cover
Contact Name
Zumardii
Contact Email
redaksiMAPJ@gmail.com
Phone
+6282218140922
Journal Mail Official
redaksiMAPJ@gmail.com
Editorial Address
Melayu Art and Performance Journal Institut Seni Indonesia Padangpanjang Jl. Bahder Johan Padangpanjang, Sumatera Barat.
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Melayu Arts and Performance Journal
ISSN : 26560232     EISSN : 26563509     DOI : http://dx.doi.org/10.26887/mapj
Melayu Arts and Performance Journal (MAPJ) is the Scientific Journal focusing on the study of performing arts and visual arts, as well as the development of methods for the creation of performing arts and visual arts.
Articles 128 Documents
DILEMATIKA PENGEMBANGAN MUSIK TALEMPONG TRADISI MENJADI TALEMPONG KREASI DAN TALEMPONG GOYANG DI SUMATERA BARAT Asril Asril
Melayu Arts and Performance Journal Vol 1, No 2 (2018): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v1i2.636

Abstract

ABSTRACT Talempong experiences metamorphosis from cultivated/orchestration aspect and form, from tradition into talempong kreasi and talempong goyang. This change is oriented on the diatonic musical system – by changing the musical scale/gamut into diatonic gamut. This new musical characteristic can accommodate various kinds of song such as traditional song, Minang pop-song, and dangdut so it is able to enter various people’s musical tastes. This change results on pessimistic and optimistic dilemma among people, artists, and art academics in Sumatera Barat. It’s pessimistic because the development rate of talempong kreasi has “killed” half of the social function of the talempong tradisi in the society and urged its distribution area to remote areas. Meanwhile, they who are optimistic move forward to developing talempong kreasi with bigger orchestration, with the wider scope of audience, even it can reach the outside area of Minangkabau ethnicity. This article aims at discussing the Dilemmatics of Minangkabau talempong (traditional music) development in Sumatera Barat. Observation toward the growth and development of talempong kreasi became the important data to support this research, and also simultaneously observe the existence of talempong tradisi in the society. Keywords: dilemmatics, talempong tradisi, talempong kreasi, and talempong goyang  ABSTRAK Talempong mengalami metamorfosis dari aspek garapan/orkestrasi dan bentuknya, dari tradisi menjadi talempong kreasi dan talempong goyang. Perubahan ini berorientasi pada sistem musik diatonis — dengan mengubah skala/tangga nada ke diatonis. Ciri musik “baru” ini dapat mengakomodasi berbagai jenis lagu tradisi, pop Minang, dan dangdut, sehingga ia mampu memasuki selera musik berbagai kalangan masyarakat. Perubahan ini menyisakan dilematika yang bersifat pesimistik dan optimistik di kalangan masyarakat, seniman, dan akademisi seni di Sumatera Barat. Pesimis, karena laju perkembangan talempong kreasi telah “membunuh” sebagian fungsi sosial talempong tradisi di masyarakat, dan mendesak wilayah sebarannya ke pelosok pedesaan. Sementara mereka yang optimis bergerak lebih maju mengembangkan talempong kreasi dengan orkestrasi yang lebih besar, dengan jangkauan penikmat yang lebih luas, bahkan bisa di luar kawasan etnik Minang. Artikel ini bertujuan membahas dilematika perkembangan talempong (musik tradisional) Minangkabau di Sumatera Barat. Pengamatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan talempong kreasi menjadi data penting untuk mendukung penelitian ini, dan secara bersamaan mengamati pula keberadaan talempong tradisi dalam masyarakat.
PENCIPTAAN TARI GARAK NAGARI PEREMPUAN SEBAGAI CONTOH STRATEGI PENGEMBANGAN SENI PERTUNJUKAN UNTUK INDUSTRI KREATIF EMRI EMRI
Melayu Arts and Performance Journal Vol 1, No 2 (2018): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v1i2.637

Abstract

ABSTRACT  The creation of Garak Nagari Perempuan Dance is basically an effort to revive baKaba tradition that nowadays has lack of existence in Minangkabau people’s life. The choice of reviving baKaba tradition is based on the consideration that this tradition is truly an effective media to transmit and spread various positive values that are useful in Minangkabau people own life. It’s not only in the past, that potential is believed to be able to be used in the present day, to face today’s life.Generally, performing arts (including dance) is indeed difficult to enter the creative industry because it cannot be produced en masse in the same time except involving recording industry and then it’s distributed in the society. This thing is also at risk toward the establishment of a performance that can no longer be developed. Dance in the creative industry is the embodiment of dance communication with its society. The dance that can directly enter the creative industry is the dance considered established such as what has been previously done. This results on an assumption that that dance is no longer developing. It is only as the basis of doing the new creativity. Keywords: dance, creative industry, strategy   ABSTRAK Penciptaan karya tari Garak Nagari Perempuan pada dasarnya merupakan upaya untuk menghidupkan kembali tradisi baKaba yang dewasa ini kurang eksis dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Pilihan untuk menghidupkan kembali tradisi baKaba didasarkan atas pertimbangan, bahwa tradisi ini sesungguhnya merupakan media yang efektif untuk menularkan dan menyebarkan berbagai nilai positif yang dapat berguna dalam kehidupan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Tidak  saja  di masa  lalu,  potensi  tersebut  diyakini  dapat  digunakan di masa sekarang, untuk menghadapi peri-kehidupan masakini.Seni pertunjukan secara umum (termasuk tari) memang hal yang sulit untuk memasuki industri kreatif karena ia tidak bisa di produksi secara masal dalam waktu yang sama, kecuali melibatkan industri perekaman dan kemudian dipasarkan di tengah masyarakat. Hal ini juga beresiko terhadap kemapanan sebuah pertunjukan yang tidak bisa lagi dikembangkan.Seni tari dalam industri kreatif merupakan perwujudan dari komunkasi seni tari dengan masyarakatnya. Seni tari yang bisa langsung masuk pada industri kreatif adalah seni tari yang dianggap mapan seperti yang pernah dilakukan. Hal ini menyebabkan seni tari tersebut dianggap tidak lagi berkembang. Ia hanya sebagai basic untuk melakukan kreativitas baru.
PERUBAHAN TEKS PASAMBAHAN DARI RITUAL ADAT KE PERTUNJUKAN TARI PENYAMBUTAN TAMU Jonni Jonni
Melayu Arts and Performance Journal Vol 2, No 1 (2019): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v2i1.892

Abstract

ABSTRACT Pasambahan is a negotiation through the art of speech in order to deliver an intention and objective in various traditional ceremonies of Minangkabau people. The art of arranging words in pasambahan is presented with the order of manners attended by the public  figures and  the  customary  figures;  and text  uttered  is  in  the form  of  simile or metaphor, pantun, prose, and synonim. Pasambahan is conducted by two groups namely alek (guest) and sipangka (host). Dialogue between alek and sipangka becomes an important part in every pasambahan. Pasambahan consists of several styles of negotiation theme according to the problem negotiated. Pasambahan undergoes expansion in the context of presentation, performer, and text delivered namely it doesn’t follow the main principles of pasambahan anymore such as pasambahan in the performance of Pasambahan dance. Pasambahan for performance is done one-way without dia- logue/negotiation; it doesn’t follow the structure, customary context, and rule of pasambahan anymore. This article aims at discussing the changes of pasambahan used for the performance in Pasambahan dance or for welcoming guests. Research results show that the change of text and the way of presenting pasambahan in dance performance undergo significant changes that tend to result on superficiality. Keywords: pasambahan, change, Pasambahan dance   ABSTRAK Pasambahan adalah beruding melalui seni tutur kata menyampaikan sesuatu maksud dan tujuan dalam berbagai upacara adat pada masyarakat Minangkabau. Seni merangkai kata dalam pasambahan disajikan dengan tatanan adab sopan santun, menghadirkan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan teks yang diucapkan dalam bentuk tamsilan atau metafora, pantun, prosa, dan sinonim. Pasambahan dilakukan oleh dua kelompok, yaitu alek (tamu) dan sipangka (tuan rumah). Dialogantara alek dan sipangkamenjadi bagian penting dalam setiap pasambahan. Pasambahan terdiri atas beberapa ragam tema perudingan sesuai dengan masalah yang diperundingkan. Pasambahan mengalami perluasan pada konteks penyajian, pelaku, dan teks yang disampaikan, yaitu tidak lagi mengikuti prinsip-prinsip utama pasambahan, seperti pasambahan untuk pertunjukan tari Pasambahan. Pasambahan untuk pertunjukan dilakukan satu arah tanpa dialog/ berunding, tidak lagi mengikuti: struktur, konteks adat, dan aturan mainnya. Artikel ini bertujuan membahas perubahan pasambahan yang digunakan untuk pertunjukan pada tari Pasambahan atau untuk menyambut tamu. Hasil   penelitian menunjukkan bahwa perubahan teks dan cara menyajikan pasambahan pada pertunjukan tari mengalami perubahan yang signifikan, cenderung menjadi pen- dangkalan.
KEBERADAAN PENARI LAKI-LAKI PADA TARI JOGI Restu Gustian Asra; Denny Eko Wibowo
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1347

Abstract

This article discusses the existence of male dancers in the presentation of the Jogi dance. Jogi dance is a dance originating from Batam, where the presentation of the dance movements is dominated by the technique of shaking the shoulders and noticeable hip movements. The variety of movements in the Jogi dance is referred to as duplicate related to the daily activities of the Batam people as fishermen. Applying a qualitative research method with interviewing techniques for Jogi dancers and observing the events of the Jogi performance, the discussion in this article covers the beginning of the appearance of male dancers and their development in supporting the choreography and function of Jogi dance in society. The analysis is carried out on the adaptation process carried out by male dancers in adjusting the motives of the movements of the female dancers that already exist first. The results show that the presence of male dancers in the choreography of the Jogi dance encourages new forms of presentation while finding new functions as part of a form of social action.Keywords: Jogi Dance; Presentation Form; choreography; dance functionsAbstrakArtikel ini membahas tentang keberadaan penari laki-laki dalam penyajian tari Jogi. Tari Jogi merupakan sebuah tari yang berasal dari Batam, yang penyajian gerak tarinya didominasi oleh teknik goyang bahu dan pergerakan pinggul yang kentara. Ragam gerak dalam tari Jogi disebut sebagai rangkap yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari masyarakat Batam sebagai nelayan. Menerapkan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara terhadap para penari Jogi dan observasi atas peristiwa pertunjukan Jogi, pembahasan dalam artikel ini meliputi awal mula kemunculan penari laki-laki dan perkembangannya dalam mendukung aspek koreografi serta fungsi tari Jogi di masyarakat. Analisis dilakukan atas proses adaptasi yang dilakukan oleh para penari laki-laki dalam menyesuaikan motif gerak-gerak penari perempuan yang sudah ada terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan penari laki-laki dalam koreografi tari Jogi mendorong bentuk penyajian baru sekaligus menemukan fungsinya yang baru sebagai bagian dari bentuk tindakan sosial.Kata Kunci: Tari Jogi; Bentuk Presentasi; koreografi; fungsi tari
TATA KELOLA FESTIVAL WARGA: MENATA RANGKA KERJA KOLEKTIF Dedi Novaldi; Dede Pramayoza
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 2 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1019

Abstract

This article presents the results of research on various Festival Warga management in several places in Indonesia. Festival Warga is a concept that is growing and developing today as part of the cultural literacy movement, as part of the ideals of sustainable cultural development. The purpose of research is to describe and analyze the development model of the Festival Warga, as a reference for the development of community-based festivals, with an emphasis on the development of the Festival Warga ecosystem. The research was conducted qualitatively, with primary data from involved observations and literature studies. The results of the research are presented in a descriptive analysis method, containing an offer of concepts and basic principles of developing Festival Warga. The results of the study indicate that there are three basic principles in the development of the Festival Warga: (1) Sense of Ownership and Involvement in the Festival; (2) Principles of Cadre in the Development of Production Teams; and (3) the Mutual Cooperation Pattern as an Indicator of Implementation Success.Keywords: management; festival warga; a sense of ownership; cultural ecosystem; mutual cooperation AbstrakArtikel ini menyajikan hasil penelitian tentang berbagai Tata Kelola Festival Warga di beberapa tempat di Indonesia. Festival Warga adalah sebuah konsep yang tumbuh dan berkembang dewasa ini sebagai bagian dari gerakan literasi budaya, sebagai bagian cita-cita pembangunan kebudayaan berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis model pengembangan Tata Kelola Festival Warga, sebagai referensi bagi pembangunan festival berbasis masyarakat, dengan empasis pada pembangunan ekosistem festival warga. Penelitian dilakukan secara kualitatif, dengan data primer hasil observasi terlibat dan studi pustaka. Hasil penelitian disajikan dengan metode analisis deskriptif, memuat tawaran konsep dan prinsip-prinsip dasar pengembangan festival warga di Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga prisip dasar dalam pembangunan Festival Warga, yakni: (1) Rasa Kepemilikan dan Keterlibatan dalam Festival; (2) Prinsip Pengkaderan dalam Pembangunan Tim Produksi; dan (3) Pola Gotong Royong sebagai Indikator Keberhasilan Pelaksanaan.Kata Kunci: tata kelola; festival warga; rasa kepemilikan; ekosistem budaya; gotong royong
PARABOLIC DRAMA: PENYANGKALAN TEORETIK TERHADAP TEATER ABSURD Susandro Susandro; Afrizal H; Saaduddin Saaduddin; Edy Suisno
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1342

Abstract

ABSTRACTSamuel Beckett's Waiting for Godot is one of the dramas that Martin Esslin calls the Absurd Theater. Furthermore, For Esslin, Theater of the Absurd is not only a term but a theater theory to know conventions and understand the meaning of a drama. In this way, Esslin puts the Absurd Theater into the trajectory of the development of the world's theater arts style, as well as leading the reader or audience to a perception that the life or routine that humans live in is meaningless, pointless and futile. However, the Theater of the Absurd, in the view of Michael Y. Bennett, a term that is supported by unstructured and abstract concepts. Therefore, it is necessary to develop an alternative, a term which he calls Parabolic Drama. A more structured term in understanding Waiting for Godot and other dramas that contain parallel philosophical values. This article tries to explain the dialectic of the two theater theories above, the extent to which they can bind one drama and encompass another drama. ABSTRAKWaiting for Godot karya Samuel Beckett merupakan salah satu drama yang disebut dengan istilah Teater Absurd oleh Martin Esslin. Lebih jauh, Bagi Esslin, Teater Absurd tidak hanya suatu istilah melainkan teori teater untuk mengetahui konvensi serta memahami makna suatu drama. Dengan begitu, Esslin menempatkan Teater Absurd ke dalam lintasan perkembangan gaya seni teater dunia, sekaligus menggiring pembaca atau penonton pada suatu persepsi bahwa kehidupan atau rutinitas yang dijalani manusia tidaklah bermakna, tidak ada tujuan dan sia-sia. Namun, Teater Absurd, menurut pandangan Michael Y. Bennett, istilah yang didukung oleh konsep-konsep yang tidak terstruktur serta abstrak. Oleh karena itu, perlu dibangun suatu alternatif,istilah yang disebutnya dengan Parabolic Drama.Istilah yang lebih terstruktur dalam memahami Waiting for Godotserta drama lain yang mengandung nilai filosofis yang sejajar.Artikel ini mencoba memaparkandialektika kedua teoriteater di atas,sejauh mana keduanya dapat mengikat suatu drama dan melingkupi drama lainnya.                                                                                                                                    
GRAFIS LINGKUNGAN WISATA AIR PANAS SEMURUP Rino Yuda
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1336

Abstract

In Semurup Hot spring tourism is located in Kerinci district. In the days of occupation dutch indies, Semurup Hot springs totally used by the dutch indies as a bathhouse army troops. Bathhouse hot water in this tourism has many benefits that efficacious cure diseases. In Semurup Hot spring tourism itself is have two spots hot springs separate , including hot springs 1 and 2 with various facilities and has plenty of hot springs. In Semurup Hot spring tourism it has no means of public information inadequate. In this case is necessary information systems and system a good sign of graphic environment , to simplify tourists in identifying facilities about what can and cannot approached by tourists, as hot springs at the hot water temperatures 90° C  more. The presence of a media application of Environmental Graphics, overall information about places, buildings, facilities and so forth can be well ordered.Keywords: Semurup; Hot Spring Tourism; Environmental GraphicsAbstrakDi Wisata Sumber Air Panas Semurup merupakan objek wisata yang terletak di Kabupaten Kerinci. Pada zaman penjajahan Hindia Belanda, Sumber Air Panas Semurup ini sempat dimanfaatkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai tempat pemandian prajurit militer. Pemandian Air Panas di wisata ini memiliki banyak manfaat yang berkhasiat menyembuhkan penyakit. Di kawasan wisata Sumber Air Panas Semurup ini sendiri memiliki dua tempat sumber air panas yang terpisah, diantaranya Sumber Air Panas 1 dan 2 dengan berbagai fasilitas dan memiliki banyak sumber mata air panas. Di kawasan Wisata Air Panas Semurup ini tidak memiliki sarana informasi publik yang tidak memadai. Dalam hal ini sangat diperlukan sistem informasi dan sistem tanda yang baik berupa Grafis Lingkungan, agar mempermudah wisatawan dalam mengidentifikasi fasilitas tentang apa yang boleh dan tidak boleh didekati oleh wisatawan, seperti sumber air panas pada kolam air panas dengan suhu 90° C lebih. Dengan adanya suatu penerapan media Grafis Lingkungan, keseluruhan informasi mengenai tempat, bangunan, fasilitas dan sebagainya dapat tertata dengan baik.Kata kunci: Wisata Air Panas; Semurup, Grafis Lingkungan.
REALIST ACTING APPROACH USING STANISLAVSKI CONSTANTIN ACTING METHOD IN EXTRACURRICULAR THEATER IN MAN 1 PALEMBANG Cindyana Primeisela; Dessy Wardiah; Hasan Hasan
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.1686

Abstract

The purpose of this study was to identify and describe the approach of realist acting with Konstantin Stanislavski's acting method. In this study conducted at MAN 1 Palembang with the number of students who actively participate in extracurricular theater, this study uses a qualitative research method with a descriptive approach. The data collection technique in this research is by observing, documenting, interviewing data to the supervisor and students. This study examines whether the theater extracurricular has applied a realist acting approach with Konstantin Stanislavski's acting method. The results of this study after observing this extracurricular application quite well with a realist acting approach with Konstantin Stanislavski's acting method, can be seen when students carry out the role training process seriously. into the roles they play.Keywords: Stanislavski's Acting Method; Theater Extracurricular; Realist Approach to ActingAbstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan pendekatan akting realis dengan metode akting Konstantin Stanislavski.  Penelitian ini dilakukan di MAN 1 Palembang dengan sejumlah siswa yang aktif mengikuti ekstrakurikuler teater. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan mengamati, mendokumentasikan, serta mewawancarai dosen pembimbing dan mahasiswa. Penelitian ini mengkaji apakah ekstrakurikuler teater telah menerapkan pendekatan akting realis dengan metode akting Konstantin Stanislavski. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ekstrakurikuler ini cukup baik dengan pendekatan akting realis dengan metode akting Konstantin Stanislavski, dapat dilihat ketika siswa melaksanakan proses pelatihan peran dengan sungguh-sungguh ke dalam peran yang mereka mainkan.Kata Kunci: Metode Akting Stanislavski; Ekstrakurikuler Teater; Pendekatan Realis untuk Akting
PERMAINAN ALAT MUSIK VIUL DALAM KESENIAN KRINOK DI MUARO BUNGO PROVINSI JAMBI DITINJAU DARI TEORI POSKOLONIAL Achmad Junaidi
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1348

Abstract

ABSTRACTThis article discusses the playing of the viul musical instrument in the krinok art in Muaro Bungo, Jambi Province, which is one of the provinces in Indonesia that was once occupied by a colonial nation. The research was directed to show the impact of the colonization in the form of traces that are still remaining today, in this case in the context of the krinok art. Applying qualitative research methods, the data is carried out through observation and interviews of one of the traditional artists, namely Zulkarnain, one of the viul players. Making use of concepts from postcolonial theory, which shows the impact of the impact of the meeting of different cultures, which produces a new space with an identity that is hybrid and ambivalent. ABSTRAKArtikel ini membahas tentang permainan alat musik viul dalam kesenian krinok di Muaro Bungo Provinsi Jambi, yang merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang pernah diduduki oleh bangsa penjajah. Penelitian diarahkan untuk menunjukkan dampak penjajahan tersebut berupa jejak-jejak yang masih tersisa hingga sekarang, dalam hal ini pada konteks kesenian krinok. Menerapkan metode penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara terhadap salah satu seniman tradisi yaitu Zulkarnain sebagai salah satu pemain viul. Memanfaatkan konsep-konsep dari teori poskolonial, penelitian menunjukkan adanya dampak dari bertemunya budaya-budaya yang berbeda, yang menghasilkan suatu ruang yang baru dengan munculnya identitas yang baru yang bersifat hibrid dan ambivalen. 
PENCIPTAAN FILM BABAN GALA: REPRESENTASI EKSPRESI PERSONAL SEBAGAI PANGHULU DI MINANGKABAU Ikrar Fardila
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1343

Abstract

ABSTRACTBaban Gala isan audio visual workrelatedto personal expressionof a panghulu honorary title in Minangkabau. The title Panguluor Datuakis a hereditary title according to the Minangkabau customary Tambo based on maternal line age (matrilineal). Panghulu for the Minangkabau community has a great responsibility in managing their nephew in particular and the nagari (region) community in general. Carrying an honorary degree without being equipped with disciplines about customs, is a mental burdenon the environment. Based on that the author creates an audio visual artwork of fiction film type with the application of the concept of "representation" as a expressionof personal expression. The work manship method use sthe principle of filmmaking in general, namely the stages of pre-production (preparation process), production (manufacturing process), and post-production (packaging or preparation). ABSTRAKBaban Gala merupakan sebuah karya audio visual terkait ekspresi personal terhadap sebuah gelar kehormatan seorangpanghulu di Minangkabau. Gelar Pangulu atau Datuak adalah gelar turun temurun menurut Tambo adat Minangkabau berdasarkan garis keturunan ibu (matrilineal). Panghulu bagi masyarakat Minangkabau memiliki tanggung jawab besar dalam mengatur anak kemenakannya secara khusus dan masyarakat nagari (wilayah) secara umum. Menyandang gelar kehormatan tanpa dibekali disiplin ilmu tentang adat istiadat, adalah suatu beban mental terhadap lingkungan. Berdasarkan hal itu penulis menciptakan sebuah karya seni audio visual jenis film fiksi dengan penerapan konsep “representasi” sebagai wujud pengungkapan ekspresi personal. Metode garapan karya menggunakan prinsip pembuatan film pada umumnya, yaitu dengan tahapan pra produksi (proses persiapan), produksi (proses pembuatan), dan paska produksi (pengemasan atau penyusunan).

Page 5 of 13 | Total Record : 128