cover
Contact Name
Sofyan Musyabiq Wijaya
Contact Email
obiqwijaya@gmail.com
Phone
+6281559678993
Journal Mail Official
jkunila@gmail.com
Editorial Address
Jl Prof.Dr.Soemantri Brojonegoro No 1 , Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 25273612     EISSN : 26146991     DOI : 10.23960/jku
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update.
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA" : 27 Documents clear
Perbaikan Gaya Hidup Sehat pada Pasien dengan Riwayat Keluarga Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas TA Larasati
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1711

Abstract

Indonesia sedang mengalami masa bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2039. Kondisi yang memberikan peluang sangat besar ini terancam oleh tren peningkatan penduduk dengan prediabetes dan diabetes mellitus tipe 2 yang sesungguhnya bisa dicegah. Riwayat keluarga diabetes mellitus tipe 2 merupakan faktor risiko independen diabetes mellitus tipe 2 yang sangat mudah diidentifikasi. Pencegahan penyakit merupakan salah satu tugas utama pelayanan kesehatan primer. Dokter yang berada di layanan primer dituntut dapat melakukan pencegahan penyakit khususnya prediabetes dan diabetes mellitus tipe 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbaikan gaya hidup yang telah dilakukan oleh dokter di layanan primer berikut hambatannya. Penelitian ini merupakan studi kualitatif, denganpendekatan studi kasus. Dilakukan dengan informan dokter yang telah bekerja di layanan primer minimal 5 tahun di provinsi Lampung, dan dilakukan hingga data jenuh. Dilakukan member checking dan triangulasi sumber untuk validasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dokter di Puskesmas telah melakukan perbaikan gaya hidup sehat dalam bentuk edukasi pasien dan penegakkan diagnosis dini dan penatalaksanaaan yang tepat. Hambatan yangdihadapi oleh dokter dilayanan primer dalam perbaikan gaya hidup sehat adalah terbatasnya waktu yang tersedia dibandingkan dengan tugas yang harus diselesaikan, kurangnya sumber daya manusia, , kurangnya sarana prasarana untuk melakukan edukasi, ketiadaan reward, tidak termasuk dalam program kerja puskesmas secara jelas, selain hambatan internal pasien berupa keengganan dan merasa dirinya sehat.Kata kunci: Perbaikan gaya hidup sehat, riwayat keluarga diabetes mellitus tipe 2
Situational Judgement Test (SJT): Alternatif Metode Seleksi Mahasiswa Baru di Fakultas Kedokteran Dwita Oktaria; Rika Lisiswanti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1727

Abstract

Saat ini, metode seleksi masuk Fakultas Kedokteran hanya mengandalkan penilaian kemampuan kognitif. Situational judgement test (SJT) bertujuan untuk melakukan penilaian mengenai apa yang akan pelamar lakukan bila diberikan situasi tertentu, selain menilai apakah pelamar dapat mendiskusikan situasi tertentu, mereka juga dituntut untuk menunjukkan bahwa mereka dapat mendemonstrasikan kompetensi aktual yang dicari oleh institusi yang akan merekrut mereka. Situational judgement test (SJT) adalah penilaian yang dirancang untuk mengukur penilaian kandidat dalam setting peran yang relevan atau setting kerja. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan SJT pada proses seleksi dan penilaian di Fakultas Kedokteran telah digunakan secara luas. Bukti penelitian secara konsisten telah menunjukkan bahwa SJT sebagaialat seleksi, ketika didesain secara tepat, memiliki reliabilitas dan validitas yang baik. Penggunaan SJT dalam proses seleksi mahasiswa kedokteran umum dapat menjadi prediktor kinerja yang lebih baik dibandingkan tes pengetahuan, wawancara terstruktur, tes IQ, kuesioner kepribadian dan pertanyaan pada formulir aplikasi.SJT dengan menggunakan video dilaporkan memiliki validitas lebih tinggi dibandingkan SJT tertulis. SJT dapat menilai berbagai atribut, termasuk mengukur berbagai keterampilan dan sifat, tergantung materi spesifik dari tes. SJT merupakan salah satu metode seleksi terbaik dan tervalidjika dirancang secara tepat, namun metode ini relatif baru, mungkin dapat kurang diterima secara internasional serta dapat menimbulkan bias kultural.Kata kunci: metode seleksi, SJT, situational judgement test,
Aktivitas Antikanker Senyawa Brusein-A terhadap Ekspresi Bax pada Tikus yang Diinduksi Dimetilbenz(α)antrasen Muhartono Muhartono; Subeki Subeki
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1670

Abstract

Brusein-A dari buah makasar (Brucea javanica) mempunyai aktivitas antikanker terhadap kanker payudara secara in vitro dengan nilai IC50 0,54 mg/L. Mekanisme Brusein-A dalam mematikan sel kanker payudara diduga melalui apoptosis. Salah satu protein yang memegang peranan penting adalah Bax. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antikanker senyawa brusein-A terhadap ekspresi Bax ada tikus yang diinduksi DMBA. Penelitian dilakukan pada tikus betina umur 12 minggu yang diberi DMBA 20 mg/KgBB selama 3 minggu sampai terbentuk kanker payudara. Tikus dibagi 9 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor. Selanjutnya Brusein-A diberikan secara oral pada masing masing kelompok tikus dengan dosis 0, 2.5, 5, 7.5, 10, 12.5, 15, 17.5, dan 20 mg/kg. Perlakuan disusun dalam rancangan acak lengkap dengan3 ulangan. Selanjutnya tikus dipelihara selama 28 hari dan diberikan makan minum ad libitum. Tikus selanjutnya dimatikan dan jaringan kanker payudara diperiksa dengan imunohistokimia Bax. Ekspresi Bax dinilai berdasarkan persentase sitoplasma yang berwarna coklat. Hasil penelitian menunjukkan pada dosis 0 mg/L ekspresi bax sebanyak 1%, dosis 2,5 mg/L sebesar 10%, dosis 5 mg/L sebesar 20%, dosis 7,5 mg/L sebesar 30%, dosis 10 mg/L sebesar 40%, dosis 12,5 mg/L sebesar 55%, dosis 15 mg/L sebesar 65%, dosis 17,5 mg/L sebesar 80%, dan dosis 20 mg/L sebesar 95%. Hasil analisis Chisquare didapatkan hasil p=0.0001. Terdapat hubungan yang bermakna antara peningkatan dosis Brusein-A dengan ekpresi Bax pada kanker payudara tikus yang diinduksi DMBA.Kata kunci: brusein-A, buah makasar, gen bax, kanker payudara
Erupsi Obat Alergi: Tinjauan Kasus Sindrom Hipersensitivitas Obat pada Pasien dalam Pengobatan Morbus Hansen Dwi Indria Anggraini
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1722

Abstract

Reaksi simpang obat bervariasi, dapat terjadi hanya pada kulit atau sistemik. Sindrom hipersensitivitas obat (SHO) jarang terjadi namun merupakan salah satu reaksi simpang obat berat. Tinjauan kasus ini bertujuan mengetahui diagnosis dan tata laksana erupsi obat alergi, terutama SHO. Kasus, seorang perempuan 37 tahun timbul bercakbercak kemerahan seluruh tubuh disertai mata kuning dan demam, buang air kecil berwarna teh gelap, mual, dan sengkelan di kedua lipat paha. Sejak enam minggu sebelumnya pasien minum obat dapson, rifampisin, klofazimin untuk pengobatan penyakit Morbus Hansen. Berdasarkan pemeriksaan fisik dan penunjang, ditegakkan diagnosis Erupsi Obat Alergi tipe Sindrom Hipersensitivitas Obat dan Morbus Hansen tipe Borderline Tuberculoid. Tatalaksana medikamentosa berupa metilprednisolon 16-16-8 mg, loratadin 1x10 mg, ranitidin 2x150 mg. Simpulan, SHOditandai dengan erupsi kulit, demam, dan keterlibatan organ dalam. Tata laksana SHO berupa identifikasi dan menghentikan obat penyebab serta direkomendasikanpemberian kortikosteroid sistemik.Kata kunci: Erupsi obat alergi, Morbus Hansen, Sindrom Hipersensitivitas Obat
Kejadian Medication Error pada Fase Prescribing di Poliklinik Pasien Rawat Jalan RSD Mayjend HM Ryacudu Kotabumi Rasmi Zakiah Oktarlina; Zahra Wafiyatunisa
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1717

Abstract

Medication error adalah suatu kejadian yang tidak hanya dapat merugikan pasien tetapi juga dapat membahayakan keselamatan pasien yang dilakukan oleh petugas kesehatan khususnya dalam hal pelayanan pengobatan pasien. Medication error dapat terjadi di dalam tiap proses pengobatan, salah satunya pada fase prescribing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian medication error pada fase prescribing dalam pelayanan pengobatan di RSD Mayjend HM Ryacudu Kotabumi. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross sectional. Subjek penelitian ini adalah resep yang ada di instalasi Farmasi RSD Mayjend HM Ryacudu Kotabumi. Penelitian ini menggunakan metode total sampling yang mengambil resep di bulan Juni-Oktober 2016 di instalasi Farmasi RSD Mayjend HM Ryacudu Kotabumi. Pada hasil penelitian didapatkan bahwa angka kejadian medication error pada fase prescribing menunjukan 63,6%. Dimana dokter spesialis melakukan medication error sebesar 72,5% dan 43,4% yang dilakukan oleh dokter umum. Kesalahan fase prescribing pada bagian inscriptio terhadap pasien rawat jalan RSD Mayjend HM Ryacudu Kotabumi sebesar 58,5%. Angka kejadian kesalahan pada bagian prescriptio sebesar 63,6%, signatura sebesar 25,4%, dan pro sebesar 81,9%. Sedangkan angka kejadian pada bagian invocatio dan subscriptio sebesar 0%. Kesimpulannya Angka kejadian medication error sebesar 63,6%. Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan terhadap medication error pada fase prescribing.Kata kunci: angka kejadian, fase prescribing, medication error
Isolasi dan Identifikasi Gen Resisten Ciprofloxacin pada Isolat Escherichia coli MDR Ciprofloxacin dari Penderita ISK di RSUDAM Provinsi Lampung Rachmad, Basuki; Saputri, Wiria; A.S, Yandi; Setiawan, Andi; Mulyono, Mulyono
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1673

Abstract

Peningkatan resistensi Escherichia coli terhadap antibiotik fluorokuinolon telah banyak dilaporkan di seluruh dunia. Sebanyak 30 isolat E.coli dari pasien ISK di RSUDAM Provinsi Lampung, ditemukan 18 isolat E.coli MDR mempunyai plasmid dan 73,3% resisten terhadap ciprofloxacin. Resistensi E.coli terhadap antibiotik fluorokuinolon (misal ciprofloxacin) umumnya disebabkan mutasi kromosom pada gen gyrA dan parC, dan adanya gen plasmid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan gen resistensi ciprofloxacin, baik yang terdapat pada DNA plasmid (Plasmid Mediated Quinolone Resistance) yaitu qnr, oqxA dan oqxB maupun pada DNA kromosom (Quinolone Resistance Determining Regions) yaitu gyrAdan parC. Isolasi DNA plasmid dan kromosom dilakukan terhadap 18 isolat tadi menggunakan masing-masing kit yang sesuai. Keberadaan gen di dalam isolat dideteksi secara PCR menggunakan T100TM Thermal Cycler. Elektroforesis di dalam gel agarosa 1% dari amplikon menggunakan BIO-RADTM PowerPac. Visualisasi amplikon dengan BIO-RADTM UVITEC menghasilkan pita DNA fragmen gen qnr pada 593 bp (1 isolat), oqxA (866 bp, 2 isolat), oqxB (781 bp, 1 isolat), gyrA (191bp, 18 isolat) dan parC (264 bp, 18 isolat). Dari data tersebut dapat diusulkan bahwa resistensi terhadap ciprofloxacin diduga kuat disebabkan oleh adanya gen resistensi ciprofloxacin, baik yang berlokasi di plasmid maupun kromosom. Sekuensing DNA disarankan untuk menentukan urutan basa-basa pada pita DNA yang dihasilkan sehingga pola mutasi pada gen-gen yang berkaitan dengan MDR dapat dipecahkan.Kata Kunci : E.coli MDR ciprofloxacin, gen qnr, gyrA, oqxAB, parC.
Tumor Carcinoid Paru Hanriko, Rizki
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1725

Abstract

Tumor carcinoid paru termasuk dalam tumor neuroendokrin yang terbagi atas tipe typical dan atypical yang berbeda dalam hal prognosis. Menurut data Depkes RI 2007, kasus kanker bronkus dan paru pada pasien rawat inap sebesar 5,8% dari seluruh jenis kanker. Dari semua kanker paru, 1-2% merupakan tumor carcinoid dimana yang terbanyak adalah tipe TCTumor carcinoid paru umumnya terjadi pada usia muda kurang dari 40 tahun dengan kejadian yang sama antara pria dan wanita. TC tidak mengalami mutasi p53 atau abnormalitas ekspresi BCL2 dan BAX, sedangkan AC menunjukkan adanya 20-40% mutasi p53 dan 10-20% abnormalitas ekspresi BCL2 dan BAX.Gejala klinis sebagian besar asimptomatik dan umumnya berupa gejala obstruksi bronkus. Terapi tumor adalah reseksi dengan prognosis cukup baik. terdapat empat kategori NETs yaitu typical carcinoid (TC), atypical carcinoid (AC), large cell neuroendocrine carcinoma (LCNC), dan small cell lung carcinoma (SCLC). Typical carcinoid harus dibedakan dari yang athypical karena prognosis umumnya lebih baik dari Athypical meskipun ada metastase ke KGB. Untuk membantu membedakan tumor carcinoid dengan tumor nonneuroendokrin digunakan imunohistokimia, salah satunya MAP-2 yang sensitif dan spesifik. Prognosis cukup baik setelah reseksi tumor.Kata kunci: Gejala Klinis, Terapi Tumor, Tumor Carcnoid Paru
Hubungan antara Faktor Resiko Pajanan Lingkungan dengan Kasus Eksaserbasi Asma Bronkial di Pringsewu, Lampung Adityo Wibowo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1712

Abstract

Asma bronkial merupakan salah satu penyakit alergi yang masih menjadi masalah kesehatan baik di negara maju maupun di negara berkembang. Menurut survey Dinas Kesehatan Pringsewu pada tahun 2015 Angka kesakitan asma termasuk urutan tertinggi dari penyakit saluran pernafasan yang diderita warga. Eksaserbasi asma (serangan asma atau asma akut) adalah episode peningkatan progresif dari sesak napas, batuk, wheezing, dada terasa berat, atau beberapa kombinasi dari gejalagejala tersebut. Hal ini ditandai dengan penurunan volume udara ekspirasi yang dapat dinilai dengan pengukuran volumeekspirasi paksa detik pertama (forced expiration volume-1) atau arus puncak ekspirasi (peak expiration flow) pada pemeriksaan fungsi paru. Resiko berkembangnya eksaserbasi asma merupakan interaksi antara faktor pejamu (host factor) dan faktor lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara faktor resiko pajanan lingkungandengan kasus eksaserbasi asma bronkial di Pringsewu, Lampung. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan metode cross sectional, menggunakan data primer dan sekunder. Penelitian ini dilakukan di Klinik Spesialis Paru Harum Melati, Pringsewu, Lampung. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien asma, sampel diambil dengan metode total sampling. Jika terdiagnosa klinis asma, maka pasien akan dilakukan informed consent untuk pengisian kuesioner dan pemeriksaanpenunjang konfirmasi menggunakan spirometri sebanyak dua kali yaitu pre dan post bronkodilator. Jumlah total sampel yang memenuhi kriteria inklusi selama bulan September sampai dengan November 2016 sejumlah 60 orang. Faktor resiko penyebab asma tersering di Pringsewu, Lampung adalah debu, olahan tanaman, dan asap. Derajat keparahan pasienbervariasi akan tetapi masih didominasi oleh keparahan derajat ringan yaitu kurang dari dua kali kekambuhan dalam sebulan.Kata Kunci : derajat keparahan, ekserbasi asma bronkial, pajanan lingkungan
Hipertensi Portal pada Anak Roro Rukmi Windi Perdani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1728

Abstract

Hipertensi portal adalah peningkatan tekanan vena portal di atas 5 mmHg. Referensi lain menyebutkan tekanan normal vena portal antara 5-10 mmHg dan apabila lebih dari 12 mmHg terjadi komplikasi seperti varises dan asites. Etiologi hipertensi portal terdiri prehepatik, hepatik dan pos hepatik. Manifestasi klinis dapat berupa perdarahan gastrointestinal,splenomegali, sites, gagal hati (liver failure), dan sistemik  portoensefalopati. Tata laksana hipertensi portal terdiri dari pengobatan dengan medikamentosa terutama untuk mencegah perdarahan varises akibat peningkatan tekanan portal, dapat berupa operatif. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan antara lain Pemeriksaan hematologi menentukan adanya tanda-tanda hipersplenisme anemia, leukopenia dan trombositopenia, waktu protrombin dan faal pembekuan lainnya.Pemeriksaan fungsi hati secara biokimia, gangguan fungsi hati lebih sering didapatkan pada penyebabkan intrahepatik dibanding prehepatik. Pemeriksaan USG dapat terlihat adanya kolateral dan splenomegali, perubahan echotexture. Sedangkan colour Doppler dapat memberikan informasi kecepatan dan arah vena porta, vena hepatika, dan vena cava.Endoskopi gastrointestinal dapat digunakan untuk melihat gambaran mukosa seperti gastropati dan varises. CT dan MRI dapat digunakan untuk evaluasi lesi fokal, derajat obstruksi vena dan keadaan parenkim liver. Biopsi liver per kutan dilakukan bila tidak ada kontra indikasi terutama untuk mengetahui penyebab intrahepatik. Pengobatan medikamentosa terdiri dari short acting splanchnic vasoactive agents, growth hormone inhibitor factor, vasokonstriktor, long acting splanchnic vasoactive agents, beta-adrenergik vasoactive agents, alpha –adrenergik receptors blockers, 5HT receptor antagonis, nitrovasodilator, diuretics.Kata kunci : hepatik, hipertensi portal, poshepatik, prehepatik
Perbedaan Nilai Sebelum dan Sesudah Bimbingan Metode Small Group Learning dalam Persiapan UKMPPD Nasional Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Rika Lisiswanti; Dwita Oktaria; Merry Indah Sari; Arif Yudho Prabowo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1671

Abstract

Ujian kompetensi merupakan ujian untuk menguji kompetensi seseorang yaitu pengetahuan, keterampilan dan afektif. Ujian kompetensi untuk kedokteran adalah Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). Ujian terdiri dari CBT (Computerized-Based Test) dan ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Ujian UKMPPDmempunyai dampak terhadap metode pendidikan kedokteran. Salah satunya adalah instansi pendidikan kedokteran menyiapkan mahasiswanya dalam dengan bimbingan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan pre experimental. Yaitu mahasiswa diberikan pre-tes dan postes serta nilai CBT UKMPPD. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2017. Populasi adalah mahasiswa yang akan mengikuti Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) Februari 2017. Populasi sebanyak 68 orang. Sampel yang didapat 66 orang yang akan mengikuti ujian Computer-Based Test (CBT) UKMPPD, 2 orang tidak memenuhi syarat. Bimbingan dengan metodelSmall Group Learning dalam bentuk diskusi dan membahas soal. Pada uji normalitas data didapatkan distribusi data pre-tes, pos-tes dan UKMPPD Nasional tidak normal yaitu nilai Kolmogorov-Smirnov p<0.05. Maka dilakukan uji Wilkoxon. Nilai rata-rata pre-tes mahasiswa didapatkan 57,90. Nilai rata-rata pos-tes adalah 59,66 dan nilai rata-rata UKMPPD Nasional adalah 64.81. Uji beda antara pre-tes dan pos-tes adalah p=0.010, nilai ini <0.05yang berarti terdapat perbedaan signifikan nilai antara nilai pre-tes dan pos tes. Uji beda antara pre-tes dan UKMPPD Nasional didapatkan p=0.001, nilai ini <0.05 hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan. Uji beda antara nilai pos-tes dan nilai UKMPPD adalah p=0.00, <0.05, hal ini juga terdapat perbedaan yang sifnifikan. Terdapat perbedaan signifkan nilai sebelum dan sesudah bimbingan dengan small group learning.Keyword: mahasiswa kedokteran, small group learning, UKMPPD, ujian kompetensi

Page 2 of 3 | Total Record : 27