cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
CONTEXTUALIZATION OF THE MEANING OF HADITH REGARDING THE EXHORTATION TO INCREASE OFFSPRING FROM THE PERSPECTIVE OF HASAN HANAFI’S HERMENEUTICS: A Counter Effort Against the Childfree Phenomenon Noorhidayati, Salamah; Ariesti Rasyid, Dara Sri
RIWAYAH Vol 9, No 2 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.28205

Abstract

This research aims to uncover the meaning of the text and context, as well as the effort to contextualize the meaning of the Hadith concerning the encouragement to have many offspring in order to counter the phenomenon. It poses three research questions: firstly, what is the quality of the Hadith concerning the encouragement to have many offspring. Secondly, we will examine the meaning of the Hadith regarding the encouragement to have many offspring. Thirdly, we will explore the contextualization of the meaning of the Hadith concerning the encouragement to have many offspring within the context of childfree. This study is a literature review with a deductive approach, employing the hermeneutic method of Hadith by Hasan Hanafi through three operational steps, namely historical criticism, eidetic criticism, and practical criticism. As a result of this research, the first finding is that the Hadith about the encouragement to have many offspring is considered to be authentic (sahih lighairihi). Secondly, the textual meaning is the prohibition of celibacy and marrying infertile women, as well as the recommendation to get married, while the contextual meaning is that the Prophet will take pride in having numerous descendants. Thirdly, contextualization of the hadith, which is about having descendants and preserving the lineage.[Penelitian ini dilatar belakangi sejak munculnya fenomena dalam sebuah pernikahan yang mulai marak diperbincangkan. Fenomena tersebut yakni adanya sepasang suami istri yang menolak untuk memiliki anak, karena pada hakikatnya fenomena ini dapat memutuskan mata rantai regenerasi yang mengakibatkan kerusakan dari sisi akidah maupun dari sisi sosial kemasyarakatan. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap makna teks dan konteks serta upaya kontekstualisasi makna hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan dalam rangka meng-counter fenomena tersebut, dengan mengajukan tiga rumusan masalah yaitu pertama, Bagaimana kualitas hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan. Kedua, Bagaimana makna hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan. ketiga, Bagaimana kontekstualisasi makna hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan dalam konteks childfree. Penelitian ini merupakan jenis studi kepustakaan yang bersifat deduktif dengan menggunakan metode hermeneutika hadis Hasan Hanafi melalui tiga langkah operasional yaitu langkah kritik historis, kritik eidetis, dan kritik praksis. Sebagai hasil temuan dari penelitian ini yaitu pertama, Hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan memiliki kualitas shahih lighairihi. Kedua, Makna tekstual yaitu larangan membujang dan menikahi wanita mandul serta anjuran untuk menikah, sedangkan makna kontekstual yakni nabi akan berbangga dengan banyaknya keturunan. Ketiga, Kontekstualisasi makna hadis yakni memiliki keturunan dan menjaaga keturunan.]
THE ROLE OF FEMALE HADITH NARRATORS: Tracing the Degeneration of Gender Roles in Hadith Narration Rukmana, Fachruli Isra; Najiyah, Nur Laili Nabilah Nazahah; Putri, Recha Tamara; Akmaluddin, Muhammad
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28704

Abstract

Patriarchal domination has marginalized women’s roles in narrating hadith and contributing to Islamic knowledge, portraying them as incomplete beings deprived of rights and a voice. This study addresses three questions: a) What were women’s contributions to hadith narration? b) Who were the notable female hadith narrators from the era of the Companions to the atbāʾ al-tābiʿīn? c) Why is it essential to redefine gender roles in hadith narration? Using a qualitative, library-based approach, this research relies on al-Kutub al-Tisʿah as the primary source, supplemented by books, articles, journals, and websites. Data analysis involves condensation, presentation, and conclusion. Findings reveal women’s significant contributions to hadith transmission during the early Islamic period, especially among the sahabah, with figures like Umm Salamah and ‘Amrah bint ‘Abd al-Raḥmān ibn Sa’ad. However, this role declined in later generations due to wars, restrictive political policies during the Umayyad era, and cultural norms limiting women’s participation in education, politics, and Islamic scholarship. Additionally, the expansion of Islamic governance and the internalization of patriarchal values further hindered female involvement in Islamic propagation. This study underscores the need to revisit and empower women’s roles in hadith narration to restore their rightful place in Islamic intellectual history. [Dominasi patriarki telah meminggirkan peran perempuan dalam periwayatan hadis dan kontribusi mereka terhadap pengetahuan Islam, menggambarkan mereka sebagai makhluk yang tidak utuh, tanpa hak dan suara yang layak. Penelitian ini membahas tiga pertanyaan utama: a) Apa kontribusi perempuan dalam periwayatan hadis? b) Siapa saja periwayat hadis perempuan yang menonjol dari masa sahabat hingga atba' al-tabi'in? c) Mengapa penting untuk mendefinisikan ulang peran gender dalam periwayatan hadis? Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini mengandalkan al-Kutub al-Tis’ah sebagai sumber utama, didukung oleh buku, artikel, jurnal, dan situs web. Analisis data dilakukan melalui proses kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kontribusi perempuan yang signifikan dalam transmisi hadis pada masa awal Islam, khususnya di kalangan sahabat, dengan tokoh-tokoh seperti Umm Salamah dan ʿAmrah bint ʿAbd al-Raḥmān ibn Saʿad. Namun, peran ini mengalami penurunan pada generasi berikutnya akibat perang, kebijakan politik yang membatasi pada era Dinasti Umayyah, dan norma budaya yang membatasi partisipasi perempuan dalam pendidikan, politik, dan keilmuan Islam. Selain itu, perluasan pemerintahan Islam dan internalisasi nilai-nilai patriarki semakin menghambat keterlibatan perempuan dalam dakwah Islam. Penelitian ini menekankan pentingnya meninjau kembali dan memberdayakan peran perempuan dalam periwayatan hadis untuk mengembalikan posisi mereka yang seharusnya dalam sejarah intelektual Islam.]
CLIMATE CHANGE MITIGATION HADIṠ PERSPECTIVE: Thematic-Correlative Approach Azhari, Ainul
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28586

Abstract

Climate change is a critical issue threatening life on earth, requiring active human efforts and support from religion to address it. This study analyzes the moral messages in hadiṡ related to climate change mitigation through a thematic-correlative approach. This research uses qualitative methods, library research, and takhrij al-hadis, data were examined using content analysis, al-jarh wa al-ta’dil, and tawarikh al-ruwat, along with internal and external hadīṡ criticism. The findings confirm that three hadīṡs addressing climate change mitigation are of high quality, making them valid references for Islamic teachings (maqbūl al-hujjah) and applicable in practice. Thematically, these hadīṡ align with efforts to combat climate change, emphasizing the importance of preserving water resources and preventing ecosystem damage. Islam highlights water conservation and responsible usage, recognizing water as vital for all living beings. Mitigation efforts include reforestation, rehabilitating degraded lands, and prohibiting the felling of wild trees to sustain ecosystems. These teachings affirm Islam’s proactive approach to environmental preservation through hadis, advocating for sustainable practices that align with the broader goal of mitigating climate change impacts. [Perubahan iklim adalam masalah krusial yang mengancam kehidupan di bumi, membutuhkan upaya aktif manusia dan dukungan agama untuk mengatasinya. Penelitian ini menganalisis pesan moral dalam hadis yang berkaitan dengan mitigasi perubahan iklim melalui pendekatan tematik-korelatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, penelitian kepustakaan, dan takhrij al-hadits. Teknik analisis data menggunakan analisis isi, al-jarh wa al-ta’dil, dan tawarikh al-ruwat, serta kritik hadis dari aspek internal dan eksternal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tiga hadis yang membahas mitigasi perubahan iklim memiliki kualitas tinggi, sehingga dapat dijadikan referensi yang sah dalam ajaran Islam (maqbūl al-hujjah) dan diterapkan dalam praktik. Secara tematik, hadis-hadis ini sejalan dengan upaya mengatasi perubahan iklim, menekankan pentingnya menjaga sumber daya air dan mencegah kerusakan ekosistem. Islam menekankan konservasi air dan penggunaannya secara bijak, mengingat air adalah kebutuhan esensial bagi semua makhluk hidup. Upaya mitigasi meliputi reboisasi, rehabilitasi lahan yang terdegradasi, dan larangan penebangan pohon liar untuk menjaga keberlanjutan ekosistem. Ajaran ini menegaskan pendekatan proaktif Islam melalui hadis terhadap pelestarian lingkungan, mendorong praktik berkelanjutan yang sejalan dengan tujuan mitigasi dampak perubahan Iklim.]
UNDERSTANDING THE HADITHS PROHIBITING PERFUME FOR WOMEN: A Hermeneutic Analysis by Nashr Hamid Abu Zayd Nafisah, Lailiyatun; Ar Rumi, Ach. Jalaluddin
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.27830

Abstract

The use of perfume among Muslim women has sparked debate due to prophetic traditions (hadiths) prohibiting it. This article reexamines the interpretation of these hadiths, which, when understood literally, contradict contemporary contexts. Initially associated with negative connotations, perfume has evolved into a symbol of self-respect and consideration for others. This qualitative study employs a literature-based research design, utilizing primary sources from hadith collections and secondary sources from books, journals, and related research. The study aims to reevaluate the prohibition's meaning within relevant contexts. Nashr Hamid' Abu Zayd's hermeneutics is guided by extracting three principles, namely dalalah, maghza and maskut 'anhu. Applying Nashr Hamid Abu Zayd's hermeneutics, the research reveals that Islamic teachings permit perfume use if it doesn't cause disturbance and promotes environmental comfort. The signification of the hadith is that Islam teaches not to have an excessive attitude, care about environmental cleanliness and respect for others. The dimension of  unrelated dimension is the excessive use of perfume and with the wrong intention, such as flirting with the opposite sex is prohibited. Furthermore, excessive or malicious perfume use, particularly for seduction, is prohibited due to its potential harm and exploitation of women. [Penggunaan parfum untuk perempuan telah menjadi perdebatan karena adanya hadis yang melarangnya. Artikel ini membahas tentang pemahaman dalam pamaknaan kembali atas hadis yang melarang penggunaan parfum untuk wanita. Hadis tersebut apabila dipahami secara tekstual bertolak belakang dengan kondisi sekarang. Parfum yang mulanya dikaitkan sebagai identitas “pezina” dengan fungsi yang buruk, kemudian bergeser menjadi tanda untuk menghormati diri sendiri dan sekitar. Penelitian ini berupa penelitian kualitatif dengan jenis data studi pustaka. Data diperoleh dari sumber primer berupa kitab hadis. Sedangkan sumber sekunder adalah berupa buku, jurnal, dan penelitian yang terkait dengan tulisan ini.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kembali makna pelarangan penggunaan parfum agar sesuai dengan konteks yang relevan. Penulis menggunakan hermenutika  Nashr Hamid Abu Zayd sebagai pisau bedahnya. Hermenutika dari Nashr  berpedoman pada penggalian tiga prinsip: dalalah (original meaning), maghza (signifikasi), dan maskut ‘anhu (makna tersembunyi). Berdasarkan pada perangkat hermenutika Nashr, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwasa hadis tentang larangan penggunaan parfum untuk wanita memiliki makna bahwa penggunaan parfum diperbolehkan selama tidak menimbulkan bau yang menyengat dan memiliki tujuan untuk membuaat kenyamanan lingkungan sekitar. Sedangkan maghza dari hadis tersebut adalah Islam mengajarkan untuk tidak memiliki sikap berlebihan, peduli dengan kebersihan lingkungan dan menghormati orang lain. Adapun dimensi dari maskut ‘anhu adalah penggunaan parfum yang berlebihan dan dengan niat yang salah adalah dilarang karena madharat. Selain itu untuk mencegah eksploitasi terhadap perempuan].
REINTERPRETATION OF THE HADITH ON RECYCLED WATER WITH A SCIENTIFIC APPROACH Syukron, Tubagus Muhammad; Fudhaili, Ahmad
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28726

Abstract

The hadith concerning the well of Budhāʻah, known for its contaminated condition, raises intriguing questions regarding Prophet Muhammad’s use of its water for ablution. The contradiction between the well’s description and the prophet’s action has prompted scholarly interpretations about a possible natural purification process. However, existing explanations regarding this purification do not fully align with the well’s condition as described in the hadith. This study reinterprets the Budhāʻah well hadith to determine the legal status of recycled water using modern scientific findings. Collaborating with PT Rofis Jaya Perkasa, a wastewater treatment company, this research aims to scientifically reconstruct the well’s historical condition. Employing a qualitative approach with a case study on the Budhāʻah well hadith, this research gathers data through literature review, interviews, and field observations. Hadith analysis involves scrutiny of its chain of sanad, matan, and contextual understanding using scientific theories. The analysis reveals that the well’s water was a mixture of rainwater and periodically entering household wastewater. Natural mechanisms, including microbial activity, were capable of transforming the contaminated water into cleaner water. These findings offer a new perspective on the concept of water purity in Islam, particularly concerning recycled water and its relevance to modern water treatment practices. [Hadis tentang Sumur Budhāʻah, yang dikenal karena kondisinya yang tercemar, menimbulkan pertanyaan menarik terkait penggunaan airnya oleh Nabi Muhammad untuk berwudu. Kontradiksi antara deskripsi sumur dan tindakan Nabi memunculkan interpretasi ulama tentang kemungkinan adanya proses semacam daur ulang. Kendati demikian, penjelasan mengenai proses penyucian air ini tidak sesuai dengan kondisi Sumur Budhāʻah sebagaimana yang termaktub dalam hadis. Penelitian ini akan menginterpretasi ulang hadis Sumur Budhāʻah dalam menentukan status hukum air daur ulang menggunakan pendekatan temuan sains modern. Melalui kolaborasi dengan PT Rofis Jaya Perkasa, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air limbah, penelitian ini berusaha merekonstruksi secara ilmiah kondisi Sumur Budhāʻah pada masa lalu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada hadis Sumur Budhā‘ah. Metode pengumpulan data meliputi studi pustaka, wawancara, dan observasi lapangan. Hadis akan ditinjau menggunakan kritik sanad, kritik matan, dan pemahaman hadis kontekstual dengan pendekatan teori sains. Hasil analisis menunjukkan bahwa air di Sumur Budhāʻah merupakan campuran air hujan dan limbah rumah tangga yang masuk berkala. Mekanisme alami, termasuk aktivitas mikroorganisme, mampu mengubah kualitas air yang tercemar menjadi air yang lebih bersih. Temuan ini membuka perspektif baru dalam memahami konsep kesucian air dalam Islam, khususnya terkait dengan air hasil daur ulang.]
STUDY OF THE BOOK OF MUSNAD Al-SYAFI’I: Analysis of the Characteristics and Originality of Hadith which Rely on It Qomarullah, Muhammad; Juriono, Juriono; Amin, Muhammad
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.26140

Abstract

This paper aims to analyse the characteristics and originality of the traditions in the book Musnad Al-Shafi’i, a monumental work compiled by Imam Al-Shafi’i (d. 204 AH), which focuses on collecting the traditions of the Prophet Muhammad (peace be upon him) that serve as the basis for the formation of Islamic legal methodology, especially in the Shafi’i school of thought. Imam Al-Shafi’i is famous as a scholar of Fiqh not as a scholar of hadith, even though his teacher Imam Malik was a scholar of hadith, then Imam Ahmad ibn Hambal as his student was famous as a scholar of hadith. This study uses a descriptive-analytical approach by examining the quality and authenticity of the traditions contained in the Musnad, as well as analysing its contribution to the development of hadith science and Islamic fiqh. The Musnad of Al-Shafi’i contains a variety of traditions that have distinctive characteristics in terms of sanad and matan, and contains many traditions that are often the main reference in the process of interpreting the law. The method that the author uses with the data analysis of the book in the Musnad of Al-Shafi’i in which hadith scholars differ in opinion about the book originating from the imam Al-Shafi’i, approximately 500 traditions that are only from him, the rest are only much debated narrations from Al-Shafi’i through his students. As a result, there are many versions of the Musnad of Al-Shafi’i that need to be researched again, so it opens up the possibility for further research, both the history of the rijal al-hadis who quoted from Imam Al-Shafi’i. [Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan orisinalitas hadis dalam kitab Musnad Al-Syafi’i, sebuah karya monumental yang disusun oleh Imam Al-Syafi’i (w. 204 H), yang berfokus pada pengumpulan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. yang dijadikan landasan dalam pembentukan metodologi hukum Islam, khususnya dalam mazhab Syafi’i. Imam Al-Syafi’i terkenal sebagai ulama Fiqh tidak sebagai ulama hadis, padahal guru beliau Imam Malik ialah ulama hadis, kemudian Imam Ahmad bin Hambal sebagai murid beliau terkenal sebagai ulama hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan menelaah kualitas dan keotentikan hadis-hadis yang terkandung dalam Musnad tersebut, serta menganalisis kontribusinya terhadap perkembangan ilmu hadis dan fiqh Islam. Kitab Musnad Al-Syafi’i mengandung berbagai hadis yang memiliki ciri khas dalam hal sanad dan matan, serta memuat banyak hadis yang sering kali menjadi rujukan utama dalam proses istinbath hukum. Metode yang penulis gunakan dengan analisis data Kitab pada Musnad Al-Syafi’i yang ulama hadis berbeda pendapat tentang kitab tersebut berasal dari imam Al-Syafi’i, lebih kurang 500 hadis yang hanya dari beliau, selebihnya hanya riwayat yang banyak diperdebatkan dari Al-Syafi’i lewat murid beliau. Adapun hasilnya Banyaknya versi dari Musnad Al-Syafi’i yang perlu diteliti lagi, sehingga membuka kemungkinan untuk penelitian yang lebih lanjut, baik riwayatnya dari rijal al-hadis yang menukil dari Imam Al-Syafi’i.]
SOCIO-ANTHROPOLOGICAL ANALYSIS OF ‘ASHABIYYAH HADITHS Fauji, Hayatul; Arifin, Tajul; Sadikin, Mochammad Ramdan Hasan
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i1.24292

Abstract

This article dissects the ‘ashabiyyah (fanaticism) hadith. Analysis of the ‘ashabiyyah hadith aims to understand the messages and values contained therein and their implementation in modern society. The ‘ashabiyyah hadiths chosen as the basis for this research are those which explicitly mention the word ‘ashabiyyah, along with their derivations. The ‘ashabiyyah hadith is analyzed using the syarh approach used by hadith experts and then reviewed using a socio-anthropological science approach. The theory used is Anthony Giddens’ social constitution which is supported by anthropological facts about the Arab people revealed in the Sirah Nabawiyah books and Ibn Khaldun’s theory of ‘ashabiyyah. From the results, it was found that the Prophet was a social agent who changed the tribalistic order of life of the Arab nation into a civil society, without eliminating it as a whole. He still maintained the positive values of jahiliyyah, but changed his motives or intentions. This was seen when he discussed with his friends regarding ‘ashabiyyah which has become the DNA of Arab people anthropologically. The concept of `ashabiyyah, whose basis can be religion, kinship, clanism, tribalism, ethnicity, ideology, economic and political interests, regionalism, and so on, is not only a characteristic of tribal (Arab) societies of the past, but also of modern societies and countries of post-colonial nations, including Indonesia. [Artikel ini membedah hadis ‘ashabiyyah (fanatisme). Analisa hadis ‘ashabiyyah bertujuan memahami pesan dan nilai yang terkandung di dalamnya serta implementasinya terhadap masyarakat modern. Hadis-hadis ‘ashabiyyah yang dipilih sebagai basis penelitian ini ialah yang secara eksplisit menyebut kata ‘ashabiyyah, berikut derivasinya. Hadis ‘ashabiyyah dianalisa menggunakan pendekatan syarh yang digunakan oleh ahli hadis kemudian ditinjau ulang menggunakan pendekatan ilmu sosio-antropologi. Teori yang digunakan ialah konstitusi sosial Anthony Giddens yang didukung dengan fakta antropologis bangsa Arab yang diungkapkan dalam kitab-kitab sirah nabawiyah dan teori Ibn Khaldun tentang ‘ashabiyyah. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Nabi adalah agen sosial yang mengubah tatanan kehidupan bangsa Arab yang bersifat kesukuan menjadi masyarakat madani, tanpa menghilangkannya secara menyeluruh. Beliau tetap mempertahankan nilai-nilai positif jahiliyah, tetapi mengubah motif atau niatnya. Hal itu terlihat ketika beliau berdiskusi dengan para sahabat berkenaan dengan ‘ashabiyyah yang secara antropologis telah menjadi DNA masyarakat Arab. Konsep ‘ashabiyyah yang basisnya dapat berupa agama, kekerabatan, klanisme, kesukuan, etnisitas, ideologi, kepentingan ekonomi dan politik, kedaerahan, dan sebagainya, tidak saja menjadi ciri masyarakat kesukuan (Arab) masa lalu, tetapi juga masyarakat modern dan negara-negara bangsa pascakolonial, termasuk Indonesia.]
LIVING HADITH AND NAUTICAL DAKWAH: A Contextual Approach to Promoting Environmental Awareness on Kapoposang Island
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.33839

Abstract

The study discusses the integration of Living Hadith into nautical da‘wah as an innovative, faith-based approach to enhancing environmental awareness on Kapoposang Island, Indonesia. Employing a qualitative narrative method, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation to analyse how prophetic traditions, particularly teachings on cleanliness, are contextualized in environmental stewardship practices. The findings indicate that integrating hadith values into environmental awareness campaigns strengthens community engagement and encourages sustainable behavioural change, especially in waste management and marine conservation. Religious messages, such as the hadith stating that “cleanliness is part of faith,” are translated into concrete actions through community lectures, coastal clean-up activities, and recycling initiatives. The effectiveness of these actions is further reinforced by institutional collaboration between Alauddin State Islamic University Makassar, local government authorities, and community organizations, enabling religious teachings to be implemented in tangible ecological practices. Despite ongoing challenges, including limited human resources, technical capacity, logistical constraints, and external sources of marine pollution, the program has succeeded in fostering a culture of cleanliness rooted in hadith values. Accordingly, this study underscores the potential of nautical da‘wah as a holistic and context-sensitive model of environmental management and recommends its further development and repetitive-comparative studies in other coastal communities across Indonesia. [Penelitian mendiskusikan integrasi living hadis dalam dakwah bahari sebagai pendekatan inovatif berbasis keagamaan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di Pulau Kapoposang, Indonesia. Dengan menggunakan metode kualitatif naratif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi untuk menganalisis bagaimana tradisi kenabian, khususnya ajaran tentang kebersihan, dikontekstualisasikan dalam praktik-praktik penjagaan lingkungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengintegrasian nilai-nilai hadis ke dalam kampanye peduli lingkungan mampu memperkuat keterlibatan masyarakat, serta mendorong mereka untuk melakukan perubahan perilaku yang berkelanjutan, terutama dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan laut. Pesan-pesan keagamaan, seperti hadis “kebersihan adalah bagian dari iman,” diterjemahkan ke dalam tindakan nyata melalui ceramah komunitas, kegiatan bersih-bersih pesisir, dan inisiatif daur ulang. Efektivitas tindakan tersebut semakin diperkuat dengan adanya kolaborasi kelembagaan antara Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat, sehingga ajaran keagamaan dapat diimplementasikan dalam praktik ekologis yang konkret. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, kapasitas teknis, dan kendala logistik, serta adanya pencemaran laut yang bersumber dari luar wilayah, program ini berhasil menumbuhkan budaya kebersihan yang berakar pada nilai-nilai hadis. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi berupa penegasan potensi dakwah bahari sebagai model pengelolaan lingkungan yang holistik dan kontekstual, serta merekomendasikan pengembangan dan kajian komparatif-repetitif pada komunitas pesisir lainnya di Indonesia.]
THE METHODOLOGY OF HAMMAD B. SALAMAH IN HADITH PRESERVATION DURING THE ERA OF THE TABI‘ AL-TABI‘IN
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31753

Abstract

The methodology employed by Ḥammād ibn Salamah in preserving hadith during the tābiʿ al-tābiʿīn era emerged in response to a critical period marked by the proliferation of fabricated hadith, driven by intense political conflict and sectarian rivalry within the early Muslim community. This situation raised serious concerns about the integrity of Islamic teachings, particularly the authenticity of prophetic traditions. This study aims to examine and analyze the specific methodological strategies undertaken by Ḥammād ibn Salamah to ensure the preservation and authenticity of hadith during this volatile period. Utilizing a qualitative approach through literature-based research, the findings reveal that Ḥammād ibn Salamah applied a rigorous and systematic methodology in both receiving and transmitting hadith. His approach was characterized by strict scrutiny of narrators’ credibility, careful assessment of their memorization accuracy, and mastery in the auxiliary sciences of hadith such as rijāl al-ḥadīth, tadlīs al-ḥadīth, asmāʾ al-rijāl, sanad criticism, and textual analysis. These findings underscore the pivotal role of Ḥammād ibn Salamah in safeguarding the prophetic legacy against the infiltration of spurious and weak narrations. This research contributes to contemporary hadith scholarship by highlighting the methodological integrity of early Muslim scholars (salaf) and their enduring relevance in addressing issues of authenticity and transmission in hadith studies today.[Metodologi yang diterapkan oleh Ḥammād ibn Salamah dalam menjaga keotentikan hadis pada masa tābiʿ al-tābiʿīn muncul sebagai respons terhadap situasi kritis yang ditandai oleh maraknya pemalsuan hadis, yang dipicu oleh konflik politik dan pertentangan antar kelompok dalam komunitas Muslim awal. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap integritas ajaran Islam, khususnya dalam hal keaslian tradisi kenabian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis secara mendalam strategi metodologis yang ditempuh oleh Ḥammād ibn Salamah dalam memastikan pelestarian dan keotentikan hadis di tengah situasi yang penuh gejolak tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, temuan penelitian menunjukkan bahwa Ḥammād ibn Salamah menerapkan metode yang ketat dan sistematis dalam proses penerimaan dan periwayatan hadis. Pendekatannya ditandai dengan ketelitian tinggi dalam menilai kredibilitas perawi, pengujian kekuatan hafalan mereka, serta penguasaan dalam ilmu bantu hadis seperti rijāl al-ḥadīth, tadlīs al-ḥadīth, asmāʾ al-rijāl, kritik sanad, dan analisis matan hadis. Temuan ini menegaskan peran penting Ḥammād ibn Salamah dalam menjaga kemurnian warisan kenabian dari infiltrasi hadis palsu dan lemah. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan studi hadis kontemporer dengan menyoroti integritas metodologis para ulama salaf dan relevansinya dalam menjawab persoalan otentisitas dan transmisi hadis di era modern.]
THE LIVING HADITH PHENOMENON IN BANJAR SOCIETY: Integrating Ritual Devotion and Social Solidarity in the Al-Ma’sum Majelis Dhikr and Syarikat Kematian
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.32170

Abstract

This study aims to analyze the practices of the Majelis Dhikr and Syarikat Kematian Al-Ma’sum at the Al-Ma’sum Mosque in Barabai, Banjar, as a representation of the Living Hadith phenomenon within the Banjar community. Utilizing a qualitative-descriptive approach, this research explores how Prophetic traditions are internalized into local customs to fortify both spiritual and social dimensions. The findings demonstrate that the integration of collective dhikr rituals every Wednesday night with an organized funeral assistance system creates a harmony between the dimensions of hablun min Allah (relationship with God) and hablun min al-nas (relationship among humans). The practice of "7 Laksa" dhikr, distributed proportionally among members, is not merely an eschatological ritual but serves as an instrument to cultivate inner tranquility and moral discipline. Concurrently, the Syarikat Kematian functions as a social institution that mitigates the economic burden on bereaved families through self-funded contributions. This study contributes theoretically to the sociology of Islam by offering a model of how mosque institutions can transform into strategic social capital. Furthermore, it asserts that the contextualization of Islamic values into local Banjar culture does not reduce the essence of religious teachings; rather, it strengthens their relevance and continuity in facing contemporary social dynamics. Through the synthesis of ritual devotion and collective responsibility, the Al-Ma’sum Assembly successfully reinforces communal solidarity (ukhuwah) and resilience within the framework of a living tradition.[Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik Majelis Dzikir dan Syarikat Kematian Al-Ma’sum di Masjid Al-Ma’sum, Barabai, Banjar sebagai representasi fenomena Living Hadis dalam masyarakat Banjar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana hadis Nabi diinternalisasi ke dalam tradisi lokal untuk memperkuat dimensi spiritual sekaligus sosial. Hasil menunjukkan bahwa integrasi ritual zikir kolektif setiap malam Rabu dengan sistem bantuan pemulasaraan jenazah yang terorganisir menciptakan harmoni antara dimensi hablun min Allah (hubungan dengan Tuhan) dan hablun min al-Nas (hubungan antarsesama). Praktik zikir 7 Laksa yang didistribusikan secara proporsional kepada anggota bukan sekadar ritual eskatologis, melainkan instrumen untuk memupuk ketenangan batin dan disiplin moral. Sementara itu, Syarikat Kematian berfungsi sebagai institusi sosial yang memitigasi beban ekonomi keluarga dhuafa melalui iuran swadaya. Penelitian berkontribusi teoretis terhadap sosiologi Islam dengan menawarkan model bagaimana institusi masjid dapat bertransformasi menjadi modal sosial (social capital) yang strategis, sekaligus menegaskan bahwa kontekstualisasi nilai-nilai Islam ke dalam budaya lokal Banjar tidak mereduksi esensi ajaran agama, melainkan memperkuat relevansi dan kontinuitasnya dalam menghadapi dinamika sosial kontemporer. Melalui sintesis antara pengabdian ritual dan tanggung jawab kolektif, Majelis Al-Ma’sum berhasil memperkokoh solidaritas (ukhuwah) dan resiliensi komunitas dalam bingkai tradisi yang hidup.]