation. Religious messages, such as the hadith stating that “cleanliness is part of faith,” are translated into concrete actions through community lectures, coastal clean-up activities, and recycling initiatives. The effectiveness of these actions is further reinforced by institutional collaboration between Alauddin State Islamic University Makassar, local government authorities, and community organizations, enabling religious teachings to be implemented in tangible ecological practices. Despite ongoing challenges, including limited human resources, technical capacity, logistical constraints, and external sources of marine pollution, the program has succeeded in fostering a culture of cleanliness rooted in hadith values. Accordingly, this study underscores the potential of nautical da‘wah as a holistic and context-sensitive model of environmental management and recommends its further development and repetitive-comparative studies in other coastal communities across Indonesia. [Penelitian mendiskusikan integrasi living hadis dalam dakwah bahari sebagai pendekatan inovatif berbasis keagamaan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di Pulau Kapoposang, Indonesia. Dengan menggunakan metode kualitatif naratif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi untuk menganalisis bagaimana tradisi kenabian, khususnya ajaran tentang kebersihan, dikontekstualisasikan dalam praktik-praktik penjagaan lingkungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengintegrasian nilai-nilai hadis ke dalam kampanye peduli lingkungan mampu memperkuat keterlibatan masyarakat, serta mendorong mereka untuk melakukan perubahan perilaku yang berkelanjutan, terutama dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan laut. Pesan-pesan keagamaan, seperti hadis “kebersihan adalah bagian dari iman,” diterjemahkan ke dalam tindakan nyata melalui ceramah komunitas, kegiatan bersih-bersih pesisir, dan inisiatif daur ulang. Efektivitas tindakan tersebut semakin diperkuat dengan adanya kolaborasi kelembagaan antara Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat, sehingga ajaran keagamaan dapat diimplementasikan dalam praktik ekologis yang konkret. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, kapasitas teknis, dan kendala logistik, serta adanya pencemaran laut yang bersumber dari luar wilayah, program ini berhasil menumbuhkan budaya kebersihan yang berakar pada nilai-nilai hadis. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi berupa penegasan potensi dakwah bahari sebagai model pengelolaan lingkungan yang holistik dan kontekstual, serta merekomendasikan pengembangan dan kajian komparatif-repetitif pada komunitas pesisir lainnya di Indonesia.]
THE METHODOLOGY OF HAMMAD B. SALAMAH IN HADITH PRESERVATION DURING THE ERA OF THE TABI‘ AL-TABI‘IN
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31753

Abstract

The methodology employed by Ḥammād ibn Salamah in preserving hadith during the tābiʿ al-tābiʿīn era emerged in response to a critical period marked by the proliferation of fabricated hadith, driven by intense political conflict and sectarian rivalry within the early Muslim community. This situation raised serious concerns about the integrity of Islamic teachings, particularly the authenticity of prophetic traditions. This study aims to examine and analyze the specific methodological strategies undertaken by Ḥammād ibn Salamah to ensure the preservation and authenticity of hadith during this volatile period. Utilizing a qualitative approach through literature-based research, the findings reveal that Ḥammād ibn Salamah applied a rigorous and systematic methodology in both receiving and transmitting hadith. His approach was characterized by strict scrutiny of narrators’ credibility, careful assessment of their memorization accuracy, and mastery in the auxiliary sciences of hadith such as rijāl al-ḥadīth, tadlīs al-ḥadīth, asmāʾ al-rijāl, sanad criticism, and textual analysis. These findings underscore the pivotal role of Ḥammād ibn Salamah in safeguarding the prophetic legacy against the infiltration of spurious and weak narrations. This research contributes to contemporary hadith scholarship by highlighting the methodological integrity of early Muslim scholars (salaf) and their enduring relevance in addressing issues of authenticity and transmission in hadith studies today.[Metodologi yang diterapkan oleh Ḥammād ibn Salamah dalam menjaga keotentikan hadis pada masa tābiʿ al-tābiʿīn muncul sebagai respons terhadap situasi kritis yang ditandai oleh maraknya pemalsuan hadis, yang dipicu oleh konflik politik dan pertentangan antar kelompok dalam komunitas Muslim awal. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap integritas ajaran Islam, khususnya dalam hal keaslian tradisi kenabian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis secara mendalam strategi metodologis yang ditempuh oleh Ḥammād ibn Salamah dalam memastikan pelestarian dan keotentikan hadis di tengah situasi yang penuh gejolak tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, temuan penelitian menunjukkan bahwa Ḥammād ibn Salamah menerapkan metode yang ketat dan sistematis dalam proses penerimaan dan periwayatan hadis. Pendekatannya ditandai dengan ketelitian tinggi dalam menilai kredibilitas perawi, pengujian kekuatan hafalan mereka, serta penguasaan dalam ilmu bantu hadis seperti rijāl al-ḥadīth, tadlīs al-ḥadīth, asmāʾ al-rijāl, kritik sanad, dan analisis matan hadis. Temuan ini menegaskan peran penting Ḥammād ibn Salamah dalam menjaga kemurnian warisan kenabian dari infiltrasi hadis palsu dan lemah. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan studi hadis kontemporer dengan menyoroti integritas metodologis para ulama salaf dan relevansinya dalam menjawab persoalan otentisitas dan transmisi hadis di era modern.]
THE LIVING HADITH PHENOMENON IN BANJAR SOCIETY: Integrating Ritual Devotion and Social Solidarity in the Al-Ma’sum Majelis Dhikr and Syarikat Kematian
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.32170

Abstract

This study aims to analyze the practices of the Majelis Dhikr and Syarikat Kematian Al-Ma’sum at the Al-Ma’sum Mosque in Barabai, Banjar, as a representation of the Living Hadith phenomenon within the Banjar community. Utilizing a qualitative-descriptive approach, this research explores how Prophetic traditions are internalized into local customs to fortify both spiritual and social dimensions. The findings demonstrate that the integration of collective dhikr rituals every Wednesday night with an organized funeral assistance system creates a harmony between the dimensions of hablun min Allah (relationship with God) and hablun min al-nas (relationship among humans). The practice of "7 Laksa" dhikr, distributed proportionally among members, is not merely an eschatological ritual but serves as an instrument to cultivate inner tranquility and moral discipline. Concurrently, the Syarikat Kematian functions as a social institution that mitigates the economic burden on bereaved families through self-funded contributions. This study contributes theoretically to the sociology of Islam by offering a model of how mosque institutions can transform into strategic social capital. Furthermore, it asserts that the contextualization of Islamic values into local Banjar culture does not reduce the essence of religious teachings; rather, it strengthens their relevance and continuity in facing contemporary social dynamics. Through the synthesis of ritual devotion and collective responsibility, the Al-Ma’sum Assembly successfully reinforces communal solidarity (ukhuwah) and resilience within the framework of a living tradition.[Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik Majelis Dzikir dan Syarikat Kematian Al-Ma’sum di Masjid Al-Ma’sum, Barabai, Banjar sebagai representasi fenomena Living Hadis dalam masyarakat Banjar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana hadis Nabi diinternalisasi ke dalam tradisi lokal untuk memperkuat dimensi spiritual sekaligus sosial. Hasil menunjukkan bahwa integrasi ritual zikir kolektif setiap malam Rabu dengan sistem bantuan pemulasaraan jenazah yang terorganisir menciptakan harmoni antara dimensi hablun min Allah (hubungan dengan Tuhan) dan hablun min al-Nas (hubungan antarsesama). Praktik zikir 7 Laksa yang didistribusikan secara proporsional kepada anggota bukan sekadar ritual eskatologis, melainkan instrumen untuk memupuk ketenangan batin dan disiplin moral. Sementara itu, Syarikat Kematian berfungsi sebagai institusi sosial yang memitigasi beban ekonomi keluarga dhuafa melalui iuran swadaya. Penelitian berkontribusi teoretis terhadap sosiologi Islam dengan menawarkan model bagaimana institusi masjid dapat bertransformasi menjadi modal sosial (social capital) yang strategis, sekaligus menegaskan bahwa kontekstualisasi nilai-nilai Islam ke dalam budaya lokal Banjar tidak mereduksi esensi ajaran agama, melainkan memperkuat relevansi dan kontinuitasnya dalam menghadapi dinamika sosial kontemporer. Melalui sintesis antara pengabdian ritual dan tanggung jawab kolektif, Majelis Al-Ma’sum berhasil memperkokoh solidaritas (ukhuwah) dan resiliensi komunitas dalam bingkai tradisi yang hidup.]
LIVING SUNNAH IN LOCAL CONTEXT: The Practice of Two Calls (Azan) for Fajr Prayer at al-Furqan Mosque, Banjarmasin
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.30591

Abstract

The practice of delivering the dawn call to prayer (azān Subuh) twice at the Al-Furqan Mosque in Bumi Mas Raya, Banjarmasin, represents a form of living sunnah—the contextualized enactment of the Prophet Muhammad’s traditions within a specific local setting. This study aims to examine the implementation of this practice, explore community perceptions, and identify the educational values embedded within it. Employing a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews with mosque administrators, staff, and congregants, as well as through direct observation and document analysis, including official azan schedules. The findings reveal that the first azān functions as a preparatory reminder for the dawn prayer, while the second marks its actual commencement. The community largely supports this practice, although most are unfamiliar with its basis in hadith literature. Beyond its ritual function, the practice holds significant educational value, fostering spiritual discipline and promoting ethical, social, cultural, psychological, physical, and familial development. This study contributes to the discourse on living sunnah by highlighting how prophetic traditions continue to be interpreted and embodied within contemporary Muslim communities, reflecting dynamic interactions between textual heritage and local religious life. [Praktik pelafalan azan Subuh sebanyak dua kali di Masjid Al-Furqan, Bumi Mas Raya, Banjarmasin, merupakan bentuk living sunnah—yakni penerapan tradisi Nabi Muhammad yang dikontekstualisasikan sesuai dengan realitas lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan praktik tersebut, memahami persepsi masyarakat, serta mengidentifikasi nilai-nilai edukatif yang terkandung di dalamnya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengurus masjid, petugas, dan jamaah sekitar, serta melalui observasi langsung dan analisis dokumen, termasuk jadwal azan resmi. Temuan menunjukkan bahwa azan pertama berfungsi sebagai pengingat untuk mempersiapkan diri dalam beribadah, sedangkan azan kedua menandai masuknya waktu salat Subuh. Masyarakat secara umum menerima praktik ini dengan baik, meskipun sebagian besar tidak mengetahui dasar rujukan hadisnya. Lebih dari sekadar fungsi ritual, praktik ini memiliki nilai edukatif yang signifikan, mendorong kedisiplinan spiritual serta menguatkan aspek etika, sosial, budaya, psikologis, fisik, dan keluarga. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana living sunnah dengan menunjukkan bagaimana tradisi kenabian terus diinterpretasikan dan dihidupkan dalam kehidupan masyarakat Muslim kontemporer, mencerminkan interaksi dinamis antara warisan tekstual dan praktik religius lokal.]
AL-MUSNAD OF AHMAD IBN HANBAL AND THE REFUTATION OF MU’TAZILAH IDEOLOGY: A Study of Hadith as Intellectual Resistance
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.34146

Abstract

This study examines the work of Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, as an instrument of intellectual and theological resistance to Muʿtazilite rationalism during the mihnah of the third Hijri century. By situating the work within its historical and socio-political context, the study employs qualitative analysis of hadiths in al-Musnad of Ahmad ibn Hanbal that address God’s knowledge, predestination (qadar), divine justice (al-ʿadl), and the ontological status of the Qur’an. The findings demonstrate that Ahmad ibn Hanbal’s codification of hadith was not merely preservative in nature, but rather constituted a deliberate epistemological response aimed at reaffirming the primacy of revelation (naql) over speculative reason (ʿaql) as promoted by the Muʿtazilah. By positioning the Prophetic tradition as the supreme authority, Ahmad ibn Hanbal challenged core Muʿtazilite doctrines, such as the denial of the eternality of God’s attributes and the doctrine of the createdness of the Qur’an, while simultaneously constructing a coherent Sunni theological framework grounded in submission to the absolute will of God. Moreover, Ahmad ibn Hanbal’s steadfastness in the face of political pressure and persecution conferred moral authority upon the hadiths he transmitted and reflects a strong dimension of living hadith. The contribution of this study lies in its argument that al-Musnad of Ahmad ibn Hanbal functions not only as a scholarly corpus, but also as a socio-religious manifesto that significantly contributed to the consolidation of Sunnite theology. [Penelitian ini mengkaji karya Ahmad bin Hanbal yang berjudul al-Musnad sebagai instrumen perlawanan intelektual dan teologis terhadap rasionalisme Muʿtazilah pada masa mihnah abad ketiga Hijriah. Dengan menempatkan karya tersebut dalam konteks historis serta sosio-politik zamannya, penelitian ini menggunakan analisis kualitatif terhadap hadis-hadis pada al-Musnad Ahmad bin Hanbal yang berkaitan dengan ilmu Allah, takdir (qadar), keadilan Ilahi (al-ʿadl), dan status ontologis Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kodifikasi hadis yang dilakukan oleh Ahmad bin Hanbal tidak semata-mata bersifat preservatif, melainkan merupakan respons epistemologis yang disengaja untuk menegaskan kembali primasi wahyu (naql) atas rasio spekulatif (ʿaql) yang dikedepankan oleh Muʿtazilah. Dengan menempatkan tradisi kenabian sebagai otoritas utama, Ahmad bin Hanbal menantang doktrin-doktrin pokok Muʿtazilah, seperti penolakan terhadap keabadian sifat-sifat Allah dan paham kemakhlukan Al-Qur’an, sekaligus membangun kerangka teologi Sunni yang koheren dan berakar pada ketundukan terhadap kehendak Allah yang absolut. Selain itu, keteguhan Ahmad bin Hanbal dalam menghadapi tekanan dan penganiayaan politik memberikan otoritas moral pada hadis-hadis yang diriwayatkannya, sekaligus mencerminkan dimensi living hadis yang kuat. Kontribusi penelitian ini terletak pada argumentasi bahwa al-Musnad Ahmad bin Hanbal tidak hanya berfungsi sebagai korpus keilmuan, tetapi juga sebagai manifesto sosio-keagamaan yang berkontribusi signifikan terhadap penguatan konsolidasi teologi Sunni.]
DISCOURSE OF HADITH’S HERMENEUTIC: Limitations and Terms of Application for Applying Five Hermeneutical Approach
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.27045

Abstract

The model of hadith Hermeneutics has been applied by some contemporary scholars attracting attention to be studied scientifically, as there is already a method of understanding hadith called syarh hadits in the study of ‘Ulumul Hadits. So the purpose of this study is to discuss the limitation of the application of the hermeneutic approach to hadith as well as to examine the position of hermeneutics in the minds of Islamic academics. The research method is qualitative research, then references from books (library research). The results of the study concluded that hermeneutics of hadith can be used in understanding hadith, although it is still within the scope of ta’wil and is not the main reference in understanding the text of the Prophet’s hadith. Hermeneutics is seen as an explanatory tool for religious texts that can still be used with restrictions and conditions not to demonize religious values, but Islamic methods such as Syarhu Hadist in ‘Ulumul Hadist remain the main reference in interpreting hadith texts. The author recommends strengthening Islamic knowledge before using hadith hermeneutics, in order to guard against errors in understanding hadith such as Jarh wa Ta’dil, ‘Rijalu al-Hadith, Nasikh wa Mansukh Al-Hadith and ect. [Model Hermeneutika Hadis telah diterapkan oleh beberapa ulama kontemporer menarik perhatian untuk diteliti secara ilmiah, sebagaimana sudah ada sebuah metode memahami hadis yang disebut dengan syarh hadits dalam kajian ‘Ulumul Hadits. Sehingga tujuan penelitian ini untuk membahas batasan penggunaan pendekatan hermeneutika terhadap hadis sekaligus meneliti kedudukan hermeneutika dimata akademisi islam. Metode penelitian ini adalah kualitatif yang termasuk pada kajian kepustakaan (library research). adapun Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hermeneutika hadis dapat digunakan dalam memahami hadis, meskipun masih dalam cakupan ta’wil dan bukan rujukan utama dalam memahami teks hadis Nabi. Hermeneutika dilihat sebagai alat penjelasan terhadap teks keagamaan yang masih boleh digunakan dengan batasan dan syarat tidak untuk menjelek-jelekkan nilai keagamaan, adapun tetapi metode islam seperti syarh hadits dalam ‘Ulumul Hadits tetap menjadi acuan utama dalam interpretasi teks hadis. Penulis merekomendasikan untuk memperkuat keilmuan islam sebelum menggunakan hermeneutika hadis, agar dapat menjaga kesalahan dalam pemahaman hadis seperti Ilmu Jarh Wa Ta’dil, ‘Ilmu Rijalu Al-Hadits, Nasikh wa Mansukh Al-Hadits dan lain sebagainya.]
THE INTELLECTUAL TRADITION OF ABDUL QADIR AL-MANDILI IN THE HADITH BOOK OF TUHFAH AL-QARI'
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31032

Abstract

This study explores the intellectual legacy of a prominent Nusantara scholar, Abdul Qadir al-Mandili (1329–1385 AH / 1910–1965 CE), whose contributions to hadith studies are exemplified in his seminal work, Tuhfah al-Qāri’. This text represents a significant synthesis of traditional and contextual approaches to understanding hadith. The study seeks to examine the distinctive features of the work, its methodological framework, and its broader influence on the development of Islamic intellectual traditions in the Nusantara region. Employing content analysis and a historical approach, the research reveals that Tuhfah al-Qāri’ offers practical interpretative guidance for Muslims, aligning hadith comprehension with the socio-cultural realities of local communities. Furthermore, the work reflects the intellectual adaptability of Nusantara scholars who remained rooted in classical Islamic knowledge while engaging with the contemporary challenges of their era. The findings affirm that Tuhfah al-Qāri’ not only serves as a vital reference in the field of hadith studies but also functions as an intellectual bridge between global Islamic scholarship and local religious discourse, thereby enriching the dynamic continuity of Islamic thought in the region. [Penelitian ini mengkaji warisan intelektual seorang ulama terkemuka Nusantara, Abdul Qadir al-Mandili (1329–1385 H / 1910–1965 M), yang kontribusinya dalam bidang studi hadis terwujud melalui karya monumentalnya, Tuhfah al-Qāri’. Karya ini merepresentasikan sintesis penting antara pendekatan tradisional dan kontekstual dalam memahami hadis. Studi ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik khas karya tersebut, kerangka metodologinya, serta pengaruhnya terhadap perkembangan tradisi intelektual Islam di kawasan Nusantara. Melalui analisis isi dan pendekatan historis, penelitian ini menemukan bahwa Tuhfah al-Qāri’ memberikan panduan praktis bagi umat Islam dalam memahami dan mengaplikasikan hadis yang selaras dengan realitas sosial dan budaya masyarakat lokal. Selain itu, karya ini mencerminkan kemampuan adaptif ulama Nusantara yang tetap berakar pada khazanah keilmuan Islam klasik, sembari merespons tantangan zaman mereka. Temuan ini menegaskan bahwa Tuhfah al-Qāri’ tidak hanya menjadi referensi penting dalam studi hadis, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan intelektual antara khazanah keilmuan Islam global dan wacana keagamaan lokal, sehingga memperkaya kontinuitas dinamis pemikiran Islam di kawasan ini.]