cover
Contact Name
Sri Suryanti
Contact Email
srisuryanti@umg.ac.id
Phone
+6281280297873
Journal Mail Official
didaktika@umg.ac.id
Editorial Address
Faculty Teacher Tranining and Education, Universitas Muhammadiyah Gresik Jl. Sumatera No. 101 GKB Kebomas Gresik Provinsi Jawa Timur
Location
Kab. gresik,
Jawa timur
INDONESIA
Didaktika: Jurnal Pemikiran Pendidikan
ISSN : 16934318     EISSN : 26218941     DOI : http://dx.doi.org/10.30587/didaktika
Core Subject : Education,
didaktika Jurnal Pemikiran Pendidikan memuat hasil penelitian dibidang pendidikan, baik pendidikan matematika, pendidikan bahasa inggris maupun pendidikan dasar
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 20 No 2 (2014)" : 9 Documents clear
PENINGKATAN KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM PEMBUKTIAN TEOREMA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW admin admin; Nur Fauziyah
DIDAKTIKA Vol 20 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.117 KB)

Abstract

Sebagai calon pendidik, mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika dibekali dengan kompetensi professional. Kompetensi profesioanal diberikan melalui mata kuliah keahlian yang salah satunya adalah mata kuliah Analisis Real. Materi Analisis Real 1 terstruktur dimulai dengan konsep, definisi konsep, sifat, pembuktian teorema dan lemma diakhiri dengan pembahasan soal-soal pembuktian. Pembuktian teorema dan lemma serta soal-soal yang dalam bentuk pembuktian ini yang menjadi alasan mahasiswa bahwa mata kuliah ini adalah mata kuliah yang paling sulit. Referensi dalam bahasa inggris juga menjadi alasan sulitnya mahasiswa dalam memahami materi. Untuk mengatasi hal tersebut beberapa metode pembelajaran pernah dicoba, diantaranya metode ceramah dan presentasi. Namun dengan metode tersebut masih belum dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam pembuktian teorema-teorema.Berdasarkan permasalahan tersebut maka tim lesson study (LS) mencoba menerapkan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Kegiatan LS dilaksanakan sebanyak 4 siklus dan setiap siklusnya terdapat 3 tahap yaitu, plan, do dan see. Kegiatan plan dilaksanakan bersama tim dengan tujuan untuk menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, SAP, LKM, modul dan media. Kegiatan do merupakan implementasi dari perangkat pembelajaran ke dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang dosen model. Sedangkan anggota tim lain yang tidak menjadi dosen model melakukan observasi aktivitas mahasiswa. Setelah pembelajaran selesai dilaksanakan, tim melakukan refleksi pembelajaran yang disebut dengan see.Berdasarkan analisis data pada hasil observasi dari siklus 1 sampai 4 terjadi peningkatan kemampuan mahasiswa dalam pembuktian teorema, meskipun pada siklus ke-3 mengalami penurunan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam membuktikan teorema.
MODEL KONSTRUKTIVISME UNTUK MENCIPTAKAN DISKUSI YANG EFEKTIF DAN PRESENTASI YANG INTERAKTIF DALAM PEMBELAJARAN MATA KULIAH INTRODUCTION TO RESEARCH IN ELT admin admin; Totok Indra Suswanto
DIDAKTIKA Vol 20 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.818 KB)

Abstract

Sebuah permasalahan muncul didalam kelas ketika proses diskusi dan presentasi tidak bisa berjalan dengan efektif dan interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan diskusi yang efektif dan presentasi yang interaktif dengan menggunakan model konstruktivisme dalam pembelajaran mata kuliah Introduction to Research in English Language Teaching di mahasiswa semester 5 program Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Gresik. Metode penelitian ini menggunakan rancangan Lesson Study dengan menggunakan tiga landasan, yaitu merencanakan (Plan), implementasi pembelajaran (Do), mengobservasi dan merefleksi kegiatan pembelajaran (See) yang dilaksanakan dalam empat siklus pembelajaran. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model konstruktivisme ternyata mampu menciptakan sebuah diskusi yang efektif dan presentasi yang interaktif di dalam kelas. Beberapa saran dan rekomendasi untuk para pengajar dan peneliti selanjutnya juga di bahas dibagian akhir dari tulisan ini.
Tanggung Jawab Dan Kemandirian Dalam Pembelajaran Melalui Analisis Landasan Pendidikan Dengan Pendekatan Kooperatif admin admin; Sri Uchtiawati
DIDAKTIKA Vol 20 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.362 KB)

Abstract

Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk mendeskripsikan hasil pembelajaran yangmemfokuskan pada kemampuan bertanggung jawab dan kemandirian bagi mahasiswa terhadappenerapan landasan pendidikan, yang dilakukan oleh mahasiswa melalui analisis peristiwa danobservasi di sekolah, dengan mekanisme proses pembelajaran kooperatif pada mahasiswa prodipendidikan matematika semester I. Pencapaian tujuan ini dilakukan melalui Lesson study.Pada penelitian ini didasarkan atas pelaksanaan Lesson study dengan ketrampilan kooperatifuntuk meningkatkan kemampuan bertanggung jawab terhadap permasalahan 'pendidikan', padamatakuliah landasan pendidikan di semester genap tahun 2012/2013. Kegiatannya meliputipenentuan masalah, analisis maasalah, pada penerapan materi tujuan pendidikan, sistempendidikan, jenjang pendidikan dan subyek pendidikan.yang dilakukan melalui observasi,pengamatan slide dan kajian literatur serta gagasan ide untuk menumbuhkan rasa tanggung jawabdan kemandirian, dengan kegiatan yang dilakukan secara mandiri dan berkelompok, dan selanjutnyamempresentasikan hasil dan kemudian di evaluasi. Hasil penelitian ini berdasarkan Kegiatan iniberlangsung dalam 4 (empat) siklus pada satu semester.yang masing-masing siklus meliputi Plan, Do,See.Pada kegiatan Plan, ini dosen membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (SAP) secarapribadi yang berisikan tentang rencana kegiatan pembelajaran secara sistematis, kemudian dibahassecara bersama-sama dengan dosen yang tergabung dalam tim dosen model yang berjumlah 4 orang.Pada kegiatan Do mahasiswa melaksanakan proses pembelajaran bersama dosen model dandiobservasi oleh 4 orang dosen yang tergabung dalam Tim, pada pembuatan perencanaan ini adapenyempurnaan setelah diterapkan, dan pada akhir pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan See,yang merupakan kegiatan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan dipimpinoleh dosen model dan ditetapkan adanya moderator, sedangkan hasil pembahasan dipergunakanuntuk memperbaiki Satuan Acara Perkuliahan pada plan dan dilakukan do pada siklus berikutnya.Data tentang temuan aktivitas dalam pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa setelah dianalisismenunjukkan bahwa ada peningkatan 'tanggung jawab dan kemandirian' pada mahasiswa terhadapkajian Landasan Pendidikan yang didasarkan studi kooperatif, pada siklus pertama, yakni sudahberkisar 60% mahasiswa berpendapat dengan didasarkan pada argumen sendiri, sedangkan untuk dokedua meningkat pada segi tanggung jawab, ketika menganalisis permasalahan yang dikemukakanoleh dosen model, tetapi kemandirian belum mengalami perubahan, pada do ketiga dengan modelpembelajaran yang menekankan pada kemandirian, maka keberanian mengemukakan pendapatsecara secara pribadi dan bertanggung jawab didominasi oleh peserta pembelajaran, dan berlanjutpada do keempat. Dengan demikian dapat disimpulkan Tanggung jawab dan Kemandirian dapatdilakukan berdasarkan studi kooperatif dengan melakukan analisis permasalahan dan kajian teoridalam mata kuliah Landasan Pendidikan.
INOVASI DOSEN DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR MAHASISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN PADA MATA KULIAH PROFIL KEGURUAN admin admin; Muyasaroh muyasaroh; Fita Masruroh; Arfa Ladamay; Budi Masruri
DIDAKTIKA Vol 20 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.306 KB)

Abstract

Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang ingatannya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan peserta didik sehari-hari. Akibatnya, Ketika anak didik kita lulus dari lembaga pendidikan, mereka hanya pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin dalam aplikasi. Selain itu suksesnya proses pembelajaran dengan menerapkan student center (siswa aktif) dalam meningkatkan kemandirian belajar peserta didik juga dipengaruhi oleh beberapa kesiapan dosen dalam menjalankan profesinya secara kompeten. Kompetensi tersebut diantaranya adalah aspek kepribadian, sosial, professional dan paedagogik.Pada artikel kali ini memaparkan tentang bagaimana inovasi dosen dalam meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa dalam proses pembelajaran pada mata kuliah profil keguruan ? dan bagaimana penilaian dosen terhadap tingkat kemandirian belajar mahasiswa pada proses pembelajaran mata kuliah profil keguruan dalam program lesson study ?Metode penelitihan kualitatif melalui pelaksanaan program Lesson Study (LS) dengan tiga tahapan plan, do dan see, para dosen juga memberikan berbagai inovasi-inovasi metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran MK Profil Keguruan.Teknik analisis data menggunakan analisis isi hasil observasi pada kegiatan do dan see yang dilaksanakan. Pada analisis isi ini maka dilakukan pengumpulan informasi, reduksi, verifikasi dan kesimpulan hasil.Hasil dari analisa data menunjukkan bahwa : Pertama, inovasi yang dilakukan dosen dalam meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa dalam proses pembelajaran pada mata kuliah profil keguruan ini adalah: tahap Plan Team dosen mendisain metode pembelajaran yang dapat memberikan stimulus belajar aktif, mandiri, dan kreatif sesuai dengan indikator kemandirian belajar mahasiswa. Tahap Do, dimunculkan dalam proses pembelajaran diantaranya adalah menampilkan gambar-gambar,bermain peran, pemutaran video-video baik bersifat kisah nyata yang memberikan inspirasi, vidio penilaian fakta, kerja kelompok, pemberikan sebuah fenomena problema di masyarakat, mengajarkan berfikir kritis, dan menampilkan materi dengan media power point sebagai bentuk mempermudah pemetaan materi sehingga dapat memberikan stimulus mahasiswa dalam berfikir secara mendalam dan pada akhirnya mampu melakukan hal-hal yang menjadi tanggungjawabnya sebagai seorang guru. Selain itu, dosen memberikan dorongan/motivasi, serta menciptakan suasana kelas yang nyaman, memberikan peluang bebas dalam berfikir dan berpendapat serta menanamkan nilai dan kebiasaan-kebiasaan hidup akan membentuk kepribadian, termasuk pula dalam hal kemandiriannya.Kedua, Penilaian dosen terhadap tingkat kemandirian belajar mahasiswa pada proses pembelajaran mata kuliah profil keguruan dalam program lesson study, Kesimpulan secara umumnya dalam tahap pelaksanan (DO) dan tahap evaluasi atau refleksi (see) dari siklus I sampai siklus IV terlihat jelas bahwa kemandirian belajar mahasiswa dalam bentuk antusiasme dalam proses pembelajaran.
ANALISIS KECAKAPAN MATEMATIS MAHASISWA PADA MATA KULIAH STATISTIKA-1 DENGAN PEMBELAJARAN KOLABORATIF BERBASIS MASALAH admin admin; Fatimatul Khikmiyah
DIDAKTIKA Vol 20 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.807 KB)

Abstract

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik profesional adalah kompetensi profesional yang berkaitan dengan penguasaan terhadap materi pembelajaran secara luas dan mendalam. Mata kuliah statistika 1 merupakan mata kuliah fundamental yang menjadi dasar bagi mata kuliah statistika yang lain. Oleh karena itu, Statistika 1 diambil sebagai obyek dalam pelaksanaan Lesson Study untuk semester ganjil tahun akademik 2013/2014. Agar sukses dalam belajar matematika maka seseorang harus memiliki kecakapan matematika. Kecakapan Matematika (Mathematics Proficiency) menurut Kilpatrick (2001) terdiri dari (1) pemahaman konseptual (conceptual understanding), (2) kelancaran prosedural (procedural fluency), (3) kompetensi strategis (strategic competence), (4) penalaran adaptif (adaptive reasoning) dan (5) disposisi produktif (productive disposition). Sementara itu, pembelajaran Statistika 1 biasanya dilaksanakan dengan berpusat pada siswa (student centered learning) yang biasanya hanya memfokuskan pada kelancaran prosedural dan kompetensi strategis.Oleh karena itu, tim MK Statistika 1 menerapkan model pembelajaran kolaboratif berbasis masalah yang dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan Lesson Study yang diharapkan dapat mengembangkan seluruh bagian dari kecakapan matematis tersebut secara terpadu. Kegiatan LS dilaksanakan selama 4 siklus dan setiap siklusnya dibagi atas plan, do dan see. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi pembelajaran, lembar pengamatan kecakapan matematis mahasiswa. Selain itu, seluruh proses pembelajaran direkam dengan kamera video. Berdasarkan hasil analisa didapatkan bahwa pembelajaran mata kuliah 1 dengan pembelajaran kolaboratif berbasis masalah dilakukan dengan tahapan; 1). Fase 1: membagi tugas, 2). Fase 2: Pembentukan kelompok, 3). Fase 3:Diskusi kelompok, 4). Presentasi kelas. Sedangkan kecakapan matematis mahasiswa secara garis besar meningkat dari sklus yang satu ke siklus yang lain kecuali dari siklus yang ke-2 ke siklus yang ke-3. Desain masalah yang diajukan sangat mempengaruhi bagaimana kecakapan matematis dapat dimunculkan dalam pembelajaran di dalam kelas.
KONSEP-KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI admin admin; Yuyun Istiana
DIDAKTIKA Vol 20 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.27 KB)

Abstract

Pendidikan anak usia dini dimulai sejak lahir sampai berkisar 6 tahun, karena pada usia ini merupakan masa yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Untuk itu metode penelitian deskriptif yang berlandaskan pada library research merupakan pendekatan yang sangat efektif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor utama dalam mendidik anak usia dini dimulai dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah yang harus bersinergi satu sama lain.
MENINGKATKAN KREATIFITAS MAHASISWA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA MELALUI INTEGRATED APPROACH admin admin; Rohmy Husniah
DIDAKTIKA Vol 20 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.188 KB)

Abstract

Introduction to literature merupakan salah satu matakuliah content yang merupakan prasyarat agar mahasiswa bisa menempuh mata kuliah sastra lainnya. Mahasiswa semester 3 sebanyak 22 mahasiswa yang mengambil matakuliah ini merupakan mahasiswa yang pasif sehingga menjadi kurang kreatif. Oleh karena kreatifitas sangat dibutuhkan dalam pembelajaran sastra, maka pengajar berusaha meningkatkan kreatifitas mahasiswa dalam Introduction to literature.Metode yang digunakan ialah melalui kegiatan lesson studi yang terdiri dari empat siklus dansetiap siklus terdiri dari 3 tahap yaitu plan, do dan see. Satu tim LS terdiri dari seorang dosen modelyang dipilih secara bergilir dan 3 observer. Pendekatan yang digunakan ialah integrated approachyang terdiri dari pendekatan bahasa, pendekatan parafrase dan pendekatan moral. Hal inidikarenakan sastra mencakup prose, poetry dan drama yang analisanya juga membutuhkan berbagaipendekatan.Dari keempat siklus yang telah diadakan, data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kreatifitas mahasiswa dalam pembelajaran sastra melalui pendekatan integrasi. Mereka mampu untuk memahami karya sastra dengan baik, mampu mengintepretasikannya, bahkan menampilkandan membuat karya sastra sendiri. Saran yang disampaikan dalam artikel ini adalah agar open lessondiadakan untuk semua mata kuliah karena memberi dampak yang positif bagi mahasiswa maupundosen.
BERPIKIR ANALOGIS DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA admin admin; Irawani Zawawi
DIDAKTIKA Vol 20 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.826 KB)

Abstract

The analogy has been widely used in real life. Analogies are often used in mathematical problem solving. Therefore, every student must learn how to use the analogy in problem solving. Especially when he was bench school, the analogy is often used to solve problems that are similar to each other or the source of the problem and the target problem. Thinking analogy in mathematical problems solving, with the following phases: 1) Encoding, which identifies existing information on the source of the problem and the problem of the target; 2) Inferring, that concludes to use concepts, formulas or definitions in resolving resource issues; 3) Mapping, ie patterns or how to resolve the problem source is mapped to resolve the target problem; 4) Applying, namely completing the target problem.
PENGAJARAN READING BERBASIS HOLISTIC admin admin; Yudhi Arifani
DIDAKTIKA Vol 20 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.535 KB)

Abstract

Matakuliah Reading 1 yang diajarkan melalui program Lesson Study (LS) merupakan salah satu matakuliah ketrampilan berbahasa Inggris (English Skills) bagi mahasiswa semester satu Prodi pendidikan bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Gresik. Sebagai matakuliah kategori English Skill, pembelajaran reading sebelum pelaksanaan lesson study diajarkan hanya untuk pemahaman bacaan saja dan pengajaranya belum begitu variatif serta belum mampu menyentuh tataran pengembangan kreatifitas berfikir kritis mahasiswa, serta belum menyentuh pembelajaran yang bersifat terpadu. Pada artikel ini peneliti mencoba menerapkan sebuah penelitian menggunakan design Classroom Action Research (CAR) dengan empat pertemuan dalam satu siklus pelaksanaan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi bagaimana pengajaran reading berbasis holistic mampu meningkatkan kreatifitas pemahaman dan berfikir kritis mahasiswa serta kemampuan holistic yang mencakup: (a) peahamanan, kosakata, gramatika, reading aloud/pronunciation, listening, speaking, reading dan writing mahasiswa. Pola pengajaran reading pada setiap pertemuanya diberikan pendekatan Scientific Approach melalui kegiatan pengamatan, bertanya, eksplorasi, bereksperimen, mengkomunikasikan dan berinovasi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi kelas yang dilakukan oleh tiga orang observer. Fokus observasi tidak berpusat pada dosen model melainkan terhadap semua aktifitas belajar mahasiswa untuk mengamati kegiatan siswa terkait dengan variabel peningkatan pemahaman kritis dan kreatifitas berfikir kritis mahasiswa, serta peningkatan kemampuan holistic mahasiswa baik English component ataupun skills. Selanjutnya data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif digunakan menemukan commonalities strategi dalam implementasi holictic teaching. Data kuantitatif digunakan sebagai ukuran keberhasilan pada setiap siklusnya. Kemudian kedua data tersebut ditriangulasikan untuk validitas hasil temuan melalui kegiatan refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa metode holistic mampu meningkatkan kemampuan dan kreatifitas berfikir kritis mahasiswa serta mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam ketrampilan berbahasa serta elemen kebahasaan lainya melalui: (1) dalam peningkatan pemahaman berfikir kritis dosen harus mampu memandu mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah untuk berfikir dan mengembangkan kreatifitas mahasiswa melalui kegiatan-kegiatan yang diberikan, (2) Pembelajaran harus dilakukan melalui pemberian aktifitas yang dapat mengarahkan ke pengembangan kratifitas berfikir kritis mahasiswa, (3) dalam setiap aktifitas mengembangkan pemahaman dan kreatifitas berfikit kritis mahasiswa maka dosen tidak boleh menjelaskan konsep yang akan diajarkan namun berperan aktif sebagai fasilitator yang mengarahkan mahaiswa dalam penemahaman dan kreatifitas mahasiswa secara mandiri baik dalam kelompok maupun individu.

Page 1 of 1 | Total Record : 9