cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012" : 6 Documents clear
Situasi Keaksaraan Dunia Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D.
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.233

Abstract

Pendahuluan Dewasa ini sering kita dengar isu mengenai krisis keaksaraan. Meskipun bahasan akan situasi krisis tersebut terkesan sedikit dibesar-besarkan untuk kepentingan politik, kita tidak dapat pungkiri bahwa isu keaksaraan saat ini masih memegang peran penting untuk diidentifikasi dan ditelaah lebih jauh. Sebagian besar isu keaksaraan berhubungan dengan tuntutan kompetensi beraksara yang semakin meningkat di masyarakat dan tidak meratanya distribusi kompetensi tersebut. Keaksaraan telah dan akan terus menjadi dasar untuk aspirasi politik dan budaya manusia kontemporer. Hal ini menjadikan keaksaraan memegang peran penting dalam dunia pendidikan, pemberdayaan dan pengembangan. Situasi keaksaraan terkini di negara-negara E-9, ASEAN dan Timor Leste akan menjadi fokus elaborasi dalam tulisan ini. Keaksaraan perlu dipahami dalam konteks pendekatan berbasis hak azasi manusia dan bagian dari prinsip inklusi untuk pembangunan manusia. Rasionalisasi pengakuan terhadap keaksaraan sebagai hak terletak pada himpunan manfaat dan dampak yang diberikan kompetensi keaksaraan pada individu, keluarga, masyarakat dan bangsa. Keaksaraan adalah hak. Hal ini tersirat dalam hak atas pendidikan. Dalam lingkup internasional, keaksaraan diakui sebagai hak. baik bagi anak- anak maupun orang dewasa. Keaksaraan telah diakui bukan hanya sebagai hak. tetapi juga sebagai mekanisme untuk mencapai hak asasi manusia lainnya: keaksaraan menganugerahkan berbagai manfaat dan memperkuat kemampuan individu. keluarga dan masyarakat untuk mengakses peluang kesehatan, pendidikan, ekonomi, politik, dan budaya. Keaksaraan, selain menjadi hak asasi manusia yang fundamental, merupakan landasan untuk mencapai Pendidikan untuk Semua, termasuk mengurangi kemiskinan manusia. Dengan demikian. dalam konteks ini, keaksaraan merupakan hal yang lebih dari sekedar fundamental.
Pengembangan Kewirausahaan melalui Layanan Pendidikan Masyarakat Dr. Elih Sudiapermana
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.235

Abstract

Pendahuluan Pendidikan, kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi merupakan tiga hal yang saling terkait. Pendidikan dapat membantu menekan angka pengangguran dan kemiskinan, dengan syarat pendidikan dapat ditransformasi menjadi instrumen progresif, sehingga mampu memproduksi sumberdaya manusia yang kreatif dalam skala masif. Tingkat pendidikan yang rendah sering kita jumpai melekat pada penduduk yang kurang beruntung perekonomiannya (marjinal). Rendahnya pendidikan yang dimiliki oleh penduduk miskin membuat mereka kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, sehingga menghambat mereka untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi, karena tidak memperoleh pekerjaan yang layak ataupun tidak dapat mengembangkan potensi kewirausahaannya. Kewirausahaan di Indonesia belum berkembang optimal. Secara kuantitatif, jumlah wirausaha di ini hanya 0.8% dari jumlah penduduk sebesar 230 juta. Setidaknya diperlukan wirausaha sebanyak 2.5% dari total jumlah penduduk untuk mampu menunjang perekonomian suatu Negara. Hal ini dikarenakan wirausaha mampu menghasilkan output yang bernilai ekonomi tinggi sekaligus pada saat yang sama mampu mengatasi tingginya angka penggangguran. Strategi menumbuhkembangkan wirausaha baru dapat dilakukan melalui jalur pendidikan baik formal maupun nonformal. Oleh karena itu, pendidikan kewirausahaan memiliki nilai strategis untuk dibelajarkan pada setiap jenjang dan jalur pendidikan. Sebuah studi dengan menggunakan data dari Survey Keaksaraan Orang Dewasa Internasional menyimpulkan bahwa perbedaan tingkat rata-rata keterampilan di antara negara Organization for Economic Coaperation and Development (OECD) dimana terdapat 55% perbedaan pertumbuhan ekonomi pada tahun 1960-1994, menyiratkan bahwa peningkatan level keterampilan dapat menghasilkan kembalinya perekonomian yang besar. Studi lainnya yang dilakukan terhadap 44 negara Afrika menemukan bahwa keaksaraan merupakan salah satu variabel yang berefek positif pada pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) per kapita. Sementara itu, sebuah survey pada sebagian besar 33 negara Islam sedang berkembang menyimpulkan bahwa tingkat keaksaraan orang dewasa dan pendaftaran sekolah, keduanya memiliki dampak positif pada pertumbuhan ekonomi. Data hasil sensus penduduk Indonesia tahun 2010 sebagaimana gambar-I dibawah ini menggambarkan adanya keterkaitan keberaksaraan penduduk dan kondisi ekonomi suatu daerah.
Pembelajaran Kewirausahaan Masyarakat Yoyon Suryono
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.236

Abstract

ABSTRAK Pendidikan kewirausahaan masyarakat melalui program aksara kewirausahaan yang memiliki tiga kegiatan utama pelatihan, rintisan inkubator bisnis, dan rintisan sentra wirausaha dirancang untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan masyarakat yang membuka peluang munculnya para wirausahawan yang mampu mengembangkan keberaksaran masyarakat pada berbagai bidang. Pada tahun: 2010 dan 2011 telah diujicoba di berbagai provinsi melalui PKBM dan LPK, yang mengajukan bantuan dana untuik menyelenggarakan program aksara kewirausahaan. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa program aksara kewirausahaan telah dilaksanakan dengan tingkat ketercapaian tujuan yang masih beragam. Beberapa kendala yang di hadapi antara lain belum optimalnya pemanfaatan faktor masukan dan proses pembelajamn sehingga ketercapaian tujuan belum maksimal yang pada akhirnya juga keterwujudan manfaat dan dampak dari program ini belum nampak kelihatan. Memerlukan upaya penguatan ke depan dengan menata dan !ebih memberdayakan faktor masukan dan proses pembelajaran sehingga keluaran, manfaat, dan dampak dari program ini akan semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat.
Strategi Pengembangan Kewirausahaan Masyarakat melalui Aksara Kewirausahaan Sungkowo Ed Mulyono
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.237

Abstract

Abstrak Salah satu masalah besar yang terjadi di Indonesia adalah pegangguran. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2010 tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7, 14% atau 8,3 juta orang dan 116,5orang angkatan kerja. Angka tersebut sebenarnya masih under value, artinya jumlah yang sebenarnya jauh lebih besar karna beberapa indikator tidak dimasukan, seperti para pekerja informal yang sebenarnya sedang mencari pekerjaan. Sedangkan menurut Presiden Boston lnstitut for Developing Economies, Gusta F Papanek setiap tahun ada 2 juta orang Indonesia mencari pekerjaan. Berarti sejak krisis ekonomi 1998, ada 22 juta pengangguran, sedangkan yang mendapat pekerjaan hanya 5.5 juta orang (Tempo Interaktif 2 April 2010). Untuk mengatasi persoalan pengangguran tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencanangkan salah satunya adalah pendidikan aksara kewirausahaan yang terintegrasi dengan kecakapan hidup yang mana bertujuan untuk memberikan keterampilan berupa wirausaha masyarakat, agar mereka memiliki mata pmcaharian serta mampu meniingkatkan kesejahteraan hidupnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi studi literature. Lokasi penelitian berada di 6 provinsi dan Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 6 informen dan 12 responden yaitu peserta didik dalam pendidikan dan pelatihan kewirausahaan masyarakat. Hasil penelitian menghasilkan profil aksara kewirausahaan model strategis pengembangan kewirausahaan . Penelitian ini menyimpulkan bagaimana model kewirausahaan melalui aksara kewirausahaan. Saran peserta pelatihan yang sekaligus pelaku kewirausahaan diharapkan dapat lebih kreatif dan inovatif yang mampu membuat produk baru , selain itu juga menjalin kerjasama dengan pihak terkait sehingga pemasaran produk memiliki akses yang lebih luas.
Hubungan Efikasi Diri dan Minat Berwirausaha pada Orang Dewasa (Survei Pada Karyawan Universitas Negeri Jakarta) Dedi Purwana, ES; Dra. Nurahma Hajat, M5i.; Setyo Ferry Wibowo. S.E.,M5i.
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.239

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan minat berwiirausaha karyawan saat memasuki masa purnabakti. Populasi penelitian adalah tenaga kependidikan di UNJ yang bukan pimpinan dan saat ini tidak memiliki usaha yang menjadi sumber penghasilan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode acak, khususnya teknik acak sederhana. Teknik Analisis yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif, korelasi dan regresi linier sederhana. Merujuk pada temuan pada analisis deskriptif variabel penelitian, beberapa indikator dari efikasi diri yang direspon rendah oleh responden adalah mampu menciptakan produk yang unik, memiliki hemampuan untuk meyakinkan investor; dan mampu membangun kepercayaan investor. Berdasarkan uraian deskriptif tentang karakteristik responden, beberapa temuan antara lain: relative sedikitnya jumlah responden yang telah memasuki masa purnabakti dan tetap diperbantukan sebagai karyawan; terkait dengan jenjang pendidikan responden, sebagian responden memiliki jenjang pendidikan menengah atas, dan diduga kurikulum SMA belum memasukkan kewirausahaan sebagai bagian dari kompetensi yang harus dikembangkan pada saat mereka menempuh pendidikan; pada kelompok pengeluaran di bawah Rp. 1 juta sampai dengan kelompok pengeluaran Rp. 3-3,99 juta, terdapat tren pengeluaran yang meningkat seiring dengan meningkatnya usia, dengan rata­rata waktu menjelang pensiun ketiga kelompok tersebut adalah 15 tahun dan diasumsikan laju pertumbuhan inflasi adalah 8% per' tahun, maka pengeluaran responden akan meningkat 2,17 kali lipat saat mereka memasuki masa purnabakti; sebagian responden hanya memiliki satu sumber penghasilan, mayoritas responden dalam kelompok ini sudah berkeluarga dan diduga memiliki pasangan yang tidak bekerja; responden yang memiliki lebih dari 2 sumber penghasilan hanya 1,4% responden. Dalam pengujian hipotesis, seluruh persyaratan penggunan teknik analisis terpenuhi. Hasil uji Hipotesis mendukung dugaan awal terdapatnya hubungan antara efikasi diri dan minat berwirausaha. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan: 1) secara umum dapat dideskripikan bahwa responden memiliki tingkat efikasi dan minat berwirausaha yang relatif tinggi, dan 2) terdapat hubungan positif antara efikasi diri dengan minat berwirausaha. Sebesar 266% variasi nilai minat berwirausaha dijelaskan oleh efikasi diri.
Bahasa Ibu Jembatan dalam Pendidikan : Implementasi dan Strategi Pembelajaran Keaksaraan bagi Penutur Bahasa Ibu Ade Kusmiadi
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.241

Abstract

Abstrak Buta aksara merupakan problema negara-negara berkembang di Dunia, Indonesia adalah salah satu dari 9 negara berpenduduk terbesar penyandang buta aksara. Sebagian besar penyandang buta aksara (70 %) berdomisili di daerah pedesaan, terutama di daerah-daerah terpencil Lebih dari 60% penyandang buta aksara tersebut ada pada kelompok usia 45 tahun ke atas dan hampir 100 % dari mereka adalah pematur bahasa ibu di daeralrnya. Berbagai kebijakan penanganan dan metode pendekatan dalam penuntasan buta aksara terus dilakukan tidak ada hanya oleh pemerintah, tertapi oleh berbagai pihak. Pendekatan dan metodologi yang tepat sesuai dengan karakter wilayah georafis, sosial budaya, dan bahasa ibu (mother tongue) dan etnik dicari dan dikembangkan terus. Salah satu model pembelajaran keaksaraan yang sesuai dengan karakter penyandang buta aksara seperti di atas adalah berbasis bahasa ibu. Selain dapat diterima oleh calon peserta didik, juga akan menjadi jembatan untuk proses pembelajaran akademik dan bahasa nasional.

Page 1 of 1 | Total Record : 6