cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 218 Documents
Memahami Hadis Ukhuwwah dalam Konteks Media Sosial (Upaya Membangun Etika Solidaritas Sosial) saifudin, saifudin
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3464

Abstract

Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial yang bersaudara satu dengan lainnya (ukhuwa). Berawal dari tingkat sosial terkecil (keluarga) dan berkembang dalam lingkungan yang lebih besar- dari sosial tingkat dasar sampai dengan tingkatan pemerintah, semua berhubungan dengan letak dasar keluarga. Solidaritas sosial yang ada belum mampu menunjukkan ikatan sosial dalam bentuk ikatan ideologi, agama atau hubungan manusia dengan sesama dalam lingkup bernegara. Dengan memahami hadis ukhuwa, studi ini diharapkan mampu memberikan pandangan sosial yang berhubungan dengan ukhuwa  dalam dunia virtual, pada sosial masyarakat industri yang sangat modern yang mana arus informasi berubah sangat cepat dari berbagai penjuru dunia. Ukhuwa dibangun dengan tiga pilar utama, pertama, simpati, tanggung jawab moral dan solidaritas sosial. Pilar- pilar tersebut seakan sudah terlaksana dalam aspek kehidupan. Akan tetapi, pilar-pilat tersebut akan berbeda dengan kenyataan jika dalam lingkup virtual.The birth of the brotherhood (ukhuwa) was inspired by the human existences as social human being. The human was born from the most little social institution (family) and than to be grown in the biggest environment- from the basic society level until the governmental level, all of which rest on family ties. Solidarity shown by society in a social sphere, shows that there are many social engagement that cannot be separated either in the name of ideology, religion, or a formal relationship between the members in a country.With understanding to hadith of  ukhuwa, this study has found the sociological reality of interwoven ukhuwa  in the virtual world, in an ultra modern industrial society which is changing very rapidly due to the current flood of information coming from all over the world. The ukhuwa building is supported by three important pillars, namely a sense of sympathy, moral commitment, and social solidarity. The pillars at a glance resemble to what happens in the real social world. However, the pillars are manifested in different forms in accordance with reality in virtual space.
PEMIKIRAN PROGRESIF MUHAMMAD ASAD TENTANG HADIS Nabil, Ahmad Amir; Mohd. Marzuki, Zunaidah
RIWAYAH Vol 7, No 2 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i2.10582

Abstract

Makalah ini menyorot pemikiran hadis Muhammad Asad (1990-1992) yang dinilai progresif serta kontribusinya dalam pemahaman hadis kontemporer. Ia membincangkan pemahaman inti tentang hadis yang dirumuskan dalam karya-karyanya seperti Sahih al-Bukhari The Early Years of Islam; Islam at The Crossroads (bab “Hadis and Sunnah” dan “The Spirit of the Sunnah”); This Law of Ours and Other Essays; The Road to Mecca dan The Message of the Qur’an. Pengaruh hadis ini turut ditinjau dari artikelnya dalam jurnal Arafat dan makalahnya yang lain terkait tema-tema hadis dan sunnah, serta pemahaman serta tantangannya di abad modern, seperti tulisannya “Social and Cultural Realities of the Sunnah”. Bentuk kajian ini adalah bersifat deskriptif, analitis, historis dan komparatif. Kajian ini mencoba mengembangkan ide dan pemahaman hadis yang dirumuskan Asad dari perspektifnya yang modern dan membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran sejarah yang krusial terkait prinsip hadis yang dibawakan oleh pemikir Islam yang lain. Hasil kajian ini menyimpulkan bahwa Muhammad Asad telah memberikan sumbangan yang penting dalam pemikiran hadis di abad modern dengan hasil penulisannya yang prolifik dan substantif, termasuk terjemahan dan syarahannya yang ekstensif terhadap Sahih al-Bukhari yang memuat komentar-komentar baru dan analisis sejarahnya yang mendalam terhadap kitab ini. Ia merumuskan pertentangan-pertentangan hukum dan istinbat-istinbat fuqaha’ dan muhaddith dalam tradisi syarah hadis yang kritis. Ia turut merespon pertikaian-pertikaian dasar yang dibangkitkan oleh golongan orientalis dan intelektual yang skeptis terhadap riwayat-riwayat sejarah dalam tradisi hadis.[Muhammad Asad's Progressive Thoughts on Hadith.The paper analyses the ideas of hadith (prophetic tradition) as espoused by Muhammad Asad (1990-1992) and its significance in contemporary hadith thought. It studies the essential ideas he developed in his discussion of hadith as reflected in his works such as Sahih al-Bukhari The Early Years of Islam; Islam at The Crossroads (chapter “Hadith and Sunnah” and “The Spirit of the Sunnah”); This Law of Ours and Other Essays, The Road to Mecca and The Message of the Qur’an. The influence of hadith was also deeply manifested in his “journalistic monologue” Arafat: A Monthly Critique of Muslim Thought, a periodical he founded in 1946 in Kashmir and other works that addresses significance principles and issues of hadith and essays that incorporate rising themes in contemporary ages, such as “Social and Cultural Realities of the Sunnah”. The research was structured based on descriptive, analytical, historical and comparative method. It attempts to analyse the crucial ideas of hadith principles brought forth by Asad and compared these with other critical views set forth of classical Muslim traditionists. The study concluded that Muhammad Asad had significantly contributed to the revival and  development of hadith in the modern world with his profound translation and commentary of al-Bukhari’s Sahih – Sahih al-Bukhari The Early Years of Islam - that extensively survey the significant tradition of hadith and its intellectual and historical manifestation over centuries. He also responded to the traditional arguments by historian and orientalists who were sceptical of the historical authenticity of hadith narrative and tradition.]
Manhaj Imam Ahmad Ibn Hanbal dalam Kitab Musnadnya Karim, Abdul
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1808

Abstract

Hadis merupakan salah satu sumber terpenting dalam menggali ajaran Islam, Para ulama’ telah menghimpun hadis menjadi banyak kitab yang memberikan informasi berbagai hal mengenai sabda Nabi Muhammad saw. kemudian himpunan kitab hadis itupun menjadi berbagai macam bentuk dan model. Di antaranya adalah apa yang disebut dengan kitab musnad Ahmad Ibn Hanbal yang memiliki corak atau karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kitab-kitab hadis lainnya. Hadis yang telah ditulis oleh Imam Ahmad Ibn Hanbal mengambil bentuknya tersendiri yang merupakan sebuah proses panjang dari karier akademik seorang Ahmad Ibn Hanbal, dan sudah barang tentu hal itu sangat dipengaruhi oleh latar belakang kultur, sosial politik yang mengitarinya di mana seorang Ahmad Ibn Hanbal hidup pada masa itu. Dari kehidupannya semenjak ia kecil yang telah ditinggal (wafat) oleh orang tuanya, hidup dalam keadaan serba kekurangan secara ekonomi, kemudian harus berusaha untuk survive di saat-saat yang sulit serta teguh dan berani menghadapi presure dan intimidasi politik yang dilakukan oleh penguasa menjadikan seorang Ahmad Ibn Hanbal semakin memiliki kharisma tersendiri, sehingga dalam kitab musnadnya pun memiliki manhaj tersendiri yang berbeda dengan ulama ahli hadis lainnya.
PEMETAAN PENELITIAN HADIS: Analisis Skripsi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Darmalaksana, Wahyudin
RIWAYAH Vol 6, No 2 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i2.7752

Abstract

Penelitian hadis mengalami perkembangan pesat di Indonesia, namun belum ditemukan pemetaan penelitian hadis secara memadai bagi keberlanjutan pengembangan penelitian hadis pada Jurusan Ilmu Hadis di lingkungan Pendidikan Tinggi Islam. Penelitian ini bertujuan memetakan penelitian hadis yang menjadi petunjuk jalan bagi pengembangan penelitian hadis. Metode penelitian ini bersifat kualitatif melalui studi pustaka dengan analisis isi pada kasus penelitian skripsi. Hasil dan pembahasan penelitian ini meliputi pemetaan penelitian hadis pada wilayah penelitian ilmu hadis dan wilayah penelitian konten hadis beserta implikasinya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sejarah perkembangan hadis memberikan kontribusi signifikan hingga terpetakannya wilayah penelitian hadis bagi petunjuk jalan pengembangan penelitian hadis, khususnya pada Jurusan Ilmu Hadis di lingkungan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. [Hadis Research Mapping: Thesis Analysis of UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hadith research has experienced rapid development in Indonesia, but there has not been an adequate mapping of hadith research to sustain the development of hadith research in the Department of Hadith in Islamic Higher Education. This study aims to map the hadith research which guides the way for the development of hadith research. This research method is qualitative through a literature study with content analysis in thesis research cases. The results and discussion of this research include mapping the hadith research in the hadith science research area and the hadith content research area and its implications. This study concludes that the history of the development of hadith has contributed significantly to the mapping of the areas of hadith research to guide the development of hadith research, particularly in the Department of Hadith in the Islamic Higher Education in Indonesia.]
Periwayatan Hadis Bi Al-Lafzi dan Bi Al-Ma'na Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1231

Abstract

Abstract Often found in the books of hadith there are differences in the editorial of honor a tradition regarding the same issue. It due to the existence of hadith narration conducted its meaning, not based on the same wording as that related by the Prophet. Hadith narration done significantly is as the cause of the difference in the editorial of a tradition. In a hadith narration which allows for narrating pronunciation (riwayat bi al- lafz), just  traditions  in  the form of the word (AQWA l ar-Rasul). While the traditions that are not in the form of words, such as af’al (deeds) and taqri r (statutes) is only possible in the meaning narrated (history of bi al-ma’na). Traditions in the form AQWAl (word) was not entirely narrated by al-lafz bi} i. It is not possible due to the Prophet’s entire literally memorized by the companions and the tabi’in. It is because not all companions have the ability to memorize the same. This provides opportunities for editorial differences and variations in the understanding of the editorial hadith received from the Prophet. So it will take effect when they narrated to friends who had not heard directly from the Prophet.There  are various opinions of Hadith narration bi al-ma’na. some of them did not allow it absolutely. The layman is prohibited to convey tradition bi al-ma’na, in order to maintain the truth of tradition. As for the scholars of hadith were allowed to narrate bi al-ma’na, with certain conditions, so it will avoid mistakes. And not a word that is in the form of Jawarmi ‘al-Kalim. The existence of various provisions of the hadith indicates that transmission of hadith bi al-ma’na is allowed by some scholars, but in practice it is not “loose”. It means that they are not free to do a narration in meaning.
PEMAHAMAN HADIS KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM TRADISI NU Saadah, Nailus; Farida, Umma
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.5909

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman organisasi masyarakat NU terhadap hadis kepemimpinan perempuan pada hasil-hasil keputusan bahsul masail. Penelitian ini adalah library  research dengan pendekatan kualitatif. Adapun beberapa hasil keputusan bahsul masail yang terkait dengan hadis kepemimpinan perempuan adalah: Pertama, bahsul masail NU tahun 1961 di Salatiga memutuskan bahwa perempuan tidak diperbolehkan menjadi kepala desa, kecuali dalam keadaan memaksa. Kedua, bahsul masail NU pada tahun 1997 di NTB, yang memutuskan bahwa perempuan boleh  menjadi seorang pemimpin dengan syarat mempunyai kemampuan dan kapasitas untuk menjadi seorang  pemimpin,  namun tetap harus mengingat akan kodratnya.  Ketiga, bahsul masail NU dalam muktamar ke 30 tahun 1999 di Kediri, memutuskan untuk lebih operasional tentang kesetaraan gender dan lebih terbuka dalam politik. Hasil penelitian ini adalah Pada awalnya pemahaman NU terhadap hadis kepemimpinan peremuan didominasi oleh pemahaman tekstualis, dan hanya merujuk pada kitab fiqh karangan ulama zaman dahulu tanpa menggunakan metode pemahaman hadis  yang sesuai dengan metode yang telah ditawarkan oleh para ulama hadis. Setelah itu, pemahaman NU yang tekstualis terhadap hadis kepemimpinan perempuan bergeser menjadi pemahaman kontekstualis yang disebabkan karena dalam kehidupan dunia modern menuntut seluruh elemen bangsa untuk berpartisipasi baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu pertimbangan dari NU sendiri adalah demi kemaslahatan ummat dan menegakkan sikap keadilan.
PENGGUNAAN GAMIS BAGI JAMA’AH TABLIGH: Studi Living Hadis pada Jama’ah Tabligh di Masjid Jami’ Al-Ittihad Yogyakarta Khikmatiar, Azkiya
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.5038

Abstract

This paper describes the use of the robe for Tablighi Jama'ah in Masjid Jami 'Al-Ittihad Yogyakarta based on the hadith of the Prophet. They understand the act of using the robe is the sunna of the Prophet as well as their identity. While the theory used is the theory of social action initiated by Max Weber. According to him, every human behavior has a subjective meaning to the culprit and directed to others. The result of his research is that the social action in using the robe for Tablighi Jama'ah in Masid Jami 'Al-lttihad has several action models, namely value-oriented social action, purpose-oriented socializing actions, and traditional actions. The three action models have interrelated phases.
Kontribusi Nur Ad-Din Ar-Raniri dan Abd Ar-Rauf As-Sinkili dalam Pengembangan Kajian Hadis di Indonesia Farida, Umma
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3433

Abstract

Kedudukan hadis sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur’an menjadikan perhatian dan kajian terhadapnya amatlah penting. Peran Nur ad-Din ar-Raniri dan Abd ar-Rauf as-Sinkili dalam mengembangkan kajian hadis di Indonesia pada abad ke-17 H. yang pada saat itu belum populer dan belum menjadi kajian keilmuan secara mandiri tidaklah dapat dipandang sebelah mata. Artikel ini hendak melihat kontribusi yang diberikan dua ulama tersebut, dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Ar-Raniri berhasil mendekatkan umat Islam Indonesia dengan hadis melalui karyanya, Hidâyat al-Hâbiîb at-Targîb wa at-Tarhîb. Demikian pula dengan as-Sinkili melalui dua karyanya, Syarh Latîf 'ala Arba'în Hadiîst al-Imam an-Nawawi dan al-Mawa'iz al-Badî'ah.The position of hadith as the second source after the Qur'an makes the study of it very important. The role of Nur ad-Din ar-Raniri and Abd ar-Rauf as-Sinkili in developing the study of hadith in Indonesia in the 17th century H. which was not popular and had not become a scientific study independently at that time can not be underestimated. This article looks at the contributions of these two scholars, using a descriptive-qualitative approach. Ar-Raniri was successfull in making Indonesian Muslims closer to the hadith through his work, Hidâyat al-Hâbiîb at-Targîb wa at-Tarhîb. Similarly, as-Sinkili through his two works, Syarh Latîf 'ala Arba'în Hadiîst an li al-Imam an-Nawawi and al-Mawa'iz al-Badî' ah.
STUDI HADIS MENGHORMATI AHLULBAIT: dari Pemahaman Tekstualis sampai Kontekstualis Muzakky, Althaf Husein; Syaikhul Mukarrom, Agung
RIWAYAH Vol 7, No 1 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i1.8999

Abstract

Menghormati ahlulbait adalah salah satu anjuran agama yang mulai diabaikan di komunitas sosial sebab mengabaikan pemahaman tekstual dan kontekstual dalam hadis. padahal mengabaikan pemahaman hadis yang komprehensif dapat menimbulkan ketidaktepatan dalam tindakan. Pemahaman menghormati ahlulbait mengalami dinamika teologis antara sunni maupun syi’ah, sehingga persoalan tersebut perlu dikembalikan dengan sumber primer keislaman yakni al-Qur’an dan Hadis.  Melalui teori pemahaman hadis tekstual dan kontekstual tulisan ini menyimpulkan bahwa menghormati ahlulbait adalah tindakan yang harus selektif, dalam ubudiyah adalah diikuti namun tidak bersikap fanatis, sedang dalam dimensi mu’amalah maka semua dikembalikan kepada kesahihan sanad dan pemahaman matan hadis melalui kitab syarah. Hasil dari tulisan ini menyimpulkan bahwa menghormati ahlulbait memiliki sanad hadis yang sahih dan hasan tanpa adanya sekaligus mendudukkan bersama perihal pandangan sunni dan syi’ah yang saling mengklaim satu sama lain, bedanya ahlulbait dalam sunni memiliki cakupan yang luas, sedang dalam syi’ah ahlulbait hanya sebatas Nabi Muhammad saw, Siti Fatimah, sahabat ‘Ali Ibn Thalib karramallahu wajha, sayyidina Hasan dan Husein. Adapun dampak menghornati ahlulbait adalah memiliki pikiran yang baik (al-husnu al-dzan), memiliki paras menawan (ahsan al-nas), dan memiliki perangai yang bagus (al-akhlak al-karimah).[Study of Hadith Respecting Ahlulbait: From Textualist to Contextualist Understanding. Respecting ahlulbait is one of the religious advices that is starting to be ignored in the social community because it ignores textual and contextual understanding in hadith. whereas ignoring a comprehensive understanding of hadith can lead to inaccuracies in action. The understanding of respect for ahlulbait experiences theological dynamics between sunni and shia, so this issue needs to be returned to the primary sources of Islam, namely the Qur'an and Hadith. Through the theory of understanding textual and contextual hadith, this paper concludes that respecting ahlulbait is an act that must be selective, in ubudiyah it is to be followed but not to be fanatical, while in the mu'amalah dimension, everything is returned to the validity of the sanad and understanding the matan of hadith through the syarah book. The results of this paper conclude that respecting ahlulbait has a hadith that is valid and hasan without any presence at the same time sitting together regarding the views of sunni and shia who claim each other, the difference is that ahlulbait in sunni has a broad scope, while in shia ahlulbait only limited to the Prophet Muhammad, Siti Fatimah, shahabat 'Ali Ibn Talib karramallahu wajha, Sayyidina Hasan and Husein. The impact of respecting ahlulbait is having a good mind (al-husnu al-dzan), having a charming face (ahsan al-nas), and having a good temperament (al-akhlak al-karimah).]
Pikiran Dan Penilaian Atas Hadis Pada Zaman Kontemporer Kesarjanaan Barat
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i1.3387

Abstract

Tulisan ini fokusnya adalah pada pertanyaan-pertanyaan seperti ‘apa status hadis sebagai fundamental agama dalam Islam?' menurut para sarjana Barat, bukan cendekiawan Muslim. Begitu juga pendekatan para sarjana Barat akan dianalisis secara kritis. Juga poin-poin tertentu pada awal studi hadis di dunia Barat dan sekilas tentang perjalanan sejarahnya akan dibahas. Apa motif yang mendorong para sarjana Barat untuk mempelajari ilmu-ilmu Islam dan khususnya disiplin hadis: hasrat yang tulus untuk belajar atau kritik destruktif? Studi ini akan mencoba untuk menentukan apakah upaya-upaya ini berasal dari tujuan yang direncanakan atau rasa ingin mendapatkan pengetahuan.Di mata sebagian besar cendekiawan Barat, hadits bukanlah realitas yang terhubung dengan Nabi. Sementara beberapa dari mereka melihat hadits sebagai penggunaan umum, kebiasaan, kebiasaan dan tradisi, yang lain menegaskan hadits adalah fenomena yang ditempa dari abad ke-2 H dalam kaitannya dengan motivasi sosio-politik tertentu. Bertentangan dengan pendekatan para cendekiawan Muslim, yang berpendapat untuk korelasi unik antara Al-Qur'an dan hadis, para sarjana Barat terus-menerus menjauhkan diri dari membangun jenis hubungan apa pun antara keduanya, dan berfokus terutama pada meningkatkan keraguan melalui kritik yang meremehkan. Pekerjaan dan penelitian yang dilakukan dalam hal ini telah membuat dunia Barat dan Muslim sibuk selama bertahun-tahun, dan ini masih berlanjut sampai batas tertentu.

Page 1 of 22 | Total Record : 218