cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 218 Documents
COUNTER NARRATIVES FROM HADITH TEXTS OF KH. SYA’RONI AHMADI’S AL-FARAID AL-SANIYYA AGAINST WAHHABISM Friyadi, Arif
RIWAYAH Vol 9, No 1 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i1.12427

Abstract

The discourse of Ahlus Sunnah wa al-Jama'ah Islam is a topic that will not be obsolete throughout the history of Muslims. The emergence of the Salafi Wahabi sect of Islam in various Muslim countries has caused the division of Muslims. Rahmatal lil 'alamin Islam seems to be eroded by the takfiri and bid'I movements of various figures. Some of the world's scholars through their works have made a major contribution to stem this movement. Among these works is the book al-Faraid al-Saniyah by KH. Sya'roni Ahmadi, which contains the concept of countering wahabi salafi, especially in Indonesia. This research uses a qualitative-based character study which basically relies on data from interviews, supporting literature and biographies of the figures studied. The results of this study found that the purification of religion heralded by Wahabi figures by referring to the Qur'an and hadith is actually not feasible to be applied in Indonesia. A wrong understanding in the interpretation of the Qur'an and hadith will plunge a person into national disintegration. Therefore, the ahlussunah wal jama'ah creed must be upheld so that an Indonesian Muslim becomes a moderate Muslim who accepts various ikhtilaf.[Wacana Islam Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah merupakan topik yang tidak akan ketinggalan zaman sepanjang sejarah umat Islam. Munculnya sekte Islam Salafi Wahabi di berbagai negara Muslim telah menyebabkan perpecahan umat Islam. Rahmatal lil ‘alamin Islam seakan tergerus oleh gerakan takfiri dan bid’I dari berbagai tokoh. Beberapa cendekiawan dunia melalui karya-karyanya telah memberikan kontribusi besar untuk membendung gerakan ini. Diantara karya tersebut adalah kitab al-Faraid al-Saniyah karya KH. Sya’roni Ahmadi yang berisi tentang konsep countering wahabi salafi khususnya di Indonesia. Penelitian ini menggunakan studi karakter berbasis kualitatif yang pada dasarnya mengandalkan data dari hasil wawancara, literatur pendukung dan biografi tokoh yang diteliti. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pemurnian agama yang digembar-gemborkan oleh tokoh-tokoh Wahabi dengan berpedoman pada al-Qur’an dan hadits sebenarnya tidak layak diterapkan di Indonesia. Pemahaman yang salah dalam menafsirkan al-Qur’an dan hadis akan menjerumuskan seseorang ke dalam disintegrasi bangsa. Oleh karena itu, akidah ahlussunnah wal jama’ah harus ditegakkan agar seorang muslim Indonesia menjadi muslim moderat yang menerima berbagai ikhtilaf.]
RE-SHARAH OF HADITH AS A NEW ISLAMIC SCIENCE: AN APPLICATION OF THOMAS KUHN’S SCIENTIFIC REVOLUTION PARADIGM Rukmana, Fachruli Isra; Hidayat, M. Riyan; Yuzar, Sri Kurniati
RIWAYAH Vol 9, No 1 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i1.19743

Abstract

This article discusses the use of Thomas Kuhn's paradigm of the scientific revolution in presenting the discourse of re-syarah hadith which has been less objective in addressing the social problems of the people. The description of Kuhn's framework of thought on the revitalization of the hadith scribe is quite extensive, including the stages in providing an overview to give birth to a breakthrough in the science of hadith from the time of the companions to the rapid development of hadith in the 2nd to 3rd centuries. By starting from the questions, first, what is the framework of Thomas Kuhn's scientific revolution, second, what are the basic assumptions of the need for rewriting hadith in the current era, third, how is the application of Thomas Kuhn's scientific revolution paradigm in the discourse of rewriting hadith. The type of research used in this analysis is idea analysis with a library research approach. Typically, this research centers on two data models, namely primary data and secondary data. By applying the study of the interpretation of thought, this article can show that Thomas Kuhn's scientific revolution paradigm is a good reference in discussing the re-syarah of hadith in the present era, in addition to the discourses of re-writing hadith, this is the basis in showing that Islam through the Prophet's hadith has strong integrity to discuss the issue of contextual re-writing of hadith, because in its history Islam is full of knowledge, not only in terms of religion but also in terms of social life.[Artikel ini berbicara penggunaan paradigma revolusi ilmiah Thomas Kuhn dalam menyuguhkan wacana re-syarah ­hadis yang saat ini kegunaannya mulai tidak begitu objektif untuk menjawab persoalan sosial umat. Penggambaran kerangka berpikir Kuhn mengenai revitalisasi syarah hadis cukup ekstensif, termasuk tahapan-tahapannya dalam memberikan gambaran untuk melahirkan dobrakan baru terhadap science hadis dari mulai masa sahabat sampai perkembangan hadis yang pesat di abad-2 sampai 3 H. Dengan beranjak dari persoalan, pertama, bagaimana kerangka pemikiran Thomas Kuhn terhadap revolusi ilmiah, kedua, apa asumsi dasar perlunya re-syarah hadis pada era saat ini, ketiga, bagaimana pengaplikasian paradigma revolusi ilmiah Thomas Kuhn dalam wacana re-syarah hadis. Jenis penelitian yang digunakan dalam analisis ini merupakan analisis gagasan dengan pendekatan kepustakaan (library research). Secara distingtif, penelitian ini berpusat pada dua model data yakni data primer dan data sekunder. Dengan menerapkan kajian interpretasi pemikiran, artikel ini mampu menunjukkan bahwa paradigma revolusi ilmiah Thomas Kuhn merupakan acuan yang besar dalam mendiskusikan re-syarah hadis di era saat ini, di samping itu memang terdapat wacana-wacana penggagasan ulang terhadap syarah hadis, ini menjadi landasan dalam menunjukkan bahwa agama Islam melalui hadis Nabi mempunyai integritas yang kuat untuk berdiskusi persoalan perombakan syarah hadis kontesktual karena dalam historinya Islam penuh dengan ilmu pengetahuan, tidak hanya dari kacamata keagamaan, namun juga dari bagian sosial kehidupan.]
MARRIAGE PRACTICUM IN SCHOOL FROM THE PERSPECTIVE OF HADITH STUDIES Nugroho, Rahmat; Nafila, Radifa Isnain; Nasrulloh, Nasrulloh
RIWAYAH Vol 9, No 2 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.20292

Abstract

The Implementation of Fiqh Learning in View of its Practice: Marriage Practicum in Schools as a Learning Material Appears to Require Further Examination, as there are Hadiths that explain the significance of divorce, marriage, and reconciliation, even when conducted in jest and not in earnest. Based on this objective, the researcher utilized a qualitative descriptive methodology. The data collection technique employed was a literature review (library research) with a Hadith study approach that focused on relevant subjects. This study aimed to examine how the marriage practicum is implemented in schools, the Hadith study related to it, and the Islamic legal perspectives. The findings of this study indicate that the marriage practicum occurring in schools involves a simulation of marriage conducted by students. The analysis of these Hadiths reveals their weak authenticity (Dhaif). Despite their weakness (Dhaif), historical accounts suggest that the companions of the Prophet Muhammad practiced the matan of these Hadiths. From an Islamic legal perspective, the simulated marriages conducted by students in schools are not valid due to the absence of a crucial requirement, namely the presence of a guardian (wali). A plausible solution, apart from direct simulation, lies in organizing educational sessions through various institutions, both from the Office of Religious Affairs (KUA) and other relevant bodies. For practical assessments in Islamic jurisprudence classes in schools, these could be redirected towards alternate simulations, such as practical exercises involving the ritual of bathing and shrouding the deceased, the pilgrimage rituals of Hajj and Umrah, religious observances such as Salah (prayer), purification rituals like Tayammum and Wudu (ablution).[Implementasi dari pembelajaran fikih dilihat dari praktiknya. Praktikum pernikahan di sekolah sebagai bahan pembelajaran nampaknya perlu dikaji lebih mendalam, sebab terdapat hadis yang menjelaskan bahwa peristiwa menalak, menikahkan dan rujuk hukumnya berlaku meskipun dilakukan secara gurauan dan tidak sungguh-sungguh. Berdasarkan objektif ini peneliti menggunakan metodologi deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah metode telaah pustaka (library research) dengan pendekatan kajian hadis yang objeknya relevan dengan pembahasan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan praktikum pernikahan di sekolah? bagaimana kajian hadisnya? Bagaimana keterangan hadis dan perspektif hukum Islam? Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa praktikum pernikahan yang terjadi di sekolah merupakan simulasi pernikahan yang dilakukan oleh para siswa. Hasil kajian hadis ini menunjukkan bahwa hadis ini Dhoif. Meskipun hadis ini Dhoif, namun dalam praktiknya para sahabat mengamalkan kandungan hadis tersebut. Dalam perspektif hukum Islam, simulasi pernikahan yang dilakukan oleh para siswa di sekolahan tidaklah sah. Karena di dalamnya terdapat syarat yang belum terpenuhi yaitu keberadaan wali. Solusi yang dapat diambil selain melakukan simulasi langsung adalah dengan mengadakan penyuluhan melalui berbagai lembaga baik dari KUA (Kantor Urusan Agama) maupun dari berbagai badan yang terkait. Untuk ujian praktik pada pelajaran fikih di sekolah bisa dialihkan pada simulasi yang lain seperti praktik proses memandikan dan mengafani jenazah, praktik haji dan umrah, praktik ibadah seperti salat, praktik bersuci seperti tayamum dan wudu].
KH. MUSTOFA BISRI’S HUMANISTIC HERMENEUTICS OF HADITH AS A RESPONSE TO NEO-REVIVALIST ISLAM Muluk, Muchamad Saiful; Nikmah, Shofiatun
RIWAYAH Vol 10, No 1 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i1.23673

Abstract

The neo-revivalist Islamic group had a rigid religious attitude, takfiri and a truth claim attitude. This attitude was born because it started from reading the hadith which was ahistorical and partial. Thus, it produced an understanding that causes more harm to humanity than its mashlahah. Oftentimes, the purpose of law was lost and the meaning was distorted. This study focused on the hadith reading method used by KH. Mustofa Bisri especially in responding to the neo-revivalist Islamic way of religion. This research focuses on the method of reading hadith in the book of Arbain al-Nawawi used by KH. Mustofa Bisri, especially in responding to the neo-revivalist way of Islam. The results showed that 1) KH Mustofa Bisri used the figure of the Prophet’s humanism as a paradigm for reading the hadith, where Gus Mus saw the prophet’s personal portrait as a whole human being who was the most humane, and respected fellow human beings; 2) KH Mustofa Bisri applies Schleiermacher’s hermeneutics in positioning the text as well as Gadamer’s hermeneutics in obtaining meanings that prioritize mashlahah values.[Kelompok islam neo-revivalis memiliki sikap keberagamaan yang kaku, rigid, takfiri dan sikap truth claim. Sikap itu lahir karena bermula dari pembacaan hadis yang ahistoris dan parsial. Sehingga menghasilkan pemhaman yang menimbulkan banyak madharat bagi kemanusiaan dibanding mashlahat-nya. Seringkali tujuan hukum menjadi hilang dan makna pun terdistorsi. Penelitian ini berfokus pada metode pembacaan hadis dalam kitab Arbain al-Nawawi yang digunakan oleh KH. Mustofa Bisri, khususnya dalam merespon cara beragama kelompok Islam neorevovalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) KH. Mustofa Bisri menggunakan sosok humanisme Nabi sebagai paradigma pembacaannya terhadap hadis, dimana Gus Mus melihat potret pribadi nabi sebagai manusia secara utuh yang paling manusiawi, dan menghormati sesama manusia; 2)  KH. Mustofa Bisri mengaplikasikan hermeneutika Schleiermacher dalam memposisikan teks sekaligus hermeneutika Gadamer dalam mendapatkan makna yang mengedepankan nilai-nilai maslahah.]
TASHWIR IN THE CONTEXT OF HADITH AND ITS RELEVANCE TO THE PRESENT Isman, Ainul Fatha; Firdaus, Firdaus; Nufus, Ilma Silmi; Chuzaemah, Siti
RIWAYAH Vol 10, No 1 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i1.20752

Abstract

The opinions of the scholars regarding the understanding of hadiths regarding tashwir are very diverse. Meanwhile, the tashwir concept is currently being widely implemented in people’s lives. Therefore, a more in-depth study is needed to understand these tashwir hadiths. The purpose of this study is to describe the tashwir hadith and analyze the hadith with its relevance to the present context. This research method uses a qualitative descriptive study approach based on primary and secondary sources. The research results show that tashawwur activities in several hadiths are not permitted. However, the main reason for this prohibition is that it is vulnerable to polytheism, whether in the form of worshiping idols or competing with Allah as the creator. If studied in the current context, the prohibition of tashwir is inappropriate because it has a different purpose when narrated. Tashawwur in the modern er, needs to refer to the benefit dimension as a basis for consideration in current implementation. Currently, tashwir functions as art, decoration, a medium for preaching, and even a place for some people to work to fulfill their needs. Therefore, rejecting tashwir in Islam depends on its function and purpose. The implications of this research are expected to provide a new paradigm regarding the practice of tashawwur in today’s modern life, which is very diverse and has differences from the past.[Pendapat para ulama terhadap pemahaman hadis-hadis tentang tashwir sangat beragam.  Sedangkan konsep tashwir pada masa kini sedang marak diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan telaah yang lebih mendalam untuk memahami hadis-hadis tashwir tersebut. Tujuan penelitian ini menguraikan hadis-hadis tashwir dan menganalisis hadis tersebut dengan relevansinya pada konteks masa kini. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur berdasarkan sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan tashawwur dalam beberapa hadis tidak diperbolehkan. Namun, larangan tersebut memiliki alasan utama yaitu rentan terhadap kemusyrikan, baik berupa menyembah berhala atau menandingi Allah sebagai pencipta. Jika dikaji dalam konteks saat ini maka pelarangan tashwir ini kurang tepat karena memiliki tujuan yang berbeda pada saat diriwayatkannya. Tashawwur di era modern perlu merujuk pada dimensi kemaslahatan sebagai dasar pertimbangan dalam implementasi masa kini. Saat ini tashwir berfungsi sebagai seni, hiasan, media dakwah, bahkan sebagai wadah pekerjaan sebagian orang untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, untuk menolak tashwir dalam Islam tergantung pada fungsi dan tujuannya. Implikasi penelitian ini diharapkan mampu memberikan paradigma baru tentang praktik tashawwur pada kehidupan modern saat ini yang sangat beragam dan memiliki perbedaan di masa lampau.]
NAQD MATNAL-HADIS BI 'ILMI TARIKH AL-MUTUN (BAHSUN 'AN 'UMRI AS-SAYYIDAH' AISYAH 'INDA NADZHAR AL'AB AL-HABASYAH WA ITTIKHADZ LU'BAH AL-BANAT FI FATH AL-BARI SYARH SAHIH AL-BUKHARI) Fuqohak, Mukhamad Agus Zuhurul
RIWAYAH Vol 9, No 2 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.23302

Abstract

The study of the history of texts is something that is rarely researched in anything other than what relates to the abrogated, even though many commentators of the hadith have placed this study in other areas, so it is worth examining also in a field other than what relates to the abrogated. Indeed, Sheikh Ibn Hajar Al-Asqalani wrote this study in relation to criticizing the statements that Al-Bukhari mentioned in his book, where Al-Asqalani commented on what Al-Bukhari concluded regarding the rulings and others. This study aims to reveal the study of criticism of the tex of hadith with tarikh al-mutun approach conducted by Syekh Ibnu Hajar in the Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari. This research using qualitative method, descriptive-analysis and historical philosophical approach founds that tarikh al-mutun can be traced with awwalu ma kadza, qabla, ba’da, and words with nuances of time such as sanata and ‘ama. Syekh Ibnu Hajar uses tarikh al-mutun to trace the real age of ‘Aishah r.a. in the case of the game of the Habashah and its stuffed toys which some scholars claim are not yet mature. However, Ibnu Hajar found the opposite fact. The benefit of the research is to make tarikh al-mutun not only as nasakh-mansukh data, but also useful for critical matn studies as was done by Syekh Ibnu Hajar. This study has been scattered in the books of hadith commentators, such as Sharh al-Nawawi and others, so it must be researched in order to complete this ideal theory.[Kajian terhadap sejarah nash merupakan hal yang jarang diteliti pada hal lain selain yang berkaitan dengan yang haram, padahal banyak ahli tafsir hadis yang menempatkan kajian ini pada bidang lain, sehingga patut dikaji juga pada bidang selain apa. berhubungan dengan yang dibatalkan. Memang Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis kajian ini dalam rangka mengkritisi pernyataan-pernyataan yang disebutkan Al-Bukhari dalam kitabnya, dimana Al-Asqalani mengomentari apa yang disimpulkan Al-Bukhari mengenai hukum-hukum dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kajian kritik teks hadis dengan pendekatan tarikh al-mutun yang dilakukan oleh Syekh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari. Penelitian yang menggunakan metode kualitatif, deskriptif-analisis dan pendekatan filosofis historis ini menemukan bahwa tarikh al-mutun dapat ditelusuri dengan awwalu ma kadza, qabla, ba’da, dan kata-kata yang bernuansa waktu seperti sanata dan ‘ama. Syekh Ibnu Hajar menggunakan tarikh al-mutun untuk menelusuri usia sebenarnya ‘Aishah r.a. dalam hal permainan Habashah dan boneka-bonekanya yang menurut sebagian ulama belum matang. Namun Ibnu Hajar menemukan fakta sebaliknya. Manfaat penelitian ini adalah menjadikan tarikh al-mutun tidak hanya sebagai data nasakh-mansukh saja, namun juga berguna untuk kajian matn kritis seperti yang dilakukan oleh Syekh Ibnu Hajar. Kajian ini telah tersebar di kitab-kitab para ahli tafsir hadis, seperti Syarh al-Nawawi dan lain-lain, sehingga harus diteliti guna melengkapi teori ideal tersebut].
HADITH STUDIES ON THE IDDAH AND IHDAD OF WOMEN PUBLIC OFFICIALS: An Integration of Normative and Empirical Studies Wakhidah, Nur; Hamdi, Fahmi; Sholihah, Mida Mar'atus; Subakir, Ahmad
RIWAYAH Vol 10, No 1 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i1.25268

Abstract

Iddah and ihdad are sharia commanded by Allah, and they have the value of worship. While female public officials are bound by the rules of employment. This study seeks to normatively and empirically analyze the hadiths about iddah and ihdad. The study of iddah and ihdad is dynamic, necessitating collaboration on normative and empirical hadith studies. The research data can be analyzed using various theories, including normative and empirical hadith understanding, public policy theory, justice theory, and maslahah theory. We obtained the data through literature, interviews, and observation methods. The study’s results demonstrated the integration of normative and empirical hadith studies. The typology of hadith studies is becoming increasingly complex, necessitating the elaboration of normative and empirical studies while adhering to the principles of hadith studies.[Iddah dan ihdad merupakan syari’at yang diperintahkan Allah dan memiliki nilai ibadah. Sementara wanita pejabat publik terikat dengan aturan kepegawaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hadis-hadis tentang iddah dan ihdad secara normatif dan empiris. Kajian iddah dan ihdad mengalami sebuah dinamika, sehingga kajian tersebut perlu mengkolaborasi studi hadis normatif dan empiris.  Beberapa teori untuk menganalisis data penelitian adalah teori pemahaman hadis normatif dan empiris, teori kebijakan publik, teori keadilan, dan teori maslahah. Data diperoleh melalui metode Pustaka, wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menemukan integrasi kajian hadis normatif dan empiris. Tipologi kajian hadis dengan arah kajian semakin kompleks, perlu elaborasi kajian normatif dan empiris dengan tetap memelihara prinsip-prinsip kajian hadis.]
A COMPARATIVE STUDY OF THE FIQH APPROACH TO THE HADITH ON MENSTRUATION Fauzizah, Anik; Masruri, Muhammad
RIWAYAH Vol 9, No 2 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.20119

Abstract

Menstruation is a woman’s nature that cannot be avoided and is closely related to her daily worship activities. Menstruation is a very complicated discussion because the blood that comes out of each woman is different. Therefore, it is an obligation for a woman to learn about the law of menstruation, because learning things that are a condition for the validity and invalidity of an act of worship is fardhu ‘ain. Therefore, the author is interested in researching how a comparative study of the fiqh approach in the hadith about menstruation with the aim of providing understanding and also becoming one of the references for women in understanding the problem of menstruation which is reinforced by shar’i arguments and the opinions of the scholars of the four madhhabs who have been recognised for their scientific capabilities. This study uses the library research method to analyse it and collect some literature then understand and analyse systematically and can synthesise the literature. The findings obtained are that the scholars of the fiqh madhhabs differ in several respects, including differences in defining menstruation, the age of women who experience menstruation, and the details of the prohibition of women who are menstruating. The difference is also based on a different understanding of the hadith that is used as a benchmark.[Haid adalah kodrat wanita yang tidak bisa dihindari dan sangat erat kaitannya dengan aktifitas ibadahnya sehari-hari. Haid merupakan pembahasan yang sangat rumit karena darah yang keluar dari setiap wanita itu berbeda. Maka dari itu sudah menjadi kewajiban seorang wanita mempelajari mengenai hukum haid, karena mempelajari hal-hal yang menjadi syarat keabsahan dan batalnya suatu ibadah adalah fardhu ‘ain. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti mengenai bagaimana studi komparatif terhadap pendekatan fiqh dalam hadis tentang haid dengan tujuan bisa memberikan pemahaman dan juga menjadi salah satu rujukan bagi wanita dalam memahami masalah haid yang diperkuat dengan dalil-dalil syar’i dan pendapat para ulama’ empat madzhab yang telah diakui kapabilitas keilmuannya. Penelitian ini menggunakan metode library research untuk menganalisanya dan mengumpulkan beberapa literatur kemudian memahami dan menganalisa secara sistematis serta dapat mensitesis literatur. Temuan yang didapatkan adalah bahwa ulama’ madzhab fiqh berbeda pendapat dalam beberapa hal di antaranya yaitu perbedaan dalam mendefinsikan haid, usia wanita yang mengalami haid, serta perincian larangan wanita yang sedang haid. Perbedaan itu juga di dasarkan pemahaman yang berbeda mengenai hadis yang dijadikan sebagai patokan].
THE IMPLEMENTATION OF THE AL-JAM’U METHOD ON MUKHTALIF AL-HADITS AND ITS LEGAL ISTIDLAL: Hadith Study on the Limits of Male Awrah Saerozi, Ahmad; Mujab, Muhammad Saiful; Hanafi, Abdullah
RIWAYAH Vol 10, No 1 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i1.25657

Abstract

Scholars offer three methods to resolve the mukhtalif al-hadits: al-jam’u (reconciliation), al-naskh (abolishing the ruling of the hadith that first appears), and al-tarjih (favoring one of the traditions). Among the examples of traditions that fall under the category of mukhtalif are the traditions about the limits of the awrah of men. The researcher in this article will discuss the implementation of the al-jam’u method on the hadith about the limits of male genitalia. This research is a type of qualitative research with a library research model through a philosophical approach, and data processing techniques using descriptive-analytical methods and then analyzed using content analysis techniques.  The results of this study are that there are two hadiths about the limits of male awrah that are outwardly contradictory. The first hadith comes from Jarhad who says that the male thigh is awrah. While the second tradition which comes from Anas bin Malik says that the Prophet’s thigh is not awrah. The implementation of the al-jam’u (reconciliation) method related to this issue is that although in terms of sanad quality the first tradition is stronger which says, the madzahib arba’ah agree that the thigh is a male awrah which should not be shown to others. Only Dawud Zhahiri and Ustukhri say that the thigh is not awrah. The madzahib arba’ah’s interpretation of the hadith about the opening of the Prophet’s thighs explains his inadvertence because his clothes were uncovered and in a critical situation. In addition, after his thighs were exposed, he immediately covered them.[Untuk menyelesaikan mukhtalif al-hadis, para ulama menawarkan tiga metode, yaitu: al-jam’ (rekonsiliasi), al-naskh (menghapus hukum hadis yang pertama kali muncul), dan al-tarjih (mengunggulkan salah satu hadis). Di antara contoh hadis yang termasuk kategori mukhtalif adalah hadis seputar batasan aurat laki-laki. Artikel ini akan mengulas seputar implementasi metode al-jam’u terhadap hadis seputar batasan aurat laki-laki dan istidlal hukumnya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan model kepustakaan (library research) melalui pendekatan filosofis, serta teknik pengolahan data menggunakan metode deskriptif-analitik kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis).  Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat dua hadis tentang batasan aurat laki-laki yang secara lahiriahnya bertentangan. Hadis pertama bersumber dari Jarhad yang mengatakan paha laki-laki adalah aurat. Hal ini dibuktikan dengan perintah Nabi kepada Jarhad untuk menutup pahanya. Sementara hadis kedua yang bersumber dari Anas bin Malik mengatakan paha Nabi bukanlah aurat. Hal ini berdasarkan pada hadis yang menjelaskan bahwa paha nabi terlihat saat menuju ke perang Khaibar. Implementasi dari metode al-jam’u (rekonsiliasi) terkait masalah ini yaitu meskipun dari segi kualitas sanad lebih kuat hadis pertama, tapi madzahib arba’ah sepakat mengatakan paha merupakan aurat laki-laki yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain. Hanya Dawud Zhahiri dan Ustukhri yang mengatakan paha bukan aurat. Keduanya mengatakan aurat laki-laki hanya kemaluan depan dan belakang.  Istidlal madzahib arba’ah dari hadis tentang terbukanya paha Nabi menjelaskan ketidaksengajaan beliau karena pakaiannya tersingkap dan dalam keadaan genting (perjalanan perang Khaibar). Di samping itu setelah pahanya terlihat, beliau langsung menutupnya.]
REINTERPRETATION OF HADITS ON WIFE PROSTRATING UPON THE HUSBAND: Hermeneutic Analysis of Jorge J. E. Gracia Dinia, Hima Roiku; Jannah, Mawaddatul; Anam, Khoirul
RIWAYAH Vol 10, No 1 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i1.25875

Abstract

In a number of hadiths that highlight the primacy of women, some hadiths are understood literally and are controversial, such as the hadith about the wife’s prostration to her husband. This hadith is often criticized by contemporary Muslim intellectuals because it is often understood textually to identify differences in positions and roles between women and men. This research aims to reinterpret the hadith regarding the obedience of wives in prostrating to their husbands using Jorge G.E. Gracia’s hermeneutical approach, which not only considers textual aspects (history, meaning, and implications), but also non-textual aspects. The method used in this research is descriptive qualitative with literature study as a data source, involving books and journals that are relevant to the research topic. The results of the research show that in the analysis of historical functions, Arab society in the past tended to support the dominant role of men so that the hadith cannot be understood literally. Apart from that, the chain of hadith transmission comes from Abu Hurairah, which is factually problematic. In the analysis of the meaning function, this hadith uses analogical language, in which the Messenger of Allah conveys the message that prostration should only be addressed to Allah, as contained in Surah al-Nahl verse 49. The analysis of the implicative function shows that the wife’s obedience to her husband is an obligation, as long as the husband does not commit immorality. In an implied non-textual analysis, this hadith teaches its followers not to prostrate themselves to fellow humans and only prostrate themselves to Allah.[Dalam sejumlah hadis yang mengangkat keutamaan perempuan, terdapat pula hadis yang dipahami secara tekstual dan kontroversial, seperti hadis tentang sujud istri kepada suami. Hadis ini sering dikritik oleh intelektual Muslim kontemporer karena sering dipahami secara tekstual yang mengindentifikasi perbedaan posisi dan peran antara perempuan dan laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mereinterpretasi hadis tentang ketaatan istri bersujud kepada suami dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Jorge G.E. Gracia, yang tidak hanya mempertimbangkan aspek tekstual (sejarah, makna, dan implikasinya), namun juga aspek non-tekstualnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan studi pustaka sebagai sumber data, melibatkan buku dan jurnal yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam analisis fungsi historis, masyarakat Arab pada masa lalu cenderung mendukung peran dominan laki-laki, sehingga hadis tersebut tidak dapat dipahami secara harfiah. Selain itu, rantai periwayatan hadits berasal dari Abu Hurairah, yang secara faktual problematis. Dalam analisis fungsi makna, hadis ini menggunakan bahasa analogis, di mana Rasulullah saw menyampaikan pesan bahwa sujud hanya boleh ditujukan kepada Allah, sebagaimana terdapat dalam Surat al-Nahl ayat 49. Analisis fungsi implikatif menunjukkan bahwa ketaatan istri kepada suami adalah kewajiban, asalkan suami tidak memerintahkan untuk melakukan maksiat. Pada analisis non-tekstual tersirat, hadis tersebut mengajarkan umatnya untuk tidak bersujud kepada sesama manusia dan hanya bersujud kepada Allah.]