cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2011): Agustus 2011" : 7 Documents clear
PENDIDIKAN KARAKTER DAN KEPENGASUHAN ANAK Ella YULAELAWATI
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 2 (2011): Agustus 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i2.140

Abstract

Mengenal Gaya Pengasuhan Anak HERIEN PUSPITAWATI
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 2 (2011): Agustus 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i2.141

Abstract

Keluarga mempunyai peran yang sangat besar serta merupakan institusi paling awal dan paling kuat dalam mentransfer nilai dan norma kepada anak-anaknya. Karna itu, pola pengasuhan yang diterapkan orang tua sangat menentukan karakter dan perilaku anak di kemudian hari. Berbagai gaya pengasuhan yang kami jelaskan di bawah ini mesti dilihat sebagai sebuah tawaran. Orang tua bebas memilih gaya atau pola yang dimasa aman bagi anaknya, entah gaya pengasuhan otoriter, demokratis, permisif, bersifat menerima, atau bersifat menolak. Yang terpenting adalah bahwa pola pengasuhan dipilih berdasarkan kemauan sendiri dan kehendak yang kuat untuk membentuk karakter yang baik pada diri anak. Selain itu, perlu diperhatikan pada bahwa kepengasuhan dalam keluarga tidak semata-mata diserahkan kepada ibu. Meskipun ibu menjadi kunci dalam proses pengasuhan, ayah juga harus terlibat aktif Sebab, ayah memiliki kualitas-kualitas tertentu yang tidak dimiliki ibu tetapi dibutuhkan anak, seperti kualitas kepemimpinan, pencari nafkah, dan sebagainya. intinya, pembagian peran yang tepat dan keharmonisan dalam keluarga harus tercipta agar proses pengasuhan anak berjalan dengan baik sehingga, pada gilirannya, anak memiliki karater dan perilaku yang baik.
Strategi Orang Tua untuk Mengembangkan Anak yang berkualitas GURITNANINGSIH A SANTOSA
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 2 (2011): Agustus 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i2.144

Abstract

Setiap keluarga pasti mendambakan anak-anak yang dapat dibanggakan,yakni anak-anak yang memiliki kualitas yang baik. Kualitas anak harus dilihat dari berbagai aspek, seperti kemampuan intelektual, sikap, karakter, kepribadian, dan perilaku. Karena itu, ada pendapat yang mengatakan bahwa kemampuan intelekiual saja tidak: cukup, dan karenanya harus disertai dengan karakter, kepribadian, dan perilaku yang baik. Bahkan, karakter dan perilaku dianggap sebagai dimensi yang memiliki andil besar bagi keberbasilan seseorang dalam kebidupannya. Dalam tulisan ini, yang dimaksud dengan anak yang berkualitas adalah anak: yang memiliki karakter dan perilaku yang baik, antara lain memiliki rasa hormat, harga diri, percaya diri, sikap optimis, semangat, dan adil. Usaha untuk mengembangkan anak yang berkualitas tidaklah mudah, dibutuhkan strategi yang tepat dan proses yang cukup panjang. Tulisan ini diharapkan dapat memperkenalkan berbagai strategi yang dapat diadopsi orang tua untuk mengembangkan karakter dan perilaku anak agar menjadi anak yang berkualitas. Pemahaman orang tua akan strategi mengembangkan karaktel' dan pelilaku anak ini diharapkan dapat membawa implikasi bagi peningkatan jumlah anak-anak yang berkualitas di negeri ini.
Peran Keluarga dalam Pengasuhan Anak Berwawasan Gender HERIEN PUSPITAWATI
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 2 (2011): Agustus 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i2.146

Abstract

Gender adalah isu yang 'seksi" di Indonesia. Tetapi, selama ini, gender selalu diartikan salah. Ada yang menyamakannya dengan feminisme sehingga terkesan seperti sebuah gerakan perlawanan terhadap dominasi laki-laki. Ada yang melihatnya sebagai "sekat" batas antara laki-laki dan perempuan sehingga gender selalu dikaitkan hanya dengan isu­ isu perempuan seperti TKW, pelacuran, perdagangan perempuan, dan sebagainya. Pandangan yang salah ini berdampak juga pada pengasuhan anak. Pola pengasuhan anak diterapkan secara berbeda terhadap anak laki-laki dan terhadap anak perempuan. Misalnya, anak laki-laki diajarkan keberanian dan kerja keras, sementara anak perempuan diajarkan kesantunan dan kelemahlembutan. Anak laki-laki diharapkan bekerja di luar rumah, sementara anak perempuan diarahkan untuk: menjadi penanggung jawab urusan rumah tangga. Pengasuhan anak responsif gender mencoba membalikkan fenomena ini. Berbasis pada pemahaman baru tentang gender, yakni gender sebagai keberpihakan kepada salah satu pihak yang belum beruntung atau terdiskriminasi secara sosial dan budaya, pengasuhan anak responsifgender tidak membedakan perlaku terhadap anak perempuan dan laki-laki. Dengan kata lain, meskipun secara kodrati berbeda, pemberlakuan terhadap anak perempuan dan laki-laki tidak boleh dibeda­ bedakan.
Memberi Penghargaan kepada Kaum Muda' BUDI RAJAB
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 2 (2011): Agustus 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i2.147

Abstract

Ada beberapa tuduhan yang dilontarkan kepada kaum muda kini. Pertama, kaum muda kini telah kehilangan rasa nasionalisme atau emosi kolektif yang bersifat mempersatukan. Kedua, kaum muda kini mulai melupakan nilai-nilai budaya bangsa sendiri dan, bahkan, mengadopsi gaya hidup dan budaya bangsa asing. Ketiga, di tengah arus globalisasi, kaum muda kini tampil hanya sebagai resipien pasif yang tidak kreatif dan tidak produktif. Fenomena ini tentu saja berbeda dengan kaum muda di era pergerakan. Pada era itu, kaum muda tidak hanya mengangkat senjata menolak asing, tetapi memproduksi atau mengkreasi emosi kolektif atau nasionalisme. Sumpah "bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbabasa satu" adalah bukti dari nasionalisme kaum muda kurun itu. Tentu saja, kita tidak bisa seratus persen menyalahkan kaum muda kini. Ada banyak faktor lain yang menjadi penyebab permodalan di atas, termasuk kebijakan negara yang kadang tidak begitu memihak pada kaum muda. Karena itu, tulisan ini menawarkan solusi sederhana tapi efektif. Nasionalisme kaum muda kini hanya bisa tumbuh jika negara dan masyarakat memfasilitasi kreativitas dan inovasi kaum muda serta memberi penghargaan (material dan immaterial) terhadap karya-karya inovatif mereka. Selanjutnya, penghargaan yang diberikan memupuk rasa bangga, dan kebanggaan adalah benih bagi kemunculan nasionalisme.
Deviasi Peran Dan Komunikasi Pengasuhan Dalam Keluarga Anak -Anak Marjinal (Kajian Lapangan pada Anak-Anak Pengamen Kota Cirebon) ATWAR BAJARI
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 2 (2011): Agustus 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i2.158

Abstract

Salah satu agenda penting Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat dalam kurun 2010- 2014 adalah memperluas jangkauan layanan dan keberpihakan kepada masyarakat marjinal. Demikian juga halnya dengan parenting, program ini mesti diarahkan untuk menjangkau kelompok masyarakat marjinal ini. Persoalannya, kultur masyarakat marjinal (misalnya, cara mendefinisikan diri, pandangannya terhadap keluarga dan lingkungan, perilaku berkomunikasi, dan sebagainya) berbeda dengan kultur masyarakat pada umumnya. Sehingga, pola-pola parenting yang' berlaku umum sering tidak bisa diterapkan dengan mudah pada masyarakat marjinal ini. Dengan demikian, masyarakat marjinal membutuhkan pola-pola parenting yang unik dan sesuai dengan kulturnya. Tulisan ini mencoba mengupas kultur khas masyarakat marjinal tersebut pada anak-anak pengamen jalanan di Kota Cirebon. Tulisan ini berisi tentang bagaimana anak pengamen memaknai dirinya, memaknai perannya bagi keluarga dan lingkungan, serta pola komunikasi yang terjadi antara dirinya dengan keluarga, lingkungan, dan teman di jalanan. HasiL-hasil penelitian ini merekomendasikan beberapa syarat bagi keberhasilan program parenting pada masyarakat marjinal komunitas pengamen jalanan. Parenting, pada anak-anak ini, harus dibarengi dengan penguatan kecakapan keorangtuaan, peningkatan peran sekolah sebagai pendamping, dan perubaban cara pandang pemerintah terbadap mereka.
Pengasuhan Anak Berbasis Kearifan Lokal AGUSTINUS HARTONO
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 2 (2011): Agustus 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i2.193

Abstract

Parenting berbasis kearifan lokal dipahami sebagai pola pengasuhan anak dengan menggunakan metode yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak, mengandung nilai-nilai luhung, serta berasal dan hidup di tengah lingkungan dimana orang tua tinggal. Berdasarkan pemahaman ini, permainan rakyat dan dongeng merupakan dua metode yang sesuai dengan kriteria ini. Permainan rakyat dan dongeng menyimpan nilai­ nilai atau kearifan lokal yang sangat berguna bagi pembentukan karakter dan perilaku anak. Selain itu, permainan rakyat dan dongeng sangat efektif untuk mengembangkan segala dimensi anak sebagai manusia. Permainan rakyat dan dongeng, dengan demikian, tidak hanya membentuk karakter anak, tetapi juga dapat mengembangkan dimensi kognisi, psikomotorik, sosial, bahkan spiritual anak. Lebih jauh, pengasuhan dengan menggunakan permainan rakyat. dan dongeng berupaya untuk melestarikan budaya asli indonesia di tengah gempuran permainan dan cerita-cerita import.

Page 1 of 1 | Total Record : 7