cover
Contact Name
Zumardii
Contact Email
redaksiMAPJ@gmail.com
Phone
+6282218140922
Journal Mail Official
redaksiMAPJ@gmail.com
Editorial Address
Melayu Art and Performance Journal Institut Seni Indonesia Padangpanjang Jl. Bahder Johan Padangpanjang, Sumatera Barat.
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Melayu Arts and Performance Journal
ISSN : 26560232     EISSN : 26563509     DOI : http://dx.doi.org/10.26887/mapj
Melayu Arts and Performance Journal (MAPJ) is the Scientific Journal focusing on the study of performing arts and visual arts, as well as the development of methods for the creation of performing arts and visual arts.
Articles 128 Documents
“JIKA DINDING BISA BERBICARA?” STREET ART DAN REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM KARYA-KARYA STENSIL DIGIE SIGIT Evan Sapentri
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1337

Abstract

This research examines Digie Sigit’s stencil works in Yogyakarta. This paper focuses on explaining and understanding the material and immaterial aspects of Digie Sigit’s stencil works along with analyzing women’s representation form which is portrayed in his works. In collecting the research data, the researcher did observation by examining Digie Sigit’s stencil works directly and doing deep interviews. Throughout his works, Digie Sigit wants to show appreciation and resistance of mothers as a heroine. He tries to create a possibility space where the public can see and directly meet his works. Women figures are chosen as power representation in earning money for living. They do not care when they are often ostracized and even do not get working assurance from the government. The public space is made as nowadays’ city representation along with as critics about life, especially for the young generation of this countryAbstrakPenelitian ini mengkaji karya-karya stensil Digie Sigit di Yogyakarta. Tulisan ini berikhtiar menjelaskan dan memahami aspek-aspek material dan imaterial karya-karya stensil Digie Sigit sekaligus menganalisis bentuk representasi perempuan yang digambarkan dalam karya stensil Digie Sigit. Dalam pengumpulan data penelitian, penulis melakukan observasi dengan mengamati karya-karya stensil Digie Sigit secara langsung dan melakukan wawancara mendalam. Melalui karyanya, Digie Sigit ingin menunjukkan apresiasi dan resistensi ibu-ibu sebagai pahlawan. Ia mencoba menciptakan ruang kemungkinan di mana publik bisa melihat dan bertemu langsung dengan karyanya. Figur perempuan dipilih sebagai representasi kekuatan dalam mencari nafkah tak peduli ia kerap dikucilkan bahkan tak diberikan jaminan kerja oleh pemerintah. Ruang publik dijadikannya sebagai representasi kota saat ini sekaligus sebagai kritik tentang kehidupan, terutama untuk anak-anak muda di negeri ini.Kata kunci: Digie Sigit, Grafiti, Ruang Publik, Stensil, Street Art
SIMBOL KASAB SEBAGAI GAGASAN PENCIPTAAN KARYA TIRAI KALIGRAFI Widyana Wulandari Z
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.1354

Abstract

The creation of the work entitled "Curtain Calligraphy" raised the Kasab symbol as the object of the invention, which focused on Kasab's values about the advice of a leader's life, which was expressed through calligraphy art sourced from the Qur'an. Kasab is a traditional object belonging to the people of South Aceh used in every implementation of conventional ceremonies, one of which is marriage. Creating this work goes through several stages—exploration, experimentation, reflection, and formation. The primary material used is Surian wood. The selection of the wood medium used has a density to be carved using a Scroll Jigsaw machine. The technique used is the filigree carving technique. The finishing technique uses black, gold, and transparent paint. There are five items created with a two-dimensional appearance. The visualization of the work is expression calligraphy becomes an ornament to fill the fields of the tongue. Based on the work of art created to proselytize, emphasis is placed on the clarity of calligraphy art.Keywords: Kasab; Calligraphy Art; Conservation; Da'wahAbstrakPenciptaan karya yang berjudul “Tirai Kaligrafi” mengangkat simbol Kasab sebagai objek penciptaan yang terfokus pada nilai Kasab tentang nasihat kehidupan pemimpin yang diekspresikan melalui seni kaligrafi bersumber dari Al-Qur'an. Kasab adalah benda adat milik masyarakat Aceh Selatan yang digunakan dalam setiap pelaksanaan upacara adat salah satunya pernikahan. Metode penciptaan karya ini melalui beberapa tahap. Tahap eksplorasi, eksperimen, perenungan dan pembentukan. Bahan dasar yang digunakan yaitu kayu surian. Pemilihan medium kayu yang digunakan memiliki kepadatan agar dapat diukir menggunakan mesin Scrool Jigsaw. Teknik pengerjaan yang digunakan yaitu teknik ukir kerawang. Tenik finishing menggunakan cat hitam, emas dan clear. Karya yang diciptakan berjumlah lima item, dengan rupa dua dimensi. Visualisasi karya merupakan ekspresi kaligrafi yang menjadi ornamen pengisi memenuhi bidang lidah-lidah. Berdasarkan karya seni yang diciptakan bertujuan sebagai dakwah penekanan bentuk lebih mengutamakan kejelasan bentuk seni kaligrafi.Kata Kunci: Kasab; Seni Kaligrafi; Konservasi; Dakwah
FENOMENA SOSIAL ANAK TUNGGAL DALAM PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK NUSANTARA “NYAK TUNGGA” Ahmad Wanda; Asep Saepul Haris; Nursyirwan Nursyirwan
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1349

Abstract

This work aims to discuss the phenomenon that occurs in the social life of a single child. The only child is a child with no siblings. Based on the results of observations and research on several children who are reviewed from internal (family) and external (environmental) factors, the fact that they have problems in living life at the age of 6 to 21 years, is called Epifani. Epiphany is a moment or experience whose effect can be positive and negative. The works are attracted to the experiences experienced by the single child, and the works relate to the empirical experience of their own works. The focus of this work is on intimidation, psychological impact and maturity created into three pieces of work. This phenomenon concerns the concept of "extravagrisical" which has an analogy structure, interpretation and clear Re-interpretation using several media (instruments) according to the function and needs of the garage. The purpose of this work is to convey the social reality faced by a single child.Keywords:Singlechildren; extramusical; NyakTunggaAbstrakKarya ini bertujuan untuk membahas fenomena yang terjadi pada kehidupan sosial anak tunggal. Anak tunggal adalah anak yang tidak mempunyai saudara kandung. Berdasarkan dari hasil observasi dan riset terhadap beberapa anak tunggal yang ditinjau dari faktor internal (keluarga) dan eksternal (lingkungan), faktanya mereka mempunyai permasalahan dalam menjalani kehidupannya pada usia 6 sampai 21 tahun, itupun disebut dengan Epifani. Epifani merupakan momen atau pengalaman yang efeknya bisa positif dan negatif. Pengkarya tertarik kepada pengalaman-pengalaman yang dialami oleh anak tunggal, dan pengkarya kaitkan dengan pengalaman empiris pengkarya sendiri. Fokus dari karya ini yaitu tentang intimidasi, dampak psikologis dan kedewasaan yang diciptakan menjadi tiga bagian karya. Hal yang menyangkut pada fenomena ini adalah konsep “ekstramusikal” yang mempunyai struktur analogi, interpretasi dan Re-interpretasi yang jelas dengan menggunakan beberapa media (instrumen) sesuai dengan fungsi dan kebutuhan garapnya. Tujuan dari karya ini yaitu ingin menyampaikan realitas sosial yang dihadapi oleh seorang anak tunggal.Kata Kunci: Anak Tunggal, Ekstramusikal, Nyak Tungga
PEMBELAJARAN MENGGAMBAR MOTIF BATIK PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 3 TANJUNG RAJA Mita Yuliana; Djunaidi Djunaidi; Nofroza Yelli
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1344

Abstract

The purpose of this study was to determine the learning process of drawing batik motifs in grade VIII students at SMP Negeri 3 Tanjung Raja. The method used in this research is descriptive qualitative, which is a research method that seeks to describe a symptom, event, event, which is happening at the present time. The research objects in this study were teachers and students, namely teachers of the arts and culture subjects at SMP Negeri 3 Tanjung Raja and grade VIII students at SMP Negeri 3 Tanjung Raja. Data collection techniques in this study were observation, interviews, and documentation. Based on the evaluation activities that have been carried out, it can be concluded that the learning activities take place very well, it can be seen from the student learning outcomes achieved. The appropriate learning method is very learning activities to make students more ready to take part in learning to draw batik motifs.ABSTRAKTujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembelajaran menggambar motif batik pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Tanjung Raja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriftif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang berusaha mendeskriftifkan suatu gejala, peristiwa, kejadian, yang terjadi pada saat sekarang. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah guru dan siswa yaitu guru mata pelajaran seni budaya di SMP Negeri 3 Tanjung Raja dan siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Tanjung Raja. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan kegiatan evaluasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran berlangsung dengan sangat baik dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang dicapai. Metode pembelajaran yang tepat sangat kegiatan pembelajaran membuat siswa lebih siap dalam mengikuti pembelajaran menggambar motif batik.Kata Kunci: Pembelajaran; Menggambar Motif Batik
PERANCANGAN TYPEFACE ITIAK PULANG PATANG Ifdal Irman
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1338

Abstract

The motif of itiak returns to patang is a sublime cultural heritage of Minangkabau. In Minangkabau society, there are three kinds of carvings that are inspired by nature. seen in the life of the Minangkabau people which still exist and are maintained until now. This idea was then developed into a concept for designing a visual typeface based on the back-to-back carving that has anatomical characters and the construction process is based on the rules in the typeface, so that this adaptation appears in Italic font. From engraved form to phonetic (single letter) its application as a font on a computer. After research and design, these ready-to-use fonts are socialized in the local area, prioritized at the education and government levels, which are used for the benefit of regional heads. The purpose of this design is to discuss and interpret the philosophical meaning contained in the carving, which reflects the life patterns of the Minangkabau people. This phenomenon is poured into the basic idea in creating an invincible typeface with the basic principles of typeface. This research method uses descriptive qualitative to reveal facts and circumstances by presenting what actually happened in the Minangkabau community. The approach used is a semiotic approach. ABSTRAKMotif itiak pulang patang merupakan warisan budaya luhur Minangkabau. Dalam masyarakat Minangkabau dikenal tiga macam jenis ukiran yang terinspirasi dari alam. terlihat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang masih ada dan dipertahankan sampai sekarang. Ide ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah konsep rancang visual typeface berbasis ukiran itiak pulang patang yang memiliki karakter anatomi dan proses konstruksi pembuatannya didasarkan pada kaidahkaidah dalam typeface, sehingga adaptasi ini muncul dalam rupa font Italic. Dari bentuk ukiran menjadi fonetik (huruf tunggal) aplikasinya sebagai font di komputer. Setelah penelitian dan perancangan, kemudian typeface yang siap pakai ini disosialisasikan di area lokal, diprioritaskan pada tingkat pendidikan dan pemerintahan, yang pada penggunaannya untuk kepentingan headline. Tujuan perancangan ini untuk membahas dan menginterpretasikan makna filosofis yang terkandung dalam ukiran itiak pulang patang yang mencerminkan pola kehidupan masyarakat Minangkabau. Fenomena ini dituangkan menjadi ide dasar dalam pembuatan typeface yang disesuaikan dengan prinsip dasar dalam typeface. Metode  penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif untuk mengungkapkan fakta dan keadaan yang ada dengan menyuguhkan apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat Minangkabau. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semiotik.Kata kunci: typeface, itiak pulang patang, font Italic 
COCONUT HUSK AS A BATIK COLORING MATERIAL Yogi Setiawan; Sri Wiratma
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.1687

Abstract

This study aims to describe how the process of making the color of batik made from coconut husk and to analyze the results of coloring batik made from coconut husk. In the research method to find out how the long effect of immersion in the color solution which will be able to produce color and also find out how the process of making the color is, researchers used descriptive qualitative research methods. After collecting data through observation research instruments, interviews and documentation. The making of natural colors in batik must be meticulous and correct, the results of the research show that the process is very influential on the final result. The results obtained at intervals of 5 hours, 10 hours, 15 hours and those that were dyed dry repeatedly for 7 times of dyeing, became a color difference that did not really affect the results obtained, the researchers concluded if the cloth was soaked in a 10 hour color solution. and above it will be the same result, based on the density of the color that will be obtained. The color produced from the coconut husk extract on the fixation of alum becomes light brown, then on the fixation it turns dark brown and on the fixation of lime it becomes yellowish brown.Keywords: coloring; coconut coir; fixation.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana proses pembuatan warna batik berbahan sabut kalapa dan menganalisis hasil dari pewarnaan batik berbahan sabut kelapa. Dalam metode penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh lama dalam perendaman larutan warna yang akan dapat menghasilkan warna dan juga mengetahui bagaimana proses pembuatan warna tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian Kualitatif Deskriptif. Setelah dilakukan pengumpulan data melalui instrumen penelitian observasi, wawancara dan dokumentasi. Pembuatan warna alami pada batik harus dengan teliti dan benar, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada proses sangat berpengaruh pada hasil akhirnya. Hasil yang diperoleh pada interval waktu 5 jam, 10 jam, 15 jam dan yang dicelup kering berulang-ulang sebanyak 7 kali pencelupan, menjadi perbedaan warna yang tidak begitu begitu berpengaruh pada hasil yang di dapatkan, peneliti menyimpulkan jika kain direndam dalam larutan warna 10 jam keatas itu akan menjadi hasil yang sama saja, berdasarkan kepekatan warna yang akan didapatkan. Warna yang dihasilkan dari ekstrak sabut kelapa pada Fiksasi tawas menjadi warna coklat terang, kemudian pada Fiksasi tunjung menjadi coklat tua dan pada Fiksasi kapur menjadi coklat kekuningan.Kata Kunci: pewarnaan; sabut kelapa; fiksasi.
PEWARISAN TARI RAWAS DALAM MASYARAKAT SUKU SERAWAI DI KAWASAN MANNA, KABUPATEN BENGKULU SELATAN Fresti Yuliza
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1334

Abstract

This paper discusses the rawas dance, which is the name of a dance that lives and develops in the Serawai ethnic community in Manna, South Bengkulu Regency. Applying a qualitative research approach with descriptive analysis methods, a review of the rawas dance is conducted to see: (2) the structure of the dance; (2) the rituals that follow; and (3) the creation myth behind it. Research shows that the rawas dance is sacred by the Manna community, because it is believed to be a dance created by a mystical force. The connection with this mystical power creates a myth about the creation of the rawas dance, which describes the process of creating this dance. The inheritance of the rawas dance then goes along with the inheritance of the myths about its creation. A form of inheritance, traditionally running from one generation to the next through a unique way of learning.Keywords: Rawas dance; Serawai myth; Menjambar ritual; dance inheritanceAbstrakTulisan ini membahas tentang tari rawas, yang merupakan nama salah satu tarian yang hidup dan berkembang dalam masyarakat suku Serawai di Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan. Menerapkan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif, tinjauan terhadap tari rawas dilakukan untuk melihat: (2)struktur tarinya; (2) ritual yang mengikutinya; serta (3) mitos penciptaan yang melatar belakanginya. Penelitian menunjukkan bahwa tari rawas disakralkan oleh masyarakat Manna, karena diyakini merupakan sebuah tarian yang diciptakan oleh suatu kekuatan mistis. Kaitan dengan kekuatan mistis ini menciptakan suatu mitos tentang penciptaan tari rawas, yang menggambarkan proses penciptaan tari ini. Pewarisan tari rawas kemudian berjalan bersama dengan pewarisan akan mitos tentang penciptaannya itu. Suatu bentuk pewarisan, berjalan secara tradisional dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui satu cara pembelajaran yang khas.Kata Kunci: Tari Rawas; ritual; mitos Serawai; ritual Menjambar; Pewarisan Tari
FUNGSI GANDANG TASA DALAM PERAYAAN MAULUIK GADANG DI NAGARI SICINCIN KABUPATEN PADANGPARIAMAN Rita Yenti
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.1056

Abstract

This research is aimed to discuss the function of gandang tasa performance which is performed in Mauluik Gadang event (Maulid Besar) in Sicincin District, Padang Pariaman Regency. The description is focused on how Gandang Tasa performs in Mauluik Gadang context.  Mauluik Gadang event starts from decision-making consensus led by all the chief of Adat society (Ninik Mamak) as tribe leaders, scholar of Islam, elite figure of society in Sicincin District. In the beginning of this event, there are Malamang activity, serving meals, variety of local authentic foods and prays held together as celebration. The main ritual of Mauluik Gadang is showing Bungo Lado, hand-made trees which are decorated some stick money. These tresses are also called Tabuik. Bungo Lado/tabuik appears in street parade from any part of villages in Sicincin District to the main mosque/ Masjid Raya Nagari Sicincin. Gandang Tasa has function to accompany the street parade gloriously and entertained.   Keywords: mauluik gadang; gandang tasa; function; ritual; tabuikAbstrakPenelitian ini bertujuan membahas fungsi pertunjukan gandang tasa yang terkait dengan perayaan mauluik gadang (maulid besar) di Nagari Sicincin,Kabupaten Padang Pariaman. Deskripsi difokuskan bentuk pertunjukan dan fungsi gandang tasa dalam kontkes mauluik gadang. Mauluikgadang dimulai dari mufakat antara niniak mamak (pimpinan kaum/suku), alim ulama dan pemuka masyarakat di Kenagarian Sicincin. Pelaksanaanmauluik gadang diawali dengan kegiatan malamang, maanta paminum kopi, bajamba dan badikie. Puncak ritual mauluik gadang adalah mengarak bungo lado, yaitu berupa benda-benda arakan yang ditempeli sejumlah uang yang sering pula disebut tabuik. Bungo lado/tabuik diarak dari berbagai arah yang berasal dari korong (kampung) yang ada di Nagari Sicincin ke Masjid Raya Nagari Sicincin/ masjid utama nagari yang selalu diiringi oleh gandang tasauntuk membangun suasana menjadi meriah.Kata kunci:mauluik gadang, gandang tasa, fungsi,bungo lado, tabuik.
DAMPAK TEKNOLOGI ATAS NILAI-NILAI SOSIAL PADA TRADISI BEKARANG SEBAGAI SUMBER PENCIPTAAN KARYA TARI SANGKUT DAK MENYAUH Suaida Suaida; Susas Rita Loravianti; Eduard Zebua
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1345

Abstract

The dance work entitled "Sangkut Dak Menyauh" is inspired by the Bekarang tradition of the Muaro Jambi community. Bekarang tradition is a fishing tradition that is carried out jointly by using tangkul, lukah, jalo. Bekarang has become one of the community traditions that must be preserved, but along with the development of the times this tradition has changed, due to the capture factor that utilizes technology with various cheats to meet human interests practically so that it can damage fish habitats and the wider environment. The instructor interpreted the impact of technology on influencing social values in the Bekarang tradition as a personal expression in the form of contemporary dance with an abstract type of environmental theme that conveys social values. The methods of creation include feeling, research, exploration of the nature of the center, improvisation, formation, and evaluation. The work consists of three parts. First abstracting the behavior of humans who abuse technology against living things. Second, how technology destroys living things. These three symbols are ritual values. ABSTRAKKarya tari yang berjudul “Sangkut Dak Menyauh” terinspirasi dari tradisi Bekarang masyarakat Muaro Jambi. Tradisi Bekarang merupakan sebuah tradisi penangkapan ikan yang dilakukan secara bersama-sama dengan menggunakan tangkul, lukah, jalo. Bekarang menjadi salah satu tradisi masyarakat yang harus dilestarikan, namun seiiring dengan perkembangan zaman tradisi ini mengalami perubahan,  yang disebabkan faktor penangkapan yang memanfaatkan teknologi dengan berbagai kecurangan untuk memenuhi kepentingan manusia secara praktis sehingga dapat merusak habitat ikan dan lingkungan lebih luas. Pengkarya menginterpretasikan dampak teknologi memengaruhi nilai sosial dalam tradisi Bekarang sebagai ekspresi personal dalam bentuk tari kontemporer dengan tipe abstrak tema lingkungan yang menyampaikan nilai-nilai sosial. Metode penciptaan diantaranya merasakan, riset, eksplorasi sifat sentrum, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi. Karya terdiri dari tiga bagian. Pertama mengabstraksikan tingkah laku manusia yang menyalahgunakan teknologi terhadap makhluk hidup. Kedua bagaimana teknologi menghancurkan makhluk hidup. Ketiga simbol nilai ritual.Kata Kunci:  sangkut dak menyauh; kontemporer; tradisi bekarang; dampak teknologi; nilai sosial
KAJIAN SEMIOTIKA TIPOLOGI TANDA PADA TEPAK SIRIH DAN BALE DI MEDAN DELI Tiara Chairunnisa
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.1688

Abstract

This study aims to determine how the understanding of Tepak Sirih and Bale Melayu is assessed based on the symbolic aspects, the relationship between the representamen and the object, and the interpretant. The method used is a descriptive qualitative method, applying Charles Sanders Peirce's semiotic theory to provide a clear description of the meaning of the typology of signs found in tepak sirih and bale Melayu in Medan Deli District. The study results explain that the presence of tepak sirih and Malay bale is a sensory representation or sign. In relation to representation and object, the company of tepak sirih and bale Melayu refers to a form or container to place something, namely betel and its perencah (tepak) and rice side dishes (malay bale). Based on the interpretation, the understanding of the tepak sirih and the Malay bale is another equivalent sign, namely as a Malay custom or culture.Keywords: Semiotics; Charles Sanders Peirce; betel palm; Malay bale AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemahaman terhadap Tepak Sirih dan Bale Melayu dikaji berdasarkan aspek representamen, hubungan representamen dengan objek, dan interpretan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan penerapan teori semiotika Charles Sanders Peirce, untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai pemaknaan tipologi tanda yang terdapat pada tepak sirih dan bale Melayu di Kecamatan Medan Deli. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kehadiran tepak sirih dan bale Melayu merupakan suatu representamen atau tanda yang bersifat indrawi. Dalam hubungan representamen dengan objek, kehadiran tepak sirih dan bale Melayu mengacu pada suatu bentuk atau wadah untuk menempatkan sesuatu, yaitu sirih dan perencahnya (tepak) serta nasi dan lauk pauk (bale Melayu). Berdasarkan interpretan, pemahaman terhadap tepak sirih dan bale Melayu merupakan tanda lain yang ekuivalen, yaitu sebagai adat istiadat atau budaya Melayu.Kata Kunci: Semiotika; Charles Sanders Peirce; tepak sirih; bale Melayu.

Page 6 of 13 | Total Record : 128