cover
Contact Name
Hanevi Djasri
Contact Email
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Phone
+628161913332
Journal Mail Official
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Editorial Address
Gedung Epicentrum Walk Unit 716B Jl. Boulevard, Jl. Epicentrum Sel., RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12960, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
The Journal of Hospital Accreditation (JHA)
ISSN : 26567237     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.35727/jha.v1i1
Core Subject : Health,
Jurnal ini diperuntukan untuk sosialisasi artikel ilmiah terkait dengan pengembangan, penerapan dan evaluasi sistem akreditasi rumah sakit, termasuk didalamnya artikel ilmiah tentang regulasi akreditasi, standar akreditasi, manajemen lembaga akreditasi, surveior akreditasi, dan berbagai hal lain yang terkait.
Articles 89 Documents
Menjelang 30 Tahun Akreditasi Rumah Sakit Di Indonesia: Kemana Arahnya? Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.262

Abstract

Mutu pelayanan dan keselamatan pasien merupakan tantangan sistem pelayanan kesehatan global, termasuk di negara berpendapatan rendah-menengah. Tantangan ini juga dihadapi Indonesia dengan jumlah rumah sakit yang terus tumbuh untuk perluasan akses pelayanan kesehatan. Akreditasi merupakan penilaian eksternal organisasi oleh sebuah lembaga akreditasi, yang kemudian menghasilkan pengakuan publik terhadap kepatuhan organisasi tersebut dalam memenuhi standar yang ditetapkan. Keberlanjutan akreditasi akan sangat bergantung pada bagaimana posisi akreditasi dalam menjaga relevansinya di masa mendatang. Sistem akreditasi rumah sakit diharapkan dapat senantiasa beradaptasi untuk meningkatkan fokus bagi pelayanan pasien serta kebermanfaatannya untuk menurunkan biaya dan meningkatkan luaran klinis.
Measurement Of Patient Satisfaction Dimension With Fixed Orthodontic Treatment Services Using Questionnaire Modification Aya Dini Oase Caesar; Rina Kurniasri Kusumaratna; Hanevi Djasri
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v6i1.237

Abstract

AbstrakLatar belakang: Kesadaran masyarakat terkait estetik gigi semakin meningkat terutama perawatan ortodontikarena dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Keluhan pasien sering terjadi oleh karena pelayanankesehatan yang kurang memuaskan, tingginya biaya pelayanan kesehatan, sarana dan prasarana kesehatan masihsangat terbatas dan faktor-faktor lainnya yang pada akhirnya mempengaruhi kepuasan pasien terhadap layananyang diberikan oleh pihak rumah sakit. Sehingga, kepuasan pasien merupakan salah satu hal yang penting dalammengevaluasi mutu pelayanan perawatan terhadap keahlian operator di suatu rumah sakit. Peneliti memodifikasiinstrumen kepuasan pasien dari Dental Satisfaction Questionare (DSQ), Dental Visit Satisfaction Scale (DVSS)dan Survey Tool for Orthodontic Patient Satisfaction (STOPS) dalam Bahasa Indonesia dengan mengambildimensi-dimensi yang unggul pada ketiga instrumen tersebut dan disesuaikan dengan lingkungan RSGMSoelastri Surakarta.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kepuasan pasien perawatan ortodonti cekat diunit rawat jalan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Soelastri Surakarta melalui pengembangan instrumen pengukurankepuasan, analisis karakteristik pasien, serta identifikasi dimensi kepuasan yang berpengaruh terhadap mutupelayanan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan dengan uji validitas dan reliabilitasinstrumen, analisis univariat, deskriptif, bivariat dan multivariat.Hasil: Sebagian besar karakteristik responden merupakan pelajar perempuan dengan tingkat pendidikan SMP.Distribusi tingkat kepuasan responden pada penelitian ini sebagian besar menyatakan puas dengan dimensikepuasan terendah ada pada dimensi Biaya. Karakteristik responden yakni Pendidikan dan Pekerjaan yangberpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan pasien secara umum. Pendidikan dan Pekerjaan berpengaruhsignifikan pada dimensi Pengertian dan Penerimaan dan dimensi Kepuasan Umum. Hanya Pendidikan yangberpengaruh signifikan dimensi Kualitas.Kesimpulan: Mayoritas responden puas dengan pelayanan perawatan ortodonti di RSGM Soelastri Surakarta
Implementasi Pelatihan Respectful Midwifery Care Pada Bidan Untuk Memberikan Pengalaman Positif Ibu Bersalin di Tiga Fasilitas Kesehatan Primer Daerah Istimewa Yogyakarta Adisty Purinda Meygaratri; Andreasta Meliala
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v6i1.241

Abstract

Latar belakang: Daerah Istimewa Yogyakarta menempati persentase kelahiran melalui tindakan seksio sesarea yang cukup tinggi. Peran faskes primer menjadi penting khususnya mendukung ibu hamil tanpa faktor risiko untuk melakukan persalinan normal. Pelayanan kebidanan yang berkualitas tidak hanya berfokus pada keselamatan ibu dan bayi, tetapi juga pemenuhan hak, martabat, serta pengalaman positif ibu selama proses persalinan. Faktor utama dalam penguatan layanan primer adalah kompetensi bidan sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Pelatihan Respectful Midwifery Care (RMC) diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam memberikan asuhan persalinan yang berpusat pada ibu (woman-centered care). Dengan pemahaman yang baik tentang prinsip RMC, bidan diharapkan mampu menciptakan lingkungan persalinan yang aman, nyaman, dan mendukung, sehingga ibu memperoleh pengalaman persalinan yang positif. Tujuan: Mengetahui pengaruh pelatihan RMC untuk meningkatkan kompetensi bidan dalam upaya memberikan pengalaman positif ibu bersalin di tiga fasilitas Kesehatan primer Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode: Penelitian menggunakan exploratory sequential mixed method, diawali dengan penelitian kualitatif menggunakan pengumpulan data melalui focus group discussion dengan pimpinan dan bidan yang terlibat langsung dalam pelayanan persalinan di tiga klinik diikuti dengan penelitian kuantitatif menggunakan pre-post test design yang menekankan perbandingan efek intervensi pelatihan RMCnmenggunakan uji paired sample t-test dan wilcoxon dengan total responden 32 orang. Hasil: Hasil analisis dari 32 responden menunjukan bahwa terjadi perubahan 31 responden dengan peningkatan nilai mean sebesar 7,75 secara bermakna (p<0,05). Hal tersebut didukung data kuesioner post test terhadap 69 responden ibu bersalin yang berkunjung secara langsung tentang pengalaman positif saat pemeriksaan kehamilan dengan rata-rata sebesar 64,86, pengalaman persalinan dankelahiran sebesar 74,42 serta pengalaman paska kelahiran sebesar 58,89. Kesimpulan: Pelatihan RMC dapat meningkatkan kompetensi bidan dalam upaya memberikan pengalaman positif ibu bersalin di tigafaskes primer Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan memastikan bahwa karyawan mendapatkan pelatihan tepat sesuai dengankebutuhan dan bidan termotivasi, terlibat dan diberdayakan untuk merangkul dan menjaga perubahan, maka diharapkan agarpengalaman positif dapat terwujud.
Pendekatan Lean Management Untuk Meningkatkan Penulisan Resep Elektronik di Instalasi Rawat Jalan RS Pertamina Cirebon Farah Alkatiri; Erna Kirstin; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v6i1.245

Abstract

Latar belakang: RS Pertamina Cirebon memiliki aplikasi resep elektronik yang terhubung kedalam SIMRS sejak tahun 2016. Pada pelaksanaannya aplikasi belum dimanfaatkan. Penerapan kembali resep elektronik di instalasi rawat jalan tanggal 28 November 2021, dengan hasil penggunaan resep elektronik <50%, lead time obat non racikan >30 menit dan racikan >60 menit. Untuk meningkatkan mutu dan kinerja organisasi pelayanan kesehatan, IOM menyarankan penggunaan berbagai pendekatan, antaralain penggunaan lean management. Tujuan: Mengimplementasikan lean management untuk meningkatkan penggunaan resep elektronik di instalasi rawat jalan RSPC. Metode: Action Research dengan pendekatan Participatory Action Research. Analisis data kuantitatif menguji beda mean lead time, Value Added Ratio penggunaan resep elektronik sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data kualitatif dari data primer berupa hasil wawancara. Hasil: Sistem resep elektronik terdiri dari obat non racikan dan racikan. Pengurangan waste of extraprocessing, waiting dan inventory. Dilakukan perbaikan resep elektronik obat racikan. Peningkatan penggunaan resep elektronik 92%, non racikan 98% dan racikan 29%. Perbaikan lead time sistem resep elektronik dan layanan obat non racikan 31 menit 40 detik, dan racikan 45 menit 15 detik. Persepsi dokter dan petugas farmasi terkait resep elektronik dapat mempersingkat waktu layanan, mengurangi medication error dan peningkatan patient safety. Kesimpulan: Fitur resep elektronik yang ada di RSPC dapat digunakan oleh dokter. Implementasi lean management berdampak terhadap perbaikan waste, perbaikan lead time sistem resep elektronik, layanan resep elektronik obat non racikan dan racikan, perbaikan sistem resep elektronik racikan serta peningkatan penggunaan resep elektronik. Persepsi dokter dan petugas farmasi dengan adanya resep elektronik memberikan perbaikan kualitas layanan.
Menilai Budaya Keselamatan Pasien di RSGM UGM Prof. Soedomo Siti Betanegita Khairani Hanum; Haryo Bismantara; Julita Hendrartini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v6i1.247

Abstract

Latar Belakang: Budaya keselamatan pasien merupakan hal dasar dalam penerapan keselamatan pasien di rumah sakit. Budaya keselamatan pasien dalam organisasi kesehatan memainkan peran penting dalam kualitas layanan dan keselamatan. Penilaian budaya keselamatan pasien penting dilakukan karena dapat mengurangi resiko keluhan dari pasien dan adverse event. Tujuan: mengukur budaya keselamatan pasien di RSGM UGM Prof. Soedomo Metode: Desain penelitian ini adalah cross-sectional, menggunakan kuesioner Dental Office Survey on Patient Safety Culture mengadopsi instrumen kuesioner Medical Office Survey on Patient Safety Culture dari Agency Healthcare Research Quality (AHRQ), penyebaran kuesioner dilakukan pada 61 responden tenaga kesehatan (dokter gigi spesialis, dokter gigi, dokter umum, perawat gigi, perawat) di RSGM UGM Prof. Soedomo. Hasil: Keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan rerata respon positif budaya keselamatan pasien di RSGM UGM Prof. Soedomo sebesar 67,07%. Dimensi yang mempunyai rerata tinggi >75% yaitu dimensi proses klinik dan standarisasi (76,1%), pembelajaran organisasi (84,3%), pelacakan perawatan pasien/tindak lanjut (85,9%) dan kerja tim (82,6%). Dimensi dengan rerata respon positif rendah <60% terdapat pada 5 dimensi budaya keselamatan pasein yaitu dimensi komunikasi tentang kesalahan (58,8%), keterbukaan komunikasi (40,8%), persepsi keseluruhan tentang keselamatan pasien dan kualitas (59%), dukungan pemilik/mitra pengelola/pemimpin untuk keselamatan pasien (55,5%), serta tekanan dan kecepatan kerja (54,5%). Kesimpulan: Secara keseluruhan persentase respon positif pada 10 dimensi budaya keselamatan pasien di RSGM UGM Prof. Soedomo tergolong cukup baik namun masih terdapat beberapa dimensi budaya keselamatan pasien yang memerlukan perhatian dan upaya perbaikan dari pihak manajemen rumah sakit. Kata kunci: Budaya Keselamatan Pasien, Dental Office Survey on Patient Safety Culture, Medical Office Survey on Patient Safety Culture, Rumah Sakit Gigi dan Mulut
Assessment Of Drug Use And Provider Compliance In Outpatient Care Rita Prameswari; Rina Kurniasri Kusumaratna; Erna Kristin
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v6i1.249

Abstract

Background: Outpatient services represent a major source of hospital revenue and require efficient resource management. At AN-NISA Hospital, the neurology and psychiatry outpatient clinics showed the largest negative gap between INA-CBGs tariffs and hospital costs. Drug expenditures accounted for approximately 95% of the total INA-CBGs tariffs. Objective: To evaluate drug use indicators and provider compliance and to determine their association with drug use costs in neurology and psychiatry outpatient clinics. Methods: This observational analytic study employed a cross-sectional design with total sampling. A total of 769 prescriptions from National Health Insurance (JKN) outpatients with the two most common diagnoses and the highest drug use costs during October 2021 were analyzed. Drug use indicators were evaluated using WHO and National Formulary standards. Simple linear regression assessed the relationship between each independent variable and drug use costs, while multiple linear regression identified the strongest predictors. Results: Prescribing practices in both clinics did not meet WHO standards regarding adherence to the National Formulary, compliance with Referral Program (PRB) prescribing restrictions, the average number of drugs prescribed per prescription, and provider compliance. Generic prescribing met WHO standards only in the psychiatry clinic. Drug utilization costs in the psychiatry clinic were significantly associated with National Formulary prescribing (R=0.774), PRB prescribing (R=−0.092), generic prescribing (R=−0.611), the average number of drug items per prescription (R=0.221), and provider compliance (R=−0.478) (all p<0.05). In the neurology clinic, significant associations were found for National Formulary prescribing (R=0.682), PRB prescribing (R0.073), generic prescribing (R=−0.323), and provider compliance (R=−0.225), whereas the number of drug items prescribed showed no significant association (R=0.009; p>0.05). Generic prescribing was the strongest predictor of drug utilization costs in both neurology (β=−0.235) and psychiatry (β=−0.499). Conclusion: Drug use indicators and provider compliance in the neurology and psychiatry outpatient clinics have not fully met established standards and were significantly associated with drug use costs. Increasing generic prescribing may improve prescribing efficiency and reduce medication costs. Multidisciplinary collaboration among hospital management, pharmacists, information technology personnel, and clinicians is essential to promote rational prescribing and optimize healthcare costs.
Studi Kasus Rendahnya Pencatatan Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien di RSIA Buah Hati Pamulang Novayanti Zulhedi; Tjahjono Kunjoro; Andreasta Meliala
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v6i1.254

Abstract

Latar Belakang: Pelaporan insiden keselamatan pasien di beberapa negara masih tergolong rendah terutama di Indonesia. Rendahnya pelaporan insiden keselamatan pasien yang masih terjadi di beberapa rumah sakit disebabkan adanya faktor yang menghambat dalam melaporkan setiap insiden yang terjadi. Tujuan: Mengidentifikasi faktor penghambat yang menyebabkan rendahnya pelaporan insiden di sebuah rumah sakit ibu dan anak tipe C dan menganalisis solusi terhadap hambatan yang timbul dalam proses pencatatan insiden keselamatan pasien selama setahun terakhir. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus jenis eksplanatori dengan analisis triangulasi metode. Subyek dalam hal ini informan dipilih secara purposive sampling kepada 83 petugas pemberi asuhan pasien yang mengisi kuesioner dan 18 kepala unit peserta diskusi kelompok terarah. Teknik pengumpulan data melalui observasi atau telusur lapangan, kuesioner, dan diskusi kelompok terarah atau focus grup discussion (FGD) Hasil: Berdasarkan analisis triangulasi data didapatkan faktor individu berpengaruh signifikan terhadap penyebab rendahnya pelaporan insiden keselamatan pasien di RSIA Buah Hati Pamulang. Faktor individu berupa pengetahuan dan persepsi berpengaruh signifikan positif terhadap jumlah pelaporan dengan nilai t stat > t table hal ini didukung pula dengan data diskusi terarah yang telah dikategorisasi bahwa keseluruhan informan memiliki jawaban yang kurang lebih sama yaitu tidak semuanya mengetahui jenis dan definisi masing-masing insiden. Kesimpulan: Faktor individu berpengaruh terhadap jumlah pelaporan insiden keselamatan pasien. Dengan meningkatkan faktor individu yaitu pengetahuan tentang pelaporan insiden dan pelatihan tentang pelaporan insiden keselamatan pasien dapat meningkatkan angka pelaporan insiden keselamtan pasien. Kata kunci: Pelaporan insiden keselamatan pasien, studi kasus , faktor individu, dan faktor organisasi.
UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023: Omnibus Law yang Mencerahkan Mutu Pelayanan Kesehatan? Hanevi Djasri
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perjalanan regulasi kesehatan Indonesia memasuki babak baru dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, sebuah omnibus law yang menggantikan tiga UU Kesehatan sebelumnya dengan cakupan jauh lebih luas . Editorial ini mengkaji sejauh mana undang-undang tersebut mencerminkan komitmen pemerintah terhadap mutu pelayanan kesehatan, dengan menggunakan kerangka The Chain of Effect dari Berwick untuk menganalisis bagaimana intervensi regulasi di tingkat makro dapat mendorong perbaikan pelayanan klinis di tingkat mikro.
Strategi Peningkatan Mutu Pada Infeksi Kateter Intravena Perifer Dengan Siklus Plan-Do-Study-Act Luluk Purbaningrum; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v6i1.283

Abstract

Masalah mutu: Infeksi kateter intravena perifer atau flebitis masih menjadi permasalahan di rumah sakit dengan angka rerata pada pasien dewasa sebesar 0,2‰ sampai 0,9‰. Di RS Islam Yogyakarta PDHI, angka kejadian flebitis mencapai 7,99‰. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan mutu dengan melibatkan staf dan pimpinan untuk menurunkan infeksi flebitis tersebut. Solusi: Penerapan proses peningkatan mutu dengan siklus Plan-Do-Study-Act (PDSA) untuk menurunkan angka flebitis . Implementasi: Penelitian menggunakan desain action research dengan menerapkan siklus PDSA, dengan subyek penelitian tim perbaikan flebitis. Dilakukan tiga siklus PDSA, yaitu resosialisasi standar prosedur operasional (SPO) pemasangan kateter intravena perifer, resosialisasi SPO penggantian lokasi tusukan infus, dan pelaporan kejadian infeksi kateter intravena perifer melalui grup whatsapp disertai umpan balik. Data bersumber dari data sekunder Komite PPI dengan membandingkan pencapaian sebelum dan sesudah siklus PDSA serta melihat dampak perubahannya. Evaluasi: Monitoring, pendokumentasian dan pelaporan flebitis meningkat dengan tiga siklus PDSA, dengan angka kejadian flebitis sebesar 6,72‰ pada siklus pertama, meningkat menjadi 7,60‰ pada siklus kedua serta 20,17‰ pada siklus ketiga. Intervensi melalui tiga siklus PDSA belum dapat menurunkan angka infeksi kateter intravena perifer, namun meningkatkan monitoring flebitis, pendokumentasian dan pelaporan kejadiannya. Diperlukan keberlanjutan siklus PDSA untuk dapat menurunkan kejadian flebitis sesuai target.