cover
Contact Name
Zumardii
Contact Email
redaksiMAPJ@gmail.com
Phone
+6282218140922
Journal Mail Official
redaksiMAPJ@gmail.com
Editorial Address
Melayu Art and Performance Journal Institut Seni Indonesia Padangpanjang Jl. Bahder Johan Padangpanjang, Sumatera Barat.
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Melayu Arts and Performance Journal
ISSN : 26560232     EISSN : 26563509     DOI : http://dx.doi.org/10.26887/mapj
Melayu Arts and Performance Journal (MAPJ) is the Scientific Journal focusing on the study of performing arts and visual arts, as well as the development of methods for the creation of performing arts and visual arts.
Articles 128 Documents
KAJIAN KRITIS TERHADAP PESERTA LOMBA FLS2N CABANG TARI TINGKAT SMP TAHUN 2019 DI PROVINSI SUMATERA BARAT Venny Rosalina; Fabio Yuda
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1340

Abstract

FLS2N is one of the most prestigious competency events in the West Sumatra region. The event provided a platform to continue to hone creativity and develop West Sumatra typical dances. Traditional Minangkabau values are one of the creative sources in packaging the dances that are presented in the competition stems at FLS2N. This study aims to analyze the extent to which the development of dance offerings in dance competition participants in West Sumatra Province. The focus of this research is the winners of the junior high school dance branch in 2019 in West Sumatra Province. This research is a qualitative research with a case study approach, with data collected through direct observation and interview techniques. The results of the study show that seen from critical fist, the dance performances of the winners of the competition at the West Sumatra Province level in 2019 still use motion patterns that tend to repeat old styles and forms. That is, choreologically, it tends not to be well developed. Meanwhile, there is still a tendency for many dance numbers to give less space to female dancers. It is an unfortunate fact that considering history shows that in fact female choreographers were the developers of contemporary Minangkabau dance.ABSTRAKFLS2N Cabang Tari adalah salah satu ajang kompetensi yang bergensi diwilayah Sumatera Barat. Acara tersebut memberikan sebuah wadah untuk terus mengasah kreativitas dan mengembangkan tarian-tarian khas Sumatera Barat. Nilai-nilai tradisional Minangkabau merupakan salah satu sumber kreatif dalam mengemas tari-tari yang disajikan pada tangkai lomba di FLS2N. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana perkembangan sajian tari pada peserta lomba cabang tari di Provinsi Sumatera Barat. Fokus penelitian ini adalah para pemenang dari cabang tari tingkat SMP pada Tahun 2019 di Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus,dengan data yang dikumpulkan melalui Teknik pengamatan langsung dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari tinjuan kritis, maka sajian tari para pemenang lomba di tingkat Provinsi Sumatera Barat Tahun 2019 masih mengunakan pola gerak yang cenderung mengulang-ulang gaya dan bentuk yang lama. Artinya, secara koreologi cenderung tidak berkembang baik. Sementara itu, masih terdapat kecenderungan banyak nomor tarian yang kurang memberi tempat pada para penari perempuan.Kata Kunci: FLS2N, Tari Minangkabau, Kajian Kritis, Koreologi, Minangkabau
FILM DOKUMENTER “BENA NA NA PIA NA NA NA’A” PADA TRADISI MEMBANGUN RUMAH SUKU BENA Fentisari Desti Sucipto; Muchammad Rizky Kadafi
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1333

Abstract

Bena tribe which originally from Nusa Tenggara Timur is one of the tribe that survive with its own tradition until today. One of their belief is a symbol of their house as a human. Thus, their houses have given name. Every house represents female or male. Since they start to design the house up to finalize the building process, it has 17 steps. Every step has its particular ritual, if they do mistake on the development  process, Bena Belief they will experience the disaster. Their custom is never well- documented, therefore Bena Na Na Pia Na Na Na’a as a documentary film  is designed as a visual archive in the form of video. The artistic research methods using qualitative approach. The data collection used ethic and emic observation, semi structured interview, and visual recording data. The result was analyzed and interpreted as a script, then collaborated using visual data to be a documenter film which inform the ritual, belief and development process of Bena Traditional House.Keywords: Documentary Film entitled Bena, Bena builds house, bena tribe.AbstrakSuku Bena dari Nusa Tenggara Timur merupakan suku yang masih mempertahankan tradisi leluhur hingga saat ini. Salah satunya adalah kepercayaan mengenai rumah sebagai wujud perlambangan manusia. Sehingga rumah di Suku Bena mempunyai nama yang berbeda. Setiap rumah dapat mewakili kaum perempuan maupun kaum laki-laki. Sejak rumah mulai dirancang hingga selesai dibangun terdapat 17 tahapan. Setiap tahapan mempunyai ritual khusus, jika terdapat kesalahan pada ritual, suku Bena percaya bahwa akan terjadi bencana. Adat yang telah diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya terutama dalam konteks membangun rumah dengan segala macam ritual dan kepercayaannya belum pernah didokumentasikan dengan baik secara visual. Oleh karena itu film dokumenter Bena Na Na Pia Na Na Na’a dirancang sebagai arsip visual dalam bentuk video. Metode penelitian artistik ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi emik dan etik, wawancara semi terstruktur serta pendokumentasian secara visual dalam bentuk video. Hasil yang didapat dilakukan analisis dan diterjemahkan menjadi naskah, kemudian dikolaborasikan dengan data visual sehingga menjadi sebuah film dokumenter yang dapat menginformasikan mengenai ritual, kepercayaan dan proses membangun rumah di suku Bena.Kata Kunci: Film Dokumenter Bena, Membangun rumah suku bena, Suku Bena
AKULTURASI ESTETIK BUNGONG HIAS DALAM MASJID BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH M.zaki Al Syafani
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.1382

Abstract

Research on the aesthetic acculturation of the ornamental Bungong Baiturrahman mosque uses the theoretical framework method as an analytical scalpel; acculturation theory leads to Koentjaraningrat's thoughts, aesthetic theory, and Charles Sanders Pierce's semiotic theory understand communication evidence of signs from a reality. The analysis of the aesthetic ornamental bungong on the cross between European and Middle Eastern cultures traces the process of acculturation that affects the Baiturrahman bungong decorative mosque based on the communication literature of icon, index, and symbol indicators. The shape and meaning of ornamental bungong are based on a semiotic representation of flora, nature, calligraphy and arabesque. The elements of flora consist of Bungong Meusingklet, Bungong Ban Keumang, Bungong Meulu and Pucok Rebong. The natural form consists of a bulen star, rante, puta taloe, si oen¸ cloud, and kande lamp. Calligraphy and arabesque forms consist of geometric elements and the pronunciation of Allah with the art form of calligraphy. The ornamental bungong has a philosophical meaning as local wisdom of cultural values in regulating the social life of the Acehnese people and also influences the reference to the shape of the ornamental bungong both in terms of architecture and the application of objects scattered throughout the archipelago.Keywords: Acculturation; Aesthetics; Ornamental BungongAbstrakPenelitian pada akulturasi estetik bungong hias masjid Baiturrahman menggunakan metode kerangka teori sebagai pisau bedah analisis, teori akulturasi mengarah pada pemikiran Koentjaraningrat, teori estetika dan teori semiotika Charles Sanders Pierce memahami komunikasi pembuktian tanda-tanda dari sebuah kenyataan. Analisis bungong hias estetik terhadap persilangan budaya Eropa dan Timur Tengah, menelusuri dengan proses perjalanan akulturasi yang mempengaruhi masjid Baiturrahman bungong hias  berdasarkan literatur komunikasi indikator ikon, indeks, dan symbol. Bentuk dan pemaknaan bungong hias berdasarkan semiotik dari hasil representasi flora, alam, kaligrafi dan arabesque. Bentuk unsur flora terdiri bungong meusingklet, bungong ban keumang, bungong meulu dan pucok rebong. Bentuk alam terdiri dari bintang bulen, rante, puta taloe, awan si oen¸dan lampu kande. Bentuk kaligrafi dan arabesque terdiri dari unsur geometris dan lafad Allah dengan bentuk seni kaligrafi. Bungong hias tersebut memiliki makna filosofis sebagai kearifan lokal dari nilai-nilai budaya dalam mengatur kehidupan sosial masyarakat Aceh dan juga mempengaruhi acuan bentuk bungong hias baik dari segi arsitektur dan penererapan terhadap objek yang tersebar di Nusantara.Kata Kunci: Akulturasi, Estetik, Bungong Hias
PERMAINAN KIM: KOMPOSISI MUSIK PROGRAMA DALAM FORMAT MUSIK ELEKTRONIK Diandra Ramadhani Alifa; Rasmida Rasmida; Martarosa Martarosa
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1346

Abstract

The KIM game is a traditional Minangkabau game that uses rhymes and numbers. KIM stands for Kesenian Irama Minang (Minang Art Rhythm). The phenomenon that occurs in the current KIM game is the lack of audience awareness of the meaning and message of the rhymes sung by the dendang artis. Departing from this phenomenon, the creator presented a work titled KIM Game: Programa Music Composition in Electronic Music format. The method of creation is carried out with several work groupings: Concept development methods (observation, interviews, data collection and concept formulation) and methods of realizing concepts (exploration, experimentation, and application).Keywords: KIM game; programa music; electronic music. AbstrakPermainan KIM merupakan suatu permainan tradisi Minangkabau yang menggunakan pantun dan angka. KIM tersebut merupakan singkatan dari Kesenian Irama Minang. Fenomena yang terjadi pada permainan KIM saat ini yaitu, kurangnya kesadaran audiens terhadap makna dan pesan dari pantun yang dilantunkan tukang dendang. Berangkat dari fenomena tersebut pengkarya menghadirkan sebuah karya Permainan KIM: Komposisi Musik Programa dalam format Musik Elektronik. Metode penciptaan dilakukan dengan beberapa pengelompokan kerja: Metode pengembangan konsep (observasi, wawancara, pengumpulan data dan perumusan konsep) dan metode mewujudkan konsep (eksplorasi, eksperimentasi, dan aplikasi).Kata kunci: Permainan KIM; Musik Programa; Musik Elektronik.
KREASI SULAMAN SUJI CAIA MENGGUNAKAN TEKNIK KERANCANG TIMBUL UNTUK PAKAIAN PEREMPUAN MINANGKABAU Silva Yusalim; Susas Rita Loravianti; Nursyirwan Nursyirwan
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.1063

Abstract

The creation of “Suji Caia's embroidery creations using engineering techniques. Embossed for Minangkabau Women's Clothing” is a collaboration of Suji Caia with a manual draft embossed using gold / silver thread metallic. This Suji Caia embroidery creation is applied to Minangkabau women's clothing in the form of a veil, baju kurung and a bag. The form of this is the creation with the concept of expressing personal art as a symbol of the author's personal expression of Suji Caia. This creation is a work of textile art which is applied to Minangkabau women's clothing using rose and saik galamai motifs. In this work, the use of sequins, swarosvky and crystal crest are additional techniques used to add beauty value to the work. There are several stages in creating this artwork method, including exploration, design and embodiment stages. As a result, five works were created, the Minangkabau women's clothing set paired with Pandai Sikek songket.Keywords: Suji Caia Embroidery; Embroidery; Design, Minangkabau; Women's ClothingAbstrakPenciptaan karya seni “Kreasi Sulaman Suji Caia menggunakan Teknik Kerancang Timbul untuk Pakaian Perempuan Minangkabau” merupakan kolaborasi Suji Caia dengan kerancang manual berbentuk timbul menggunakan benang emas/ perak metalik. Kreasi Sulaman Suji Caia ini di terapkan pada pakaian perempuan Miunangkabau berupa kerudung, baju kurung dan tas. Bentuk karya ini merupakan hasil kreasi pengkarya dengan konsep ekspresi personal seni sebagai lambang ekspresi pribadi pengkarya terhadap Suji Caia. Kreasi ini merupakan karya seni tekstil yang diaplikasikan pada pakaian perempuan Minangkabau menggunakan motif mawar dan motif Saik Galamai. Dalam karya ini pemasangan payet, swarosvky dan jambul Kristal merupakan teknik tambahan yang dipakai untuk menambah nilai keindahan karya. Metode dalam penciptaan karya kriya seni ini melalui beberapa tahap, antaranya tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Karya yang diciptakan berjumlah lima set pakaian perempuan minang yang dipasangkan dengan songket Pandai Sikek.Kata Kunci: Sulaman Suji Caia; Bordir, Kerancang; Pakaian Perempuan; Minangkabau.
SENI KALIGRAFI ARAB DALAM EKSPRESI PINTO ACEH Karya Mansyah; Sulaiman Sulaiman; Nursyirwan Nursyirwan
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1341

Abstract

ABSTRACTPinto Aceh is one of the art objects or motifs that are famous among the people of Aceh and inspired by Pinto Khop. Pinto Aceh was created in 1935 by Mahmud Ibrahim with gold in the form of brooch jewelry. The creation of Pinto Aceh nowaday seen as the aspect of form which is still applied as the initial form from it was created. Based on this phenomenon, the author wishes to create a new form of Pinto Aceh arts and combines it with Arabic calligraphy but still retains its distinctive form. Arabic calligraphy is one of the arts which is known as its religious values created from Arabic letters by embellished writing. In hope this will be an inspiration for art connoisseurs and the people of Aceh. The instructor conduct the research through observation and interview, while the exploration, design and formation stages use the selection of materials, techniques and tools in accordance with the visual that will be created. The method was chosen with the aim that innovation and creation of Pinto Aceh continue to develops. The creation of this work of art is realized by applying Arabic calligraphy following the expression form of Pinto Aceh that have been developed. The artman presents a new form that has never existed before. The media and the tools used are a unity that support the creation of this work. ABSTRAKPinto Aceh adalah salah satu benda kriya seni ataupun motif yang terkenal dikalangan masyarakat Aceh dan terinspirasi dari Pinto Khop. Pinto Aceh diciptakan pada tahun 1935 oleh Mahmud Ibrahim dengan bahan emas berupa perhiasan bros. Penciptaan Pinto Aceh sekarang ini ditinjau dari segi bentuk masih diterapkan sama seperti bentuk awal diciptakan. Berdasarkan fenomena tersebut pengkarya berkeinginan menciptakan bentuk karya baru Pinto Aceh mengkombinasikannya dengan kaligrafi Arab tetapi tetap mempertahankan bentuk khasnya. Kaligrafi Arab merupakan salah satu seni yang identik dengan nilai religi yang dibuat dari huruf Arab dengan cara penulisan yang diperindah. Diharapkan hal ini dapat menjadi inspirasi bagi para penikmat seni dan masyarakat Aceh. Pengkarya melakukan riset melalui observasi dan wawancara, sedangkan tahap eksplorasi, perancangan dan pembentukkan menggunakan pemilihan bahan, teknik dan alat sesuai dengan visual yang akan diciptakan. Metode tersebut dipilih dengan tujuan agar inovasi dan kreasi Pinto Aceh terus berkembang. Penciptaan karya seni ini diwujudkan dengan mengaplikasikan kaligrafi Arab mengikuti ekspresi bentik Pinto Aceh yang telah dikembangkan. Pengkarya menghadirkan bentuk baru yang belum pernah ada sebelumnya. Medium dan alat yang digunakan merupakan satu kesatuan yang mendukung untuk terciptakanya karya ini.
TARI TABUT SEBAGAI MANIFESTASI BUDAYA MASYARAKAT KOTA BENGKULU Syielvi Dwi Febrianty; Asril Asril; Erlinda Erlinda
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1335

Abstract

This research aims at discussing Tabut dance as the cultural manifestation of Bengkulu people. Tabut dance is a creation dance sourced from Tabut ritual, namely a ritual sourced from Syiah Islam, but it has grown and developed into the typical culture of Bengkulu people. Various rituals in Tabut were symbolically arranged into a new dance namely Tabut dance. This Tabut dance is perfomed every year in Tabut celebration and several other big events whether it’s inside the Bengkulu city or outside the city. This research is a qualitative research with descriptive and analytical natures. Result achieved in this research is that Tabut dance is the cultural manifestation of Bengkulu people based on the rituals existing on Tabut ritual that is than actualized into a creation dance.Keywords: Tabut dance, Tabut ritual, cultural manifestation, Bengkulu people.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membahas tari Tabut sebagai manifestasi budaya masyarakat Kota Bengkulu. Tari Tabut merupakan tari kreasi yang bersumber dari ritual Tabut, yaitu suatu ritual yang berasal dari Islam Syiah, tetapi telah tumbuhdan berkembang menjadi budaya khas masyarakat Kota Bengkulu. Berbagai ritusyang ada di dalam Tabut ditata secara simbolik menjadi tarian baru, yaitu tari Tabut. Tari Tabut ini ditampilkan setiap tahunnya dalam perayaan Tabut dan beberapa event besar lainnya baik di dalam maupun di luar Kota Bengkulu. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan analisis. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalahbahwa tari Tabut merupakan menifestasi budaya masyarakat Kota Bengkulu yangberakar dari ritus-ritus yang ada pada ritual Tabut yang diwujudkan dalam bentuktarian kreasi.Kata Kunci: Tari Tabut, ritual Tabut, manifestasi budaya, masyarakat Kota Bengkulu.
PENERAPAN TEMATIK NYANYIAN MANTAU KE DALAM BENTUK LAGU DUA BAGIAN “MANTAU” Ana Dilla Putri
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.1070

Abstract

The art of Mantau is one of the traditional music that grows and delops in the area of Bangko Subdistrict, Merangin Regency, Jambi Province in the form of traditional singing or vocal performed by one singer. In addition to possessing vocal abilities, the singer Mantau must have to ability to deliver poems arranged in the form of poetry spontaneously according to local circumstances or events. In addition, there is a unique in Mantau art which is a characteristic of Mantau melodies that tend to uses mixolidyan modes material sung with rubato and ad libitum technique. The puspose of creating this composition is to demonstrate the composition of musical composition that are processed and developed in the orchestra format. The method used in the process of creating this musical composition is exploration, impovisation, experimentation, and formation.Keyword : Mantau; Mixolidyan modes; Composition; Orchetra.AbstrakKesenian Mantau merupakan salah satu kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di daerah Kecamatan Bangko Kabupaten Merangin Provinsi Jambi yang berbentuk nyanyian atau vokal tradisional yang dibawakan oleh satu orang penyanyi. Selain mempunyai vokal yang mempuni, penyanyi Mantau mesti memiliki kemampuan dalam menyampaikan syair-syair lagu yang tersusun dalam bentuk pantun secara spontan sesuai dengan keadaan atau kejadian setempat. Selain itu, terdapat keunikan dalam kesenian Mantau yang mana karakteristik dari melodi Mantau yang cenderung memakai material mixolidya modes dinyanyikan dengan teknik rubato dan ad libitum. Tujuan dari penciptaan musik yang diolah dan dikembangkan dengan format orchestra. Metode yang digunakan dalam proses penciptaan komposisi musik ini yaitu eksplorasi, improvisasi atau eksperimen dan pembentukan.Kata Kunci: Mantau, Mixolidyan modes, Komposisi, Orkestra.
PERFORMATIVITAS PERTUNJUKAN TARI RABBANI WAHID MEUGROUP DI SAMALANGA-ACEH Virawati Virawati; Rustim Rustim; Roza Muliati
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 2 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i2.1694

Abstract

Rabbani Wahid dance is one of the arts of the Sufi community originally from Sangso Village, Samalanga sub-district, Bireuen Aceh Province. This dance based on poem (dzikr) as a dance accompaniment. The research to discuss applocationof interteks conection poem that affect motion in performative, the conection to able building the flow of dancers in the show on performance. The method using the performance centered approach that is approach centered on performance. Result of research that showing The most important part in Rabbani Wahid dance is Meugrop which means jumping and stomping in a position standing accompanied by remembrance. Rabbani Wahid dance performance with the power influence dzikr as a subconscious show.Keywords: Rabbani Wahid Dance, Performativity, Flow performance.AbstrakTari Rabbani Wahid merupakan salah satu kesenian masyarakat sufi yang berasal dari Desa Sangso, kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen Aceh, tarian ini berangkat dari syair (zikir) sebagai pengiring tari. Penelitian ini membahas penerapan hubungan interteksi syair yang mempengaruhi gerak secara performatif, hubungan ini mampu membangun kehanyutan (flow) penari dalam pertunjukannya. Metode penelitian menggunakan pendekatan performance centered approach, yaitu pendekatan yang terpusat pada pergelaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian terpenting dalam tari Rabbani Wahid adalah Meugrop yaitu melompat dan menghentakkan kaki dengan posisi berdiri disertai zikir. Tari Rabbani Wahid dipertunjukkan dengan kekuatan pengaruh zikir sebagai bagian pertunjukan alam bawah sadar.Kata kunci : Tari Rabbani Wahid; Performativitas;Sufi; flow; Aceh  
ANTROPOSENTRISME DALAM ANIMASI PRINCESS MONONOKE KARYA HAYAO MIYAZAKI Alisca Putri Dirgantari; Yanti Heriyawati; Andang Iskandar
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 2 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i2.2113

Abstract

This study analyzes the ethics of anthropocentrism contained in the animated film Princess Mononoke. The destruction of nature contained in the film is done by the antagonists, namely Miss Eboshi, Jiko-Bou, and their followers. The research method used is Roland Barthes' semiotic analysis which looks at three stages of significance, namely denotation, connotation, and myth. The stage of film analysis begins with identifying the form of oppression in the form of the selected scene, then the data is analyzed through the interpretation of denotative and connotative meanings to find myths. The results of this study indicate that this film represents the exploitation and ethics of anthropocentrism towards nature and the Shintoism gods who protect nature so that it triggers conflict between humans and the gods. The exploitation occurs because the antagonists want to conquer nature and the gods for personal interests and ambitions to gain profit and wealth without thinking about the ethics and moral status of nature, animals and non-humans in the film Princess Mononoke.Keywords: Anthropocentrism; Exploitation of nature; Animated Film; Princess Mononoke.ABSTRAKPenelitian ini menganalisis etika antroposentrisme yang terdapat dalam film animasi Princess Mononoke. Kerusakan alam yang terdapat dalam film dilakukan oleh para tokoh antagonis yaitu Nona Eboshi, Jiko-Bou, dan para pengikut mereka.  Metode penelitian yang digunakan analisis semiotika Roland Barthes yang melihat pada tiga tahapan signifikasi yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Tahapan analisis film dimulai dengan mengidentifikasi bentuk penindasan berupa scene yang telah dipilih, kemudian data tersebut dianalisismelalui interpretasi makna denotasi dan konotasi untuk menemukan mitos. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan terjadinya eksploitasi dan etika antroposentrisme terhadap alam dan dewa-dewa Shintoisme yang menjaga alam sehingga memicu konflik antara manusia dan para dewa. Eksploitasi tersebut terjadi karena para tokoh antagonis ingin menaklukan alam dan dewa-dewa untuk kepentingan dan ambisi pribadi untuk mendapatkan keuntungan dan kekayaan tanpa memikirkan etika dan status moral alam, hewan dan yang non-manusia dalam film Princess Mononoke.Kata Kunci: Antroposentrisme; Eksploitasi alam; Film Animacasi; Princess Mononoke.

Page 7 of 13 | Total Record : 128