cover
Contact Name
Sofyan Musyabiq Wijaya
Contact Email
obiqwijaya@gmail.com
Phone
+6281559678993
Journal Mail Official
jkunila@gmail.com
Editorial Address
Jl Prof.Dr.Soemantri Brojonegoro No 1 , Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 25273612     EISSN : 26146991     DOI : 10.23960/jku
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update.
Articles 260 Documents
Efikasi Kortikosteroid dalam Pengobatan AIHA: Ade Yonata, Charity Binda Arlandi, Nurul Islamy, Juspeni Kartika Kedokteran, juke
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp7-11

Abstract

Anemia hemolitik autoimun (Autoimmune Hemolytic Anemia = AIHA) adalah kelainan yang terjadi pada eritrosit dimana terjadi kerusakan eritrosit oleh autoantibodi dalam tubuh seseorang. Hal ini menyebabkan eritrosit hancur lebih cepat karna diserang oleh autoantibodi yang diproduksi oleh tubuh pasien sendiri, sehingga terjadi hemolisis. AIHA merupakan jenis anemia yang cukup jarang terjadi. Tatalaksana yang diberikan pada pasien dengan AIHA dapat diberikan kortikosteroid sebagai lini pertama dengan dosis awal 1-1,5 mg/kgBB/hari selama 1-3 minggu pemberian hingga kadar hemoglobin mencapai lebih dari 10 g/dL. Pemberian kortikosteroid efektif pada 70-85% pasien dan dikurangi perlahan dalam jangka waktu 6-12 bulan. Data mengenai karakteristik demografi dan respon pengobatan AIHA dengan pemberian kortikosteroid belum banyak didapatkan di Indonesia. Penggunaan kortikosteroid sebagai lini pertama dari pengobatan AIHA sebelumnya didasarkan pada pengalaman dan bukan dengan bukti yang kuat. Hanya terdapat sedikit informasi yang dipublikasikan mengenai efektivitas kortikosteroid dalam pengobatan AIHA. Kata Kunci: Efikasi, AIHA, Kortikosteroid
Hubungan Antara Status Bekerja Dengan Kualitas Hidup Mahasiswa: Suharmanto suharmanto, suharmantoarman
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp12-16

Abstract

Kualitas hidup merupakan pandangan seseorang tentang kesejahteraan hidup yang dapat dipengaruhi oleh pekerjaan seseorang. Studi terdahulu mendapatkan adanya hubungan status bekerja dengan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan status bekerja dengan kualitas hidup. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung pada Januari-Februari 2025. Populasi adalah seluruh mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat sebanyak 30 orang, diambil menggunakan total sampling. Variabel dalam penelitian ini adalah status bekerja dan kualitas hidup. Alat pengumpul data dalam penelitian ini antara lain adalah kuesioner dan WHO-QOL BREF. Analisis data yang digunakan adalah persentase dan uji Chi Square. Penelitian mendapatkan responden mempunyai status belum bekerja dan bekerja sebesar 50,0%, mempunyai kualitas hidup yang baik (53,3%). Sebagian besar responden yang kualitas baik adalah dengan status belum bekerja (73,3%), sedangkan sebagian besar yang kualitas hidup kurang baik dengan status bekerja (66,7%). Penelitian mendapatkan bahwa ada hubungan antara status bekerja dengan kualitas hidup mahasiswa (p=0,028). Kata Kunci : kualitas hidup, mahasiswa, status bekerja
Hubungan Antara Aktifitas Fisik Dengan Kualitas Hidup Mahasiswa: Suharmanto suharmanto, suharmantoarman
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp17-22

Abstract

Kualitas hidup merupakan pandangan seseorang tentang kesejahteraan hidup yang dapat dipengaruhi oleh aktifitas fisik. Studi terdahulu mendapatkan adanya hubungan aktifitas fisik dengan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan aktifitas fisik dengan kualitas hidup. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung pada Januari-Februari 2025. Populasi adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung sebanyak 764 orang, diambil menggunakan purposive sampling. Variabel dalam penelitian ini adalah aktifitas fisik dan kualitas hidup. Alat pengumpul data dalam penelitian ini antara lain adalah kuesioner dan WHO-QOL BREF. Analisis data yang digunakan adalah persentase dan uji Chi Square. Penelitian mendapatkan responden mempunyai aktifitas fisik ringan (88,0%), dan mempunyai kualitas hidup yang kurang baik (56,0%). Sebagian besar responden yang kualitas baik adalah dengan aktifitas fisik sedang (70,0%), sedangkan sebagian besar yang kualitas hidup kurang baik dengan aktifitas berat (83,3%). Penelitian mendapatkan bahwa ada hubungan antara aktifitas fisik dengan kualitas hidup mahasiswa (p=0,041). Kata Kunci : kualitas hidup, mahasiswa, aktifitas fisik
Non-surgical Treatment for Recurrent Hemoptysis Due to a Pulmonary Aspergilloma: A Case Report: Adityo Wibowo, Tetra Arya Saputra wibowo, adityo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp91-96

Abstract

Aspergilloma is a distinct form of chronic pulmonary aspergillosis characterized by the formation of a fungal mass composed of living and dead Aspergillus hyphae, inflammatory cells, and tissue debris within preexisting lung cavities. The condition is predominantly caused by Aspergillus fumigatus. Aspergillomas are classified as simple or complex based on cavity wall thickness and surrounding lung parenchyma. Complex aspergillomas develop in thick-walled, fibrotic cavities and present with more severe symptoms, including hemoptysis, chest discomfort, and impaired respiratory function. Although spontaneous resolution occurs in less than 10% of cases, surgical intervention, such as segmentectomy or lobectomy, is indicated for recurrent or life-threatening hemoptysis. Non-surgical options, including antifungal therapy and bronchial artery embolization, may be considered for patients with contraindications to surgery or milder symptoms. Early recognition and appropriate management are essential to reduce morbidity and mortality associated with this potentially life-threatening condition.
TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK: INDIKASINYA, EFEK FISOLOGIS, BIOKIMIA DAN FARMAKOLOGISNYA : Syazili Mustofa, Ratu Kirana Siva Khoiri Mustofa, Syazili; Khoiri, Ratu Kirana Siva
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp102-111

Abstract

Terapi oksigen hiperbarik merupakan metode terapeutik di mana pasien menghirup oksigen murni (100%) dalam ruang bertekanan tinggi (≥1 ATA) guna meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam plasma. Terapi ini secara signifikan mempercepat pelepasan karbon monoksida dari hemoglobin dan digunakan secara klinis untuk menangani keracunan CO, penyakit dekompresi, luka iskemik, infeksi berat, serta luka kronis seperti ulkus diabetik. Efek fisiologis utama terapi oksigen hiperbarik meliputi peningkatan oksigenasi jaringan, pengurangan edema, dan stimulasi proses penyembuhan. Di tingkat biokimiawi, terapi oksigen hiperbarik memodulasi stres oksidatif dan respons inflamasi melalui peningkatan enzim antioksidan (SOD1, GPX2) dan sitokin pro-regeneratif (IL-1β, VEGF), sekaligus menekan TNF-α. Efektivitasnya juga terbukti dalam perbaikan klinis pasien COVID-19 dengan pneumonia hipoksemik melalui peningkatan saturasi oksigen dan penurunan penanda inflamasi serta koagulasi. Dengan spektrum indikasi luas dan dampak molekuler yang mendalam, Terapi oksigen hiperbarik merupakan terapi tambahan yang menjanjikan dalam berbagai kondisi klinis, meskipun beberapa kontraindikasi absolut dan relatif tetap perlu diperhatikan.
Laporan Kasus : Laki-laki 64 tahun dengan Kolangitis Akut disebabkan Koledokolithiasis dan Kelainan Anatomi Duktus Sistikus yang Bermuara pada Ductus Hepatikus Kiri serta Stenosis di Distal Duktus Koledokus: Risal wintoko, Adeodatus Yuda Handaya Wintoko, Risal
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp23-27

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan : Kelainan struktur anatomi di mana ductus cysticus (saluran kandung empedu) langsung bermuara ke ductus hepaticus kiri merupakan variasi yang sangat jarang terjadi. Persentase kejadian variasi ini diperkirakan kurang dari 1% dari populasi. Hal ini termasuk dalam variasi anatomi duktus biliaris yang tidak biasa dan penting untuk dikenali, terutama saat melakukan prosedur bedah seperti laparoskopik kolesistektomi maupun explorasi ductus billiaris, guna menghindari cedera pada saluran empedu. Kasus : Seorang laki-laki usia 64 tahun datang dengan keluhan nyeri perut kanan atas, demam, mual-mual, mata tampak kuning dan badan terasa gatal. Pemeriksaan fisik di dapatkan murphy sign, sclera ikterik dan badan kuning, dari pemeriksaan USG abdomen didapatkan batu multiple di kantong empedu dengan ukuran diameter terbesar 0,8 cm dan batu multiple kecil-kecil di Common bile duct (CBD) yang menyebabkan diltasi Common bile duct sampai Intra hepatic bile duct (IHBD). Di lakukan laparoskopi explorasi CBD saat operasi ditemukan perlengketan gallbladder dengan omentum dan struktur billier sulit diidentifikasi, kemudian diputuskan di lakukan konversi laparotomi. Dilakukan adhesiolisis dan intra operatif cholangiografi di dapatkan ductus sistikus yang bermuara pada ductus hepatikus kiri dan stenosis di distal CBD. Kemudian di putuskan dilakukan kolesistektomi, extraksi batu di CBD serta bypass koledokoduodenostomi. Diskusi : Evaluasi radiologi dengan USG abdomen, CT scan abdomen, MRI abdomen sangat di butuhkan untuk memastikan anatomi struktur billier sebelum tindakan pembedahan di lakukan untuk menghindari komplikasi. Pemeriksaan pencitraan intraoperative seperti IOC, koledokoskopi ataupun USG intraoperatif sangat di butuhkan untuk memastikan struktur anatomis dan kelainan lain yang di dapat. Kesimpulan : Kolangitis akut pada pasien ini disebabkan oleh koledokolithiasis yang diperberat dengan kelainan anatomi dan stenosis distal. Pengenalan dini terhadap kelainan anatomi biliaris sangat penting dalam merencanakan intervensi terapeutik yang tepat. Kata kunci: Kolangitis akut, Koledokolithiasis, Kelainan anatomi bilier, Duktus sistikus, Stenosis duktus koledokus
Subcutaneous Emphysema Following Chest Tube Insertion in a Patient with Secondary Spontaneous Pneumothorax Due to Chronic Obstructive Pulmonary Disease: A Case Report.: Tetra Arya Saputra, Adityo Wibowo wibowo, adityo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp28-34

Abstract

Pneumothorax, characterized by the accumulation of air in the pleural cavity and subsequent lung collapse, is a critical clinical entity with significant morbidity, particularly in patients with underlying chronic lung disease such as chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Subcutaneous emphysema, although a recognized complication of chest tube insertion, can present diagnostic and management challenges, especially in patients with severe underlying lung disease. We report the case of a 71-year-old male with a history of moderate smoking and untreated COPD who presented with acute worsening dyspnea, pleuritic chest pain, and productive cough. The patient was initially diagnosed with an acute exacerbation of COPD and subsequently developed a left-sided secondary spontaneous pneumothorax, confirmed by chest radiography. Following chest tube insertion, the patient developed extensive subcutaneous emphysema, manifesting as palpable crepitus and swelling extending from the left chest to the neck and abdomen. This case highlights the importance of early recognition and management of pneumothorax and its potential complications in patients with pneumothorax. Subcutaneous emphysema following chest tube insertion can rapidly progress and compromise respiratory function. Awareness of risk factors and vigilant monitoring are essential to optimize outcomes in this vulnerable patient population.
Waktu Paparan Layar (Screen Time): Hubungannya dengan Pola Makan dan Status Gizi Balita: Eka Putri Rahmadhani Eka Putri Rahmadhani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp34-37

Abstract

Perkembangan perangkat elektronik, ketersediaan konten digital, dan kemudahan akses internet telah mengubah pola interaksi dan aktivitas harian balita, paparan layar (screen time) baik dari televisi, tablet, maupun smartphone semakin banyak digunakan bahkan sejak usia dini. Berbagai studi menunjukkan bahwa screen time berlebihan, terutama dengan durasi yang melebihi 1 jam per hari, berkorelasi kuat dengan penurunan asupan buah dan sayur serta peningkatan konsumsi makanan ultra proses yang tinggi kalori, camilan manis, dan minuman berpemanis buatan. Paparan layar (screen time) saat waktu makan menimbulkan fenomena distracted eating, yang menyebabkan balita menjadi kurang responsif terhadap sinyal lapar dan kenyang, sehingga balita berpotensi mengonsumsi lebih banyak kalori tanpa disadari. Selain itu, paparan tersebut dikaitkan dengan perilaku picky eating dan kesulitan makan mandiri yang dapat mempengaruhi asupan gizi yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan balita terutama perkembangan kognitif, sosial dan emosional. Peran orang tua terbukti sangat penting dalam mengatur durasi dan kualitas konten yang ditonton oleh anak sehingga orang tua harus menjadi contoh bagi anak dalam menetapkan batasan waktu yang konsisten saat screen time. Intervensi yang melibatkan keluarga, pembuat kebijakan setempat, dan pemerintah menjadi kunci untuk menegakkan batasan optimal terkait screen time bagi balita selama kurang dari 1 jam/hari, serta membatasi screen time saat waktu makan. Upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan pola makan seimbang, mendukung terbentuknya status gizi optimal, dan menjamin tumbuh kembang balita yang sehat.
Dampak Desinkronisasi Jam Biologis Terhadap Aktivitas HPA-AXIS: Ayu Tiara Fitri Ayu Tiara FItri
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp97-101

Abstract

Desinkronisasi ritme sirkadian yang disebabkan oleh shift work dan jet lag berdampak langsung pada fungsi hypothalamic–pituitary–adrenal (HPA)-axis, pengatur utama respons stres dan metabolisme. Ketidaksesuaian antara suprachiasmatic nucleus (SCN) dan jam sirkadian perifer memicu peningkatan kadar basal kortisol pada pagi hari sekaligus menurunkan puncak respons kortisol terhadap stres akut. Akumulasi hormon stres ini berkontribusi pada disrupsi pelepasan sitokin pro-inflamasi (misalnya IL-6, TNFα) yang tidak terkoordinasi, sehingga melemahkan fungsi imun bawaan (Innate immunity) dan adaptif (Adaptive immunity). Selain itu, gangguan ritme kortisol berkaitan erat dengan ketidakseimbangan metabolisme energi, yang mempercepat resistensi insulin dan memicu peningkatan asupan kalori di jam yang tidak sesuai dengan fase aktif tubuh. Kondisi ini diperparah oleh perubahan ekspresi gen jam sirkadian (CLOCK, BMAL1, PER, CRY) di organ perifer, mempengaruhi homeostasis glikemik dan redoks harian. Dampak kumulatifnya adalah peningkatan risiko kardiometabolik, termasuk hipertensi, obesitas, dan disfungsi glikemik, juga terjadinya penurunan efisiensi sistem imun. Temuan tinjauan ini menekankan pentingnya pemahaman integratif mengenai mekanisme molekuler dan fisiologis desinkronisasi sirkadian dalam konteks kesehatan kerja dan klinis, sebagai dasar untuk merancang strategi pencegahan yang sesuai. Kata Kunci: Desinkronisasi sirkadian, Inflamasi, HPA-Axis, Kortisol, Metabolisme energi
Hubungan Infeksi Cacing Soil-Transmitted Helminths Dengan Status Gizi dan Anemia pada Anak Sekolah Dasar: Putri Damayanti Damayanti, Putri
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 1 (2025): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i1.pp38-43

Abstract

Infeksi cacing Soil-Transmitted Helminths (STH) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak dijumpai di negara berkembang, terutama pada kelompok anak usia pra sekolah dan usia sekolah dasar. Infeksi ini disebabkan oleh cacing nematoda usus yang menginfeksi manusia melalui larva cacing yang infektif. Prevalensi infeksi STH di Indonesia masih relatif tinggi. Infeksi STH dapat menyebabkan malnutrisi dan anemia pada anak. Jenis cacing yang menginfeksi yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus, dan Ancylostoma duodenale dapat mengganggu proses penyerapan zat gizi, menurunkan nafsu makan, serta menyebabkan kehilangan darah yang bersifat kronis. Akibatnya, anak-anak yang terinfeksi berisiko mengalami malnutrisi, penurunan berat badan, stunting, serta anemia defisiensi besi. Faktor risiko pada infeksi ini disebabkan karena tidak memakai alas kaki, tidak mencuci tangan dengan sabun, dan kurangnya edukasi tentang sanitasi. Kata kunci: Soil-Transmitted Helminth, Anemia, Status Gizi